Rabu, 25 Juni 2014

,
kumus-kumus

Tahun 2014 ini sungguh nano-nano, rasa jeruk.
Berbeda dengan unpredictable things di tahun-tahun sebelumnya yang masih seputar kampus, tahun ini, dominasi life after campus sangat menguat.

Kenapa rasa jeruk?
Karena ia menyegarkan, kadang masam, manis, warnanya oranye cerah, mencerahkan dan menyehatkan.

Dan ya.. begitulah adanya.

***

Seleksi Administrasi

Saya mendaftar beasiswa LPDP untuk periode kuliah yg dimulai bulan September. LPDP nggak menerima calon mahasiswa yang on going, atau sudah memulai kuliah. Artinya harus apply dan mengikuti seluruh proses sebelum perkuliahan dimulai. Awalnya, duh aras-arasen banget buat daftar bulan Mei, pengennya daftar september aja, lantaran masih berkutat pada proses pendaftaran wisuda di kampus yang cukup belibet. Salah satu keribetannya adalah saya belum tau bisa wisuda kapan, antara akhir mei atau awal juni, berarti ijazah pun masih terombang-ambing di lautan waktu, kapan bisa keluar. Sementara, daftar LPDP harus pake Ijazah dan transkrip asli, nggak seperti pendaftaran S2 UI dan UGM yang bisa pake SKL aja. Oh men..

well, anyway, LPDP adalah.... buka link ini , yang ngaku anak muda gaul harus tau LPDP ya! Boleh banget nih kalo LPDP juga jadi indikator ke-gaulan anak muda dan para pembelajar seluruh Indonesa. tentang LPDP, silahkan googling dan buka website diatas, saya hanya sharing pengalaman aja, yang barangkali ceritanya, berbeda dengan blog-blog lain yang ada di gugel ^^ 

oke lanjut

Sabtu, 22 Maret 2014

,
Saya pengen liburan, tapi kayaknya harus puasa dulu, setidak-tidaknya sampe dapet kampus untuk melanjutkan S2.

Tapi kok...........

Akhirnya saya memutuskan untuk jalan saja, dan mengganti kata liburan dengan silaturahim. Hehe asik ya, segala sesuatu berawal dari niat. Seperti pada postingan-postingan sebelumnya, saya lagi diinapi oleh kegalauan yang saya sendiri masih berusaha nge-figure out kenapa gimana kapan mengapa ya pokoknya 5W 1H lah ya. Berhubung makin nggak tenang dan belum bisa pulang, mending main ke provinsi sebelah, Yogyakarta (Jogja).

Rencananya sih mau mampir akhir maret, sekalian nyari info untuk s2 dan silaturahim sama teman-teman di Jogja. Kebetulan, adik-adik tingkat di FKPH sejumlah 10 orang lolos di kompetisi LKTI Piala Moh. Natsir UII dan akan presentasi pada tanggal 20 Maret. Saya ngerayu Achmad, si Dirut FKPH yang baru, yang juga jadi delegasi, untuk turut ikut jadi official. Well sebenernya official nggak ditanggung oleh panitia, atau bahasa kasarnya bawa nggak bawa urusan anda. Saya merajuk dan menjanjikan untuk mendampingi mereka hingga presentasi selesai. Pokoknya saya mau ikut ke Jogja, tutik!

Saya nitip Achmad untuk beli tiket Malioboro Ekspres ekonomi seharga 110ribu, KA yang melayani perjalanan Malang-Jogja. Kami berdua rencana berangkat Rabu (19 Maret) pagi, sampe jogja sore. Sementara temen-temen lain, berangkat naik travel sehari sebelumnya. Achmad sendiri masih rempong benerin PPT dan ngurus internal organisasi.

Bahkan saat di dalam kereta, Achmad masih ngutek-utek presentasinya dan sesekali berdiskusi dengan saya mengenai peluang dan celah gagasannya itu. Selebihnya, saya membuat diri saya senyaman mungkin dengan buku dan camilan. nyam! Anyway, saya langsung mengkhatamkan buku ini:

haram..?

Sebuah buku yang menyebalkan sekaligus memotivasi lagi untuk mewujudkan mimpi yang similiar. Bagaimanapun juga kaki dengan ukuran sepatu 40 ini masih pengen menjejak di berbagai benua; mungkin tidak akan setangguh para umat Islam terdahulu, mungkin tidak untuk berdagang apalagi berperang. Namun pasti akan ada jutaan kisah dan hikmah yang sangat wajib untuk dibagi.

Malioboro Ekspres pagi itu betul betul jauh dari kata Ekspres. Jalannya lambat banget, kayak naik motor cuman kecepatan 20 km/jam, sudah 2 jam lebih dan kami baru sampai di Blitar. Tapi yang menyenangkan adalah penumpang tidak terlalu ramai. Achmad bisa menempati kursi di hadapanku yang nggak berpenumpang untuk umek dengan laptopnya, aku pun bisa membaca sambil sesekali melihat hamparan langit biru yang sempurna dengan semburat putih cerah. Tidak ada cumulonimbus, baguslah.

Duduk di pinggir jendela kendaraan saya rasa adalah posisi favorit setiap orang. Betul, nggak? Setidak-tidaknya bagi saya dan bapak-bapak tua di bangku deret sebelah yang sedari tadi hanya termangu menatap jendela sambil membetulkan posisi kacamatanya. Saya tidak tahu apa yang dipikirkan beliau , begitu pula sebaliknya. Beruntungnya Allah tidak menganugerahi setiap manusia untuk dapat melihat apa yang dipikirkannya.

Saya meletakkan buku yang baru seperempat halaman saya baca, dan kembali menatap langit yang berpadu dengan hamparan padi yang masih hijau segar. Pikiran saya beradu, lalu lintas kembali ramai, dan tiba-tiba saja muncul satu pertanyaan absurd, buah dari percakapan aneh dengan seseorang yang beberapa hari ini mendera dan mengucurkan puluhan kalimat tanya yang belum bisa serta merta terjawab.

di dunia yang begitu luas ini, bagaimana mungkin kita bisa bertemu..?

***

Sabtu, 08 Maret 2014

,
"Dia memasak makananku, mencuci bajuku, dan merawat anak-anak ku; padahal semua bukan kewajiban atasnya. Sabarlah atas wanita.." - Umar Bin Khattab

Bulan Januari lalu, seorang teman dari kota sebelah main selama beberapa hari di Malang. Sudah sekitar 6 bulan dia "hijrah" dari Malang. Ia pun menyempatkan ketemuan dengan saya, menagih cerita, berbagi kisah. Kami kebetulan sama-sama berencana untuk mendaftar S2 di salah satu PTN tahun ini.

Temanku ini adalah seorang yang cukup saya percaya untuk berbagi cerita dan menjadi diri saya sendiri, begitu dia datang, dia pun nyeletukin, katanya saya lebih feminim. Ini antara bangga atau sakit hati, sudah berjilbab pake rok dari kemaren2 kurang feminim apa coba..

Anyway, ada salah satu celetukannya yang bikin mikir.
Saya bercerita tentang rencana studi. Dia hanya menunduk dan nyengir, kemudian bilang,
"tapi kon iku wedok lho nab..." (tapi kamu itu perempuan, nab)
saya jadi mikir bentar, trus ketawa. sudah tau ini bahasannya bakal mengarah kemana. dia pun melanjutkan, "bukannya aku seorang yang feodal dan menganggap cewek gak boleh sekolah tinggi-tinggi. Tapi lo itu nantinya punya kewajiban lain yang lebih utama dan woy nab, cowok bisa minder. Pantes sampe sekarang lo gak punya pacar.."

Untung saya sudah lebih feminim, kalo nggak pasti orang ini sudah saya gibeng.
saya pun menjelaskan panjang kali tinggi kali volume mengenai point of view saya, sebenarnya bukan kali pertama. Entah karena dianya gak paham-paham ataukah saya yang nggak enthos memahamkan. Dia akhirnya manggut-manggut. Pembicaraan kami break untuk shalat maghrib.

Seusai sholat saya teringat, ada yang pernah bilang ke saya melalui surat, bahwa rencana studi yang sempat saya utarakan sekilas pada suatu forum ternyata "menggetarkan hati". Dia, si penulis, tidak menyangka bahwa saya yang seperti ini, ternyata mengidamkan untuk menjadi wanita karier. Setelah membaca, buru-buru saya klarifikasi melalui sms ke penulis. Dear Sir, i'm not a career woman wanna be.

Kamis, 20 Februari 2014

,
Life's all about moments, of impact and how they changes our lives forever. But what if one day you could no longer remember any of them? - The Vow

Saya menyimpan film ini, hmm..kira-kira pertengahan tahun kemarin. Bermula saat saya mengikuti LKTM Piala Mahkamah Agung di UNS bersama dua adik tingkat saya, Emil dan Cintya, kami menginap di hotel yang kece banget. Amarelo Hotel, worthy dah hotelnya, apalagi gratis (dibayarin kampus) ehehe.

Salah satu fasilitasnya adalah channel dari indovision, dan begitu selesai presentasi, kami masih mempunyai 2 hari disana dan fixed kami habiskan sisa malam untuk nonton acara tv dari indovision. Ini semacam norak, balada anak kost Malang. Kami seringnya nonton 3 jenis tv program. Film, acara musik, dan kartun. Saat ditengah nonton film, ada iklannya the Vow. Sebelumnya saya sudah baca resensi filmnya. Genrenya sudah ketebak, drama. Lebih tepatnya romantic drama. Tentang kesetiaan seorang suami untuk menepati Vow-nya dan memberikan apa yang terbaik untuk istrinya, sekalipun bukan hal yang dia inginkan. What makes me interested is Channing Tatum! hehe dan ceritanya kan taken from a true story. Saya suka film, apapun kecuali horor, yang diangkat dari kisah nyata. Sepulang dari UNS, saya cari filmnya dan saya simpan di laptop sampe beberapa bulan.

Dan baru saya lihat malam ini, setelah tragedi kompre yang akan saya ceritakan mungkin beberapa hari ke depan, berhubung masih dalam tahap menata hati. Lebay tapi nyata.

Beberapa adegan di film The Vow harus saya percepat berhubung saya belum berumur 25 tahun, belum cukup umur buat lihat *tutup mata*. Secara singkat, Leo dan Paige adalah sepasang suami istri yang baru menikah dan mereka mengalami kecelakaan mobil. Leo nya sembuh, Paigenya lupa ingatan. Otaknya tidak mampu merekam ingatan sejak dua tahun terakhir. Dia bahkan lupa kalau Leo adalah suaminya. Perubahan memorinya membuat personality nya pun ikut berubah, jadi seperti Paige sebelum 2 tahun terakhir. Singkat cerita, Leo berusaha keras membantu Paige untuk mengingat lagi sisa-sisa memorinya pada 2 tahun terakhir tapi sia-sia saja. Klimaksnya adalah saat mereka pada akhirnya bercerai; Leo kewalahan untuk membuat istrinya mencintainya lagi. Tapi pada akhirnya, Paige berterima kasih sama Leo karena Paige pun menemukan dirinya lagi, tidak melalui kembalinya ingatan, tapi melalui dia yang berusaha menjadi dirinya sendiri. 

Penggemar film action maupun film yang mementingkan klimaks dalam jalan cerita mungkin bakal ngantuk lihat filmnya. Apalagi kalau hanya membaca satu paragraf singkat-padat-nggak jelas diatas yang dengan sangat singkat menyebutkan apa poin-poin pada filmnya.

Saya memang nggak ingin meresensi, karena udah banyak resensinya, salah satu kisah nyatanya diberitakan di sini. Film ini mencoba mengisahkan tentang esensialnya titik-titik memori dan dengan siapa kita melewatinya. Kita yang sekarang dikaruniai kesenangan dan masa-masa sulit, apa pernah berfikir ya gimana kalo suatu saat kita kehilangan memori berharga itu? Dan yang awalnya begitu mencintai seseorang, bisa kemudian sangat asing dan ditatap pun risih. Berhubung filmnya based on true story, dan singkat ceritanyya bisa di klik di link diatas, ini menunjukkan bahwa Tuhan telah berkehendak. Saat Tuhan berkata, jadilah, maka jadilah. Sepotong memori hilang dan nggak pernah lagi kembali, hati pun dapat terbolak-balikkan dengan mudah. Sekalipun berusaha keras untuk setidaknya merasakan apa yang kita rasakan saat dulu pernah mengalaminya. 

,
arigatou gozaimasu, dear lovely fellas!
Sekitar dua bulan lalu, tepatnya 6 Desember 2013, saya resmi berusia 21 tahun. Hari yang sama saat kami, harus meninggalkan Higashi Hiroshima. Berat bagi kami untuk meninggalkan kota kecil yang meninggalkan begitu banyak kesan. Chikako, seorang mahasiswa HU, pagi-pagi sekali telah datang mengunjungi kami di hotel hanya untuk mengucapkan selamat tinggal, bahkan dia ke hotel bersepeda ontel. Saya yakin hal itu merupakan pengorbanan besar, pasalnya, mahasiswa HU pun terheran-heran dengan kami yang bangun pada jam 5 GMT+9 untuk beribadah shalat subuh. Bagi mereka, itu terlalu pagi, apalagi untuk perkuliahan jam 08.45.
Beberapa dari kami, termasuk saya, sampai menangis terharu. Umemura sensei dan Soko, mengantarkan kami hingga bandara. Pagi itu adalah pagi terberat buat kami yang kopernya overload. Hampir semua dari kami, seharusnya, membayar kelebihan bagasi karena overload. Namun beberapa beruntung karena masih bisa nitip-nitip barang di koper temen lain yang longgar, atau nitip atas nama teman lain gitu.

     Saya, tentu saja, termasuk yang overload.
Saya hanya membawa 1 koper ukuran sepinggang, lebih besar daripada yang saya bawa ke Jerman Juli 2013 lalu yang hanya sekitar se betis, dan 1 carrier bag. Saya bawa koper lebih besar dengan pertimbangan baju-baju tebal karena saat itu winter dan oleh-oleh yang akan makan tempat. Karena saya nggak mau repot bawa lebih dari 2 tas, jadi aku putuskan untuk ngeringkes itu semua di satu koper. Juga, diluar perkiraan. Dulu waktu ke Jerman dan karena kami rombongan ber 8, beban bawaan para traveler dihitung akumulatif, tidak per-orang. Sistem ini membawa keuntungan, jadi yang overload akan secara otomatis jadi beban koper lain yang nggak overload. Nah entah gimana, mungkin ada keterangan tertentu saat booking tiket atau bikin itinerary, saat naik China Airlines ini nggak dihitung akumulatif melainkan sendiri-sendiri. jadi kalo overload, harus nyari2 sendiri bisa nitip ke siapa, atau ya ngerogoh duit buat bayar. 
Dengan kondisi antrian yang mulai mengular dan teman-teman lain yang juga gupuh mau nitip ke siapa, saya jadi bingung dan sungkan berat. Pasalnya, kalo harus ngebuka koper dan bongkar-bongkar, akan sangat ribet dan makan waktu. Saya saja bersyukur banget malam sebelumnya pas packing, koper masih bisa berdiri tegak dan nge-nutupnya saja harus di dudukin dulu. Ada seorang teman yang overload banget, sampe puluhan kg dan dia menunggu teman lain yang ngantri dan nitipin barangnya. Dan saya kira, hanya tinggal satu teman yang kopernya masih bisa dijejali barang titipan. Entah suatu keputusan yang tepat atau tidak karena diputuskan ditengah kegupuhan dan dalam kondisi masih ngantuk, saya akhirnya meminjam uang Anis dan kemudian ditambahkan dengan sisa lembaran yen yang masih tersisa di dompet hingga terkumpul 8.500 yen. Bagasi saya kelebihan 2 kg, sedangkan harga per kg nya adalah 4.250 yen. Suchuwādesunya baik, saya yakin saya sebenernya kelebihan beberapa kilo tapi di diskon jadi 2 kg saja. Popo beda cerita, dia harus ngeluarin duit sampe beberapa puluh ribu yen, seingat saya. 
Saya langsung lemes, ulang tahun malah tekor. Dalam hati saya bergumam bahwa ini adalah pelajaran besar biar ntar kalo ke luar negeri lagi harus nyari trik biar nggak overload. Sisi lain saya bertanya-tanya, apa ini bagian dari teguran? apa maksud teguranNya? apa saya kurang amal ya? apa saya berlebih-lebihan ya?
Saya memutuskan untuk duduk dan mencoba rileks, menunggu teman-teman lain yang masih ngantri. Aulia tiba-tiba mendatangi saya, memeluk, dan berucap, "bunda jadinya bayar ya? nggak papa ya, semangat. tadi sayang banget sebenernya masih ada yang kosong tapi udah masuk duluan, pada nggak ngasih tauin.."
Nggak ada yang salah dari kalimatnya Aul, tapi entah, saya tiba-tiba buetek pake k. Saya pun hanya berucap, iya nggak papa, kemudian menjauh dari Aul dengan muka cemberut dan cari tempat duduk lain. Aul jadi terbengong-bengong dan kelihatan serba salah.
Beberapa menit setelahnya saya mengambil nafas dalam dan mencoba berpikir jernih dan menyadari betul bahwa itu adalah salah saya, bukan salah teman yang tidak mau menawarkan sisa bagasinya, bukan salah aul yang telah menginfokan. Saya jadi ngerasa bersalah banget udah jutek sama Aul dan sempat su'udzon dengan teman lain yang lebih dulu masuk. Saya bertingkah bodoh dan itu sangat menyebalkan, saking sebelnya sama diri sampe pengen nangis, ini hal yang selalu saya rasakan kalo abis bertingkah atau berucap bodoh.
Akhirnya saya minta maaf sama Aul dan dia pun bermurah hati memaafkan. mumumumu....

***

Senin, 10 Februari 2014

,
Winter, Higashi Hiroshima 3 Desember 2013. Pilgrim the path

Minggu ketiga bulan Januari lalu saya ke Jakarta.
Agendanya: nyari data buat skripsi. Wetseh, kurang keren apa coba? Skripsi normatif aja sampe nyari data di Jakarta. Nah, belagu lagi kan..

Seperti pada postingan disini , sudah saya jelaskan bahwa agenda minggu ketiga bulan januari adalah silaturahim ke Jakarta. Tujuannya memang silaturahim, pengen mengenal orang-orang yang berkutat di bidang yang sedang saya teliti dan menjalin link. Diantaranya, saya bertemu mbak Myrna Safitri, Epistema Institute, pak Marwan Batubara, dan ke JATAM. Ya, skripsi saya emang nggak jauh-jauh dari tambang dan masyarakat adat.

Tapi memang sudah saya niatkan untuk silaturahim, insya Allah.

***

Penerbangan selasa pagi, 21 januari.
Saya teringat betul pagi itu cumulonimbus sangat pekat, bahkan saya nyaris tidak bisa melihat matahari, dan debur ombak di utara Jakarta pun terlihat lebih deras dari atas awan. Mengerikan. Pekan itu, Jakarta lagi dihadang banjir, katanya sih banjir kiriman dari bogor. Selalu bogor yang disalah-salahin. Kasian...

Selasa itu, saya ada janji jam 12.00 - 13.00 dengan mbak Myrna Safitri, yang setelah beberapa hari sesudahnya, saya lebih tepat memanggil beliau "Bu", bukan "Mbak" lantaran usianya yang sudah seusia orang tua saya. Selain itu ternyata suaminya mbak Myrna ini teman ayah saya semasa di H*I dulu, yah dunia begitu sempit ya.

Mbak Myrna jadwalnya padat banget. Kami janjian di hotel akmani di jalan wahid hasyim. saya sudah stand by dari jam 9 trus jadi anak gaul sevel dulu deh, wehe rajin banget ya. bukan apa-apa, cuman kalo balik dulu ke kalibata trus baru ke akmani, takutnya nggak nutut. Nah daripada saya membuat orang menunggu, jadilah dari bandara cus langsung ke hotel dengan rok merah polkadot dan atasan kemeja oranye saya, saya berusaha se formal mungkin dengan tidak meninggalkan identitas 'mahasiswa' saya. Ceritanya, saya akan 'mengganggu' mbak Myrna ditengah2 rapatnya dengan KPK. Syukur, ditengah acara, saya dikenalkan dengan beberapa orang yang berkutat dibidang energi. Pertemuan pun berjalan normal dan lancar, saya bahkan sempat berkenalan dengan orang KPK dan mengidentifikasi pertemuan macam apa nih hahaha kaga lah ya.

Saya keluar hotel sekitar pukul 15.30 dan ayah sudah wanti-wanti untuk pesan taksi dengan merk "burung biru" atau taksi dengan merek "cepat" untuk amannya. Saya naik taksi dengan merk "cepat". Si supir awalnya terlihat ragu mau berhenti atau tidak , tapi toh berhenti juga. Saya berusaha berbicara dengan logat jakarta biar nggak dikira orang asing trus disasarin gitu. Konon kata ayah, kehidupan di jakarta itu cruel, man! ya ayah emang nggak bilang pake man, man gitu sih, intinya supir taksi pun bisa bawa anak gadis kabur dan diculik. Ini antara nyata atau ayah saya yang khawatirnya kebangetan. Toh si supir taksi langsung mendeteksi logat saya, "dari jawa timur ya mbak..." ea, gagal deh pencitraan.

Saya dan pak supir ngobrol ngalor ngidul, dan biar terlihat update dengan jakarta, saya ngangkat tema banjir. Tau-tau bapak supirnya ngangkat tema hukum, nah kan agak jauh juga nyambungnya. Tau-tau lagi, bapaknya cerita kalo dulunya sempat kerja di Taiwan dan sempat ikut majelis muslim disana. Dia cerita bahwa di Taiwan juga banyak akhi dan ukhti macam saya. Lho, saya jadi sungkan sendiri dibilang ukhti-ukhti hehehe mungkin gara2 saya yang pakai rok dan jilbab agak lebar. 

Dari sinilah si pak supir yang saya catat namanya itu mulai sedikit-sedikit "berdakwah", mulai dari bagaimana cara kita berperilaku dengan yang non-muslim, sampai saat beliau menyarankan saya untuk belajar banyak dari Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah yang yah, kita sama-sama tahu mengenai kisah cintanya dengan Ali bin Abi Thalib yang begitu melegenda dan menjadi impian para ukhti akhi untuk setidak-tidaknya memiliki kisah cinta yang serupa.

tapi, tidak mudah ya..

Beliau juga sempat mengingatkan saya untuk pentingnya istiqamah, sebuah pesan yang sama yang saya terima dari seorang teman. Saya menyepakati bahwa keistiqamahan itu bukan hal mudah dan bisa menjadi kunci kecintaan Allah sama hambaNya. Allah pun lebih menyukai amalan kecil yang dikerjakan secara istiqamah, begitu kira-kira jika saya tidak salah hadist. Terakhir, beliau melafalkan surat Al Ahzab ayat 33 dengan indah dan sebelumnya, bahkan meminta maaf terlebih dahulu karena tidak ingin bermaksud menggurui atau sok tahu. Al Ahzab ayat 33 itu memiliki arti:

dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

saya baca di asbabun nuzul Al Qur'an bahwa ayat tersebut mengisyaratkan untuk istri Rasulullah agar tetap di rumah menjaga harta suaminya. Namun hendaknya menjadi panutan buat muslimah setelahnya, wallahu a'lam.

Ketika saya hampir sampai di pancoran, yang mana udah deket banget dengan kontrakan ayah, si pak supir itu masih meminta saya untuk membaca biografi Fathimah Az-Zahra dan meneladaninya dalam kehidupan saya.

Bapak tau saja, bahwa saya sedang berusaha...

Terima kasih untuk pak supir taksi itu, Bapak Japar Sidik, atas dakwah singkatnya.

Seorang bisa jadi hanya supir taksi, tapi siapa tahu perhitungan amalnya diakhirat kelak pun akan lebih berat amal baiknya daripada pejabat-pejabat yang berpangkat jauh di atasnya. wallahu a'lam.

***

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan, itulah keberanian.
atau mempersilahkan.
yang ini, namanya pengorbanan...


,
(katanya) film action

Saya baru tau apa itu comic 8 saat saya sakit. (postingan sebelumnya)
Seorang teman merekomendasikan lihat comic 8 biar makin sembuh. Apaan tuh comic 8? bagus mana ama comic detective conan?
Eh ternyata comic 8 itu film..........

Berhubung lagi ngedrop banget, mana mungkin juga ya nonton kala itu. Akhirnya baru kesampaian nonton kemarin (9 Februari) di surabaya sama adek sepupu (Ayu) dan mbak Iyuth. Film produksi Falcon Pictures dan disutradarai Anggi Umbara ini berkisah tentang perampokan bank oleh para comic-comic (stand up comedian) yang jadi para penjahatnya. Mereka terbagi dalam 3 team yang berbeda buat merampok bank dan tidak sengaja dipertemukan di Bank INI. Iye betul, bank INI....

Jalan cerita yang nge-flash back bikin filmnya makin berkualitas. Siapa sangka ternyata mereka sebenernya tujuan utamanya bukan merampok, tapi menjebloskan gembong rampok 'asli'nya ke penjara.

Trailernya bisa dilihat disini nih:


Nah karakter mereka sendiri ada si Bintang Timur (gondrong, mukanya paling polos), Mongol (si agak-banci), Mudy (pria bergitar), Ernest Prakasa (kokoh-kokoh maco), Ary Kriting (dari Papua, dia yang minta ibukota pindah ke papua hahaha koplak bener), dan Kemal Palevi (Arab, jago IT), Babe (kribo dangdut), dan Fico (gendut banget dan paling imut suaranya). Ada juga Nirina Zubir yang jadi AKP seksi, indro warkop yang jadi bos aslinya si comic, agung hercules, pandji dan nickita yang jadi oknum di RSJ. Nah saya agak terganggu nih ama akting seksinya nikita mirzani. Mohon maaf ya, jadi terkesan murahan gitu si nikita.

Diantara kesemuanya, memang masing-masing punya karakter sendiri yang mewarnai film. Si Arie yang dari papua misalnya, logat bicaranya mengingatkan saya sama tetangga kos dari Papua yang berisiiikkkk bener demennya teriak-teriak. Dan logatnya sama persis, jadi lucu aja ingetnya hehe bukan maksud rasis lo ya! Tapi saya pribadi paling suka sama si Kokoh Ernest. Maco bener kalo pake stelan jas begitu. Baru nyadar ya, ternyata kokoh-kokoh bisa terlihat maco juga kalo dandan ala mafia dan bawa-bawa senjata. Film action ini juga kelihatan keren lantaran cara pengambilan, tembak-tembakannya juga udah kayak di film action beneran, walopun banyak asal nembaknya. Yah namanya juga film comedy ya...

Yang jelas film ini bisa bikin ketawa hampir sepanjang jalannya film. Bukan hanya karna kekonyolan si standup comediannya, tapi juga karena jalan cerita, mimik muka, dan lain-lain. Koplak bener pake K!

Btw, nih gambar si kokoh kece:







Kece bener kan?
Baru kali ini saya suka ngelihatin actionnya kokoh-kokoh mumumu :3 hahah ini agak jijik emang ya.
Yasudah, kalo penasaran, nonton aja filmnya!



Minggu, 09 Februari 2014

,
balada tugas akhir

Dua hal diatas lah yang menjadi penyebab utama saya (lama banget) nggak ngeblog.

Skripsi.
Tugas akhir yang (katanya) hampir selalu bikin galau semua mahasiswa. Di awal semester 7, saya belagu bener. Saya bilang, skripsi mah gitu-gitu aja..ntar juga kelar.
BELAGU!

Ya memang segalanya berjalan (hampir) sesuai rencana, alhamdulillah. Tema proposal sebenarnya sudah saya setting dan incer sejak semester 6, dan saya ikutkan di beberapa kompetisi termasuk JSP di Jerman kemarin. Tujuannya adalah untuk memperkaya ilmu dan biar familiar gitu sama topiknya. Kebetulan, konsentrasi agraria yang jumlah mahasiswa nya cuman 4 orang, memberi keuntungan tersendiri. Kami berempat jadi mahasiswa kesayangan. Karenanya, kami dikasih tugas UAS bikin PROPOSAL. Dua mata kuliah, yakni politik hukum agraria dan hukum pertambangan dan kehutanan harus ngumpulin proposal skripsi. Kesempatan ini nggak saya sia2kan, sebisa mungkin proposal ini jadi bahan awal. Saat liburan semester, saya ngutik2 lagi nih proposal. rajin bener ya?

Bukan bermaksud kerajinan (terlalu rajin), hanya saja saya di tahun ini juga berorganisasi, lebih tepatnya selama saya kuliah alhamdulillah organisasi jalan terus. Artinya,ada 2 tuntutan, yakni tuntutan organisasi dan tuntutan orang tua. termasuk di dalamnya tuntutan hati saya sendiri yang harus saya seimbangkan. Jadilah manajemen waktu jadi hal yg wajib dilakukan.

Nah karena desakan teman-teman, bayangkan aja, selama rentang waktu agustus-oktober, tiap ketemu anak 2010 pertanyaannya sama semua: kamu udah ngajuin judul?
ini apa-apaan -____- padahal saya masih santai banget.
lalu Zulma, salah satu temen di konsentrasi agraria, juga ngajakin seminar proposal (sempro) bareng. Ini karna dosen kesayangan kami, Pak Imam Koeswahyono, mendambakan agar kami lulus bareng dan sempronya panel dua-dua. Rizaldi pun (salah satu temen konsentrasi) juga lagi ngebut proposal, motivasinya besar banget karna pada saat itu KPS S1 lagi di Aussie, beliau terkenal keras banget menerapkan aturan. Berhubung kartu kuning (salah satu syarat sempro) ada yang malsu, jadi bagaimanapun harus sempro sebelum beliau datang, makanya zaldi rajin banget.

Singkat cerita, saya nggak jadi panel sama zulma, jadinya panel ama zaldi. Kami mengajukan dua dosen yang sama pula, kebetulan banget. Enis, menjadi satu2nya anak agraria yang sempro paling akhir, yakni Januari 2014 (bulan kemarin). Alhamdulillah sempro terlaksana dengan ramai dan ndadak sekitar tgl 18 Oktober. Banyak temen dan junior yang protes karna gak dikabarin. Ya maap ya hehe.. Idealnya, SK berlaku 6 bulan. Rencananya, oktober-november-desember diisi kegiatan organisasi dan januari awal udah bisa daftar kompre. Betapa indahnya...

karena rencana hanya tinggal rencana.

Follow me @nabilladp