Minggu, 18 November 2018

Di Balik Daster (Curhatan Berfaedah Ibu Bekerja di Rumah)




Jangan ngeres dulu.

Buat yang baca judul ini terus mulai berpikiran yang aneh-aneh, aduh skip-skip. Ini bukan tentang bodinya buibu berdaster, wankawan. Yang ngarep demikian, oh anda salah alamat, Ferguso!



Boleh ya aku bicara jujur. Sebetulnya ada beban yang cukup berat dengan gelar yang melekat. Keduanya, dari kampus yang cukup bergengsi di Pulau Jawa. Keduanya, dari fakultas yang mentereng popularitasnya. Sampai-sampai ada beragam ekspresi kalau mendengar gelar ini disebut, ada yang kagum, ada yang takut, ada yang langsung keinget Hotman Paris, ada yang berpikiran buruk kami doyan korupsi, ada juga yang langsung ngasih ceramah.

“Hati-hati, kakimu satu di surga, satu di negara,” begitu kira-kira.

Doain mah yang bae-bae aja ya, semoga kamu amanah dan selamat, gitu kan enak didengar.

Dengan dua gelar itu, juga dengan jabatanku sekarang yang “hanya” ibu rumah tangga, hanya ngurus anak, dan hanya-hanya yang lain, beban itu makin berat. Tanggapan orang lain pun makin sinis.

“Wah, eman ya, ijazahnya nggak kanggo (nggak terpakai),”

Kalau ada yang bilang begitu, aku cuman senyum sambil bisikin diri sendiri dalam hati. “Tenang, orang ini cuman ndak tau. Orang ini kurang wawasan, kurang dolan.”

Padahal, ibu-ibu di rumah itu  sama sekali nggak menganggur, jika pengangguran refers to orang yang nggak punya kerjaan. Lah pekerjaan rumah yang menggunung itu kelar dengan sendirinya kah? Mereka emang endak dapet gaji, tapi banyak yang bilang stay at home mom itu dibayarnya pake cinta. Atau ada juga yang bilang, dibayarnya pakai gaji suaminya. Tapi yang ini kok nggak enak ya, seolah suami itu mempekerjakan istrinya.

Nggak ketinggalan juga ada doa, digajinya pakai pahala, nanti di surga.

Auwenak.

Ada juga ibu-ibu yang bekerja di rumah. Lha, saya termasuk yang disini nih. Beberapa working at home mom ini tetap pakai baju bagus kayak kalau mau ngemol atau mau ngantor. Baju casual gitu lah. Ada juga yang tetap memakai make up. Sebagian memilih pakai daster aja, kayak aku.

Nah, kalau udah gini, pada gak percaya deh kalau ibu-ibu pakai daster itu bisa  bekerja dari rumah. Dikiranya cuman resik-resik rumah dan momong bocah. Padahal, mereka juga sibuk, begadang, dan bekerja di akhir pekan kayak orang susah, untuk menjemput segenggam rupiah dan sekarung berkah.

Kadang, ada juga yang kepo, itu mbak Nabilla kerjanya apa sih, kok di rumah mulu, jarang keluar. Lha, kalo keluarnya nggosip ya ngapain aku ikut hihihi nggak layau.

Orang tua pun ikut-ikutan bingung, bagaimana cara “mengenal” status anaknya sekarang. Bilang ibu rumah tangga juga canggung, mosok S2 kok mung jadi ibu rumah tangga. Bilang pekerjaannya sekarang juga bingung, karena tidak ada jabatannya, tidak ada gengsinya. Kalau bilang jujur, “freelance writer, Bu,” rata-rata akan menjawab balik,

“Hah, OPO IKU??”


Ijazah Ibu Bekerja di Rumah Nggak Terpakai??

Aku sempat mumet dan cari cara gimana agar ijazahku ini “terpakai”. Maksudnya, agar ilmu yang aku pelajari di ranah pendidikan formal bisa bermanfaat. Jujur saja, Fakultas Hukum bukanlah pilihanku. Mohon maaf ya, kakak-kakak yang ngospek aku dulu dan yang memandu nyanyi Mars Fakultas Hukum.

“Hey, Fakultas Hukum, fakultas pilihanku….”

Belakangan aku sadari betul dan aku mundurkan ingatan apa yang menjadi pencetus aku bisa masuk ke fakultas itu. Sama sekali bukan pilihanku, bukan inginku. FH menjadi hasil dari kesepakatan antara aku dan ortu. Win-win solution. Kebetulan, aku bisa survive disana dan alhamdulillah bertemu juga dengan orang-orang baik. Bisa survive karena meski bukan pilihan dan menjadi passion yang utama, banyak hal di bidang hukum yang bisa menjadi tempatku untuk mengamalkan ilmu dan skill lainnya. Kalau beberapa poin passion aku urutkan, hukum mungkin ada di urutan ketiga atau keempat. Bukan yang pertama.

Meski demikian, tetap saja ada pertanggung jawaban yang harus aku tunaikan sebagai “orang hukum”. Sempat mau ngajar, sempat silaturahim dan membaca atmosfer di kampus terdekat. Tapi makin kesini kok cita-citaku di masa kuliah untuk jadi dosen semakin redup. Apalagi setelah melihat suamiku yang juga meniti jalan sunyi sebagai dosen, aku jadi sadar banget bahwa pekerjaan jadi dosen sama aja kayak pekerjaan lainnya.

Akhirnya realistis saja.

Aku memilih untuk tetap mengamalkan ilmu tetapi tidak menjadi dosen (untuk saat ini). Kebetulan ada pekerjaan (yang juga freelance) yang bisa menjadi sarana pengamalan ilmu. Setiap bekerja, aku selalu berdoa agar yang aku lakukan bermanfaat untuk masyarakat juga untuk jangka panjang.

Selain itu akupun mengamalkan pelajaran-pelajaran serta ilmu lain yang aku dapatkan selama studi formal, misalnya ilmu yang aku peroleh dari organisasi, lembaga otonom, dari ngobrol ringan dengan guru atau teman, dll. Media blog ini, juga jadi salah satu sarana pengamalan.

Aku yakin ibu-ibu lainnya juga berbuat hal yang serupa seperti aku. Pasti ada naluri untuk berkreasi, berkarya. Kalo energi kita nggak diarahkan kesana, ntar bakal habis buat nggosip dan belanja onlen aja.

Nah, sampai sini, mana ada ijazah gak kepake?

Kalau secara fisik, yes, ijazahnya nggak kepakai. Kalau njenengan mengartikan sekolah untuk mencari ijazah, sekolah di kampus abal-abal aja bisa. Ijazah bisa dibeli, kok. Ya kan?

Ijazah memang penting, terutama sebagai bukti legal dan administrasi. Tetapi yang terpenting tentu “isi” selama kita mengenyam ilmu itu. Aku sangat setuju dengan pernyataannya Pak Ridwan Kamil di sebuah status IG nya yang kurang lebih begini, “pendidikan itu memberi kita lebih banyak pilihan…”

Gimana, kamu auto setuju gak?

Orang yang sekolah orang yang terdidik, orang yang memang menjalani proses bersusah payah menjemput ilmu, pasti bisa berimprovisasi saat negara api menyerang, ya maksudku saat keberuntungan nggak berpihak sama dia. Saat situasi dan kondisinya dia kurang mengenakkan atau pilihannya makin sempit. Disitulah pendidikan mengibarkan sayapnya, menjadi penyelamat kita.

Kalau di SMP dulu aku nggak belajar photoshop, aku nggak bisa bikin infografis. Kalau di SMA dulu aku nggak belajar editing lagu via Windows Movie Maker (iya, edit lagu pake aplikasi edit video) aku nggak bisa tuh edit-edit video dan paham cara kerja aplikasi ataupun softwarenya. Kalau dulu di SMA aku nggak ikut eskul jurnalistik dan mading, aku nggak paham tentang dasar-dasar penulisan jurnalistik dan bagaimana menyajikan tulisan untuk pembaca. Kalau di S1 aku nggak belajar hukum dan kepenulisan ilmiah, aku nggak bisa bikin naskah akademik dan drafting. Kalau di S2 aku nggak belajar bisnis, aku bakal kejebak ama FB dan IG ads yang menyebalkan itu, juga pasti kesulitan menjalankan bisnis kecil dan membantu usaha ayah.

Yuk, kita gali lagi, selama sekolah kita dapet apa sih? Seberapa besar potensi kita di bidang itu? Seberapa besar kita bisa berkarya, beramal, dan syukur-syukur menjemput rezeki dari kemampuan kita itu?


Rasanya Kerja Pake Daster

Aku pikir semua ibu-ibu akan setuju kalo kerja pake daster itu nyaman banget. Akui sajalah, kalo daster emang pakaian andalan kita. Apalagi kalo udah sobek-sobek, kadar kenyamananya makin meningkat. Aneh emang.

Atau kerja pakai daster (kerja di rumah) enak karena dekat dengan anak, bisa memantau anak, bisa kapanpun istirahat, dan lain-lain.

Betul memang, bahwa kerja pakai daster terlihat sangat ideal bagi perempuan yang sudah berumah tangga dan memiliki anak, atau mungkin perempuan yang harus dekat dengan ortunya karena mungkin ortunya sakit dan butuh bantuan untuk aktivitasnya sehari-hari. Apalagi buat perempuan hamil yang dikit-dikit mabok, duduk harus pake bantal, dikit-dikit harus rebahan. Juga buat ibu-ibu menyusui yang bekerja di rumah. Kalo anaknya nangis, tinggal buka kancing, beres deh dinenenin.

Tapi rupanya nggak semudah itu, Marimar.

btw aku dulu suka nonton telenovela ini wahahah!


Beberapa beranggapan, kerja pakai daster nggak ada kebanggaan karena nggak pakai seragam. Nggak ada jabatannya, nggak mendongkrak status sosial.

Itu subyektif sih ya, kalau memang ingin mendapat status sosial dari pekerjaan ya monggo itu dijadikan pertimbangan. Kita kan punya kebutuhan yang berbeda-beda.

Kenyataannya, bekerja di rumah atau bekerja pake daster itu susah, jendral! Dan sakjane yo podo wae, ada plus minusnya.

Pertama, harus bisa bikin jadwal sendiri, bikin target kerja, bikin indikator pencapaian kerja, dan lain-lain. Kalo kerja di perusahaan kan wenak to, SOP udah ada, indikator udah ada, tinggal bekerja deh. Apalagi kalo perusahaannya sehat, wuih tambah mantab.

Kedua, pemasukan nggak menentu. Ini jelas berbeda BANGET sama PNS, pegawai swasta, dan BUMN. Besar kecilnya pemasukan sangat bergantung pada usaha diri, doa, dan keberuntungan heheh.

Ketiga, nggak bisa ngajukan kredit. Buatku sih gak masalah ya, karena aku emang nggak ada keinginan dan kebutuhan kesana. Ini bisa jadi tantangan buat yang pengen ngajukan KPR, dll.

Keempat, bekerja di rumah itu sama kayak bekerja di kantor luar, tetap butuh ART atau jasa daycare. Kalau mau optimal, ibu-ibu yang punya anak ini tetep perlu banget rewang atau orang yang bantu momong anaknya. Apalagi kalo masih bayek-bayek gitu.

Aku lihat ibu-ibu yang bisa survive tanpa ART tanpa daycare adalah mereka yang anaknya dah gede-gede, atau yang suaminya juga ikut bekerja di rumah (intinya tetap ada bala bantuan), atau yang pancene wes sugih dan modalnya banyak. Kalau dirimu bukan ketiganya, ku jamin usahanya pasti lebih gede, jatuh bangunnya pasti lebih terasa. Gak papa sis, aku juga ngalamin kok!

Jadi, saranku, jika ingin bekerja di rumah lebih optimal, mintalah bantuan dalam mengasuh anak atau paling tidak dalam pekerjaan rumah. Bisa dengan ART setengah hari, bisa dengan ART yang nginep, bisa dengan bantuan ibu kandung atau mertua, bisa dengan daycare. Wah banyak opsi. Pertimbangkan dulu juga dengan kebutuhan, kemampuan, dan dengan restu suami.

Kelima, godaan banyak. Ampun dah.. godaan kasur, abang tukang bakso, flash sale, yutub, sekali lagi karena nggak ada yang ngawasin selain diri kita sendiri hahah. Kalo ada deadline dan kerja dengan partner, ya itu bisa jadi bantuan pengawas yak. Belom lagi yang punya anak kecil, dia rewel atau sakit, eh jangankan gitu, kita buka laptop dia minta pangku aja, udah tantangan tersendiri tuh hahaha.

Keenam, telinga harus tebal. Komentar “ijazahnya nggak terpakai” mah udah kebal, kalo komentar, “jadi perempuan jangan cuma bisa ngabisin duitnya suami”, itu kadang bikin kesel juga sih. Kalau aku, sempat ada yang julid gegara pekerjaanku dan betapa banyaknya yang tidak dia ketahui tentang keputusan-keputusanku. Ah yaudah sih, bodo amat yak!

Ketujuh, bekerja di rumah itu bukan kayak ngerebus mie instan yang tinggal seduh, masak, tuang bumbu, jadi dan enak. Meskipun enak dan akupun suka, mie instan tetap banyak bahayanya kan? Kerja di rumah nggak bisa gitu. Dia tuh kayak menanam pohon, atau menanam padi deh. Duh maaf aku nggak kreatif ambil pengibaratan. Intinya, butuh waktu lama untuk memanennya. Dipilih dulu tanahnya yang baik dimana, benihnya, airnya, dan tentu saja butuh ilmu untuk membesarkannya.

Kedelapan, nggak bisa ikut kunjungan kerja atau perjalanan dinas. Tapi pekerjaan tertentu bisa BANGET jalan-jalan gratis, kayak jadi travel blogger, penerjemah, tour guide, dan lain-lain.

Kesembilan, akhir pekan biasanya tetep kerja. Orang pada libur, kita kerja. Orang pada kerja, kita libur. Hahaha! Timelinenya beda sis!

Kesepuluh, rawan stres. Ini ada hubungannya dengan kalau udah punya anak dan gak ada ART. Duh capek banget gitu lho.. akhirnya stres muncul deh, belom lagi ada masalah-masalah lain. Selain itu, orang yang kerja di rumah itu jarang ketemu temen-temennya dalam jumlah besar kayak lagi ngantor gitu. Kecuali kalo kerjaannya punya usaha di rumah dan punya karyawan banyak yak.

Jadi kadang ada kebutuhan ngomong, diskusi, dan lain-lain yang nggak tersalurkan dengan baik. Harus lebih kreatif, misalnya gabung komunitas, curhat sama suami, atau jalan ama temen.


Last..

Apa yang ada dibalik daster, ternyata nggak semudah yang dibayangkan ya? Makanya jangan remehkan mereka yang bekerja di rumah, jangan pula rendahkan mereka yang memutuskan untuk full time jadi ibu rumah tangga. Pengorbanannya guede lho.

Disatu sisi, meskipun terlihat nyaman karena dekat dengan anak, baiknya juga jangan buru-buru memutuskan kerja di rumah.

Jujur aja banyak yang curhat sambil kebingungan, mau resign atau urus anak atau kerja di rumah. Aku selalu memberi saran yang sama: cek dulu kondisimu dan konsultasikan sama suamimu.

Kondisi kita berbeda, ada orang yang sangat siap untuk bekerja di rumah, ada yang tidak. Pikirkan baik-baik, apa sih prioritas utama kita? apa ketakutan terbesar? apa kebutuhan terbesar? apa kendalanya dan keunggulannya? siapkah mental kita, siapkah fisik kita?

Lanjut ngobrol di komentar aja yuk :D


3 komentar:

  1. dimanapun kita bekertja yang penting produktivitasnya hrs bagus dan punya manfaat buat banyak rang malah lebih baik ya

    BalasHapus
  2. Walah baru tahu bunda mahira anak hukum juga. Nggak apa bun ijazah nggak ke pakai secara formal, betul sekali yang penting ilmunya. Malah hukum itu berguna banget dalam menjalan kehidupan sehari-hari. Contohnya aja belum tentu semua istri tahu tentang hukum perkawinan kan? Padahal itu penting banget. Keep Writing and keep inspiring, Mba 😍

    BalasHapus
  3. Wah kita sefakultas donk mbaaaaa. Saya jg di rumah aja nih, tp alhamdulilah jg ada kerjaan yg nyambung sama jurusan yg bisa dikerjakan di rumah. Salam kenal ya mbak.

    BalasHapus

Follow me @nabilladp