Jumat, 07 Desember 2018

,



Salah satu tantangan yang sekarang aku hadapi dalam mengasuh dua anak (satu toddler dan satu bayi) adalah manajemen waktu. Si adek minta nenen, eeh kakak minta di pangku lah, minta dipeluk lah, minta diajak mainan lah, dan lain sebagainya.

Padahal di rumah ya banyak mainan dan buku-buku kesukaannya. Tapi si kakak nggak mau tuh hanya sekedar didampingin, tapi maunya terus diajak dan berinteraksi. Kalau sudah gini, bye bye tidur nyenyak! Hehehe. Buibu ada yang ngalamin hal sama?

Belakangan aku sadar kalau si kakak sudah minta sekolah dan aku perhatikan dia mulai suka mainan buka-tutup laci lemari dan berkata, “Mahiya mau bikin kue.” Ooh dia rupanya sedang berpura-pura memanggang kue di oven! Wah, menarik nih! Mahira memang sudah berusia 2,5 tahun, dan rupanya, dia sudah siap untuk dikenalkan dengan aktivitas sehari-hari dan pelan-pelan mengenal profesi.

Apalagi dia juga sering melihat aku atau neneknya berdandan, dia juga sering ngikutin dan minta dipakaikan licip (lipstik!). Kalau lagi masak, dia juga sebisa mungkin ikutan walau cuma melihat-lihat apa yang sedang diproses di atas kompor. Okelah, udah waktunya aku mencari mainan anak untuk usia 3 tahunan. Meskipun belum genap 3 tahun, tapi Mahira mudah memahami cara kerja mainan umum untuk usia 3 tahunan.

Carinya dimana? Shopee, lah! Haha dimana lagiiii.. sebetulnya di dekat rumah ada baby shop yang bisa jadi opsi, tetapi pernah aku bandingkan, beberapa mainan harganya jauh lebih mahal. Gap harganya itu bisa sampai 50-100 ribuan. Yah, kalau lagi ada duit dan kepepet sih aku beli di baby shop, tapi berhubung sekarang pemasukan harus dibagi empat, jadi aku lebih suka mengandalkan Shopee yang ada free ongkirnya!

Aku termasuk user Shopee yang cukup lama. Mulai dari promo free ongkir sepuasnya selama sebulan sampai mulai dikurangin jumlah subsidi ongkirnya dan sekarang justru lebih asyik karena Shopee memberlakukan sistem free ongkir dengan voucher yang bisa diklaim, voucher diskon, dan cashback. Cashback ini sangat bermanfaat karena bisa kita tukarkan voucher lainnya (ada voucher pesawat, hotel, dll) atau bisa jadi sebagai potongan harga. Asli, aku udah berulang kali dapat barang bagus buat suami, anak, dan keperluan rumah tangga dengan harga murah di Shopee! *bangga

Nah, karena kebetulan tanggal 6 Desember kemarin baruuu aja mainan anak usia 3 tahunan yang aku beli sampai di rumah, aku mau ngasih rekomendasi karena kondisi barangnya cukup oke dan tentu saja Mahira antusias luar biasa!


Mainan New Kitchen Set Juru Masak Bangku

Sebetulnya ada banyak produk mainan untuk anak berusia 3 tahun di Shopee. Tapi yaa aku tentu saja pilih-pilih dan cukup memakan waktu lama, karena aku cari yang bagus produknya, bagus rating-nya, dan harganya nggak mencekik dompet. Dan akhirnya ketemu deh di seller istanatoys.com. Seller ini agaknya cukup gede, karena dalam satu toko aja ada lebih dari 4 mainan anak kitchen set.



Pilihanku jatuh ke New Kitchen Set Juru Masak Bangku No. JM 989 yang sesuai dengan kebutuhanku dan si kecil. Tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil, dan multifungsi karena bisa dipakai untuk bangku jika ditutup. Harganya? Aslinya 75.000 tapi berhubung lagi diskon 8% harganya jadi 69.000 saja! Pas barangnya sampai, aku cukup puas, yah rating 4 dari 5 lah karena barangnya bagus, lengkap, tidak ada cacat berarti, hanya ada satu perlengkapan yang agak susah dipasangnya dan hal tersebut buatku bukan masalah besar.

Nah dengan begini, Mahira bisa merealisasikan imajinasinya yang selama ini cuma masak di laci lemari hihihi.


Mainan Alat Make Up Anak Hello Kitty The Nail Art (Koper)

Sebelum beli ini, suamiku sempat nggak menyetujui karena dia khawatir Mahira terlalu doyan dandan. Buatku nggak papa sih, siapa tau bisa jadi passion-nya dan siapa tau dia bisa jadi makeup artist, ya kan? Selama tujuannya untuk mendidik, melatih motorik, kreativitas, dan produknya aman, aku sih nggak masalah.



Ketemulah aku dengan produk cosmetics untuk anak di toko yang sama (biar hemat ongkirnya! hehe). Produknya kecil, ringkas berbentuk koper, berwarna pink dan ada Hello Kitty-nya yang dengan mudah memikat Mahira. Dalam caption-nya, seller sebetulnya nggak menjelaskan bahwa produk ini sudah ber-SNI, hanya ditulis aman, begitu saja.
Tapi syukurlah, saat datang, aku lihat pada dusnya sudah ada label SNI dan berbagai keterangan serta warning dari lembaga terkait. Dalam dus tidak dijelaskan komposisi bahan, hanya dituliskan bahwa bahan-bahannya aman untuk anak. Meski demikian, perlu dites terlebih dahulu di tangan karena toleransi alergi anak bisa berbeda-beda. Terdapat juga himbauan di dus untuk tidak menelan printilan produk dan tidak memukulkannya ke anak lain (yaiyalah hehe).
datang langsung dipake! :D



Tips Membeli Mainan untuk Anak Usia 3 Tahun di Shopee.

Karena aku cukup berpengalaman menggunakan Shopee baik sebagai seller maupun buyer, boleh ya kalau aku berbagi tips membeli produk mainan anak di sini:

1. Perhitungkan voucher free ongkir dan cashback. Biasanya, di awal bulan Shopee memberikan beberapa voucher dan tambahan voucher di acara tertentu misalnya 11.11 dan 12.12. Voucher itu baiknya jangan langsung habis di awal bulan gais, nanti kalau tiba-tiba kepengen beli sesuatu agak banyak di akhir bulan gimana? Terus juga perhatikan promo cashback-nya, ada tanggal berlakunya atau tidak.

2. Manfaatkan filter produk. Kalau cari sesuatu, langsung aja ketik di kolom pencarian. Biasanya, aku menggunakan opsi Star Seller dan Terlaris. Kalau aku sedang mencari diapers, aku gunakan fitur Filter di pojok kanan atas untuk mencari yang dikirim dari Jawa Timur biar ongkirnya nggak mahal. Kalau kamu inginnya cari yang termurah, bisa juga pakai fitur harga terendah.
cara menggunakan fitur pencarian di Shopee


3. Cek rating toko. Jangan malas mengecek rating toko dan deskripsi toko. Aku pernah bermasalah dengan toko yang owner-nya galak banget. Tapi syukurlah yang macam ini nggak banyak. Biasanya toko yang ramah dan baik pelayanannya akan memberikan deskripsi yang informatif baik di deskripsi toko maupun deskripsi produk. Aku pribadi jarang belanja di toko yang rating-nya di bawah 4,5.

4. Cek rating produk dan fitur penilaian produk. Meskipun rating toko bagus, kadang ada juga yang rating produknya jelek. Juga bisa sebaliknya, rating toko buruk, tapi rating produk jelek. Tentu faktornya macam-macam ya. Kemudian cek juga seberapa banyak buyer yang kecewa dengan memberikan penilaian bintang 1 sampai bintang 3 dan apa alasan kekecewaannnya. Terakhir, cek juga bagian “komentar dengan foto” untuk melihat real picture produk dari pembeli.

5. Jangan malas mencari bubble wrap atau kardus di toko. Sebagian besar toko mainan menyediakan tambahan bubble wrap dan kardus untuk menambah keamanan. Kadang ada toko yang pelit, kalau buyer nggak nge-ATC (add to cart)  bubble wrap atau dus, ya bener-bener nggak dikasih. Akibatnya, produk bisa aja rusak atau ada cacat. Ada juga seller yang sukarela memberi bubble wrap dan kardus sebagai bonus. Kalau pas di search nggak ada, coba tanyakan apa seller menyediakan bubble wrap gratis.

6. Tinggalkan pesan dengan nada sopan. Aku selalu menulis di note setelah check out untuk meminta seller agar nge-packing produk yang aman. Hal ini dapat meminimalisir kerusakan di perjalanan.

7. Jika ada masalah, selesaikan bersama Shopee. Salah satu keunggulan Shopee adalah dia memiliki sistem penyelesaian konflik yang baik. Aku pernah menggunakan fiturnya dua kali, satu untuk mengembalikan barang yang nggak sampai-sampai tapi akhirnya nggak dikabulkan (ini karena aku gak sabaran hahaha) dan kedua untuk melaporkan seller yang buruk perlakuannya ke buyer.

Yaa segitu dulu ya tips dari aku, semoga bermanfaat buat jamaah emak-emak irit dalam berbelanja namun ramah dalam bersedekah. Hihihi.

Buibu ada pengalaman apa nih belanja di Shopee? Cerita disini juga yuk :)



Senin, 03 Desember 2018

,



Selama 3 tahun ini, sejak menikah lebih tepatnya, hidupku nomaden. Jogja-Sidoarjo-Malang-dan balik Sidoarjo lagi. Penyebabnya ya karena kuliah dan kerja suami yang saat itu belum tetap. Karena hidup di tiga kota/kabupaten yang berbeda dalam waktu yang relatif cukup, aku jadi punya semacan love-hate relationship dengan ketiga kota dan kabupaten di atas.

Tapi kali ini aku ingin membagikan pengalamanku tinggal selama 3 tahun di Jogja.

Aku dan suami pertama kali datang bersama ke Jogja tahun 2014, setelah kami lulus dan kami sama-sama sedang mengikuti serangkaian tes untuk S2. Sebelum menikah, kami sama-sama ngekos. Suamiku tinggal di daerah Kedawung, di sekitar kampus selama kurang lebih 6 bulan. Sementara aku ngekos di Ring Road Utara dan setelah 3 bulan, aku pindah tinggal sendiri di kontrakan yang akan kami tinggali untuk hidup pasca menikah.


Jogja: Yes untuk Traveling, No untuk Living

Harga properti di Jogja terbilang cukup mahal. Tapi kalau cukup jeli, masih bisa kok dapat kontrakan cukup baik dan layak dengan harga 7-10 juta per tahun. Kontrakan pertama kami di depan Pasar Lempuyangan. Susah disebut sebagai kontrakan, lebih tepat disebut sebagai paviliun. Hanya dua kamar, satu kamar mandi, dapur, ruang sempit untuk menjemur baju, dan secara keseluruhan tidak terlalu luas. Tidak ada pagar. Tapi meski begitu, karena cukup tinggi, jadi tidak terlalu panas dan syukurlah daerah yang aku tinggali saat itu terbilang aman dan strategis.

Setelah setahun, kami pindah untuk mengontrak di daerah Sedan, tepat belakang Monjali. Kali ini kontrakan kami berbentuk rumah, berada di samping masjid dan lebih sepi. Rasanya menderita banget saat aku hamil, masih menggarap tesis sementara suami sudah kerja di Malang, nggak boleh nyetir motor sendirian, dan harus tinggal berdua dengan mbak rewang yang juga gak bisa naik motor!

Saat itu gojek belum masuk Jogja, jadi kemana-mana harus naik taksi yang juga susaaaah sekali di telepon. Inilah yang nggak aku suka dari Jogja, transportasi publiknya nggak asik!

Makanan di Jogja? Relatif murah, tapi dengan rasa yang standar jika aku bandingkan dengan cita rasa jawa timuran di Malang dengan harga yang serupa.

Aku juga kurang suka suasana di Jogja yang terbilang sungup atau agak temaram. Kalau malam-malam berkendara di Kota Jogja maupun di daerah Sleman, rasanya agak merinding-merinding gimanaaaa gitu. Hal ini dirasakan juga ama suamiku. Makanya secara keseluruhan, aku merasa kurang nyaman tinggal di kota ini.

Tapi, seperti makan coklat, selalu ada rasa manis yang terselip dibtengah rasa pahit. Selalu ada yang membuatku rindu dengan Jogja.


Cinta yang kami tanam di Jogja... membuat kami selalu ingin kembali ke sana.

Pertama, aku suka dengan atmosfer kreatifitas dan produktifitas masyarakatnya. Saat mengontrak di Sedan, sebagian besar tetanggaku adalah generasi X dan generasi zaman old lainnya. Tapi, semangatnya untuk berkarya dan bekerja luar biasa. Nggak ada ngeluh-ngeluh, energi positifnya sering aku jumpai saat kami shalat berjamaah di masjid depan rumah.

Suatu ketika, aku mampir di rumah bu RT (lupa namanya hiks) di malam hari dan rupanya beliau dan suaminya sedang membuat tempe berbentuk segitiga dan persegi panjang yang biasanya dibuat tempe mendoan. Mereka berdua bercakap-cakap dengan riang, sebuah kemesraan di hari tua yang sangat manis.

Sempat aku dan suami main ke daerah mBantul untuk mencari penjahit dan gawangan (display baju dan jilbab) yang bagus dan murah. Kalau penjahit, kebetulan aku sudah punya kontaknya. Kalau pengrajin, masya Allah, ketemu aja sih setelah muter-muter, hanya dengan modal bertanya sana sini. Sayang sekali aku sudah nggak menyimpan kartu nama si bapak. Bapak pengrajin ini dulunya sering mengekspor kerajinan bambu, namun karena pemimpinnya ganti, kebijakan ganti, rezekinya pun berganti. Hm.. sedih ya. Tapi walau begitu, si bapak nggak surut. Beliau tetap mengerjakan 1-2 pesanan dari warga lokal, termasuk aku.

Kedua, aku punya kesan tersendiri saat tinggal di paviliun di depan Pasar Lempuyangan. Paviliun kami jauh dari kata mewah, lha 10 juta per tahun di daerah kota pula. Tapi, tempatnya sangat strategis dan tetangga kami sangat ramah serta hangat. Dan pasar lempuyangan bener-bener ngangenin. Harganya yang murah abeess, jajanan yang serba ada, dan pilihan lauk-pauk sayur-mayur yang beragam. Mendadak aku jadi hobi masak dan suamiku jadi agak membengkak.

Ketiga, kesan saat kami pindah ke kontrakan di Sedan. Aku mengontrak di deretan rumah kontrakan milik seorang dosen FK UGM dan dokter. Beliau rupanya sangat selektif dalam menerima orang yang akan mengontrak. Alhamdulillah, beliau menerima kami, dengan harga 10 juta per tahun dan dengan kondisi rumah yang cukup baik.

Nama beliau adalah Bu Eti.

Bu Eti sempat bertanya kepadaku, apakah aku sudah hamil? Aku jawab, belum, Bu, mohon doanya hehe. Eh beliau menimpali, “biasanya yang ngontrak disini tuh cepet hamilnya. Mudah-mudahan ya mbak...”

Tiga bulan kemudian, aku positif hamil.

Keempat, aku punya daftar kuliner favorit di Jogja. Meskipun sebagian besar makanan Jogja terasa aneh di mulutku, tapi ada aja bakso dan mie ayam favorit di tamsis, sup merah di tamsis, nasi uduk palagan, onde-onde dan lupis di sepanjang jalan solo, daaan lain-lain. Kangen ngen ngen :’)

Kamu juga punya cerita tentang Jogja? Bagi disini boleh dong J






Minggu, 02 Desember 2018

,



Teman-teman kuliahku di S1 mungkin paham kalau aku adalah anak pantai banget. Saat S1, aku bersorak-sorak bergembira saat dinyatakan terpilih sebagai peserta Sail Belitong 2011. Setelah aktivitas selesai, aku baru sadar bahwa acara ini cukup bergengsi di kalangan pelajar dan pemuda di Indonesia. Saat itu yang aku pikirkan cuma: YESS JALAN-JALAN GRATIS! Aku nggak peduli harus bolos kuliah selama hampir sebulan, yang penting ketika orang tuaku mengizinkan, aku langsung berangkat berlayar ke beberapa pulau di Indonesia bagian barat menggunakan KRI Makassar.

Pulang-pulang, mukaku belang. Gosong semua. Tapi bahagia banget dan bodo amat. Toh gak lama muka balik lagi setelah perawatan haha.

Emang secinta itu sama pantai dan kehidupan di laut. Kalau diajak mendaki, kemungkinan besar aku menolak karena aku punya asma. Terus trekkingnya itu loh, emangnya ada yang mau nggendong aku? Jalan di daerah Bromo aja aku naik kuda!

Karena suka banget sama pantai, aku juga beli alat snorkeling dan berniat untuk membuat diving license. Tahun 2011-2013-an belum banyak institusi yang bisa ku gapai untuk menerbitkan diving lisence di daerah Malang. Ada semacam organisasi di FPIK UB yang mengadakan course sekaligus penerbitan diving license, tapi sampai aku lulus dan kuliah di Jogja pun belum ada kabar. Pas aku nikah baru mereka bikin agenda lagi. Yaelah gak jodoh deh.

Aku belum mengunjungi banyak pantai di Indonesia, baru sebagian kecil di daerah Jawa Timur, di Kepulauan Natuna, Batam, Belitung, Bangka, Bali, dan di Makassar. Aku masih punya banyaaak sekali wishlist pantai untuk didatangi. Tapi agak susah ku wujudkan, lebih tepatnya harus tertunda dulu, sejak aku menikah.

Berikut ini beberapa pantai di Indonesia yang masih menjadi destinasi impianku:

Karimunjawa

Saat kuliah aku sempat merencanakan untuk solo traveling ke Karimunjawa. Karimunjawa selalu menarik buatku karena yaa apalagi kalau bukan pantai-pantainya! Bahkan katanya ada pulau-pulau kecil yang nggak ada penduduknya, dan yang aku idam-idamkan adalah berenang bersama baby shark! Baby shark du..du..du..du baby shark!

Alasan gagalnya rencanaku ini karena aku nggak nemu temen jalan yang cocok dan nggak mudah rewel. Rencana ini juga gagal karena sebelum berangkat, aku sudah dipinang mas bojo hahaha.


Pink Beach

Setauku, pantai dengan pasir pink itu sangat jarang, cuma ada satu atau dua di dunia. Beruntung salah satunya ada di Indonesia! Pink beach ini di NTT dan kalau kesana berarti bisa sekalian liat komodo dan wisata lainnya.


Derawan

Ini impian banget nget nget. Selain pantainya yang cantik dan tenang, di derawan ada danau kakaban yang memiliki stingless jellyfish yang juga sangat jarang! Saat aku baca bukunya Trinity, stingless Jellyfish ini juga ada di Kepulauan Palau. Tapi aku masih ada peluang besar kesini, karena pacarnya sahabatku tinggal disini. Kalo mereka nikah, besar kemungkinan bakal di derawan dan itu artinya aku bisa sekalian nyemplung-nyemplung.

Sebetulnya masih buanyaak banget pantai-pantai cantik di Indonesia, bahkan yang tergolong hidden paradise. Tapi ketiga pantai di atas adalah wishlist sejak kuliah S1 dulu, dan masih jadi impian banget sampai sekarang.

Ada yang punya impian traveling ke pantai-pantai cantik di atas juga?

Pictures' source:
cover: Photo by Craig Lovelidge on Unsplash
Pink Beach : silversea.com
Derawan: hipwee.com
Karimunjawa: Tribunews

Sabtu, 01 Desember 2018

,

 
Hidup sehat sering dikaitkan dengan olahraga, makan makanan organik, tidur cukup, daaan sebagainya. Kalau indikatornya itu, aku tentu belum layak dan nggak bisa ngasih tips karena… aku masih jauh dari gaya hidup itu.

Olahraga? Jarang.
Tidur cukup? Apa itu, punya satu toddler dan satu bayi, mana bisa tidur cukup!
Makan makanan organik? Hem sebulan sekali juga belum tentu. Kalo indomie, baru deh seminggu sekali!

Terasa banget sih kalau aku ini kurang sehat. Kadang habis aktifitas sebentar, sudah lelahnya banget. Baru renang sebentar, sudah ngos-ngosan. Kalau ketemu tangga, aku juga naiknya selalu perlahan. Sepertinya ini akibat dari jarang olahraga dan kebanyakan makan karbo dan daging-dagingan, jadi badan terasa berat. Apalagi aku juga melahirkan secara SC yang membuat badanku terasa banget bedanya sebelum dan sesudah melahirkan. Kalau capek dikit, radang tenggorokanku sering kumat. Kalau kena pemicu alergi, penyakit alergi dan turunan langsung kambuh seperti flu karena debu dan batuk sesak.

Walaupun begitu, aku punya niat untuk hidup sehat kok hehehe meskipun terbilang receh. Misalnya, mulai mengurangi makanan yang mengandung pengawet dan banyak gula, selalu melihat komposisi makanan instan atau jajanan yang dimakan, mengurangi minum yang dingin-dingin, dan sebisa mungkin makan makanan rumahan. Kalau mengurangi indomie ama nasi padang agak susah deh, karena kalau pas di rumah gak ada makanan atau makanannya gak cocok, aku biasanya order nasi padang favorit, KFC, atau bikin indomie.


Buat buibu yang kayak aku, masih tanggung banget untuk hidup sehat secara ideal, monggo kalau mau mengikuti tips hidup sehat ala aku, seorang ibu menyusui yang sebetulnya yaa nggak sehat-sehat banget sih! 

Minum air putih yang cukup. Banyakin malah bagus. Kalau air putih kurang, aku biasanya agak pusing dan tenggorokan rasanya kering. Kalo pas pipis kan terlihat ya air kencingnya berwarna apa. Nah kalau udah kuning pekat, itu tanda kalo kita harus banget segera menambah asupan air minum.

Makan buah. Sebagai seorang karnivor sejati, buatku susyaah sekali untuk mengurangi daging-dagingan. Buat penyeinbang, biasanya aku tambahin asupan sayur, ngemil timun, dan makan buah.

Kurangi makanan bersantan. Hm.. lemaknya kimpul-kimpul tuh kalo di makanan yang bersantan. Untung aku gak begitu suka makanan bersantan selain yang aku beli di nasi padang. Kalo masak sendiri, aku juga jarang banget pake santan, kecuali ya kalo bikin lodeh atau masakan yang memang seharusnya bersantan. Kalaupun makan santan, usahain banget dihabiskan di satu hari itu. Makin dihangatkan, makin banyak lemak jahatnya :(((

Makan indomie pake pelengkap. Misalnya telur, sayur, dan yang penting jangan pake nasi ya!

Hirup udara pagi dan stretching. Meskipun aku jaraang sekali olahraga, aku usahakan setiap pagi aku stretching, meregangkan otot, dan menghirup udara pagi sambil gendong-gendong bayi. Lumayan lah bikin pikiran segar juga.

Jaga jam tidur. Jam tidur yang singkat, ditambah gaya hidup yang kurang sehat, tentu bisa berpotensi bikin kita makin mudah sakit ya. Oiya, pake oil-oilan yang sekarang ngetren itu bisa efektif membantu meningkatkan kualitas tidur juga.

Hindari asap rokok dan perokok. Bersyukur bangeeet suami dan ayahku nggak merokok. Juga aku sebisa mungkin menghindari asap rokok di rumah. Kalau ada saudara yang perokok datang, pasti sudah aku warning duluan agar tidak menyalakan batang rokoknya di rumahku. Kalau mau merokok entar ajalah kalo udah pulang.

Positif thinking dan stay happy. Sebagai Seorang yang pernah punya dan sedang berjuang menangani masalah kesehatan mental, buatku bahagia dan menjalani hidup dengan penuh energi positif dan kesyukuran itu penting buanget. Sekali pemicu stres datang, itu pikiranku bisa mudah kesenggol dan harus segera aku kontrol. Jadi lebih baik kan kita hindari aja pemicunya ya..

Semoga tips sehat receh ini bermanfaat buuu :)


Jumat, 30 November 2018

,



Aku dulu mengira orang gemar mengoleksi sesuatu karena suka pada benda tersebut. Itu aja. Makin dewasa aku tau bahwa mengoleksi itu ternyata butuh biaya, tenaga dan kemauan.

Jadilah aku ndak pernah dengan serius mengoleksi apa-apa, karena aku memang jarang sekali sesuka itu ama sesuatu. Suka Coldplay tapi aku gak ngoleksi albumnya juga. Suka pake tas ransel, tapi ya cukup beberapa aja.

Satu-satunya benda dalam jumlah banyak yang ada di rumah ya cuma buku.

Nah, pas lagi keinget buku ini aku jadi inget kalau aku pernah mencoba mengoleksi komik Detective Conan. Mencoba aja lho ya, karena tetep deh nggak bisa istiqomah mengoleksi hehe.

Ada buibu yang sudah punya anak tapi masih suka membaca komik Detective Conan kayak aku?



Perkenalanku dengan komik Detective Conan sudah cukup lama, sejak aku SD sekitar kelas 4. Saat itu aku biasa menonton kartun Conan di Indosiar (agak lupa nih) setiap hari Minggu ya kalau nggak salah. Kemudian ada temen SDku namanya Nindra yang bawa komik Detective Conan cukup banyak, sehingga temen-temenku di kelas bergantian membaca. Aku akhirnya ikutan pinjam dan aku baca mulai episode 1 yang Shinichi Kudo diberi APTX 4869. Wah, aku langsung jatuh cinta!

Pertama, ceritanya sangat menarik dan terus mengundang rasa penasaran. Terbukti kan sampai sekarang komik Detective Conan masih eksis, aku juga terakhir membaca di website manga-manga yang bertebaran di Google, sudah sampai episode 1021 dan sudah hampir menguak siapa orang nomor 2 dan nomor 1 “organisasi hitam” itu.

Kedua, gambarnya proporsional dan tokohnya terlihat ganteng-ganteng hahaha. Sampe-sampe menurutku tokoh animasi sama tokoh Detective Conan real life yang bisa dilihat di YouTube, jauh lebih ganteng yang animasi. Yang real life mah biasa wae~

Ketiga, karena si Aoyama Gosho ini terinspirasi ama Sherlock Holmes, ceritanya jadi mirip-mirip Sherlock Holmes gitu. Nggak boring, penuh wawasan, plot dan kasusnya pun beragam. Mulai dari kasus receh kayak memecahkan kasus ala kelompok detective cilik sampai kasus pembunuhan sadis. Tapi favoritku tentu saja yang melibatkan organisasi hitam seperti Amuro, Vermouth, Gin, Vodka, Kir, dan Rum, juga anggota FBI bu guru Jodie, Akai Shuichi, dan Camel. Nggak ketinggalan episode favoritku juga kalau ada si pesulap fenomenal Kaito Kid!

Keempat, ceritanya kerap menghibur dan bikin ketawa. Kadang juga tiba-tiba aja horor dan terkesan ada makhluk ghaibnya, tapi ternyata bisa dijelaskan secara rasional. Kadang ada sesi romantis dan nakal, kayak waktu si Conan diajak mandi bareng ama Ran. Mana Ran tau kalo itu Kudoooo..

Kelima, setting lokasinya terlihat nyata. Apalagj kalau di movie, mereka selalu mengambil landmark atau lokasi-lokasi tertentu yang kemudian di akhir film ditunjukkan foto asli lokasinya. Buatku ini daya tarik tersendiri, semacam menunjukkan kebanggaan dan kearifan lokal di Jepang. Selain itu sering juga ada budaya-budaya lokal yang diperlihatkan. Sangat menarik!

Sejak aku bisa mengakses movie dan komiknya di Google, aku mulai jarang beli komik fisiknya. Soalnya makin mahal ya, aku ngikutin sejak harga komiknya 8.500 sampe sekarang jadi sekitar 25 ribuan di Gramedia. Selain itu cerita di komiknya udah tertinggal jauuuuhh dibanding di manga hehe.

Kalo buibu pada suka koleksi apa nih? Share di kolom komen yuk


Follow me @nabilladp