Sabtu, 11 Agustus 2018

Keluarga Terlibat dengan Langkah C.E.R.M.A.T untuk Mencegah Bullying pada Anak di Era Kekinian


lomba blog sahabat keluarga kemdikbud, macam-macam bullying, bullying adalah, tindakan perundungan adalah, jenis bullying, penyebab bullying, data bullying di indonesia, cara mengatasi bullying, verbal bullying, cyber verbal bullying, keluarga terlibat, peran keluarga mengatasi bullying, era kekinian, pelibatan keluarga pada penyelenggaraan pendidikan di era kekinian

Keterlibatan orang tua dalam pendidikan dan pengasuhan anak menjadi perihal yang sangat berharga di era kekinian ini. Anak kita, semakin dewasa, semakin membutuhkan pendampingan, pengalaman, serta contoh yang baik yang dapat mereka lihat di rumah. Sebab, apa yang anak dapatkan di rumah akan dibawa ke kehidupanya di sekolah, dalam pergaulan, dan bahkan di dunia maya. Keterlibatan yang minim dari orang tua dalam pendidikan dan pengasuhan anak, memungkinkan adanya gap atau jarak antara orang tua dan anak. Jarak yang semakin lebar antara keduanya, dapat memperburuk situasi, terutama ketika anak mengalami masalah.

Masalah pada anak di era kekinian pun beragam. Salah satu yang harus terus mendapat perhatian adalah permasalahan bullying atau yang dalam Bahasa Indonesia disebut sebagai tindakan perundungan. Bullying merupakan masalah yang masih saja terjadi di lingkungan sekolah, keluarga, dan bahkan meluas ke dunia maya yang dikenal dengan istilah cyber bullying atau tindakan perundungan di dunia maya.


Bullying di Indonesia   

Kasus bullying di Indonesia seperti fenomena gunung es, yakni hanya sedikit yang terlihat namun sebetulnya mengakar kuat di lingkungan anak dan bahkan pola pikir pelaku bullying ini secara tidak sengaja juga dapat diwariskan dari generasi ke generasi. Baik bullying secara tradisional maupun di dunia maya, sama-sama membawa bahaya yang besar, berdampak domino, serta menjadikan korbannya depresi. Sebanyak 10% diantaranya bahkan sampai melakukan percobaan bunuh diri.

Umumnya, anak yang sensitif, kurang bisa bersosialisasi, anak yang mudah gelisah, pasif, anak yang cenderung mengalah, anak yang mudah depresi, anak yang memiliki kekurangan, anak yang terlalu cantik, berprestasi, maupun populer juga dapat menjadi korban bullying yang potensial. Masalah ini bukanlah perihal sepele, apalagi di era digital ini, bentuk bullying sudah mencapai ranah cyber bullying yang dapat dilakukan di luar sekolah dan kapan saja, tanpa sepengetahuan orang tua.

Penelitian dari University of Oxford, Warwick, Bristol, dan UCL menunjukkan bahwa anak-anak yang sering dibully baik oleh teman maupun saudaranya sendiri berpotensi dua kali lebih besar mengalami depresi saat dewasa. Selain itu, mereka juga berpotensi melakukan penganiayaan terhadap diri sendiri, serta sangat memengaruhi kesehatan mental. Perilaku bullying juga dapat memperpanjang rantai kekerasan, dimana anak yang pernah dibully memiliki kecenderungan untuk melakukan tindakan bullying yang serupa kepada orang lain, bahkan termasuk kepada anaknya sendiri di masa depan.

Saat saya mencoba melakukan survey kecil-kecilan di Instastory @NabillaDP, dari 45 responden, sebanyak 39 orang mengaku pernah mengalami tindakan perundungan di masa kecil maupun tindakan perundungan di dunia maya. Beberapa bahkan dengan gamblang cerita bahwa rasa trauma tersebut masih disimpan hingga dewasa.

Komunitas anti bullying Sudah Dong mencatat sebanyak 10% siswa korban bullying keluar atau pindah sekolah karena menghindari bullying, sebanyak 71% siswa menganggap bahwa bullying merupakan masalah serius di sekolah mereka, serta sebanyak 90% pelajar kelas 4 SD sampai 2 SMP melaporkan telah menjadi korban bullying di sekolahnya.

KPAI mencatat pada tahun 2016 terdapat 81 anak korban bullying di sekolah. Disisi lain, juga terdapat data pada tahun yang sama yang dihimpun oleh KPAI bahwa terdapat 93 anak pelaku bullying di sekolah. Data lain yang tidak kalah mengejutkan adalah sebaran kasus perundungan di berbagai wilayah, dengan angka tertinggi di Ibu Kota negara kita. Data di bawah ini diambil dari Bank Data KPAI:
Sumber: Bank Data KPAI

Provinsi DKI Jakarta menempati urutan kasus bullying terbanyak. Berikut data korban bullying di DKI Jakarta. Sumber: Bank Data KPAI

Provinsi DKI Jakarta menempati urutan kasus bullying terbanyak. Berikut data korban bullying di DKI Jakarta. Sumber: Bank Data KPAI

Realita bahwa anak dapat menjadi korban dan juga ada yang menjadi pelaku membuat sulitnya memutus mata rantai tindakan perundungan ini. Pelaku pun, suatu saat juga bisa menjadi korban karena tindakan membully-nya itulah dia jadi berpotensi untuk dibully oleh orang-orang sekitar. KPAI berpendapat, perlu adanya peran aktif keluarga dan lingkugan untuk memberikan edukasi. Baik korban maupun pelaku, sama-sama tidak boleh ditinggalkan.


Mengenal Bullying: Jenis dan Penyebabnya   

Kata bullying menurut KPAI adalah kekerasan fisik dan psikologis berjangka panjang yang dilakukan seseorang atau kelompok terhadap seseorang yang tidak mampu memertahankan diri.

Sementara menurut Komunitas "Sudah Dong" dalam Buku Panduan melawan Bullying menyebutkan bahwa bullying merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu atau sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang lain, bertujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara terus menerus.
lomba blog sahabat keluarga kemdikbud, macam-macam bullying, bullying adalah, tindakan perundungan adalah, jenis bullying, penyebab bullying, data bullying di indonesia, cara mengatasi bullying, verbal bullying, cyber verbal bullying, keluarga terlibat, peran keluarga mengatasi bullying, era kekinian, pelibatan keluarga pada penyelenggaraan pendidikan di era kekinian


Parahnya, bullying pada anak tidak hanya terjadi di sekolah tetapi juga dapat terjadi di lingkaran keluarga serta di dunia maya. Terdapat beberapa jenis bullying, yakni:

Pertama, verbal bullying atau pelecehan verbal. Bentuk pertama ini mencakup pemanggilan nama, penghinaan, sindiran, intimidasi, komentar rasis, atau pelecehan secara verbal yang dilakukan dengan kata-kata dan dilakukan secara terus menerus. Hal ini dapat membuat orang yang di bully merasa tidak nyaman, tersinggung, bahkan malu.

Contoh: ketika ada seorang anak berkata ke anak yang lain, “Kamu itu gendut buanget, mamamu juga, papamu juga. duh, sekeluarga gendut semua!”

Lingkungan kita mungkin ada yang menganggap anggapan bahwa ucapan yang seperti ini termasuk kategori bercanda. Padahal, tidak semua anak menyerap kalimat tersebut sebagai candaan belaka.

Kedua, physical bullying atau membully dengan melibatkan fisik. Jenis ini biasanya melibatkan pukulan, intimidasi fisik yang agresif, menendang, mendorong, mencubit, hingga menyentuh dengan cara yang tidak diinginkan dan tidak pantas. Kekerasan fisik ini bahkan mampu menyebabkan luka dan trauma dalam jangka pendek maupun panjang.

Contoh: seseorang anak dipermalukan dengan cara ditelanjangi di depan umum; seorang anak perempuan dijambak rambutnya oleh anak-anak yang mem-bully.
  
Ketiga, social bullying atau tidakan perundungan sosial, terkadang disebut juga sebagai intimidasi tersembunyi atau relational bullying. Bentuk bullying yang satu ini lebih sulit untuk dikenali dan dapat dilakukan di belakang panggung orang yang dibully dengan tujuan untuk merusak reputasi seseorang dan menghinanya. Ada pula bullying dengan taktik tertentu seperti mencegah seseorang untuk bergabung ke sebuah kelompok, misalnya hanya untuk sekedar makan siang di meja, saat permainan, saat olahraga, ataupun saat aktivitas sosial. Social bullying ini juga bisa terjadi di lingkaran keluarga.

Penindasan sosial ini meliputi: berbohong dan menyebarkan gosip, penampilan mengancam atau menghina, bermain lelucon jahat untuk mempermalukan seseorang, mengecualikan seseorang secara sosial, hingga merusak reputasi sosial seseorang.

Contoh: seorang anak yang sering berprestasi dan menjadi juara kelas justru dikucilkan teman-temannya karena dianggap tidak gaul.

Keempat, cyber bullying atau tindakan perundungan yang terjadi di dunia maya. Perilaku bullying ini muncul sebagai salah satu dampak negatif era digital. Pelaku dan korban saling terhubung di dunia maya dan tindakan perundungan dilakukan secara terang-terangan maupun terselubung dengan menggunakan teknologi digital, gadget seperti komputer dan smartphone, aplikasi seperti media sosial, dan platform online lainnya.

Cyber bullying dapat terjadi kapan saja, dapat dilakukan di depan umum ataupun secara pribadi. Cyber bullying dapat meliputi email atau postingan teks, gambar, maupun video atau tulisan yang mengganggu, menyakitkan, sengaja mengecualikan orang lain secara online, menyebar gosip atau rumor buruk di media sosial, meniru orang lain secara online atau menggunakan akun mereka untuk menulis sesuatu yang merendahkan diri pengguna.

Contoh: ada teman sekelas yang masuk ke akun Twitter seorang anak dan dengan sengaja memposting foto dirinya yang memalukan.

Tindakan perundungan atau bullying ini tidak terjadi begitu saja. Terdapat beberapa penyebab bullying pada anak baik yang terjadi secara tradisional seperti di lingkungan sekolah dan rumah, serta bullying di dunia maya. Beberapa penyebab yang mungkin menimbulkan tindakan bullying pada anak meliputi:
1. permusuhan. Hal ini bisa berupa rasa kesal sakit hati, atau bahkan karena tidak suka lantaran alasan terentu (karena fisik, status sosial, prestasi, dan lain-lain) diantara teman yang dapat menjadi pemicu seseorang melakukan tindakan bullying kepada orang lain.
2. rasa kurang percaya diri dan mencari perhatian. Seseorang yang kurang percaya diri seringkali ingin diperhatikan, dan kacaunya, salah satu tindakan yang ia ambil adalah dengan melakukan bullying. Dengan mem-bully orang lain, ia cenderung merasa lebih puas, kuat, dan merasa dominan.
3. perasaan dendam. Seseorang yang pernah disakiti atau ditindas biasanya menyimpan rasa dendam yang ingin disalurkan kepada orang lain dengan cara bullying, tujuannya agar dendamnya terlampiaskan dan orang lain merasakan hal yang sama.
4. pengaruh negatif dari media. Misalnya televisi, internet, dan lain sebagainya yang memberikan contoh buruk yang bisa menstimulasi anak untuk melakukan tindakan bullying tanpa alasan yang jelas. Oleh karena itu sangat penting pendampingan orang tua dalam interaksi di dunia maya.
5. warisan pola pikir dari keluarga. Keluarga adalah unit yang paling tepat untuk menanamkan nilai-nilai pada anak. Jika ada keluarga yang mewariskan, baik dengan sengaja maupun tidak, tindakan bullying pada anaknya, si anak dapat dengan mudah menirukan dan melakukan bullying kepada orang lain.

Berikut ada wawasan yang menarik dari Sahabat Keluarga Kemdikbud mengenai perundungan atau bullying dengan media video. Bisa disimak disini ya:



Tanda-tanda Anak Mengalami Bullying   

Orang tua dapat mengenali tanda-tanda anaknya mengalami bullying dengan melihat tiga aspek yakni perubahan tanda secara emosional, tanda fisik, tanda perilaku di sekolah, serta tanda-tanda lainnya. Tanda dan perubahan perilaku dan emosi pada anak ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
1. perubahan pola tidur dan pola makan;
2. lebih sering marah dan menangis;
3. mengalami mood swing atau perubahan mood yang drastis;
4. selalu merasa sakit di pagi hari;
5. tiba-tiba menjadi gagap dan tidak percaya diri;
6. menjadi agresif;
7. enggan terbuka mengenai beberapa hal;
8. mulai menarget atau meluapkan emosinya pada saudaranya (adik atau kakak);
9. tiba-tiba mulai mencuri uang atau kehilangan uang dalam jumlah banyak.

Sementara tanda berupa perubahan fisik yang perlu diketahui orang tua adalah:
1. terdapat beberapa bekas pukulan, luka, maupun goresan yang enggan anak tampakkan atau tidak mau ia bicarakan;
2. pulang ke rumah dengan kondisi seragam rusak atau ada yang hilang;
3. pulang ke rumah dengan kondisi yang sangat lapar.

Orang tua juga perlu lebih cermat dalam melihat perubahan perilaku anak di sekolah seperti:
1. anak tidak mau pergi ke sekolah;
2. anak mengubah rute ke sekolah atau minta diantar (jika biasanya berjalan kaki atau naik sepeda);
3. tidak mau pergi ke sekolah menggunakan kendaraan umum ataupun fasilitas penjemputan sekolah;
4. prestasinya menurun.

Selain ketiga tanda-tanda di atas, terdapat beberapa tanda lainnya seperti:
1. sering sendiri, menyendiri, atau dikecualikan dari kelompoknya di sekolah;
2. selalu menjadi target penghinaan di sekolah;
3. tidak berani dan sangat malu untuk muncul dan berbicara di depan kelas.


Pelibatan Keluarga untuk Mencegah Bullying dengan Langkah C.E.R.M.A.T   

Keluarga menjadi salah satu lembaga paling dasar, unit terkecil dalam masyarakat dan paling dekat dengan anak yang dapat membantu mencegah serta melakukan langkah awal dalam mengatasi bullying anak di era kekinian. Pelibatan keluarga ini dapat dilakukan dengan 5 langkah yang saya singkat menjadi 5 langkah C.E.R.M.A.T, yakni:

lomba blog sahabat keluarga kemdikbud, macam-macam bullying, bullying adalah, tindakan perundungan adalah, jenis bullying, penyebab bullying, data bullying di indonesia, cara mengatasi bullying, verbal bullying, cyber verbal bullying, keluarga terlibat, peran keluarga mengatasi bullying, era kekinian, pelibatan keluarga pada penyelenggaraan pendidikan di era kekinian

C untuk Cinta

Orang tua dapat melakukan pencegahan bullying dengan cara mengajarkan cinta kasih antar sesama kepada anak-anak. Sebagai orang tua, penting untuk memilih lingkungan yang baik sejak dini, mendampingi, serta mencontohkan perilaku cinta kasih. Dengan hati yang penuh terpenuhinya kebutuhan kasih sayang dan perhatian dari orang tua, anak tidak akan dengan mudahnya terpikir untuk melakukan tindakan bullying, akan lebih terbuka dengan orang tua, serta dapat melindungi dirinya dari bullying.

Beberapa tindakan Cinta Kasih yang dapat kita ajarkan sebagai orang tua adalah:
1. membiasakan sentuhan-sentuhan yang baik dan positif. Misalnya pelukan sebelum berangkat sekolah, menggenggam tangan saat anak membutuhkan, dan membelai serta mencium kening anak sebelum tidur. Dengan adanya sentuhan positif ini, anak akan merasa dekat dengan orang tua dan tidak akan sungkan bercerita apabila mengalami bullying. Selain itu, sentuhan positif mencegah anak untuk melakukan bullying secara fisik.
2. mengajarkan nilai-nilai agama. Orang tua perlu mengenalkan nilai-nilai agama yang penuh dengan kasih sayang, misalnya larangan untuk menyakiti sesama.

E untuk Emosi

Orang tua perlu melakukan kedekatan emosional. Membangun kedekatan secara emosional dengan anak membuat kita sebagai orang tua mengetahui lebih dalam mengenai diri anak serta lingkungannya. Terhubung secara emosional dengan anak dapat membuat anak mudah bercerita dan berkomunikasi dalam kondisi apapun, termasuk ketika ia menjadi korban bullying atau melihat pelaku bullying di sekolah maupun di dunia maya.Kedekatan emosional sesungguhnya dapat dibangun sejak bayi, namun apabila orang tua belum melakukannya, tentu tidak ada kata terlambat. Beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam membangun kedekatan emosional dengan anak adalah:
1. membangun rasa percaya diri pada anak;
2. memupuk keberanian dan ketegasan pada anak;
3. mendengarkan dan hadir untuk anak;
4. berbicara baik kepada anak.
Tips membangun jiwa atau emosi anak sejak dini. (sumber: halaman Sahabat Keluarga Kemdikbud)


Orang tua juga tidak perlu khawatir dan bingung bagaimana cara untuk memulai kedekatan emosional dengan anak. Sebab, sekarang Indonesia memiliki Sahabat Keluarga Kemdikbud yang menyajikan puluhan buku elektronik yang dapat diunduh secara GRATIS! Berikut saya berikan gambar yang informatif untuk mengunduh buku panduan bagi orang tua melalui laman Sahabat Keluarga Kemdikbud:


R untuk Role Model

Ada pepatah Children See, Children Do yang berarti anak melihat dan kemudian anak melakukan. Orang tua merupakan panutan yang pertama dan utama bagi anak. Perilaku orang tua akan dengan mudah ditiru dan diaplikasikan ke lingkungan sosialnya. Misalnya saja, orang tua yang kurang harmonis dan memperlihatkan pertengkaran atau bahkan tindakan KDRT di depan anak, bukan tidak mungkin jika anak akan menerapkan apa yang ia lihat maupun melampiaskan kekesalan dan emosinya dengan tindakan bullying.
Orang tua juga dapat menjadi alat penjaring dalam menjaga lingkungan keluarga agar bebas dari bullying, baik dalam lingkungan internal keluarga misalnya ada anggota keluarga yang gemar mem-bully, maupun lingkungan eksternal keluarga, misalnya tetangga dan lingkungan rumah.

Beberapa hal yanng dapat dilakukan orang tua adalah:
1. membangun visi dan misi yang baik dalam keluarga;
2. mengedukasi perilaku buullying yang buruk di internal maupun eksternal keluarga dan meminta anak untuk memahami akibat dari pelaku maupun korban bullying;
3. menanamkan peran dan contoh yang baik pada anak, misalnya sayang kepada adik, hormat kepada kakek nenek, dan lain sebagainya.

M untuk Mendampingi

Proses pendampingan ini ada kaitannya dengan poin role model  di atas, dimana orang tua harus mampu mendampingi anak baik sehari-hari maupun apabila sudah menjadi pelaku maupun korban bullying. Dalam proses pencegahan, orang tua bisa mengarahkan tentang cara bergaul yang baik serta cara memilih pergaulan yang sehat, serta memberikan edukasi efek negatif apabila berkumpul dengan teman-teman yang kurang baik. Proses pendampingan ini perlu dilakukan dengan cara yang baik dan perlahan agar anak dapat menerimanya dengan positif dan tanpa paksaan.

Pendampingan juga perlu dilakukan di dunia maya, terutama dalam hal penggunaan media sosial. Buatlah kesepakatan dengan anak mengenai pembuatan akun yang harus dimoderasi oleh orang tua serta batasi media sosial maupun website yang dapat diakses untuk anak sebelum waktunya.

Pendampingan oleh orang tua apabila anak sudah menjadi pelaku ataupun korban dapat berupa:
1. pendampingan konseling;
2. pendampingan dalam penyelesaian masalah, baik di sekolah maupun ketika berhadapan dengan hukum;
3. pendampingan dalam keseharian, misalnya mengetahu kapan waktu yang pas bagi anak untuk bercerita tentang tindakan bullying yang dialami atau dilakukannya. Usahakan tidak ada nuansa penghakiman. Kesabaran serta kemampuan orang tua untuk mendengarkan dengan baik sangat dibutuhkan dalam proses pendampingan ini.

A untuk Analisis

Orang tua perlu memiliki kemampuan analisis atau bahasa gaulnya kepo tingkat tinggi dengan lingkungan pertemanan anak baik di sekolah maupun di dunia maya. Kemampuan ini mampu membantu orang tua untuk mengidentifikasi dengan baik apakah anaknya termasuk dalam korban maupun pelaku bullying.

Beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua dalam proses analisis adalah sebagai berikut:
1. mencari tahu lingkungan pertemanan anak di sekolah dan mengenal teman-teman anak dengan baik;
2. mencari tahu lingkungan pertemanan anak di media sosial. Hal ini dapat dilakukan dengan cara berteman atau memoderasi media sosial anak. Selain itu, orang tua dapat melakukan diskusi dengan anak mengenai perilaku cyber bullying, dengan ini orang tua dapat melihat bagaimana pandangan si anak.

T untuk Tegur

Teguran menjadi penting khususnya apabila anak menjadi pelaku bullying atas tindakan yang tidak ia sadari. Tindakan yang tidak terpuji pada anak kerap terjadi karena orang tua melakukan pembiaran. Terbiasa memberi reward dan punishment yang tepat dan disertai dengan edukasi akan membuat anak mampu memilah perilaku yang baik dan kurang baik. Hindari berlebihan dalam memberi sanksi maupun teguran karena dapat memunculkan bibit dendam di hati anak. Teguran ini perlu diiringi dengan komunikasi yang efektif serta proses edukasi, mengapa ia di tegur dan lain sebagainya.

Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam proses ini adalah:
1. menegur jika anak melakukan kesalahan, misalnya anak melakukan bullying secara verbal. Tanya terlebih dahulu mengapa ia melakukannya, lebih baik tidak langsung melakukan penghakiman.
2. mengontak sekolah anak, terutama apabila terdapat kasus bullying yang dibiarkan oleh sekolah, anak menjadi korban, ataupun menjadi pelaku bullying. Komunikasi yang terbangun baik antara oang tua dan sekolah bisa menjadi alat untuk mencegah tindakan bullying.

Saya tentu berharap kelima langkah C.E.R.M.A.T dari saya ini dapat membantu para orang tua dalam melakukan pencegahan bullying. Bunda punya pengalaman apa seputar isu bullying? Berbagi disini, yuk!


Foto: freepik.com, canva.com
KPAI (http://bankdata.kpai.go.id/tabulasi-data/data-kasus-per-tahun/rincian-data-kasus-berdasarkan-klaster-perlindungan-anak-2011-2016)
Parents.com (https://www.parents.com/kids/problems/bullying/common-types-of-bullying/)
Detik (https://news.detik.com/berita/d-3670079/kpai-terima-aduan-26-ribu-kasus-bully-selama-2011-2017)
AMF (https://www.amf.org.au/bullying-advice/bullying-for-parents/types-of-bullying/)
AMF (https://www.amf.org.au/bullying-advice/bullying-for-parents/signs-of-bullying/)
Counseling Connection (http://www.counsellingconnection.com/index.php/2011/11/03/what-causes-school-bullying/)
Masskids (https://www.masskids.org/index.php/bullying/advice-for-parents)
http://www.sudahdong.com/

#SahabatKeluarga



8 komentar:

  1. Balasan
    1. sama-sama mba tira semoga bermanfat :)

      Hapus
  2. bagus info nya bun buat saya,apalag anak baru masuk sekolah tahun ini, saya bs belajar, semoga tdk sampai jd korban bullying di sekolah

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah mba, semoga bermanfat :) aamiin mba semoga anak bisa bahagia dan prestatif di sekolah ya :D

      Hapus
  3. Makasih ya Bunda sharingnya. Bermanfaat banget, dan semoga bisa belajar dan mencegah bully dari diri sendiri. Anakku sendiri pernah di bully....yang bisa aku lakukan adalah menguatkan dia dan fokus pada hal-hal baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah bun semoga bermanfaat. wah betul bun, insya Allah belum semangat untuk menguatkan anaknya. semoga tindakan yang sudah terjadi memberinya pelajaran berharga. aamiin :)

      Hapus
  4. keren banget langkah CERMAT nya mbak, bisa ku terapkan nih pada keluarga kecilku kelak (kapan yah? smg secepatnya deh hehe)

    BalasHapus

Follow me @nabilladp