Pengalaman Mengatasi Bayi ASI Kekurangan Zat Besi

Juli 15, 2019


ciri bayi kekurangan zat besi, kekurangan zat besi pada bayi, kekurangan zat besi pada bayi asi, bayi asi kekurangan zat besi, bayi asi kurang zat besi, tanda bayi kekurangan zat besi, akibat bayi kekurangan zat besi, agar bayi tidak kekurangan zat besi, bayi yang kekurangan zat besi, bayi 6 bulan kekurangan zat besi, cara mengetahui bayi kekurangan zat besi, efek bayi kurang zat besi, bayi asi kekurangan zat besi, bayi kekurangan zat besi


Eh, bisa ya bayi ASI kekurangan zat besi?

Kalau pertanyaan itu yang ada di benakmu, tak jawab langsung: bisa! Anak keduaku baru beberapa bulan lalu mengalaminya.

Begini, sebelum detail cerita, aku mau nanya dulu, ya. Buibu pernah dengar kata ADB? Kalau boleh aku tebak, yang pernah dengar ADB kalo bukan anak kedokteran, ya pernah ngalamin, atau ngikutin storiesnya dokter-dokter hits di Instagram! Iya, gak? Ngaku! Hehehe.


Begini kisahku... 

ADB itu singkatan dari Anemia Defisiensi Besi. Aku pertama kali kenal ADB saat anak pertamaku berat badannya agak seret naiknya, padahal sebetulnya masih gizi baik, pola bagus, dan masih di kawasan warna yang aman. Tapi, namanya juga makmak anyaran ya, udah panik duluan. Apalagi, ibuku juga nggupuhi, bingung cucunya kok nggak gemuk dan udah buru-buru mau ngasih susu substitusi. Duh, kemretek atiku.. Memang persoalan kekurangan zat besi pada bayi (ADB) ini nggak bisa disepelekan, sebab, ada beberapa efek kekurangan zat besi pada bayi yang bisa berdampak hingga anak tumbuh dewasa. Misalnya saja stunting, yang akhir-akhir ini sering disebut sebagai dampak yang paling dihindari. Kemudian, bayi jadi kurang benerergi, lemas, kurang bagus penyerapan gizi pada makanan dan pada akhirnya menghambat pertumbuhan pada aspek lainnya.

Dokter Dini kemudian memeriksa anakku yang saat itu berusia sekitar 12 bulan. Dokter Dini sempat melakukan pemeriksaan sebentar melalui matanya, kemudian meminta anak pertamaku untuk tes darah. Setelah hasil keluar, rupanya negatif. Syukurlah. 

Saat itu aku kira ADB rawan menjangkit anak-anak yang sudah mulai MPASI atau di atas 6 bulan. Karena kan pada saat itu bayi-bayi lucu sudah mulai butuh zat besi lebih banyak dan ASI saja tidak bisa memenuhinya. Aku berasumsi, bayi sebelum MPASI ga ada masalah apa-apa.

Namun, nyatanya, aku salah dan lalai. Nyesel banget kalau ingat waktu itu.

Awalnya aku sudah cukup PeDe dengan kemampuan pelekatan serta menyusui (perihal yang menjadi masalah utama saat anak pertama dulu) dan masih mengingat betul cara perawatan bayi. Aku bahkan merutinkan pumping agar anak keduaku lebih banyak dapat hindmilk serta menabung berat badan yang baik sebelum MPASI. Karena biasanya kalo udah MPASI kan lebih banyak susut, ya. Aku juga sudah membekali diri dengan beragam resep serta pengetahuan tentang MPASI homemade (masalah besar kedua saat anak pertamaku dulu).

Rupanya eh rupanya, seberapa siap pun kita, kalau memang Allah menghendaki datangnya ujian; ya datang juga. Anakku, katanya, sempat diikuti something unseen. Yang ini tidak akan aku bahas lebih detail, ya. Kira-kira kejadian ini ketika ia berusia 3.5 bulan. Dia jadi nggak bisa tidur malam lebih nyenyak, waktu tidur siangnya pun lebih singkat, selalu minta gendong (sesuatu yang gak biasa di anakku karena sebelumnya dia sudah terbiasa tidur teratur), menangis tiap malam, dan lebih rewel. Dua minggu awal aku masih bisa menghadapi. Makin lama, aku makin stres dan sumpek karena waktu bermain dengan kakak berkurang dan aku tidak tau bagaimana mengatasi masalah di anak keduaku ini. Dia, bahkan, sampai menolak untuk disusui, begitu pula dengan pemberian ASIP. 

Berusaha rileks, tapi susahnya bukan main. Puncaknya adalah waktunya kontrol ke Dokter Dini. Dia hanya naik sekitar 200-300 gr selama sebulan. Ini aneh. Banget. Aku ceritakan pada beliau tentang masalahku, katanya, mungkin karena dia nggak rileks dan susah tidur makanya pengaruh ke berat badan.

Aku pun berusaha nelateni menggendong setiap malam, dibantu gantian dengan mbak rewangku selama sebulan lebih sampai tengah malam. Bulan Maret, aku kontrol lagi dan berat badannya hanya naik 200 gr. Aku mulai gelisah. Suamiku bilang disyukuri aja karena tetap naik. Hadu.. ini bukan tentang tidak bersyukur. Walaupun aku paham, sih, maksudnya baik. Tetapi, yaa, aku jadi bete dong karena suamiku terkesan nggak paham. Kan indikator pertumbuhan bukan hanya sekedar "tetap naik". 

Selain naik, polanya juga harus diperhatikan. Apakah menurun? Naik pun, juga sebaiknya memenuhi target pada bulan selanjutnya. Kalau diberi target minimal 500 gr agar tetap berada di zona yang aman dan cuma naik 200 gr, berarti kan ada masalah. Dokter Dini kembali melihat caraku menyusui, ya nggak ada masalah. LDR terus pula. Aku kembali mengubah-ubah posisi menyusui. Tapi sebetulnya, aku cukup yakin kalau soal nenenin, tidak ada masalah.

Bulan berikutnya, aku shock karena berat badannya hanya naik 40 gr dalam sebulan! Aku merasa kehilangan kendali dan ingin marah sekali dengan keadaan beberapa waktu lalu. Dokter Dini kemudian menyarankan untuk tes darah karena melihat bibirnya anakku kurang merah merona. Benar saja, setelah hasilnya keluar, ternyata memang zat besinya kurang. Kalau minimal jumlah HB itu 11, anakku cuma 10.8. Memang sangat ngepres, tetapi tetap terhitung kurang dan kalau nggak segera diatasi, bisa membuat tumbuhnya nggak optimal. Akhirnya anakku diberi suplemen zat besi, karena kan belum waktunya makan, ya. 

ciri bayi kekurangan zat besi, kekurangan zat besi pada bayi, kekurangan zat besi pada bayi asi, bayi asi kekurangan zat besi, bayi asi kurang zat besi, tanda bayi kekurangan zat besi, akibat bayi kekurangan zat besi, agar bayi tidak kekurangan zat besi, bayi yang kekurangan zat besi, bayi 6 bulan kekurangan zat besi, cara mengetahui bayi kekurangan zat besi, efek bayi kurang zat besi, bayi asi kekurangan zat besi, bayi kekurangan zat besi
Cuplikan hasil tes. Lihat bagian yang dilingkari dokter.


Dokter Dini berkata, kemungkinan penyebabnya adalah dia tidak mendapat bekal zat besi yang cukup dari aku semasa melahirkan. Ini memang betul, setelah aku cek tes darahku sehari sebelum operasi SC, HGBku 11.8 yang menurutku ya cukup ngepres dibanding hasil tes darah pada bulan ke-7. Yang kedua, karena kurang tidur. Bayangin dong, dua bulan lebih loh anakku tidurnya tengah malam mulu. Tidur siangnya juga pendek. Makanya waktu tidurnya jadi kurang!

Nah, begitu sudah mulai MPASI, aku diminta untuk menunda pemberian sayur dan protein nabati, meminimalkan buah, serta mengutamakan protein hewani dan karbo. Dari buku yang beliau rekomendasikan aku jadi paham bahwa zat besi pada protein hewani jauh lebih cepat diserap tubuh dan ini artinya sangat bagus ketimbang protein nabati. Dan karena anakku kondisinya urgent, jadi ya harus diutamakan dulu. 

Upayaku membuahkan hasil, kombinasi suplemen zat besi plus MPASI homemade membantu berat badannya kembali naik 190 gr. Bulan selanjutnya, naik 300 gr, dua minggu setelahnya, juga baik 320 gr. Alhamdulillah. Pola dan grafiknya membaik. Menurut Dokter Dini, ia sudah kembali berada di zona hijau muda. 

Sekarang, aku masih mengupayakan hal yang sama: sesekali memberikan suplemen dan mengutamakan pemberian MPASI homemade dengan prioritas protein hewani dan karbo.


Hikmahnya….

Dari ceritaku di atas, aku belajar beberapa poin penting tentang defisit zat besi atau ADB pada bayi yang masih ASI eksklusif.

Pertama, pahami gejala awal bayi yang kekurangan zat besi. Menurutku ini nggak bisa sendiri ya, harus ke dokter. Memang ada tanda-tanda umum seperti pucat, lemas, dan teman-temannya itu lah. Tapi dokter akan melihat lebih detail. Misalnya saja yang dilakukan dokter dini kepada kedua anakku: mengamati kemerahan di kelopak mata dan mengamati rona merah pada bibir. Dari situ dokter akan memutuskan apakah perlu tes darah atau tidak. 

Nggak perlu parno duluan kalau sudah disuruh tes darah, ya. Karena memang tes lab ini adalah salah satu cara mengetahui bayi yang kekurangan zat besi. Hasil tes lab membantu dokter memutuskan apakah memberi suplemen atau tidak diberi apa-apa. Jadi jangan memutuskan sendiri ya gess.. kalau bayinya ternyata sehat dan sudah banyak zat besinya tapi diberi suplemen zat besi, nanti malah sembelit lagiiii.

Kedua, pahami penyebabnya. Kalau menurut dokter Dini, penyebab kekurangan zat besi yang ada di anak keduaku adalah karena cadangan zat besi kurang dan karena kelelahan serta kurang waktu tidurnya. Nah, dokter Dini sempat memberitahu bahwa seharusnya sebelum melahirkan, seorang ibu di cek dulu apakah zat besinya cukup. Jika kurang sedikit atau ngepres, sebaiknya diberi suplemen agar bisa memberi bekal yang cukup untuk bayi. 

Kenapa jadi bekal? Karena zat besi tidak banyak bisa dialirkan lewat ASI. Kalaupun ibu yang minum suplemen, juga tidak bisa memberi pengaruh apa-apa pada ASI. Jadi, kalau ada bayi ASIX yang kena ADB yang kasusnya seperti Laiqa gini, ya solusinya diberi suplemen zat besi. 

Ketiga, pahami solusinya. Kalau sudah tau masalahnya apa, tentu mudah bagi dokter untuk segera mencari solusi yang bisa mencabut akar masalah. Pada kasus anakku, solusinya adalah diberi suplemen zat besi dan melalui MPASI. Dokter Dini tentu tidak menyarankan pemberian susu substitusi maupun MPASI pabrikan, arena selain bukan solusi yang mengatasi akar masalah, pemberian susu substitusi dan MPASI pabrikan bisa membawa masalah baru. Kebetulan, anak pertamaku sudah mengalaminya, yaitu saat terkena konstipasi karena makan MPASI pabrikan. Ada kandungan susu di dalamnya yang nggak cocok di pencernaannya.

Kalau memang si anak konsumsinya susu substitusi, maka solusinya selain diberi suplemen, mungkin bisa dengan mengganti susu. 

Dari sini aku bersyukur dan jadi lebih paham dan tidak ujug-ujug memberikan solusi ke anak.

Nah, pemberian suplemen zat besi sendiri sebetulnya ada resikonya, namun, bukan resiko yang berbahaya banget. Paling ya cuma jadi polusi udara di rumah aja HAHA. Pertama, pasti ada perubahan warna poop bayi. Kalau biasanya kuning keemasan dengan tekstur lembek (khas bayi ASIX yes), setelah minum jadi agak kehijauan. Bayi juga kadang agak ngeden gitu. Jujur saja kami sama-sama khawatir karena si kakak sudah pernah ada riwayat sembelit kronis, khawatir si adek berpotensi juga. Akhirnya dokter pun memberi dosis yang rendah dan ditingkatkan seiring pertambahan berat badan bayi.

Kedua, bau kentut dan poopnya itu loohhh.. rasanya kayak mbersihin poop orang dewasa! Hehe.


Pasca kondisi kembali normal…

Aku selalu menggendong anakku tiap malam sejak bulan Februari 2019 sampai dengan bulan Juni 2019. Kami sudah beberapa kali mencoba menormalkan tidurnya Laiqa: tidur di kasur dengan cukup dinenenin aja tanpa gendang-gendong, tetapi belum berhasil. Laiqa kembali tidur tengah malam. Pada rentang waktu itu pun, dia masih sesekali rewel dan susah tidur. Katanya, sih, yang ngikutin sudah pergi. Tapi, yah mungkin karena sudah kadung terpola kali, ya.

Meski begitu, aku tetap optimis kondisi Laiqa bisa kembali normal. Kira-kira beberapa minggu sebelum hari raya, kami mencoba kembali menidurkan Laiqa tanpa gendong. Beberapa kali coba, berhasil tanpa drama. Hatiku sungguh bungah tak terkira.

Kini, pola tidurnya kembali normal. Namun, untuk ADBnya, kami belum tahu karena belum waktunya untuk cek darah lagi. Meski begitu, aku optimis Laiqa bisa segera pulih. Wajahnya sudah jauh lebih cerah dibanding beberapa bulan lalu. Makannya lahap dan sangat menyejukkan hatiku. 


You Might Also Like

0 komentar