Minggu, 25 November 2018

Berbincang dengan Diri Sendiri




Wokey, setelah minggu pertama diisi dengan topik tentang blogging dan sosia media, minggu kedua ini lumayan asik topiknya: 5 fakta tentang diri sendiri.

Intinya: a self show off :))

Okelah karena aku ngikutin tema tantangan, kali ini aku akan menulis tentang diriku. Aku harap dari postingan berbau self-love kali ini ada manfaat yang bisa diambil yak hehehe.


Aku Seorang Introvert

Tapi baru-baru ini aja nyadarnya!

Dulu aku pikir aku seorang ambivert (sisi tengah antara ekstrovert dan introvert). Aku yakin bahwa aku bukan seorang ekstrovert. Belakangan, lebih tepatnya pada dua tahun terakhir, aku lebih sering berbicara dengan diri sendiri, menyelami, dan mengenal diri. Lucu juga rasanya, kok baru di usia 20an lebih dan saat sudah punya anak baru bener-bener mengenal diri.

Apa ini yang dinamakan proses penemuan jati diri?

Kadang aku merasa kesusahan juga sih, proses ini aku jalani saat sudah berkeluarga. Tapi di satu sisi aku juga bersyukur, kalau tidak berkeluarga dan tidak mengalami beberapa guncangan yang terjadi selama dua-empat tahun belakangan ini, aku mungkin nggak akan pernah mengenal diriku sendiri dan terus memaksakan diri untuk menyenangkan orang lain dan membiarkan kebutuhan diri.

Balik lagi soal introvert-ekstrovert. Kebanyakan beranggapan orang introvert itu diam, pendiam, penyendiri, blablabla. Sementara ekstrovert kebalikannya. Aku pernah baca ada orang yang sharing kalau dalam ilmu Psikologi, ekstrovert-introvert ini adalah kecenderungan cara seseorang untuk mendapat energi atau nge-charge diri. Dan kondisi ini bisa aja berubah, serta, tidak selalu yang namanya introvert itu pendiam.

Oh, aku makin tercerahkan. Apalagi setelah mengikuti beberapa test dan berbincang dengan psikolog, aku tercengang menyadari bahwa aku adalah seorang introvert. Keselnya, semua yang dikatakan itu benar semua alias aku banget! Orang yang belum terlalu mengenal aku, mungkin dalam pandangan pertama akan mengatakan bahwa, aku adalah seorang ekstrovert. Tetapi yang sudah paham, pasti bilang aku introvert, apalagi aku hanya punya segelintir sahabat dan orang-orang yang ku percaya dan pada dasarnya aku kurang suka keramaian kecuali emang perlu dan tertarik dengan topiknya.

So here I am, an introvert that looks like an ambivert.


Pelaku Nikah Muda

Di tengah hujatan sana sini tentang menikah muda, aku dengan lantang mengatakan bahwa, saya seorang yang telah menikah muda!

Aku punya pandangan sendiri tentang nikah muda. Meski demikian, aku termasuk yang menolak nikah dini. Both are different ya! Kapan-kapan insya Allah aku tulis pandanganku terkait nikah muda ini.


Anak Tunggal yang Menolak Dibilang Manja

Aku adalah saksi hidup bahwa tidak semua anak tunggal itu manja. Manja? Apa itu? *sombong

Manja cukup ama suami aja lah haha aku nyaris nggak pernah minta dimanjain ama ortu, walaupun dulu pernahlah ada upaya-upaya dari ibu untuk memanjakan. Justru aku lebih suka hidup agak jauh dari keluarga besar dan lebih suka dengan keluarga kecil aja. Hm.. ini mungkin bukti ke-introvert-anku ya hehehe.


Kuliah Hukum Karena Kalah Argumen

AKu juga melalui masa-masa galau jelang kuliah karena susah menentukan kata sepakat dalam mengambil jurusan. Aku sejak SMA sudah tertarik dengan ilmu sosial dan ingin mengambil jurusan yang aku banget: komunikasi dan/atau psikologi. Aku sempat tertarik HI karena terinfluence oleh sahabat sebangku ku di SMA, juga karena motivasi untuk traveling (apalagi?!) tapi kemudian aku sadar, itu bukan motivasi yang tepat.

Aku tetap maju daftar ilmu komunikasi, tapi terus ditentang sama ayah yang menurut beliau ilmu-ilmu di fisip itu bukan ilmu dasar (?). Saat aku mengajukan alternatif, yaitu psikologi (karena aku dulu sempat ingin jadi psikolog anak) ayah bilang,

“kamu lihat itu temennya ayah (blio nyebut tetangga lamaku yang kuliah di psikologi dan agak kacau hidupnya). Itu orang psikologi UGM. U-G-M. Lihat hidupnya sekarang kek gimana,”

Aku terdiam.

“Ngg.. tapi yah,”

Perdebatan terus berlanjut tapi well, aku kalah argumen. Apalah aku yang polos-polos ini berdebat ama orang yang suka debat dan sangat tertarik dengan dunia politik.

“Gimana kalau masuk hukum?”

WHAT? Nggak pernah terbayang sebelumnya, jujur aja. Tapi karena aku termotivasi dengan mbak Najwa Shihab yang alumni Hukum UI dan beliau juga menggeluti dunia jurnalistik (seperti yang aku sukai saat SMA dulu), aku bersedia. Akupun sangat semangat belajar agar bisa masuk hukum UI atau UGM.

Ibuku memang menyerahkan semua urusan mengenai pemilihan jurusan ke aku dan ayah. Begitu memilih tempat kuliah, ibuku mulai bersuara.

“Bu, Billa pamit mau tes (di UGM), doain ya..”

“Ibu sih sregnya kamu di Malang. Paling ya kamu ketrima disana dan kuliah disana entar.”

Patah hati banget dengernya.

Singkat cerita, aku akhirnya kuliah S1 di Fakultas Hukum di UB dan S2 di fakultas yang sama di UGM. Pas udah kuliah di UGM ini, aku kembali terganggu dengan “minat asli”ku. Alhasil kuliahku jadi gak fokus dan aku semangatku makin hari makin redup untuk berkarya dan berkarir di bidang ini.

Tapi meski demikian, karena memang sudah jalannya dan sudah kejadian, aku tetap bersyukur. DI FH UB aku bertemu orang-orang yang tulus hatinya, orang-orang yang mengajarkanku tentang kehidupan, orang-orang yang menguatkanku untuk berjilbab, orang-orang yang mendukungku untuk jalan-jalan gratis (baca: student exchange) dan bertemu suami dengan cara yang lucu.


Pernah Menderita Penyakit Mental

Dan sedang berjuang serta berusaha agar sembuh total dan nggak kumat-kumatan.

Karena ini cukup privat, aku enggan bercerita agak banyak, namun aku rasa ada sepenggal pengalamanku yang mungkin bisa bermanfaat untuk orang lain.

Pergilah mencari bantuan, ke psikolog atau teman yang paham, jika kamu mulai merasa tidak bisa mengontrol diri. Aku tau aku terkena penyakit ini juga karena aku memberanikan diri ke psikolog, yang awalnya niatan mau curhat aja dan cari solusi, malah tau aku kenapa dan aku harus ngapain. Syukurlah masih bisa disembuhkan dengan terapi-terapi ringan.

Dengan pengalaman ini aku makin sadar kalau sakit mental nggak boleh disepelekan, juga bukan pertanda seseorang itu lemah iman, apalagi menuduh ia melebih-lebihkan keadaan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow me @nabilladp