Parenting blogger | Travel blogger | Lifestyle blogger

Memilih Teman Hidup


memilih pasangan hidup, memilih teman hidup, cerita taaruf, kisah taaruf, sebelum menikah, sebelum kawin, inspirasi pernikahan, menantu idaman, mertua baik, mertua idaman, keluarga sakinah, membentuk keluarga sakinah, parenting blogger malang, lifestyle blogger malang, family blogger malang, muslimah blogger malang
Tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku ku milik mu
Kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu

Ngaku deh, begitu denger kata “teman hidup” jadi inget lagunya Tulus kaaaann? Hehehe. Emang Tulus cerdas banget ya memilih frasa, alih-alih menggunakan kata pasangan, Tulus berusaha negur dan ngingetin bahwa seseorang yang kita pilih untuk menjadi suami / istri adalah seseorang yang akan menemani hidup kita. Kalau sebelumnya kita sendiri, bebas, dan gampang galau, begitu ada si teman hidup tentu berubah 180 derajat : berdua, nggak lagi bebas, tapi bakal lebih tenang.

Berbahagialah buat yang sudah punya teman hidup, buat yang belum, nggak perlu sedih, lho. Anyway, jangan pernah mengira perempuan yang belum menikah itu belum punya pilihan lelaki ya gais, atau parahnya sampe menganggap dia gak laku. Duh tolong ya, yang pandangan yang begini kudu dibakar habis. I’m pretty sure that biasanya perempuan itu sudah punya minimal cemceman (ini perihal yang natural banget), tapi tentu ada yang membuat seorang perempuan memilih untuk single dulu.

Hm.. berhubung beberapa waktu lalu aku dicurhatin sama temen-temen yang umumnya sudah berusia seperempat abad terkait gimana sih cara ketemu jodoh? Gimana sih biar survive nikah muda? Gimana sih ta’arufan? Gimana sih agar pacarku ini mau ku ajak nikah sesegera mungkin?

Eits, aku nggak punya wewenang sama sekali buat menjawab itu semua. That’s your life, gurl! Paling banter aku cuma bisa kasih saran tentang beberapa hal. Jadi kepikiran untuk sekalian menuangkannya dalam tulisan, tentu saja nggak cukup di satu postingan. Nah buat yang sekarang, aku bisa memberi beberapa tips (menurut pengalaman dan pengamatan pribadi) tentang how to memilih teman hidup.

Sini mendekat, aku bisikin caranya.

1. Tentukan tujuan hidupmu terlebih dahulu.
Jangan buru-buru kebelet nikah tapi sebetulnya diri sendiri belum tau “mau kemana” dan belum tau punya impian serta rencana apapun untuk rumah tangganya. Menentukan tujuan itu ibarat kita lagi jalan-jalan dan kita tau kita mau ke suatu titik, selanjutnya tinggal mikirin dengan cara apa kita kesana? sama siapa? bakal mengalami apa aja ya?

Kalau kita bergerak tanpa arah yang jelas, bisa ketebak kan hasilnya: buang-buang waktu dan energi, bingung di tengah jalan, dan berpotensi nyasar parah. Gambaran itu juga yang bisa terjadi di rumah tangga. Setelah tau tujuan diri sendiri, biasanya bakal lebih mudah untuk memahami kriteria pasangan hidup. Bakal lebih mudah juga memilihnya, bukan?

2. Pilih media mu.
Banyak banget media bertemu dan memilih pasangan hidup. Mau pacaran? Buanyak banget. Mau ta’aruf selow (kayak aku dulu 😂) juga bisa. Mau ta’aruf notok, misalnya saling mengenal pasangan via proposal, juga ada. Mau pakai aplikasi semacam tinder, banyak. Mau punya anak duluan, baru resmi? Juga banyak. Mau memintanya lewat doa dan istikharah? Bisa. Mau nargetin sahabat sendiri? Hm, ada. Mau nikah sama rekan kerja? Boleh boleh aja. Maunya dijodohin ortu aja? Nggak masalah. Bebas banget to pilih media?

Apapun medianya, yang perlu dipahami adalah konsekuensinya. Jika memilih untuk ta’aruf, tau ya konsekuensinya, bakal ada porsi dimana kita mungkin kurang mengenal lebih dalam mengenai si calon pasangan. Hm, boleh lah kapan-kapan aku bagi cerita soal ini ya, berhubung pernah jadi pelaku juga hehehe. Jika memilih untuk pacaran, kemungkinan besar kita jadi tau seluk beluk baik buruk pasangan karena memang aktivitas pacaran memungkinkan kita jadi sangat dekat dengan seseorang (mantan pelaku juga 😛 makanya paham) bahkan kadang ada yang keintimannya udah kayak suami istri, eh bahkan ada juga yang ngelebihin 😀. Tapi yah, aku termasuk yang percaya kalau berkahnya pasti kurang.

Semua media punya plus minus, silahkan pilih sendiri mau pakai media apa untuk bertemu si calon teman hidup. Yang perlu diperhatikan adalah media tidak jadi penentu kelanggengan rumah tangga. Yang ta’arufan cuma bertahan 3 bulan? Ada. Yang pacaran langgeng menahun dan bahkan memilih jalan hijrah setelah berumahtangga? Banyak.

Kekalnya rumah tangga balik lagi tentang komitmen kedua pasangan.

3. Kenali karakternya, kuliti tujuan hidupnya.
Aku paham.. paham betul gimana manisnya bunga-bunga yang muncul, merdunya burung berkicauan, dan renyahnya suara ombak ketika perempuan mencintai seseorang. Tapi harus jujur ku katakan, itu semua justru sering membuat pandangan kita jadi blur. Mata jernih kita jadi keruh, kaca mobil kita penuh embun. Akibatnya, jadi nggak bisa melihat dengan jelas.

Maka dari itu, jauhi aktivitas perkenalan dengan bunga-bunga yang berlebihan. Kode-kodean bolehlah, tapi masa iya tiap hari? Coba pakai waktu yang kalian punya untuk diskusi hal-hal yang nantinya akan terjadi dalam rumah tangga. Gali pendapatnya mengenai pola pengasuhan anak, pekerjaan, hubungan dengan keluarga, dan lain-lain. Nanti kalian akan ketemu, bisa-bisa satu karyawan di otak mu bakal bikin tabel mengenai karakter apa aja yang bikin kalian “gathuk” dan sebaliknya.

Atau nih ya, coba bikin project bareng. Seru banget kan? Bisa juga sesekali traveling bareng sama dia (tentu ada kaidah-kaidah yang harus diperhatikan 😛), aku pribadi termasuk yang percaya karena udah ngalamin sendiri sih, kalau perjalanan itu akan mengungkap karakter seseorang yang sesungguhnya.

4. Kenali keluarganya
Sudah bukan rahasia lagi, menikah itu bukan cuma sama si lelaki tapi sama seluruh keluarganya lelaki. Harus mau melalui masa orientasi yang tak kunjung usai dengan kakaknya yang resek, adeknya yang manja, ortunya yang suka ikut campur, dan lain-lain. Artinya, kita mau nerima enaknya, kudu mau juga nerima asemnya.

Dari keluarganya pula, bakal ketahuan gimana watak serta kebiasaan baik dan buruk pasangan. Inget, setiap anak itu lebih dulu meniru perilaku orang tuanya. Pembentukan kebiasaan, yang nantinya bakal memengaruhi karakter dan karakter bakal memengaruhi keputusan seseorang, itu juga terbentuk dari rumah. Kalau masih pacaran atau proses pendekatan yang lain, mungkin bakal terus menoleransi banyak kebiasaan buruk (soalnya ya itu tadi, kebanyakan flower). Begitu sudah nikah, jangan kaget kalau kebiasaan buruk bisa jadi alasan ribut.

Kalau aku boleh bikin analisis ngawur dan asal-asalan, menurut pengalaman pribadi plus beberapa teman, hanya 2 dari 10 orang yang merasa klop dan bisa bersahabat dengan keluarga pasangan. Sisanya?? Pasti ada proses gegeran-nya. Penyebabnya bisa karena karakter keluarga yang keras atau juga karena si pasangan nggak mau beradaptasi. Jadi tetap saja harus ada proses adaptasi dari dua sisi.

Beberapa hari lalu, aku habis ngobrol asik sama salah seorang psikolog keluarga di Malang. Dia bercerita sekaligus berpesan sama aku, sambil ngoret-oret kertasnya, kalau bisa digambarkan, berumah tangga itu kayak gini:

memilih pasangan hidup, memilih teman hidup, cerita taaruf, kisah taaruf, sebelum menikah, sebelum kawin, inspirasi pernikahan, menantu idaman, mertua baik, mertua idaman, keluarga sakinah, membentuk keluarga sakinah, parenting blogger malang, lifestyle blogger malang, family blogger malang, muslimah blogger malang

Ada 2 keluarga besar yang punya karakter, watak, serta nilai-nilai yang dipegang. Trus anak-anak mereka memilih untuk keluar dan membuat lingkaran kecil. Sudah pasti keluarga kecil ini bakal penuh gejolak tersebab adanya perbedaan dari dua lingkaran. Orang-orang di lingkaran kecil harus mau jatuh bangun melalui proses dan mencari formula sendiri untuk rumah tangganya. Peran keluarga besar itu, seharusnya dan sebaiknya, nanti hanya sebagai supporting system.

Anyway, sempat aku baca analisis dari beberapa netijen atas kasus yang baru-baru ini mekar, bikin heboh, karena yang satu hafidz dan yang satu mantan anak clubbing. Dah ya, nggak perlu diperjelas lagi, tapi dari kisah mereka jadi banyak yang berpendapat tentang pentingnya nikah sekufu. Se-agama, se-aliran, se-kampung, dan se se se yang lain. Mungkin memang akan mempermudah proses adaptasi karena terlihat memiliki latar belakang yang similiar. Tapi sesungguhnya itu bukan jaminan. Ada to yang nikah se-aliran tapi gagal, ada juga yang nikah beda agama dan budaya tapi langgeng.

5. Dengarkan kata hatimu, kata orang tua cukup jadi pendukung
Kecuali kalau kamu ingin dijodohin sama ayah ibumu, silahkan menyerahkan semua agenda ke beliau. Aku pribadi lebih memilih untuk memutuskan sendiri, sempat ada waktu dimana ortuku (dulu) memilih si A sedangkan aku ogah. Sebagai gantinya aku “mengenalkan” si B. Alasannya simpel, balik lagi ke poin 1 diatas. Cuma kita yang tau persis apa tujuan hidup dan rencana hidup, kita juga yang mendesign rumah tangga nanti. Meski demikian, pendapat dan restu ortu tetap harus dihargai. Kadang advice dari mereka itu bisa menyingkirkan flowery-thing juga, karena mereka melihat dari sudut pandang sebagai orang yang sudah melalui puluhan musim menjalani rumah tangga.

6. Komitmen
Nah, ini dia gong-nya. Poin 1 sampai 5 itu harus dibungkus rapat dengan yang namanya komitmen. Komitmen itu sangat luas, tidak melulu mengenai kesetiaan. Tapi juga komitmen untuk menjadi seseorang yang lebih baik, komitmen itu mau memperbaiki diri, komitmen untuk jujur dan terbuka sama pasangan, komitmen untuk terus istiqomah menjalankan ibadah sama pasangan, dan lain-lain.

The last point.

7. Pastikan calonmu (dan kamu tentunya) adalah orang yang bersedia beradaptasi dan saling menyesuaikan sepanjang hayat.

Eum, ini sekedar tips, buat para muslimah pilihlah lelaki yang baik agamanya, yang sabar, dan yang mau belajar. Lelaki dengan karakter seperti ini layak dipertahankan. Jika si lelaki itu direstui keluargamu, menikahlah. Sebab sudah ada hadist nya soal ini:
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Jika datang melamar kepadamu orang yang engkau ridho agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dengannya, jika kamu tidak menerimanya, niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang luas.” (HR. Tirmidzi, hasan)

Artinya tentu itu perihal yang amat sangat dianjurkan, dengan syarat kita sebagai orang yang menjalani rumah tangga nantinya plus ayah kita (atau wali) ridho (keywordnya ini lho!) dengan si lelaki, alangkah baiknya segala ragu kudu dipukul mundur. Aku jadi teringat teguran salah seorang senior saat aku maju mundur mau nikah (muda).

Dia bilang, cenderung mengancam soalnya sambil mengacung-acungkan jari telunjuknya, kalau aku sudah memiliki segala kemampuan untuk menikah (sudah sreg dengan calon dan dukungan penuh dari keluarga) maka perihal itu jangan ditunda. Jangan pernah terpikir untuk menundanya, sebab dosanya besar, begitu kira-kira ia berucap. Awalnya aku nggak paham, seiring waktu berjalan aku jadi sadar kalau begitulah cara kita beribadah. Kayak lagi sholat, kalau mampu untuk sholat tepat waktu, kenapa harus menunda melaksanakan hak Allah?

Well, selamat memilih calon pendamping hidup! Ku doakan kamu bisa mendapat yang terbaik dan bisa menjalani proses berumah tangga dengan cara yang baik juga :)

Kalau mau ngobrol, boleh ngomen-ngomen disini lho 😋

4 komentar:

  1. Balasan
    1. hihi senam ya mbak :D btw aku sampe siwer, samaan DP nyaa :D

      Hapus
  2. Mbak untuk poin nomor 4 aku sudah sering baca dan kalau kajian ustadnya juga sering bilang gitu mbak. Anyway terimaksih mbak tulisannya . Aku pribadi bahkan mencari suami yang rasanya untuk aqidah harus sama seperti bacaan sholat sesuai sunnah. Doakan aku segera ketemu jodohku mbak ehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai mbak Rahma, salam kenal yaa. Iya mba memang soal keluarga pwenting banget,harus tau dan sreg di awal. Aamiin mbak, aku doakan semoga segera dikabulkan sama Allah ya doanya. Dipersiapkan dulu aja mba sambil menanti si teman hidup :)

      Hapus