Senin, 30 Juli 2018

,

manfaat menabung, menabung untuk masa depan, manfaat menabung untuk masa depan, tips menabung, tips menabung untuk millennials, lomba blog LPS, lembaga penjamin simpanan adalah, inspirasi ayo menabung


Bing beng bang yuk kita ke bank
Bang bing bung yuk kita nabung
Tang ting tung hey jangan dihitung
Tau-tau kita nanti dapat untung

Siapa yang membacanya sambil nyanyi? Hayo.. ketauan deh generasi apa! Lagu yang dinyanyikan oleh Saskia, Geofanny, dan Eyang Titiek Puspa ini memang populer di tahun 1996. Hm.. padahal tahun itu kan Indonesia sedang menuju keterpurukan ekonomi yang besar. Tapi meski demikian, ajakan menabung yang ditujukan untuk Generasi Millennials yang saat itu masih anak-anak, sepertinya bukan tanpa alasan. Lagu itu memiliki pesan yang kuat agar kelak anak-anak yang tumbuh di akhir Era Orde Baru tersebut lebih melek finansial di masa depan. Ada sebuah harapan dan warisan kebaikan dalam lagu ini, yaitu agar generasi masa depan lebih melek finansial, lebih berhati-hati dalam menabung dan berinvestasi, serta mempercayakannya pada lembaga yang amanah dan terjamin.




Menuai Manfaat dari Menabung  

Tragedi tahun 1998 memang sangat memukul Indonesia, juga generasi orang tua kita. Orang tua kita yang merupakan Generasi Baby Boomers dan Generasi X sepertinya sudah sangat kenyang makan asam garam krisis moneter tahun 1998, sehingga mereka sangat gencar menanamkan doktrin menabung ini pada anak-anaknya.

Menabung pada dasarnya merupakan langkah untuk menyisihkan dana dari penghasilan untuk disimpan, baik disimpan di rumah, di media lain, maupun di bank. Berapapun nominal yang kita sisihkan, menabung tetap membawa banyak manfaat, apalagi jika dilakukan secara rutin. Beberapa manfaat menabung yang bisa kita dapatkan antara lain:

Belajar hidup hemat.
Orang yang terbiasa menabung, secara otomatis akan memikirkan alokasi atau berapa persen dari pendapatan yang akan ia simpan dan kelak digunakan untuk kebutuhan yang lebih mendesak. Aktivitas ini dapat menjaga kita dari sifat konsumtif yang berlebihan.

Melatih hidup sederhana.
Selain mencegah konsumerisme, kita juga berlatih untuk hidup sederhana. Ketika suatu saat keadaan ekonomi membaik bahkan berlebih, kita tidak akan mudah menghambur-hamburkan uang dan mengubah gaya hidup secara drastis, sebab sudah terbiasa hidup sederhana.

Memiliki cadangan keuangan dalam keadaan mendesak.
Kelebihan menabung adalah dana tersebut bisa kita ambil sewaktu-waktu dan dalam keadaan mendesak. Kalau kita menyimpan uang di bank, tinggal meluncur ke ATM terdekat. Kalau harus transfer sejumlah uang, kita bisa memanfaatkan fasilitas internet banking yang sudah sangat populer di masyarakat.

Mencegah berutang.
Dengan memiliki dana cadangan, apabila kita berada pada situasi yang sulit, tabungan bisa menjadi alat pencegah untuk berutang. Tentu kita tidak mau tercekik bunga utang yang mungkin saja kita tidak sanggup menanggungnya, bukan?

Resiko kecil.
Menabung memang tidak menambah nominal uang, bahkan biasanya di bank konvensional, tabungan kita juga tergerus untuk biaya administrasi atau biaya jasa apabila kita melakukan transaksi tertentu seperti transfer antar bank. Namun, apabila kita menabung di bank, resiko kehilangan menjadi kecil karena bank telah memiliki sistem yang cukup aman dan canggih. Selain itu, sekarang sudah ada lembaga yang menjamin simpanan para nasabah di bank.
manfaat menabung, menabung untuk masa depan, manfaat menabung untuk masa depan, tips menabung, tips menabung untuk millennials, lomba blog LPS, lembaga penjamin simpanan adalah, inspirasi ayo menabung

Salah satu pelajaran berharga dari krisis moneter tahun 1998 adalah lahirnya Lembaga Penjamin Simpanan. Sebagaimana kita tahu, krisis moneter 1998 menekan kepercayaan masyarakat terhadap bank, mau tidak mau pemerintah harus berbenah untuk mengembalikan trust masyarakat serta menjaga stabilitas sistem perbankan. Tahun 2005, satu setelah diundangkannya UU No. 22 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan, lahirlah secara resmi Lembaga Penjamin Simpanan. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memiliki fungsi untuk menjamin simpanan nasabah penyimpan dan turut aktif dalam memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai dengan kewenangannya.

manfaat menabung, menabung untuk masa depan, manfaat menabung untuk masa depan, tips menabung, tips menabung untuk millennials, lomba blog LPS, lembaga penjamin simpanan adalah, inspirasi ayo menabung


Nah, kehadiran LPS ini bisa membuat kita bernafas lega dan tidak perlu mikirin uang yang kita tabung di bank. Kita pun, yang kini kebanyakan sudah berusia di atas 25 tahun dan mungkin sudah ada yang punya anak, bisa meneruskan warisan berharga ini kepada anak-anak kita. LPS juga sering memberikan edukasi ke masyarakat mengenai finansial untuk berbagai kebutuhan. Yuk, kenali lebih dalam mengenai LPS dengan melihat video dibawah ini:




Belajar dari Pengalaman sebagai Sandwich Generation  

Aku dan suami, punya pengalaman tersendiri dalam motivasi untuk menabung dan mewariskan hal ini kepada anak-anak kami kelak. Pengalaman berada di lingkaran sandwich generation cukup menjadi pelecut semangat. Kami yang berada di posisi yang cukup sulit pada tahun-tahun pertama pernikahan, karena saat sedang merintis segala sesuatu, kami juga harus membiayai keluarga mertua di desa dan menanggung biaya anak.

Kami sadar bahwa tidak ada yang bisa menyelamatkan kondisi keuangan keluarga selain diri sendiri. Sejak itu, aku mulai rajin memperkaya wawasan tentang keuangan, memisahkan tabungan pribadi dengan rekening bersama atau rekening tabungan keluarga, serta belajar investasi. Tentu saja aku dan keluarga juga memilih lembaga, aku hanya mau menitipkan tabungan di bank yang telah dijamin oleh LPS. 
Beberapa bank yang aku gunakan untuk menyimpan tabungan.

Saat aku mulai sadar mengenai pentingnya mengelola keuangan sejak kecil, aku mulai mempersiapkan satu tabungan khusus untuk pendidikannya kelak. Itu lho, tabungan perencanaan, tau kan? Jadi kita menabung dengan jumlah tertentu setiap bulannya yang langsung autodebet dari rekening kita. Tabungan perencanaan itu juga tidak bisa kita ambil sewaktu-waktu, melainkan hanya bisa diambil di akhir tahun atau setelah rentang beberapa tahun dari kesepakatan antara nasabah dan bank. 



Selain itu, aku juga ingin mewariskan kebiasaan baik dalam menabung ini sejak anakku masih kecil. Saat usia 18 bulan, ia ku belikan celengan warna yellow dengan gambar burung kesukaannya. Ia sangat antusias! Setiap hari, suamiku juga ikut melatih anakku untuk memasukkan uang koin dan kertas ke dalam celengannya itu.

Selain itu, aku juga berbagi melalui media sosial mengenai pentingnya melek finansial dan menabung bagi generasi Millennials. Seringnya aku berbagi melalui blog dan fitur instastory di instagramku. Hasilnya beragam, rupanya sebagian besar followersku sangat antusias ketika aku berbagi wawasan mengenai topik ini.


Berbagi wawasan finansial di media sosial (instagram @NabillaDP)



Mewariskan Kebaikan dengan Menabung untuk Orang Tua Millennials  

Meneruskan aktivitas menabung ini juga perlu kita sesuaikan dengan perkembangan zaman. Kalau dulu di zaman orang tua kita, zaman Generasi Baby Boomers dan Generasi X, motivasi terbesar kedua generasi ini untuk menabung maupun berinvestasi adalah untuk membeli aset, baik berupa rumah, tanah, maupun mobil. Kerap juga kita dengar, terutama di desa, bahwa orang yang sukses adalah yang rumahnya besar dan punya mobil. Prinsip ini sangat berbeda dengan Generasi Millennials yang memiliki tujuan lain dalam menabung.

Menurut riset yang dilakukan Qualtrics, nilai ekonomi bagi millenials jaman sekarang berubah tergantung dari gaya hidup dan tempat ia bekerja. Kebanyakan millennials memilih untuk menyewa rumah karena mereka melihat orang-orang sekitarnya membeli properti dan menjualnya lagi dengan keuntungan yang tidak lebih dari 40 persen. Saat akan membeli rumah atau properti, Generasi Millennials pun banyak berpikir tentang pertimbangan akan berpindah pekerjaan keluar kota atau bahkan melanjutkan pendidikan di luar negeri dan berkarier di sana.

Perilaku Generasi Millennials ini makin diperkuat dengan adanya konsep sharing economy yang memudahkan mereka untuk berbagi dan menekan biaya hidup. Disatu sisi, Generasi Millennials juga lebih suka membelanjakan uang maupun tabungannya untuk perihal yang menambah pengalaman mereka, seperti traveling, nongkrong di cafe yang lagi hits, datang ke konser dan lain sebagainya. Mayoritas dari Generasi Millennials kurang suka menghamburkan uang untuk membeli barang yang bagi mereka “nggak penting-penting amat”. Ada pula dari mereka yang mengaku kesulitan menabung lantaran gajinya habis untuk menuruti gaya hidup maupun habis karena jebakan lingkaran sandwich generation

Meski memiliki motivasi menabung dan perilaku konsumsi yang berbeda, aktivitas menabung tetap tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan manusia. Sebab, menabung sama halnya mewariskan kebaikan untuk generasi masa depan. Generasi Millennials yang kini sudah berusia 20-30 tahun, sebentar lagi akan menduduki posisi penting dalam karirnya. Begitu pula perannya yang sudah pasti akan meningkat dalam menstimulasi generasi di bawahnya untuk lebih giat menabung. Oleh karena itu, dari sekarang, penting bagi kaum millennials, khususnya yang sudah menjadi orang tua, untuk belajar bagaimana menabung yang baik dan meneruskan warisan ini kepada Generasi Z dan Generasi Alpha nantinya.




Berikut beberapa tips yang bisa diterapkan oleh Bunda Millennials, generasi usia produktif zaman now agar bisa mewujudkan impian dan mewariskan kebaikan menabung kepada generasi masa depan:

Pertama, tentukan tujuan dan prioritas. Kita perlu paham dengan kebutuhan diri sendiri juga keluarga, apa saja yang perlu didahulukan serta dinomorduakan. Dengan memahami tujuan, kita tidak akan kehilangan arah di masa depan. Misalnya, kita menabung untuk haji, untuk pendidikan anak, atau untuk liburan, tentu semua itu perlu direncanakan sejak awal.

Kedua, tabung 10% dari gaji di awal. Jangan belakangan, keburu habis untuk bersenang-senang! Hehehe. Dengan begini, gaya hidup kita pun akan menyesuaikan isi dompet, bukan kebalikannya.

Ketiga, coba menabung di tanggal yang sama. Caranya, bisa mencoba menabung di tabungan perencanaan yang bisa autodebet di tanggal yang sama setiap bulannya. Ini juga akan membantu kita untuk mengontrol pengeluaran. Atau bisa juga menyisihkan Rp 20.000 rupiah setiap harinya, lumayan lho daripada dua puluh ribunya terbuang untuk hal yang sia-sia?

Keempat, bijak dalam mengelola pengeluaran. Kita perlu tau kapan waktunya membeli gadget baru, kapan waktunya makan enak, kapan menghemat, dan lain sebagainya. Dengan disiplin yang baik, bukan tidak mungkin kalau kebiasaan baik ini terus tertanam di alam bawah sadar hingga tua dan bisa kita teruskan ke anak-cucu kita.

Kelima, bersedekah. Wah yang ini jangan lupa ya! Dalam harta kita, ada harta orang lain juga. Bersedekah juga insya Allah menjadi salah satu cara agar isi tabungan dan investasi kita terus berkah.

Para bunda punya pengalaman apa dalam menabung? Yuk, berbagi di kolom komentar J






Referensi:
Freepik.com
Canva.com
http://lps.go.id
https://rumahmillennials.com/2018/07/20/5-tips-mengelola-keuangan-untuk-generasi-millennials/#.W11y4fkzbIV
https://womantalk.com/career/articles/kata-pakar-tips-mengelola-gaji-untuk-kaum-millennial-xvWW8
https://finance.detik.com/perencanaan-keuangan/d-3620868/generasi-milenial-dan-keuangan-mereka
https://career.popbela.com/working-life/ria-theresia/prediksi-masa-depan-millenials-tidak-mau-punya-rumah-mobil-atau-aset/full
https://www.vice.com/id_id/article/59dvgn/pemerintah-bingung-melihat-millenial-kurang-boros-nih-kami-beri-alasannya
https://www.youtube.com/watch?v=WNMryImhFyw
https://economy.okezone.com/read/2017/02/10/320/1614910/6-manfaat-menabung-untuk-kehidupanmu

Minggu, 29 Juli 2018

,

ayo menabung, tips menabung, tips menabung untuk generasi z, lomba blog LPS, lembaga penjamin simpanan, inspirasi ayo menabung

Ada pepatah yang mengatakan bahwa pelaut yang handal tidak lahir di lautan yang tenang. Ia lahir di laut penuh gelombang dan ombak ganas. Ia ditempa dengan kilat dan badai di laut lepas. Ia dewasa karena keuletannya mengatasi persoalan, menjadikannya seorang pelaut tangguh dan mampu beradaptasi di kehidupan yang liar.

Gambaran itulah yang aku lihat pada suami dan adik iparku. Kedua bersaudara ini menghabiskan masa kecil hingga SMA di desa terpencil di Kabupaten Banjarnegara. Saat ada yang bertanya ke suami atau adikku, “Asalnya dari mana?” dan kemudian mendapat jawaban, “Banjarnegara,” mereka selalu mengernyitkan alis.

“Banjarnegara itu… dimana ya?”

Jedoeeeeng!!

Pernah suamiku berkeluh kesah, “Mengapa orang pada nggak tau Banjarnegara, ya? Apa karena kebanyakan berita yang kerap muncul adalah tentang bencana alam saja?!” ujarnya sambil menggerutu.

Meski secara geografis lokasinya kurang strategis, Banjarnegara sepatutnya bangga, sebab kabupaten penghasil buah salak ini telah melahirkan dua lelaki tangguh berlogat ngapak yang kini hidup di Jawa Timur. Sang kakak sedang mengabdikan ilmunya di salah satu perguruan tinggi negeri, sementara si adik sedang menempuh kuliah semester tiga di Jurusan Ekonomi Islam pada salah satu kampus negeri bergengsi di Surabaya. Sudah dua semester berturut-turut ia mendapatkan nilai cumlaude di tengah aktivitasnya yang padat dan serangkaian kompetisi antar mahasiswa yang ia ikuti.

Ketangguhan mereka betul-betul membuatku terinspirasi dan merasa hidup diantara dua pelaut handal masa depan. Keduanya sama-sama mendapat beasiswa dalam selama masa studinya. Meski demikian, bukan berarti mereka lantas menghamburkan uang. Hidup sederhana dan kegemaran menabung, tidak pernah mereka tinggalkan. Semampunya juga, suami dan adik iparku saling gotong royong dalam membantu perekonomian keluarga di Banjarnegara.
ayo menabung, tips menabung, tips menabung untuk generasi z, lomba blog LPS, lembaga penjamin simpanan, inspirasi ayo menabung



Pelaut Tangguh yang Rajin Menabung itu Bernama “Pupung”  

Ketimbang suami, adik iparku lebih giat menabung. Kalau kata orang Jawa, istilahnya adalah gemi. Ia memiliki tabungan di bawah kasur, di celengan ayam, dan kadang kalau jumlahnya cukup besar, ia titipkan di rekening milikku.

“Buat beli smartphone, mbak,” begitu ujarnya. Saat ia sudah memiliki smartphone yang ia beli dari hasil prestasinya di SMA, kini ia sedang menabung untuk membeli laptop. Rupiah demi rupiah ia kumpulkan untuk laptop idamannya. Ia juga sudah mulai memiliki rekening sendiri dan mengelola uang yang ia tabung sendiri.

Sebagai seorang kakak yang telah mengenalnya sejak 3 tahun lalu, aku menyaksikan sendiri jatuh bangun adik iparku, Pupung, dalam menabung. Ia bercerita pada suamiku kalau tidak ingin merepotkan bapak ibu dalam biaya sekolahnya. Ia juga meminta agar suamiku berkenan membantu memberinya uang saku dan mencarikan beasiswa. Tidak ku sangka, dari uang saku yang diberikan tiap bulan itu, Pupung sanggup menyisihkan sedikit demi sedikit.

Pupung juga berbeda dengan laki-laki di desa pada umumnya. Kebanyakan, teman-teman sebanyanya suka boros saat nongkrong, menghabiskan uangnya untuk rokok, atau bahkan minum-minuman keras. Pupung berbeda. Ia lebih suka menghabiskan waktunya di perpustakaan sekolah atau warnet untuk berburu lomba karya tulis dan melatih kemampuan menulisnya. Walaupun cukup getol dalam menulis, karakter Generasi Z yang khas tidak terlepas dari Pupung. Ia juga tetap butuh nongkrong, tetapi hanya satu atau dua minggu sekali, itupun di warung kopi dekat alun-alun yang harganya jauh dari kata mahal.
ayo menabung, tips menabung, tips menabung untuk generasi z, lomba blog LPS, lembaga penjamin simpanan, inspirasi ayo menabung
Pupung bersama suamiku saat lomba di Univ. Brawijaya Malang.

ayo menabung, tips menabung, tips menabung untuk generasi z, lomba blog LPS, lembaga penjamin simpanan, inspirasi ayo menabung
Pupung, Suami, beserta kedua mertua. Lemari piala dan buku itu hasil jerih payah suami dan Pupung semasa SMA dan kuliah. Dengan prestasi itu, kedua bersaudara ini bisa menabung sekaligus meringankan beban kedua orang tuanya.


Berkat kegigihannya dalam berlatih, tulisannya yang semula kacau balau, perlahan menunjukkan perbaikan. Ia pun mulai memanen usahanya dengan meraih kemenangan di berbagai lomba tingkat daerah maupun nasional. Reward yang ia dapatkan pun tidak sedikit, buktinya ia mampu membeli smartphone sendiri dan masih menyisakan uangnya untuk ditabung. Ia juga diundang oleh Bupati sebagai sebuah penghargaan bahwa ia sering mengharumkan nama Banjarnegara di kancah nasional.

Sungguh membanggakan!

Kini saat duduk di bangku kuliah di Surabaya, Pupung tidak melepaskan kebiasaannya dalam menabung dan menjadi hedon. Ia merasa terus perlu menabung untuk memenuhi impian-impiannya. Ia sadar betul bahwa impian masa depan tidak bisa dicapai dengan instan, perlu upaya dan tabungan yang memadai agar impian tersebut kelak terwujud dengan sempurna.


Pernah Kehilangan Uang Tabungan  

Sebagai anak yang terlahir di tahun 1999, Pupung termasuk Generasi Z. Perilakunya juga khas banget ala anak Gen Z: kebutuhan eksis di media sosial sangat tinggi. Ia jauh lebih update mengenai aplikasi anak muda kekinian, lokasi wisata yang lagi nge-hits, dan belajar secara otodidak mengenai cara menggunakan kamera demi kebutuhan foto yang Instagrammable.

Meski begitu, aku salut karena Pupung masih mampu menyisihkan sebagian uangnya untuk menabung. Rupanya, Pupung memiliki kiat tersendiri dalam menabung. Awalnya, Pupung lebih suka menabung secara manual, disimpan saja sendiri di kamarnya. Ia kurang nyaman menabung di bank. Pupung sebetulnya punya buku tabungan, tetapi hanya sebatas untuk keperluan beasiswa dan uang saku dari aku dan suami saja.

Tapi di sisi lain, Pupung ini termasuk anak yang sangat pelupa dan ceroboh. Dia pernah ditipu oleh orang yang mengaku panitia lomba untuk mentransfer sejumlah uang ke rekening, dasar bocah polos dan lugu, ya mau-mau aja. Melayang deh uang Rp 500.000,- miliknya. Pengalaman kedua, uang yang ia simpan sebesar Rp 2.500.000 juga hilang! Padahal itu adalah uang yang akan ia gunakan untuk membeli laptop. Kok bisa?? Padahal disimpan di kamar. Mulailah benih-benih kecurigaan muncul.
ayo menabung, tips menabung, tips menabung untuk generasi z, lomba blog LPS, lembaga penjamin simpanan, inspirasi ayo menabung
Kehilangan adalah pengalaman berharga!

Lah ternyata.... Pupung yang pelupa! Singkat cerita, ia lupa menaruh uang yang disimpannya di amplop coklat. Sebagai kakak perempuan dan telah melihat Pupung kehilangan barang maupun uang akibat keteledorannya, aku segera memberi peringatan. Menabung di rumah ya  boleh-boleh saja, tetapi harus diingat bahwa resikonya cukup besar. Kita harus primpen atau telaten menyimpan uang. Belum lagi resiko kehilangan. Akhirnya aku sarankan Pupung untuk menabung di Bank BNI Syariah saja yang bisa memilih akad dalam menabung.

Alhamdulillah, dia mau! Jadilah sekarang Pupung punya tabungan sendiri, selain untuk menyimpan uang, ia juga belajar mengelola keuangannya sendiri.


Inspirasi Menabung dari Pupung  

Pupung telah membuktikan anak dari desa pun sangat mungkin mencapai banyak hal dengan kegigihan dan dengan menabung. Apa aja tips menabung dari Pupung ini? Nih, silakan di simak ya. Cocok banget lah kalau mau diterapkan ke temen-temen Generasi Z ataupun para bunda yang sudah punya anak Generasi Z. Tips menabung ala Pupung ini bisa digunakan untuk meringankan biaya pendidikan serta merencanakan masa depan yang lebih baik!
ayo menabung, tips menabung, tips menabung untuk generasi z, lomba blog LPS, lembaga penjamin simpanan, inspirasi ayo menabung


Pertama, sisihkan sebagian uang jajan. Berapapun nominalnya, yang sedikit pun bisa menjadi bukit! Sebagian besar Generasi Z saat ini masih berstatus pelajar atau mahasiswa, sehingga uang jajan bisa jadi menjadi salah satu pemasukan mereka. Tentu sangat disayangkan kalau uang jajan habis setiap hari untuk urusan yang tidak penting. Lebih baik ditabung saja, kan?

Kedua, berprestasi. Banyak sekali lomba yang bertebaran untuk pelajar dan mahasiswa, mulai dari lomba menulis, desain, hingga wirausaha muda. Kebanyakan dari lomba-lomba tersebut biasanya tidak dipungut biaya, alias gratis! Nah, ini salah satu kesempatan besar untuk mendapatkan uang untuk ditabung, bukan?
ayo menabung, tips menabung, tips menabung untuk generasi z, lomba blog LPS, lembaga penjamin simpanan, inspirasi ayo menabung
Saat Pupung masih di bangku SMA

Ketiga, mencari beasiswa. Dengan berprestasi, beasiswa pun sangat mudah diraih. Kalau dapat beasiswa, tentu sangat membantu apalagi bagi anak yang berasal dari keluarga menengah ke bawah. Dengan demikian, biaya pendidikan dapat ditekan dan dapat digunakan untuk tabungan masa depan. Pupung sendiri memiliki beragam rintangan sebelum duduk di bangku kuliah saat ini. Ia sempat putus asa dan nyaris tidak kuliah. Tapi beruntung ada program beasiswa lagi yang di buka untuk PTN di Surabaya. Ia segera daftar dan alhamdulillah, rezeki memang nggak kemana!

Keempat, belajar bisnis kreatif. Sudah pernah dengar kan, ada anak SD yang sukses jualan slime dengan omzet mencapai 50 juta / bulan hanya dengan modal Rp 50.000 saja? Atau ada juga anak SMP di Solo yang mendulang pendapatan 4 juta/bulan dari hasil dari bisnis lensa ponsel. Mereka, Generasi Z, tidak ragu dalam belajar berbisnis dengan modal minimal. Boleh dicoba nih! Dengan belajar berbisnis sejak kecil, tidak hanya kebiasaan menabung saja yang kita dapatkan, tetapi juga kepiawaian dalam mengelola keuangan sejak dini. Apalagi, sekarang pemerintah dan swasta juga sering menyelenggarakan kompetisi bisnis untuk anak muda. Baru-baru ini, Pupung juga mendapat dana hibah untuk pengembangan wirausaha jamur di Trenggalek bersama tim bisnisnya. Wah, nggak ada salahnya dicoba, nih!

Kelima, hindari berutang. Mumpung masih di usia muda, sebaiknya generasi zaman now sebisa mungkin menghindari utang, memulai rutin menabung, dan membiasakan hidup sederhana. Dengan menghindari utang, kita juga menghindarkan diri kita dari kesusahan di masa depan.

Keenam, menabung di bank. Belajar dari Pupung, kita sudah nggak sepatutnya curiga dengan bank. Apalagi, sekarang sudah banyak produk tabungan bank yang ramah untuk generasi muda, mulai dari bank konvensional hingga bank syariah. Juga, sudah ada Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang menjamin tabungan kita di bank. Tinggal pilih sesuai kebutuhan saja dan mulai menabung sekarang juga!

Kalaupun kamu ragu, ini bank kira-kira amanah dan dijamin LPS atau enggak ya, nah langsung saja buka websitenya LPS di www.lps.go.id, disana kamu bisa mengecek apakah sebuah bank itu dijamin LPS atau tidak. Kalau dijamin, wes kamu tidak perlu khawatir dengan dana yang kamu simpan disana! Sebab, LPS menjamin mulai dari bank konvensional hingga bank syariah, dan dengan saldo yang dijamin untuk setuap nasabah pada satu bank adalah paling banyak sebesar Rp 2 Milyar!

Berikut adalah cara mengecek status bank di website LPS. Selamat menabung!
ayo menabung, tips menabung, tips menabung untuk generasi z, lomba blog LPS, lembaga penjamin simpanan, inspirasi ayo menabung
Buka website lps.go.id dan klik Bank Peserta Penjaminan


ayo menabung, tips menabung, tips menabung untuk generasi z, lomba blog LPS, lembaga penjamin simpanan, inspirasi ayo menabung
Masukkan nama bank dan voila! Ada nama bank tempat kamu menyimpan uang disana!






Referensi:
Desain cover: canva.com
Infografis: freepik.com 
http://investasiku.co.id/blog/blog_id/kalian-para-gen-z-saatnya-atur-uang-demi-masa-depan-2017-06-07-23-16-06
https://komunitas.bukalapak.com/s/cvvpx4/siswa_smp_jadi_jutawan_jualan_online
https://finance.detik.com/solusiukm/d-3494763/bisnis-slime-siswi-sd-ini-kantongi-omzet-rp-50-jutabulan

Minggu, 22 Juli 2018

,

review cerebrofort gold, lomba blog cerebrofort gold, parenting blogger indonesia, mindful parenting adalah, anak hebat itu anak yang tangguh, anak hebat itu anak yang bahagia, dukung cerdasnya si kecil


Mengasuh adalah kata kerja, mengembangkan kecerdasan si kecil juga kata kerja. Buatku dan suami, penting sekali keterlibatan, kesadaran, dan kehadiran sebagai orang tua dalam setiap perkembangan si kecil. Terlibat dan sadar dalam arti tidak sekedar menemani dan mendengarkannya, melainkan juga mengamati setiap detail yang ia lakukan. Sebab, dunia anak kecil itu unik. Ketika si kecil memecahkan telur atau menumpahkan tepung, bukan berarti ia nakal, bisa saja ia justru sedang penasaran, dan inilah salah satu tanda bahwa otak dan kreatifitasnya sedang bekerja! Juga, penting sekali membuat suasana eksplorasi menjadi nyaman dan menyenangkan. Karena #AnakCerdasItu anak yang tangguh dan bahagia!


Mengenal Kecerdasan Si Kecil 

Aku percaya bahwa tidak ada anak yang bodoh, setiap anak memiliki keunikan dan kecerdasannya masing-masing. Hal ini terbukti dari riset seorang pakar pendidikan dari Universitas Harvard, Howard Gardner, yang mengungkapkan bahwa ada delapan jenis kecerdasan anak menurut teori Multiple Intelligences. Delapan jenis kecerdasan anak yaitu word smart (kecerdasan linguistik), number smart (kecerdasan logika atau matematis), self smart  (kecerdasan intrapersonal), people smart (kecerdasan interpersonal), music smart (kecerdasan musikal), picture smart (kecerdasan spasial), body smart (kecerdasan kinetik), dan nature smart (kecerdasan naturalis).
review cerebrofort gold, lomba blog cerebrofort gold, parenting blogger indonesia, mindful parenting adalah, anak hebat itu anak yang tangguh, anak hebat itu anak yang bahagia, dukung cerdasnya si kecil


Setiap anak sangat mungkin bisa memiliki delapan jenis kecerdasan ini. Hanya saja, ada anak yang hanya menonjol pada satu atau lebih jenis kecerdasan tersebut. Untuk itu, tugas utama orang tua adalah mengenali jenis kecerdasan anak, membantu mengasahnya, dan mendukung anak sesuai jenis kecerdasannya.

Pola Pengasuhan yang Baik, Rahasiaku #DukungCerdasnya Si Kecil  

Salah satu upaya untuk mengenali jenis kecerdasan anak adalah melalui pola pengasuhan yang tepat. Sebagai seorang working at home mom, aku sangat bersyukur bisa meluangkan waktu untuk Mahira, anak pertamaku yang kini berusia 2 tahun 1 bulan, meskipun hanya untuk mengulang apa yang ia katakan, ngobrol ringan, mengajaknya jalan-jalan sore, mengajarinya beberapa kosakata baru, dan menemaninya agar berani berkarya. Mahira ini tipikal anak yang malu untuk mencoba pertama kali. Dia perlu didukung dan terus dimotivasi agar berani berkarya. Mahira pertama kali belajar menggambar saat berusia 19 bulan . Tapi Mahira sangat ragu untuk menggoreskan pensil warna di atas kertas. Jadi, kami perlu turun tangan untuk menstimulasi. Beberapa hari kemudian, tiba-tiba saja rumah sudah penuh coretan tangannya! Hihihi.😀😁 Mahira pun bersorak kegirangan:

"Bebek.. yellow!"
"waiii!" (butterfly)
"hippo!"


Mahira dan mahakaryanya :D


Suamiku yang bekerja, juga selalu meluangkan waktu di pagi atau sore hari bersama Mahira. Kegiatan favorit antara Mahira dan ayahnya adalah melihat kerbau di sore hari dan olahraga. Mahira memang terlihat sangat menonjol dalam kecerdasan tubuh (kinestetik) dan bahasa. Jadi, segala aktivitas parenting kami fokuskan untuk mendukung agar Mahira mampu mengoptimalkan kecerdasannya di masa depan. Lihat saja video di bawah ini, Mahira sangat menikmati berkejaran dengan ayam jago di lapangan dekat rumah! 😁😂


Kunci pengasuhan aku dan suami adalah dengan mengasuh secara sadar dan terlibat. Dalam bahasa Inggris, pola pengasuhan ini disebut dengan Mindful Parenting dan dalam bahasa Indonesia disebut dengan Mengasuh Berkesadaran.

Mengasuh Berkesadaran adalah sikap, ucapan, dan perilaku serta penampilan orang tua yang mengedepankan kesadaran dalam mengasuh buah hati mereka. Sadar dalam artian selalu menjaga kesadarannya dari pikiran, ucapan, dan semua perilaku yang kurang pantas. Beberapa poin yang penting adalah (1) mendengarkan dengan penuh perhatian, berbicara dengan empati; (2) pemahaman dan penerimaan untuk tidak menghakimi; (3) kecerdasan emosional; (4) pola asuh yang bijaksana dan tidak berlebihan; serta (5) mengambil sikap lebih lemah lembut dan pemaaf dalam pengasuhan.
review cerebrofort gold, lomba blog cerebrofort gold, parenting blogger indonesia, mindful parenting adalah, anak hebat itu anak yang tangguh, anak hebat itu anak yang bahagia, dukung cerdasnya si kecil

Dengan pola pengasuhan berkesadaran, Mahira lebih bebas dalam bereksplorasi, akupun juga tidak melarangnya selama itu tidak membahayakan. Sikapku itu semata hanya untuk mendukungnya lebih mengenal diri dan dunia sekitarnya. Sebagai orang tua yang menerapkan pola asuh berkesadaran, aku selalu mengamati tingkah lakunya saat “ngeberantakin rumah”. Buatku, membiarkan Mahira terus penasaran itu sangat penting, agar semakin optimal kemampuan psikomotorik, perhatiannya, bahasa, memori, serta penyelesaian masalah.

Meski demikian, tetap saja ada kendala dalam tahap eksplorasi ini. Yang paling sering aku alami adalah nafsu makan anakku yang belum stabil. Kadang lahap banget, besoknya bisa GTM. Ada yang senasib, buibu? Meskipun Mahira termasuk memiliki pertumbuhan yang baik dan sesuai dengan KMS, aku tetap memberinya nutrisi tambahan melalui susu UHT, madu, dan bila perlu dengan multivitamin agar ia terus sehat, nafsu makan baik, serta kecerdasannya optimal.

Kalau bunda di rumah, punya rahasia apa dalam #dukungcerdasnya si kecil? Bisikin aku dooong~



Referensi:
https://www.popmama.com/kid/1-3-years-old/fx-dimas-prasetyo/aspek-kecerdasan-anak-yang-perlu-mama-ketahui/full

Sabtu, 21 Juli 2018

,

pola pengasuhan kekinian, jenis pola pengasuhan, pola pengasuhan ala denmark, negara paling bahagia, mengasuh ala denmark, parenting ala denmark, cara pengasuhan denmark, metode pengasuhan denmark

Pernah nggak baca buku trus termehek-mehek (duh, ketauan ya aku ini anak generasi apa) ama isinya? Abis baca, nangis. Ambil nafas. Baca lagi, terharu. Ambil nafas. Gitu terus sampe selesai. Biasanya kalo baca sambil agak drama kayak gitu sih baca novel ya.. Lha aku endak, lho. Ini baca buku parenting! P-A-R-E-N-T-I-N-G! Buku pengasuhan tapi bisa bikin aku tersentuh, mikir, dan hanyut terbawa masa lalu. Jadi inget kata mbak Dee, kalau buku non-fiksi tapi membuat si pembaca merasakan emosi yang teraduk-aduk bagai baca buku fiksi, bukunya pasti bagus!

Nah, aku kenalin buku parenting yang menurutku wajib dibaca sama orang tua zaman now, yang mau nge-break-down pola pengasuhannya, yang mau belajar demi anak-anaknya. Buku ini judulnya The Danish Way of Parenting dan ditulis oleh Jessica Joelle Alexander bersama Iben Dissing Sandahl. Buku ini baru yes, aku dapet cetakan pertama bulan April tahun 2018. Isinya kira-kira sekitar 180 halaman dan diterbitkan oleh penerbit mayor ternama Penerbit B First (Bentang Pustaka). Buku ini merupakan buku terjemahan dari buku dengan judul dan penulis yang sama, hanya saja buku aslinya sudah diterbitkan tahun 2016 oleh penerbit TarcherPerigee.
pola pengasuhan kekinian, jenis pola pengasuhan, pola pengasuhan ala denmark, negara paling bahagia, mengasuh ala denmark, parenting ala denmark, cara pengasuhan denmark, metode pengasuhan denmark

Kenapa Belajar dari Denmark?

Karena murah! Kita bisa belajar dari buku ini saja, tanpa harus jauh-jauh belajar ke Denmark! Hehehe. Gini, ku beri tahu, Denmark itu adalah negara kecil di bagian utara Eropa yang terkenal dengan berbagai dongeng dan menjadi negara pembuat mainan Lego. Denmark hampir selalu terpilih menjadi negara dengan rakyat yang paling bahagia oleh OECD (Organisation for Economic Cooperation and Development) setiap tahunnya sejak tahun 1973. Bayangin, berarti sudah lebih dari 40 tahun orang Denmark secara konsisten terpilih menjadi orang paling bahagia di dunia! Coba lihat ranking dari World Happiness Rank ini, sejak tahun 2015 sampai tahun 2017, Denmark selalu berada di 5 besar. Amerika Serikat yang punya semboyan “The Pursuit of Happiness” pada proklamasi kemerdekaannya dan punya buanyak buku self help bahkan tidak ada di urutan 10 teratas.
pola pengasuhan kekinian, jenis pola pengasuhan, pola pengasuhan ala denmark, negara paling bahagia, mengasuh ala denmark, parenting ala denmark, cara pengasuhan denmark, metode pengasuhan denmark


Indonesia urutan berapa? Hehehe. 96. Gapapa lah, masih dapet 100 besar to. Tapi sebagai negara yang urutan kebahagiaannya agak buncit, kenapa kita ndak belajar dari Denmark ini? Apa rahasianya? Apa warisan turun temurunnya? Apa karena sistem sosial, rumah, atau pemerintahan? Endak juga. Karena pajak disana tinggi, yah kebanyakan pajak di negara maju emang tinggi. Lalu karena apa?

Jawabannya adalah pola pengasuhan. Orang Denmark memiliki filosofi dalam gaya pengasuhan yang diwariskan secara turun temurun. Metode parenting Denmark yang terus berulang ini menghasilkan anak-anak yang tangguh, yang stabil emosinya, dan dari anak yang bahagia ini kemudian lahir pula ketegasan saat dewasa, keteguhan emosi, dan bisa ditebak, mereka mewariskan gaya pengasuhan yang baik ini kepada anak-anak mereka sendiri. Setelah aku baca, banyak hal memang cukup berbeda dengan pola pengasuhan di Indonesia. Beberapa poin, sebetulnya sudah mulai disosialisasikan dan dikembangkan oleh pemerintah serta pemerhati pendidikan. Tapi, belum banyak yang menerapkan. Paling hanya para orang tua yang mau melek informasi dan mau belajar.


Pembawaan Alami Memengaruhi Pola Pengasuhan

Memang tidak ada yang namanya cara yang benar , at least yang betul-betul benar dalam mengasuh anak. Sebab, gaya mengasuh anak itu sangat subyektif. Orang-orang muslim akan mengatakan, cara yang paling benar adalah mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah kemudian beberapa dari mereka membuat satu-dua buku dengan metode tersendiri. Pun dalam agama lain, sudah pasti punya gaya pengasuhan yang berbeda. Belum lagi gaya pengasuhan yang diwariskan di negara masing-masing, atau bahkan di kota masing-masing dengan ciri khas budaya yang pasti berbeda. Sudah pasti menghasilkan gaya pengasuhan yang berbeda pula.

Tapi.... ada garis besar kesamaan yang tidak bisa kita tolak saat ini: era global dan karakter alami anak-anak. Siapapun, dimanapun, dengan latar belakang apapun, anak-anak kita tidak akan pernah luput dari pengaruh era global yang bisa dengan mudah mengubah perilaku anak-anak kita. Kalau pondasi melalui pengasuhan yang kita terapkan sangat lemah, bisa dibayangkan to jarak antara orang tua dan anak akan makin lebar. Sehingga sangat perlu bagi kita untuk melepas kacamata sebentar sambil tanya sama diri sendiri: sudah tepatkah caraku mengasuh anak-anak? Apa hasil dari gaya pengasuhan yang aku terapkan pada mereka? Coba kita lihat lebih dekat lagi, apa reaksi anak-anak dari gaya pengasuhan yang kita terapkan.

Semoga kita sebagai orang tua endak lupa ya, bahwa mengasuh anak adalah sebuah kata kerja, sebagaimana mencintai. Perlu usaha dan kerja untuk memberikan hal yang positif. Perlu kesadaran yang terus kita libatkan agar menjadi orang tua yang baik. Sadar atau tidak, kebanyakan pola pengasuhan kita berasal dari pembawaan alami yang diturunkan oleh orang tua. Kayaknya udah mendarah daging dan udah ter-instal ke dalam otak dan tubuh kita. Pembawaan dan warisan ini, kelak akan menjadi cara kita untuk mengasuh anak. Orang yang dulunya dididik keras, cenderung keras kepada anaknya. Orang yang dulunya dikelilingi oleh kalimat-kalimat negatif dan cemoohan, cenderung mudah stres dan kurang bisa memahami emosinya, apalagi memahami emosi anak-anaknya. Orang yang dididik menjadi matre, juga kelak begitu ke anak-anaknya. Hanya sebagian saja yang mau memotong mata rantai dengan cara berpikir ulang, merefleksikan, kembali memelajari serta memahami “setelan bawaan”nya ini.

Buku ini akan membantu kita untuk lebih sadar sebagai orang tua, sadar akan tindakan, keputusan, bahkan ucapan-ucapan kita untuk menjadi orang tua yang lebih baik dan mampu menciptakan energi positif dan pondasi yang tepat untuk anak-anak. Kita diajak untuk menciptakan warisan yang lebih baik untuk anak-anak, dan mungkin untuk cucu kita kelak.

Jujur saja, aku termasuk orang yang berpikir ulang tentang bawaan alami yang aku miliki. Ada beberapa pengalaman buruk di masa kecil, kurang intim dengan orang tua, bullying, labelling, penuh pemaknaan negatif, direndahkan, dan lain sebagainya, membuat aku kembali trenyuh saat membaca halaman demi halaman pada buku ini. Kadang aku kaget dan tersadar, oiya, ada sifat tertentu dalam diriku yang terbentuk dari apa yang terjadi di masa lalu. Misalnya, pengelolaan emosi, kemampuan untuk memaknai ulang, itu dua hal yang sangat lemah di aku. Pernah suatu ketika aku tidak mampu menahan stres, karena persoalan yang sebetulnya bisa kok dimaknai ulang, tapi yah... kadung gak bisa mengelola emosi. Akhirnya Mahira pun kena getahnya juga. Saat itu aku bener-bener nyesel  banget dan jadi salah satu titik pemicu untuk “meletakkan kacamata” dan memahami diri, agar bisa membantu anak-anak memahami dirinya.
pola pengasuhan kekinian, jenis pola pengasuhan, pola pengasuhan ala denmark, negara paling bahagia, mengasuh ala denmark, parenting ala denmark, cara pengasuhan denmark, metode pengasuhan denmark


Memaknai kembali P-A-R-E-N-T

Buku ini membuat singkatan yang mudah diingat tentang prinsip dan gaya pengasuhan ala orang Denmark. Kesemua prinsipnya disingkat P-A-R-E-N-T yang artinya ada di bawah ini PLUS aku sisipkan juga quotes favoritku pada tiap babnya:

Play – tentang bagaimana bermain justru menciptakan orang dewasa yang lebih bahagia, mudah beradaptasi, dan tangguh.
Quote favorit:
“Bermain mengajari mereka ketangguhan. Dan, ketangguhan sudah terbukti menjadi satu dari faktor paling penting dalam memprediksi kesuksesan pada orang dewasa. Kemampuan untuk bouce back, mengelola emosi, dan menghadapi stres adalah kunci untuk hidup sehat pada orang dewasa” – halaman 12
“Ketangguhan bukan diperoleh dengan menghindari stres, melainkan dengan belajar bagaimana menjinakkan dan menguasainya. Apakah kita merampas kemampuan anak-anak untuk mengatur stres dengan tidak memperbolehkan mereka bermain dengan cukup? – halaman 19-20.
“Semakin banyak bermain, mereka akan semakin tangguh dan mahir dalam pergaulan.” – halaman 24.

Authenticity – tentang mengapa kejujuran mampu menciptakan citra diri yang lebih kuat. Juga tentang pujian (yang cukup) bisa digunakan untuk membentuk pola pikir yang bertumbuh daripada kaku, dan akan membuat anak lebih tangguh.
Quotes favorit:
“Bagi orang Denmark, kenyataan dimulai dengan sebuah pemaknaan dari emosi kita sendiri. Jika kita mengajari anak-anak untuk mengenali dan menerima perasaan sesungguhnya yang mereka miliki, baik maupun buruk, dan bertingkah dengan cara yang konsisten sesuai nilai-nilai, tantangan ataupun jalan berbatu dalam kehidupan tidak akan menjatuhkan mereka.” – halaman 34.
“Anak-anak dengan pola pikir yang berkembang (growth mindset) akan berlaku sebaliknya, cenderung peduli pada pembelajaran. Mereka didorong untuk fokus pada usaha daripada kecerdasan.” – halaman 39.

Reframing – tentang mengapa reframing (memaknai ulang) bisa mengubah hidup kita sebagai orang tua dan anak-anak kita menjadi lebih baik.
Quotes favorit:
“Dengan memaknai ulang apa yang kita katakan menjadi sesuatu yang lebih suportif dan lebih tidak definitif, kita sesungguhnya mengubah cara dalam merasakan sesuatu.” – halaman 56.
“Cobalah mengeksternalkan bahasa. Pisahkan tindakan dari orangnya. Daripada mengatakan dia pemalas atau dia agresif, cobalah melihatnya sebagai isu eksternal dan bukan bawaan. Mengatakan dia terpengaruh oleh rasa malas dan dia terjebak oleh momen agresif sangat berbeda dari melabeli mereka sebagai mereka memang seperti itu,” – halaman 71

Emphaty – tentang pemberian pemahaman, menyatukan, dan mengajarkan empati sangat penting dalam menciptakan anak dan orang dewasa yang lebih bahagia.
Quotes favorit:
“Empati bukanlah kemewahan untuk umat manusia, melainkan keharusan. Kita bertahan bukan karena kita mempunyai cakar dan bukan karena kita mempunyai traing yang besar. Kita bertahan karena kita bisa berkomunikasi dan berkolaborasi.” – halaman 82
“Salah satu pilar dalam cara Denmark untuk mengajarkan empati adalah tidak menghakimi.” – halaman 92.

No Ultimatums – tentang mengapa menghindari penggunaan kekuatan dan menggunakan pendekatan pola pengasuhan yang lebih demokratis mampu mendorong terciptanya kepercayaan, ketangguhan, dan anak-anak yang lebih bahagia.
Quotes favorit:
“Orang tua yang menabok bisanya hanya melanjutkan dari pembawaan alami mereka berdasarkan cara mereka dibesarkan, yang biasanya cukup melibatkan fisik.” – halaman 98.
“Ingat, bukan anaknya yang buruk, melainkan tindakannya yang buruk.” – halaman 107.

Togetherness dan Hygge (kenyamanan) – tentang mengapa hubungan sosial yang kuat menjadi salah satu faktor kebahagiaan secara keseluruhan. Menciptakan kenyamanan, juga bisa membantu kita memberikan warisan berharga ini kepada anak.
Quote favorit:
“Ini adalah tentang memilih untuk menikmati momen yang paling penting dan berharga dari hidup kita –momen bersama anak-anak, keluarga, dan teman-teman serta menghormatinya sebagai sesuatu yang penting.” – halaman 134.

Salah satu hal yang sangat aku suka dari buku ini adalah berbasis riset. Pada halaman belakang, bunda bisa melihat referensi per-bab yang digunakan dalam buku ini. Berbasis riset itu sama saja buku ini bisa dipertanggungjawabkan isinya plus sudah pasti menunjukkan kualitas dari buku The Danish Way of Parenting ini. Selain itu ada beberapa ilustrasi dan kalimat yang di highlight, juga pada tiap bab terdapat tips yang sangat efektif dan bisa dipraktikkan di keluarga. Secara keseluruhan, membaca buku ini nggak bikin pusing. Penataan font nya pas dan juga tidak tebal. Ringan tapi berisi. Pas banget lah kalau dibaca emak-emak sambil ngeloni anaknya hehehe!


GIVEAWAY ALERT!

Nah, aku dan Bentang Pustaka mau bagi-bagi dua buku The Danish Way of Parenting ini GRATIS TIS TIS buat 2 orang pemenang yang memenuhi syarat. Baca baik-baik ya ketentuannya:

1. Posting artikel tentang pengalaman parenting dan dikaitkan dengan harapannya dari buku The Danish Way of Parenting.
2. Sertakan keyword dan backlink:
metode parenting Denmark (backlink ke www.bentangpustaka.com)
- parenting blogger Indonesia (backlink ke www.bundabiya.com)
3. Komen “sudah posting di blablabla.com” pada kolom komen di bawah ini untuk temen-temen yang sudah nge-post dengan syarat di atas. Mohon tanpa link hidup ya, tulis saja nama websitenya misal “sudah posting di bundabiya.com
4. Follow akun instagram @BentangKids dan @NabillaDP (klik pada link)

Ku tunggu sampai tanggal 31 Juli jam 16.00 ya! Tulisan akan diseleksi langsung oleh Bentang Pustaka dan pengumumannya insya Allah di tanggal 1 Agustus :)




---

Artikel ini merupakan artikel dengan kategori berbayar / sponsored post, kolaborasi antara www.bundabiya.com dengan PT Bentang Pustaka.

Follow me @nabilladp