Tak Sekadar Cita, Rumah Pertama Kian Ringan dalam Genggaman Anak Muda

Agustus 12, 2020

Ilustrasi rumah impian (Dok: Unsplash).


Manusia selalu butuh tempat yang nyaman untuk berlindung dan beristirahat. Ketika masih janin, “rumah pertama” manusia adalah rahim ibu. Beranjak dewasa, manusia kian butuh rumah yang aman, yang menyediakan kendali, kepemilikan, dan privasi.

Sayangnya, tak semua masyarakat bisa memiliki rumah. Ada masyarakat bergaji pas-pasan yang terpaksa tinggal di lingkungan kumuh karena tak mampu membeli kediaman. Ada pula generasi yang lebih suka menyewa rumah karena pendapatan yang kurang memadai dan pilihan gaya hidup. Karakter ini melekat erat pada generasi milenial. Mereka gemar traveling dan menghabiskan banyak uang untuk konsumsi. Hal ini menyebabkan milenial jadi susah menabung dan membeli rumah. 

Namun, bukan berarti milenial tidak ingin memiliki hunian. Milenial banyak menghadiri peluncuran sejumlah proyek perumahan. Hal ini menunjukkan, bagaimanapun juga, milenial butuh rumah yang sehat dan layak huni.

Kebutuhan akan rumah semakin nyata karena pandemi dan gaya hidup baru work from home. Tepat sebelum pandemi, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) meluncurkan aplikasi SiKasep agar generasi milenial dan masyarakat umum dapat mencari rumah sesuai kebutuhan dan anggaran. 

Ternyata, beberapa tahun sebelum hari ini, pemerintah telah mengeluarkan serangkaian program strategis untuk membantu masyarakat yang belum memiliki rumah. Sebut saja RISHA, Program Sejuta Rumah, dan SiKasep. Berbagai program menarik ini telah diimplementasikan, teruji, dan layak huni untuk masyarakat. Dengan begini, rumah pertama bukan hanya sekadar mimpi! 


RISHA, Sebentuk Asa dari Negara


Tanggal 2 Agustus 2020 lalu, @KemenPU merespon video viral yang diunggah oleh @EngineeringVids tentang rumah instan. Admin @KemenPU mengutarakan bahwa Indonesia juga telah memiliki rumah instan yang terjamin mutunya.

“Di Indonesia konsep rumah instan ini juga udah ada lho, hasil pengembangan Balitbang PUPR, namanya RISHA. Dengan konsep knock down, proses pembangunannya menggabungkan panel-panel beton dengan baut sehingga selesai dengan waktu jauh lebih cepat.”

Tweet ini mendapat 83 retweets dan komentar serta 374 likes dari warganet. Sebagian besar terkesima, ternyata banyak yang belum mengetahui info tentang rumah instan di Indonesia. 


Tweet @KemenPU tentang RISHA (Dok: Pri).


RISHA merupakan rumah efisien, layak huni, dan terjangkau yang dibangun secara bertahap dengan proses pembangunan yang ukuran komponennya mengacu pada ukuran modular. RISHA telah diterapkan sejak tahun 2005 dan ada lebih dari 10.000 unit yang sudah dibangun di Aceh pasca tsunami.

RISHA sedang gencar dipromosikan lantaran telah teruji tahan gempa hingga 8 SR dan 8 MMI. Teknologi RISHA akan terus digunakan untuk memenuhi kebutuhan percepatan penyediaan perumahan dengan harga terjangkau. Kualitasnya pun tak asal-asalan. Bahan bangunan RISHA wajib ber-SNI dan setiap pembuatan panelnya memerlukan pengawasan ketat dari PUPR.

Rumah instan ini sudah berdiri kokoh di Aceh, Jawa Barat, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Jambi, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Jawa Timur, Yogyakarta, Jawa Tengah, Bali, NTT, dan NTB. Penerapan RISHA di berbagai provinsi di Indonesia menunjukkan bahwa RISHA cukup kompatibel dengan tekstur tanah di berbagai daerah. Tanah terbaik untuk tumpuan RISHA adalah yang teksturnya keras. Namun, tak harus benar-benar rata, tingkat kemiringan 15% masih dapat ditoleransi.

RISHA dapat menjadi solusi untuk masyarakat menengah ke bawah yang belum memiliki rumah. Proses pembangunannya cepat dan harganya lebih terjangkau dibanding rumah tapak pada umumnya.

Berbagai penjelasan tentang RISHA dapat dijumpai di YouTube. Masyarakat dapat melihat video unggahan aplikator maupun video edukasi dari Kementerian PUPR (Dok: Pri).


Lebih Cepat
RISHA unggul dalam kecepatan pembangunan karena menggunakan teknologi Pre-Cast, setiap panelnya disatukan dengan mur dan baut baja. Teknologi ini sudah diuji secara komprehensif oleh PUPR sejak tahun 2005.

Pondasi RISHA dapat dipasang selama satu sampai dua hari. Kemudian pemasangan atap, tembok, jendela, lantai keramik dan aksesoris rumah dapat dilakukan empat sampai lima hari berikutnya. Total pembangunan teknologi RISHA yang siap huni dapat dilakukan selama sekitar tujuh hari.

Kualitas Prima, Tahan Gempa
Demi menjaga kualitas RISHA agar tahan gempa, setiap aplikator yang memproduksi panel RISHA mendapatkan pelatihan dari PUPR dan harus memakai bahan-bahan yang ber-SNI. 
Dengan mutu terbaik ini, RISHA dapat dibangun di berbagai tempat yang terindikasi rawan bencana. Desainnya diciptakan untuk resistan terhadap kondisi geografis Indonesia, termasuk di wilayah pantai. Masyarakat tidak perlu khawatir akan korosi, sebab, setiap baut dan sekrup dilapisi oleh cairan galvanis yang tahan karat.

Harga Miring
Teknologi RISHA tak menguras kantong. Masyarakat dapat memiliki satu paket RISHA tipe 36 lengkap dengan kamar mandi dengan harga sekitar 50 juta rupiah. Biaya tersebut belum termasuk pengiriman dari aplikator ke tempat pemesan. 


Meneropong Rumah Impian Melalui Program Sejuta Rumah


Barangkali, program ini terdengar halu di telinga anak zaman sekarang. Halu adalah kependekan dari halusinasi, sebutan untuk sesuatu yang impossible. Namun, program yang telah dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo pada 29 April 2015 ini bukanlah janji semata. Perkembangan Program Satu Juta Rumah selama lima tahun mulai 2015 hingga 2019 berjumlah 4.800.170 unit. Capaian tahun 2019 sebanyak 1.257.852 unit dengan rincian rumah untuk Masyarakat Berpendapatan Rendah (MBR) berjumlah sekitar 945.161 unit dan rumah untuk non MBR sekitar 312.691 unit.

Per tanggal 11 Mei 2020, capaian pembangunan rumah untuk masyarakat yang ada di dalam Program Sejuta Rumah telah menyentuh angka 215.662. Total capaian pembangunan rumah untuk MBR sebanyak 169.317 unit dan rumah untuk non-MBR sebanyak 46.345 unit. Hal ini sepatutnya kita apresiasi, sebab, di tengah pandemi, pemerintah konsisten berupaya maksimal untuk menuntaskan program dengan meluncurkan sejumlah langkah strategis.

Membentuk 19 Balai Perumahan
Untuk mendorong keberhasilan Program Sejuta Rumah, Kementerian PUPR telah meresmikan 19 Balai Perumahan. Balai Perumahan tersebut tersebar di Wilayah Sumatera (5 Balai), Wilayah Jawa (4 Balai), Nusa Tenggara (2 Balai), Wilayah Kalimantan (2 Balai), Wilayah Sulawesi (3 Balai), Wilayah Maluku dan Papua Barat (1 Balai) serta Wilayah Papua (2 Balai). Kementerian PUPR kini tengah menyusun kesiapan pembentukan balai lainnya dengan memperhatikan ketersediaan SDM, lokasi, sarana dan prasarana kantor, serta pendanaan.

Balai Perumahan ini bertugas merencanakan kebutuhan pembangunan perumahan di masing-masing wilayah, melaksanakan fungsi pengawasan dan pengendalian, memiliki kewenangan pembinaan, kemitraan, koordinasi, memfasilitasi pembangunan, serta melaksanakan pembangunan perumahan yang dilakukan oleh seluruh pelaku pembangunan melalui dana non APBN. 

Program Pembangunan Perumahan Berbasis Komunitas. 
Program Sejuta Rumah ditujukan untuk berbagai kelas ekonomi dan profesi. Kementerian PUPR turut merancang program untuk komunitas profesi tertentu dan belum pernah mendapatkan program subsidi pembiayaan perumahan dari pemerintah. Dalam pelaksanaannya, program ini terintegrasi dengan program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) atau bedah rumah dan bantuan pembiayaan perumahan Kredit Pemilikan Rumah dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR FLPP).

Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku)
Program ini berfokus pada pembangunan perumahan dengan Pola Hunian Berimbang. Tujuan umum Kotaku adalah meningkatkan akses terhadap infrastruktur dan pelayanan dasar di permukiman kumuh perkotaan serta mendukung perwujudan permukiman perkotaan yang layak huni, produktif, dan berkelanjutan. Implementasi program Kotaku meliputi peningkatan kualitas, pengelolaan serta pencegahan timbulnya permukiman kumuh baru, serta melakukan pendampingan sosial dan ekonomi masyarakat.

Skema Perumahan untuk ASN dan Milenial
Program pendukung selanjutnya adalah proses finalisasi skema penyediaan perumahan untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) / TNI / Polri serta skema perumahan untuk generasi milenial.

Program rumah bagi generasi milenial akan diarahkan ke rumah vertikal atau rumah sederhana bersubsidi. Pemerintah juga sedang merencanakan pembangunan perumahan di kawasan strategis Transit Oriented Development (TOD) dengan menggunakan konsep rumah susun yang dekat dengan pusat kegiatan sesuai karakteristik milenial.

Terdapat tiga klaster milenial yang dikaji. Klaster pertama adalah milenial pemula yang berusia 25-29 tahun, baru bekerja atau masih mencari pekerjaan, dan belum menikah. Klaster kedua adalah milenial yang berusia 30-35 tahun dan sudah berkeluarga. Klaster ketiga adalah milenial berusia di atas 35 tahun yang sudah memiliki pekerjaan tetap dan kemajuan finansial. 

Klaster pertama akan disiapkan rumah sewa vertikal yang dekat dengan simpul transportasi. Klaster kedua berupa hunian tipe 36 dengan 2 kamar tidur. Sementara klaster ketiga diperkenankan membeli sendiri sesuai kehendak dan pendapatan.


SiKasep, Andalan Baru Generasi Milenial


Kementerian PUPR telah lama memberi perhatian pada generasi yang lahir antara tahun 1980 sampai akhir tahun 1990-an ini. Wajar saja, sebab, masih ada sekitar 81 juta jiwa generasi milenial yang belum memiliki rumah. Untuk mengatasi persoalan ini, pemerintah meluncurkan Aplikasi Sistem Informasi KPR Subsidi Perumahan (SiKasep) pada akhir 2019 lalu. SiKasep memungkinkan milenial dan masyarakat umum menemukan rumah sesuai budget dan selera.

SiKasep merupakan inovasi dari Kementerian PUPR melalui Badan Layanan Umum Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (PPDPP). SiKasep bekerja dengan cara membentuk konsep big data terkait dengan informasi backlog perumahan yang lebih akurat.


SiKasep: Inovasi Solutif untuk Generasi Milenial. Mudah digunakan dan tepat sasaran. (Dok: https://ppdpp.id/)


SiKasep dibentuk berdasarkan konsep ketersediaan dan kebutuhan. Melalui SiKasep, pemerintah dapat mengetahui kebutuhan ketersediaan rumah dan dapat mendorong para pengembang bersama dengan bank pelaksana untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Aplikasi cerdas ini memungkinkan pengguna terhubung secara online dengan pemerintah, bank pelaksana, dan pengembang dengan sistem host to host. Pengguna baru dapat mendaftar menggunakan KTP. Proses verifikasi ini terhubung langsung ke Kementerian Dalam Negeri dan terkoneksi dengan data FLPP yang dikelola oleh BLU PPDPP dan Tol Data Subsidi Pemerintah. Tak perlu ragu, aplikasi ini terjamin keamanannya karena telah disertifikasi oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).


Beramai-ramai Mewujudkan Impian Rumah Pertama


Berbagai program istimewa yang diluncurkan pemerintah membuat banyak anak muda semakin optimis memiliki rumah pertama. Rumah yang sehat dan layak akan menjadi tempat berteduh terbaik. Rumah yang layak turut memberi makna pada hidup serta menjadi jembatan pengantar kesejahteraan. Pada akhirnya, rumah pertama akan menjadi tempat lahirnya kreativitas dan solusi-solusi terbaik untuk bangsa. 

Terima kasih, untuk Kementerian PUPR yang membuat rumah pertama kian ringan dalam genggaman.


You Might Also Like

0 komentar