Parenting blogger | Travel blogger | Lifestyle blogger

Agustus 14, 2018

Bijak Mengasuh Anak di Era Digital Bersama Sahabat Keluarga Kemdikbud

by , in
Saya dan bersama anak pertama saya, Mahira :)



“Bunda.. Mahiya minta baca dino,” pinta Mahira, anak pertama saya, sambil menangis.

Dia sengaja mengeluarkan mimik melas atau minta dikasihani dan mengeluarkan sedikit air mata, sebab ia melihat saya sudah siap-siap tidur siang. Saat itu memang saya sedang kurang fit karena kehamilan anak kedua ini, sehingga saya butuh waktu lebih banyak untuk istirahat.

Mahira seperti tidak rela saya tinggal tidur, ia hanya ingin saya yang membacakan buku untuknya, bukan mbak rewang juga bukan oleh ibu saya. Sempat ia dibujuk untuk melihat beberapa video di smartphone milik ibu saya, namun ia justru menolak. Ia hanya ingin membaca buku tentang Dinosaurus bersama saya.

Tentu saja saya trenyuh. Segera saya turun dari kasur dan memeluknya untuk duduk di pangkuan saya. Seketika tangisnya reda dan disusul oleh senyum dan mata yang berbinar penuh semangat. Mahira baru-baru ini suka sekali dengan Dinosaurus karena baru saya ajak jalan-jalan ke salah satu wisata Dinosaurus terkenal di Kota Batu.

Sebagai anak yang baru berusia 26 bulan, Mahira termasuk yang sangat antusias dalam membaca. Meskipun ia belum begitu paham mengenai alur atau jalan cerita dari buku bacaan, ia terlihat berusaha mengikuti secara perlahan. Sayapun bercerita juga sesuai kemampuan dia dalam menangkap cerita.

Ini dia video singkat saat saya dan Mahira sedang membaca buku Dinosaurus :)

Bijak Mengasuh Anak di Era Digital

Menurut saya, membaca buku merupakan salah satu cara yang baik yang perlu ditempuh semua orang tua millennials di era digital. Sebagaimana kita ketahui, dunia digital akan terus berkembang pesat. Anak saya, Mahira, yang termasuk ke dalam Generasi Alpha, termasuk cukup cepat menyerap cara pakai smartphone. Hal ini dikarenakan ia termasuk generasi yang lahir dan tumbuh ketika era digital sudah ada dan sangat mudah untuk digunakan.

Ia sudah mengenal kamera depan pada smartphone, fitur video call, dan lain sebagainya. Sebagai bunda millennials, sesungguhnya saya dilema banget. Sebab, saya sendiri juga menikmati enaknya dunia digital, terutama untuk mengasah potensi, berkarya, berjejaring, dan lain sebagainya. Makin dilema karena kedua orang tua saya cukup permisif kepada anak saya bahkan sejak usianya 1 tahun dalam menggunakan smartphone.

Misalnya saja, memberikan tayangan video-video di YouTube yang dilihat melalui smartphone, khususnya jika anak tantrum atau rewel. Duh, saya selalu deg-deg ser kalau melihat pemandangan itu. Pertama, saya khawatir ia kecanduan dini. Kedua, saya khawatir dengan kesehatan matanya. 

Namun disisi lain, tidak mungkin saya melarang sama sekali anak saya untuk berinteraksi di dunia digital. Akhirnya, saya pribadi memiliki batasan waktu untuk anak saya dalam menggunakan gadget, apalagi dia masih usia 2 tahunan. Saya dan suami juga menerapkan beberapa langkah praktis ini dalam pola pengasuhan positif yang kami anut, yakni:

1. Lebih rajin membacakan buku pada anak.
Saya suka membaca dan menulis, tentu saya ingin anak saya kelak juga memiliki kecintaan pada literasi, minimal sama seperti saya. Menurut saya, membaca buku itu sangat baik untuk orang dewasa, apalagi untuk anak-anak. Namun, aktivitas membaca buku ini bisa terasa asing apabila tidak dibiasakan dari kecil. Coba saja bandingkan aktivitas para penumpang di kereta api Indonesia dengan negara maju, yang paling kentara adalah perbedaan aktivitas mereka dimana para penumpang kereta api di negara maju misalnya Jepang dan Jerman lebih sering membaca buku atau membuka gadget untuk menulis, sebagian lainnya menggunakan untuk hiburan.

Sementara di Indonesia, sangat jarang ada orang yang membaca buku. Lebih sering orang hanya duduk termenung, ngobrol, atau bermain smartphone. Salah satu sebabnya menurut saya adalah karena membaca buku bukan menjadi kebiasaan mereka atau aktivitas yang mereka sukai.

Nah, membacakan buku pada anak ini dapat dilakukan sejak usia bayi. Untuk usia kurang dari 1 tahun, sebaiknya orang tua memilih buku dengan model board book yang lebih tebal agar tidak sobek. Hal ini dikarenakan anak usia ini masih sangat penasaran dengan barang baru yang dipegangnya, sehingga ia cenderung mengeksplorasi dengan cara mengemut atau merobek buku. Lebih bagus lagi kalau ada buku yang memiliki kelengkapan sensoriknya.

2. Membuat kesepakatan dengan suami tentang penggunaan gawai / gadget.
Terkadang komunikasi dengan orang tua serta mertua tidak bisa lancar layaknya jalan tol. Oleh karena itu, bagi saya, penting untuk sevisi dengan suami. Biasanya sebelum tidur, saya kerap membicarakan perkembangan anak serta bagaimana menetapkan pola pengasuhan di era digital ini. Kalau ayah bunda kompak dan konsisten, anak juga bisa lebih disiplin.

Bersama suami, saya sepakat untuk tidak memberikan smartphone kepada anak untuk menonton YouTube agar tidak kecanduan. Saya hanya mengizinkan anak berinteraksi dengan layar smartphone untuk melihat ulang video-videonya yang sudah direkam dan disimpan di smartphone, itupun tidak lama hanya 10 sampai 15 menit saja biasanya anak sudah bosan. Sebagai penyeimbang, saya juga meminta suami untuk menemani anak beraktivitas di luar ruangan, seperti berolahraga dan melihat sapi, kerbau, bebek, ayam, dan kambing di lapangan. Sekilas aktivitas ayah-anak ini bisa dilihat di video di bawah ini:


Kalau anak sudah berusia lebih dewasa atau sudah sangat mahir dalam menggunakan gawai tanpa adanya orang tua, kita perlu melakukan filter di aplikasi smartphone dengan cara berikut:




Untuk menonton video di YouTube, saya hanya izinkan 1 jam per harinya dengan menonton via televisi. Sekarang kan ada televisi LCD yang ada aplikasi YouTube nya, nah saya menggunakan fasilitas itu. Buat saya beberapa video di YouTube cukup membantu perkembangannya, misalnya mengenal warna, berhitung, melakukan kebiasaan baik seperti cuci kaki sebelum tidur, menyanyi, dan lain sebagainya. Sehingga saya tidak melarangnya hanya melakukan pembatasan sesuai usianya. Pilihan untuk menonton video via layar LCD buat saya menjadi opsi terbaik agar anak tidak terlalu dekat dengan layar gadget dan tidak kecanduan gadget dalam genggaman.

Selain itu, perlahan orang tua bisa membangun komunikasi yang baik dan mengenalkan mengenai penggunaan internet yang positif, misalnya saja untuk berkarya, belajar, hiburan dengan batasan, dan lain sebagainya.


3. Berkompromi dengan orang tua, mertua, dan pengasuh.
Di Indonesia, sepertinya memang sudah lazim melakukan pengasuhan bersama, apalagi untuk orang tua muda. Nah, pada kondisi ini terkadang banyak perbedaan nilai dengan orang tua dan mertua. Oleh karenanya, bunda dan ayah perlu mengomunikasikan kepada orang tua dan mertua mengenai prinsip-prinsip pengasuhan yang di anut, kalau bisa berikan contoh, misalnya menunjukkan perkembangan dan antusiasme anak dalam membaca agar mereka memahami dan dapat mengaplikasikannya pula. Dengan komunikasi yang baik, insya Allah kekompakan antara ayah, bunda, dan kakek neneknya si kecil bisa terjalin.

4. Tidak menonton acara-acara di televisi.
Saya sendiri tidak suka menonton televisi karena buat saya tidak terlalu penting. Kalau mau baca berita bisa baca koran atau baca di internet dan melihat video aktualnya di YouTube. Karena itu, saya juga tidak membiasakan anak saya untuk menonton televisi. Pertama, karena hanya sedikit tayangan televisi yang mendidik. Kedua, banyak iklan yang tidak bisa kita saring kontennya.

5. Membiasakan anak untuk bermain dan berkarya.
Menurut saya, era digital adalah era yang tepat untuk berkarya. Kalau dulu karya kita tidak dikenal, sekarang ada banyak sekali media yang bisa menjadi perantara untuk publikasi karya. Saya mencoba menanamkan ini kepada anak secara perlahan, pertama dengan cara menanamkan keberaniannya untuk berkarya. Saya bebaskan ia untuk mencoret-coret dinding, kertas, dan buku-bukunya. Kelak jika sudah waktunya, saya harap saya bisa mendampingi ia untuk menjadi seorang creator di dunia digital. Tujuannya adalah menanamkan mindset atau pola pikir yang produktif dan tidak hanya konsumtif semata.
Mahira dan mahakaryanya.


Mengajak dan membimbingnya untuk terus bermain dan berkreasi mampu membuat ia lebih bahagia dan tangguh. Saya sangat berharap kelak di masa depan, ia bisa dengan mudah menemukan pemecahan pada tiap permasalahan hidupnya.


Sahabat Keluarga Kemdikbud, Sahabat Sejati Orang Tua Millennials

Untuk menjadi orang tua yang bisa mengasuh dengan bijak di dunia digital, kita tentu perlu panduan. Namun, terkadang, ada orang tua yang kebingungan memilih “buku panduan”. Belum lagi terkendala dengan harga buku yang mahal.

Tapi, itu DULU!

Kabar baiknya, sekarang sudah ada Sahabat Keluarga Kemdikbud yang menjadi teman sejati orang tua millennials! Saya sangat senang saat pertama kali diberitahu ayah saya bahwa ada kanal Sahabat Keluarga Kemdikbud ini. Makin bahagia saat disana ada buanyak materi untuk orang tua millennials yang bisa diunduh secara GRATIS!
Cara mengunduh materi untuk orang tua dan anak di Sahabat Keluarga Kemdikbud


Materi untuk orang tua pun beragam, mulai dari pra-kelahiran, usia bayi, usia PAUD, SD, SMP, hingga SMA. Dari semua materi, favorit saya adalah materi mengenai “Bercerita Pada Anak” dan Mindful Parenting. Dari e-book “Bercerita Pada Anak” ini saya jadi paham mengapa anak saya maunya membaca Dinosaurus dan buku mengenai binatang melulu, karena memang rupanya anak dibawah usia 3 dan 5 tahun cenderung menyukai cerita yang sama yang dibacakan berulang kali.

Meskipun orang tua bosan, tapi rupanya anak betul-betul antusias. Terkadang, mereka terlihat puas dan bangga karena dapat menebak akhir cerita, emosi dari tokoh, dan kelucuan-kelucuan dalam cerita. Hm.. betul-betul wawasan dari Sahabat Keluarga Kemdikbud yang bermanfaat! Coba yuk simak pengalaman saya bersama Sahabat Keluarga Kemdikbud di video ini:


Nah, dari saya pun tahu cara untuk berhemat. Sebulan sekali, Mahira saya belikan buku baru, tapi jika ia sudah bosan, saya memilih untuk mengajaknya ke perpustakaan kota untuk memilih sendiri buku dengan karakter yang ia inginkan.

Wah, mengasuh di era digital ini betul-betul menjadi lebih mudah berkat adanya Sahabat Keluuarga Kemdikbud, ya!

Para orang tua juga bisa mengikuti update wawasan terbaru dari Sahabat Keluarga Kemdikbud di link berikut ini:

Selamat membaca, selamat mengasuh anak secara bijak di era digital bersama Sahabat Keluarga Kemdikbud 😊



Referensi:
Website Sahabat keluarga kemdikbud
Modul Pelatihan Parenting di Era Digital (kementerian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak)

#SahabatKeluarga
Agustus 13, 2018

Mewujudkan Kolaborasi Keluarga, Pemerintah, dan Duta Kekinian untuk Menunjang Pendidikan di Era Digital

by , in
lomba blog kemdikbud, data anak dengan internet, data anak menggunakan gadget, data anak menggunakan media sosial, sahabat keluarga kemdikbud, pelibatan keluarga dalam penyelenggaraan pendidikan di era kekinian

Orang tua zaman sekarang banyak yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku anaknya yang “selalu menunduk”. Kalaupun mau belajar menggunakan gadget, perlu waktu dan proses belajar yang tidak singkat. Seperti ibu mertua saya yang sampai sekarang masih kesulitan melakukan video call dan membuka video cucu kesayangannya lewat WhatsApp. Dengan adanya internet, rasanya zaman menjadi serba cepat, arus informasi yang kian deras, dan terkadang sekaligus menjadi menakutkan lantaran ancaman-ancaman di dunia digital yang bisa menimpa siapa saja.

Coba yuk, flashback sebentar. Kira-kira pada awal tahun 1980an, pemerintah Indonesia mulai mengembangkan internet dan kemudian menjadi semakin populer pasca runtuhnya Rezim Orde Baru di tahun 1998. Bersamaan dengan masuknya internet ini, perlahan gadget atau gawai menjadi sebuah perangkat yang diperkenalkan kepada generasi X dan Y yang saat itu sudah cukup mampu membeli gawai dan menggunakannya.

Lama kelamaan, arus dunia digital semakin deras dan penggunaan gadget telah menjadi kebutuhan utama. Hampir sebagian besar masyarakat Indonesia telah menggenggam gadget, atau paling tidak, minimal pernah berinteraksi dengan gadget. Tidak dapat kita pungkiri bahwa fitur dan teknologi yang diusung berbagai jenis gadget tersebut juga memanjakan penggunanya. Kini, menggenggam gawai bukan hanya sekedar untuk telepon dan SMS (Short Message Sevice) saja. Aktivitas hiburan, mengerjakan tugas sekolah, berbelanja, juga dapat dilakukan dengan satu gadget/gawai.


Anak-Anak Semakin Melek Teknologi dan Internet

Nah, kemudian muncul pertanyaan, siapa saja yang bisa menggunakan gawai ini? Zaman dulu ketika harga gadget masih sangat mahal dan masih mengusung fitur monophonic serta polyphonic, tidak semua kalangan bisa membelinya. Kini, modal 700 ribuan saja, bahkan kurang, sudah bisa dapat tab yang cukup oke untuk pemakaian sehari-hari.

Di Indonesia, jumlah pengguna gadget dan internet terus mengalami peningkatan. Tahun 2017 tercatat terdapat 143,26 juta pertumbuhan pengguna internet di Indonesia. Menurut survey APJII, komposisi pengguna internet dapat diklasifikasikan menurut usia yakni (i) 19-34 tahun sebanyak 49,52%, (ii) 35-54 tahun sebanyak 29,55%, (iii) 13-18 tahun sebanyak 16,68%, dan (iv) >54 tahun sebanyak 4,24%. Kelompok anak berusia 13-18 tahun juga menduduki peringkat pertama dalam penetrasi penggunaan internet, yakni sebanyak 75,50%. Artinya, semakin banyak anak berusia 13-18 tahun yang menggunakan internet dalam kesehariannya.
lomba blog kemdikbud, data anak dengan internet, data anak menggunakan gadget, data anak menggunakan media sosial, sahabat keluarga kemdikbud, pelibatan keluarga dalam penyelenggaraan pendidikan di era kekinian

lomba blog kemdikbud, data anak dengan internet, data anak menggunakan gadget, data anak menggunakan media sosial, sahabat keluarga kemdikbud, pelibatan keluarga dalam penyelenggaraan pendidikan di era kekinian

Bagi sebagian orang, tingginya angka anak-anak dalam berinteraksi dengan dunia digital cukup mengagetkan. Namun sebetulnya, hal ini cukup wajar, mengingat anak rentang usia 13-18 tahun pada tahun 2017 ini termasuk ke dalam Generasi Z yang termasuk ke dalam kelompok digital native, yakni generasi yang sejak lahir telah terpapar teknologi dan internet.

Generasi lain yang juga termasuk kelompok digital native adalah Generasi Y atau Millennials dan Generasi Alpha. Para digital native ini cenderung memiliki wawasan, pengetahuan, serta pikiran yang sangat terbuka terhadap perkembangan teknologi, cepat menangkap informasi, dan cenderung cepat beradaptasi dengan teknologi terbaru.

Selain itu, mereka juga percaya bahwa kegiatan belajar dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan, misalnya sambil menonton TV, bermain games, atau mendengarkan musik.
Hal ini dikuatkan oleh data YKBH pada tahun 2015 yang melakukan survey terhadap perilaku di internet dari 2064 anak usia 9-12 tahun yang terdiri dari belajar, bermain games, menonton film atau video, bermain media sosial, jual beli, membaca berita, download, dan mendengarkan lagu. Meskipun memiliki berbagai dampak positif, penggunaan gadget dan internet sudah pasti memiliki efek negatif.




Internet Memengaruhi Perilaku Belajar Anak

Dari data di atas terlihat bahwa arus teknologi dan internet yang semakin kuat dari tahun ke tahun berpotensi untuk memengaruhi perilaku belajar anak. Kecenderungan anak untuk belajar dengan menggunakan gawai dan internet tentu berbeda dengan cara belajar orang tua zaman dulu. Apalagi sekarang semakin banyak aplikasi yang mendukung anak untuk belajar via gawai dan internet.

Belum lagi ancaman di dunia digital yang bisa bertamu ke siapa saja dan kapan saja. Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) membagi tiga kategori resiko online pada anak-anak dan remaja seperti resiko teknologi internet, resiko sebagai konsumen, dan resiko privasi informasi.

Arus internet yang semakin deras dan tinggi tidak bisa dihindari atau dijauhi. Meskipun penuh resiko dan orang tua melarang, anak bisa saja mendapatkannya dari orang lain, teman, maupun lingkungan. Cara yang perlu dilakukan keluarga adalah membantu anak menyiapkan diri agar kuat menghadapi kecepatan perkembangan teknologi, tidak terbawa arus negatif teknologi, serta menstimulasi anak agar bisa memanfaatkan teknologi dengan baik.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pada tahun 2014 meluncurkan hasil studi yang menelusuri aktivitas online dari sampel anak dan remaja usia 10-19 tahun. Hasil survei tersebut menghasilkan beberapa fakta, diantaranya:
1. Setidaknya 30 juta anak-anak dan remaja di Indonesia merupakan pengguna internet dan media digital;
2. Mayoritas responden telah menggunakan media online selama lebih dari setahun dan hampir setengah dari mereka mengaku pertama kali belajar berinternet dari teman;
3. Ada sekitar 20% responden yang tidak menggunakan internet, alasannya adalah tidak memiliki perangkat, tidak terdapat infrastruktur untuk mengakses internet atau dilarang oleh orang tua;
4. Motivasi utama anak-anak untuk mengakses internet adalah untuk mencari informasi, terhubung dengan teman, serta untuk hiburan;
5. Hampir semua responden tidak setuju terhadap konten pornografi, namun sejumlah besar anak dan remaja telah terekspos konten pornografi;
6. Hanya sedikit pihak orang tua yang mampu mengawasi anak-anak mereka dalam mengakses internet.

Berdasarkan hasil studi ini, pemerintah memberikan beberapa rekomendasi sebagai berikut:
1. Diperlukan upaya-upaya untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan ketrampilan
anak-anak berkaitan dengan keamanan berinternet;
2. Setiap kampanye atau program yang dirancang harus didasarkan pada bukti-bukti empiris dan melibatkan anak-anak dan remaja sehingga kampanye atau program tepat sasaran;
3. Pihak orang tua dan guru harus terlibat dalam aktivitas digital anak;
4. Pihak-pihak yang bertanggungjawab terhadap keamanan isi internet perlu meningkatkan
keamanan konten;
5. Perlu informasi khusus bagi anak dan remaja tentang resiko bahaya yang mungkin timbul dari pertemuan langsung dengan seseorang yang baru dikenal dari dunia maya;
6. Pesan-pesan tentang keamanan digital harus berimbang denan menekankan pada kemanfaatan internet bagi pendidikan, penelitian, dan pergadangan;
7. Anak-anak dan remaja harus terus dimotivasi untuk memandang dan menjadikan internet
sebagai sumber informasi berharga dan memanfaatkannya dengan maksimal;
8. Perlu adanya pengembangan cara yang efektif untuk mengampanyekan keamanan digital secara online maupun offline;
9. Dibutuhkan kader-kader muda teladan dalam keamanan berinternet yang dapat membagikan hal tersebut kepada teman-temannya.

Melihat fakta di atas, perlu ada upaya yang sinergis dari berbagai pihak terutama antara orang tua dan anak sebagai satu keluarga untuk mengurangi dampak negatif di era internet ini.


Role Model Internet Positif dari Anak untuk Anak

Dalam pergaulan, anak memiliki sifat alami untuk meniru perilaku orang tuanya serta lingkungan sekitar. Anak-anak juga dapat dengan mudah mengidolakan seseorang yang dianggapnya keren, gaul, dan kekinian. Mereka akan dengan mudah mengidentifikasi diri seperti para idolanya baik dengan mengaplikasikan cara berbicara, berpakaian, gaya hidup, bahkan prinsip. Namun sayangnya, tidak semua anak mampu menyaring konten di media sosial para idolanya.

Sebagai contoh, tahun 2016 lalu dua orang selebgram (seleb Instagram) dipanggil oleh KPAI lantaran konten negatif yang di unggah di media sosial dikhawatirkan berpengaruh negatif ke anak-anak dan remaja.

Selain itu, masih lekat diingatan mengenai Bowo Alpenliebe, seorang anak pengguna aplikasi Tik Tok yang menjadi viral. Bowo yang kini berusia 13 tahun, mengaku telah mahir menggunakan aplikasi asal Tiongkok itu sejak di bangku SD. Ia kemudian menerima endorse senilai ratusan ribu, hingga mengadakan meet and greet dengan biaya Rp 80.000 per orang. Gara-gara hal ini, Bowo menerima berbagai cacian dan tindakan perundungan (bullying) oleh warganet.

Oleh karena itu penting adanya sosok role model atau kader-kader muda merujuk pada poin rekomendasi Kominfo di atas untuk menjadi sosok yang menjadi idola baru dikalangan anak-anak seusianya.


Junior Influencer Indonesia: Kolaborasi Antara Keluarga, Pemerintah, dan Duta Kekinian

Program kader-kader muda gagasan saya ini bernama "Junior Influencer Indonesia". Pemilihan kata Junior untuk merujuk pada usia anak-anak dan pemakaian kata Influencer yang memiliki arti orang yang berpengaruh serta merujuk pada istilah yang sekarang sedang berkembang di kalangan anak muda.

Sebagai contoh, beberapa Influencer Indonesia yang dikenal memiliki prestasi adalah Diana Rikasari (fashion), Jenahara (fashion), Dian Pelangi (fashion muslimah), Ria Miranda (fashion dan parenting), Gita Savitri (pendidikan dan creator content), dan Wirda Mansur (pendidikan). Mereka dianggap sebagai influencer yang memiliki nilai interaksi positif dan menjadi perhatian bagi para pengikutnya. Mereka yang disebut sebagai influencer adalah orang atau pemilik akun media sosial yang mempunyai kemampuan untuk memengaruhi orang lain lewat akun media sosial yang mereka miliki.

Junior Influencer Indonesia ini nantinya merupakan program duta kekinian yang menitikberatkan pada karakter dan usia influencer, peran keluarga melalui pengasuhan positif, aktivitas digital, serta kampanye gawai dan internet sehat untuk anak-anak seusianya. Adanya peran keluarga dalam keseharian anak juga penting agar menjadi inspirasi bagi keluarga lainnya dalam mendidik anak dengan pola pengasuhan positif.

Proses seleksi Junior Influencer Indonesia (kemudian dapat disingkat menjadi Juin Indonesia) dapat dilakukan dengan memberikan beberapa kriteria, seperti klasifikasi usia dari usia SD, SMP, hingga SMA. Perlu dilihat pula karakter dari pribadi calon Juin Indonesia, dukungan dan peran keluarga dalam keseharian, pemahaman dasar mengenai aktivitas penggunaan gawai dan internet sehat, aktif berinternet, memiliki konten kreatif dan positif di akun media sosialnya, serta prestatif.

lomba blog kemdikbud, data anak dengan internet, data anak menggunakan gadget, data anak menggunakan media sosial, sahabat keluarga kemdikbud, pelibatan keluarga dalam penyelenggaraan pendidikan di era kekinian

Beberapa pesan dan nilai-nilai yang nantinya akan dibawa oleh para Junior Influencer ini adalah pertama, mengenai pemakaian gawai dan internet sehat; kedua, kampanye waktu untuk keluarga (family time) dan no gadget saat melakukan kumpul rutin keluarga atau family time; ketiga, membuat dan mengonsumsi konten yang positif di dunia digital; keempat, dorongan dan motivasi kuat untuk berprestasi; dan kelima, menyampaikan informasi tentang resiko berinternet yang mengintai anak-anak seusianya serta upaya
meminimalisirnya.

Selain peran keluarga untuk mendukung anak, program ini perlu didukung oleh pihak-pihak terkait, misalnya kerjasama antara Sahabat Keluarga Kemendikbud dan Kominfo serta lembaga swasta lainnya yang bergerak dibidang anak dan dunia digital, serta peran sponsor yang memiliki visi dan misi yang sejalan. Peran sponsor selain membantu dari segi pendanaan, juga dapat membantu menyebarluaskan kehadiran para influencer ini ke masyarakat luas.

Konsep Junior Influencer yang saya gagas di atas, sangat mungkin untuk diaplikasikan, sebab gagasan ini bersifat proaktif, kekinian, inovatif, memiliki daya tarik dan manfaat yang besar, original; sejalan dengan poin-poin rekomendasi pemerintah di atas; serta mudah diserap dan diterima oleh warganet Indonesia khususnya anak-anak SD yang aktif di dunia digital.

Penutup

Gagasan mengenai Junior Influencer ini saya harapkan dapat menjadi kolaborasi antara anak, pemerintah, dan orang tua sekaligus akselerasi dan solusi untuk melindungi anak-anak Indonesia dari dampak negatif penggunaan gawai dan internet yang tidak sehat.

Menghadirkan idola dengan usia yang sesuai untuk anak-anak, harapannya mereka dapat mencontoh perilaku dan kebiasaan serta prinsip-prinsip dalam menjalani kehidupan di dunia nyata dan dapat menggunakan fasilitas yang ada pada dunia digital dengan baik, terarah, dan cerdas.



Referensi:
Data APPJI
Kominfo


#SahabatKeluarga

Agustus 11, 2018

Keluarga Terlibat dengan Langkah C.E.R.M.A.T untuk Mencegah Bullying pada Anak di Era Kekinian

by , in

lomba blog sahabat keluarga kemdikbud, macam-macam bullying, bullying adalah, tindakan perundungan adalah, jenis bullying, penyebab bullying, data bullying di indonesia, cara mengatasi bullying, verbal bullying, cyber verbal bullying, keluarga terlibat, peran keluarga mengatasi bullying, era kekinian, pelibatan keluarga pada penyelenggaraan pendidikan di era kekinian

Keterlibatan orang tua dalam pendidikan dan pengasuhan anak menjadi perihal yang sangat berharga di era kekinian ini. Anak kita, semakin dewasa, semakin membutuhkan pendampingan, pengalaman, serta contoh yang baik yang dapat mereka lihat di rumah. Sebab, apa yang anak dapatkan di rumah akan dibawa ke kehidupanya di sekolah, dalam pergaulan, dan bahkan di dunia maya. Keterlibatan yang minim dari orang tua dalam pendidikan dan pengasuhan anak, memungkinkan adanya gap atau jarak antara orang tua dan anak. Jarak yang semakin lebar antara keduanya, dapat memperburuk situasi, terutama ketika anak mengalami masalah.

Masalah pada anak di era kekinian pun beragam. Salah satu yang harus terus mendapat perhatian adalah permasalahan bullying atau yang dalam Bahasa Indonesia disebut sebagai tindakan perundungan. Bullying merupakan masalah yang masih saja terjadi di lingkungan sekolah, keluarga, dan bahkan meluas ke dunia maya yang dikenal dengan istilah cyber bullying atau tindakan perundungan di dunia maya.


Bullying di Indonesia   

Kasus bullying di Indonesia seperti fenomena gunung es, yakni hanya sedikit yang terlihat namun sebetulnya mengakar kuat di lingkungan anak dan bahkan pola pikir pelaku bullying ini secara tidak sengaja juga dapat diwariskan dari generasi ke generasi. Baik bullying secara tradisional maupun di dunia maya, sama-sama membawa bahaya yang besar, berdampak domino, serta menjadikan korbannya depresi. Sebanyak 10% diantaranya bahkan sampai melakukan percobaan bunuh diri.

Umumnya, anak yang sensitif, kurang bisa bersosialisasi, anak yang mudah gelisah, pasif, anak yang cenderung mengalah, anak yang mudah depresi, anak yang memiliki kekurangan, anak yang terlalu cantik, berprestasi, maupun populer juga dapat menjadi korban bullying yang potensial. Masalah ini bukanlah perihal sepele, apalagi di era digital ini, bentuk bullying sudah mencapai ranah cyber bullying yang dapat dilakukan di luar sekolah dan kapan saja, tanpa sepengetahuan orang tua.

Penelitian dari University of Oxford, Warwick, Bristol, dan UCL menunjukkan bahwa anak-anak yang sering dibully baik oleh teman maupun saudaranya sendiri berpotensi dua kali lebih besar mengalami depresi saat dewasa. Selain itu, mereka juga berpotensi melakukan penganiayaan terhadap diri sendiri, serta sangat memengaruhi kesehatan mental. Perilaku bullying juga dapat memperpanjang rantai kekerasan, dimana anak yang pernah dibully memiliki kecenderungan untuk melakukan tindakan bullying yang serupa kepada orang lain, bahkan termasuk kepada anaknya sendiri di masa depan.

Saat saya mencoba melakukan survey kecil-kecilan di Instastory @NabillaDP, dari 45 responden, sebanyak 39 orang mengaku pernah mengalami tindakan perundungan di masa kecil maupun tindakan perundungan di dunia maya. Beberapa bahkan dengan gamblang cerita bahwa rasa trauma tersebut masih disimpan hingga dewasa.

Komunitas anti bullying Sudah Dong mencatat sebanyak 10% siswa korban bullying keluar atau pindah sekolah karena menghindari bullying, sebanyak 71% siswa menganggap bahwa bullying merupakan masalah serius di sekolah mereka, serta sebanyak 90% pelajar kelas 4 SD sampai 2 SMP melaporkan telah menjadi korban bullying di sekolahnya.

KPAI mencatat pada tahun 2016 terdapat 81 anak korban bullying di sekolah. Disisi lain, juga terdapat data pada tahun yang sama yang dihimpun oleh KPAI bahwa terdapat 93 anak pelaku bullying di sekolah. Data lain yang tidak kalah mengejutkan adalah sebaran kasus perundungan di berbagai wilayah, dengan angka tertinggi di Ibu Kota negara kita. Data di bawah ini diambil dari Bank Data KPAI:
Sumber: Bank Data KPAI

Provinsi DKI Jakarta menempati urutan kasus bullying terbanyak. Berikut data korban bullying di DKI Jakarta. Sumber: Bank Data KPAI

Provinsi DKI Jakarta menempati urutan kasus bullying terbanyak. Berikut data korban bullying di DKI Jakarta. Sumber: Bank Data KPAI

Realita bahwa anak dapat menjadi korban dan juga ada yang menjadi pelaku membuat sulitnya memutus mata rantai tindakan perundungan ini. Pelaku pun, suatu saat juga bisa menjadi korban karena tindakan membully-nya itulah dia jadi berpotensi untuk dibully oleh orang-orang sekitar. KPAI berpendapat, perlu adanya peran aktif keluarga dan lingkugan untuk memberikan edukasi. Baik korban maupun pelaku, sama-sama tidak boleh ditinggalkan.


Mengenal Bullying: Jenis dan Penyebabnya   

Kata bullying menurut KPAI adalah kekerasan fisik dan psikologis berjangka panjang yang dilakukan seseorang atau kelompok terhadap seseorang yang tidak mampu memertahankan diri.

Sementara menurut Komunitas "Sudah Dong" dalam Buku Panduan melawan Bullying menyebutkan bahwa bullying merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu atau sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang lain, bertujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara terus menerus.
lomba blog sahabat keluarga kemdikbud, macam-macam bullying, bullying adalah, tindakan perundungan adalah, jenis bullying, penyebab bullying, data bullying di indonesia, cara mengatasi bullying, verbal bullying, cyber verbal bullying, keluarga terlibat, peran keluarga mengatasi bullying, era kekinian, pelibatan keluarga pada penyelenggaraan pendidikan di era kekinian


Parahnya, bullying pada anak tidak hanya terjadi di sekolah tetapi juga dapat terjadi di lingkaran keluarga serta di dunia maya. Terdapat beberapa jenis bullying, yakni:

Pertama, verbal bullying atau pelecehan verbal. Bentuk pertama ini mencakup pemanggilan nama, penghinaan, sindiran, intimidasi, komentar rasis, atau pelecehan secara verbal yang dilakukan dengan kata-kata dan dilakukan secara terus menerus. Hal ini dapat membuat orang yang di bully merasa tidak nyaman, tersinggung, bahkan malu.

Contoh: ketika ada seorang anak berkata ke anak yang lain, “Kamu itu gendut buanget, mamamu juga, papamu juga. duh, sekeluarga gendut semua!”

Lingkungan kita mungkin ada yang menganggap anggapan bahwa ucapan yang seperti ini termasuk kategori bercanda. Padahal, tidak semua anak menyerap kalimat tersebut sebagai candaan belaka.

Kedua, physical bullying atau membully dengan melibatkan fisik. Jenis ini biasanya melibatkan pukulan, intimidasi fisik yang agresif, menendang, mendorong, mencubit, hingga menyentuh dengan cara yang tidak diinginkan dan tidak pantas. Kekerasan fisik ini bahkan mampu menyebabkan luka dan trauma dalam jangka pendek maupun panjang.

Contoh: seseorang anak dipermalukan dengan cara ditelanjangi di depan umum; seorang anak perempuan dijambak rambutnya oleh anak-anak yang mem-bully.
  
Ketiga, social bullying atau tidakan perundungan sosial, terkadang disebut juga sebagai intimidasi tersembunyi atau relational bullying. Bentuk bullying yang satu ini lebih sulit untuk dikenali dan dapat dilakukan di belakang panggung orang yang dibully dengan tujuan untuk merusak reputasi seseorang dan menghinanya. Ada pula bullying dengan taktik tertentu seperti mencegah seseorang untuk bergabung ke sebuah kelompok, misalnya hanya untuk sekedar makan siang di meja, saat permainan, saat olahraga, ataupun saat aktivitas sosial. Social bullying ini juga bisa terjadi di lingkaran keluarga.

Penindasan sosial ini meliputi: berbohong dan menyebarkan gosip, penampilan mengancam atau menghina, bermain lelucon jahat untuk mempermalukan seseorang, mengecualikan seseorang secara sosial, hingga merusak reputasi sosial seseorang.

Contoh: seorang anak yang sering berprestasi dan menjadi juara kelas justru dikucilkan teman-temannya karena dianggap tidak gaul.

Keempat, cyber bullying atau tindakan perundungan yang terjadi di dunia maya. Perilaku bullying ini muncul sebagai salah satu dampak negatif era digital. Pelaku dan korban saling terhubung di dunia maya dan tindakan perundungan dilakukan secara terang-terangan maupun terselubung dengan menggunakan teknologi digital, gadget seperti komputer dan smartphone, aplikasi seperti media sosial, dan platform online lainnya.

Cyber bullying dapat terjadi kapan saja, dapat dilakukan di depan umum ataupun secara pribadi. Cyber bullying dapat meliputi email atau postingan teks, gambar, maupun video atau tulisan yang mengganggu, menyakitkan, sengaja mengecualikan orang lain secara online, menyebar gosip atau rumor buruk di media sosial, meniru orang lain secara online atau menggunakan akun mereka untuk menulis sesuatu yang merendahkan diri pengguna.

Contoh: ada teman sekelas yang masuk ke akun Twitter seorang anak dan dengan sengaja memposting foto dirinya yang memalukan.

Tindakan perundungan atau bullying ini tidak terjadi begitu saja. Terdapat beberapa penyebab bullying pada anak baik yang terjadi secara tradisional seperti di lingkungan sekolah dan rumah, serta bullying di dunia maya. Beberapa penyebab yang mungkin menimbulkan tindakan bullying pada anak meliputi:
1. permusuhan. Hal ini bisa berupa rasa kesal sakit hati, atau bahkan karena tidak suka lantaran alasan terentu (karena fisik, status sosial, prestasi, dan lain-lain) diantara teman yang dapat menjadi pemicu seseorang melakukan tindakan bullying kepada orang lain.
2. rasa kurang percaya diri dan mencari perhatian. Seseorang yang kurang percaya diri seringkali ingin diperhatikan, dan kacaunya, salah satu tindakan yang ia ambil adalah dengan melakukan bullying. Dengan mem-bully orang lain, ia cenderung merasa lebih puas, kuat, dan merasa dominan.
3. perasaan dendam. Seseorang yang pernah disakiti atau ditindas biasanya menyimpan rasa dendam yang ingin disalurkan kepada orang lain dengan cara bullying, tujuannya agar dendamnya terlampiaskan dan orang lain merasakan hal yang sama.
4. pengaruh negatif dari media. Misalnya televisi, internet, dan lain sebagainya yang memberikan contoh buruk yang bisa menstimulasi anak untuk melakukan tindakan bullying tanpa alasan yang jelas. Oleh karena itu sangat penting pendampingan orang tua dalam interaksi di dunia maya.
5. warisan pola pikir dari keluarga. Keluarga adalah unit yang paling tepat untuk menanamkan nilai-nilai pada anak. Jika ada keluarga yang mewariskan, baik dengan sengaja maupun tidak, tindakan bullying pada anaknya, si anak dapat dengan mudah menirukan dan melakukan bullying kepada orang lain.

Berikut ada wawasan yang menarik dari Sahabat Keluarga Kemdikbud mengenai perundungan atau bullying dengan media video. Bisa disimak disini ya:



Tanda-tanda Anak Mengalami Bullying   

Orang tua dapat mengenali tanda-tanda anaknya mengalami bullying dengan melihat tiga aspek yakni perubahan tanda secara emosional, tanda fisik, tanda perilaku di sekolah, serta tanda-tanda lainnya. Tanda dan perubahan perilaku dan emosi pada anak ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
1. perubahan pola tidur dan pola makan;
2. lebih sering marah dan menangis;
3. mengalami mood swing atau perubahan mood yang drastis;
4. selalu merasa sakit di pagi hari;
5. tiba-tiba menjadi gagap dan tidak percaya diri;
6. menjadi agresif;
7. enggan terbuka mengenai beberapa hal;
8. mulai menarget atau meluapkan emosinya pada saudaranya (adik atau kakak);
9. tiba-tiba mulai mencuri uang atau kehilangan uang dalam jumlah banyak.

Sementara tanda berupa perubahan fisik yang perlu diketahui orang tua adalah:
1. terdapat beberapa bekas pukulan, luka, maupun goresan yang enggan anak tampakkan atau tidak mau ia bicarakan;
2. pulang ke rumah dengan kondisi seragam rusak atau ada yang hilang;
3. pulang ke rumah dengan kondisi yang sangat lapar.

Orang tua juga perlu lebih cermat dalam melihat perubahan perilaku anak di sekolah seperti:
1. anak tidak mau pergi ke sekolah;
2. anak mengubah rute ke sekolah atau minta diantar (jika biasanya berjalan kaki atau naik sepeda);
3. tidak mau pergi ke sekolah menggunakan kendaraan umum ataupun fasilitas penjemputan sekolah;
4. prestasinya menurun.

Selain ketiga tanda-tanda di atas, terdapat beberapa tanda lainnya seperti:
1. sering sendiri, menyendiri, atau dikecualikan dari kelompoknya di sekolah;
2. selalu menjadi target penghinaan di sekolah;
3. tidak berani dan sangat malu untuk muncul dan berbicara di depan kelas.


Pelibatan Keluarga untuk Mencegah Bullying dengan Langkah C.E.R.M.A.T   

Keluarga menjadi salah satu lembaga paling dasar, unit terkecil dalam masyarakat dan paling dekat dengan anak yang dapat membantu mencegah serta melakukan langkah awal dalam mengatasi bullying anak di era kekinian. Pelibatan keluarga ini dapat dilakukan dengan 5 langkah yang saya singkat menjadi 5 langkah C.E.R.M.A.T, yakni:

lomba blog sahabat keluarga kemdikbud, macam-macam bullying, bullying adalah, tindakan perundungan adalah, jenis bullying, penyebab bullying, data bullying di indonesia, cara mengatasi bullying, verbal bullying, cyber verbal bullying, keluarga terlibat, peran keluarga mengatasi bullying, era kekinian, pelibatan keluarga pada penyelenggaraan pendidikan di era kekinian

C untuk Cinta

Orang tua dapat melakukan pencegahan bullying dengan cara mengajarkan cinta kasih antar sesama kepada anak-anak. Sebagai orang tua, penting untuk memilih lingkungan yang baik sejak dini, mendampingi, serta mencontohkan perilaku cinta kasih. Dengan hati yang penuh terpenuhinya kebutuhan kasih sayang dan perhatian dari orang tua, anak tidak akan dengan mudahnya terpikir untuk melakukan tindakan bullying, akan lebih terbuka dengan orang tua, serta dapat melindungi dirinya dari bullying.

Beberapa tindakan Cinta Kasih yang dapat kita ajarkan sebagai orang tua adalah:
1. membiasakan sentuhan-sentuhan yang baik dan positif. Misalnya pelukan sebelum berangkat sekolah, menggenggam tangan saat anak membutuhkan, dan membelai serta mencium kening anak sebelum tidur. Dengan adanya sentuhan positif ini, anak akan merasa dekat dengan orang tua dan tidak akan sungkan bercerita apabila mengalami bullying. Selain itu, sentuhan positif mencegah anak untuk melakukan bullying secara fisik.
2. mengajarkan nilai-nilai agama. Orang tua perlu mengenalkan nilai-nilai agama yang penuh dengan kasih sayang, misalnya larangan untuk menyakiti sesama.

E untuk Emosi

Orang tua perlu melakukan kedekatan emosional. Membangun kedekatan secara emosional dengan anak membuat kita sebagai orang tua mengetahui lebih dalam mengenai diri anak serta lingkungannya. Terhubung secara emosional dengan anak dapat membuat anak mudah bercerita dan berkomunikasi dalam kondisi apapun, termasuk ketika ia menjadi korban bullying atau melihat pelaku bullying di sekolah maupun di dunia maya.Kedekatan emosional sesungguhnya dapat dibangun sejak bayi, namun apabila orang tua belum melakukannya, tentu tidak ada kata terlambat. Beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam membangun kedekatan emosional dengan anak adalah:
1. membangun rasa percaya diri pada anak;
2. memupuk keberanian dan ketegasan pada anak;
3. mendengarkan dan hadir untuk anak;
4. berbicara baik kepada anak.
Tips membangun jiwa atau emosi anak sejak dini. (sumber: halaman Sahabat Keluarga Kemdikbud)


Orang tua juga tidak perlu khawatir dan bingung bagaimana cara untuk memulai kedekatan emosional dengan anak. Sebab, sekarang Indonesia memiliki Sahabat Keluarga Kemdikbud yang menyajikan puluhan buku elektronik yang dapat diunduh secara GRATIS! Berikut saya berikan gambar yang informatif untuk mengunduh buku panduan bagi orang tua melalui laman Sahabat Keluarga Kemdikbud:


R untuk Role Model

Ada pepatah Children See, Children Do yang berarti anak melihat dan kemudian anak melakukan. Orang tua merupakan panutan yang pertama dan utama bagi anak. Perilaku orang tua akan dengan mudah ditiru dan diaplikasikan ke lingkungan sosialnya. Misalnya saja, orang tua yang kurang harmonis dan memperlihatkan pertengkaran atau bahkan tindakan KDRT di depan anak, bukan tidak mungkin jika anak akan menerapkan apa yang ia lihat maupun melampiaskan kekesalan dan emosinya dengan tindakan bullying.
Orang tua juga dapat menjadi alat penjaring dalam menjaga lingkungan keluarga agar bebas dari bullying, baik dalam lingkungan internal keluarga misalnya ada anggota keluarga yang gemar mem-bully, maupun lingkungan eksternal keluarga, misalnya tetangga dan lingkungan rumah.

Beberapa hal yanng dapat dilakukan orang tua adalah:
1. membangun visi dan misi yang baik dalam keluarga;
2. mengedukasi perilaku buullying yang buruk di internal maupun eksternal keluarga dan meminta anak untuk memahami akibat dari pelaku maupun korban bullying;
3. menanamkan peran dan contoh yang baik pada anak, misalnya sayang kepada adik, hormat kepada kakek nenek, dan lain sebagainya.

M untuk Mendampingi

Proses pendampingan ini ada kaitannya dengan poin role model  di atas, dimana orang tua harus mampu mendampingi anak baik sehari-hari maupun apabila sudah menjadi pelaku maupun korban bullying. Dalam proses pencegahan, orang tua bisa mengarahkan tentang cara bergaul yang baik serta cara memilih pergaulan yang sehat, serta memberikan edukasi efek negatif apabila berkumpul dengan teman-teman yang kurang baik. Proses pendampingan ini perlu dilakukan dengan cara yang baik dan perlahan agar anak dapat menerimanya dengan positif dan tanpa paksaan.

Pendampingan juga perlu dilakukan di dunia maya, terutama dalam hal penggunaan media sosial. Buatlah kesepakatan dengan anak mengenai pembuatan akun yang harus dimoderasi oleh orang tua serta batasi media sosial maupun website yang dapat diakses untuk anak sebelum waktunya.

Pendampingan oleh orang tua apabila anak sudah menjadi pelaku ataupun korban dapat berupa:
1. pendampingan konseling;
2. pendampingan dalam penyelesaian masalah, baik di sekolah maupun ketika berhadapan dengan hukum;
3. pendampingan dalam keseharian, misalnya mengetahu kapan waktu yang pas bagi anak untuk bercerita tentang tindakan bullying yang dialami atau dilakukannya. Usahakan tidak ada nuansa penghakiman. Kesabaran serta kemampuan orang tua untuk mendengarkan dengan baik sangat dibutuhkan dalam proses pendampingan ini.

A untuk Analisis

Orang tua perlu memiliki kemampuan analisis atau bahasa gaulnya kepo tingkat tinggi dengan lingkungan pertemanan anak baik di sekolah maupun di dunia maya. Kemampuan ini mampu membantu orang tua untuk mengidentifikasi dengan baik apakah anaknya termasuk dalam korban maupun pelaku bullying.

Beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua dalam proses analisis adalah sebagai berikut:
1. mencari tahu lingkungan pertemanan anak di sekolah dan mengenal teman-teman anak dengan baik;
2. mencari tahu lingkungan pertemanan anak di media sosial. Hal ini dapat dilakukan dengan cara berteman atau memoderasi media sosial anak. Selain itu, orang tua dapat melakukan diskusi dengan anak mengenai perilaku cyber bullying, dengan ini orang tua dapat melihat bagaimana pandangan si anak.

T untuk Tegur

Teguran menjadi penting khususnya apabila anak menjadi pelaku bullying atas tindakan yang tidak ia sadari. Tindakan yang tidak terpuji pada anak kerap terjadi karena orang tua melakukan pembiaran. Terbiasa memberi reward dan punishment yang tepat dan disertai dengan edukasi akan membuat anak mampu memilah perilaku yang baik dan kurang baik. Hindari berlebihan dalam memberi sanksi maupun teguran karena dapat memunculkan bibit dendam di hati anak. Teguran ini perlu diiringi dengan komunikasi yang efektif serta proses edukasi, mengapa ia di tegur dan lain sebagainya.

Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam proses ini adalah:
1. menegur jika anak melakukan kesalahan, misalnya anak melakukan bullying secara verbal. Tanya terlebih dahulu mengapa ia melakukannya, lebih baik tidak langsung melakukan penghakiman.
2. mengontak sekolah anak, terutama apabila terdapat kasus bullying yang dibiarkan oleh sekolah, anak menjadi korban, ataupun menjadi pelaku bullying. Komunikasi yang terbangun baik antara oang tua dan sekolah bisa menjadi alat untuk mencegah tindakan bullying.

Saya tentu berharap kelima langkah C.E.R.M.A.T dari saya ini dapat membantu para orang tua dalam melakukan pencegahan bullying. Bunda punya pengalaman apa seputar isu bullying? Berbagi disini, yuk!


Foto: freepik.com, canva.com
KPAI (http://bankdata.kpai.go.id/tabulasi-data/data-kasus-per-tahun/rincian-data-kasus-berdasarkan-klaster-perlindungan-anak-2011-2016)
Parents.com (https://www.parents.com/kids/problems/bullying/common-types-of-bullying/)
Detik (https://news.detik.com/berita/d-3670079/kpai-terima-aduan-26-ribu-kasus-bully-selama-2011-2017)
AMF (https://www.amf.org.au/bullying-advice/bullying-for-parents/types-of-bullying/)
AMF (https://www.amf.org.au/bullying-advice/bullying-for-parents/signs-of-bullying/)
Counseling Connection (http://www.counsellingconnection.com/index.php/2011/11/03/what-causes-school-bullying/)
Masskids (https://www.masskids.org/index.php/bullying/advice-for-parents)
http://www.sudahdong.com/

#SahabatKeluarga