Kamis, 06 September 2018

Bisakah Kita Mewujudkan Bank ASI di Indonesia? BISA BANGET!


bank asi, bank asi di indonesia, human milk bank adalah, human milk bank di indonesia


Pada beberapa postingan yang lalu di kategori Menyusui ini, aku mengambil referensi dari beberapa sumber yang insya Allah terpercaya. Sambil nulis, akupun jadi lebih melek bahwa kendala menyusui itu bermacam-macam. Ada yang kendala moral dan dukungan, ada yang mendapat kendala teknis seperti proses pelekatan, ada ibu yang tidak mau menyusui anaknya, ada yang memiliki tantangan lebih besar dalam menyusui anaknya karena kondisi medis tertentu (bukan berarti ibu dalam kategori ini tidak bisa menyusui, lho), dan ada pula ibu yang betul-betul tidak bisa menyusui anaknya.

Nah, bagaimana untuk ibu-ibu yang betul-betul tidak bisa menyusui anaknya? Melalui website Very Well Family aku dapat insight (wawasan serupa bisa kok dicari di beberapa website kedokteran atau IDAI) bahwa ada beberapa kondisi dimana ASI justru dilarang diberikan ke bayi. Penyebabnya ada berbagai macam, diantaranya:
1. ketergantungan obat-obatan terlarang atau narkotika.
2. sedang dalam pengobatan tertentu, dimana kompnen dalam obat tersebut bisa memengaruhi ASI dan berbahaya jika diberikan kepada bayi.
3. ibu terkena penyakit yang sangat menular, misalnya HIV, HTLV, Tuberculosis, dan herpes di daerah payudara.

Untuk yang nomor 2, biasanya ada pula ibu-ibu yang terkena preeklampsia atau eklampsia dalam kondisi parah, butuh pengobatan tertentu, dan tidak bisa memberi ASI kepada anaknya. Pemberian ASI dalam kondisi ini memang harus memerhatikan kondisi pasien. Dalam kasus yang demikian, IDAI (melalui artikel yang aku baca) merekomendasikan agar ASI tetap dikeluarkan bisa dengan cara diperah untuk menjaga produksi ASI biar nggak mampet, namun ASI tersebut tidak diberikan ke bayi.

Menurutku juga, perlu untuk mencari pendapat lain tentang penyakit yang menjadi penghambat memberikan ASI kepada bayi. Sebab, terkadang ada dokter yang berbeda kompetensi dan memiliki pendapat yang berbeda pula.


Kalau Bayi Nggak Bisa Direct Breastfeeding, Trus Gimana?  

Menurut IDAI, pada pre-eklamsia, ASI tetap bisa diberikan dengan memperhatikan masalah yang mungkin dihadapi bayi. Bayi seringkali terlahir kecil dan prematur, sehingga mungkin perlu dirawat intensif dan penanganan khusus. Disatu sisi, terkadang dari Ibu si bayi pun ada kendala dalam memberikan ASI. Mengenai hal ini, coba baca artikel IDAI:

Baca artikel IDAI: Pemberian ASI Melihat Situasi dan Kondisi Bayi

Menurut website yang aku jadikan rujukan tadi, bayi tetap bisa mendapatkan ASI dari pendonor ASI, mencari ibu sepersusuan, atau susu formula. Untuk pemberian susu formula ini sebetulnya wajib buanget dengan kontrol yang ketat dari dokter. Bayi yang belum sempurna organ tubuhnya, misalnya terlahir prematur, justru bisa lebih berbahaya kalau dikasih susu formula. Oleh karenanya, biasanya saran berupa susu formula sendiri selalu diletakkan sebagai solusi paling akhir oleh para dokter. IDAI juga sudah memberikan berbagai batasan ketat dalam pemberian susu formula, begitu pula dengan aturan internasional. Jangan salah, aturan ini eksis sudah sejak lama, lho. Insya Allah ku bahas di postingan yang lain.

Penanganan pada bayi pun bermacam dan kebanyakan sangat tergantung pada kompetensi dokter, rumah sakit, dan wawasan orang tua. Ada dokter yang mudah give up dan dengan mudah langsung memberikan sufor untuk bayi, ada juga dokter yang nggak pantang menyerah dan mencarikan ibu sepersusuan maupun donor ASI sesuai dengan ketentuan.

Ini salah satu alasan mengapa aku sangaaaaat concern dan cerewet dalam hal memilih dokter anak. Karena dalam situasi darurat, keputusannya akan sangat penting untuk masa depan anak.


Donor ASI, dalam Pandangan Islam dan Medis  

Salah satu saran utama yang dianjurkan apabila bayi tidak bisa mendapat ASI langsung baik karena kendala dari pihak ibu maupun pihak bayi, adalah mencari ibu sepersusuan atau mencari pendonor ASI.

Ngomongin tentang ibu sepersusuan, aku selalu takjub dengan konsep ini. Sebab, konsep ini sudah sering kita dengar di kisah masa kecil Rasulullah. Salah satu ibu sepersusuan yang sering kita dengar adalah Halimah as Sa’diah. Kita juga mendengar kisah keberkahan yang diberikan Allah pada keluarga ibu sepersusuan Rasulullah ini tersebab menyusui Rasulullah.

Zaman sekarang, konsep ibu sepersusuan ini diadopsi dengan cara yang lebih modern, yakni dengan konsep donor ASI. Solusi ini kerap jadi angin segar buat para orang tua yang punya kendala di masa awal menyusui, misalnya dalam kondisi supply ASI yang terbatas atau kendala karena penyakit lainnya.

Sering juga tho, kita lihat ibu-ibu muda yang mengunggah foto kulkas yang penuh banget dengan ASIP yang melipah. Tidak jarang, karena merasa kelebihan, mereka mendonorkan sebagian ASIP tersebut.

Namun, dalam Islam, donor ASI ini nggak boleh sembarangan. Berikut ada cuplikan artikel yang aku kutip dari Republika.co.id (sumber artikelnya ada di bawah ya):

Dalam istilah fikih, menyusui diistilahkan dengan ar-radha'. Menyusui bayi orang lain punya konsekuensi hukum syar'i, yaitu menjadi haram untuk dinikahi. Ada dua kelompok yang menjadi haram untuk dinikahi karena ar-ridha', yaitu ibu yang menyusui serta nasabnya ke atas dan anak dari ibu yang menyusui (saudara sepersusuan).

Dalam memilih ibu susuan juga tidak sembarangan. Islam menuntun agar memilih ASI dari ibu susuan yang Muslimah, berakhlak baik, sehat, serta salehah. Para ulama, seperti Imam Malik, memakruhkan menerima ibu susuan dari orang Yahudi, Nasrani, atau Majusi, serta yang buruk akhlaknya. Yang demikian ditakutkan menularkan perangai-perangai buruk kepada si bayi walau sebenarnya secara jasmani mereka sehat.

Terkait hukum fikih donor ASI, Majelis UIama Indonesia (MUI) hingga saat ini belum mengeluarkan fatwa. Pembahasan mengenai hal ini memang pernah dilakukan MUI, namun kesimpulan sementara, MUI memperbolehkan donor ASI melihat kondisi. Hukum donor ASI diperbolehkan dengan pertimbangan Rasulullah SAW juga memiliki ibu susu, yakni Halimah as-Sa’diyah.

Itu pendapat dari segi agama Islam. Memang beberapa umat muslim akan sangat selektif mencari pendonor ASI, mulai dari agama, riwayat kesehatan ibu, dan jenis kelamin. Hal ini salah satu bentuk kehati-hatian dan buatku, sah-sah saja. Allah, melalui Al-Qur’an dan kehidupan Rasulullah, telah memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai pemberian ASI (pernah ku bahas sekelumit disini) juga bagaimana hal ini bisa diadopsi di kehidupan modern, dengan syarat-syarat yang syari, tentunya.

Dari segi medispun, pemberian donor ASI tidak bisa sembarangan. Apa aja? Aku merujuk pada artikel yang ditulis oleh dr. Tiwi di website IDAI tentang Donor ASI di link ini. Bisa dibaca sendiri ya, disana menurutku lengkap banget berbagai persyaratan teknis dan cukup panjang yang harus dilalui seorang pendonor ASI, semata untuk menjaga kesehatan bayi khususnya para bayi yang terlahir prematur.


Human Milk Bank: Konsep Ibu Sepersusuan Zaman Now  

Bagaimana dengan Human Milk Bank? Eh, sebelum kesana, apa sih Human Milk Bank itu?

Dulu aku sempat membuat polling singkat di Instagramku dan mostly belum tau apa itu Human Milk Bank. Wajar sih, sebab di Indonesia memang belum ada produk ini.
bank asi, bank asi di indonesia, human milk bank adalah, human milk bank di indonesia
Polling kecil-kecilan tanggal 30 Juni di Instagramku. Diikuti oleh 34 responden.

Pengertian Bank ASI atau Human Milk Bank ada di Wikipedia. Maaf ye, kurang ilmiah rujukannya. Kalau lagi ngerjakan tesis udah dicoret nih wahaha. Tapi Wikipedia sendiri juga merujuk ke berbagai penelitian, jadi bisa lah aku pakai untuk tulisan di blog ini.

A human milk bank or breast milk bank is a service which collects, screens, processes, and dispenses by prescription human milk donated by nursing mothers who are not biologically related to the recipient infant. The optimum nutrition for newborn infants is breastfeeding, if possible, for the first year.[1] Human milk banks offer a solution to the mothers that cannot supply their own breast milk to their child, for reasons such as a baby being at risk of getting diseases and infections from a mother with certain diseases,[2] or when a child is hospitalized at birth due to very low birth weight (and thus at risk for conditions such as necrotizing enterocolitis), and the mother cannot provide her own milk during the extended stay for reasons such as living far from the hospital.[3]

Bank ASI adalah layanan yang mengumpulkan, menyaring, memproses, dan berbagi ASI yang disumbangkan oleh ibu menyusui yang tidak terkait secara biologis dengan bayi penerima. Nutrisi yang optimal untuk bayi yang baru lahir adalah ASI melalui proses menyusui, jika mungkin, untuk tahun pertama. [1] Bank-bank susu manusia menawarkan solusi bagi para ibu yang tidak dapat memberikan ASI sendiri kepada anak mereka, karena alasan-alasan seperti bayi yang berisiko terkena penyakit dan infeksi dari seorang ibu dengan penyakit tertentu, [2] atau ketika seorang anak dirawat di rumah sakit. saat lahir karena berat lahir yang sangat rendah (dan dengan demikian berisiko untuk kondisi seperti enterokolitis nekrosis), dan ibu tidak dapat memberikan ASI sendiri selama masa inap yang diperpanjang untuk alasan seperti tinggal jauh dari rumah sakit. [3]

Di luar negeri, Bank ASI ini sudah dikembangkan sejak luama, lho! Bank ASI pertama rupanya pernah dibuka di Vienna, Austria pada tahun 1909, disusul dengan Bank ASI di Amerika Utara tahun 1919 di Boston.

Negara lainnya juga sudah memiliki Bank ASI yang cukup memadai, misalnya Brazil, Australia, Afrika Utara dan Selatan, Brazil, Singapore (kalau nggak salah baru banget nih tahun 2017 kemarin) dan terutama negara-negara di Eropa yang bahkan memiliki website tersendiri untuk mengelola Bank ASI ini yaitu European MilkBank Assosiation (EMBA).

Aku teringat percakapan dengan dokter Dini saat lagi periksa sembelitnya Mahira (aku post ceritanya disini). Dokter Dini cerita kalau di Eropa, mereka banyak penelitian, konferensi, dan bahkan sedang memiliki proyek besar mengenai ASI agar bisa difermentasikan tanpa mengurangi kadar nutrisi di dalamnya. Coba bayangkan, mengapa mereka berani sekali menginvestasikan dana yang buesar untuk cairan bernama ASI itu?

Yap, karena manfaat ASI untuk bayi yang tidak tergantikan oleh susu subtitusi semahal apapun!

Penelitiannya udah banyak banget. Emang aku baca? Baca beberapa cuplikannya dari yang sering di upload dr. Dini di Instagram, Blog Dokter Dini, dan Facebooknya wahahaha! Juga baca penelitian lain kalau lagi nulis artikel tentang menyusui macam ini. Coba deh, kalau bunda lagi selow leyeh-leyeh, cari lah penelitian populer mengenai ASI. Kalau bisa masukin keywords yang berbahasa Inggris ya, karena kalau berbahasa Indonesia, nanti malah masuk ke website-website pribadi atau website susu subtitusi yang nggak fokus kontennya.

Kalau bunda masukin kata kunci Human Milk Bank di Google, bakal ketauan di halaman pertama (baru halaman pertama lho ini!) negara mana aja yang sudah memiliki Bank ASI.

bank asi, bank asi di indonesia, human milk bank adalah, human milk bank di indonesia

bank asi, bank asi di indonesia, human milk bank adalah, human milk bank di indonesia


Di Indonesia? Belum ada!

Mungkin gini ya, ini cuma asumsiku aja, saat negara-negara maju gencar banget buat meneliti ASI, produsen susu subtitusi yang kebanyakan berasal dari negara maju tersebut, mulai kebingungan mencari target pasar yang sesuai. Ketemulah ama orang-orang Indonesia, dengan story telling yang pas, iming-iming yang ciamik untuk para tenaga medis hingga penulis, jadi deh susu subtitusi sebagai asupan yang dianggap tepat untuk bayi. Salah kaprah? Jelas. Kapan-kapan ku bahas di postingan tersendiri, banyak media yang sudah mengkritisi keberadaan susu subtitusi di Indonesia yang banyak melanggar aturan internasional dan nasional.

Balik lagi ke pendapat dalam pandangan Islam, yang dalam hal ini aku kutip dari Republika:

Bagaimana dengan bank ASI? Hal inilah yang masih menjadi kontroversi. Para ulama membatasi definisi ar-radha' hanya dengan cara mengisap lewat payudara ibu. Yang menjadi permasalahan, jika ibu pendonor ASI tidak jelas identitasnya. Demikian juga jika ASI telah dicampur aduk menjadi satu. Namun, jika bank ASI bisa dikelola secara profesional dan memerhatikan asal muasal ASI, banyak pula ulama kontemporer yang membolehkannya.

Pendapat yang lebih moderat, yaitu ulama yang memberikan tahzir (peringatan) untuk menjauhi sesuatu yang syubhat. Seperti fatwa Qardhawi, diutamakan kehati-hatian dalam hal radha' karena ia berkaitan dengan nasab dan mahram. Siapa tahu si bayi kelak memilih pasangan hidupnya dengan seseorang. Namun, karena ibunya ceroboh dan sering memberikan ASI dari banyak ibu, ia jadi terhalang untuk menikah.

Yusuf Qardhawi juga memberikan peringatan atas pendapatnya sendiri. Bagi kaum wanita, janganlah sembrono dalam memberikan ASI bagi bayinya. Tidak boleh menyusui anak kepada orang lain, kecuali karena darurat. Jika mereka melakukannya, hendaklah mereka mengingatnya atau mencatatnya sebagai sikap hati-hati.

Perihal yang aku garisbawahi di atas adalah Bank ASI, dalam pandangan agama Islam, dapat dilakukan dengan syarat jelas asal muasal ASI tersebut serta melalui proses yang sesuai syariat. Mungkin berbeda banget sama prinsip di barat dalam pengaturan Bank ASI yang mungkin prioritas terbesarnya adalah dari segi medis.

Apakah hal ini bisa terwujud?

Bisa banget!

Indonesia cuma butuh sekelompok orang yang mampu mengelola Bank ASI dan tidak lupa memerhatikan kekayaan budaya dan kepercayaan masyarakat. Lagipula, pendonor ASI jelas tidak bisa asal donor saja, dari segi medis pun tetap harus melalui berbagai tahap pengecekan yang ketat. Aku membayangkan, nantinya pendonor melampirkan riwayat yang jelas mengenai dirinya, riwayat kesehatan, dan lain sebagainya.

Wow, kemuliaan bener-bener naik ke level yang lebih tinggi ya! Syukur-syukur kalau nanti tiap pendonor yang verified dapat semacam penghargaan atau sertifikat begitu. Pasti terharu dan menjadi kebanggaan tersendiri dapat membantu bayi prematur atau bayi yang tidak dapat menerima ASI dari orang tuanya.

Bank ASI ini, bisa menjadi solusi yang sangat solutif. Tau nggak, bahwa World Health Organization menyebutkan Indonesia menempati urutan kelima sebagai negara dengan jumlah bayi prematur terbanyak di dunia dan kelahiran prematur diidentifikasi sebagai penyumbang terbesar angka kematian bayi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2016, angka kematian bayi (AKB) mencapai 25 kematian setiap 1.000 bayi yang lahir. Tahun 2017, angka ini juga nggak menurun secara signifikan. Dari laporan rutin tercatat pada semester pertama 2017 terdapat 10.294 kasus atau 22 kematian bayi per 1.000 kelahiran.

Buatku, ini hal yang sangat memprihatinkan.

Ramadhan 2018 lalu, aku berkesempatan ngobrol sama Dokter Dini. Awalnya aku hanya diskusi mengenai pemberian susu UHT untuk Mahira. Sebab, ibuku sudah gupuh ingin memberi Mahira salah satu susu formula keluaran N*stl* agar Mahira “cepat gendut”. Aku ikutan gupuh karena mikir gimana caranya ya agar hal ini gak sampe kejadian wahahaha! Akhirnya lari lah aku ke Dokter Dini. Aku tunjukkan kalau Mahira minum susu UHT sehari biasanya 1 bungkus, itu juga kadang gak nyampe. Memang Mahira gak begitu doyan susu UHT, tapi dia doyan makan.

Setelah dokter Dini ngecek, pertumbuhan dan perkembangannya Mahira termasuk cukup, tidak kurang dan tidak berlebihan. Bagi beliau, justru harus dipertahankan, apalagi Mahira sudah memiliki cita rasa atau selera pada makanan tertentu.
bank asi, bank asi di indonesia, human milk bank adalah, human milk bank di indonesia, dokter dini spa, dokter dini di surabaya, dokter dini rsia kendangsari, dokter spesialis anak surabaya
Dokter anak terbaiq!

Dari situ, mulailah diskusi tentang susu subtitusi dan Bank ASI. Dokter Dini bersama dokter anak pejuang ASI lainnya (yang setauku tergabung dalam SatGas ASI IDAI) sedang berkutat merancang model terbaik untuk Bank ASI di Indonesia ini. Ada beberapa dokter spesialis anak yang tergabung di dalamnya dari berbagai kota. Saat itu, aku hanya sempat berdiskusi dengan para DSA dari Surabaya dan Malang saja.

Oiya, di dalam perancang Bank ASI di Indonesia ini ada juga foundernya Lactashare, sebuah start up digital dan layanan berbasis web dan aplikasi yang mempertemukan pendonor ASI dan penerima ASI yang membutuhkan atas dasar indikasi medis. Mereka menawarkan layanan berbagi ASI melalui Lactashare dengan memberikan cek lab klinis, ekspedisi, dan sertifikat Ibu persusuan. Lebih lanjut cek website atau download aplikasinya aja. Menurutku, Lactashare ini bisa jadi permulaan yang sangat baik untuk Bank ASI, sebab, Lactashare memerhatikan tidak hanya segi medis tapi juga agama. Didukung oleh MUI plus ada sertifikat Mahram. Pas banget kan?


Mendengar penjelasan Dokter Dini serta mendapat energi baik yang sangat kuat dari para DSA ini membuat mataku berbinar. INI. BAKAL. KEREN. BANGET. Sebagai seorang ibu yang juga memiliki banyak kendala saat awal menyusui, bisa survive dan kemudian sekarang insya Allah sedang menikmati hasil dari proses menyusui dan ASI yang sudah susah payah ku berikan, aku sangat mendukung keberhasilan perwujudan Bank ASI ini.

Kadang, aku yang bukan siapa-siapa ini aja merasa prihatin kalau ada teman maupun saudara yang berkeluh kesah tentang proses menyusui, apalagi para dokter anak yang keluhan pasien serta masalah sudah jadi makanan sehari-hari dan sampai paham pola serta akar masalah yang terbentuk di masyarakat.

Mulai dari yang kesulitan pelekatan hingga memang tidak bisa menyusui karena preeklampsia atau harus melalui pengobatan tertentu. Akibatnya? Anaknya yang lahir prematur, atau baru usia beberapa hari, terpaksa dikenalkan dengan susu subsitusi.

Berbicara mengenai pilihan, ya tentu itu bisa menjadi pilihan para ibu, apalagi aku pun tidak tahu secara rinci kondisi yang dialami. Namun untuk urusan kesehatan, aku pribadi sudah mengalami beda banget daya tahan tubuh manusia yang diberi susu subtitusi, campuran, dan full ASI. Aku bukan dokter sehingga tidak bisa memberi analisis tertentu, tapi sudah buanyaaakk banget penelitian dan praktik di lapangan bahwa banyak penyakit, alergi, dan masalah yang muncul dan dialami bayi tersebab asupan susu subtitusi.

Dalam kondisi demikian, aku sering berpikiran kalau seandainya si ibu bertemu dengan dokter lain yang bisa memberi opsi dan bantuan alternatif untuk pemberian ASI, mungkin proses menyusui masih bisa dioptimalkan. Kalau mendengar hal yang demikian, aku hanya bisa turut mendoakan agar anaknya selalu sehat dan menyelipkan beberapa saran buat si ibu agar terus semangat dalam menimba wawasan demi buah hatinya.

Dalam hal ini pula, aku diam-diam berdoa agar Bank ASI ini bisa segera terwujud di Indonesia agar bisa menjadi solusi bagi ibu dan bayi yang membutuhkannya. Semoga SatGas ASI dari IDAI mendapatkan kemudahan jalan, serta dukungan dari banyak pihak termasuk masyarakat, organisasi masyarakat, dan pemerintah.

Gini lho, iklan susu subtitusi yang kandungannya masih jauh di bawah ASI plus masih pula berpotensi menimbulkan alergi dan lain-lain pada anak saja produk dan iklannya boleh seliweran bebas di masyarakat. Dapat dukungan dari banyak pihak pula.

Sementara cairan yang sudah jelas posisinya yang SANGAT MULIA dalam agama, sudah jelas manfaatnya dan dibuktikan secara medis, kenapa justru susah sekali diterima dan mendapat dukungan yang kecil?

Yuk bunda, sudah saatnya kita dukung bersama proses perwujudan Bank ASI di Indonesia!



Referensi:


4 komentar:

  1. perlu ada yang memelopori ya kali

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudah ada yg melopori mba, tinggal di istiqomahkan :D

      Hapus
  2. Alhamdulillah. Ada juga yang menulis bank ASI dari 2 sisi, yaitu medis dan islam. Memang harus hati-hati tentang donor ASI

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mba, banyak manfaat tapi tetap berhati-hati :)

      Hapus

Follow me @nabilladp