Parenting blogger | Travel blogger | Lifestyle blogger

Mei 23, 2018

Sandwich Generation: Mengurai Penyebab dan Menggali Solusinya

by , in



Beberapa waktu lalu aku sempet berkisah sangat singkat tentang sandwich generation yang sesungguhnya tulisan itu lagi aku ikutkan lomba wehehe. Yaaah, meskipun hadiah lombanya belum jadi rezekiku, tetep ada rezeki lain dari topik yang pernah aku angkat ini, yaitu berbagi ama pembaca blog. Uhuy...

Setelah ngadain polling singkat tapi lumayan rame juga yang ikutan, ternyata 63 % pada belum tau apa itu sandwich generation. Diantara yang tau itu, kira-kira 37 % lagi ngalamin. Buat yang ngeklik “endak” ngalamin, alhamdulillah sudah sejahtera dong yes, atau mungkin belum ngalamin aja? Ehem, aku doakan enggak lah ya.


Flashback sebentar ya, apa sih sandwich generation itu? Bisa jalan-jalan ke Investopedia, yang ngasih pengertian sandwich generation adalah merujuk pada individu setengah baya yang ditekan untuk mendukung kedua orang tua dan anak-anak mereka baik secara finansial maupun dukungan spiritual. Dikatakan sandwich generation karena posisi mereka memang terlihat seolah "terjepit" sementara disatu sisi, ada kebutuhan pribadi yang belum terpenuhi ataupun kondisi finansial keluarga belum begitu baik.

Bisa lihat pengertian di gambar dibawah ini juga ya. Umumnya, mereka yang ngalamin kondisi ini berada di usia 30-40 tahun. Mungkin pada umumnya, sandwich generation ini melanda mereka yang orang tuanya bekerja tapi nggak punya dana pensiun, disisi lain, anak-anak belum bekerja. Keduanya, jadi tanggungan yang tidak ringan.

Aku ama suami, ngalaminnya cukup ekstrim. Berada di lingkaran sandwich generation pada usia 23 tahunan. Dalam kondisi yang belum sepenuhnya mapan, sekaligus ada kondisi orang tua yang bergantung pada kami dan anak kami masih bayik banget. Pepet terus gaaaan~~~


Ada yang pernah ngalamin? Kamu nggak sendiri dan sudah sepatutnya bersyukur, lho. Buanyak banget sisi positifnya. Minimal, lebih dini kita sadar, harapannya di hari tua nanti kita sudah terlepas dari kondisi ini dan nggak merepotkan anak-anak kita di masa depan.

Sempat aku janji untuk manjangin topik ini. So here we go.. siapin martabaknya ya.

---

 A Brief Story of Mine...


Aku pribadi ngeh istilah ini sudah agak lama, tapi aku nggak mau mengakui itu. Buatku, membaca istilah sandwich generation aja sudah menyakitkan, soalnya kondisi itu bener-bener nggak enak, apalagi aku ngalaminnya di usia muda banget: 23 tahun! Pasca nikah, masih anget-angetnya manten anyar, eh udah kena situasi nggak asiq.

Tapi aku sadari kemudian disitulah letak kesalahanku. Nge-deny masalah, jadi makin susah untuk mencari solusinya. Suamiku apalagi, dia sudah berada di lingkaran separuh-sandwich-generation-ini sejak kecil. Dia kerap cerita, sejak kecil sudah sering menghadapi penagih hutang datang ke rumahnya dan rupanya hal itu bikin dia cukup trauma. Akhirnya si bojo jadi cuek sama masalah yang dihadapi orang tuanya. Makin lama, bola salju ini justru makin besar dan meledak pasca kami menikah dan punya anak.

Aku terdorong untuk sharing tentang self-experience ini sejak baca cerita kliennya JouskaIndonesia. Dari situ aku merasa nggak sendiri. Sebagai perempuan yang nikah muda disaat temen-temen sebaya lagi hura-hura, nggak banyak sahabat yang bisa dan mau dengerin curhatanku, apalagi paham kondisiku dan memberi solusi. Kadang aku pun ngerasa sendiri, kayak “well, kayaknya keluarga yang ngalamin hal ini cuma aku ama bojo seorang” , begitu ada yang cerita kisah pribadinya, aku langsung merasa berenergi lagi dan semakin yakin bahwa pasti ada solusi! Aku lupa nama kliennya (cari aja di highlight insta-storynya), tapi seingatku problemnya pun sama: jadi sandwich generation. Bedanya cuma di usia ama nominal angka aja~

Meski pahit, banyak drama, dan lain sebagainya, yang namanya ujian dalam pernikahan itu perihal yang pasti dan mutlak. Saat itu modal utamaku yakin aja, dengan usaha keras untuk membantu orang tua, dengan niat yang terus diperbaiki, dan sambil terus berdoa semoga Allah memberi jalan keluar dan memberi keberkahan.

Siapa tau “surga” kita ada disini? Ye khan..

Allah nge-training dengan ketat. Kami diuji mulai dari tabungan banyak, tabungan menipis, nyaris kosong, hingga dinamika pemasukan yang minim banget. Minta bantuan sana-sini, pinjem uang sana sini untuk ngebantu melunasi utang yang terbilang cukup urgent untuk segera ditangani. Belum lagi membiayai pendidikan adik ipar. Belum lagi biaya anak. Pernah nggak ada di kondisi macam ini di usia muda? Ngacung dalam hati aja ya ahaha.

Tanpa kami sadari, tangan Allah bekerja. Seperti sulap yang memberi kami kejutan-kejutan manis pada tiap detiknya. Adik iparku dapat beasiswa full di salah satu universitas negeri di Surabaya, utang berbunga mertua lunas bersih dalam waktu 3 tahun meskipun masih ada utang lain yang sifatnya printilan dan nggak berbunga, serta ada pemasukan lain yang sifatnya lebih stabil. Bonusnya, beliau bisa lebih menerima edukasi dan arahan dari kami mengenai keuangan rumah tangga. Proses transfer knowledge bisa diterima, wawasan beliau lebih terbuka, sikap dan keputusan mereka pun berubah. Sekarang sudah say no to utang, bahkan beliau juga punya tabungan.

Ngelihat progres yang membaik, ada hal yang aku sadari belakangan ini. Besar atau kecilnya pemasukan, mengatur keuangan itu WAJIB dipahami sama semua orang, biar nggak terjerat jebakan finansial seperti ini. Pemasukan kecil nggak bisa hidup? Bisa! Justru dengan income yang kecil harus lebih cerdas ngaturnya. Apalagi kalau dapat pemasukan yang lebih besar, kudu lebih hati-hati lagi. Jangan sampai “uang mengubah perilaku”.

Balik ke sandwich generation tadi. Setelah mengalami sendiri, aku belajar beberapa hal. Ada faktor-faktor penyebab yang perlu dipahami. Pertama, biar nggak melulu menyalahkan orang tua plus biar bisa jadi orang tua yang lebih baik di masa depan. Kedua, jadi makin yakin semua persoalan finansial PASTI ada solusinya. Kuncinya ada di caranya mengatur keuangan, sesedikit apapun pemasukan kita.

Kadang pada titik ini berbisik dalam hati, “mungkinkah ini yang namanya berkah?”


Penyebabnya apa aja?

Aku pernah diberi nasihat oleh dokter bahwa nggak seharusnya kita memberi obat batuk sembarangan sama anak. Soalnya, batuk itu ada banyak jenisnya dan kalau mau mengatasinya dengan efektif ya harus tau dulu apa penyebabnya.

Relevan ya sama permasalahan hidup. Kalau ada masalah, cari dulu penyebabnya baru gali solusinya. Jadi kita bisa menyelesaikan problem tepat pada sasaran, efektif, efisien, menghemat waktu, uang dan tenaga. Orang-orang yang ada di lingkarang sandwich generation ini juga ada beberapa faktor penyebab. Apa aja, ini berdasarkan pengalaman pribadi aja ya, bisa disimak:

1. Beda generasi, beda karakter. Sudah tau kan kalau orang yang lahir tahun 1961 – 1980an itu namanya generasi X, sedangkan generasi yang lahir tahun kita-kita ini disebut generasi millennials, dan adik-adik atau anak-anak kita disebut dengan Gen Z. Klasifikasi generasi itu salah satunya selain karena kepentingan market, juga  ada perbedaan karakter yang khas di dalamnya baik secara global (generasi X di seluruh dunia) maupun lokal (generasi X di Indonesia) yang dipengaruhi berbagai peristiwa sosio-politik-ekonomi, dan lain sebagainya. Karakter orang tua kita, yang umumnya termasuk generasi X, banyak aku temui punya kekurangan cukup permisif dengan utang dan gaya hidup yang menitikberatkan pada penilaian orang lain. Ini nggak semua sih ya, tapi umumnya aja. Aku baca referensi juga disini.

Bapak-Ibu mertua dan kedua orang tuaku pun termasuk di aliran ini. Bedanya, ayah-ibu ngutang gede tapi punya cadangan. Mertuaku, utang gede, gak punya cadangan, di rentenir pula. Keduanya sama-sama nggak aku sukai sih, karena prinsip yang aku pegang berbeda dengan mereka.

Bukan salah mereka sepenuhnya juga menurutku. Sebab ya memang itulah wawasan yang mereka terima pada waktu itu. Sama halnya di zaman sekarang, generasi millennials yang lahir ditengah penetrasi teknologi dan internet yang kuat, mana bisa kita lepas dari smartphone? Mana bisa kita nggak kena fenomena FOMO? Susah to, kalau ndak punya prinsip yang kuat. Ya sama, mereka pun begitu. Bagi mereka, langkah itu sudah yang paling tepat yang bisa diambil.

Coba bandingkan di era sekarang, dimana edukasi keuangan lebih mudah kita dapatkan, edukasi bahaya riba pun mudah kita kunyah sampai kenyang. Orang tua kita, hampir sebagian besar, tidak punya akses kesana. Atau punya pun, enggan membuka pikiran untuk wawasan yang baru.

2. Pola parenting zaman old. Zaman dulu, kita pasti sering dengar orang tua tipikal macam ini:
anak kecil tau apa?
kamu masih muda, bapak yang lebih berpengalaman!
sudahlah, kamu nggak tau apa-apa.
dan kalimat-kalimat lain yang serupa, terutama ketika posisinya anak lagi ngasih masukan ke orang tua. Hebat lah kalau ada orang tua di generasi X ini yang mau mendengarkan dan mempertimbangkan nasihat anaknya dengan baik. Kebanyakan sih, nggak mau, sebab umumnya mereka merasa lebih tua, lebih berpengalaman, dan gengsinya gede banget. Lagi-lagi nggak salah mereka juga, sebab hal seperti itu merupakan turunan atau warisan gaya parenting dari generasi sebelumnya. Aku yakin generasi millennials pun ada yang berpikiran begitu ke anaknya. Kalau ada beberapa orang tua yang berusaha “mendobrak” pola yang sudah turun temurun itu karena mereka dapat wawasan yang lebih dan kemudian menularkan ke yang lain.

3. Wawasan terbatas.
Poin ini berhubungan dengan poin-poin di atas, karena “doktrin” yang mereka terima berbeda, ditambah gengsi yang cukup besar, jadi enggan juga untuk menerima pandangan baru, wawasan baru, yang bisa jadi bagi mereka hanya omong kosong belaka. Karena wawasan terbatas pula, kita sebagai anak harus lebih keras meyakinkan dan membuktikan bahwa apa yang kita bicarakan itu “ada benarnya” atau setidaknya mampu menghasilkan keputusan yang lebih baik ketimbang sebelumnya.

4. Kondisi yang memaksa.
Kadang ada beberapa kondisi genting yang mau nggak mau harus utang di bank tithil. Meskipun tau resikonya, meskipun tau betapa mencekik, tapi mau nggak mau.. dengan asumsi berutang untuk menambah aset kantor. Buat yang muslim, tentu kita paham utang macam ini justru mendatangkan “musuh” yang nggak keliatan dan menjadi penyebab gagalnya bisnis.

5. Salah kaprah mengatur keuangan.
Pemasukan dikit, pesimis, apa yang mau diatur? Pemasukan banyak, hedon. Jebakan posisi sandwich generation ini hampir pasti mendera keluarga yang diri maupun orang tuanya nggak bisa mengatur keuangan dengan baik, nggak punya tabungan, dan nggak mempersiapkan rencana aktivitas di hari tua.



Solusinya gimana, dong?

Pertama, mulai sekarang dan jangan ditunda-tunda, segera benerin kondisi keuangan pribadi. Selamatkan dulu apa yang jadi prioritas utama, misalnya cicilan, biaya pendidikan anak, tabungan dan apapun yang sifatnya nggak bisa diganggu gugat. Kemudian sisihkan juga sebagian pemasukan untuk tabungan dan dana darurat agar kalau sewaktu-waktu ada “teror” mendadak, kita nggak gelagapan. Ingat, sedikit bukan masalah, asalkan rutin. Usahakan juga menabung dengan tujuan, agar kita pun punya rasa kontrol dari dalam.

Poin ini juga penting banget bagi temen-temen yang menanggung beban orang tua yang sudah usia lanjut dan punya penyakit tertentu sehingga nyaris tidak mungkin memiliki aktivitas produktif lainnya. Kalau sudah pada titik ini, mungkin asuransi (minimal asuransi kesehatan) bisa membantu ya, tapi balik lagi ke prinsip, kemampuan, dan kebutuhan.

Kedua, bantu orang tua memperbaiki kondisi keuangannya. Dengan cara apa? Kalau punya utang, rinci semua tanggungan utangnya dan buat skala prioritas, mana yang harus lunas duluan. Usahain yang namanya utang harus selesai duluan soalnya ini beban banget, gengs, apalagi kalau bunganya besar. Kalau nggak punya utang tapi pemasukan bulanan masih bergantung sama kita, bicarakan seberapa mampu memberi orang tua uang per bulan. Beri pengertian juga mengenai kondisi ekonomi kita agar beliau nggak salah paham. Topik perduitan itu sering bikin orang sensitif lho~

Ketiga, edukasi orang tua. Perlu banget nih untuk memberi wawasan baru bahwa “oh utang itu nggak baik lho atau oh rupanya di hari tua pun bapak/ibu tetap bisa produktif dan beraktivitas lho”. Sulit sih, iya sulit. Tapi bukan nggak mungkin, to? Kalau orang tua tipikal yang keras kepala dan ngeyelan, edukasi secara perlahan. Mulai dari memperbaiki pengelolaan keuangan rumah tangga, kontrol pengeluaran, memberdayakan mereka dengan cara memberi peluang wirausaha dengan resiko minimal, dan lain sebagainya. Percaya deh, pada satu titik usaha kita untuk mengedukasi mereka akan dibantu sama Tuhan.

Keempat, harus tegas. Perlu kita akui bahwa nggak semua orang tua itu bisa mengerti kondisi anaknya dengan baik. Ada yang sering geger-an ama mertua karena nggak puas sama jatah bulanan dan menganggap si menantu jadi penyebabnya, ada juga orang tua yang sudah dikirimin uang bulanan eh malah konsumtif. Kalau sudah kayak gini, kayak ngisi air di gelas yang bochoor. Hehehe. Jadi kudu bisa tegas. Tegas sama orang tua nggak berarti harus membentak dengan ucapan kasar, tapi sebuah prinsip dan sikap yang kita tunjukkan sama beliau. Kalau ngomongin ketegasan, aku jadi teringat ayahku yang tegas banget sama kedua orang tua dan mertuanya kalau masalah penyelewengan dana bulanan dan utang-utang. Kalau ayah yakin benar, ayah bisa nggak nurunin dana lagi, bahkan nggak sungkan memberi pelajaran.

Kelima, koreksi gaya hidup, baik gaya hidup kita maupun orang tua. Kalau biasanya belanja bulanan habis 2 juta, bisa lah ditekan dikit. Kalau diapers anak habis 500 ribuan, bisa dong cari merk alternatif dan mulai ngajarin toilet training.

---
Nah gimana, udah cukup panjang kan? Yuk sharing di kolom komen dibawah ini. Oiya, aku juga lagi sharing beberapa buku finansial (basic) untuk ibu rumah tangga di instagram aku. Kita sama-sama belajar yah bunda

April 14, 2018

STOP! Jangan Belanja Dulu Sebelum Baca Tips Konsumen C.E.R.D.A.S Ini!

by , in

harkonas, harkonas 2018, lomba blog harkonas, tips belanja online, tips aman belanja online, koncer adalah, tips konsumen cerdas, konsumen cerdas di era digital

Konsumen Cerdas di Era DigitalDatangnya era digital membawa sejumlah keuntungan luar biasa bagi Indonesia. Lihat saja data pertumbuhan UMKM yang go online dan mendunianya start up buatan anak negeri seperti Gojek. Tahun 2020 nanti, diperkirakan pertumbuhan start-up Indonesia mencapai 2.000 yang merupakan tertinggi di Asia Tenggara. UMKM pun tidak kalah, pada tahun 2015 lalu diperkirakan jumlah UMKM mencapai 60,7 juta unit dan sebagian besar merupakan usaha berskala mikro (sebanyak 98,73%). Sebagian dari UMKM tersebut sudah naik kelas dengan cara go online. Langkah ini tentu sejalan dengan perkembangan era digital dan kemampuan konsumen dalam menyerap teknologi.

Indonesia memiliki populasi sebanyak 265,4 juta jiwa (Januari 2018) dengan tingkat urbanisasi sebanyak 56%. Dari angka itu, sebanyak 132,7 juta adalah pengguna internet yang pada awal tahun 2018 ini mengalami kenaikan sebesar 50%. Kemudian, lebih rinci lagi jika kita ingin melihat aktivitas jual beli di e-commerce selama bulan Desember 2017 – Januari 2018, sebanyak 45% mencari produk dan jasa secara online dan sebanyak 40% membayar produk atau jasanya via online pula. (sumber : We Are Social)

harkonas, harkonas 2018, lomba blog harkonas, tips belanja online, tips aman belanja online, koncer adalah, tips konsumen cerdas, konsumen cerdas di era digital


Pertumbuhan produsen dan penjual yang beragam ini sangat menguntungkan konsumen. Namun disisi lain, konsumen juga sering rugi karena ulah para penjual nakal yang bertebaran, baik melalui penjual lokal maupun penjual produk yang datang dari Tiongkok. Tidak jarang pula, banyak sekali konsumen yang mengeluhkan zonk atau bahasa Jawanya kecele’ setelah membeli barang dengan cara memesan online, seperti di bawah ini:
harkonas, harkonas 2018, lomba blog harkonas, tips belanja online, tips aman belanja online, koncer adalah, tips konsumen cerdas, konsumen cerdas di era digital


Tipe pembeli konvensional pun juga tidak luput dari sasaran. Mereka sering tertipu karena permasalahan klasik, seperti: (1) produk krim dokter yang merusak wajah dan setelah diteliti rupanya belum BPOM, (2) produk yang telah kadaluarsa tetapi masih di pajang di display toko, (3) produk anak yang tidak ber-SNI sehingga berpotensi mencelakakan, dan lain sebagainya.

Tantangan ini memang wajar terjadi mengingat Indonesia sekarang sedang berada di zona perdagangan bebas. Penduduk Indonesia bahkan bisa dengan mudah membeli produk Tiongkok yang dijual secara ecer dari sebuah e-commerce dengan harga murah, bahkan seringkali harganya “tidak rasional” saking kelewat murahnya.

Dengan masuknya Indonesia dalam zona ini, selain menuntut pelaku usaha untuk terus belajar, konsumen pun juga dituntut untuk aktif menggali ilmu dan update wawasan. Tenaga kepolisian tentu sangat terbatas untuk menindak para oenipu, apalagi jika sudah melewati batas negara. Satu-satunya yang dapat menyelamatkan kita dari penipuan ya diri kita sendiri, dengan cara menjadi konsumen cerdas di era digital!


Menjadi Konsumen C.E.R.D.A.S

Berterima kasih dulu yuk sama pemerintah karena sudah mengadakan HariKonsumen Nasional (yang diselenggarakan oleh Pemerintah dengan koordinasi Direktorat Pemberdayaan Konsumen, Direktorat Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen, Kementerian Perdagangan) dan mengajak masyarakat untuk menjadi konsumen cerdas di era digital. Terlebih di era digital ini, masyarakat dituntut untuk terus meng-upgrade wawasan produk, kemanan produk yang di konsumsi, termasuk bagaimana cara menegakkan hak-hak konsumen yang dilanggar. Terdengar ribet, ya?

Enggak, kok! Era digital kan sudah menyediakan informasi yang melimpah ruah, eh tapi jangan sembarang memakan informasi ya! Pastikan informasi yang kamu lahap berasal dari sumber yang terpercaya dan bisa dipertanggungjawabkan. Salah satunya ada di website Harkonas dan di postingan ini wehehehe.

Konsumen C.E.R.D.A.S. yang aku tulis ini merujuk pada C.E.R.D.A.S sebagai sebuah aksi berupa Cintai, Eliminasi, Rasional, Datangi, Amati, dan Sadari.

harkonas, harkonas 2018, lomba blog harkonas, tips belanja online, tips aman belanja online, koncer adalah, tips konsumen cerdas, konsumen cerdas di era digital


Apa aja tuh? Scrolling dibawah ini ya untuk wawasan lebih jauhnya:

C : Cintai Produk dan Jasa Dalam Negeri

Bukan rahasia lagi kalau start-up dan e-commerce asal Indonesia sangat diminati oleh pengusaha luar negeri. Bahkan jika boleh blak-blakan, ada beberapa e-commerce dan start-up yang baru-baru ini diberi suntikan dana besar oleh Alibaba, perusahaan yang kerap disebut-sebut menguasai ⅓ pasar dunia. Wow banget, kan? Betapa banyak orang asing yang ingin mendapatkan “data” serta perilaku konsumen Indonesia dari berbagai e-commerce itu. Makanya nggak heran kan banyak sekali e-commerce yang menawarkan free ongkir dan flash sale, sebab mereka memang memiliki modal besar dan sebagai gantinya mereka bisa mendapatkan data konsumennya.

Persaingan ini selain membawa keuntungan bagi sebagian UMKM untuk go online, juga membuat membuat pengusaha mikro, kecil, dan menengah Indonesia jadi harus bersaing ketat mengenalkan produk terbaiknya, memberikan harga terbaik, serta kualitas terbaik untuk konsumen. Sebetulnya, produk-produk Indonesia itu kualitasnya sangat baik, lho. Beberapa bahkan sudah memenuhi kualifikasi eksport. Selain itu, produk Indonesia lebih mudah kita kenali serta mendapatkan sertifikat SNI dan BPOM.
harkonas, harkonas 2018, lomba blog harkonas, tips belanja online, tips aman belanja online, koncer adalah, tips konsumen cerdas, konsumen cerdas di era digital


Yuk, mulai cintai dan berdayakan produk lokal. Sebisa mungkin kita utamakan untuk beli barang dan mengonsumsi jasa dari pengusaha lokal, sebab keuntungannya akan kembali ke negara ini juga, kok.

E : Eliminasi yang Tidak Ber-SNI

Datangnya gelombang produk dari negeri tetangga sekaligus membawa variasi produk yang tidak ber-SNI. Apa sih SNI itu? Secara ringkas, SNI merupakan singkatan dari Standar Nasional Indonesia. Sebagaimana lazimnya di sebuah negara, Indonesia juga memiliki standar untuk setiap produk yang beredar, dan SNI menjadi satu-satunya standar yang berlaku secara nasional di Indonesia. Ada beberapa produk yang tidak wajib atau sukarela berlabel SNI, ada beberapa produk yang wajib ditandai sebagai SNI, terutama produk yang berkaitan atau bertujuan untuk:

  1. Perlindungan konsumen, tenaga kerja yang membuat produk, serta masyarakat dari aspek keselamatan, keamanan dan kesehatan.
  2. Pertimbangan keamanan negara
  3. Tuntutan perkebangan ekonomi dan kelancaran iklim usaha yang sehat
  4. Pelestarian fungsi lingkungan hidup.
harkonas, harkonas 2018, lomba blog harkonas, tips belanja online, tips aman belanja online, koncer adalah, tips konsumen cerdas, konsumen cerdas di era digital

Sebagian besar produk beredar yang tidak ber-SNI, terutama yang datangnya dari negara tetangga, adalah produk untuk anak-anak. Sebagai orang tua, tentu ingin safety first untuk anak-anaknya, kan? Nah, ada baiknya saat belanja online maupun offline, kita mulai mengeliminasi produk yang tidak ber-SNI.

Caranya: (1) bisa tanya langsung ke penjual, apakah produk ini sudah ber-SNI? Biasanya jika penjual online cukup transparan, mereka akan menuliskan pada deskripsi produk bahwa sebuah produk sudah ber-SNI. (2) Jika beli di toko offline, lihat saja apakah terdapat logo SNI pada kemasan produk.

R : Rasional dalam Membeli, Beli Sesuai Kebutuhan

Banyaknya iming-iming diskon yang ditawarkan oleh e-commerce dan berbagai toko online, temtu sangat memikat. Apalagi dengan adanya Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional) setahun sekali, dimana pada tahun 2017 lalu sebanyak 89% dari pengguna internet di Indonesia sudah sadar kapan Harbolnas akan datang. Nah, yang mengejutkan sebanyak 55% pembeli adalah laki-laki dan 45% nya perempuan. Rupanya, belanja tidak lagi identik dengan women thing, ya? Selain itu, adanya diskon (80%), bebas biaya pengiriman / free shipping (50%), voucher (39%), dan cashback (23%) yang ditawarkan e-commerce dan penjual, semakin meningkatkan minat pembelian.


harkonas, harkonas 2018, lomba blog harkonas, tips belanja online, tips aman belanja online, koncer adalah, tips konsumen cerdas, konsumen cerdas di era digital


Syukurlah, 56%-nya adalah pembeli yang sudah merencanakan mau membeli produk atau jasa apa. Selanjutnya, 33% merupakan pembeli yang merencakan untuk membeli tapi belum tau produk atau jasa yang di beli. Terakhir, sebanyak 11% merupakan pembeli yang impulsive atau belanja “gila-gila”an pada saat Harbolnas. Wah, alhamdulillah rupanya cukup banyak juga ya konsumen cerdas dan belanja sesuai kebutuhan di Indonesia, setidaknya untuk momen Harbolnas 2017 lalu.

Tipsnya adalah: (1) sekali lagi, perhatikan apa saja yang menjadi kebutuhan dan buatlah skala prioritas; (2) buatlah anggaran belanja bulanan, mulai dari barang yang sifatnya primer, sekunder, dan tersier. Tenang saja, diskon dan produk itu pasti datang lagi di lain kesempatan. Percayalah!

D : Datangi Sumber Ilmu untuk Konsumen di Harkonas.id

Mungkin saat ini banyak yang bertanya, dimana saja kita bisa mendapatkan wawasan terpercaya untuk konsumen? Jawabannya: banyak banget! Salah satunya kamu bisa memanfaatkan media yang disediakan pemerintah, lewat website Harkonas www.harkonas.id. Lihat, banyak berbagai tips mulai dari membeli HP hingga pakaian.
harkonas, harkonas 2018, lomba blog harkonas, tips belanja online, tips aman belanja online, koncer adalah, tips konsumen cerdas, konsumen cerdas di era digital

A : Amati Tanggal Kadaluarsa

Hampir semua produk makanan baik yang homemade maupun buatan perusahaan besar, memiliki tanggal kadaluarsa. Sebelum membeli, cek dengan baik tanggal kadaluarsanya ya, siapa tau ada toko yang lalai menaruh produk yang telah kadaluarsa. Jika kamu membeli makanan secara online, minta info tanggal kadaluarsanya kepada penjual, atau sekaligus bisa request produk yang kadaluarsanya masih lama.

S : Sadari Hak dan Kewajiban Kita Sebagai Konsumen

Apa aja sih hak dan kewajiban kita sebagai konsumen? Aku yakin belum banyak yang tau tentang ini. Sebetulnya, pemerintah sudah memberikan arahan bagi masyarakat, apa saja hak dan kewajiban konsumen serta produsen atau penjual dalam UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Tapi, kamu nggak perlu susah payah download regulasinya. Nih, cukup baca gambar dibawah ini:






Kamu bisa simpan infografis yang aku buat secara GRATIS. Oiya jangan lupa, bagikan video ini ke teman-temanmu juga ya, agar semakin banyak yang beralih jadi konsumen cerdas di Indonesia :)



Tips Aman Transaksi Saat Belanja Online

Meskipun sudah banyak yang berhasil melakukan pembelian secara online, masih saja kita temui berbagai kasus penipuan transaksi online. Apakah kamu salah satunya?

Untuk mengantisipasinya, para konsumen cerdas di era digital perlu baca beberapa tips ini:
harkonas, harkonas 2018, lomba blog harkonas, tips belanja online, tips aman belanja online, koncer adalah, tips konsumen cerdas, konsumen cerdas di era digital
1. Transaksi via m-banking, i-banking, atau virtual account (pada e-commerce). Hal ini untuk menghindari pencurian data dan password yang lagi marak terjadi beberapa wwaktu lalu.
2. Jika belanja di e-commerce, pastikan rekening yang muncul adalah atas nama e-commerce tersebut (atau rekening bersama). E-commerce berlaku sebagai pihak perantara yang menyalurkan dana dari pembeli ke penjual. Penjual tidak akan mendapatkan dana jika pembeli belum konfirmasi kedatangan barang. Cukup adil, bukan?
3. Jika belanja di online shop biasa (via instagram, whatsapp, atau Line@) pastikan rekening yang tertera atas nama owner, sesuai yang ada di profil atau rekening yang di publikasikan. Sebab, sekarang sudah marak pembajakan akun para online shoppers, sehingga pembeli yang tidak tahu, akan transfer ke rekening si hacker.
4. Cek kembali apakah online shop tersebut memiliki sejumlah testimoni yang asli dan terpercaya. Endorse ke beberapa selebgram atau artis Ibukota juga bisa menambah kredibilitas online shop tersebut. Bisa juga mengecek rating toko online di Google Maps atau di e-commerce terkait.
5. Cek foto produk atau jasa, asli atau bukan. Cek pula asal produk, terutama untuk penjual produk import.
6. Cek apakah ia memiliki akun lain selain Instagram, misalnya facebook fanspage dan website, serta amati apakah kira-kira online shop tersebut cukup jujur dalam menjalankan jual-beli.
7. Mintalah resi pengiriman setelah barang dikirim.
8. Segera laporkan ke pihak berwajib jika terjadi kejahatan.

Gimana, sudah lumayan tercerahkan belum? Hihihi semoga tulisan ini cukup bergizi ya, ada sebuah wawasan baru yang kamu peroleh sebagai konsumen. Sharing dibawah ini yuk, suka duka kamu belanja di era digital. Plus, jangan lupa upgrade wawasan untuk konsumen di www.harkonas.id, ya!




---
Catatan:
Gambar adalah kreasi penulis, sumber gambar disertakan pada tiap tulisan

Referensi:
http://www.beritasatu.com/iptek/391066-2020-jumlah-startup-di-indonesia-capai-13000.html
http://bsn.go.id/main/berita/berita_det/7147/Apa-Perlunya-SNI-dan-Apa-Manfaatnya-#.WtCGXnpubIU
www.harkonas.id
Leisure Economy - Yuswohady
Insight Harbolnas 2017 - Nielsen Company



April 11, 2018

My Happy Life Before 40s: Lepas dari Zona "Sandwich Generation"

by , in
commonwealth life, commlife, unit link, asuransi jiwa, manfaat asuransi, investasi terbaik, sandwich generation, solusi untuk sandwich generation, keluar dari lingkaran sandwich generation, happy life before 40s


My Happy Life Before 40s – Tiga tahun lalu, aku resmi “masuk” ke lingkaran sandwich generation (SG). Sebuah pengalaman yang cukup ekstrem, sebab umumnya SG terjadi di usia 30-40 sedangkan aku mengalaminya di usia 20an.

Nah, apa sih sandwich generation itu? Lihat gambar dibawah ini ya:
commonwealth life, commlife, unit link, asuransi jiwa, manfaat asuransi, investasi terbaik, sandwich generation, solusi untuk sandwich generation, keluar dari lingkaran sandwich generation, happy life before 40s

commonwealth life, commlife, unit link, asuransi jiwa, manfaat asuransi, investasi terbaik, sandwich generation, solusi untuk sandwich generation, keluar dari lingkaran sandwich generation, happy life before 40s


Menjadi Sandwich Generation di Usia 23 Tahun

Romantisme di awal pernikahan tergeser oleh realita pahit yang harus kami telan. Pertama, utang mertuaku rupanya mencapai ratusan juta, jumlah yang tidak sedikit untuk masyarakat menengah kebawah. Kedua, kami harus berupaya keras mengubah mindset mertuaku agar berkenan menyelesaikan utang di rentenir. Di usia pernikahan yang masih sangat muda, badai finansial ini tentu menjadi pukulan berat bagi kami.

commonwealth life, commlife, unit link, asuransi jiwa, manfaat asuransi, investasi terbaik, sandwich generation, solusi untuk sandwich generation, keluar dari lingkaran sandwich generation, happy life before 40s


Pada tahun kedua pernikahan, kami dikaruniai seorang bayi lucu yang membutuhkan perhatian dan biaya yang tidak sedikit. Namun, energi, pikiran, dan tabungan kami lebih banyak tergerus untuk kepentingan mertua. Bahkan seringkali kami berdua menunda kebutuhan pribadi.

Kalau sudah begini, tidak ada opsi lain selain move on dan memetakan strategi! Drama demi drama, pelan tapi pasti, utang rentenir lunas. Rumah yang hampir disita pun bisa kami pertahankan. Kemajuan signifikan ini membuat kami makin ingin keluar dari lingkaran SG secepatnya.


Tiga Tips Cerdas untuk Sandwich Generation

Pertama, suami-istri perlu memegang rincian beban orang tua kemudian tentukan alokasi dana bulanannya. Kedua, jika orang tua termasuk yang suka menjaminkan rumah, tahan saja sertifikat rumahnya. Ketiga, buat perencanaan yang matang, mulailah memilih asuransi serta investasi terbaik. Mumpung masih muda, jadi bisa prepare lebih awal jika mulai investing dari sekarang.


Memilih Asuransi dan Investasi Terbaik

Tentu saja aku selektif dalam memilih asuransi dan investasi terbaik sebagai solusi cerdas untuk sandwich generation. Aku ingin mempercayakannya pada lembaga kredibel dan berprestasi, yaitu Commonwealth Life yang telah melayani nasabah sejak 1992. Selain itu, CommLife merupakan perusahaan asuransi jiwa yang sudah terdaftar dan diawasi OJK serta termasuk perusahaan asuransi yang transparan.

Alasan lain aku memilih CommLife adalah dia memiliki produk cerdas jenis Unit Link (penggabungan asuransi dengan investasi) yang rinciannya ada dibawah ini:
commonwealth life, commlife, unit link, asuransi jiwa, manfaat asuransi, investasi terbaik, sandwich generation, solusi untuk sandwich generation, keluar dari lingkaran sandwich generation, happy life before 40s



commonwealth life, commlife, unit link, asuransi jiwa, manfaat asuransi, investasi terbaik, sandwich generation, solusi untuk sandwich generation, keluar dari lingkaran sandwich generation, happy life before 40s

Setelah mempelajarinya, aku dan suami berkeinginan menjajal produk INVESTRA Link yang bermanfaat tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga keluarga. Dengan memilih produk CommLife ini, aku mendapatkan sejumlah manfaat asuransi dan investasi yaitu:
  1. Bisa merencanakan berbagai tujuan masa depan untuk anak, pribadi, dan orang tua.
  2. Khusus untuk produk INVESTRA Link, ada manfaat berupa potensi hasil investasi optimal melalui 8 pilihan jenis dana investasi (termasuk dana investasi syariah).
  3. Menumbuhkan rasa aman dan tenang.
  4. Membantu pengelolaan keuangan setiap bulan.
  5. Lebih efisien dan dapat memindahkan resiko.
commonwealth life, commlife, unit link, asuransi jiwa, manfaat asuransi, investasi terbaik, sandwich generation, solusi untuk sandwich generation, keluar dari lingkaran sandwich generation, happy life before 40s

Mungkin pepatah yang tepat adalah when life gives you lemon, make a lemonade! 😊 Jadi bersyukur Tuhan memberi cobaan di awal pernikahan sebagai sarana untuk mempersiapkan perencanaan keuangan yang lebih baik. Dengan persiapan dini dan grow save with Commonwealth Life, tentu besar harapan kami berdua agar bisa hidup lebih bahagia di hari tua kelak. Nih, simak video dari CommLife yang relatable banget sama kehidupan kita.


Mimpi kami sederhana: keluar dari lingkaran sandwich generation dan bisa menikmati masa tua dengan tenang serta penuh produktivitas. Mohon doanya ya.. 😊 #IChooseHappy

commonwealth life, commlife, unit link, asuransi jiwa, manfaat asuransi, investasi terbaik, sandwich generation, solusi untuk sandwich generation, keluar dari lingkaran sandwich generation, happy life before 40s






Catatan:
Seluruh foto diambil dari freepik.com, kecuali foto instagram dan pernikahan (milik pribadi)
Semua desain infografis adalah milik dan buatan penulis
Sumber konten: website CommLife

Referensi:
http://www.commlife.co.id/
https://ekonomi.kompas.com/read/2013/12/19/1022518/Ini.Solusi.Bagi.Sandwich.Generation