Selasa, 31 Desember 2013

,
Aku sangat menyukai sunset; momen senja dengan gradasi warna oranye-merah-kuning yang kadang disertai birunya langit yang luar biasa indah. Momen pergantian dari siang ke malam; masa transisi yang berlangsung setiap harinya. Sama seperti sunrise; matahari terbit di pagi hari sebagai penanda habisnya malam. Aku juga menyukainya, hanya saja karena alasan yang sangat subyektif, aku lebih suka berlama-lama menikmati sunset.

Setidak-tidaknya, 5-6 tahun yang lalu.
Seorang teman lama selalu sumringah bercerita tentang kekagumannya atas keindahanNya yang setiap hari dihadirkan. Hampir setiap hari dia meluangkan waktu senja untuk berhenti sejenak (apabila ia sedang berada di kendaraan) untuk melihat matahari yang seolah terlihat membesar dan menghilang dibalik di horizon. Kemudian ia melanjutkan perjalanan lagi. Begitupula keindahan setelah sunset: munculnya bulan dan satu bintang yang terlihat sangat cerah, paling dekat dengan bulan, namun kedipnya sendiri hampir tidak ada. Aku pernah membaca ada riset yang mengatakan bahwa itu adalah planet Venus, entahlah. Teman lamaku, setiap melihat ada momen indah itu, selalu mengirim satu pesan singkat untukku yang isinya mengingatkan untuk sejenak menikmati suasana senja.

Sejak itu, aku mulai memperhatikan. Memangnya, apa yang menarik dari senja?

***

Di Malang, aku pernah melalui satu sore yang sangat oranye. Cantik sekali. Kampusku memerah terhujani warna oranye yang dominan. Aku suka melihat senja dari Lantai 6 Gedung A Fakultas Hukum. Karena kaca transparannya menghadap langsung ke barat dengan pemandangan Gunung dan beberapa gedung, masjid, serta rumah-rumah warga.

Salah satu momen yang selalu aku targetkan untuk ku abadikan dalam kamera adalah sunset! Itu momen wajib dalam setiap perjalanan. Setidaknya sejak 2 tahun lalu, aku menjadi sunset hunter di tiap tanah yang aku jejaki.

Berikut adalah sunset yang pernah aku jepret secara amatiran di beberapa negara yang telah aku kunjungi. Indonesia tidak aku masukkan ya, kebetulan sunset terindah yang pernah aku nikmati ada saat aku menempuh perjalanan 3 minggu dari Jakarta-Natuna-Batam-Dumai-Bangka-Belitung (Sail Belitung) dan Bali dan sudah aku posting lama banget hehe. Kebetulan  juga, selama 2 tahun terakhir belum dapet kesempatan dan waktu luang untuk traveling lagi ke beberapa destinasi yang telah menjadi target. Semoga 2014 nanti ya!!

Rabu, 25 Desember 2013

,
Ki-ka: Angga, Abang, I'in, Dyah, Kiki, Aulia, Aku, Prapti, Bella, Popo, Anis, Dian, Didin, Muchlas.


Sebelum melanjutkan cerita yang told dan untold selama di Jepang, ada baiknya kalau saya perkenalkan dulu teman-teman seperjalanan kali ini. Berjumlah 14 orang, which is banyak bangeet untuk sebuah perjalanan singkat (10 hari). Menurutku maksimal teman perjalanan adalah 4 orang. Dua orang lah ya, yang paling sip. Uniknya, sekalipun kami berjumlah banyak orang, dengan perbedaan masing-masing, namun tetep saling pengertian dan dengan tulus mau saling mewarnai dan berbagi.

Kami bertemu ber tiga belas (saat itu Didin behalangan hadir) di ruang IO untuk perkenalan pertama. Seperti pada postingan sebelumnya bahwa satu-satunya orang yang sudah aku kenal adalah Angga, dari FEB. Kebetulan aku datang agak telat, aku duduk diantara Dian (Peternakan, yang kemudian aku ketahui adalah teman baiknya temen kosnya Nining, well emang agak mbulet), dan Kiky (PKH, yang kemudian jadi maskot kami). 

Dari perkenalan singkat, kami memiliki banyak perbedaan, tapi juga ada kesamaan secara garis besar. Pertama, mayoritas memiliki prestasi masing-masing. Kebanyakan di bidang pengalaman organisasi, karya tulis dan nari. Kedua, masing-masing punya potensi yang menonjol, sehingga Pak Heri nggak kesulitan untuk mem-PJ-kan siapa bagian desain, siapa bagian motret, siapa bagian ngabisin makanan, dan lain-lain. Ketiga, kami sama-sama belum pernah ke Jepang dan jelas SANGAT EXCITED. Pada pertemuan selanjutnya, untuk latihan tari indang, kami makin kompak dan ngerasa klop satu sama lain.

Dalam tulisan kali ini, aku berusaha meringkas hal2 apa saja yang paling dominan ada di ingatan. Karena jemari ini membutuhkan waktu berhari hari untuk menceritakan secara detail mengenai apa, siapa, dan bagaimana mereka, serta momen apa saja yang telah kami lalui bersama.

So, here they are..

Minggu, 22 Desember 2013

,
red leaves, so lovely
Hari terakhir ku di Berlin, aku memutuskan untuk jalan-jalan sendiri ke sekitar stasiun. Rasanya nggak afdol pergi ke suatu tempat tanpa menjejak sendirian. Namun Nickita, meminta untuk turut serta. Aku pun mengiyakan. "Aku pengen menghabiskan waktu terakhir disini Bil," dia berucap.
"Nick, daun-daun ini pasti keren banget pas musim gugur,"
"iya bil, semoga aja ya kita berkesempatan balik lagi ke sini pas musim gugur!"
aku sama nickita mengepalkan kedua tangan di bawah dagu, pertanda gemes-gemes-imut.

Allah berkehendak lain.

***

Beruntung sekali, kami baru berangkat ke kampus sekitar jam 11 siang untuk perkuliahan perdana tanggal 27 November. Ada waktu untuk beristirahat lebih lama. Namun sekitar jam 8, aku memilih untuk berjalan di sekitar. Pagi ini aku terbangun dan membuka jendela kamar, udara di luar begitu dingin hingga mulutku berasap. Langit masih mendung, bahkan sinar matahari pagi terpaksa terpenjara oleh tebalnya awan abu-abu. Aku mencoba membuka jendela lebih lebar, ternyata jendela kamar nggak bisa dibuka lebar, hanya dibatasi sampe sekitar 30 derajat. Nggak asik nih, padahal mau motret pemandangan luar kamar dan menghirup dinginnya Higashi Hiroshima sampe mimisan. Tapi kenapa ya, jendela aja dibatasi untuk dapat dibuka? asumsi sementara adalah untuk menekan angka bunuh diri. maklum, angka bunuh diri di Jepang lumayan tinggi.
Beberapa menit setelahnya, aku baru tersadar ada yang berbeda di bukit kecil yang mengelilingi kota Higasi Hiroshima. Hal yang senada aku temukan pada beberapa pohon yang menjulang tepat di depan hotel. ternyata, musim gugur belum sepenuhnya usai! Warna kuning, oranye, dan merah menghiasi daun yang kian menua dan rapuh. Semangat saya membuncah, segera aku mandi, ijin sensei, dan menjejaki sepanjang jalan Saijo. Amunisi sudah siap (baca: kamera, jaket tebal). tapi bodohnya aku nggak bawa sarung tangan. akibatnya, tanganku sukses membeku.

coba bayangkan!! biasanya 21an derajat celcius (malam hari di Malang), disini harus beradu kekuatan dengan 5 derajat celcius! 

Minggu, 08 Desember 2013

,
baru kali ini nemu handwriting boarding pass, yakni dari Sby ke Taiwan. Dikarenakan sistemnya rusak, jadilah si petugas nulis tangan. Untung yang dibegituin masih mahasiswa, kalo orang pebisnis gitu, mana terima ya?

Home, away from home.

Aku mendengar frasa itu saat melihat tayangan mengenai Hiroshima di layar kecil yang disediakan oleh China Airlines. Tayangan tersebut menyajikan keindahan Hiroshima. Mulai dari tourist attractionnya seperti Miyajima, dan shopping corner. Layaknya video traveling pada umumnya, sudut pengambilan yang indah terlihat begitu menggiurkan. Tapi biasanya yang terpampang indah di layar kaca belum tentu seperti yang sebenarnya. Haha pikiran antisipatif mulai muncul, well, intinya aku hanya tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi.

Begitulah yang biasa ku lakukan dalam perjalanan. Debar, penuh tanya, meyakini akan menjadi perjalanan yang penuh kejutan, tapi tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi. Inginku, relung-relung jiwa ini terisi oleh sejuknya atmosfer yang memang aku alami sendiri tanpa campur tangan dari angan-angan yang berlebihan.

Sebentar, aku lagi ngomong apa ini ya?

***
,
Hari kamis sore, Nying-nying, seorang teman yang ngocol, agak feminim, dan kami menjadi teman seperjalanan dan satu kegiatan dalam summer school di Leipzig bulan Juli lalu. Dia mengirimku pesan singkat melalui aplikasi Line. Inti dari pesan itu adalah kami (peserta JSP) diminta bersiap – siap untuk seleksi ke jepang. Besok. (aku lupa seleksinya tanggal berapa, seingatku sekitar hari Jum'at, 25 Oktober atau 1 November)

What?!

Aku sama sekali ngga punya ide apa – apa mengenai persiapan wawancara selain mengumpulkan pengetahuan mengenai fakultas hukum, prestasinya, dan mengenai alasan tersirat aku layak diberangkatkan ke Jepang. Ternyata, begitu bu Milda datang, kami ngga hanya diminta untuk presentasi mengenai fakultas saja, tapi juga menunjukkan bentuk budaya Indonesia apa yang dikuasai. Yang ada di pikiranku tentu saja: nari. Dan satu2nya tarian yang sepertinya memiliki gerakan dasar yang masih ku ingat adalah tari pendet. Sedangkan teman – teman lain memilih untuk juga menari, entah itu nari tradisional dan kuda lumping (tradisional juga sih ya) plus nyanyi.

Saat tiba giliran nying-nying yang diseleksi, aku, nickita, inaya menunggu di luar ruangan sambil nggosip dan membicarakan acara aneh macam apa ini, seleksinya mendadak sekali. Inaya tiba – tiba bertanya, “kalo ke jepang, oleh – oleh yang khas tuh apa ya?”
Aku nyeplos aja , “dorayaki ama pamerin foto di depan gunung fuji!”
“boleh, tuh!”

***

Seleksi hanya sekitar setengah jam sebelum akhirnya bu Milda berlari kecil ke ruang PD 1 untuk berdiskusi dengan Pak Ali dan kemudian memanggil kami berempat untuk memasuki ruangan. Kami dibiarkan deg-deg.an. karena hanya satu orang yang diambil, tidak ada toleransi.

Kami berempat bergandengan tangan sambil sesekali merem-merem cantik supaya lebih dramatis. Inaya berucap singkat, “guys, siapapun dari kita nanti yang terpilih , pokoknya oleh – olehnya!”
Nying – nying lanjut bilang, “iya iya, siapapun yang kepilih entar, kita tetep berteman ya,”

Iya, sekilas memang mirip seleksi dengan sistem eliminasi yang diadakan oleh beberapa stasiun tv swasta.

“saya dan pak ali sudah memilih,” bu milda memotong kebersamaan kami dengan senyum penuh intrik. “kalian semua bagus, memiliki bahasa inggris yang memadai, namun sayang, ada satu orang dari kalian yang secara kemampuan budaya tradisionalnya lebih menonjol.” Beliau diam sebentar. Kami ikutan diam, dan lirik-lirik’an. “dan seorang itu adalah… selamat buat Nabilla!”

*kaget*

,
Salah satu sunset terindah yg pernah ku saksikan. Higasi Hiroshima, 4 Desember 2013. Maha Besar Allah..

Sekitar 3 minggu yang lalu, aku kesal bukan main. Travel yang seharusnya menjemput jam 2 siang, baru datang jam setengah empat sore. Ingin rasanya meluapkan amarah ke si supir, namun melihat wajah sumringah si supir dan caranya meminta maaf memuatku mengubur dan melupakannya pelan-pelan. Dia memintaku untuk memaklumi keterlambatan dalam penjemputan. Dongkolnya aku adalah travel yang kali ini aku gunakan, memberikan fasilitas penjemputan pada setiap jam – jam genap (2, 4, 6, dst). Lah kalo ngga bisa memberikan pelayanan sesuai yang dijanjikan, mengapa berjanji? Makin bete ketika aku ditempatkan di depan, samping si supir.

Dan dari gelagatnya, masih ada satu orang lagi yang belum di jemput.

“ini masih ke juanda pak?”
“Iya mbak, hmm, lewat mana ya?”

Payah banget ini si supir, pikirku. Sebagai supir travel seharusnya dia bisa dengan mudah mengetahui jalan tikus dari rumahku ke juanda, yang kebetulan dekat banget dan banyak diketahui oleh kendaraan umum. Memang ini bukan travel yang biasa ku gunakan, dan aku pun akan lebih memilih untuk pulang sendiri naik bis lalu ngangkot, jika saja aku tidak terbebani oleh koper biru gede. toh pada akhirnya, seseorang yang seharusnya dijemput di Juanda, ngga jadi naik travelnya, entah kenapa.

Perjalanan surabaya – malang ditempuh hanya dalam waktu satu setengah jam, padahal sore hari sekitar jam 4 – 7 malam adalah saat – saat rush hour, yakni dimana macet biasa menjadi macet banget nget nget.

Di tengah jalan tol, aku yang sudah jengkel nemen sampe kepala pun ikut mumet, lantaran si supir juga ngerokok dan kemudian aku tegur. Tiba-tiba saja sebongkah pemikiran jernih muncul, meredam amarah yang meluap liar.
Sabar. Sabar. Sabar.
Begitu kira – kira, satu kata yang klise yang berbisik lirih
yang sering menjadi ucapan andalan para tipe teman pendengar.
Sabar, sudah, sabar saja ya…

Bersabar, tidak selalu dikaitkan dengan menunggu. Bagiku, si “sabar” terlalu besar, terlalu mewah untuk disandingkan hanya dengan “menunggu”. Bagaimana jika kita gabungkan dengan:
Bersabar, orang lain juga perlu belajar.
Bersabar, pantaskan diri di hadapanNya.
Atau, ada redaksional lain yang lebih indah?

***

Selasa, 30 Juli 2013

,
Hellooo!! Ki-Ka (nickita, nying-nying, mba desi, max, lutfy, moritz, inaya, wibke, maria, christian, patrick, bu Ika, aku, laura, bu dhiana)
Di Leipzig kemarin, aku sempet cukup deket dengan salah satu mahasiswi Univ Leipzig. Aku biasa panggil dia Bea. Bea saja, ngga usah ditambahin cukai. Kesan pertama ketemu Bea sebenernya agak ngilfilin. Hari pertama, setelah welcoming breakfast, kami langsung memulai presentasi. Kebetulan, presentator pertama dari FH UB adalah Bu Dhiana yang mengangkat mengenai property tentang kelautan. Selanjutnya, beberapa mahasiswa Leipzig yang dapat jadwal hari pertama. Untungnya, aku kebagian presentasi hari ketiga. FYI, tema besar JSP tahun ini adalah Freedom, Property, and Property Rights. Jatah presentasi dosen adalah 1 jam, sedangkan mahasiswa 45 menit. Lama oy.

Kesan ngilfilin sama Bea ini aku rasa bukan cuma aku yg merasakan, tapi juga semua delegasi FH UB. Kebetulan, Bea lagi flu selama acara JSP berlangsung, dari hari pertama sampe terakhir. Mungkin karena faktor hidung orang-orang bule yg mancung dan gede, dan mungkin juga waktu itu flu nya Bea cukup parah. Kami dikejutkan dengan suara "Srooooottttt..!!" di tengah-tengah presentasi. Aku sendiri kaget banget, kok bisa-bisanya sisi sekeras itu. Biasanya orang Indonesia kan pelan-pelan, apalagi kalo lagi di tengah acara formal dan hening, pasti milih untuk keluar saja agar ngga mengganggu. Nah ini, di los ae. Tapi aku berusaha menahan diri untuk ngga langsung noleh ke sumber suara. Aku mencoba tetep stay cool dan ngelihat sekitar. Ngga ada satupun mahasiswa Leipzig dan dosen-dosennya yang kaget dan mencoba mengingatkan si pembuat suara. Mungkin, suara sisi yang macam itu sudah wajar. Beda cerita sama ekspresi delegasi mahasiswa FHUB yg berusaha menahan tawa, ada yg nunduk-nunduk gigit bibir, ada yg ngikik, macem-macem. Salah satu dosenku aja langsung ngomongin kalo yg demikian jorok banget. hehehe.

Bea ini, adalah presentator yang juga kedapetan waktu presentasi di hari pertama. Menurutku, presentasi hari pertama totally boring dan ngantuk, mungkin karena masih terbiasa sama jam Indonesia. Tapi dari segi teknik presentasi saja, hanya satu mahasiswa Leipzig yg mempresentasikan papernya dengan bagus. Gagasannya yg bagus dan cenderung filosofis, dan setidaknya dia menggunakan visualisasi (powerpoint). Sisanya, ada mahasiswa Leipzig tinggi ganteng dan menurutku cool banget hehehe namanya Patrick, tapi kalo presentasi grogi banget. Tangannya gemeteran dan juga visualisasinya old way banget, pake OHP. Jadi dia nyiapin outline yang di fotocopy di mika gitu. Patrickpun menjelaskan tentang Property Right dalam Konstitusi Jerman. Dan memang kebanyakan mahasiswa Jerman yg presentasi di hari pertama, pembahasannya normatif. Akhirnya diskusipun lebih mengarah pada perbandingan dan bagaimana implementasi di lapangan.

Nickita sampe berbisik ke aku dan Lutfy, kalo begini aja mah ngga bakal lolos seleksi, bu Afifah pasti minta dia untuk ngasih contoh. Aku sama lutfy manggut-manggut imut.

Giliran Bea presentasi, dia tidak membawa sehelai kertaspun, apalagi visualisasi. Dia bahkan meminjam outline milik Patrick. Sebenernya presentasi Bea bakal menarik, karena akan mengungkap public goods yang ada di konstitusi Jerman. Bea ini pernah tinggal di Irlandia, jadi bahasa Inggrisnya faseh dan cenderung agak beraksen British. Means, buat aku, agak sulit untuk di cerna. Karna aku mulai boring, aku mengalihkan perhatian ke Mbak Desi ama Nying-Nying yang daritadi ketawa cekikikan karena alasan ngga jelas. Ngeliat nying-nying yg ketawa sampe mukanya merah, aku jadi geli sendiri dan ikut senyam senyum. Aku kira dia ngetawain salah satu dosen kami, ternyata dia ngetawain susu coklat yg rasanya aneh. Bz ngga penting. Aku kembali mengalihkan fokus ke diskusi.

Kira-kira masih seperempat materi, Bea agak kebingungan untuk melanjutkan. Aku sendiri daritadi bingung ni anak ngomong apaa, soalnya banyak "ehem" "mmm" nya. Anna, dosen mereka yang juga seorang person in charge dari pihak tuan rumah, request agar Bea segera menyampaikan apa yg menjadi fokus diskusinya. Nah, tiba-tiba Bea ngeblank entah kenapa. Dia nunduk, dan menjawab "I don't know.."

Mendengar jawaban seperti itupun, Anna mencoba menyemangati dengan memaparkan secara singkat kalimat dan kasus yg berkaitan dengan materinya yang kemudian meminta kepada Bea untuk melanjutkan analisis, agar Bea bisa presentasi dengan baik. Trus tiba-tiba hening sebentar. Dan tetap dengan menunduk, Bea kembali bilang, "I don't know, I just didn't prepare my presentation well.." dengan suara gemetar.

Langsung bisa ketebak, Bea mulai mewek. Resmi nangis.

Anna pun gupuh, dan meminta Bea untuk duduk dan ngga usah khawatir. Seisi ruangan ikut bingung, Bu Afifah kemudian mengambil alih dengan bertanya ke Prof. Enders (dosen tata negara Univ Leipzig) mengenai public goods dalam konstitusi jerman itu sendiri dan Bu Afifah memberikan gambaran bagaimana di Indonesia. Sementara, Bea duduk di depan dan mulai sesenggukan.

Aku berinisiatif untuk memberikan tissue, karena tempat duduk ku cukup dekat dengan tempat presentasi. Toh sebelumnya di welcoming breakfast, kami sudah berkenalan dan ngobrol ringan. Sambil ngasih tissue, aku berbisik "Don't worry, don't be sad, everything's okay". Dia berterima kasih dengan lirih. Sebagai presentator, Bea diminta untuk tetep duduk di depan sampe waktu diskusi selesai.

Ngga lama setelah aku kembali duduk, tiba-tiba, "SROOOOTTT..!!"

Fiuh, maneh.

***

Sabtu, 27 Juli 2013

,
Aku nge-touch icon bintang di tweetcaster untuk penanda favorit, untuk tweetnya @NouraBooks yang isinya singkat padat jelas: promosi buku sambil ngabuburit, foto dan judul buku, tempat ngabuburit, plus dengan nama authornya yang menggelitik tangan untuk segera ngefollow.

Adalah Scappa per Amore, judul buku dari mbak Dini Fitria, presenter acara traveling bernuansa islami yg sudah beberapa kali ku lihat sejak tahun sebelumnya. Acaranya di salah satu stasiun tv swasta yang ngga perlu aku sebutin, soalnya udah pasti tau, dan ditayangin setelah adzan subuh Jakarta. Kebetulan, sepulang dari Jerman, aku jetlag berhari-hari dan parah banget. Lebih parah dibanding jetlag sepulang umrah. Jam tidurku kacau balau, aku tidur sehabis subuh, bangun siang. Dan beberapa waktu, aku masih membayangkan aktifitas rutin di Jerman, padahal aku di Jerman cuman 10 hari loh. Akibatnya, daya tahan tubuh ku pun menurun, aku jadi mudah banget sakit. Apalagi waktu balik ke Malang, aku disambut dengan cuaca dingin-gak sehat. Langsung bikin sesek.

Keuntungannya, aku bisa nonton tv dulu abis subuhan dan rutinitas setelah shalat subuh. Bagiku, acara jalan-jalan selalu menarik. Nilai plusnya nih, latar nya Eropa dan mengupas kehidupan masyarakat muslim di Eropa. Hal yang selalu ingin aku lakukan waktu kemarin di China dan Jerman tapi sulit, mengingat aku pergi bersama rombongan. Bakal lebih yahud kalo aku berkesempatan jalan-jalan sendiri.

Ngga lama setelah baca twit nourabooks, aku ngefollow mbak Dini. Dan dari linimasa kedua akun tersebut, aku tau bahwa buku ini baru terbit, dan pasti butuh waktu beberapa hari untuk sampe di togamas malang. aku memang langganan beli di togamas, apa coba alasannya kalo ngga lebih murah, toh kualitasnya juga sama ama di toko buku satunya hehe. Kemarin malam, aku meluncur ke togamas. Awalnya cuman mau beli note, tapi akhirnya beli 6 buku. haduh.

and, this is it:

biar makin unyu, masuk Line Camera duyu

Aku suka baca buku-buku travel, beberapa yang menurutku bagus, akan aku beli. Naluri ingin tahu ku menguat pada buku ini lantaran membaca judul dan beberapa testimoni tentang kontennya. Prediksi kasar sebelum membeli buku, kisah-kisah di dalamnya akan menggabungkan traveling, Islam, Eropa, dan Cinta.


I'm pretty curious.

***

Rabu, 24 Juli 2013

,
a sunset in Kunming

Somewhere near Zhejiang Province, China, 2012

Salah satu waktu yang paling aku suka di perjalanan, adalah menempuh perjalanan itu sendiri. duduk di pesawat, menikmati film dan lagu, atau baca-baca buku.
menikmati perjalanan malam di bis, dan menjadi seorang yang terasing di kereta.
bagai menikmati obat batuk jenis sirup yang manis; dipaksa diam untuk beristirahat bagai anak kecil meminum obat, namun disatu sisi sangat menyenangkan.

Adalah perjalanan Guangzhou - Hangzhou, perjalanan menuju kembali ke tanah air, yang aku tempuh menggunakan kereta hard seat selama 24 jam lebih dan kembali menjadi perempuan asing yang berjilbab dan diliatin penduduk lokal China. Aku sendiri, betul-betul sendiri karena ngga ada yang bisa diajak ngobrol pake bahasa inggris. Beli makanan untuk buka puasa (waktu itu bertepatan bulan Ramadhan tahun 2012) aku harus ngeluarin kamus, beli mie seduh yang non-pork. Sekalipun merasa asing dengan kehadiranku dan kadang-kadang kelakuannya ngga sopan, misalnya nunjuk-nujuk aku seenaknya, keramahan penduduk lokal China ngga aku pungkiri. Misalnya, nawarin aku timun, kuaci, dan berbagi meja untuk bersandar tidur.

Dan Mainland China, menawarkan pemandangan yang indah, hamparan rumput dan bebatuan, jarang rumah penduduk, so greeny. menyenangkan dipandang.

Pagi itu di kereta, sebelum subuh aku terbangun, dengan earphone yang masih nancep di telinga kanan dan mata yang masih menerka-nerka pemandangan di luar jendela, samar-samar terdengar salah satu lagu kesukaan yang dinyanyikan Adele. Dalam keadaan setengah sadar aku bergumam, ah, kenapa masih se nyeri ini rasanya.

Bait lagu yang tidak sengaja terdengar itu, seolah mem-pause momen pagi itu, membiarkan mata untuk menikmati matahari terbit, dan memaksa memori untuk memutar ulang yang tersisa dari beberapa tahun sebelumnya. Aku terheran-heran, kenapa masih tersisa sakit yang semacam ini? padahal aku sudah lama melalui momen, yes gue udah lupa! 

yang menyebalkan,
perjalanan kadang memaksa untuk mengingat-ingat memori yang demikian.
namun yang menyenangkan,
pelan-pelan ia akan terlepas, menyatu bersama alam.

butuh waktu yang tidak singkat,
dan terpisah jarak puluhan kilometer untuk membuat tali silaturahim ini kembali normal.
sekalipun diam mu meninggalkan banyak ketidak jelasan
namun hari ini aku mengamini satu hal, bukan tanpa alasan kita pernah dipertemukan

***
Malang, 2013

Aku gemes, kamu sama sekali ngga mau menjawab apa yang aku tanyakan.
ketahuilah, diam dan senyum mu itu sama sekali ngga menjawab.
kenapa kamu biarkan aku larut dalam berbagai perkiraan?

ataukah memang kamu ngga ingin aku mengetahuinya?
karena perkara ini, inginmu, hanya kamu dan Allah yang tau.

benarkah demikian?

***

Malang dan beberapa sudut di Mekkah, 2013

sesungguhnya aku sama sekali tidak mengizinkanmu masuk
tapi kau memaksa tetap mengetuk
aku peringatkan, kembali saja pulang
jika tujuanmu datang masih kau sembunyikan

karena sesungguhnya aku akan sangat malu padaNya
jika mendapati yang ku pinta dibawah naunganNya
tidak memiliki tujuan pulang yang sama

***

bukan lupa yang mampu mengobati,
tapi ketaatan pada agama inilah yang akan memilah
mana yang harus dibuang dan mana yang tetap disimpan sebagai pelajaran
- Kalila, salah satu tokoh perempuan dalam serial PPT 7.


Kamis, 11 Juli 2013

,
old building
Leipzig, aku nobatkan sebagai salah satu kota yang ingin kembali aku kunjungi, setelah Madinah dan Chengdu.


I do fall in for the first time.



Leipzig, kota tua kecil yang khas dengan arsitektur bangunan Eropa. Bangunan-bangunannya seolah mengisyaratkan bahwa Leipzig pernah menjadi gerbong komunis di Eropa, di bawah pendudukan Rusia. Jalanan di Leipzig ramai dengan sepeda ontel, beberapa menggunakan mobil dan motor, sisanya memanfaatkan tram untuk jarak yg agak jauh.



1. Tenang

Apa yang didambakan untuk hidup selain tempat yang tenang?
Leipzig punya! tiap hari pemandangannya adalah orang naik sepeda. saking tenangnya, ngga ada polusi (kecuali kalo berdiri di deket mobil), anak-anak kecil bebas berlarian di jalan dan ngontel.

gowes!
sepeda dimance-mance


2. Banyak cafe dan banyak taman

salah satu kebiasaan orang lokal yang aku lihat adalah nongkrong di cafe. sama sih kayak di malang, bedanya, tongkrongannya keren dan jarang yang nongkrong sambil bawa laptop dan wifian berjam-jam. rata-rata, mereka nongkrong ama pacarnya, atau temen-temen sekedar untuk becandaan, untuk ngerjain tugas, baca buku, atau ngobrol ama temen bisnis. di leipzig, cafe bakal rame jam 8 ke atas. berbanding terbalik, toko-toko bakal tutup jam 8 malam, padahal, jam 8 itu udah layaknya jam 4 sore. bahkan supermarket pun ikutan tutup jam 8. aku nyeletuk, bukannya orang eropa itu 'makhluk malam' ya (dalam arti suasana kota lebih hidup kalo malam). temenku jawab, iya kehidupan malamnya itu party bil, bukan shopping. oke, make sense. salah satu perbedaan jika dibandingkan ama Indonesia. Aku sempet ngerasain enaknya nongkrong di cafe leipzig, yaitu maem kebab istanbul dan maem kentang di pinggir jalan. berasa kayak anak gaul leipzig. Juga sempet jalan-jalan sendiri di sekitar hostel. Such a fun thing! ngerasa safe banget.

salah satu taman

,
stasiun yg megah! aku membacanya: hufbahno

"safe trip ya.."
rata-rata itu yang diutarakan temen-temen menjelang keberangkatan.
atau, "oleh-oleh nya jangan lupa ya.."


Rute keberangkatan cukup panjang.

SUB-DPS
DPS-SIN
SIN-AMS
AMS-TXL


aku dianter ayah-ibu ke Juanda. So sweet yak hehe, dan untungnya Ibu kali ini ngga nangis, ngga kayak waktu aku mau ke China tahun lalu. Tapi wajar sih nangis, ke China kemaren emang agak ekstrim. Sudah sendiri, pertama kalinya ke luar negri, 5 minggu, duit pas-pasan, koper nyasar pula. Mantab!



Kami naik pesawat KLM dong, kata ayah pesawatnya bagus. Emang beneran bagus. sayangnya, KLM ga berangkat dari SUB, tapi dari DPS. Jadi kami terbang dulu ke DPS. Dari DPS, transit bentar ke Changi Airport, baru dini hari lanjut perjalanan kurang lebih tujuhbelas jam ke Amsterdam. Syukurlah, pesawatnya beneran bagus, seingetku dapet maem 3 atau 4 kali dan makanannya lumayan enak. AC lumayan adem, moviesnya juga uptodate. well, norak dikit gapapa.



Sampe Schipol International Airport di Amsterdam, ngga kalah excited. apa-apa di fotoin [kecuali ngelihat orang ciuman di depan umum]. Ngelihat barang bagus, udah pengen belanja. Harga di bandara juga ngga mahal, gak kayak di bandara Indonesia apa-apa di naikin bahkan hampir 3x lipat. Baru kali ini aku tau di bandara ada librarynya, dan ada foodcourt dengan masakan Indonesia. uasiiikkkkk.. salah satu corner yg paling aku suka di schipol adalah toko I Am Sterdam. Barangnya bagus bagus dengan harga rasional. Holland banget gitu deeh.. Kalo mau beli bunga atau bibit, juga bisa beli di bandara.



Last flight, adalah dari Amsterdam ke Berlin Tegel. Pramugari KLM dengan senyum mengucapkan, "good bye!" aku gak kalah sumringah ngebales "thcus!"

Keluar pintu pesawat, langsung disambut suhu 14 derajat celcius! What a summerrrrrrr!
Angin dan suhu udara dingin banget, baru kalo ada matahari kerasa lebih hangat tapi anginnya tetep dingin. What a killing weather. Pak Marco ama John bilang, emang beberapa minggu ini di Jerman 'agak' dingin, ramalan cuaca bilang beberapa hari kedepan sudah normal. Normalnya loh..20 derajat celcius. Sama aja bo'oong. Aku langsung bisa membayangkan gimana dinginnya hostel kami, dan teringat betul pas Bu Afifah nge email dan bilang kalo suhu di Flat bisa lebih dingin dari suhu di luar. Hiks! Mana baju yang aku bawa, ngga ada yang tebel.


Dari luar pintu kedatangan, kami udah bisa ngelihat bu Afifah dadah-dadah ditemenin Pak Marco, suami beliau. Menyusul, Anna Mrozek dan John dateng buat ngejemput kami, nganterin sampe stasiun dan cus ke Leipzig. Perjalanan dari Berlin ke Leipzig makan waktu 1,5 jam. Kereta di Jerman, bener-bener mengingatkan aku ama kereta di China. Terutama teknologi dan stasiun keretanya. Secara interior kereta, bagusan di Jerman. Tapi at least, mereka sudah sama-sama maju. Dan tarif nya pun, agak mahal. Berlin leipzig aja sekitar 23 Euro. Kalikan aja 13 ribu. Kalo di Indonesia, di AC-in aja banyak yg protes. Memang sih, perkembangan suatu negara ngga bisa stuktur atau substansi dulu, kulturnya juga penting. Di kereta juga, aku membiasakan diri untuk biasa aja ngeliatin anak-anak punk ngerokok dan minum bir di luar gerbong kereta, atau orang ciuman di depan mata, atau orang cuek baca koran baca buku di kereta, dan hal-hal lain yang ngga biasa di temui di Indonesia.


saking banyaknya toko, belanja juga bisa di stasiun. udah kayak mall bonus stasiun.

somewhere in Leipzig

Rabu, 10 Juli 2013

,
Mawar Pink di Leipzig. Saat summer, orang-orang lokal suka bercocok tanam. Bahkan, warna warni bunga lebih banyak dari pada daunnya.


"mbak bawa dikit, dibagi yah hehe.." mbak Rahma, pimred LPM ManifesT saat aku maba, membuka bungkusan coklat lezat. Dari Jerman. Aku sama Atika yg waktu itu nongkrong di Mfest, ngga sabar pengen ngelahap coklat khas eropa.

Mbak Icha, Direktur Utama FKPH saat aku semester 2, sempat 'perpisahan' pake makan-makan di bakso bakar pahlawan trip bersama semua bph fkph periode itu, dan maba ingusan yang dikasih amanah sebagai PJ [penanggung jawab] tiap bidang. Aku termasuk salah seorang PJ. Makan-makan gratisan itu dalam rangka perpisahan mbak Icha yang beberapa hari setelahnya terbang ke Jerman.


Mereka berdua, salah seorang peserta Joint Summer Programme tahun pertama.

Buah nota kesepakatan antara FH UB dan FH Univ Leipzig.
Dan memori singkat di atas, menjadi pengantar dalam doa yang tergumam singkat, yang kemudian aku tuliskan dalam kertas kecil di acara training lokal.
Semoga suatu saat aku juga bisa kesana.


***


Sabtu, 08 Juni 2013

,
Raudhah, taken from here


Rasulullah bersabda, “Di antara rumah dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga, dan mimbarku di atas telagaku”



***



Yang paling aku suka dari Madinah, adalah Nabawi

yang paling aku suka dari Nabawi adalah Raudhah
taman surga


Mungkin ditafsirkan sebagai taman surga adalah tempat diturunkan rahmat dan karunia Allah atas doa dan syukur yang dipanjatkan untukNya. Karena itulah, raudhah adalah tempat doa yang mustajab.



dan bagi akhwat, ngga mudah masuk ke raudha,

ada jam-jam tertentu, yakni biasanya di pagi hari. antara waktu dhuha - ba'da dhuhur , waktu setempat
katanya juga, malam hari sih bisa, tapi aku cuman ke raudha sekali lantaran penuh sesak. kalo yang ikhwan, bisa kapan aja ke raudha.
dan raudha, bukan lokasi yang luas; untuk akhwat hanya 2 petak karpet
sempiitt sekali. aku juga bingung membayangkan akan kah taman surga seperti ini?
Subhanallah, Allah pasti sudah menyiapkan hal-hal yang bahkan tidak dikira-kira oleh manusia.


Karena kala itu musim umrah lagi rame-ramenya, nabawi penuh sesak. yang pengen doa di raudha juga ratusan. akhirnya, laskar nabawi seperti biasa, membagi jamaah akhwat menjadi per negara.

- arab sendiri (dan lebih diutamakan)
- mesir, irak, iran, turki
- sisanya orang asia, which are Indoensia, Malaysia, dan Brunei yang dapet kloter belakangan


untungnya, mba *aku lupa namanya* pemandu kami, baiknya luar biasa. beliau tau rute tembusan ke raudha, dan kami sengaja baris dibelakang agar bisa 'kabur'

dan benar saja, waktu ada kesempatan, kami se rombongan kecil , ga sampe 15 orang, digiring masuk raudha lewat jalan keluar.
tapi betul-betul harus diam-diam, dan masuknya pun dikit-dikit , ngga bisa rombongan


"ibu tunggu sini ya, saya nanti kembali." begitu kata mbaknya. "soalnya laskarnya galak, nanti saya dimarain"

kloter pertama yang masuk raudha, adalah aku, ibu, dan 3 orang lainnya. udah kayak maling aja menyelinap-nyelinap di dalam masjid nabawi.
ampuni billa ya Allah.. bukan maksud untuk maling..


aku waktu itu kena serangan kantuk luar biasa

hampir tiap waktu senggang pas umrah, kalo ga ibadah, pasti tidur dengan mudahnya.
sebelumnya aku sudah membaca tentang raudha, dan membayangkan aku akan nangis termenye-menye disana, tapi mengingat aku ngantuk abis, jadi aku pikir, ah mungkin aku hanya berdoa aja seperti biasa


ternyata aku salah besar.

atmosfer di raudha beda total.


karena begitu sempit dan sesak, waktu kami masuk, isinya masih orang-orang turki yang bodinya (mungkin karena faktor gen dan daerah) lebih gede dari orang indonesia pada umumnya.

sehingga aku mempersilahkan Ibu untuk sholat lebih dulu.


"2 rakaat saja ya Bu, kita gantian sama yang lain." pesen mbaknya

yap betul memang, jangan sampe kita ibadah apalagi dalam kondisi yang demikian, egois kita luar biasa, sementara di luar masih banyak yang ingin mendapatkan hak beribadah untukNya
si mbak sempet ngusir ibu-ibu turki yang lamaa banget di raudha, kasian juga sih


setelahnya, giliranku.

karena ngga ada tempat untuk naruh tas, aku tetep sholat sambil bawa tas kecil berisi buku dan Al Quran
dan jeng jeng.. aku mulai terbawa atmosfer.
betul kata Ibu, raudha , mungkin saking mustajabnya,
bikin kami speechless.
hilang semua keinginan, hilang semua rencana-rencana doa.


subhanallah, semoga suatu saat bisa bertemu raudha kembali,

di nabawi
dan di akhirat.

Senin, 06 Mei 2013

,
Satu kali shalat di masjidku ini lebih baik dari seribu shalat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram - HR. Al-Bukhari dan Muslim

This part is about my very first impression of Nabawi.
The special one.

***

Setibanya kami di Madinah, malam itu juga, udztad Zainuri membimbing kami ke Nabawi. Tidak untuk shalat isya, karena jamaah sudah usai dan kami juga sudah isyaan di hotel. Melainkan karena satu alasan mahapenting: biar ngga nyasar. lho kenapa?

Kebanyakan dari peserta Umrah adalah kakek dan nenek yang sepengalamannya Udz. Zaenuri, di usia-usia seperti ini rawan hilang. atau bahasa gaulnya, nyasar. Jadi kami dibimbing betul, dari hotel jalan lewat mana, bla bla bla. tapi sebenernya tidak rumit, karena tinggal lurus aja, alhamdulillah hotel kami ngga jauh dari Nabawi. Aku yang dapat di kamar lantai 14, bisa dengan jelas melihat Nabawi dari kamar. Sontak aku bilang ke Ibu, "aku apal Mi, tenang aja kalo Ibu keluar-keluar mah ama aku aja"

"astaghfirullah, istighfar, ini di tanah haram!" kata Ibu tegas dengan raut muka takut dan khawatir.
aku langsung tutup mulut, istighfar sebanyak-banyaknya dalam hati dan berdoa agar ngga kemakan omongan sendiri. betapa kami harus menjaga sikap dan sekecil-kecilnya prasangka. demi tercapainya ibadah yang menenangkan jiwa.

***

Aku shalat di Nabawi Subuh keesokan harinya. Adzan dari Nabawi yang luar biasa merdu, terdengar hingga kamar. Kami sudah bersiap bahkan sebelum adzan pengingat pertama, adzan tahajjud. Kami bergegas satu jam sebelum subuh, mencoba mencari sisa-sisa sepertiga malamNya.

Ternyata, di dalam penuh sesak. Penuh puoool.. buseet ni orang-orang dateng jam berapaaa coba. Aku sama Ibu mencari tempat selempitan, pokoknya duduk dulu biar ngga dihardik laskar masjid. siapa itu laskar masjid? aku sama ibu menyebut mereka laskar -orang-orang yang mengatur shaf sholat dan memeriksa barang bawaan kami di pintu masuk. Some of them are so scary. Sukanya teriak-teriak dan agak kasar. well, tujuannya insyaAllah baik lah.

Aku dan Ibu dapet shaf disebelah orang Turki. Dengan mudah aku mengenali postur tubuh wanita Turki. Kalo muda, mereka cantik banget daaah suwer. Kulitnya putih, pipinya memerah kalo kena panas matahari, bibirnya merah, matanya besar, badannya langsing-langsung, dan ada kesan eropa. macam blesteran arab-eropa gitu. Lha kalo sudah sepuh, eh ngga jauh-jauh deh seumuran Ibuku aja atau mungkin takarannya adalah kalo mereka sudah punya anak seusia SMA, badannya jadi lebih besar. Ibuku menyebutnya kotak. Yang selanjutnya, Ibu kapok bener menyebut mereka dengan sebutan itu. hehe i'll tell this part later.

Aku, jujur, canggung banget menunaikan sholat pertama di Nabawi.
Ibu lebih luwes, karena beliau sudah haji.

Kami sholat tahiyatul masjid dahulu,
dan diikuti beberapa rakaat shalat tahajjud.

Setelahnya, kami berdua larut dalam keindahan Nabawi dan atmosfernya yang menenangkan. Sepertinya, semua orang menangis, semua orang memohon kepadaNya. Entah sambil duduk, maupun berdiri sambil bertasbih. Tiap jengkal kulit dan ruas tulang jamaah, senantiasa merindu Rasulnya, dan ridha Rabbnya. Setiap detik dari waktu para jamaah, hanya untuk beribadah.

Tangisan pertamaku di Nabawi mengoyak hati untuk selanjutnya bergumam,
aku jatuh cinta pada Masjid yang dibangun Rasulullah SAW ini.

Setelahnya, aku semakin memahami mengapa Nabawi begitu memesona.

Minggu, 05 Mei 2013

,
I heart this Mosque, so do its gradation of blue

Madinah memang kota indah bersejarah. Beruntungnya Madinah sebagai kota kecil yang di doakan Rasulullah SAW:
Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Sesungguhnya Nabi Ibrahim a.s telah memuliakan yaitu mengharamkan Kota Mekah dan mendoakan keberkatan terhadap penduduknya. Maka sesungguhnya aku pun memuliakan yaitu mengharamkan Kota Madinah sebagaimana Nabi Ibrahim a.s telah memuliakan iaitu mengharamkan Kota Mekah. Dan sesungguhnya aku juga telah mendoakan keberkatan makanan di Kota Madinah, sebagaimana yang pernah didoakan oleh Nabi Ibrahim a.s kepada penduduk Mekah. (Hadis Abdullah bin Zaid bin Aasim r.a)
Kota yang mulia dengan kaumnya, kaum Muhajjirin, dan aku pribadi lebih suka dan nyaman tinggal di Madinah daripada Makkah. satu hal yang aku paling suka di Makkah adalah Masjidil Haram, selebihnya, Madinah is the best one!

Salah satu karuniaNya, adalah masjid-masjid indah di dekat Masjid Nabawi. Beberapa masjid masih difungsikan layaknya masjid pada umumnya. Beberapa juga tidak difungsikan. Hanya dijadikan sebagai monumen, sebagai saksi sejarah bahwa disitu Rasulullah SAW bersama sahabatnya pernah menunaikan shalat. Di Arab, banyak masjid yang tidak difungsikan atau hanya sekedar dijadikan monumen. Kalo di Indonesia, monumennya hampir selalu berupa tugu. Itu bedanya..

1. Masjid Ali Bin Abi Thalib
gagah
Sesuai namanya, Rasulullah SAW pernah menunaikan Shalat Ied bersama Ali bin Abi Thalib di tempat tersebut. lokasinya deket sekali sama Nabawi, kurang lebih 400 meter jalan kaki dari gang Ath-Thayyar. Mungkin juga, Beliau pernah beberapa kali mengimami shalat, sehingga didirikan monumen masjid ini.

terkunci rapat. entah di dalamnya ada apa..

Diantara masjid sahabat-sahabat Rasul, hanya masjid Ali bin Abi Thalib yang penuh coretan. rata-rata, ada tanda  " ❤ "  ditiap coretannya. Yaah, mungkin alsannya ngga jauh beda dengan mengapa di Jabal Rahmah menjadi lokasi yang diidam-idamkan bagi mereka yang menanti pasangan. Fathimah az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib, yang keduanya menyimpan isi hati mereka rapat-rapat, penuh harap dan kekhawatiran, hanya memberitahukan rahasia hati mereka kepada Rabbnya. Dan pada akhirnya, Allah memperkenankan atas keduanya. 

Semoga Allah menghimpun yang terserak dari keduanya, memberkati mereka berdua,  dan kiranya Allah meningkatkan kualitas keturunan mereka.  Menjadikan pembuka pintu-pintu rahmat, sumber ilmu, dan hikmah serta memberikan rasa aman bagi umat. (Doa Rasulullah pada pernikahan Fatimah Azzahra dengan Ali bin Abi Tholib)

do not try this at public mosque

2. Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq

kokoh
Sama halnya seperti masjid Ali bin Abi Thalib. Masjid ini didirikan karena Rasulullah SAW pernah menunaikan shalat bersama sahabat Beliau yang paling loyal. pintu masjid tertutup rapat, tidak dipagari. di muka pintu, banyak sekali tikar-tikar pengemis sekitar. coretan-coretan juga ternyata, mengihasi pintu masjid ini.

3. Masjid Quba
the pure Quba
adalah masjid yang pertama kali dibangun Rasulullah SAW ketika sampai di Madinah. Eksteriornya cantik, putih bersih, menyimpan misteri sejarah. Disempurnakan dengan pohon kurma yang rapi mengelilingi. Interiornya juga bersahaja namun sederhana. Lebih baik sebelum ke masjid Quba, juga masjid-masjid yang lain, berwudhu dulu di hotel dan dijaga wudhunya. Lokasi wudhu sangat sempit dan antrinya itu yang ngga nguati..

Sesungguhnya masjid itu yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut bagimu (Hai Muhammad) bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya terdapat orang-orang yang ingin membersihkan diri - At Taubah, 108

bukan keluarga cemara :)

other pics!

Madinah di pagi hari. it was around 8 a.m.

beli apa aja adaaaa...

I forgot, whether it's Ali bin Abi Thalib Mosque from other point of view of Umar bin Khattab Mosque.

Masjid Mega Mendung. Konon dikenal oleh orang Indonesia sebagai mega mendung, karena waktu Rasulullah SAW mengimami shalat dan memberi khutbah, kaum muslimin sangat menginginkan keteduhan dan mendung. Rasulullah SAW pun berdoa kepada Allah dan saat itu juga, diperkenankan olehNya.



Follow me @nabilladp