Jumat, 15 Februari 2019

,



Tanggal 14 Februari adalah sebuah tanggal sekaligus momen yang selalu berkesan buatku dan suami. Tepatnya empat tahun yang lalu, berdasarkan diskusi kedua keluarga tentang “hari baik”, mereka sepakat untuk menikahkan kami berdua pada tanggal 14 Februari 2015. Ndilalah, kok ya bertepatan dengan Hari Valentine! Seneng dong ya, alhamdulillah tahun ini aku dan suami berhasil melalui 4 tahun bersama. Jujur saja, tantangannya buanyak bangeeet hahaha aku rasa semua rumah tangga pasti ngalamin yah berbagai cobaan dan kesenangan. Hanya saja pasti berbeda ujiannya.

Aku sudah excited nih, mau dikasih kado apa yaa sama suami? Eh, tapi kok doi anteng aja ya, nggak ada tanda-tanda mau ngasih surprise. Setelah aku tanyain, bener aja, dia lupa! ABCD! Aduh bok capek deh!



Fine. Nggak baper. Aku sudah terbiasa dengan dia yang cuek, pelupa, endebrei endebrei. Akhirnya aku todong langsung saja via WA. Aku singgung dia yang lupa hari anniversary kami dan dia cuma ngasih emot ketawa. Untungnya di akhir dia menjanjikan sesuatu: nanti kita jalan-jalan ya… YES!


Traveling Bersama Setelah Punya Anak, Sekedar Wacana, kah?

Tentu sulit menolak ajakan jalan-jalan dari suami. Pada dasarnya, kami berdua suka banget traveling. Namun, sejak ada duo krucil, jalan-jalan jadi lebih ribet, lebih mahal, dan sudah pasti jadi rame-rame gitu. Aku sampai lupa kapan terakhir jalan-jalan mesra berdua saja sama suami.


Saat dia mengajak untuk traveling lagi, entah berdua maupun sama anak-anak, rayuan darinya bak angin segar di pagi hari. Membuatku jadi lebih bersemangat.

Aku juga berdoa dalam hati, semoga agenda jalan-jalan di tahun ini nggak sekedar wacana. Secara, bisa berlibur setahun sekali tuh udah syukur banget deh, saking susahnya mendapatkan jadwal longgarnya Pak Suami. Tahun 2018 lalu, kami bisa berlibur tahun baru ke pantai selatan Malang. Tahun ini, alhamdulillah aku bisa berlibur sendiri ke Turki. Tapi tetap saja kurang rasanya kalau tanpa keluarga. Untuk tahun ini, kami berdua sudah sepakat bahwa hidup harus lebih imbang. Work hard, travel hard. Biar nggak suntuk dan bonding antara suami istri serta dengan anak-anak tetap sehat.


Biar nggak hanya jadi wacana belaka, aku melakukan beberapa hal ini dengan suami:

Menetapkan tujuan jalan-jalan. Terdengar serius, ya? Padahal enggak, kok. Maksudku menetapkan tujuan ini agar mempermudah penganggaran dan penentuan lokasi berlibur saja. Sebetulnya awal bulan Februari ini suami sempat mengajak aku dan anak-anak untuk menemaninya kerja di Banyuwangi, namun aku menolak karena pasti nggak nikmat lah ya jalan-jalannya karena fokusnya saja sudah beda dan pasti uang bakal terbuang sia-sia.

Menetapkan waktu. Aku menodong suami untuk menentukan waktu yang pas untuk traveling bareng. Kalau jadwalku sih fleksibel banget ya, berbeda dengan suami yang terikat dengan jadwal mengajar dan penelitian. Bahkan terkadang, waktunya mahasiswa libur, dia tuh nggak libur, lho. Jadi aku meminta ia untuk mengira-kira pada bulan dan tanggal berapa ia ada waktu luang.

Menetapkan destinasi. Nah, setelah menentukan perkiraan waktu, tentu akan lebih mudah untuk menetapkan destinasi wisata untuk keluarga kecilku ini. Aku prefer bepergian saat tidak musim hujan ya, biar nggak terlalu rempong gitu, soalnya kan bawa anak-anak.


Destinasi Wisata Ideal untuk Keluarga

Karena bakalan traveling sama anak-anak, aku pun berusaha mencari jalan tengah: ke destinasi yang aku sukai dan ramah anak-anak. Usai berdiskusi dengan suami, kami memilih untuk ke Bali! *drum roll* Alasannya, karena aku kepengen (banget!) mantai bareng anak-anak, lokasinya tidak terlalu jauh tapi masih tergolong tourisity, dan aku memang sudah luama banget nggak ke Bali. Terakhir ke sana kalau nggak salah sekitar tahun 2014 sebelum aku menikah.

Ke Bali ini juga banyak manfaatnya ya, antara lain mengajak anak-anakku naik pesawat, mengenalkan mereka pada keberagaman, serta mengajak mereka ke tempat yang ramai. Aku pun mulai hunting lokasi-lokasi yang cantik dan yang belum pernah aku datangi.

Kami merencanakan liburan ke Bali pasca lebaran. Lama banget, ya? Hehehe gapapa, lah, ya memang begini rempongnya mau liburan kalau sudah berkeluarga! Dengan cepat aku sudah bisa menentukan akan kemana saja jika nanti berlibur ke Bali. Beberapa lokasi sudah pernah aku datangi tahun 2012 dulu, beberapa lagi aku belum pernah ke sana sama sekali.

Tempat yang pernah aku datangi dan ingin aku ulangi bersama keluargaku antara lain Pantai Jimbaran (terutama saat dinner di malam hari! Romantissss…), Tanjung Benoa untuk permainan khas pantai serta Pura Uluwatu. Dulu di Bali, aku sudah pernah ke Pura Uluwatu, Tanah Lot, Bedugul, Taman Ayun, serta Besakih. Dari semua Pura yang pernah aku kunjungi, Pura Uluwatu-lah yang membuatku ingin kembali. Pasalnya, saat dulu ke sana, aku hanya mampir sebentar, jadi nggak bisa total berkeliling. rencananya, nanti kalau ke Pura Uluwatu, aku dan suami mau menonton pertunjukan tari kecak dan menikmati sunset dari atas tebing bersama anak-anakku. Agar bisa terwujud, aku memilih untuk memesan Paket Wisata Pura Uluwatu agar nggak ketinggalan pertunjukan!

Sementara destinasi lainnya yang ingin aku kunjungi adalah Pulau Menjangan untuk… snorkeling! Aku sudah luama banget nggak snorkeling, dan jujur aja, kangen puwol! Setelah aku baca-baca, salah satu spot snorkeling terbaik di Bali ada di Pulau Menjangan. Doain ya, semoga rencana ini bisa terwujud tanpa drama!

Buibu ada tips nggak biar rencanaku ini nggak menguap begitu saja? Bagi di kolom komentar, yuk! Terima kasih :)

---

Photo source: Photo by Tyler Nix on Unsplash


,

review cekaja.com


Awal Februari lalu ada seorang sahabatku yang main ke rumah. Karena sudah cukup lama tidak bertemu, kami kangen-kangenan dengan cara khas: CURHAT! Ya, apalagi coba? Dua sahabat perempuan bertemu, sudah pasti air mineral sebotol kurang buat mengatasi keringnya tenggorokan.

Aku dan dia sangat khusyuk bertukar cerita tentang peliknya permasalahan rumah tangga. Ada satu benang merah yang tidak berhenti kami diskusikan berulang kali, yakni masalah pinjaman atau utang. Kami berdua sama-sama dibikin meriang oleh tingkah laku orang-orang terdekat yang terbelit utang. Kasusnya bermacam-macam, ada yang persenan bunganya terus ditinggikan oleh bank tithil (biasanya hal ini banyak di desa-desa), ada yang tertipu oleh pinjaman abal-abal, ada juga yang tertipu oleh investasi bodong. Oh, kok bisa begitu, ya? Aku membayangkan keluarga yang mengalami kesulitan pasca melakukan pinjaman pasti mereka kurang memahami betul mengenai produk yang mereka gunakan dan belum mengetahui pengajuan pinjaman online yang aman untuk keluarga. Sebagai ibu, istri, sekaligus menteri keuangan rumah tangga, aku bisa membayangkan betapa pusingnya perempuan kalau dihadapkan pada situasi yang demikian rumit.

Urusan pinjam-meminjam memang tidak bisa lepas dari keluarga. Adaaaa aja dah keperluannya, mulai dari rumah, pendidikan, mobil, sampai modal usaha. Besarnya pun beragam, tergantung profil keuangan dan kebutuhan masing-masing keluarga. Apalagi pada era digital yang terjadi sekarang memungkinkan kita untuk melakukan pinjaman dengan mudah, transparan, dan nggak lagi berbelit-belit. Menurutku kemudahan ini bisa kita manfaatkan dengan baik, asalkan kita juga perlu paham rambu-rambunya, ya!


Teliti Sebelum Meminjam

Sebagai bunda generasi millenials, yang juga juri kunci keuangan di rumah, aku sangat selektif terhadap cashflow rumah tangga. Sebelum menabung ataupun melakukan aktivitas pinjam-meminjam, ada beberapa hal yang wajib aku lakukan. Berikut aku berikan beberapa trik personal yang mungkin bisa menjadi panduan awal untuk para bunda sebelum melakukan pinjaman.

Pertama, luruskan niat. Ada baiknya kita melakukan pinjaman untuk sesuatu yang memang sangat urgent dan tidak untuk hura-hura, melainkan untuk perihal yang produktif. Agar kita bisa segera melunasinya juga dan bisa bermanfaat dalam meningkatkan kinerja.

Kedua, riset. Kalau kamu sudah membaca beberapa artikel yang aku tulis di sini, pasti hafal deh kalau aku tipikal orang yang suka riset sebelum melakukan sesuatu. Nah, riset produk finansial ini sangat penting sebelum melakukan transaksi keuangan agar kita nggak tertipu di tengah jalan atau malah terlibat urusan yang lebih parah. Beruntunglah zaman sekarang riset produk pinjaman itu nggak susah. Tinggal kepoin di Google, beres.

Ketiga, cek keamanannya. Indikator keamanan buatku adalah diawasi oleh lembaga resmi milik pemerintah atau lembaga independen yang sah. Misalnya saja, OJK, Bank Indonesia, serta Asosiasi Fintech Indonesia. Saranku, jangan sekali-kalinya bertransaksi dengan lembaga yang tidak diawasi oleh otoritas di atas. Resikonya berat, Bund! 

Keempat, pahami kondisi keuangan. Sebelum melakukan pinjaman, ada baiknya kita cek dulu profil keuangan kita mulai dari pemasukan, beban, cicilan, dan pengeluaran. Memiliki pendataan keuangan yang baik akan sangat membantu dalam melakukan keputusan finansial.

Kelima, pahami kebutuhan. Agar nggak keblinger dan kepengen melakukan pinjaman ini itu yang nggak penting, ada baiknya sejak awal kita sudah menentukan prioritas utama dalam meminjam.

Keenam, cari yang bunganya rendah. Perlu kita cermati juga baik-baik bagaimana ketentuan penagihan, tanggal penagihan, dan kebijakan bunga pinjaman. Kalau kamu muslim dan cukup sensitif dengan perihal ini, kamu bisa mencari pinjaman dengan akad syariah. Sekarang sudah banyak, kok!

Berhubung makin banyak produk finansial baik offline maupun online, esensinya sebetulnya sama, ya. Tetap ada persyaratan-persyaratan tertentu sebelum pengajuan. Justru harus curiga, lho, kalau ada pinjaman online yang nggak memerlukan persyaratan khusus. Bedanya, kalau online, kita cenderung lebih mudah melakukannya dan tidak perlu keluar rumah.


Membandingkan Produk Finansial Sesuai Kebutuhan

Ngomongin soal pinjaman, aku jadi inget dulu juga sempat mau mengajukan pinjaman ke salah satu bank syariah untuk keperluan modal usaha bisnisku. Tapi, karena syaratnya buanyak dan ribet, aku udah ciut duluan. Karena tersendat di modal, akhirnya bisnis terpaksa harus aku hentikan dulu. Beberapa tahun lalu, belum banyak tuh pinjaman online yang aman dan aktivitasnya diawasi oleh OJK. Mau pinjam ke orang tua kok ya sungkan banget ya, soalnya udah sering ngerepotin. Kalau sekarang, mah, kita bisa mencari berbagai alternatif yang aman, tidak hanya via bank.

review cekaja.com


Ada juga toko finansial terlengkap di Indonesia, namanya CekAja.com. Kamu bisa menyeleksi dan memilah produk finansial langsung di link ini https://www.cekaja.com/kredit/pinjaman-online. Di sana, kamu juga dapat melakukan perbandingan serta riset untuk membuat keputusan finansial terbaik. Ada berbagai produk serta penyedia pinjaman dan bank yang diawasi oleh OJK, Bank Indonesia, dan Fintech Indonesia.

Seperti yang kukatan tadi tentang pentingnya riset produk finansial sebelum deal, CekAja.com memberikan banyak opsi mulai dari kredit, pinjaman, asuransi, hingga UKM. Pinjaman dengan akad syariah? Ada juga!

Nah, semoga panduan singkat di atas bisa berguna buat bunda ya sebagai langkah awal untuk memilih produk finansial dan pinjaman sesuai kebutuhan keluarga.



Source pict:
CekAja.com
Photo by rawpixel on Unsplash


Selasa, 12 Februari 2019

,



Ibu rumahan yang terus berkarya. Kalimat itulah yang terus aku tanamkan pada diri yang belum berkesempatan menjajal kerja di dunia korporasi. Waktu seolah memberiku pintu untuk mengasah ide kreatif mengembangkan bisnis sambil mendidik anak-anak di rumah, aktivitas yang sungguh menantang dan mengasah mental! Ups and downs aku alami berkali-kali, bisnis mati, dan tak ketinggalan pula kondisi mendesak yang mengharuskanku memulai bisnis baru pada tahun 2019 ini.
----

Pada bulan Mei tahun 2015, aku memilih untuk berkarya di bisnis fashion hijab dan memilih sektor produsen, setelah sebelumnya telah menjajal menjadi reseller. Aku yang mudah stres kalau tidak ada aktivitas, sangat menikmati “mainan” baruku ini. Mulai dari pergi ke toko kain untuk memilih bahan, ke penjahit, melakukan quality control produk, membungkus, hingga melepasnya dengan cinta ke tangan pelanggan.

Eh eh, sebelum ngobrol lebih jauh, aku kenalkan dulu ya bisnisku ini. Namanya La Desya, bisnis fashion hijab yang lahir tahun 2014. Pada tahun 2015, La Desya resmi menjadi produsen hijab yang juga merupakan salah satu penopang hidup dan rumah tangga kecilku. Memilih peran sebagai produsen itu berat. Berat banget, malah, karena ada banyak hal yang perlu dipikirkan. Meski menjanjikan margin yang lebih besar, tapi kalau nggak jeli bisa-bisa malah bikin ripuh.

Mulanya semua aku lakukan sendiri, lama kelamaan suamiku ikut membantu jika ia ada waktu. Jangan kamu pikir aku bisa menjahit, no no no! Masukin benang ke jarum aja masih remidi! Aku mengandalkan kerjasama dengan 6 penjahit dan mencari karyawan di bagian admin. Sisanya adalah tugasku, terutama pada bagian pengembangan produk dan digital marketing. Sukar sih, tapi usaha yang kulakukan membuahkan hasil yang cukup baik: aku punya pemasukan, bisa sedikit membantu keluarga, dan anakku tetap bisa aku rawat sepenuh hati. Pengembangan produk dan promosi pun berjalan cukup lancar dan disukai pasar. Aku sempat meluncurkan produk Pashmina Instan 2in1 dan Pashmina Instan 4in1 yang (setahuku) merupakan yang pertama di Indonesia.




Bisnis rumahanku ini berjalan selama 4 tahun dan tumbang pada awal 2018 lalu. Reaksi pelangganku pun beragam. Ada yang menyayangkan karena suka dengan produk-produkku. Ada juga yang mengatakan eman-eman, karena sudah cukup berkembang. Bahkan ada yang meminta aku untuk menjual saja akun Instagram yang sempat menembus 16k followers dan kini menyusut sedikit demi sedikit.




Obrolan di atas dengan salah satu teman yang pernah berjuang bersama dalam mengembangkan bisnis, mengingatkan aku kembali pada keputusan besar di akhir 2018 untuk menutup bisnis fashion hijab yang kurintis sejak aku mengantongi gelar sarjana.


Ketika Bisnis Harus “Disuntik Mati”

Ngeri ya bahasanya? Hahaha memang begitu adanya. Bisnisku saat itu yang sedang berkembang, harus aku hentikan. Ia tidak sepenuhnya sakit, kalau pun terbatuk sedikit, masih bisa kok diberi obat. Tapi ia memang sepertinya susah menemukan jalan untuk bertahan.



Sebagaimana pebisnis lain, aku juga berkumpul dengan rekan-rekan sesama bisnis bahkan mengikuti kelas online berbayar demi mempertahankan bisnis pada era disrupsi dan digital ini. Bisnisku juga hadir di berbagai lini: Instagram, Facebook Fanspage, Line@, WhatsApp, dan Website. Aku juga menganggarkan dana bulanan untuk iklan berbayar serta mengambil langkah berani untuk mengendorse selebgram dan artis ibukota. Geliat bisnisku yang terus meninggi, membuat banyak orang kaget mengapa tiba-tiba harus berhenti.



Keputusan untuk menyuntik mati bisnis adalah salah satu lukaku di awal tahun 2018. Sebab, beberapa minggu sebelumnya, aku baru saja mengadakan flash sale tutup tahun 2017 dan terbilang lumayan sukses. Aku juga sedang meriset produk baru dan menemukan partner penjahit baru di Kota Malang.




Namun layaknya cerita, bisnisku menemui anti klimaksnya sejak aku harus ikut suami untuk pindah ke Kota Malang. Ini berarti aku harus melepas karyawanku dan mencari partner penjahit baru. Salah satu hambatan dalam mengelola bisnisku ini adalah aku yang tinggal berpindah-pindah, dari Jogja-Sidoarjo-Malang, dan kini kembali lagi ke Sidoarjo. Biaya makin besar, pelangganku pun kerap bingung kalau mau ambil di rumah atau mengecek ongkir. Perkara kedua yang membuatku makin mantap menutupnya adalah modal yang seharusnya digunakan untuk pengembangan produk, terpaksa dialirkan ke tempat lain. Aku dan suami kembali mengalami guncangan finansial di awal tahun 2018 lalu. Tekanan ini berdampak pula ke usaha kami karena keuangan milik bisnis belum sepenuhnya terpisah dari pribadi. Hh... semakin mustahil saja untuk mempertahankan bisnis.


Kenangan manis saat photoshoot di Surabaya bersama model dan admin La Desya :)

Akhirnya, setelah berkonsultasi kepadaNya, aku harus menutup La Desya sampai waktu yang tidak ditentukan. Ndak papa, semua pebisnis pasti pernah gagal, kan?


Menemui “Cinta” Lama untuk Membangun Bisnis Bersama

Belajar dari apa yang terjadi di La Desya, aku berusaha untuk tidak patah semangat dan segera menggunakan sumber daya yang telah aku miliki untuk melakukan Pivot. Kebetulan sebelum La Desya aku turn off, aku sempat membuka kembali blogku yang sudah 3 tahun lebih tidak kusentuh. Aku bersihkan perlahan sarang laba-laba di sana dan aku membeli domain bundabiya.com. Keputusan ini bukan tanpa sebab, aku memang sudah berniat untuk memonetisasi blogku. Semangat ini muncul setelah aku belajar tentang digital marketing selama menjalankan bisnis La Desya dan aku tersadar bahwa ternyata aku punya sumberdaya yang cukup sebagai langkah awalnya.

Tahun 2018 lalu aku mengetuk lagi pintu hati Si Cinta Lamaku ini, kurawat ruhnya, kupercantik fisiknya. Berharap ia mau kugandeng kembali untuk memulai bisnis baru bersama.

Aku kembali melirik blog karena modalnya sangat murah. Dalam rupiah, per tahun hanya 148 ribuan. Selebihnya, aku memerlukan laptop yang telah kumiliki, wifi kencang yang juga sudah tersedia di rumah, dan kreativitas yang terus terasah.

Setahun setelah nge-monetize blog, aku sudah bisa memetik buahnya. Selama setahun, aku melakukan kerjasama dengan beberapa brand, belajar dasar-dasar memonetisasi blog, dan sesekali mengikuti kompetisi. Hadiah terbesar yang aku peroleh adalah jalan-jalan gratis ke Turki! Yay!


Ke Turki hadiah dari ngeBlog!! :D



Strategi Melejitkan Bisnis Tahun 2019

Memperoleh starting point yang cukup baik dan mencapai target menjadi hiburan tersendiri buatku setelah mengalami kegagalan. Tahun 2019 ini aku semakin yakin dan semangat untuk melejitkan bisnis kembali.

“INI SAATNYA!” Gumamku dalam hati.
  
Aku membagi Rencana Bisnis 2019 menjadi 3 bagian. Pertama, Bunda Biya Project, yakni project website yang sedang berjalan ini. Kedua, Bunda Traveler Project yang sudah aku launch pada bulan Januari lalu. Ketiga, No Name Project, yakni perencanaan bisnis baru untuk menggantikan La Desya. Project pertama dan kedua fokus pada jasa dan sektor B2B, sementara rencana pada project ketiga fokus pada barang serta sektor B2C.




Karena aku punya target cukup besar di usia 30 nanti, sekarang aku agak ngebut. Semacam akselerasi, lah. Jadi, dalam menjalankan rencana bisnis pun, aku harus punya strategi agar bisa melejit dengan tepat sasaran, sesuai indikator pencapaian, dan tanpa mengurangi waktu mengasuh yang menjadi haknya anak-anakku di rumah. Karena bisnisku ini adalah bisnis ala ibu rumahan, semua harus dibangun sendiri.

Beberapa strategiku dalam perencanaan bisnis di tahun 2019 dan #ResolusiBisnis2019 ala ibu rumahan antara lain:

1. Menetapkan tujuan berbisnis. Tujuan ini bagai pondasi bangunan. Harus kuat dan kokoh. Jika suatu saat ada hambatan, aku tak akan cepat berhenti dan meninggalkan lapak. Cukup beristirahat dan kembali melihat tujuan awal membangun bisnis ini.

2. Mematangkan riset. Kesalahanku saat mendirikan La Desya adalah aku membuka bisnis berdasarkan apa yang aku suka, bukan apa yang dibutuhkan oleh market. Kali ini, aku tidak mau salah langkah. Aku berusaha mematangkan riset melalui akun media sosial dan membaca tren. Beberapa riset yang dilakukan oleh perusahaan digital marketing juga sangat membantuku.

3. Menentukan value atau prinsip-prinsip dalam bisnis. Buatku ini sangat penting, sebab, value yang dipegang dapat menjadi pembeda antara kita dengan bisnis lain. Selain itu, value ini nanti juga menjadi dasar untuk keperluan branding. Nilai atau value ini misalnya saja, profesionalitas kerja, keterbukaan, dan komunikasi. Kemudian aku juga cenderung tidak mengikuti lomba atau mengambil kolaborasi yang tidak sesuai niche. Hal ini karena aku menjaga kepercayaan pembaca setia blogku.

4. Menentukan produk, membuat SOP, dan indikator pencapaian. Produk apa saja yang bisa kita jual? Meskipun bergerak di bidang jasa, produk ini juga harus jelas. Misalnya saja, aku tidak menerima kolaborasi berupa content placement dengan artikel tetap. Kemudian karena aku kerja di rumah, godaan untuk bermalas-malasan dan gegoleran di kasur bersama anak itu sangat besar, Jendral! Kinerja perlu dipantau sendiri, ditentukan sendiri, dan di awasin sendiri. Caranya gimana? Bikin SOP-nya!

5. Buat progres kinerja. Ketiga project tadi aku buat masing-masing perkembangan kinerjanya. Progres ini aku petakan perminggu dan perbulan. Dengan demikian, aku bisa membuat dan memiliki to do list harian, mingguan, bulanan, dan tahunan. Hal ini penting untuk membagi beban pikiran, waktu, dan tenaga, agar nggak stres dan nggak terlalu tergesa.

6. ACTION! Pada project pertama, aku sedang mengembangkan beberapa channel media sosial lainnya seperti YouTube dan Facebook Fanspage. Untuk project kedua, aku sedang mempersiapkan artikel-artikel untuk konten dan mempelajari hal-hal teknis pada platform yang aku gunakan.

Sedangkan project ketiga, aku sedang mempelajari dan menentukan target market, baru akan menentukan produk. Nah, dalam hal ini, akupun memanfaatkan keberadaan market place yang juga menjadi salah satu sasaran yang aku riset, terutama untuk riset barang dan harga. Misalnya saja pada website milik Ralali.com yang merupakan B2B marketplace dan menyediakan berbagai keperluan untuk bisnis dengan harga grosir. Cucok bangau, aku yang sebagian besar waktu ada di rumah, nggak perlu kerepotan karena tinggal klik, klik, klik!



Aku nggak punya alasan lagi untuk menunda. Usiaku sudah 26 tahun dan anakku sudah dua. Meski hanya sekedar ibu rumahan, aku juga punya impian yang perlu aku tuntaskan. Buatku, opsinya adalah sekarang atau tidak sama sekali. Aku yakin, INI SAATNYA!

Ibu-ibu yang lain punya cerita juga tentang pengembangan bisnisnya? Boleh yuk kita berbagi dan ngobrol di sini! :)


Referensi:
Gambar:
Photo by Nicole Honeywill on Unsplash
Elemen grafik: freepik
Pribadi

Follow me @nabilladp