Parenting blogger | Travel blogger | Lifestyle blogger

Juli 18, 2018

Mindful Parenting: Kunci Sukses Penyelenggaraan Pendidikan di Era Digital

by , in

pola pengasuhan anak, pelibatan keluarga dalam penyelenggaraan pendidikan di era kekinian, mengasuh berkesadaran, mindful parenting, mindful parenting adalah

Generation Gap atau yang dalam Bahasa Indonesia dapat diterjemahkan sebagai kesenjangan antar generasi, kerap menjadi persoalan dasar dalam mendidik anak. Adanya perbedaan yang kerap menjadi “jurang pemisah” atau jarak antara orang tua dengan anak bisa terjadi di berbagai aspek, seperti teknologi, kebiasaan, komunikasi, kreativitas, sistem pendidikan, prinsip, dan lain sebagainya. Orang tua perlu menyadari dan memahami adanya perbedaan ini agar jarak semakin dekat dan komunikasi dengan anak pun bisa berjalan dengan lancar dan pendidikan di dalam keluarga pun dapat berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip kebaikan yang dianut oleh keluarga.

Generation gap ini bisa terjadi karena beberapa sebab. Pertama, adanya perbedaan klasifikasi generasi. Terdapat beberapa klasifikasi generasi, pertama Generasi Baby Boom (1943 - 1960), Generasi X (1961 - 1981), Generasi Y atau biasa disebut sebagai Generasi Millennials (1982 - 1994), Generasi X atau homelanders (1995 - 2010), dan Generasi Alpha (2011 - sekarang). Diantara para generasi di atas, yang termasuk digital native adalah Generasi Y, Z, dan Alpha, sebab ketiga generasi ini lahir dan besar di era teknologi dan internet yang tumbuh pesat, meskipun dengan arus yang berbeda. Generasi digital native ini sangat cepat dalam menyerap teknologi terbaru. Hal ini dapat kita lihat dari sebuah riset oleh We Are Social dan Hootsuite yang menunjukkan pengguna Facebook yang didominasi oleh usia generasi Y, Z, dan Alpha. Tahun 2017, APJII juga mengeluarkan data bahwa anak-anak usia 13-18 tahun memiliki penetrasi paling tinggi dalam penggunaan internet.
pola pengasuhan anak, pelibatan keluarga dalam penyelenggaraan pendidikan di era kekinian, mengasuh berkesadaran, mindful parenting, mindful parenting adalah

pola pengasuhan anak, pelibatan keluarga dalam penyelenggaraan pendidikan di era kekinian, mengasuh berkesadaran, mindful parenting, mindful parenting adalah

Menurut data terbaru, setidaknya 30 juta anak-anak dan remaja di Indonesia merupakan pengguna internet dan media digital saat ini menjadi pilihan utama saluran komunikasi yang mereka gunakan. Terdapat studi yang YKBH yang menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja memiliki tiga motivasi utama untuk mengakses internet: untuk kegiatan belajar, bermain games, dan menonton film atau video.

pola pengasuhan anak, pelibatan keluarga dalam penyelenggaraan pendidikan di era kekinian, mengasuh berkesadaran, mindful parenting, mindful parenting adalah


Semakin kesini, gap antara orang tua dan anak akan semakin jauh akibat berkembangnya teknologi dan daya serap tinggi anak-anak terhadap internet. Dalam kondisi ini kita patut bertanya pada diri sendiri, siapa yang lebih dekat dengan anak, kita sebagai orang tua atau smartphone yang digenggam mereka?

Kita tentu bisa melihat bahaya yang nyata apabila sebuah mesin bernama smartphone menjadi sahabat anak. Sekarang saja, sudah banyak anak dan remaja yang memberikan data-data pribadi, terpapar pornografi, dan terpengaruh dengan konten-konten yang tersebar di media sosial. Tanpa kehadiran nyata dalam pengasuhan dan keterlibatan kita sebagai orang tua, anak-anak kita akan mudah hilang arah.


Mengenal Mindful Parenting

Indonesia memiliki 5 macam pola pengasuhan yang cukup populer. Pertama, pola pengasuhan otoriter yang ditunjukkan dengan perilaku orang tua yang cenderung memiliki kekuasaan penuh terhadap anak, menuntut, mendikte, kaku, dan keras. Kedua, pola pengasuhan otoritatif, yakni perilaku orang tua yang mengontrol dan menuntut tetapi dengan sikap yang hangat, komunikasi dua arah dilakukan secara rasional dan positif. Ketiga, pola pengasuhan permisif, yakni cara orang tua memperlakukan anak sesuai dengan kemauannya. Keempat, pola pengasuhan penelantar, yakni sikap yang ditunjukkan dengan perilaku orang tua yang kerap mengabaikan anak, baik secara fisik maupun psikis. Kelima, pola pengasuhan positif, yakni perlakuan orang tua kepada anak yang cenderung memberi semangat, reasonable, perhatian, pola yang rileks, tanggung jawab, dan berdampak baik pada perkembangan anak. Keenam, pola pengasuhan negatif yang dapat dikenali melalui ucapan dan tindakan orang tua yang terlalu mengkritik, terlalu memproteksi, tidak terlibat, dan cenderung berdampak buruk pada kepribadian anak.

Selain kelima pola pengasuhan di atas, sekarang mulai dikenal pola pengasuhan baru bernama Mindful Parenting atau yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai Mengasuh Berkesadaran. Salah satu bahan bacaan mengenai Mindful Parenting ini bisa didapatkan melalui e-book dari laman Sahabat Keluarga Kemdikbud. Sahabat keluarga Kemdikbud telah menyarikan konsep Mindful Parenting dari studi literatur Timur dan Barat dan dengan pendekatan budaya nusantara.

Mindful Parenting Berasal dari kata Mindful yang berarti sepenuhnya hadir atau sadar yang mengacu pada orang yang selalu menjaga kesadarannya dari pikiran, ucapan, dan semua perilaku yang kurang pantas. Sementara Parenting dapat diartikan sebagai pola mengasuh, yaitu cara orang tua mengasuh anak-anaknya agar tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang unggul. Dengan demikian, Mindful Parenting atau Mengasuh Berkesadaran adalah sikap, ucapan, perilaku serta penampilan orang tua yang mengedepankan kesadaran dalam mengasuh buah hati mereka.

Konsep Mindful Parenting ini terbilang baru dan bahkan cukup unik bagi masyarakat Indonesia yang terbiasa menjalankan pola pengasuhan berdasarkan pola yang telah diwariskan turun temurun dalam keluarga. Meski demikian, rupanya Mindful Parenting rupanya sudah banyak diteliti oleh berbagai peneliti di luar negeri dan telah dikenal sejak awal tahun 2000-an.

Pola pengasuhan berkesadaran atau Mindful Parenting adalah salah satu metode yang disarankan untuk membangun hubungan yang aman antara orang tua dan anak (Siegel dan Hartzell, 2003). Konsep Mindful Parenting di Indonesia ini mencakup lima dimensi yang relevan dalam inter dan antar keluarga yang terdiri dari:
1. mendengarkan dengan penuh perhatian, berbicara dengan empati
2. pemahaman dan penerimaan untuk tidak menghakimi
3. pengaturan emosi atau kecerdasan emosional
4. pola asuh yang bijaksana dan tidak berlebihan
5. welas asih untuk diri sendiri dan anak.

Kelima dimensi Mindful Parenting yang telah dikemas sesuai dengan kondisi sosial budaya di Indonesia ini dapat diterapkan untuk berbagai fase, mulai dari bayi hingga ketika anak menapaki jenjang perguruan tinggi.


Lima Dimensi Mindful Parenting

Konsep Mindful Parenting ini memiliki 5 (lima) dimensi. Masing-masing dimensi ini apabila dapat diterapkan dengan baik oleh keluarga dapat memengaruhi kesuksesan penyelenggaraan pendidikan di era digital.

Pertama, mendengarkan dengan penuh perhatian dan berbicara dengan empati.
Dimensi pertama dari Mengasuh Berkesadaran adalah mengedepankan bagaimana orang tua mampu memadukan pendengaran dan perhatian yang penuh serta benar-benar hadir untuk anak. Kesadaran dan kehadiran ini menjadi poin penting, tidak peduli apakah status orang tua adalah pekerja di rumah maupun pekerja kantoran, prinsipnya adalah hadir ketika momen bersama anak itu datang. Hadir sepenuhnya berarti orang tua harus siap menanggalkan segala urusan kantor di rumah, mematikan smartphone sejenak untuk berbincang penuh perhatian dengan anak, sehingga anak pun akan merasa kehadiran penuh orang tua untuk mereka. Cara ini dapat diterapkan orang tua mulai dari saat anak berada di fase bayi hingga perguruan tinggi. Orang tua yang mempraktikkan konsep mendengar dan berbicara secara berkesadaran akan lebih sensitif terhadap isi percakapan, lebih memahami serta mampu mendeteksi kebutuhan anak. Orang tua, dengan sendirinya, akan mampu menangkap makna tersembunyi dibalik kalimat-kalimat yang diucapkan si anak.
  
Kedua, pemahaman dan penerimaan diri serta tidak menghakimi anak.
Anak sering memiliki persepsi atas penilaian dan kompetensi yang sangat tergantung pada apa yang ada di benak orang tua. Penilaian orang tua ini memiliki pengaruh yang besar pada harapan, nilai, dan perilaku anak. Misalnya saja, labeling bahwa anak ini nakal, padahal sesungguhnya ia hanya memiliki keingintahuan tinggi dan perlu diarahkan. Atau kecenderungan orang tua untuk memaksakan impian masa lalu mereka pada anak-anak.

Sikap ini sangat perlu dihindari. Orang tua perlu menerima bahwa anak bukanlah potret dirinya semasa kecil. Anak memiliki kemauan, potensi, dan impian yang berbeda dari orang tua. Apabila orang tua mampu menghindari penghakiman ini, orang tua akan mampu menerima gagasan cemerlang yang masuk dari anak, lebih mudah menyesuaikan pola asuh, serta menerapkan standar yang diinginkan bersama-sama dengan anak. Dengan begini, terciptalah win-win solution antara orang tua dan anak, terbangun komunikasi yang baik, dan bisa jadi di masa depan, orang tua menjadi figur panutan bagi anak.

Ketiga, pengaturan emosi diri dan anak.
Untuk dapat menerapkan proses mendengar dengan penuh perhatian dan sikap tanpa menghakimi, orang tua perlu memahami emosi diri dan emosi anaknya. Hal ini dikarenakan pengalaman negatif dan positif orang tua dapat memengaruhi perilaku parenting. Bahkan dapat dikatakan, semua aspek parenting dipengaruhi oleh keterlibatan serta persepsi dari orang tua.

Orang tua yang mampu mengidentifikasi emosi diri dan anaknya akan mampu lebih sadar dalam berinteraksi, serta mampu membuat beragam pilihan secara sadar bagaimana harus merespon anak. Kematangan emosi orang tua akan berpengaruh sangat kuat kepada kematangan emosional anak di masa depan. Sebagai contoh, banyak sekali anak-anak yang sangat acuh, tidak toleran, dan tidak memiliki empati. Salah satu sebabnya adalah karena ia tumbuh di tengah keluarga yang tidak mampu mengembangkan kecerdasan dan kematangan emosional.

Keempat, pengaturan atau pengendalian diri yang bijaksana dalam hubungan parenting.
Mengasuh Berkesadaran membangun praktik-praktik parenting seperti mengajarkan anak bagaimana mengekspresikan diri, berbicara tentang perasaannya, melabel keadaan, hingga pada gilirannya mampu membangun kemampuan anak dalam pengendalian diri. Pengaturan dan pengendalian diri pada dasarnya adalah proses dimana orang tua tidak menunjukkan fluktuasi yang berlebihan terhadap perilaku anak. Misalnya, terlalu menyanjung, mengelu-elukan prestasi anak, atau bahkan terlalu menghakimi, memandang remeh, dan mennyepelekan anak. Kedua kubu ekstrim ini harus dihindari, agar anak terhindar juga dari sifat angkuh, minder, atau merasa tidak mampu.

Kelima, welas asih untuk diri sendiri dan anak.
Welas asih merupakan bentuk rasa kemanusiaan pada umumya. Orang tua yang menerapkan prinsip dan sikap welas asih, memungkinkan mereka untuk mengambil sikap lebih lemah lembut dan lebih pemaaf dalam pola asuhnya. Welas asih dalam “Mengasuh Berkesadaran” mampu menghindarkan diri dari menyalahkan diri ketika tujuan orang tua tidak tercapai, melahirkan anak-anak yang peduli sesama, serta memberi warisan yang baik kepada anak agar bisa membuat dunia lebih nyaman dan lebih pantas untuk ditempati.

Di Indonesia konsep “Mengasuh Berkesadaran” ini tidak bisa hanya diterapkan oleh orang tua saja. Meskipun orang tua berada di lingkaran terdalam atau inner circle, terdapat unsur-unsur lain dalam pendidikan keluarga yang memengaruhi kesuksesan Mindful Parenting. Selain orang tua dan anak, ada unsur lain seperti, kakek nenek, keluarga besar, asisten rumah tangga, teman-teman anak, tetangga, dan lingkungan. Apalagi kondisi di Indonesia yang sangat guyub ini, tidak dapat dipungkiri bahwa interaksi dengan semua komponen ini dapat membantu pembentukan watak, karakter, dan sifat anak di kemudian hari.
pola pengasuhan anak, pelibatan keluarga dalam penyelenggaraan pendidikan di era kekinian, mengasuh berkesadaran, mindful parenting, mindful parenting adalah



Mindful Parenting sebagai Kunci Utama Kesuksesan Penyelenggaraan Pendidikan di Era Digital

Pilihan untuk “membentuk” anak dengan cara apa dan bagaimana ini tentu saja berada di tangan orang tua, apakah mau anaknya membawa manfaat atau kerugian. Memilih pola asuh dengan konsep Mindful Parenting ataupun pola asuh yang negatif, sebetulnya sama-sama mengeluarkan energi. Mengapa kita tidak berinvestasi pada energi yang baik saja?

Apalagi di zaman sekarang, perilaku dan pola pikir anak sangat mudah dipengaruhi oleh perkembangan era digital. Era digital seperti pisau bermata dua, jika tidak berhati-hati, bisa-bisa kita sendiri yang terluka. Penting bagi para orang tua untuk tidak terlalu permisif terhadap anak dalam berinteraksi dengan dunia digital. Dunia digital, kehadiran smartphone, dan internet cepat tidak bisa kita hindari serta tidak bisa pula kita salahkan. Poin yang terpenting adalah bagaimana menyiapkan anak-anak dengan cara terbuka dan terpercaya. Seringnya menggunakan internet membuat anak-anak yang masih memiliki pemikiran serta filter yang belum sepenuhnya terbangun, bisa menyebabkan mereka mendapat ancaman, seperti: kesehatan mata anak, masalah tidur, kesulitan konsentrasi, menurunnya prestasi dan kemauan belajar anak, menghambat perkembangan fisik, perkembangan sosial, terganggunya perkembangan otak, serta resiko tertundanya perkembangan bahasa anak khususnya untuk anak di bawah 2 tahun yang sudah terpapar internet.

Oleh karenanya penting sekali bagi kita sekalu orang tua untuk mengoreksi pola asuh. Sudah tidak bisa lagi kita terpaku pada pola pengasuhan zaman dulu yang diwariskan secara turun-temurun dari orang tua atau kakek nenek kita. Perlu adanya pendekatan yang lebih intim, pengasuhan yang tebih terlibat serta memasukkan kesadaran dalam tiap perilaku dan ucapan kita ke anak. Ingat satu pepatah lama: children see, children do. Anak melihat dan anak melakukan. Pola pengasuhan yang tepat di keluarga dan bisa menjadi kunci bagi pendidikan anak di Era digital ini adalah dengan Mengasuh Berkesadaran. Pola pengasuhan ini dapat menjadi kunci pelibatan keluarga dalam menyukseskan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia.

Tanpa melakukan proses parenting dengan penuh kesadaran, perbedaan generasi, prinsip, dan pandangan antara orang tua dan anak dapat memperbesar konflik dan jurang pemisah. Dengan memahami dunia anak, orang tua akan mampu mengarahkan anak dengan cara yang baik pula. Misalnya saja, ketika berhadapan dengan era digital, orang tua bisa melakukan pendampingan saat anak bermain gadget. Selain itu, orang tua juga perlu mengenalkan kepada anak mengenai manfaat-manfaat internet seperti internet dapat menjadi alternatif baru untuk (i) mencari informasi, (ii) belajar berbagai bahasa dengan mudah, (iii) belajar berbagai mata pelajaran, (iv) berkarya lebih kreatif, (v) berkomunikasi, (vi) berbisnis, (vii) menyalurkan hobi seperti desain, menulis, dan fotografi, (viii) bermain dan mencari hiburan, (ix) menjelajahi dunia, dan lain-lain.

Dengan menerapkan konsep Mindful Parenting atau Mengasuh Berkesadaran, kita dapat membantu anak kita untuk terhindar dari efek negatif dunia digital berupa kecanduan, keterbukaan privasi anak, pornografi, perdagangan anak, pelecehan seksual, cyber bullying, dan lain-lain. Selain itu terdapat pula sejumlah manfaat yang bisa kita panen dari menerapkan Mengasuh Berkesadaran yakni:
1. Anak memiliki perilaku yang lebih positif. Temuan ini telah diteliti di University of Vermount yang menyurvei lebih dari 600 orang tua anak-anak usia 3 sampai 17 tahun dalam menerapkan pola pengasuhannya. Hasilnya menunjukkan bahwa orang tua yang melakukan pola pengasuhan secara sadar atau terlibat dan dengan membawa nilai-nilai positif, berhubungan pada perilaku anak-anak mereka yang juga lebih positif, peduli, dan tidak mudah stres. Manfaat ini dapat membantu kita untuk menghindarkan anak dari resiko kecanduan gadget dan internet untuk sesuatu yang negatif.

2. Mengasuh berkesadaran membuat orang tua tetap terhubung dengan tujuan pengasuhan mereka, bahkan bisa jadi lebih baik sebab orang tua mampu mengakomodir kemauan, pendapat, serta gagasan anak. Bukan tidak mungkin jika satu keluarga bisa memiliki sebuah project yang memiliki pengaruh yang lebih luas karena kekompakan pola pengasuhan dari keluarga.

3. Mengasuh Berkesadaran yang diterapkan sejak usia dini, sangat membantu anak untuk mengembangkan middle prefrontal cortex atau korteks prefrontal tengah, sebuah bagian otak yang mengatur tubuh, meningkatkan komunikasi yang selaras, memperkuat “tombol jeda”, menciptakan keseimbangan emosional, menenangkan ketakutan, dan mendorong empati, intuisi, serta moralitas.

4. Mengasuh berkesadaran mampu mereduksi tingkat stres di sisi orang tua dan anak. Ketika ada problem, orang tua akan lebih terbiasa mencari solusi dengan cara yang baik, bukan dengan cara instan dan penuh intimidasi.

5. Mengasuh berkesadaran membantu anak untuk lebih prestatif, serta lebih sehat secara mental dan fisik.

Jadi gimana bunda, sudah siap menerapkan mindfull parenting di era digital ini?

Juli 17, 2018

Body Mist yang Aman untuk Ibu Hamil

by , in

parfum aman untuk bumil, parfum untuk bumil, mango the body shop, body mist untuk ibu hamil, wangi parfum yang segar untuk ibu hamil, review body mist mango the body shop, parfum aman untuk ibu hamil

Beberapa kali aku sempat ditanya oleh ibu-ibu bekerja yang lagi hamil. Kebanyakan pertanyaannya adalah seputar pakai lipstik apa? shampoo apa? sabun apa? bedak apa? dan lain sebagainya.

Well, aku bukan tipikal orang yang sangat membatasi pemakaian shampoo, sabun, pembersih wajah, maupun lipstik yang bisa kita beli secara bebas saat hamil. Kalau harus selalu organik, ehe, budget-ku juga mepet euy. Jadi untuk shampoo, deodorant, lotion, sabun, pembersih wajah, aku tetap beli di supermarket seperti biasa. Asalkan brand nya jelas, komposisinya gak mencurigakan, dan terdaftar di BPOM. Buatku itu sudah cukup, karena penggunaan kosmetik ini kan topikal atau di area tertentu saja, dan tidak diminum. Selain itu, kalau brand nya jelas misalnya ada label halal atau animal cruelty free, itu juga sudah cukup meyakinkan buatku. Untungnya aku bukan tipikal beauty junkies yang doyan konsumsi make up tak dikenal dan ber-paraben atau dengan bahan-bahan berbahaya lainnya.

Yang pasti, selama hamil aku nge-cut penggunaan skin care dari dokter. Saat Mahira berusia 18 bulan, aku sempet datengin klinik kecantikan lagi gegara jerawatku gak nahan tumbuh sana sini men-jerawat-buta! Eeeh beberapa bulan kemudian, aku hamil lagi. Yaweslah, stop dulu.

Tapi ada satu hal yang aku sensitif banget kalau lagi hamil: bau wewangian. Aku yang biasanya pakai Vanilla The Body Shop jadi males banget nyium bau wangi itu. Juga bau parfum yang lain. Rasanya, gak ada bau wewangian yang cocok dengan hidungku saat hamil, jadi akupun males juga mau cari-cari parfum. Jadi aku nyaris gak pernah pakai parfum apapun kalau hamil. Paling cuma semprot Trik* atau apa sih, yang biasanya buat nyetrika itu? Ya itu lah pokoknya.

Nah, jadi repot banget kalau lagi banyak agenda di luar truuusss masa iya gak pake wewangian apapun?? Masa iya mau bawa semprotan setrika kemanapun??

Akhirnya aku mulai perburuan wewangian lagi dah. Sesuai kebutuhan saja: wanginya lebih ringan dan segar dan sesuai budget. Pilihanku nggak jauh dari brand pertama: The Body Shop.

Body Mist Untuk Ibu Hamil: Mango The Body Shop

Awalnya sama mbak-mbak TBS ditawarin yang White Musk dan yes, aku nggak suka baunya. Sekali lagi, entahlah hormon hamil ini kadang-kadang emang terlalu. Aku putuskan untuk cari sendiri aja dan nyobain body mist yang punya extract buah-buahan segar. Sebelumnya aku pernah juga cobain (punya orang) yang Strawberry, dari The Body Shop juga, tapi hm.. kok sekarang rasanya terlalu kecut ya? Dulu kayaknya baunya kayak permen gitu, maniss.
 
parfum aman untuk bumil, parfum untuk bumil, mango the body shop, body mist untuk ibu hamil, wangi parfum yang segar untuk ibu hamil, review body mist mango the body shop, parfum aman untuk ibu hamil
Source: BukaLapak
Begitu lihat ada yang Mango, aku langsung semprot dan mataku berbinar kayak bayi! Ini seger buanget! Aroma mangganya tercium dengan pas, manis, segar, dan yang paling penting aku nggak ngerasa mual atau apapun. Justru rasanya pengen semprotin terus. Menurutku, tingkat segernya di atas yang Strawberry. Nggak nyegrak di hidung. Aromanya sangat friendly.

Kalau kata The Body Shop, ini penjelasan tentang Mango Body Mist:

The Body Shop Mango Body Mist adalah body mist vegan dengan aroma kesegaran mangga yang eksotis dan menarik. Diperkaya dengan kandungan ekstrak mangga dan Community Fair Trade organic alcohol dari Ekuador.

How To Use:
Semprotkan pada tubuh setelah mandi. Dapat digunakan kapan saja saat dibutuhkan

Suitable For:
Semua jenis kulit

Ingredients:
Alcohol Denat. (Solvent/Diluent), Water (Solvent/Diluent), Fragrance (Fragrance), Limonene (Fragrance Ingredient), Mangifera Indica (Mango) Juice (Natural Additive), Linalool (Fragrance Ingredient), Glycerin (Humectant), Citronellol (Fragrance Ingredient), Benzyl Alcohol (Preservative), Citral (Fragrance Ingredient), Geraniol (Fragrance Ingredient), Denatonium Benzoate (Denaturant), Potassium Sorbate (Preservative), Sodium Dehydroacetate (Preservative).
parfum aman untuk bumil, parfum untuk bumil, mango the body shop, body mist untuk ibu hamil, wangi parfum yang segar untuk ibu hamil, review body mist mango the body shop, parfum aman untuk ibu hamil
Source: The Body Shop

Salah satu yang menjadi unggulan adalah The Body Shop punya value yang kuat. Dia menjamin produknya animal cruelty free dan menggunakan berbagai bahan organik. Coba lihat penjelasannya di website ini. Dengan value tersebut dan dengan bahan-bahan vegan, aku cukup yakin dengan keamanan produk ini untuk ibu hamil. Harganya juga terjangkau. Ini sekitar 149.000 rupiah. Di online shop bisa saja lebih murah, tapi entah ori atau endak yes.

Hanya saja kekurangannya, setidaknya di tubuh aku, adalah kurang tahan lama. Yaiyalah namanya juga Body Mist 😂 Memang aku sengaja pilih Body Mist karena dia lebih ringan dari EDT, tapi katanyaaa bisa tahan lama juga. Rupanya endak, ya relatif 1-2 jam saja. Kalau mau lebih tahan lama, semprotnya di baju gitu. Kalau di kulit, ketahanannya ya standar.

Gitu deh review singkatnya. Moga aja membantu bumil yang punya sensitifitas terhadap wewangian macam aku gini ya 😊😗


Juli 17, 2018

Panduan Sukses Menyusui

by , in

cara sukses menyusui, agar sukses menyusui, tips sukses menyusui, sukses menyusui, pelekatan yang baik, pelekatan yang benar, posisi menyusui bayi, posisi menyusui yang benar, posisi menyusui newborn, posisi menyusui yang nyaman, posisi menyusui untuk payudara besar, 10 sukses menyusui WHO, tips sukses ASI, indikator sukses menyusui, panduan sukses menyusui


Semua ibu menyusui, paling tidak, pasti punya ataupun menyimpan satu pertanyaan ini dalam hati: gimana ya agar aku sukses menyusui?

Umumnya, ibu-ibu yang bertanya-tanya seperti itu, baik tanya untuk dirinya sendiri ataupun tanya ke teman, tanya akun instagram tertentu, maupun tanya ke dokter atau konselor, adalah ibu-ibu yang kesusahan menyusui atau ada masalah tertentu dalam proses menyusuinya. Pertama, yang perlu diketahui dulu, apa sih indikator sukses menyusui? Kebanyakan akan mengatakan bahwa ASI cukup dan perkembangan bayi sesuai dengan berat badan yang dianjurkan. ASI cukup dapat terlihat dari seberapa sering pipis dan warna pup-nya si baby. Bayi memang mudah lapar sebab ASI memang sangat mudah diserap oleh pencernaanya. Jadi kesannya kadang “nggak kenyang-kenyang”. Apalagi kalau growth spurts. Yang begini ini kalau kata orang zaman dulu, bakal langsung dibilang, “duh itu bayinya laper, kasih sufor aja biar kenyang, atau kasih pisang deh!” Wahahaha kalimat ini pengalaman pribadi btw.

Sufor cenderung susah dicerna oleh pencernaan bayi yang baru lahir (dan bahkan ada juga yang susah sampai 6 bulan ke atas) oleh karenanya dia membuat bayi lebih cepat kenyang dalam waktu yang lebih lama ketimbang bayi yang mengonsumsi ASI.

Kemudian, pertumbuhan bayi sesuai dengan berat badan yang dianjurkan bisa dilihat saat kontrol rutin ke dokter anak. Kalau kita merasa dedek mimiknya udah banter, tapi kok berat badan nggak naik banyak? Mungkin karena beberapa sebab, tongue tie (bisa dilihat di halaman ini), pelekatan tidak sempurna, atau karena bayi terlalu banyak minum foremilk ketimbang hindmilk (penjelasan di halaman ini). Nah mengenai hal ini, kita simpan dulu ya. Nanti dibahas di bawah.

Pertanyaan kedua setelah tau apa itu sukses menyusui adalah: bagaimana agar kita sukses menyusui?

10 Panduan Sukses Menyusui dari WHO dan UNICEF 

Panduan ini normatif dan ideal banget ya. Pada praktiknya, banyak ibu menyusui yang menyimpang sedikit dari panduan ini tapi tetap bisa sukses menyusui. Memang akan berbeda di tiap ibu, tetapi yang namanya panduan selalu menjadi hal yang diperlukan agar kita tidak “hilang arah” selama proses menyusui.

Tahun-tahun sebelumnya, WHO sudah mengeluarkan panduan sukses menyusui. Tapi baru aja diperbaharui di tahun 2018 (dokumen lengkap klik link ini) yang isinya:

"WHO dan UNICEF meluncurkan Baby-friendly Hospital Initiative (BFHI) untuk membantu memotivasi fasilitas yang menyediakan layanan maternitas dan bayi baru lahir di seluruh dunia untuk menerapkan Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui. Sepuluh Langkah merangkum paket kebijakan dan prosedur bahwa fasilitas yang menyediakan layanan kehamilan dan bayi baru lahir harus diterapkan untuk mendukung pemberian ASI. WHO telah meminta semua fasilitas yang menyediakan layanan maternitas dan baru lahir di seluruh dunia untuk menerapkan Sepuluh Langkah ini.."

Catatan: terlihat bahwa WHO dan UNICEF menekankan bahwa PENTING bagi rumah sakit ataupun bidan untuk menyediakan lingkungan yang baby-friendly dan menyediakan layanan maternitas yang baik agar “sukses menyusui” bisa tercapai.

Sebagai konsumen, PENTING juga bagi kita untuk memilah dan memilih tempat lahiran. Karena as we know, zaman now tidak semua penyedia layanan kesehatan itu pro dengan hal-hal yang seperti ini.

“...Panduan implementasi untuk BFHI menekankan strategi untuk meningkatkan cakupan universal dan memastikan keberlanjutan dari waktu ke waktu. Panduan ini berfokus pada pengintegrasian program secara lebih lengkap dalam sistem perawatan kesehatan, untuk memastikan bahwa semua fasilitas di suatu negara menerapkan Sepuluh Langkah. Negara-negara diminta untuk memenuhi sembilan tanggung jawab utama melalui program BFHI nasional, yakni:

Dalam hal Critical Management Procedures:
1a. Patuhi sepenuhnya Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI (International Code of Marketing of Breast-Milk Subtitutes, aturan WHO mengenai susu pengganti ASI seperti suforr, dll) dan resolusi Majelis Kesehatan Dunia (World Health Assembly) yang relevan. 
1b. Memiliki kebijakan tertulis mengenai pemberian makan bayi yang secara rutin dikomunikasikan kepada staf dan orang tua.
1c. Menetapkan sistem pemantauan dan pengelolaan data yang berkelanjutan.

2. Pastikan bahwa staf memiliki pengetahuan, kompetensi, dan keterampilan yang memadai untuk mendukung pemberian ASI.

Dalam hal Key Clinical Practices:
3. Diskusikan pentingnya ASI dan manajemen menyusui dengan ibu hamil dan keluarga mereka.

4. Memfasilitasi kontak kulit-ke-kulit (skin to skin) yang segera dan tidak terganggu dan mendukung para ibu untuk memulai menyusui sesegera mungkin setelah lahir.

5. Dukung ibu untuk memulai, mempertahankan menyusui, serta mengelola kesulitan saat menyusui.

6. Jangan berikan bayi ASI makanan atau cairan selain ASI, kecuali diindikasikan secara medis.

7. Memungkinkan ibu dan bayinya untuk tetap bersama dan berlatih kamar dalam 24 jam sehari (rooming in).

8. Dukung para ibu untuk mengenali dan menanggapi isyarat bayi mereka untuk menyusui.

9. Beri konseling pada ibu tentang penggunaan dan risiko pemberian botol dot dan empeng.

10. Koordinasi pasca melahirkan (periksa rutin) agar orang tua dan bayinya memiliki akses tepat waktu untuk dukungan dan perawatan yang berkelanjutan.

Catatan:
Dapat dilihat bahwa poin-poin di atas adalah rekomendasi yang sangat kuat. Tidak ada paksaan bagi ibu-ibu untuk menyusui, karena yah banyak ibu yang memilih untuk tidak menyusui anaknya. WHO dan UNICEF juga tentu punya alasan kuat berbasis penelitian mengapa memberi panduan ini. Selain itu, PENTING untuk tenaga medis agar terus memberi support dan edukasi berupa resiko apabila tidak menyusui, memberi susu subtitusi, atau memberi dot/empeng.
cara sukses menyusui, agar sukses menyusui, tips sukses menyusui, sukses menyusui, pelekatan yang baik, pelekatan yang benar, posisi menyusui bayi, posisi menyusui yang benar, posisi menyusui newborn, posisi menyusui yang nyaman, posisi menyusui untuk payudara besar, 10 sukses menyusui WHO, tips sukses ASI, indikator sukses menyusui, panduan sukses menyusui
sumber: WHO


Tips Sukses Menyusui ala Bunda Biya 

Kalau itu tadi kata WHO, ini aku beri tips sukses menyusui ala aku ya. Halah, sakjane ya aku menyusui belum sukses-sukses banget sih, banyak kendala. Tapi boleh lah ya, beberapa hal  yang aku ketahui ini aku bagikan disini buat bunda-bunda semuanyaaa…

1. Cari Rumah Sakit atau Bidan yang Menerapkan Prinsip WHO di atas.

Ini aku terapkan cukup ketat. Dokter, bidan, dan lingkungan rumah sakit akan sangat berpengaruh dengan keberhasilan ASI. Kalau aku pribadi, akan selalu mencari rumah sakit yang pro ASI, pro rooming in, pro IMD, dan pro lahiran normal. Kalau mereka sudah pegang prinsip tersebut dan pada akhirnya kita tidak bisa mendapatkan pro-proan itu secara sempurna misalnya saja nggak bisa IMD atau nggak bisa lahiran normal, hampir pasti itu ada kaitannya dengan indikasi medis tertentu.

Contohnya saja, dulu saat baru lahiran, aku gak bisa IMD karena Mahira harus masuk NICU semalaman. Baru bisa menyusui langsung 24 jam kemudian. Meski demikian, ASI ku tetap di transfer ke Mahira dengan cara diambil dengan spuit.

Berada di lingkungan yang kayak gini, bener-bener bikin hati tenang. Kita gak perlu khawatir anak kita diberi susu pengganti tanpa seizin kita. Lebih bagus lagi kalau perawat dan dokter sangat welcome dalam mengedukasi bunda baru tentang menyusui dan hal-hal kecil mengenai perawatan bayi lainnya.

Tip: salah satu cara untuk mengetahui apakah rumah sakit itu pro-pro di atas adalah dengan melihat apakah ada susu subtitusi yang dijualbelikan disana atau apakah ada agen susu subtitusi yang membuka booth di RS tersebut. Kalau ada, perlu siaga 1. Teliti kembali, bisa jadi RS tersebut tidak sepenuhnya pro hal-hal di atas.

2. Belajar pelekatan dan posisi menyusui yang baik.

Sudah tau belum kalau setidaknya ada 5 posisi menyusui? Posisi menyusui yang nyaman dan pelekatan yang baik adalah koentji! Zaman dulu hanya dikenal satu atau dua posisi menyusui. Umumnya dengan cara mendekap bayi di depan saja. Padahal, ada juga bunda yang justru kesulitan menyusui dengan posisi macem ini. Saya contohnya. Pusing pala aku saat mulut Mahira gak mau  terbuka lebar dan berbuntut pelekatan yang buruk. Resikonya ada 2: pertama ASI jadi nggak optimal masuk ke bayi, kedua, puting bunda juga beresiko lecet. Bahkan bisa mastitis kayak yang aku alamin dulu. Percayalah, this mastitis is a nightmare for every mom!

Dulu, selama satu setengah bulan aku menyusui dengan pelekatan yang kurang tepat. Begitu tau kalau ada macam-macam posisi menyusui, aku coba satu persatu dan yasss! Ketemu posisi menyusui yang bener-bener PEWE untuk aku dan bayi. Ini dia beberapa posisi menyusui yang dianjurkan:
 
cara sukses menyusui, agar sukses menyusui, tips sukses menyusui, sukses menyusui, pelekatan yang baik, pelekatan yang benar, posisi menyusui bayi, posisi menyusui yang benar, posisi menyusui newborn, posisi menyusui yang nyaman, posisi menyusui untuk payudara besar, 10 sukses menyusui WHO, tips sukses ASI, indikator sukses menyusui, panduan sukses menyusui
macam-macam posisi menyusui. bunda wajib tauuuu... sumber foto: pinterest.

cara sukses menyusui, agar sukses menyusui, tips sukses menyusui, sukses menyusui, pelekatan yang baik, pelekatan yang benar, posisi menyusui bayi, posisi menyusui yang benar, posisi menyusui newborn, posisi menyusui yang nyaman, posisi menyusui untuk payudara besar, 10 sukses menyusui WHO, tips sukses ASI, indikator sukses menyusui, panduan sukses menyusui
penjelasan dan referensi lain. sumber: pinterest.


Jadi buibu, kalau bayi susah pelekatan, jangan stres dulu. Dicari dulu penyebabnya, diputer-puter dulu bayinya. Siapa tau si bayi lebih suka posisi diketekin alias football hold seperti yang aku lakukan ke Mahira dulu! Wehehe. Posisi football hold ini akan sangat mudah dengan bantuan bantal menyusui yang bentuknya melengkung itu lho. 

Bagaimana dengan posisi tidur? Menurut pengalamanku dan saran dokter, posisi tidur (seperti gambar no ) tidak dianjurkan untuk bayi yang masih belajar pelekatan. Karena seringnya, posisi tidur menyulitkan bayi untuk menyusui yang baik dengan pelekatan yang baik pula. Coba akalin dengan posisi tidur agak duduk, jadi badan kita bersandar di bantalan gitu dan posisi bayi ada di atas tubuh kita. Cara ini juga bisa menjadi solusi buat buibu yang ASI nya deres banget sampai bikin baby tersedak, jadi perlu posisi yang melawan grafitasi dengan cara bayi disandarkan ke tubuh kita gitu. Win-win solution, kan? Kalau masih ada kesulitan, konsultasikan lagi mengenai hal ini ke konselor laktasi atau DSA nya si cinta ya.

Nah, kalau cara pelekatan, bisa belajar dari konselor ASI atau DSA masing-masing. Aku pribadi punya tips: pelekatan lebih mudah kalau posisinya mengarahkan PD ke mulut bayi mulai dari bagian bawah dulu. Kayak gambar di bawah ini:
cara sukses menyusui, agar sukses menyusui, tips sukses menyusui, sukses menyusui, pelekatan yang baik, pelekatan yang benar, posisi menyusui bayi, posisi menyusui yang benar, posisi menyusui newborn, posisi menyusui yang nyaman, posisi menyusui untuk payudara besar, 10 sukses menyusui WHO, tips sukses ASI, indikator sukses menyusui, panduan sukses menyusui
Pelekatan menyusui yg paling mudah. Sumber gambar: pinterest.

Atau coba lihat video disini, dari semua video yang beredar di YouTube, penjelasannya di video ini cukup bagus. Dia ngejelasin dengan baik apa resiko kalau pelekatan gak pas. Tapi in English ya, gak ada subtitlenya.


3. Kenali Foremilk dan Hindmilk. 

Singkatnya, foremilk itu ASI depan (sering diibaratkan sebagai “minumnya” bayi. Sementara hindmilk adalah susu belakang yang buanyak lemaknya. Keduanya penting, tapi memang hindmilk lebih signifikan dalam meningkatkan berat badan bayi. Ada beberapa ibu yang ASI nya dueres banget sehingga bayi sudah kenyang duluan hanya dengan minum foremilk. Solusinya adalah dengan pumping sebelum bayi nenen.
cara sukses menyusui, agar sukses menyusui, tips sukses menyusui, sukses menyusui, pelekatan yang baik, pelekatan yang benar, posisi menyusui bayi, posisi menyusui yang benar, posisi menyusui newborn, posisi menyusui yang nyaman, posisi menyusui untuk payudara besar, 10 sukses menyusui WHO, tips sukses ASI, indikator sukses menyusui, panduan sukses menyusui
Kiri: foremilk. Kanan: hindmilk. Kalau dalam ASIP, hindmilk itu biasanya bakal naik ke atas, bagian yang keliatan buanyak banget lemaknya. Itu syedaaap buat bayik. Sumber foto: AIMI ASI.

Atau bisa juga satu PD disusuin ke anak, satu lagi di pumping. Ini juga bagus banget karena hisapan si kecil akan merangsang produksi ASI di PD sebelah yang lagi di pumping. Alhasil, ASI yang lagi di pompa pun bakal banyak. Cara ini efektif sampai kira-kira bayi sudah mengenali pabrik kesayangannya. Usia 7 bulanan, kalau dia tau pabrik ASI nya ini diganggu gugat sama alat pompa ASI sekalipun, bisa-bisa dia marah, lho! Wehehehe.

4. Pilih Pompa ASI yang tepat. 

Masih berkaitan dengan poin nomor 3, aku pribadi menyarankan untuk beli pompa ASI yang double pump karena sistem pada double pump memungkinkan ASI keluar lebih optimal. Dua payudara yang dipompa sekaligus, bisa saling menstimulasi satu sama lain untuk mengeluarkan ASI. Soal harga yaa yuk nabung dari sekarang! Wehehe. Harga pompa ASI double pump memang kebanyakan di atas 1 jeti. Tapi ada kok yang gak sampe 2 jeti.

Ngepompa ini banyak manfaatnya. Pertama, manajemen ASI. Agar ASI kita tetep banyak, kudu “diminta” terus, selain dengan dinenenin juga dengan di pompa. Kedua, stok kalau sewaktu-waktu kita keluar rumah. Ketiga, membantu kelancaran ASI agar nggak nyumbat. Serius, nggak ada bunda yang mau ASI nya nyumbat.

Baca juga: Review Pompa ASI

5. Sebisa Mungkin Hindari Dot dan teman-temannya. 

Aku tau ini syusah. Secara, keberadaan dot udah mengakar kuat di lingkungan masyarakat kita. Kalau mau pake selain dot, memang tantangannya besar. Pertama, dari bayinya sendiri. Tapi bayi cenderung mudah banget kok buat beradaptasi. Kedua, ini nih yang susah, pihak yang memberi ASIP. Nggak semua rewang atau bahkan orang tua kita mau diminta tolongin nyuapin ASIP pakai cup feeder, soft cupfeeder, atau sendok stainless. Kebanyakan akan langsung memberi dot.

Yaa gak papa se. Yang penting kita tau resikonya aja, jadi kita tau gimana mencegah resiko membesar. Dot sangat berpotensi membuat bayi bingung puting dan berujung pada menurunnya produksi ASI. Bingung puting sendiri ada 2, yang kentara ama yang nggak kentara. Bingung puting tipe pertama sangat mudah dilihat. Tau-tau bayi nggak mau netek aja dan memilih minum dari dot aja. Kalau udah gini, nggak perlu cemas buibu. Tunggu aja dan tetep ajak nenen pelan-pelan, terutama di malam hari.

Bingung puting tipe kedua ini yang agak bahaya, karena ndak kelihatan. Tanpa sadar, produksi ASI yang dipompa terus menurun. Ini karena bayi tidak lagi bisa melekat sempurna dan males nenen. Sebab, mekanisme pada botol dot sangat memudahkan bayi sehingga bayi nggak perlu mengeluarkan tenaga extra seperti kalau lagi nenen. (mengenai cara nenennya bayi, coba cek poin nomer 1 di atas ya).

Aku juga pernah ngalamin bingung puting saat Mahira aku tinggal seharian ke Jogja. Buntutnya adalah aku mastitis! Huhuhu. Akhirnya kapok dan aku beralih ke botol sendok. Thanks to mbak Nindha yang udah merekomendasikan produk ini. Anyway, ini nggak promosi ya. Memang salah satu media yang cukup baik aja untuk memberikan ASIP.
cara sukses menyusui, agar sukses menyusui, tips sukses menyusui, sukses menyusui, pelekatan yang baik, pelekatan yang benar, posisi menyusui bayi, posisi menyusui yang benar, posisi menyusui newborn, posisi menyusui yang nyaman, posisi menyusui untuk payudara besar, 10 sukses menyusui WHO, tips sukses ASI, indikator sukses menyusui, panduan sukses menyusui
Botol sendok merk Nursin Smart. Sumber gambar: tokopedia. Harganya lebih mudah ketimbang Medela Softcupfeeder dan menurutku lebih enak dan mudah digunakan plus mudah banget dicucinya. Wehehe.

Tips: kalau mau pakai dot, kebanyakan bunda memilih botol yang wideneck dan tetap menyusui bayinya setiap hari untuk mencegah bingung puting. Kalau sudah bingung puting, masih bisa kok diupayakan dengan relaktasi. Ndak perlu terlalu khawatir, yes.

6. Berkumpul dengan Lingkungan yang Suportif. 

Poin ini juga nggak kalah pentingnya. Suami yang sepaham, orang tua yang pengertian, mertua yang mendukung, serta lingkungan yang nggak rese-rese amat, akan sangat berpengaruh terhadap suksesnya ibu menyusui.

Sebisa mungkin selow aja saat dapet kritikan sok tau dari orang lain seperti:
“eh, kok makan pedas sih, nanti ASI nya jadi pedes lho!”
“eh, kok makan ikan sih, nanti ASI nya asin, lho!”
“eh, kok anaknya gak dikasih sufor sih? gak dikasih gedhang, sih?”


7. ASI Booster terbaik: Be HAPPY! 

Bunda bisa mengonsumsi ASI booster apapun. Banyak banget kan yang jual dari yang bentuknya bubuk, jus, sampe yang cookies. Kalau aku pribadi kemarin pakai booster berupa sayur daun katuk, susu kedelai, ngaji, dengerin lagu-lagunya Coldplay, dan nonton film! Pokoknnya kudu happy!

Percaya atau endak, setelah melahirkan, apa yang kita pikirkan akan sangat berpengaruh kuat terhadap tubuh kita dan bayi kita. Kalau kita stres, bayi sangat berpotensi ikut stres dan BB nya nggak naik dengan baik. Ini sempat aku alamin juga, nenenin sambil stres, terlalu banyak pikiran, dan nangis tersedu-sedu gegara ada suatu masalah pasca lahiran. Efeknya jadi ke Mahira deh. Duh, kalau inget aku bener-bener ngerasa bersalah banget.

Cara agar happy gimana.. kumpul dengan orang-orang yang punya energi positif. Jalan ke mall, kalau kepengen. Nonton film, juga boleh-boleh aja. Makan makanan yang disukai, jalan-jalan sore sama suami dan bayi, atau sekedar ke supermarket aja udah bisa jadi hiburan buat bunda baru. Wahaha.

8. Follow Akun-Akun Pro Menyusui. 

Aku ada beberapa rekomendasi akun untuk difollow, seperti:

@id_ayahASI
@AIMI_ASI
@AIMIJogja
@parentalk.id
@drtiwi
@diniadityarini
dan tentu saja
@nabillaDP

Hehehe. Sekian dulu tulisan tentang Seri Menyusui kali ini. Semoga bermanfaat ya. Mau diskusi boleh nih isi kolom di komen di bawah ini :)