Jumat, 15 Februari 2019

,



Tanggal 14 Februari adalah sebuah tanggal sekaligus momen yang selalu berkesan buatku dan suami. Tepatnya empat tahun yang lalu, berdasarkan diskusi kedua keluarga tentang “hari baik”, mereka sepakat untuk menikahkan kami berdua pada tanggal 14 Februari 2015. Ndilalah, kok ya bertepatan dengan Hari Valentine! Seneng dong ya, alhamdulillah tahun ini aku dan suami berhasil melalui 4 tahun bersama. Jujur saja, tantangannya buanyak bangeeet hahaha aku rasa semua rumah tangga pasti ngalamin yah berbagai cobaan dan kesenangan. Hanya saja pasti berbeda ujiannya.

Aku sudah excited nih, mau dikasih kado apa yaa sama suami? Eh, tapi kok doi anteng aja ya, nggak ada tanda-tanda mau ngasih surprise. Setelah aku tanyain, bener aja, dia lupa! ABCD! Aduh bok capek deh!



Fine. Nggak baper. Aku sudah terbiasa dengan dia yang cuek, pelupa, endebrei endebrei. Akhirnya aku todong langsung saja via WA. Aku singgung dia yang lupa hari anniversary kami dan dia cuma ngasih emot ketawa. Untungnya di akhir dia menjanjikan sesuatu: nanti kita jalan-jalan ya… YES!


Traveling Bersama Setelah Punya Anak, Sekedar Wacana, kah?

Tentu sulit menolak ajakan jalan-jalan dari suami. Pada dasarnya, kami berdua suka banget traveling. Namun, sejak ada duo krucil, jalan-jalan jadi lebih ribet, lebih mahal, dan sudah pasti jadi rame-rame gitu. Aku sampai lupa kapan terakhir jalan-jalan mesra berdua saja sama suami.


Saat dia mengajak untuk traveling lagi, entah berdua maupun sama anak-anak, rayuan darinya bak angin segar di pagi hari. Membuatku jadi lebih bersemangat.

Aku juga berdoa dalam hati, semoga agenda jalan-jalan di tahun ini nggak sekedar wacana. Secara, bisa berlibur setahun sekali tuh udah syukur banget deh, saking susahnya mendapatkan jadwal longgarnya Pak Suami. Tahun 2018 lalu, kami bisa berlibur tahun baru ke pantai selatan Malang. Tahun ini, alhamdulillah aku bisa berlibur sendiri ke Turki. Tapi tetap saja kurang rasanya kalau tanpa keluarga. Untuk tahun ini, kami berdua sudah sepakat bahwa hidup harus lebih imbang. Work hard, travel hard. Biar nggak suntuk dan bonding antara suami istri serta dengan anak-anak tetap sehat.


Biar nggak hanya jadi wacana belaka, aku melakukan beberapa hal ini dengan suami:

Menetapkan tujuan jalan-jalan. Terdengar serius, ya? Padahal enggak, kok. Maksudku menetapkan tujuan ini agar mempermudah penganggaran dan penentuan lokasi berlibur saja. Sebetulnya awal bulan Februari ini suami sempat mengajak aku dan anak-anak untuk menemaninya kerja di Banyuwangi, namun aku menolak karena pasti nggak nikmat lah ya jalan-jalannya karena fokusnya saja sudah beda dan pasti uang bakal terbuang sia-sia.

Menetapkan waktu. Aku menodong suami untuk menentukan waktu yang pas untuk traveling bareng. Kalau jadwalku sih fleksibel banget ya, berbeda dengan suami yang terikat dengan jadwal mengajar dan penelitian. Bahkan terkadang, waktunya mahasiswa libur, dia tuh nggak libur, lho. Jadi aku meminta ia untuk mengira-kira pada bulan dan tanggal berapa ia ada waktu luang.

Menetapkan destinasi. Nah, setelah menentukan perkiraan waktu, tentu akan lebih mudah untuk menetapkan destinasi wisata untuk keluarga kecilku ini. Aku prefer bepergian saat tidak musim hujan ya, biar nggak terlalu rempong gitu, soalnya kan bawa anak-anak.


Destinasi Wisata Ideal untuk Keluarga

Karena bakalan traveling sama anak-anak, aku pun berusaha mencari jalan tengah: ke destinasi yang aku sukai dan ramah anak-anak. Usai berdiskusi dengan suami, kami memilih untuk ke Bali! *drum roll* Alasannya, karena aku kepengen (banget!) mantai bareng anak-anak, lokasinya tidak terlalu jauh tapi masih tergolong tourisity, dan aku memang sudah luama banget nggak ke Bali. Terakhir ke sana kalau nggak salah sekitar tahun 2014 sebelum aku menikah.

Ke Bali ini juga banyak manfaatnya ya, antara lain mengajak anak-anakku naik pesawat, mengenalkan mereka pada keberagaman, serta mengajak mereka ke tempat yang ramai. Aku pun mulai hunting lokasi-lokasi yang cantik dan yang belum pernah aku datangi.

Kami merencanakan liburan ke Bali pasca lebaran. Lama banget, ya? Hehehe gapapa, lah, ya memang begini rempongnya mau liburan kalau sudah berkeluarga! Dengan cepat aku sudah bisa menentukan akan kemana saja jika nanti berlibur ke Bali. Beberapa lokasi sudah pernah aku datangi tahun 2012 dulu, beberapa lagi aku belum pernah ke sana sama sekali.

Tempat yang pernah aku datangi dan ingin aku ulangi bersama keluargaku antara lain Pantai Jimbaran (terutama saat dinner di malam hari! Romantissss…), Tanjung Benoa untuk permainan khas pantai serta Pura Uluwatu. Dulu di Bali, aku sudah pernah ke Pura Uluwatu, Tanah Lot, Bedugul, Taman Ayun, serta Besakih. Dari semua Pura yang pernah aku kunjungi, Pura Uluwatu-lah yang membuatku ingin kembali. Pasalnya, saat dulu ke sana, aku hanya mampir sebentar, jadi nggak bisa total berkeliling. rencananya, nanti kalau ke Pura Uluwatu, aku dan suami mau menonton pertunjukan tari kecak dan menikmati sunset dari atas tebing bersama anak-anakku. Agar bisa terwujud, aku memilih untuk memesan Paket Wisata Pura Uluwatu agar nggak ketinggalan pertunjukan!

Sementara destinasi lainnya yang ingin aku kunjungi adalah Pulau Menjangan untuk… snorkeling! Aku sudah luama banget nggak snorkeling, dan jujur aja, kangen puwol! Setelah aku baca-baca, salah satu spot snorkeling terbaik di Bali ada di Pulau Menjangan. Doain ya, semoga rencana ini bisa terwujud tanpa drama!

Buibu ada tips nggak biar rencanaku ini nggak menguap begitu saja? Bagi di kolom komentar, yuk! Terima kasih :)

---

Photo source: Photo by Tyler Nix on Unsplash


,

review cekaja.com


Awal Februari lalu ada seorang sahabatku yang main ke rumah. Karena sudah cukup lama tidak bertemu, kami kangen-kangenan dengan cara khas: CURHAT! Ya, apalagi coba? Dua sahabat perempuan bertemu, sudah pasti air mineral sebotol kurang buat mengatasi keringnya tenggorokan.

Aku dan dia sangat khusyuk bertukar cerita tentang peliknya permasalahan rumah tangga. Ada satu benang merah yang tidak berhenti kami diskusikan berulang kali, yakni masalah pinjaman atau utang. Kami berdua sama-sama dibikin meriang oleh tingkah laku orang-orang terdekat yang terbelit utang. Kasusnya bermacam-macam, ada yang persenan bunganya terus ditinggikan oleh bank tithil (biasanya hal ini banyak di desa-desa), ada yang tertipu oleh pinjaman abal-abal, ada juga yang tertipu oleh investasi bodong. Oh, kok bisa begitu, ya? Aku membayangkan keluarga yang mengalami kesulitan pasca melakukan pinjaman pasti mereka kurang memahami betul mengenai produk yang mereka gunakan dan belum mengetahui pengajuan pinjaman online yang aman untuk keluarga. Sebagai ibu, istri, sekaligus menteri keuangan rumah tangga, aku bisa membayangkan betapa pusingnya perempuan kalau dihadapkan pada situasi yang demikian rumit.

Urusan pinjam-meminjam memang tidak bisa lepas dari keluarga. Adaaaa aja dah keperluannya, mulai dari rumah, pendidikan, mobil, sampai modal usaha. Besarnya pun beragam, tergantung profil keuangan dan kebutuhan masing-masing keluarga. Apalagi pada era digital yang terjadi sekarang memungkinkan kita untuk melakukan pinjaman dengan mudah, transparan, dan nggak lagi berbelit-belit. Menurutku kemudahan ini bisa kita manfaatkan dengan baik, asalkan kita juga perlu paham rambu-rambunya, ya!


Teliti Sebelum Meminjam

Sebagai bunda generasi millenials, yang juga juri kunci keuangan di rumah, aku sangat selektif terhadap cashflow rumah tangga. Sebelum menabung ataupun melakukan aktivitas pinjam-meminjam, ada beberapa hal yang wajib aku lakukan. Berikut aku berikan beberapa trik personal yang mungkin bisa menjadi panduan awal untuk para bunda sebelum melakukan pinjaman.

Pertama, luruskan niat. Ada baiknya kita melakukan pinjaman untuk sesuatu yang memang sangat urgent dan tidak untuk hura-hura, melainkan untuk perihal yang produktif. Agar kita bisa segera melunasinya juga dan bisa bermanfaat dalam meningkatkan kinerja.

Kedua, riset. Kalau kamu sudah membaca beberapa artikel yang aku tulis di sini, pasti hafal deh kalau aku tipikal orang yang suka riset sebelum melakukan sesuatu. Nah, riset produk finansial ini sangat penting sebelum melakukan transaksi keuangan agar kita nggak tertipu di tengah jalan atau malah terlibat urusan yang lebih parah. Beruntunglah zaman sekarang riset produk pinjaman itu nggak susah. Tinggal kepoin di Google, beres.

Ketiga, cek keamanannya. Indikator keamanan buatku adalah diawasi oleh lembaga resmi milik pemerintah atau lembaga independen yang sah. Misalnya saja, OJK, Bank Indonesia, serta Asosiasi Fintech Indonesia. Saranku, jangan sekali-kalinya bertransaksi dengan lembaga yang tidak diawasi oleh otoritas di atas. Resikonya berat, Bund! 

Keempat, pahami kondisi keuangan. Sebelum melakukan pinjaman, ada baiknya kita cek dulu profil keuangan kita mulai dari pemasukan, beban, cicilan, dan pengeluaran. Memiliki pendataan keuangan yang baik akan sangat membantu dalam melakukan keputusan finansial.

Kelima, pahami kebutuhan. Agar nggak keblinger dan kepengen melakukan pinjaman ini itu yang nggak penting, ada baiknya sejak awal kita sudah menentukan prioritas utama dalam meminjam.

Keenam, cari yang bunganya rendah. Perlu kita cermati juga baik-baik bagaimana ketentuan penagihan, tanggal penagihan, dan kebijakan bunga pinjaman. Kalau kamu muslim dan cukup sensitif dengan perihal ini, kamu bisa mencari pinjaman dengan akad syariah. Sekarang sudah banyak, kok!

Berhubung makin banyak produk finansial baik offline maupun online, esensinya sebetulnya sama, ya. Tetap ada persyaratan-persyaratan tertentu sebelum pengajuan. Justru harus curiga, lho, kalau ada pinjaman online yang nggak memerlukan persyaratan khusus. Bedanya, kalau online, kita cenderung lebih mudah melakukannya dan tidak perlu keluar rumah.


Membandingkan Produk Finansial Sesuai Kebutuhan

Ngomongin soal pinjaman, aku jadi inget dulu juga sempat mau mengajukan pinjaman ke salah satu bank syariah untuk keperluan modal usaha bisnisku. Tapi, karena syaratnya buanyak dan ribet, aku udah ciut duluan. Karena tersendat di modal, akhirnya bisnis terpaksa harus aku hentikan dulu. Beberapa tahun lalu, belum banyak tuh pinjaman online yang aman dan aktivitasnya diawasi oleh OJK. Mau pinjam ke orang tua kok ya sungkan banget ya, soalnya udah sering ngerepotin. Kalau sekarang, mah, kita bisa mencari berbagai alternatif yang aman, tidak hanya via bank.

review cekaja.com


Ada juga toko finansial terlengkap di Indonesia, namanya CekAja.com. Kamu bisa menyeleksi dan memilah produk finansial langsung di link ini https://www.cekaja.com/kredit/pinjaman-online. Di sana, kamu juga dapat melakukan perbandingan serta riset untuk membuat keputusan finansial terbaik. Ada berbagai produk serta penyedia pinjaman dan bank yang diawasi oleh OJK, Bank Indonesia, dan Fintech Indonesia.

Seperti yang kukatan tadi tentang pentingnya riset produk finansial sebelum deal, CekAja.com memberikan banyak opsi mulai dari kredit, pinjaman, asuransi, hingga UKM. Pinjaman dengan akad syariah? Ada juga!

Nah, semoga panduan singkat di atas bisa berguna buat bunda ya sebagai langkah awal untuk memilih produk finansial dan pinjaman sesuai kebutuhan keluarga.



Source pict:
CekAja.com
Photo by rawpixel on Unsplash


Selasa, 12 Februari 2019

,



Ibu rumahan yang terus berkarya. Kalimat itulah yang terus aku tanamkan pada diri yang belum berkesempatan menjajal kerja di dunia korporasi. Waktu seolah memberiku pintu untuk mengasah ide kreatif mengembangkan bisnis sambil mendidik anak-anak di rumah, aktivitas yang sungguh menantang dan mengasah mental! Ups and downs aku alami berkali-kali, bisnis mati, dan tak ketinggalan pula kondisi mendesak yang mengharuskanku memulai bisnis baru pada tahun 2019 ini.
----

Pada bulan Mei tahun 2015, aku memilih untuk berkarya di bisnis fashion hijab dan memilih sektor produsen, setelah sebelumnya telah menjajal menjadi reseller. Aku yang mudah stres kalau tidak ada aktivitas, sangat menikmati “mainan” baruku ini. Mulai dari pergi ke toko kain untuk memilih bahan, ke penjahit, melakukan quality control produk, membungkus, hingga melepasnya dengan cinta ke tangan pelanggan.

Eh eh, sebelum ngobrol lebih jauh, aku kenalkan dulu ya bisnisku ini. Namanya La Desya, bisnis fashion hijab yang lahir tahun 2014. Pada tahun 2015, La Desya resmi menjadi produsen hijab yang juga merupakan salah satu penopang hidup dan rumah tangga kecilku. Memilih peran sebagai produsen itu berat. Berat banget, malah, karena ada banyak hal yang perlu dipikirkan. Meski menjanjikan margin yang lebih besar, tapi kalau nggak jeli bisa-bisa malah bikin ripuh.

Mulanya semua aku lakukan sendiri, lama kelamaan suamiku ikut membantu jika ia ada waktu. Jangan kamu pikir aku bisa menjahit, no no no! Masukin benang ke jarum aja masih remidi! Aku mengandalkan kerjasama dengan 6 penjahit dan mencari karyawan di bagian admin. Sisanya adalah tugasku, terutama pada bagian pengembangan produk dan digital marketing. Sukar sih, tapi usaha yang kulakukan membuahkan hasil yang cukup baik: aku punya pemasukan, bisa sedikit membantu keluarga, dan anakku tetap bisa aku rawat sepenuh hati. Pengembangan produk dan promosi pun berjalan cukup lancar dan disukai pasar. Aku sempat meluncurkan produk Pashmina Instan 2in1 dan Pashmina Instan 4in1 yang (setahuku) merupakan yang pertama di Indonesia.




Bisnis rumahanku ini berjalan selama 4 tahun dan tumbang pada awal 2018 lalu. Reaksi pelangganku pun beragam. Ada yang menyayangkan karena suka dengan produk-produkku. Ada juga yang mengatakan eman-eman, karena sudah cukup berkembang. Bahkan ada yang meminta aku untuk menjual saja akun Instagram yang sempat menembus 16k followers dan kini menyusut sedikit demi sedikit.




Obrolan di atas dengan salah satu teman yang pernah berjuang bersama dalam mengembangkan bisnis, mengingatkan aku kembali pada keputusan besar di akhir 2018 untuk menutup bisnis fashion hijab yang kurintis sejak aku mengantongi gelar sarjana.


Ketika Bisnis Harus “Disuntik Mati”

Ngeri ya bahasanya? Hahaha memang begitu adanya. Bisnisku saat itu yang sedang berkembang, harus aku hentikan. Ia tidak sepenuhnya sakit, kalau pun terbatuk sedikit, masih bisa kok diberi obat. Tapi ia memang sepertinya susah menemukan jalan untuk bertahan.



Sebagaimana pebisnis lain, aku juga berkumpul dengan rekan-rekan sesama bisnis bahkan mengikuti kelas online berbayar demi mempertahankan bisnis pada era disrupsi dan digital ini. Bisnisku juga hadir di berbagai lini: Instagram, Facebook Fanspage, Line@, WhatsApp, dan Website. Aku juga menganggarkan dana bulanan untuk iklan berbayar serta mengambil langkah berani untuk mengendorse selebgram dan artis ibukota. Geliat bisnisku yang terus meninggi, membuat banyak orang kaget mengapa tiba-tiba harus berhenti.



Keputusan untuk menyuntik mati bisnis adalah salah satu lukaku di awal tahun 2018. Sebab, beberapa minggu sebelumnya, aku baru saja mengadakan flash sale tutup tahun 2017 dan terbilang lumayan sukses. Aku juga sedang meriset produk baru dan menemukan partner penjahit baru di Kota Malang.




Namun layaknya cerita, bisnisku menemui anti klimaksnya sejak aku harus ikut suami untuk pindah ke Kota Malang. Ini berarti aku harus melepas karyawanku dan mencari partner penjahit baru. Salah satu hambatan dalam mengelola bisnisku ini adalah aku yang tinggal berpindah-pindah, dari Jogja-Sidoarjo-Malang, dan kini kembali lagi ke Sidoarjo. Biaya makin besar, pelangganku pun kerap bingung kalau mau ambil di rumah atau mengecek ongkir. Perkara kedua yang membuatku makin mantap menutupnya adalah modal yang seharusnya digunakan untuk pengembangan produk, terpaksa dialirkan ke tempat lain. Aku dan suami kembali mengalami guncangan finansial di awal tahun 2018 lalu. Tekanan ini berdampak pula ke usaha kami karena keuangan milik bisnis belum sepenuhnya terpisah dari pribadi. Hh... semakin mustahil saja untuk mempertahankan bisnis.


Kenangan manis saat photoshoot di Surabaya bersama model dan admin La Desya :)

Akhirnya, setelah berkonsultasi kepadaNya, aku harus menutup La Desya sampai waktu yang tidak ditentukan. Ndak papa, semua pebisnis pasti pernah gagal, kan?


Menemui “Cinta” Lama untuk Membangun Bisnis Bersama

Belajar dari apa yang terjadi di La Desya, aku berusaha untuk tidak patah semangat dan segera menggunakan sumber daya yang telah aku miliki untuk melakukan Pivot. Kebetulan sebelum La Desya aku turn off, aku sempat membuka kembali blogku yang sudah 3 tahun lebih tidak kusentuh. Aku bersihkan perlahan sarang laba-laba di sana dan aku membeli domain bundabiya.com. Keputusan ini bukan tanpa sebab, aku memang sudah berniat untuk memonetisasi blogku. Semangat ini muncul setelah aku belajar tentang digital marketing selama menjalankan bisnis La Desya dan aku tersadar bahwa ternyata aku punya sumberdaya yang cukup sebagai langkah awalnya.

Tahun 2018 lalu aku mengetuk lagi pintu hati Si Cinta Lamaku ini, kurawat ruhnya, kupercantik fisiknya. Berharap ia mau kugandeng kembali untuk memulai bisnis baru bersama.

Aku kembali melirik blog karena modalnya sangat murah. Dalam rupiah, per tahun hanya 148 ribuan. Selebihnya, aku memerlukan laptop yang telah kumiliki, wifi kencang yang juga sudah tersedia di rumah, dan kreativitas yang terus terasah.

Setahun setelah nge-monetize blog, aku sudah bisa memetik buahnya. Selama setahun, aku melakukan kerjasama dengan beberapa brand, belajar dasar-dasar memonetisasi blog, dan sesekali mengikuti kompetisi. Hadiah terbesar yang aku peroleh adalah jalan-jalan gratis ke Turki! Yay!


Ke Turki hadiah dari ngeBlog!! :D



Strategi Melejitkan Bisnis Tahun 2019

Memperoleh starting point yang cukup baik dan mencapai target menjadi hiburan tersendiri buatku setelah mengalami kegagalan. Tahun 2019 ini aku semakin yakin dan semangat untuk melejitkan bisnis kembali.

“INI SAATNYA!” Gumamku dalam hati.
  
Aku membagi Rencana Bisnis 2019 menjadi 3 bagian. Pertama, Bunda Biya Project, yakni project website yang sedang berjalan ini. Kedua, Bunda Traveler Project yang sudah aku launch pada bulan Januari lalu. Ketiga, No Name Project, yakni perencanaan bisnis baru untuk menggantikan La Desya. Project pertama dan kedua fokus pada jasa dan sektor B2B, sementara rencana pada project ketiga fokus pada barang serta sektor B2C.




Karena aku punya target cukup besar di usia 30 nanti, sekarang aku agak ngebut. Semacam akselerasi, lah. Jadi, dalam menjalankan rencana bisnis pun, aku harus punya strategi agar bisa melejit dengan tepat sasaran, sesuai indikator pencapaian, dan tanpa mengurangi waktu mengasuh yang menjadi haknya anak-anakku di rumah. Karena bisnisku ini adalah bisnis ala ibu rumahan, semua harus dibangun sendiri.

Beberapa strategiku dalam perencanaan bisnis di tahun 2019 dan #ResolusiBisnis2019 ala ibu rumahan antara lain:

1. Menetapkan tujuan berbisnis. Tujuan ini bagai pondasi bangunan. Harus kuat dan kokoh. Jika suatu saat ada hambatan, aku tak akan cepat berhenti dan meninggalkan lapak. Cukup beristirahat dan kembali melihat tujuan awal membangun bisnis ini.

2. Mematangkan riset. Kesalahanku saat mendirikan La Desya adalah aku membuka bisnis berdasarkan apa yang aku suka, bukan apa yang dibutuhkan oleh market. Kali ini, aku tidak mau salah langkah. Aku berusaha mematangkan riset melalui akun media sosial dan membaca tren. Beberapa riset yang dilakukan oleh perusahaan digital marketing juga sangat membantuku.

3. Menentukan value atau prinsip-prinsip dalam bisnis. Buatku ini sangat penting, sebab, value yang dipegang dapat menjadi pembeda antara kita dengan bisnis lain. Selain itu, value ini nanti juga menjadi dasar untuk keperluan branding. Nilai atau value ini misalnya saja, profesionalitas kerja, keterbukaan, dan komunikasi. Kemudian aku juga cenderung tidak mengikuti lomba atau mengambil kolaborasi yang tidak sesuai niche. Hal ini karena aku menjaga kepercayaan pembaca setia blogku.

4. Menentukan produk, membuat SOP, dan indikator pencapaian. Produk apa saja yang bisa kita jual? Meskipun bergerak di bidang jasa, produk ini juga harus jelas. Misalnya saja, aku tidak menerima kolaborasi berupa content placement dengan artikel tetap. Kemudian karena aku kerja di rumah, godaan untuk bermalas-malasan dan gegoleran di kasur bersama anak itu sangat besar, Jendral! Kinerja perlu dipantau sendiri, ditentukan sendiri, dan di awasin sendiri. Caranya gimana? Bikin SOP-nya!

5. Buat progres kinerja. Ketiga project tadi aku buat masing-masing perkembangan kinerjanya. Progres ini aku petakan perminggu dan perbulan. Dengan demikian, aku bisa membuat dan memiliki to do list harian, mingguan, bulanan, dan tahunan. Hal ini penting untuk membagi beban pikiran, waktu, dan tenaga, agar nggak stres dan nggak terlalu tergesa.

6. ACTION! Pada project pertama, aku sedang mengembangkan beberapa channel media sosial lainnya seperti YouTube dan Facebook Fanspage. Untuk project kedua, aku sedang mempersiapkan artikel-artikel untuk konten dan mempelajari hal-hal teknis pada platform yang aku gunakan.

Sedangkan project ketiga, aku sedang mempelajari dan menentukan target market, baru akan menentukan produk. Nah, dalam hal ini, akupun memanfaatkan keberadaan market place yang juga menjadi salah satu sasaran yang aku riset, terutama untuk riset barang dan harga. Misalnya saja pada website milik Ralali.com yang merupakan B2B marketplace dan menyediakan berbagai keperluan untuk bisnis dengan harga grosir. Cucok bangau, aku yang sebagian besar waktu ada di rumah, nggak perlu kerepotan karena tinggal klik, klik, klik!



Aku nggak punya alasan lagi untuk menunda. Usiaku sudah 26 tahun dan anakku sudah dua. Meski hanya sekedar ibu rumahan, aku juga punya impian yang perlu aku tuntaskan. Buatku, opsinya adalah sekarang atau tidak sama sekali. Aku yakin, INI SAATNYA!

Ibu-ibu yang lain punya cerita juga tentang pengembangan bisnisnya? Boleh yuk kita berbagi dan ngobrol di sini! :)


Referensi:
Gambar:
Photo by Nicole Honeywill on Unsplash
Elemen grafik: freepik
Pribadi

Selasa, 29 Januari 2019

,
laksmi muslimah malang, laksmi muslimah wedding, kebaya laksmi muslimah, laksmi muslimah surabaya, pernikahan islami sederhana, sewa baju akad nikah, sewa baju pengantin muslimah syari, baju pengantin muslimah syari, baju pengantin muslim syari, baju pengantin muslim syari bercadar, baju pengantin muslim syari modern, baju pengantin muslim syari sederhana, model baju pengantin muslim syari, sewa baju akad nikah surabaya, sewa baju akad nikah padang, sewa baju akad nikah di jakarta, sewa baju akad nikah muslimah, sewa baju akad nikah malang, sewa baju akad nikah jakarta, sewa baju akad nikah murah, sewa baju akad nikah di medan, sewa baju akad nikah di bukittingi, kebaya pengantin muslim, kebaya muslim syari, kebaya nikah muslim, kebaya nikah muslim syari, kebaya pesta muslim syari, sewa baju kebaya pengantin muslim

.
Tanggal sore setelah menghadiri sebuah gathering muslimah wedding, tiba-tiba aku tersadar, bahwa pernikahan aku dan suami yang insya Allah akan menginjak usia 4 tahun pada bulan Februari nanti hanyalah sebuah gerbang. Perjalanan sesungguhnya, keberkahan sesungguhnya, ya sepanjang proses kami dalam menjalani sebuah janji yang menggetarkan ‘Arsy.

Dulu, tahun 2015, kami menikah dengan kesadaran penuh untuk beribadah dan berkembang bersama. Masa pendekatan selama setahun bagi kami sudah cukup. Kami butuh untuk berjalan berbarengan menuju tujuan pernikahan yang kami impikan.

Saat itu, aku pikir hanya persiapan batin dan mental saja yang penting. Kami berdua, sama-sama memiliki wawasan yang minim tentang persiapan teknis. Vendor? Duh, nggak paham. Kami memang menginginkan agenda pernikahan yang sederhana dan intim, hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat. Tapi, sebagaimana masalah pasangan muda kebanyakan, keluarga kami tentu bereaksi seperti ini:

laksmi muslimah malang, laksmi muslimah wedding, kebaya laksmi muslimah, laksmi muslimah surabaya, pernikahan islami sederhana, sewa baju akad nikah, sewa baju pengantin muslimah syari, baju pengantin muslimah syari, baju pengantin muslim syari, baju pengantin muslim syari bercadar, baju pengantin muslim syari modern, baju pengantin muslim syari sederhana, model baju pengantin muslim syari, sewa baju akad nikah surabaya, sewa baju akad nikah padang, sewa baju akad nikah di jakarta, sewa baju akad nikah muslimah, sewa baju akad nikah malang, sewa baju akad nikah jakarta, sewa baju akad nikah murah, sewa baju akad nikah di medan, sewa baju akad nikah di bukittingi, kebaya pengantin muslim, kebaya muslim syari, kebaya nikah muslim, kebaya nikah muslim syari, kebaya pesta muslim syari, sewa baju kebaya pengantin muslim


Akhirnya semua hal diurus oleh ibu, tanpa seorang wedding planner. Ya ibu itu planner-nya! Ibuku dibantu oleh sahabat-sahabatnya dalam membentuk panitia. Ibu mengurus dan menetapkan sebagian besar urusan teknis, mulai dari souvenir sampai katering. Gaun? Semua dipilihkan ibu dengan persetujuanku. Aku hanya meminta untuk tetap memakai hijab yang menutup dada baik saat akad maupun resepsi.

Tapi.. tapi… tapi……..

Lagi-lagi karena aku yang powerless dan minim pengetahuan tentang siapa MUA-ku, penyedia kebaya pernikahan, catering, dekor, dan lain sebagainya, membuat hal-hal yang aku inginkan dalam pernikahan jadi tidak terlaksana dengan baik. Misalnya, saat resepsi, aku tidak jadi memakai hijab yang menutup dada karena tidak ada kainnya. Aku pikir, aku hanya cukup request dan mereka mengiyakan, tetapi rupanya, tidak disiapkan. Ya kesalahanku juga sih karena aku tidak memantau dengan baik. Jelang pernikahan aku dan suami memang sama-sama sibuk kuliah S2, kami fokus untuk ujian akhir semester 1 dan persiapan penelitian.

Kemudian, mereka juga mengatakan bahwa, “eman-eman jika pernak-pernik kebaya ditutupi”. Huhu, sedih sebetulnya. Aku sempat meminta maaf ke suamiku, untunglah beliau memaklumi. Juga, aku tidak diberi buket apa-apa oleh bagian dekorasi, padahal sebelumnya aku sudah setor gambar buket yang aku inginkan.

Akhirnya, jadi pelajaran berharga deh buat kai berdua, dan yah, dari situ aku punya beberapa tips yang bisa saya tulis disini untuk pasangan yang akan menikah. Tips ini aku bagi menjadi 2, yakni persiapan mental dan persiapan teknis. Dua-duanya penting, ya!


Tips 1: Persiapan Mental dan Keikhlasan

Jelang menikah, aku memang nggak banyak mikirin persiapan teknis. Sebaliknya, aku melahap banyak buku-buku tentang keikhlasan dan buku tentang hak serta kewajiban suami istri. Soalnya, menurutku, hal yang paling penting dalam pernikahan adalah after party-nya. Mau menjemput jodoh dengan proses ta’aruf maupun pacaran, selaluuu aja ada tantangan dan masalah dalam rumah tangga, ataupun karakter pasangan yang belum pernah terlihat sebelumnya. Ibaratnya, secret unlocked! Hehehe. Terus, gimana biar tetep strong? Kumpulkan “bekal yang cukup” sebelum memulai hidup bersama. Meskipun standar “cukup”nya orang berbeda-beda, tetap ada acuan dasarnya. So Here’s my tips:

Satukan visi dan tujuan pernikahan
Coba hindari obrolan geli macam “kamu sudah makan? Kamu sudah mandi? Kamu sudah gosok gigi?” selama proses pengenalan atau pendekatan. Sebaliknya, ganti dengan obrolan yang lebih berbobot, berfaedah, dan kalau perlu mengerjakan project bersama. Pembahasan yang nggak boleh luput untuk didiskusikan adalah visi hidup dan tujuan pernikahan.

Sebagian besar orang yang menikah tentu berharap bahwa pernikahan yang dijalani akan menjadi hubungan yang berkah dan langgeng hingga nanti keluarga bisa berkumpul kembali di surga-Nya. Untuk menuju kesana, tidak mungkin bisa dilalui dengan jalan biasa. Besar kemungkinan jalan yang akan dilalui oleh pasangan suami istri adalah jalan yang panjang dan terjal.

Agar perjalanan tidak terlalu banyak waktu yang terbuang karena kesasar dan bahkan hilang arah, suami istri perlu yang namanya sevisi dan menyatukan tujuan pernikahan. Ini bisa berbeda-beda dan sangat subjektif ya. Dan untuk mencapai hal ini tentu perlu komunikasi yang matang dengan calon pasangan.

Note: jika canggung memulai dari mana, coba tanyakan beberapa pertanyaan dasar ini: “apa tujuanmu menikah denganku? Apa nilai-nilai yang kamu pegang dalam hidupmu? Apa yang akan kamu lakukan jika pernikahan kita tidak berjalan sesuai harapan? Dari situ insya Allah nanti kita bisa paham bagaimana pandangan si calon pasangan ini.

Bicara tentang Anak
Eits.. bukan tentang “cara membuat anak” lho ya. Tolong, kesampingkan dulu masalah teknis itu.

Bicara tentang anak yang aku maksud disini adalah pandangan calon pasangan tentang memiliki anak dan cara mendidiknya. Karena biasanya kedua hal ini bisa jadi salah satu sumber masalah dalam pernikahan. Ada orang yang ingin menunda anak karena sesuatu, ada juga yang ingin langsung punya anak karena sesuatu juga. Jika ada perbedaan, hargai pendapat pasangan dan coba cari jalan tengah. Kalau kedua calon memang tidak ada niatan untuk menunda, sebaiknya dipersiapkan urusan kesehatan seperti cek kondisi rahim, cek lab jika diperlukan.

Kemudian tentang mengedukasi anak. Coba cek karakter dan emosi dominan pasangan, sebab karakter anak nanti akan dipengaruhi oleh emosi dominan orang tuanya. Juga tanya pendapatnya mengenai mendidik anak. Tak perlu rinci, biasanya kalau belum punya anak memang belum terlalu paham urusan parenting ya. Tapi cukup perihal yang umum saja, misalnya tanyain dia, “kamu setuju nggak kalau tidak ada anak yang bodoh dan nakal? Kamu setuju nggak kalau pengasuhan anak itu adalah tanggung jawab kedua orang tuanya? Gimana pendapatmu tentang hubungan yang baik antara anak dan orang tua?

Mungkin pertanyaan itu nanti akan mengarah pada calon pasangan yang tiba-tiba curcol tentang hubungan dia dan keluarganya. Ndak papa, dari situ kita akan tau apa saja yang membentuk karakter dan emosi dominannya. Kalau dia berasal dari keluarga yang pemarah, umumnya akan cenderung punya problem dalam mengelola emosinya. Kalau dia punya hubungan yang kuat dengan dasar cinta dengan orang tuanya, besar kemungkinan ia akan menerapkan hal yang sama untuk anak-anaknya.

Bicarakan Karir
Perihal ini mungkin agak sensitif untuk perempuan. Baiknya, mengenai pekerjaan dan karir ini dibicarakan sebelum lamaran. Usahakan ada kata sepakat, legowo, dan restu dulu dari kedua belah pihak. Tidak semua wanita bisa dengan mudah untuk menjadi ibu rumah tangga, apalagi jika ia sudah berkarir menahun dan tiba-tiba diam di rumah. Yang ada, dia bisa stres karena merasa kehilangan aktivitas sehari-hari.

Jika memang perempuan memutuskan untuk di rumah, coba tetap lakukan aktivitas-aktivitas yang sifatnya produktif. Misalnya, membaca, membuka bisnis dari rumah, ngeblog, menulis buku, belajar memasak, mengikuti komunitas keluarga, dan lain-lain. Yang penting, tetap berkarya dan tersalurkan kebutuhan aktualisasi serta eksistensi diri.

Topik tentang karir juga bisa berpengaruh ke tempat tinggal setelah menikah, apalagi jika pekerjaan utama calon pasangan berpindah-pindah atau mungkin ada yang ingin meneruskan studi.

Tentang amal dan ibadah
Coba buatlah komitmen pada masing-masing untuk terus mengupgrade kualitas ibadan dan amal. Menikah itu aja udah ibadah, apalagi kalau kegiatan-kegiatan di dalamnya juga penuh kebaikan dan amal… beuh, insya Allah, semoga berbuah berkah, selamat, dan bahagia dunia akhirat.


Tips 2: Persiapan Teknis


Persiapan kesehatan
Ini berhubungan dengan bagian “tentang anak” di atas tadi ya. Luangkan waktu dan uang untuk menjalani tes kesehatan sesuai kebutuhan. Mengetahui kondisi kesehatan masing-masing pasangan akan memudahkan kita untuk menghadapi pernikahan dan memudahkan ikhtiar untuk diamanahi anak.

Finansial
Sempat aku baca di Twitter:

Pengen ketawa juga sih pas membacanya. Soalnya, aku dan suami termasuk nikah muda dengan tabungan yang minim! Hahaha. Semua berjalan berkat izin Allah dan restu (ehem, dorongan) orang tua.

Finansial memang penting tapi bukan segala-galanya. Aku pribadi tidak terlalu tertarik menikah dengan orang yang tajir melintir kalau kepribadiannya tidak sesuai yang aku butuhkan. Aku jauh lebih menyukai proses berjuang dari bawah. Dengan lelaki yang punya potensi untuk “kaya” secara materi, amal, dan wawasan. Buatku, itu jauh lebih penting. Kalo kamu gimana? Kita bisa berbeda ya gess dan gapapa, selow saja.

Persiapan finansial ini coba dibagi 2, persiapan jelang pesta dan setelah pesta. Kalau setelah pesta, mulai banyakin tuh baca buku dan minimal buat pos-pos keuangan untuk hidup sehari-hari, untuk amal, asuransi, untuk dana darurat, dan untuk liburan.

Kalau untuk persiapan jelang pesta, biar acara lancar, berkah, dan sama-sama enaknya di hati mempelai dan keluarga, juga perlu didiskusikan dengan baik. Berapa budgetnya? Pakai vendor apa saja? Berapa tamu yang diundang? Daaan puluhan to-do-list lainnya.

Rencana Teknis Pernikahan
Ini agak tricky ya. Berbekal pengalaman pribadiku, aku pikir mau pakai jasa wedding planner maupun di handle sendiri, calon pengantin tetap perlu paham dan mengenal dengan baik para pihak yang bekerja sama untuk menyukseskan acara. Anggarkan sesuai kebutuhan masing-masing pasangan dan diskusikan dengan orang tua. Apakah pernikahan yang private atau yang mengundang banyak tamu? Mau yang temanya adat atau yang modern? Tema dalam pesta pernikahan tentu akan memengaruhi busana, dekorasi, aksesoris, undangan, souvenir, dan bahkan catering.

Masih ingat kan ceritaku di atas tentang hijab resepsi dan buket yang tidak sesuai keinginan? Beberapa bulan setelah pernikahan, aku makin menyesal karena aku tidak turun tangan dalam memilih busana karena tepat pada bulan Mei 2015 saat aku memulai usaha bisnis online, aku juga mengenal Laksmi Muslimah, sebuah penyedia busana pernikahan islami.

laksmi muslimah malang, laksmi muslimah wedding, kebaya laksmi muslimah, laksmi muslimah surabaya, pernikahan islami sederhana, sewa baju akad nikah, sewa baju pengantin muslimah syari, baju pengantin muslimah syari, baju pengantin muslim syari, baju pengantin muslim syari bercadar, baju pengantin muslim syari modern, baju pengantin muslim syari sederhana, model baju pengantin muslim syari, sewa baju akad nikah surabaya, sewa baju akad nikah padang, sewa baju akad nikah di jakarta, sewa baju akad nikah muslimah, sewa baju akad nikah malang, sewa baju akad nikah jakarta, sewa baju akad nikah murah, sewa baju akad nikah di medan, sewa baju akad nikah di bukittingi, kebaya pengantin muslim, kebaya muslim syari, kebaya nikah muslim, kebaya nikah muslim syari, kebaya pesta muslim syari, sewa baju kebaya pengantin muslim


Saat itu aku menjalankan bisnis Ladesya Hijab dan cukup sering ikut program paid promote di akun-akun islami. Saat itu aku lihat Laksmi Muslimah yang juga ngepromote sewa baju pernikahan yang duh… impianku banget! Aku langsung nyesel kenapa nggak lebih awal kenal Laksmi Muslimah.

Tapi ya ada hikmahnya juga sih, karena kapan hari aku berkesempatan ikut gathering bersama Laksmi Muslimah dan bertemu dengan berbagai wedding vendor. Nggak ketinggalan akupun bertemu mba Nungki yang merupakan owner Laksmi Muslimah.

laksmi muslimah malang, laksmi muslimah wedding, kebaya laksmi muslimah, laksmi muslimah surabaya, pernikahan islami sederhana, sewa baju akad nikah, sewa baju pengantin muslimah syari, baju pengantin muslimah syari, baju pengantin muslim syari, baju pengantin muslim syari bercadar, baju pengantin muslim syari modern, baju pengantin muslim syari sederhana, model baju pengantin muslim syari, sewa baju akad nikah surabaya, sewa baju akad nikah padang, sewa baju akad nikah di jakarta, sewa baju akad nikah muslimah, sewa baju akad nikah malang, sewa baju akad nikah jakarta, sewa baju akad nikah murah, sewa baju akad nikah di medan, sewa baju akad nikah di bukittingi, kebaya pengantin muslim, kebaya muslim syari, kebaya nikah muslim, kebaya nikah muslim syari, kebaya pesta muslim syari, sewa baju kebaya pengantin muslim


Yang bikin aku kagum banget sama Laksmi Muslimah adalah dia konsisten dengan nilai yang dipegang dan sangat membantu pelanggannya. Soal nilai, Laksmi Muslimah memegang nilai syar’i dan hanya melayani calon pengantin muslim dan dengan konsep akad atau resepsi yang berhijab. Laksmi Muslimah juga tidak menerima sewa gaun untuk prewedding. Apakah target market yang sangat spesifik ini menjadikan Laksmi Muslimah sepi? Justru tidak! Pelanggannya Laksmi Muslimah sudah skala nasional, eh sorry, bahkan ada juga 2 warga negara tetangga yang sewa gaun di Laksmi Muslimah. Sejak pertengahan tahun lalu, Laksmi Muslimah juga sudah membuka cabang di Malang. Hal ini membuktikan jam terbang dan profesionalitas Laksmi Muslimah yang sudah sangat teruji.

Pelanggannya siapa aja? Muslimah pasti sempet tau dong viralnya pernikahan anandito dan Anisa? Ya, itu gaunnya pake Laksmi Muslimah! Banyak juga orang-orang penting di Jawa Timur yang memakai gaun Laksmi Muslimah ini.

Masih tentang pelanggan. Dalam hal melayani dan membantu pelanggan, berapapun budget dan rencana pernikahanmu insya Allah dilayani dengan baik sama mereka. FYI, Laksmi Muslimah bukan WO, tapi mereka bisa membantumu jika kamu butuh dikoneksikan ke berbagai vendor sesuai budget pernikahanmu.

Kalau kamu kebingungan mencari MUA, wedding planner, catering, mengurus sepatu pernikahan dan aksesoris lainnya, Laksmi Muslimah bisa memberi rekomendasi. Sebab, Laksmi Muslimah juga bekerja sama dengan berbagai wedding vendor.

laksmi muslimah malang, laksmi muslimah wedding, kebaya laksmi muslimah, laksmi muslimah surabaya, pernikahan islami sederhana, sewa baju akad nikah, sewa baju pengantin muslimah syari, baju pengantin muslimah syari, baju pengantin muslim syari, baju pengantin muslim syari bercadar, baju pengantin muslim syari modern, baju pengantin muslim syari sederhana, model baju pengantin muslim syari, sewa baju akad nikah surabaya, sewa baju akad nikah padang, sewa baju akad nikah di jakarta, sewa baju akad nikah muslimah, sewa baju akad nikah malang, sewa baju akad nikah jakarta, sewa baju akad nikah murah, sewa baju akad nikah di medan, sewa baju akad nikah di bukittingi, kebaya pengantin muslim, kebaya muslim syari, kebaya nikah muslim, kebaya nikah muslim syari, kebaya pesta muslim syari, sewa baju kebaya pengantin muslim


Ratusan produk cantik di Laksmi Muslimah bisa disewa maupun dibeli. Laksmi Muslimah tidak hanya menyediakan gaun pernikahan modern lho, tapi juga kebaya dan baju pesta. Bisa juga untuk seragam para orang tua dan panitia acara pernikahan.  

Kamu fokus saja sama persiapan batin, mental, dan ibadah jelang menikah. Urusan gaun pengantin dan teknis lainnya? Saranku, serahkan saja sama Laksmi Muslimah dan vendor lainnya. Pertama-tama, kamu tinggal isi sata du link di bawah ini agar adminnya Laksmi Muslimah segera menghubungi dan melayani kebutuhan pernikahan dan acara kamu. Manteb, kan, nggak perlu ngantre dan bertele-tele. Gunakan kode referensi “NABILLADP” dalam mengisi formnya, ya. Jika kamu belum punya tanggal pasti pernikahan, diisi sebisanya aja dulu, itung-itung sekalian doa, kaaan hihihi.


Kalau belum paham isinya, bisa lihat gambar ini. Sebetulnya mudah buanget kok, tinggal isi sesuai kondisi. Gambar berikut hanya memberi petunjuk untuk beberapa hal penting saja:

laksmi muslimah malang, laksmi muslimah wedding, kebaya laksmi muslimah, laksmi muslimah surabaya, pernikahan islami sederhana, sewa baju akad nikah, sewa baju pengantin muslimah syari, baju pengantin muslimah syari, baju pengantin muslim syari, baju pengantin muslim syari bercadar, baju pengantin muslim syari modern, baju pengantin muslim syari sederhana, model baju pengantin muslim syari, sewa baju akad nikah surabaya, sewa baju akad nikah padang, sewa baju akad nikah di jakarta, sewa baju akad nikah muslimah, sewa baju akad nikah malang, sewa baju akad nikah jakarta, sewa baju akad nikah murah, sewa baju akad nikah di medan, sewa baju akad nikah di bukittingi, kebaya pengantin muslim, kebaya muslim syari, kebaya nikah muslim, kebaya nikah muslim syari, kebaya pesta muslim syari, sewa baju kebaya pengantin muslim


Selamat mewujudkan pernikahan impianmu, dear calon suami istri yang salih dan salihah!

------

Artikel ini merupakan artikel berbayar / sponsored post hasil kolaborasi antara penulis dengan Laksmi Muslimah.

Sumber foto:
Dokumen pribadi,
cover: Photo by Micheile Henderson on Unsplash



Follow me @nabilladp