Kamis, 09 Februari 2012

Konferensi yang Menginspirasi!

Mungkin sebagian orang berfikiran aku kurang waras ketika mereka tau aku ke Jakarta untuk...liburan.

Yaa dimana mana gitu ya, yang namanya liburan pasti nyari kesenangan, sesuatu yang bikin pikiran fresh dan jauh dari kekacauan lalu lintas akibat terlalu banyak kendaraan bermotor semacam di Jakarta gitu deh. Lah ini, kasarannya, malah mengunjungi kepadatan kota.

But for me, this trip isn’t for shopping or see interesting place in objective view.
It is for me time, meet people, and for surprises.

Sebenernya yang bikin aku buru-buru ke Jakarta adalah acaranya Indonesian Future Leaders (IFL) yaitu National Conference Meet The Leaders yang dihelat hari Minggu tanggal 29 Januari 2012. Jadi konferensi nasional ini merupakan pembukaan ajang Parlemen Muda. Pematerinya juga menggiurkan, ada Anis Baswedan, Pak Joko Widodo, Dik Doank, Lidwini Marcella (founder of KOPHI), Leo Wokodompi (Indonesia National Comission for UNESCO, bagi yang belom tau, dia ini Leo AFI. ngetren banget pas jamanku SD hehehe), Christopher (France student yang care banget sama Indonesia!), Ayu (Indonesia Mengajar), Leonnardo Kamilius (founder Koperasi Kasih Indonesia), Pemred TEMPO, DaaiTV, dan lain-lain yang bikin aku ngerasa, ini kesempatan yang nggak boleh dilewatkan.

So I’m going to share The National Conference Meet The Leaders.

Acaranya di RRI pusat, sebelahnya Gedung MK. Yang ngadain kebanyakan temen-temen UI. Bahkan diluar dugaan, ternyata a man who was in charge di IFL sendiri masih mahasiswa, tapi udah bisa ngadain acara dan program yang menurut aku, impactnya gede. Acaranya dibuka oleh Ketua DPD RI, Dubes Eropa, dan Pak Anies Baswedan. Udah pada tahu sama Pak Anies Baswedan kan? Beliau yang menggagas program edukatif dan super bermanfaat yang bernama Indonesia Belajar, menantang mereka yang memiliki pekerjaan mapan dan rela kembali pulang ke Indoesia untuk mengajar di daerah pelosok di Indonesia. Prinsipnya adalah:

Setahun mengajar, seumur hidup menginspirasi.

Luar biasa, dari jangkauannya aja, program ini sudah kelihatan sekali kemana. Jangka pendeknya jelas mencerdaskan anak-anak yang berada di pelosok dan kekurangan tenaga pendidik. Jangka panjangnya, para pendidik ini diharapkan mampu memberi inspirasi kepada murid-muridnya agar suatu hari nanti, mereka menjadi generasi muda bangsa yang bermanfaat dan dapat membawa perubahan. Sebagai bukti nihye, panitia juga menghadirkan mbak Ayu yang mengajar di salah satu desa di Halmahera. Beliau salah satu pengajar muda yang cukup sukses dan smart. Beliau selalu mengajarkan kepada murid-muridnya tentang toleransi beragama. Bahwa di desa tersebut, terdapat 2 agama yang saling membenci satu sama lain. Anak-anak telah di doktrin, “agama A itu jahat, kita tidak boleh berkawan dengan mereka” begitu pula di bagian yang lain, “agama B itu jahat.”

Hal ini jelas mengancam persatuan bangsa kita. Dalam Al-Qur’an saja diperbolehkan bekerja sama dengan orang-orang yang berbeda keyakinan dengan batasan “bagimu agamamu dan bagiku agamaku”. Perlahan-lahan, usaha beliau memperoleh titik terang. Waktu menampilkan foto-foto di presentasinya, beliau juga menuturkan,

“tanpa mengikuti Indonesia Mengajar, saya tidak akan bisa menemukan senyuman dan berbagi kisah dengan mereka. Juga, saya tidak akan bertemu seseorang yang menjadi suami saya sekarang..”

Mbak Ayu menutup kalimatnya dengan tersenyum dan menoleh kepada seseorang di bangku pemateri. Di susul dengan riuh peseta konferensi. Aww, sweet! Serius deh aura bahagia itu hampir selalu terpancar oleh pasangan yang berbahagia, apalagi sudah, akan, atau sedang menjalani pernikahan di usia yang tidak lagi muda. Sekaligus memancing sebuah pertanyaan, aku kapan ya? *abaikan*

***

Menurut aku sih, ngga ada pemateri yang nggak menginspirasi. Bahkan Marshanda! Awalnya, heran juga kenapa harus nih artis sih yang diundang jadi pemateri? Ya mungkin bagi sebagian orang (termasuk saya) masih mendapati stigma Marshanda sebagai ABG-yang-mengupload video-di-youtube karena tekanan yang dia alami. Sekalipun sudah menikah, label itu masih terpatri. Tapi hari itu, Marshanda cantik deh, jilbab dan bajunya oke, yang kurang oke sih high heelsnya. Ketinggian! Jadi bikin jalannya kurang anggun. Dan hari itu juga baru aku tahu kalo Marshanda juga punya project di bidang sosial. Bagus juga nih, pantes udah jarang nongol di tipi.

Kalau penilaian pribadi sih, paling suka sama Pak Joko Widodo yang super humble plus Dik Doank. Hari itu sih pertama kalinya aku ngelihat Pak Jokowi secara langsung, biasanya sih dari twitter aja, ngelihat update-an twitternya. Ketika dipanggil, beliau jalan dengan santai, menyapa pemateri dan tamu-tamu disebelahnya, dan stand up comedy bentar.

Lha kok?
Iya, aku bisa bilang beliau stand up comedy. Mbanyol mulu! Pak Jokowi bener-bener merepresentasikan orang solo deh, orang Jawa pada umumnya. Ramah, medhok, dan apa adanya. Saya termasuk yang mengiyakan curhatan beliau bahwa beliau sama sekali ngga ada potongan jadi walikota. Jujur saja, postur tubuhnya jauh daripada anggota dewan yang tegap dan berisi. Bahkan pikiran yang melintas di kepala ketika melihat beliau adalah: abdi dalem. Duh nyuwun ngapunten, Pak.. Tetapi dibalik sosok yang nggak ada potongan itu, tersimpan benih ketegasan, pengabdian, dan konsistensi dalam membawa perubahan dan perbaikan bagi masyarakat yang telah mengamanahi beliau selama dua periode.

pahlawan-nya wong Solo!


Beliau presentasi hanya bondo slide yang full foto-foto beserta caption seadanya. Tanpa teks. Tetapi dengan sukses membius para peserta konferensi tentang arti pemimpin yang sebenarnya. Beliau memaparkan dengan baik dari awal pencalonan walikota: satu tahun pertama yang dihujani demo, tahun-tahun berikutnya yang malah Pak Jokowi nya yang kangen di demo, hingga sekarang: ketika masyarakat Solo menyadari mereka memiliki seorang pemimpin yang telah menggoreskan sejarah di hati rakyatnya, tentang perubahan perekonomian, kebijakan yang pro rakyat, dan pemberdayaan masyarakat.

“Jadi pemuda jangan mall melulu yang diurus. Mall itu Cuma kepunyaan satu orang. Cobalah ke pasar tradisional. Kalau pasar tradisional diberi sentuhan sedikit, bisa cantik lho. Saya bukan anti investor. Kalau mau membangun mall, ya saya kasih izin. Satu saja cukup.”

"Leadership is action, not position."
Begitu pesan beliau.

Sementara Dik Doank, sukses menghipnotis peserta dengan gayanya yang nyentrik dan humor-humor segar. Sosok yang doyan banget dipanggil om ganteng ini sempet curhat tentang masa sekolahnya yang bodoh, tolol gara-gara nggak bisa bersahabat dengan angka. Sama seperti pemateri" sebelumnya, dik doank juga memberikan wejangan fresh. Seperti:
"kamu tau, bersekolah itu penting. kenapa? agar kamu juga tahu bahwa sekolah itu gak penting"

Itu sebagai kritik atas sistem kurikulum Indonesia yang kurang efektif. Baginya, lucu saja ketika anak nelayan yang tangkas dalam menyelam dan mencari ikan, anak gunung yang jago merawat alam, harus dinyatakan tidak lulus lantaran nilai matematika yang jeblok. Sebagai solusi, beliau mendirikan Kandank Jurank Doank, sebuah pembelajaran non-formal yang insya Allah tetap bisa mencerdaskan bangsa dan menumbuhkan akhlak.

Berkali-kali beliau mengajak peserta konferensi untuk berdoa dan sesudahnya, memberikan sebuah kata yang cukup menarik.

Cinta Allah itu abstrak, bukan struktural.

Cinta yang bisa didapat dimana saja, dengan cara yang dikehendaki olehNya, dan tidak melihat sekat-sekat duniawi buatan manusia.

3 komentar:

  1. Keren banget postingan-postingannya kak!
    i've followed your site :)
    salam kenal!

    BalasHapus
  2. thanks nabila :D
    salam kenal juga, anak mana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. your welcome kak Nabilla, hehe :p
      saya kuliah di bio UI :D

      Hapus

Follow me @nabilladp