Selasa, 20 November 2018

,


Oh, hai!

Sudah sebulan ini aku kedatangan anggota keluarga baru, namanya Laiqa. Sudah sebulan ini juga aku mengalami perubahan jam tidur. Pagi jadi malam, malam jadi siang. Suami kerja aku tidur, suami tidur aku kerja! Hahaha, gak gathuk. Kebetulan jelang lahiran dan pasca lahiran, kerjaan juga tetap datang. Aah indahnya jadi freelancer. Jetlag mah sekarang jadi kudapan sehari-hari.

Untunglah suami nggak pernah protes dengan segala aktivitasku. Saat suami tanya, lagi ngapain? Kadang ku jawab, lagi kerja jika memang sedang menyelesaikan kerjaan freelance. Atau aku jawab, lagi ngeblog, jika memang sedang ancang-ancang bikin konten atau mempercantik blog. 

Kebetulan Blogger Perempuan Network lagi ngasih tantangan buat anggotanya untuk ngeblog selama 30 hari dengan tema yang sudah ditentukan. Entah kenapa aku merasa tertantang. Lha wong nggak punya anak aja aku nggak pernah ngeblog per hari, ini punya satu toddler dan satu baby belom juga masih ada kerjaan yang lain, bisa-bisanya ikut tantangannya?! 

Tapi karena aku jamaah Coldplayiyah, aku manut apa kata Chris Martin,

“But if you never try you'll never know. Just what you're worth.”


Perkenalan Pertama dengan Dunia Blogging

Tema hari pertama ini adalah “Kenapa Menulis Blog?” jadi aku bakal ngebahas alasan-alasan ngeblog. 

Bicara mengenai alasan, aku jadi teringat pertama kali aku kenal dengan dunia blog. Adalah teman SMPku, Amel aka Bhabon, yang mengenalkanku dengan blog. Dia sudah lebih dulu punya blog, entah karena memang dia se update itu sama perkembangan atau karena tertular kakaknya. Yang jelas saat itu aku cupu, kalo ke warnet cuma tau MIRC 😆😆

Karena aku pikir seru juga ya, aku bikin blog juga deh. Sarana yang aku gunakan untuk ngeblog dari dulu sampe sekarang ya hanya BLOGSPOT yang kini sudah diakuisisi Google dan berubah menjadi BLOGGER. Alasannya ya karena blogspot sangat simpel dan mudah digunakan. Apalagi saat itu aku hanya have fun aja dengan blog dan sebagai sarana menyalurkan pikiran. Blog pertamaku tak ubahnya seperti diary online.

Pemikiran itu terpengaruh juga oleh Raditya Dika yang saat itu mengeluarkan buku pertamanya, Kambing Jantan, yang based on his blog. Amel juga yang doyan baca buku ini, kemudian aku pinjem deh. Covernya tuh masih cover jadul yang warna hijau tua dan ada foto Raditya Dika pakai baju putih sambil dioret-oret hidung dan mukanya. Buatku yang masih SMP, asli buku itu lucu banget. Pas udah gede gini, jadi biasa aja ya hahah. Karena bacaanku Raditya Dika dan novel komedi lainnya, gaya bahasa tulisan di blog juga gak jauh beda dari dia.



Jujur saja, nulis sambil agak-agak ngelawak itu bukan aku banget. Jadi agak maksain juga sih. Entah kenapa blog pertamaku aku hapus. Di SMA, aku bikin blog lagi dong hehe. Blognya masih ada, sayang aku lupa password dan akhirnya terbengkalai begitu saja.

Tahun 2011, aku membuat blog ini. Kering banget sis, kuliah kok gak nulis apa-apa. Nah, blog ini dulunya aku khususkan untuk travel blog. Ini juga dipengaruhi banget oleh buku-buku yang aku baca saat itu yaitu bukunya Trinity dan mbak Windy, juga buku-buku travel lainnya kayak punya Claudia Kaunang, dll. Juga terinfluence beberapa travel blogger di Twitter. Kebetulan, tahun 2011 adalah tahun pertama aku berjilbab dan melakukan perjalanan ke luar kota sama temen-temen. Tahun 2011 juga adalah tahun dimana aku pertama kali ke luar negeri sendirian.

Selingannya, aku juga menulis kegalauan ala remaja dan anak kuliahan (secara waktu itu masih susah move on sejak putus dari pacar terlama! 😝) dengan elegan. Aku sendiri heran kok aku bisa nulis agak puitis cem itu ya. Sepertinya juga dipengaruhi oleh tulisan-tulisannya mbak Dee dan Andrea Hirata.

Sayangnya…. Saat itu pola pikir yang aku bangun tentang dunia blog adalah have fun aja. Aku sama sekali tidak tau tentang traffic, analytic, apalagi cara memonetisasi blog. Saat itu aku tau visitor blog sudah puluhan ribu dan ada aja komen dari orang yang tidak ku kenal yang masuk. Aku pikir ya kali aja tau dari twitter kan. Padahal bisa jadi dia datang dari pencarian organik di Google.

Ketidaktahuanku ini membuat aku meninggalkan dunia blog selama… 3 tahun! Tepatnya beberapa bulan sebelum menikah sampai akhir tahun 2017. Alasannya? Karena saat itu aku sibuk dengan aktivitas di kampus pascasarjana dan persiapan kewong. Hidup baru sebagai istri, calon ibu, sekaligus sebagai mahasiswa membuat aku menguninstal dan mengurangi aktivitas di beberapa dunia maya, diantaranya Path, Twitter, dan Blog. Aku masih menggunakan Facebook dan Instagram karena dua sosmed itu adalah media ku untuk belajar bisnis dan berdagang. 

Ndilalah, bisnisku yang semula berkembang perlahan hingga menunjukkan prospek yang baik, harus turun grafiknya. Aku sampai pusing banget, karena bisnis yang aku jalankan adalah satu-satunya sumber penghasilanku, tambahan untuk keluarga, dan penghalau stresku. Malah aku makin stres karena bisnis macet gegara hidup nomaden: Joga-Sidoarjo-Malang. Aku harus menghitung ulang dan mencari supplier bahan baku dan penjahit. Tentu saja gak mudah ya, apalagi aku sudah punya anak yang semakin membutuhkan perhatianku. Karena aku pindah ke Malang, aku kehilangan karyawanku satu-satunya yang biasanya membantuku untuk salesing dan QC. Menjadi CEO (Chief Everything Officer) sungguh menguras pikiran dan duit!

Berbekal sedikit ilmu di dunia digital marketing yang aku peroleh saat menjalankan bisnis, aku baru tersadar bahwa blog bisa menjadi penghantar rezeki yang baik. Meskipun butuh waktu yang lama dan nominalnya jauh lebih kecil ketimbang saat aku mengembangkan bisnis fashion hijabku dulu, aku memutuskan untuk kembali ke jalan yang benar (dunia blog maksudnya…) karena modalnya cuma sekitar 140ribuan untuk beli domain selama setahun, laptop dengan RAM 2 GB jadul sejak tahun 2013, wifi kenceng yang dibayar perbulan dan dipakai orang serumah, serta kreativitas. Murah, kan?

Aku memutuskan untuk kembali ke blog ini ketimbang membuat yang baru. Saat itu aku sadar aku telah jauh meninggalkan “rumah” ini (buat pebisnis, web adalah rumah. Catat itu! 😆). Aku melihat lagi beberapa travel blogger yang aku ikuti, waaah ada yang sudah punya agen perjalanan, ada yang sudah bikin buku, dan lain-lain. Nyesel banget aku dulu gak istiqomah dan gak mau belajar lebih dalam.

Kembali ke blog ini, aku membeli domain, membuat logo, dan menyetel semuanya sendiri. Beberapa bulan kemudian, aku baru tau istilah-istilah penting dalam mengambil job untuk blogger seperti DA PA blog. Kamu tau berapa DA/PA ku di akhir 2017? 

Saaatuuuuuu!


Alasan Ngeblog

Sejak kecil aku memang suka menulis. Begitu ketemu blog, wah tepat banget lah ini! Awalnya aku menulis secara bebas aja, lama-lama aku jadi belajar berbahasa yang baik, membangun gagasan, menulis sistematis, dan lain-lain. Ngeblog juga sarana aku untuk menceritakan foto yang aku jepret di perjalanan.

Sekarang, alasanku untuk ngeblog tidak hanya untuk latihan menulis, tetapi juga sebagai penghantar rezeki untukku dan orang lain, juga untuk memberi manfaat. Aku sampai sekarang masih takjub melihat traffic tentang review DSPOG di Jogja yang aku tulis dan komentar-komentar dari ibu-ibu yang mampir di postinganku tentang mengatasi sembelit. Aku makin sadar bahwa dunia digital ini menjadikan Google sebagai salah satu alat untuk mencari solusi. Murah, cepat, tapi kadang gak akurat. Untuk itu kalau urusan berbagi info, aku selalu usahakan sejujurnya dan tidak lupa aku tambahkan “tanyakan kepada ahlinya” agar pembaca tidak lupa bahwa artikel-artikel yang seliweran di Google boleh jadi referensi, tetapi baiknya tidak menjadi pengambil keputusan utama.

Alasan terakhir dan ini sebetulnya agak privat HEHEHE adalah sebagai terapi. Sempat aku ceritakan sekilas di IG Story ku kapan hari bahwa aku mengalami salah satu masalah mental. Hanya beberapa orang saja yang tau: suamiku, terapisku, satu orang sahabatku, dan teman di juragan nyantri. Perlahan, mengembangkan blog dan menjalani pekerjaanku yang sekarang membuat masalah mentalku itu semakin membaik dan juarang banget kambuh. 

Mungkin ini saatnya aku berterima kasih dengan dunia blog, sebuah media di dunia maya yang membuatku jatuh hati saat pertama kali memandangnya.

Minggu, 18 November 2018

,



Jangan ngeres dulu.

Buat yang baca judul ini terus mulai berpikiran yang aneh-aneh, aduh skip-skip. Ini bukan tentang bodinya buibu berdaster, wankawan. Yang ngarep demikian, oh anda salah alamat, Ferguso!



Boleh ya aku bicara jujur. Sebetulnya ada beban yang cukup berat dengan gelar yang melekat. Keduanya, dari kampus yang cukup bergengsi di Pulau Jawa. Keduanya, dari fakultas yang mentereng popularitasnya. Sampai-sampai ada beragam ekspresi kalau mendengar gelar ini disebut, ada yang kagum, ada yang takut, ada yang langsung keinget Hotman Paris, ada yang berpikiran buruk kami doyan korupsi, ada juga yang langsung ngasih ceramah.

“Hati-hati, kakimu satu di surga, satu di negara,” begitu kira-kira.

Doain mah yang bae-bae aja ya, semoga kamu amanah dan selamat, gitu kan enak didengar.

Dengan dua gelar itu, juga dengan jabatanku sekarang yang “hanya” ibu rumah tangga, hanya ngurus anak, dan hanya-hanya yang lain, beban itu makin berat. Tanggapan orang lain pun makin sinis.

“Wah, eman ya, ijazahnya nggak kanggo (nggak terpakai),”

Kalau ada yang bilang begitu, aku cuman senyum sambil bisikin diri sendiri dalam hati. “Tenang, orang ini cuman ndak tau. Orang ini kurang wawasan, kurang dolan.”

Padahal, ibu-ibu di rumah itu  sama sekali nggak menganggur, jika pengangguran refers to orang yang nggak punya kerjaan. Lah pekerjaan rumah yang menggunung itu kelar dengan sendirinya kah? Mereka emang endak dapet gaji, tapi banyak yang bilang stay at home mom itu dibayarnya pake cinta. Atau ada juga yang bilang, dibayarnya pakai gaji suaminya. Tapi yang ini kok nggak enak ya, seolah suami itu mempekerjakan istrinya.

Nggak ketinggalan juga ada doa, digajinya pakai pahala, nanti di surga.

Auwenak.

Ada juga ibu-ibu yang bekerja di rumah. Lha, saya termasuk yang disini nih. Beberapa working at home mom ini tetap pakai baju bagus kayak kalau mau ngemol atau mau ngantor. Baju casual gitu lah. Ada juga yang tetap memakai make up. Sebagian memilih pakai daster aja, kayak aku.

Nah, kalau udah gini, pada gak percaya deh kalau ibu-ibu pakai daster itu bisa  bekerja dari rumah. Dikiranya cuman resik-resik rumah dan momong bocah. Padahal, mereka juga sibuk, begadang, dan bekerja di akhir pekan kayak orang susah, untuk menjemput segenggam rupiah dan sekarung berkah.

Kadang, ada juga yang kepo, itu mbak Nabilla kerjanya apa sih, kok di rumah mulu, jarang keluar. Lha, kalo keluarnya nggosip ya ngapain aku ikut hihihi nggak layau.

Orang tua pun ikut-ikutan bingung, bagaimana cara “mengenal” status anaknya sekarang. Bilang ibu rumah tangga juga canggung, mosok S2 kok mung jadi ibu rumah tangga. Bilang pekerjaannya sekarang juga bingung, karena tidak ada jabatannya, tidak ada gengsinya. Kalau bilang jujur, “freelance writer, Bu,” rata-rata akan menjawab balik,

“Hah, OPO IKU??”


Ijazah Ibu Bekerja di Rumah Nggak Terpakai??

Aku sempat mumet dan cari cara gimana agar ijazahku ini “terpakai”. Maksudnya, agar ilmu yang aku pelajari di ranah pendidikan formal bisa bermanfaat. Jujur saja, Fakultas Hukum bukanlah pilihanku. Mohon maaf ya, kakak-kakak yang ngospek aku dulu dan yang memandu nyanyi Mars Fakultas Hukum.

“Hey, Fakultas Hukum, fakultas pilihanku….”

Belakangan aku sadari betul dan aku mundurkan ingatan apa yang menjadi pencetus aku bisa masuk ke fakultas itu. Sama sekali bukan pilihanku, bukan inginku. FH menjadi hasil dari kesepakatan antara aku dan ortu. Win-win solution. Kebetulan, aku bisa survive disana dan alhamdulillah bertemu juga dengan orang-orang baik. Bisa survive karena meski bukan pilihan dan menjadi passion yang utama, banyak hal di bidang hukum yang bisa menjadi tempatku untuk mengamalkan ilmu dan skill lainnya. Kalau beberapa poin passion aku urutkan, hukum mungkin ada di urutan ketiga atau keempat. Bukan yang pertama.

Meski demikian, tetap saja ada pertanggung jawaban yang harus aku tunaikan sebagai “orang hukum”. Sempat mau ngajar, sempat silaturahim dan membaca atmosfer di kampus terdekat. Tapi makin kesini kok cita-citaku di masa kuliah untuk jadi dosen semakin redup. Apalagi setelah melihat suamiku yang juga meniti jalan sunyi sebagai dosen, aku jadi sadar banget bahwa pekerjaan jadi dosen sama aja kayak pekerjaan lainnya.

Akhirnya realistis saja.

Aku memilih untuk tetap mengamalkan ilmu tetapi tidak menjadi dosen (untuk saat ini). Kebetulan ada pekerjaan (yang juga freelance) yang bisa menjadi sarana pengamalan ilmu. Setiap bekerja, aku selalu berdoa agar yang aku lakukan bermanfaat untuk masyarakat juga untuk jangka panjang.

Selain itu akupun mengamalkan pelajaran-pelajaran serta ilmu lain yang aku dapatkan selama studi formal, misalnya ilmu yang aku peroleh dari organisasi, lembaga otonom, dari ngobrol ringan dengan guru atau teman, dll. Media blog ini, juga jadi salah satu sarana pengamalan.

Aku yakin ibu-ibu lainnya juga berbuat hal yang serupa seperti aku. Pasti ada naluri untuk berkreasi, berkarya. Kalo energi kita nggak diarahkan kesana, ntar bakal habis buat nggosip dan belanja onlen aja.

Nah, sampai sini, mana ada ijazah gak kepake?

Kalau secara fisik, yes, ijazahnya nggak kepakai. Kalau njenengan mengartikan sekolah untuk mencari ijazah, sekolah di kampus abal-abal aja bisa. Ijazah bisa dibeli, kok. Ya kan?

Ijazah memang penting, terutama sebagai bukti legal dan administrasi. Tetapi yang terpenting tentu “isi” selama kita mengenyam ilmu itu. Aku sangat setuju dengan pernyataannya Pak Ridwan Kamil di sebuah status IG nya yang kurang lebih begini, “pendidikan itu memberi kita lebih banyak pilihan…”

Gimana, kamu auto setuju gak?

Orang yang sekolah orang yang terdidik, orang yang memang menjalani proses bersusah payah menjemput ilmu, pasti bisa berimprovisasi saat negara api menyerang, ya maksudku saat keberuntungan nggak berpihak sama dia. Saat situasi dan kondisinya dia kurang mengenakkan atau pilihannya makin sempit. Disitulah pendidikan mengibarkan sayapnya, menjadi penyelamat kita.

Kalau di SMP dulu aku nggak belajar photoshop, aku nggak bisa bikin infografis. Kalau di SMA dulu aku nggak belajar editing lagu via Windows Movie Maker (iya, edit lagu pake aplikasi edit video) aku nggak bisa tuh edit-edit video dan paham cara kerja aplikasi ataupun softwarenya. Kalau dulu di SMA aku nggak ikut eskul jurnalistik dan mading, aku nggak paham tentang dasar-dasar penulisan jurnalistik dan bagaimana menyajikan tulisan untuk pembaca. Kalau di S1 aku nggak belajar hukum dan kepenulisan ilmiah, aku nggak bisa bikin naskah akademik dan drafting. Kalau di S2 aku nggak belajar bisnis, aku bakal kejebak ama FB dan IG ads yang menyebalkan itu, juga pasti kesulitan menjalankan bisnis kecil dan membantu usaha ayah.

Yuk, kita gali lagi, selama sekolah kita dapet apa sih? Seberapa besar potensi kita di bidang itu? Seberapa besar kita bisa berkarya, beramal, dan syukur-syukur menjemput rezeki dari kemampuan kita itu?


Rasanya Kerja Pake Daster

Aku pikir semua ibu-ibu akan setuju kalo kerja pake daster itu nyaman banget. Akui sajalah, kalo daster emang pakaian andalan kita. Apalagi kalo udah sobek-sobek, kadar kenyamananya makin meningkat. Aneh emang.

Atau kerja pakai daster (kerja di rumah) enak karena dekat dengan anak, bisa memantau anak, bisa kapanpun istirahat, dan lain-lain.

Betul memang, bahwa kerja pakai daster terlihat sangat ideal bagi perempuan yang sudah berumah tangga dan memiliki anak, atau mungkin perempuan yang harus dekat dengan ortunya karena mungkin ortunya sakit dan butuh bantuan untuk aktivitasnya sehari-hari. Apalagi buat perempuan hamil yang dikit-dikit mabok, duduk harus pake bantal, dikit-dikit harus rebahan. Juga buat ibu-ibu menyusui yang bekerja di rumah. Kalo anaknya nangis, tinggal buka kancing, beres deh dinenenin.

Tapi rupanya nggak semudah itu, Marimar.

btw aku dulu suka nonton telenovela ini wahahah!


Beberapa beranggapan, kerja pakai daster nggak ada kebanggaan karena nggak pakai seragam. Nggak ada jabatannya, nggak mendongkrak status sosial.

Itu subyektif sih ya, kalau memang ingin mendapat status sosial dari pekerjaan ya monggo itu dijadikan pertimbangan. Kita kan punya kebutuhan yang berbeda-beda.

Kenyataannya, bekerja di rumah atau bekerja pake daster itu susah, jendral! Dan sakjane yo podo wae, ada plus minusnya.

Pertama, harus bisa bikin jadwal sendiri, bikin target kerja, bikin indikator pencapaian kerja, dan lain-lain. Kalo kerja di perusahaan kan wenak to, SOP udah ada, indikator udah ada, tinggal bekerja deh. Apalagi kalo perusahaannya sehat, wuih tambah mantab.

Kedua, pemasukan nggak menentu. Ini jelas berbeda BANGET sama PNS, pegawai swasta, dan BUMN. Besar kecilnya pemasukan sangat bergantung pada usaha diri, doa, dan keberuntungan heheh.

Ketiga, nggak bisa ngajukan kredit. Buatku sih gak masalah ya, karena aku emang nggak ada keinginan dan kebutuhan kesana. Ini bisa jadi tantangan buat yang pengen ngajukan KPR, dll.

Keempat, bekerja di rumah itu sama kayak bekerja di kantor luar, tetap butuh ART atau jasa daycare. Kalau mau optimal, ibu-ibu yang punya anak ini tetep perlu banget rewang atau orang yang bantu momong anaknya. Apalagi kalo masih bayek-bayek gitu.

Aku lihat ibu-ibu yang bisa survive tanpa ART tanpa daycare adalah mereka yang anaknya dah gede-gede, atau yang suaminya juga ikut bekerja di rumah (intinya tetap ada bala bantuan), atau yang pancene wes sugih dan modalnya banyak. Kalau dirimu bukan ketiganya, ku jamin usahanya pasti lebih gede, jatuh bangunnya pasti lebih terasa. Gak papa sis, aku juga ngalamin kok!

Jadi, saranku, jika ingin bekerja di rumah lebih optimal, mintalah bantuan dalam mengasuh anak atau paling tidak dalam pekerjaan rumah. Bisa dengan ART setengah hari, bisa dengan ART yang nginep, bisa dengan bantuan ibu kandung atau mertua, bisa dengan daycare. Wah banyak opsi. Pertimbangkan dulu juga dengan kebutuhan, kemampuan, dan dengan restu suami.

Kelima, godaan banyak. Ampun dah.. godaan kasur, abang tukang bakso, flash sale, yutub, sekali lagi karena nggak ada yang ngawasin selain diri kita sendiri hahah. Kalo ada deadline dan kerja dengan partner, ya itu bisa jadi bantuan pengawas yak. Belom lagi yang punya anak kecil, dia rewel atau sakit, eh jangankan gitu, kita buka laptop dia minta pangku aja, udah tantangan tersendiri tuh hahaha.

Keenam, telinga harus tebal. Komentar “ijazahnya nggak terpakai” mah udah kebal, kalo komentar, “jadi perempuan jangan cuma bisa ngabisin duitnya suami”, itu kadang bikin kesel juga sih. Kalau aku, sempat ada yang julid gegara pekerjaanku dan betapa banyaknya yang tidak dia ketahui tentang keputusan-keputusanku. Ah yaudah sih, bodo amat yak!

Ketujuh, bekerja di rumah itu bukan kayak ngerebus mie instan yang tinggal seduh, masak, tuang bumbu, jadi dan enak. Meskipun enak dan akupun suka, mie instan tetap banyak bahayanya kan? Kerja di rumah nggak bisa gitu. Dia tuh kayak menanam pohon, atau menanam padi deh. Duh maaf aku nggak kreatif ambil pengibaratan. Intinya, butuh waktu lama untuk memanennya. Dipilih dulu tanahnya yang baik dimana, benihnya, airnya, dan tentu saja butuh ilmu untuk membesarkannya.

Kedelapan, nggak bisa ikut kunjungan kerja atau perjalanan dinas. Tapi pekerjaan tertentu bisa BANGET jalan-jalan gratis, kayak jadi travel blogger, penerjemah, tour guide, dan lain-lain.

Kesembilan, akhir pekan biasanya tetep kerja. Orang pada libur, kita kerja. Orang pada kerja, kita libur. Hahaha! Timelinenya beda sis!

Kesepuluh, rawan stres. Ini ada hubungannya dengan kalau udah punya anak dan gak ada ART. Duh capek banget gitu lho.. akhirnya stres muncul deh, belom lagi ada masalah-masalah lain. Selain itu, orang yang kerja di rumah itu jarang ketemu temen-temennya dalam jumlah besar kayak lagi ngantor gitu. Kecuali kalo kerjaannya punya usaha di rumah dan punya karyawan banyak yak.

Jadi kadang ada kebutuhan ngomong, diskusi, dan lain-lain yang nggak tersalurkan dengan baik. Harus lebih kreatif, misalnya gabung komunitas, curhat sama suami, atau jalan ama temen.


Last..

Apa yang ada dibalik daster, ternyata nggak semudah yang dibayangkan ya? Makanya jangan remehkan mereka yang bekerja di rumah, jangan pula rendahkan mereka yang memutuskan untuk full time jadi ibu rumah tangga. Pengorbanannya guede lho.

Disatu sisi, meskipun terlihat nyaman karena dekat dengan anak, baiknya juga jangan buru-buru memutuskan kerja di rumah.

Jujur aja banyak yang curhat sambil kebingungan, mau resign atau urus anak atau kerja di rumah. Aku selalu memberi saran yang sama: cek dulu kondisimu dan konsultasikan sama suamimu.

Kondisi kita berbeda, ada orang yang sangat siap untuk bekerja di rumah, ada yang tidak. Pikirkan baik-baik, apa sih prioritas utama kita? apa ketakutan terbesar? apa kebutuhan terbesar? apa kendalanya dan keunggulannya? siapkah mental kita, siapkah fisik kita?

Lanjut ngobrol di komentar aja yuk :D


Selasa, 06 November 2018

,
review pompa asi mooimom, review pompa asi silicone mooimom, review pompa asi elektrik mooimom, review pompa asi yang bagus, review pompa asi yang murah, review pompa asi yang nyaman, review pompa asi yang paling baik, review pompa asi yang murah dan bagus, review pompa asi elektrik yang bagus, review pompa asi elektrik yang tidak bikin sakit, review pompa asi medela harmony, review pompa asi medela mini electric, review pompa asi spectra 9s, review pompa asi elektrik, review pompa asi manual


Tanggal 19 Oktober lalu alhamdulillah aku akhirnya lahiran anak kedua juga. Seneng? Pasti! Perut udah ga mblendung dan bisa makan tape singkong lagi! Hehehe. Tapi pegel-pegelnya tetep yes, mata panda gegara begadang juga tetep hihi.

Bicara tentang anak kedua, aku sebetulnya berencana ngasih jarak 3-4 tahunan gitu ama anak pertama. Tapi Allah berkehendak lain, dikasih lebih cepet. Ya malah alhamdulillah, jadinya aku masih bisa mengingat segala tetek-bengek mengurus anak, mulai dari memandikan, perawatan tubuh, dan yang paling penting tentu saja menyusui. Kalau pengalaman si kakak dulu, aku sempat bingung pelekatan yang benar itu gimana, sekarang jadi ngerasa lebih rileks dan lebih paham saat menyusui walaupun sempat juga sih mengalami puting lecet dan breast engorgement. Lha gimana, pas hamil kemarin baru aja nyapih anak pertama. Jadi masih inget banget dong posisi dan pelekatan yang baik dan benar.

Aku juga nggak mau mengulang kesalahan di anak pertama, dimana aku baru pumping setelah anak berusia 1 setengah bulan. Kebetulan aku sempat ngalamin breast engorgement. Jadi mau gak mau, aku harus lebih rajin pumping agar aliran ASI lancar meskipun 90% aku direct breastfeeding.

Stok dari pumping ini juga bakal berguna banget kalau ada agenda mendadak di luar kota, aku butuh me time di luar beberapa jam, atau ya sekedar untuk melancarkan sirkulasi ASI. Selain itu buatku, pumping sebelum menyusui jadi penting karena aku termasuk yang hiperlaktasi dan anakku sering ngos-ngosan kalo nenen dan sering tersedak.


Selektif Memilih Pompa ASI

Karena bentuk payudaraku yang agal berbeda, aku cukup selektif memilih pompa ASI. Selama ini masih pake pompa ASInya si kakak dulu. Tapi kelemahannya aku harus menunduk-nunduk gitu saat pumping, jadi kurang rileks, kadang bikin payudara agak sakit karena kegencet corong, dan printilannya lumayan banyak ehehe.

Jadi suka pegel bok. Ya pegel pas pumping juga pas nyucinya.

Aku pernah lihat sih iklan pompa ASI yang bisa pumping santai. Tapi kok manual? Wah ya nggak sido deh karena aku nggak cocok pakai pompa manual.

Makanya aku sueneng banget pas tau MOOIMOM ngeluarin breast pump yang mungil, designnya elegan, jenisnya elektrik, plus bisa pumping lebih rileks gitu.

MOOIMOM emang produk-produknya berkelas sih ya, pas hamil aku sering ngintipin instagramnya sambil ngecek ada yang diskon apa nggak wahahah. Soalnya memang produknya cantik serta terkesan premium plus elegan. Jujur aja aku pertama lihat warna brandnya udah naksir, kesannya adem gitu. Dan di kalangan temen-temen sesama bumil dan busui pada heboh pas pertama kali nyobain produk MOOIMOM yang pompa ASI silicone itu.

Kan aku jadi kepengen juga ya.

Alhamdulillah doaku terkabul deh, bisa memiliki produk premium MOOIMOM, dua barang pula! Pertama Natural Comfort Electric Breast Pump (Pompa ASI Elektrik) dan Disposable Breast Pads (Penyerap ASI).

Kali ini aku nggak hanya memberi review produk premium ini tapi juga ngasih user experience selama seminggu pemakaian. Kenapa seminggu? Ya emang baru ku pakai seminggu dan udah kebelet nulis ulasan saking nyaman banget produknya!


review pompa asi mooimom, review pompa asi silicone mooimom, review pompa asi elektrik mooimom, review pompa asi yang bagus, review pompa asi yang murah, review pompa asi yang nyaman, review pompa asi yang paling baik, review pompa asi yang murah dan bagus, review pompa asi elektrik yang bagus, review pompa asi elektrik yang tidak bikin sakit, review pompa asi medela harmony, review pompa asi medela mini electric, review pompa asi spectra 9s, review pompa asi elektrik, review pompa asi manual
produk MOOIMOM perdana. Cihuy!



Pompa ASI Mooimom, Solusi Pumping Anti Pegel

Sebagai konsumen, aku suka banget sama packaging-nya breast pump (BP) MOOIMOM. Pertama, warnanya yang cakep dan aku banget. Kedua, ada tulisan “premium”nya. Itu gak sekedar tulisan sih, karena produk di dalamnya pun memang “berkelas”. Ketiga, informasi dan kelebihan produk sangat jelas tertulis di kemasan.

Begitu buka box, di bagian dalam dus ada cara penggunaan. Surprisingly, isinya pun cukup komplit. Disediakan juga sparepart cadangan dan dot untuk baby, jadi praktis deh. Aku pikir dotnya agak keras ya kayak dot bawaan pompa ASI kebanyakan yang pada akhirnya cenderung gak kepake, tapi ternyata endak! Dotnya cukup lentur dan lembut.


review pompa asi mooimom, review pompa asi silicone mooimom, review pompa asi elektrik mooimom, review pompa asi yang bagus, review pompa asi yang murah, review pompa asi yang nyaman, review pompa asi yang paling baik, review pompa asi yang murah dan bagus, review pompa asi elektrik yang bagus, review pompa asi elektrik yang tidak bikin sakit, review pompa asi medela harmony, review pompa asi medela mini electric, review pompa asi spectra 9s, review pompa asi elektrik, review pompa asi manual
box elegan MOOIMOM

review pompa asi mooimom, review pompa asi silicone mooimom, review pompa asi elektrik mooimom, review pompa asi yang bagus, review pompa asi yang murah, review pompa asi yang nyaman, review pompa asi yang paling baik, review pompa asi yang murah dan bagus, review pompa asi elektrik yang bagus, review pompa asi elektrik yang tidak bikin sakit, review pompa asi medela harmony, review pompa asi medela mini electric, review pompa asi spectra 9s, review pompa asi elektrik, review pompa asi manual
Isi box pompa asi elektrik MOOIMOM

review pompa asi mooimom, review pompa asi silicone mooimom, review pompa asi elektrik mooimom, review pompa asi yang bagus, review pompa asi yang murah, review pompa asi yang nyaman, review pompa asi yang paling baik, review pompa asi yang murah dan bagus, review pompa asi elektrik yang bagus, review pompa asi elektrik yang tidak bikin sakit, review pompa asi medela harmony, review pompa asi medela mini electric, review pompa asi spectra 9s, review pompa asi elektrik, review pompa asi manual
cara penggunaan dan informasi produk di dalam box 


Nah, kebetulan kapan hari aku sempat dadakan harus ke luar kota untuk takziah. Awalnya udah mau beli dot di luar tuh, sebab semua jenis botol (yang pernah dipakai anak pertama) aku tinggal di Malang. Tapi begitu inget kalo MOOIMOM juga nyediakan dotnya, nggak jadi beli botol dot baru deh. Hemat sist hihihi.

Sempat worry juga sih sebetulnya, si gendhuk entar mau apa endak ya? Secara kadang-kadang baby kan gitu ya, suka nggak mau dipakein dot, atau tiba-tiba bingung puting kayak si kakaknya dulu. Dan ternyata, si gendhuk tidak perlu waktu pama untuk beradaptasi dengan dot dari BP nya Mooimom. Malah minum ASInya banyak. Aku ninggalin 4 kantong ASIP 100 ml untuk 9 jam masih kurang rupanya! Jadilah ngeluarin 2 kantong lagi dari freezer.

Dan saat aku pulang pun, si gendhuk tetap kenceng nenennya, tetap bagus pelekatannya. alhamdulillah semoga nggak bingung puting ya nak! Seneng banget dah nemu dot yang tepat dan sepaket sama breast pump idaman.



Balik lagi ke BP nya. Kalau soal harga, relatif sih ya. Breast pump elektrik rata-rata harganya di atas 1 juta. Malah kebanyakan di atas 2 juta untuk yang double BP. Kalo BP nya MOOIMOM ini harganya sekitar 1,6 juta dan sedang ada DISKON jadi harga akhirnya 1,3 juta aja. Sangat worthy dengan kelebihan yang diberikan.

Pertama, design mesin yang stylish dan elegan. Mesinnya mungil, enteng, dan enak dilihat. Kalau working mom bawa BP ini ke kantor, dijamin gak terlihat malu-maluin hehe. Di bagian mesin juga ada lampu indikator. Kalau lagi nyolok ke sumber energi, lampunya bakal kedap kedip merah-biru gitu. Kalau sudah kita pejet tombolnya, jadinya full biru plus mengeluarkan suara. Kalau kita sedang menggunakan mode, lampu indikator ada yang bergerak ke titik-titik di mesin, sesuai dengan tingkatan daya hisap.


review pompa asi mooimom, review pompa asi silicone mooimom, review pompa asi elektrik mooimom, review pompa asi yang bagus, review pompa asi yang murah, review pompa asi yang nyaman, review pompa asi yang paling baik, review pompa asi yang murah dan bagus, review pompa asi elektrik yang bagus, review pompa asi elektrik yang tidak bikin sakit, review pompa asi medela harmony, review pompa asi medela mini electric, review pompa asi spectra 9s, review pompa asi elektrik, review pompa asi manual
desain elegan dan stylish


Kedua, ini part favoritku ya, corongnya berbentuk silicon. Selama menyusui anak pertama dan kedua, aku baru pernah pakai 4 jenis BP termasuk MOOIMOM ini dan tidak ada satupun yang memiliki corong silicon kecuali MOOIMOM. Kelebihan corong silicon ini, tentu saja nyaman banget di payudara, nggak bikin payudara kegencet, dan cenderung fit di segala size payudara. Dan ini yang membuat kita bisa pumping sambil senden di bantal atau kursi. Kita nggak perlu pumping sambil pegangin corong, cukup pegang botolnya. Kalau dulu, aku kalau pas pumping yang ku pegang bukan botol tapi corong hehe. Karena kalau mencong sedikit itu corongnya, hisapannya jadi nggak banter.

review pompa asi mooimom, review pompa asi silicone mooimom, review pompa asi elektrik mooimom, review pompa asi yang bagus, review pompa asi yang murah, review pompa asi yang nyaman, review pompa asi yang paling baik, review pompa asi yang murah dan bagus, review pompa asi elektrik yang bagus, review pompa asi elektrik yang tidak bikin sakit, review pompa asi medela harmony, review pompa asi medela mini electric, review pompa asi spectra 9s, review pompa asi elektrik, review pompa asi manual
corongnya lembut sekaleee


Trus selain itu, ngebersihinnya juga gampang banget, baik dari corong maupun botolnya, karena corongnya pun juga bagian yang kayak lorongnya gitu cukup lebar diameternya. Jadi ngebersihinnya nggak perlu pakai sikat, cukup pakai tangan. Praktis banget lah kalau dibawa traveling.

Ketiga, ada 4 mode. Satu mode on/off dan 3 mode hisapan, yakni stimulation mode untuk memancing LDR yang tipe hisapannya cepat-pendek, natural baby sucking mode atau mode saat bayi menghisap yang sangat mirip dengan cara menghisap bayi! Canggih juga nih tim risetnya MOOIMOM. Kemudian terakhir, expression mode atau mode hisap dengan 5 level yang tipe hisapannya panjang-lambat. Biasanya, expression mode itu yang paling bikin payudara nyeri. Tapi pakai MOOIMOM aku nggak ngerasa nyeri sama sekali, mungkin karena pengaruh corong silicone nya itu ya.

review pompa asi mooimom, review pompa asi silicone mooimom, review pompa asi elektrik mooimom, review pompa asi yang bagus, review pompa asi yang murah, review pompa asi yang nyaman, review pompa asi yang paling baik, review pompa asi yang murah dan bagus, review pompa asi elektrik yang bagus, review pompa asi elektrik yang tidak bikin sakit, review pompa asi medela harmony, review pompa asi medela mini electric, review pompa asi spectra 9s, review pompa asi elektrik, review pompa asi manual
pumping gak lagi pegel


Keempat, sumber energinya beragam. Ini nih yang aku suka, soalnya aku kan orangnya pelupa ya haha. Jadi kalo pas gak bawa charger, aku bisa langsung nyolokin ke powerbank atau ke laptop. MOOIMOM juga menyediakan kabel datanya, kok, meskipun kalau mau pakai kabel data kita yang lama juga bisa.

review pompa asi mooimom, review pompa asi silicone mooimom, review pompa asi elektrik mooimom, review pompa asi yang bagus, review pompa asi yang murah, review pompa asi yang nyaman, review pompa asi yang paling baik, review pompa asi yang murah dan bagus, review pompa asi elektrik yang bagus, review pompa asi elektrik yang tidak bikin sakit, review pompa asi medela harmony, review pompa asi medela mini electric, review pompa asi spectra 9s, review pompa asi elektrik, review pompa asi manual
favoritku pakai pumping pake powerbank. praktis!


Kelima, ada bonus valve membrane. Biasanya, valve itu cenderung mudah sobek setelah beberapa bulan/tahun pemakaian. Ini wajar sih karena di BP lain pun juga begitu. Dan kalau sudah sobek biasanya berpengaruh ke daya hisap. Mungkin itu ya sebabnya dibonusin valve membran sama MOOIMOM.

Keenam, botolnya mungil. Menurutku secara psikologis, botol mungil ini bagus untuk pumping. Kenapa? Kan cepet penuhnya ya dan jadi bikin semangat gitu lihat botol penuh ASI. Ye gak buibu? Aku aja sampai sekarang pakai botol ASIP atau plastik ASIP yang size 100-120 ml, soalnya biar terus semangat lihat ASIP yang memenuhi botol atau plastik penyimpanan. Kesannya kan jadi banyak hehe. Buatku, ini cukup berpengaruh ama semangat pumping.

Ketujuh, bisa pumping dengan posisi rileks. Asli, gak perlu nunduk-nunduk lagi deh. Kemudian karena ini single pump ya, jadi sambil menyusui anak, payudara yang nganggur bisa dipakai untuk pumping. Manfaatin kesempatan LDR sebaik mungkin! *gamau rugi.

review pompa asi mooimom, review pompa asi silicone mooimom, review pompa asi elektrik mooimom, review pompa asi yang bagus, review pompa asi yang murah, review pompa asi yang nyaman, review pompa asi yang paling baik, review pompa asi yang murah dan bagus, review pompa asi elektrik yang bagus, review pompa asi elektrik yang tidak bikin sakit, review pompa asi medela harmony, review pompa asi medela mini electric, review pompa asi spectra 9s, review pompa asi elektrik, review pompa asi manual


Cara pakainya pun nggak susah, karena di box udah lengkap banget step by stepnya. Ada juga buku panduan dan kartu garansi. Kalau pengen lihat beberapa referensi penggunaan, bisa mampir aja ke YouTube MOOIMOM.



Cuman, tetep nih aku punya masukan untuk MOOIMOM. Bodi mesinnya sudah bagus banget, cuman sayang banget nggak ada penanda waktu yang dihabiskan untuk pumping. Tapi hal ini bukan masalah besar sih, karena soal waktu bisa kita cek sendiri via handphone atau jam tangan.


Breast Pad MOOIMOM Andalanku: Murah, Higienis, dan Nyaman

Selain pompa ASI, MOOIMOM juga punya beragam produk aksesoris menyusui, salah satunya adalah breast pad. Saat ke luar kota dadakan untuk acara takziah kemarin, sebelum berangkat aku sudah pasang breast pad atau penyerap ASI di bra aku. Tujuannya apa? Ya biar nggak bocor doong. Ibaranya, breast pad ini udah kayak pembalut kalau lagi menstruasi, berfungsi menampung cairan yang suka keluar sewaktu-waktu hehehe. Kalau lagi LDR kan tiba-tiba saja ASI suka keluar gitu ya, kalau ngebasahin bra, jadi nggak higienis trus bakalan gawat kan kalo ngerembes di baju luar juga.


review pompa asi mooimom, review pompa asi silicone mooimom, review pompa asi elektrik mooimom, review pompa asi yang bagus, review pompa asi yang murah, review pompa asi yang nyaman, review pompa asi yang paling baik, review pompa asi yang murah dan bagus, review pompa asi elektrik yang bagus, review pompa asi elektrik yang tidak bikin sakit, review pompa asi medela harmony, review pompa asi medela mini electric, review pompa asi spectra 9s, review pompa asi elektrik, review pompa asi manual
box breast pad MOOIMOM


Jujur saja, saat anak pertama dulu, aku kurang suka pakai breast pad karena suka mencong-mencong gitu. Tapi, breast pad-nya MOOIMOM beda banget. Dia sekali tempet, ya tetep ada disana jadi ga ada cerita ASInya basahin bra.

Trus, nggak ada rasa ngeganjel juga di bra, bener-bener serasa gak pakai. Jadi tetep nyaman banget pakai breast pad.

Setelah aku baca spesifikasi produknya, lha ternyata emang beda kualitasnya. Isinya 100% cotton, lembut, dan hypoallergenic (meminimalisir penyebab reaksi alergi), tidak mudah bocor dan breathable jadi nggak bikin payudara jadi sarang bakteri, daya serap tinggi, perekatnya sangat lengket dan lebar agar breast pad bisa “stays in place”, dan dikemas secara individual jadi sudah pasti terjamin higienisnya.


review pompa asi mooimom, review pompa asi silicone mooimom, review pompa asi elektrik mooimom, review pompa asi yang bagus, review pompa asi yang murah, review pompa asi yang nyaman, review pompa asi yang paling baik, review pompa asi yang murah dan bagus, review pompa asi elektrik yang bagus, review pompa asi elektrik yang tidak bikin sakit, review pompa asi medela harmony, review pompa asi medela mini electric, review pompa asi spectra 9s, review pompa asi elektrik, review pompa asi manual
asli nyuaman banget!


Sekotak dapet 30 pcs. Harga aslinya sih Rp 75.000,- cuman aku lihat lagi ada diskon tuh jadi Rp 45.000. Lumayan banget!


Good News for Us!

Kabar gembiranya, MOOIMOM lagi ada diskon nih! HAHAHA MARI KITA SERBU! Aku tau kalau ada diskon dari Instagramnya MOOIMOM dan Facebook MOOIOMOM bahwa ada cashback hingga Rp 300.000,- mulai tanggal 19 Oktober hingga 19 November, ada Clearance Sale sampai 80% di Mall Kota Kasablanka, kemudian dapat diskon sampai 70 % di website MOOIMOM !

Jangan sampe kelewatan yak! Aku juga mau beli breast pump silicone yang jadi inceranku sejak lama nih hihi. Memang MOOIMOM bener-bener sahabat baru ibu menyusui nih, lha semuanya yang dibutuhkan busui ada disana, mulai dari baju menyusui, korset setelah melahirkan, pompa ASI, sampai breast pad. Udah gitu, banyak diskonnya lagi HAHA.

Kalo kamu berencana beli produk yang mana? Atau jangan-jangan sudah lebih dulu pakai produknya MOOIMOM nih? Share disini yuk bund!


review pompa asi mooimom, review pompa asi silicone mooimom, review pompa asi elektrik mooimom, review pompa asi yang bagus, review pompa asi yang murah, review pompa asi yang nyaman, review pompa asi yang paling baik, review pompa asi yang murah dan bagus, review pompa asi elektrik yang bagus, review pompa asi elektrik yang tidak bikin sakit, review pompa asi medela harmony, review pompa asi medela mini electric, review pompa asi spectra 9s, review pompa asi elektrik, review pompa asi manual



Follow me @nabilladp