Sabtu, 22 Maret 2014

,
Saya pengen liburan, tapi kayaknya harus puasa dulu, setidak-tidaknya sampe dapet kampus untuk melanjutkan S2.

Tapi kok...........

Akhirnya saya memutuskan untuk jalan saja, dan mengganti kata liburan dengan silaturahim. Hehe asik ya, segala sesuatu berawal dari niat. Seperti pada postingan-postingan sebelumnya, saya lagi diinapi oleh kegalauan yang saya sendiri masih berusaha nge-figure out kenapa gimana kapan mengapa ya pokoknya 5W 1H lah ya. Berhubung makin nggak tenang dan belum bisa pulang, mending main ke provinsi sebelah, Yogyakarta (Jogja).

Rencananya sih mau mampir akhir maret, sekalian nyari info untuk s2 dan silaturahim sama teman-teman di Jogja. Kebetulan, adik-adik tingkat di FKPH sejumlah 10 orang lolos di kompetisi LKTI Piala Moh. Natsir UII dan akan presentasi pada tanggal 20 Maret. Saya ngerayu Achmad, si Dirut FKPH yang baru, yang juga jadi delegasi, untuk turut ikut jadi official. Well sebenernya official nggak ditanggung oleh panitia, atau bahasa kasarnya bawa nggak bawa urusan anda. Saya merajuk dan menjanjikan untuk mendampingi mereka hingga presentasi selesai. Pokoknya saya mau ikut ke Jogja, tutik!

Saya nitip Achmad untuk beli tiket Malioboro Ekspres ekonomi seharga 110ribu, KA yang melayani perjalanan Malang-Jogja. Kami berdua rencana berangkat Rabu (19 Maret) pagi, sampe jogja sore. Sementara temen-temen lain, berangkat naik travel sehari sebelumnya. Achmad sendiri masih rempong benerin PPT dan ngurus internal organisasi.

Bahkan saat di dalam kereta, Achmad masih ngutek-utek presentasinya dan sesekali berdiskusi dengan saya mengenai peluang dan celah gagasannya itu. Selebihnya, saya membuat diri saya senyaman mungkin dengan buku dan camilan. nyam! Anyway, saya langsung mengkhatamkan buku ini:

haram..?

Sebuah buku yang menyebalkan sekaligus memotivasi lagi untuk mewujudkan mimpi yang similiar. Bagaimanapun juga kaki dengan ukuran sepatu 40 ini masih pengen menjejak di berbagai benua; mungkin tidak akan setangguh para umat Islam terdahulu, mungkin tidak untuk berdagang apalagi berperang. Namun pasti akan ada jutaan kisah dan hikmah yang sangat wajib untuk dibagi.

Malioboro Ekspres pagi itu betul betul jauh dari kata Ekspres. Jalannya lambat banget, kayak naik motor cuman kecepatan 20 km/jam, sudah 2 jam lebih dan kami baru sampai di Blitar. Tapi yang menyenangkan adalah penumpang tidak terlalu ramai. Achmad bisa menempati kursi di hadapanku yang nggak berpenumpang untuk umek dengan laptopnya, aku pun bisa membaca sambil sesekali melihat hamparan langit biru yang sempurna dengan semburat putih cerah. Tidak ada cumulonimbus, baguslah.

Duduk di pinggir jendela kendaraan saya rasa adalah posisi favorit setiap orang. Betul, nggak? Setidak-tidaknya bagi saya dan bapak-bapak tua di bangku deret sebelah yang sedari tadi hanya termangu menatap jendela sambil membetulkan posisi kacamatanya. Saya tidak tahu apa yang dipikirkan beliau , begitu pula sebaliknya. Beruntungnya Allah tidak menganugerahi setiap manusia untuk dapat melihat apa yang dipikirkannya.

Saya meletakkan buku yang baru seperempat halaman saya baca, dan kembali menatap langit yang berpadu dengan hamparan padi yang masih hijau segar. Pikiran saya beradu, lalu lintas kembali ramai, dan tiba-tiba saja muncul satu pertanyaan absurd, buah dari percakapan aneh dengan seseorang yang beberapa hari ini mendera dan mengucurkan puluhan kalimat tanya yang belum bisa serta merta terjawab.

di dunia yang begitu luas ini, bagaimana mungkin kita bisa bertemu..?

***

Sabtu, 08 Maret 2014

,
"Dia memasak makananku, mencuci bajuku, dan merawat anak-anak ku; padahal semua bukan kewajiban atasnya. Sabarlah atas wanita.." - Umar Bin Khattab

Bulan Januari lalu, seorang teman dari kota sebelah main selama beberapa hari di Malang. Sudah sekitar 6 bulan dia "hijrah" dari Malang. Ia pun menyempatkan ketemuan dengan saya, menagih cerita, berbagi kisah. Kami kebetulan sama-sama berencana untuk mendaftar S2 di salah satu PTN tahun ini.

Temanku ini adalah seorang yang cukup saya percaya untuk berbagi cerita dan menjadi diri saya sendiri, begitu dia datang, dia pun nyeletukin, katanya saya lebih feminim. Ini antara bangga atau sakit hati, sudah berjilbab pake rok dari kemaren2 kurang feminim apa coba..

Anyway, ada salah satu celetukannya yang bikin mikir.
Saya bercerita tentang rencana studi. Dia hanya menunduk dan nyengir, kemudian bilang,
"tapi kon iku wedok lho nab..." (tapi kamu itu perempuan, nab)
saya jadi mikir bentar, trus ketawa. sudah tau ini bahasannya bakal mengarah kemana. dia pun melanjutkan, "bukannya aku seorang yang feodal dan menganggap cewek gak boleh sekolah tinggi-tinggi. Tapi lo itu nantinya punya kewajiban lain yang lebih utama dan woy nab, cowok bisa minder. Pantes sampe sekarang lo gak punya pacar.."

Untung saya sudah lebih feminim, kalo nggak pasti orang ini sudah saya gibeng.
saya pun menjelaskan panjang kali tinggi kali volume mengenai point of view saya, sebenarnya bukan kali pertama. Entah karena dianya gak paham-paham ataukah saya yang nggak enthos memahamkan. Dia akhirnya manggut-manggut. Pembicaraan kami break untuk shalat maghrib.

Seusai sholat saya teringat, ada yang pernah bilang ke saya melalui surat, bahwa rencana studi yang sempat saya utarakan sekilas pada suatu forum ternyata "menggetarkan hati". Dia, si penulis, tidak menyangka bahwa saya yang seperti ini, ternyata mengidamkan untuk menjadi wanita karier. Setelah membaca, buru-buru saya klarifikasi melalui sms ke penulis. Dear Sir, i'm not a career woman wanna be.

Follow me @nabilladp