Menggendong, Aktivitas Menyenangkan Untuk Bunda dan Bayi

Maret 01, 2019




“Jangan sering-sering digendong, nanti bau tangan!”

Lah emang kenapa sih kalo bau tangan? Pasti buibu muda pernah lah ya dengar nasihat di atas entah dari orang tua, keluarga, maupun tetangga. Mungkin maksudnya baik, biar kita nggak terlalu pegal dan bisa istirahat. Tapi sebetulnya menggendong bayi kan banyak manfaatnya yah.

Kalau masalahnya ada pada bayi yang nggak mau ditaruh saat tidur, coba dicek kembali, apakah bayi sudah betul-betul kenyang? Pada dasarnya bayi tuh kalau kenyang tidurnya pasti nyenyak. Apalagi kalau sudah di atas usia 2 bulan yang jam tidurnya sudah mulai berpola dan lebih stabil. Persoalan kenyang ini berkaitan pula dengan pelekatan saat menyusui, posisi menyusui, dan perihal lainnya. Misalnya suhu ruangan, ada tongue tie atau tidak, dan lain. Kalau memang ada problem di atas, segera aja ke dokter anak atau ke konselor laktasi. Biar masalah menyusuinya segera terpecahkan dan bayi maupun bunda bisa sama-sama tenang.


Di postingan ini, aku mau berbagi tentang pengalamanku dalam menggendong dan babywearing dengan anak pertama serta anak kedua. Proses serta intensitas menggendongnya berbeda, respon keduanya pun berbeda.


Merekatkan Ikatan Bunda dan Bayi dengan Menggendong

Tidak ada yang salah dari menggendong anak sendiri. Bahkan, menggendong itu justru membawa manfaat yang terbilang nggak sedikit baik untuk bunda dan bayi. Dari pengalamanku menggendong anak pertama dan kedua, ada beberapa manfaat yang aku dan anak-anakku dapatkan dengan aktivitas menggendong. Pertama, untuk menguatkan bonding antara anak dan bunda. Bunda dan anak sama-sama perlu mengenal satu sama lain. Proses menggendong ini, akan membantu bunda untuk mencintai si kecil, memahami perilaku dan pola tidur serta minumnya. Kedua, membantu anak agar lebih nyaman dan tenang. Anak kan punya kebutuhan yang berbeda ya pada setiap jenjang usianya. Untuk kebutuhan utama bayi yang baru lahir, salah satunya adalah sering didekap dan digendong. Aksi manis dari bunda maupun ayah ini akan membantu anak untuk perlahan memahami kehidupan baru yang ia jalani setelah 9 bulan ndekem di dalam rahim.

Ketiga, manfaat skin to skin dengan bayi. Skin to skin ini juga membantu bayi mengenal orang tuanya. Kadang, kalau bayi lagi demam, skin to skin antara orang tua dan bayi tanpa pakaian bisa membantu menurunkan suhu tubuh si bayi. Fyi, bayi yang baru lahir yah kurang lebih sampai dia berusha 2 bulanan lah, itu sukaa banget tidur dengan kuping menempel di dada bunda untuk mendengarkan degup jantung bunda. So sweet…

Ngomongin soal menggendong, aku punya dua pengalaman berbeda dengan dua anak yang berbeda. Saat anak pertama, aku tidak bisa terlalu sering menggendong karena ibuku over excited dengan kedatangan si cucu perdananya. Jadi yang lebih sering menggendong ya ibuku. Kalau pun ibu berhalangan, ada mbak rewang yang ditugasi menggendong. Aku juga masih dilarang menggendong terlalu lama karena masih masa pemulihan pasca operasi SC dadakan. Aku mulai menggendong Mahira lebih sering saat ia sudah berusia 5 bulan. Ketika itu, ia sudah mulai boleh digendong dengan cara dipekeh atau digendong dengan kaki yang terbuka lebar.

Nah, bersamaan dengan momen tersebut, aku juga lagi sering cari gendongan sekaligus mulai belajar hal baru tentang M shape yang lebih dianjurkan untuk bayi. Berhubung Mahira semakin besar, aku mulai membeli gendongan dengan hipseat agar bisa memenuhi posisi M shape dan juga bisa dipakai oleh ayahnya. Agak ribet dan susah bawanya, tapi gemana dong namanya juga butuh! Hehe. Enaknya pakai gendongan ber-hipseat ini kalau dipakai untuk ngemall, traveling, ataupun boncengan naik motor. Bisa mulai digunakan saat anak sudah bisa duduk sendiri dengan baik.


Mulai Babywearing Saat Anak Kedua

Ketika anak kedua datang, ibuku sudah nggak bisa lagi menggendong cucu bungsunya, soalnya udah sibuk sama Si Kakak hehehe. Jadi aku punya lebih banyak waktu berkualitas untuk menggendong anak keduaku, Laiqa.

Meskipun melelahkan, tapi aku sangaaat menikmati proses menggendong ini. Apalagi kalau dia sudah bersandar manjah di atas dadaku, kadang kepalanya ikut bergerak seiring dengan detak jantungku berdetak. Aku bahkan sudah rajin kepoin olshop satu-satu dan mencoba membeli gendongan kaos perdana sebelum si kecil lahir hehehe.

Aku merasa ada ikatan yang berbeda antara aku dan Laiqa, anak kedua yang rutin kugendong ini. Tatapannya kepadaku saat masih bayi, berbeda dengan tatapan Si Kakak. Dulu, Mahira sering tidak fokus bahkan tidak memandangku saat aku menyusuinya. Beda kalau sudah digendong ama ibuku. Huhu sedih rasanyaa, kayak patah hati deh aslik! Jadi aku berusaha membayar “utang” proses bonding ke Mahira saat dia sudah lebih besar. Sementara Laiqa berbeda. Mungkin karena sejak lahir dia sudah sering aku gendong dan aku dekap kemanapun, dia lebih fokus kalau menatapku. Kadang ia tersenyum merespon apapun yang aku katakan kepadanya dan kalau sudah aku gendong, tangisnya selalu mereda.

Cumaaan.. aku mulai terasa capeknya saat dia sudah berusia 3 bulanan gitu. Soalnya aku jadi nggak bisa beraktifitas lebih banyak ya hehehe dia mulai kebangun kalau aku gendong sambil duduk. Momen inilah yang membuat aku mencari tahu lebih jauh tentang babywearing dan tanya-tanya ke teman yang ikut komunitas babywearing.

Melalui website babywearinginternational.org aku mendapat pengertian tentang babywearing, yakni:

Babywearing is the practice of keeping your baby or toddler close and connected to you as you engage in daily activities through the use of one of a variety of types of baby carriers. It is a traditional practice in many cultures that is not widely used by modern industrialized societies, but it nonetheless has many benefits for both children and caregivers. Babywearing promotes bonding, supports breastfeeding, can help combat postpartum depression, makes caregiving easier, and can be a lifesaver for parents of high-needs children. Carried babies sleep, feed, and grow better. One study found that carried 6-week-olds cried 43% less than other children.

Babywearing is not about any particular parenting philosophy and it is not about any specific carrier. It can be practiced by a wide variety of caregivers including moms, dads, grandparents, siblings, nannies, nurses, doulas; in short, anyone who cares for a newborn, infant, or toddler. There are safe and effective carrier options for every budget and taste.

Kalau diterjemahkan, kira-kira begini nih:

Babywearing adalah sebuah aktivitas menjaga bayi dan balita Anda tetap dekat dan terhubung dengan Anda saat Anda melakukan kegiatan sehari-hari melalui penggunaan salah satu dari berbagai jenis gendongan bayi. Ini adalah praktik tradisional dalam banyak budaya yang tidak banyak digunakan oleh masyarakat industri modern, tetapi meskipun demikian memiliki banyak manfaat bagi anak-anak dan pengasuh. Babywearing mengeratkan ikatan, mendukung menyusui, dapat membantu memerangi depresi pasca persalinan (PPD), membuat pengasuhan lebih mudah beraktifitas, dan dapat menjadi penyelamat bagi orang tua dari anak-anak berkebutuhan tinggi. Bayi yang rutin digendong cenderung memiliki proses tidur, makan, dan pertumbuhan yang lebih baik. Satu studi menemukan bahwa anak yang digendong saat usia 6 minggu menangis lebih rendah 43% dibandingkan anak-anak lain.

Babywearing bukan tentang filosofi pengasuhan tertentu dan bukan tentang gendongan tertentu. Ini dapat dipraktikkan oleh berbagai pengasuh termasuk ibu, ayah, kakek-nenek, saudara kandung, pengasuh, perawat, doula; singkatnya, siapa pun yang merawat bayi yang baru lahir, atau balita. Ada banyak pilihan brand yang aman dan efektif untuk setiap anggaran dan selera masing-masing rumah tangga.

babywearing sejak newborn.


Jadi intinya, babywearing itu menekankan pada ibu, ayah, maupun pengasuh tetap bisa beraktivitas seperti biasa meskipun sekarang sudah ada anak. Kebanyakan dari kita, pengasuh dan orang tua di Indonesia, kalau sudah menggendong anak kayak sudah nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Padahal sebaiknya, anak tidak mengganggu aktivitas ibu-ayahnya yang lebih dulu ada. Kalau masih newborn, oke lah kan nggak lama proses adaptasi si bayi ini, sekitar 3-4 bulan. Itupun juga pasti nggak rewel setiap hari. Kemudian, tidak melulu menggunakan gendongan yang mahal, harus geos, harus yang hipseat. Yah, balik lagi sama anggaran dan kenyamanan kita juga dengan usia si bayi. Kalau aku, untuk di bawah satu tahun gini memang aku lebih memilih gendongan kaos. Kalau sudah agak besar, hipseatnya Si Kakak bakal kepake lagi, deh! Hehe.

Melihat pengertian di atas, aku jadi ingat pernah melakukan babywearing dengan si kakak, yakni saat ditinggal mbak rewang pulang kampung dan aku harus melakukan pekerjaan rumah sendirian. Agar lebih kondusif, aku gendong belakang lah Si Kakak pakai gendongan hipseat. Babywearing dengan Si Kakak lebih mudah karena saat itu dia sudah berusia 15 bulan. Sementara untuk proses babywearing dengan si adik, aku harus mencari gendongan baru yang aman untuk newborn, yang handsfree agar aku bisa beraktifitas serta yang nyaman untuk aku dan bayi.


Tidak Semua Orang Tua Mau Menggendong Anaknya

Aku baru sadar setelah punya anak bahwa tidak semua orang tua mau menggendong anaknya. Boro-boro babywearing di segala aktifitas deh, menggendong sebentar saja tidak mau. Jadi aktifitas gendong-menggendong ini semua diserahkan total kepada orang lain entah nanny ataupun nenek. Bukan karena pekerjaan ya, tetapi karena memang nggak mau menggendong karena memandang gendong anak bikin repot. Di Indonesia sepertinya jarang ya, meskipun ya ada aja sih. Aku pernah tau beberapa kasus kayak gini di luar negeri, dari cerita mbak-mbak pekerja yang pernah jadi TKW di beberapa negara arab.

Pantas saja banyak gerakan menggendong dan babywearing yang digalakkan oleh banyak komunitas. Tentu tujuannya agar bisa lebih banyak orang tua dan anak yang mendapat manfaat maksimal dari menggendong dan bisa melahirkan generasi yang lebih kokoh pondasi serta ikatan dengan orang tuanya.

Kalau bunda, termasuk yang mana nih? Share di kolom komentar, yuk!


Source:
https://babywearinginternational.org/what-is-babywearing/


You Might Also Like

26 komentar

  1. Aku juga suka gendong anakku waktu kecil dulu, hampir ndak pernah pake stroller. Tapi begitu udah gedean dikit, merekanya yang tidak suka digendong :))

    BalasHapus
  2. Bener mbak. Menggendong anak pasti akan mendekatkan hubungan ibu dan anak. Ikatan emosional keduanya makin akrab, sehingga kelak sang anak akan menjadikan ibunya sebagai orang tua yg benar2 dibutuhkan dalam segala hal.

    BalasHapus
  3. Mba Nabila, suka deh baca tulisan ngurus baby2nya. Jd aq dpt insight2 baru n sekalian belajar kalo nanti udah dikasih amanah anak :). Keep sharing ya Mba #hug :)

    BalasHapus
  4. Aku termasuk yg senang gendong alhamdulillah. Soalnya bikin hepi bgt, oksitosinku langsung meningkat kalau gendong anakku. Makanya aku pilih gendongan yg ergonomis yg tentunya membentuk M size. Jd ke akunya pun ga rempong, mau ngapa2in juga mudah ❤

    BalasHapus
  5. Oh..ternyata ada banyak posisi menggendong yg bisa dipilih berdasarkan usia anak & juga kenyamanan anak maupun pengasuh ya.. TFS mba..

    BalasHapus
  6. Iya ya Mbak, istilah bau tangan tu emang kayak budaya ya. Padahal efeknya malah bagus kalo bayi sering digendong ibunya. Cuma kalau gendong belakang saat anak makin tambah bulan, kalo dia tipe anak aktif, masih agak susah e Mbak sambil kitanya ngerjain aktivitas.

    BalasHapus
  7. Aku anak kedua juga gitu, lebih enakan digendong ke mana-mana. Dulu sampe dibela-belain belajar pake WW. Sekarang mah anaknya udah nggak mau digendong lama-lama 😂 udah mulai jalan juga soalnya.

    BalasHapus
  8. Saya sih tetap lebih memilih untuk menggendong si kecil. Apalagi, dengan adanya bantuan alat gendong yang mirip tas ransel. Menggendong bayi jadi bisa dilakukan sembari mengerjakan aktivitas yang lain.

    BalasHapus
  9. Anakku yang kecil sekarang usianya 3,5 tahun, tapi masih suka pengen digendong, dulu pakai gendongan juga yang hipsheat karena khan bawa motor, untung anaknya anteng kalau digendong di motor, ternyata banyak manfaat menggendong anak ya

    BalasHapus
  10. Saya termasuk mamah yang sering banget gendong Palung kala bayi. Pun ayahnya. Tanpa kami sadari ada semacam ikatan dan bayi lebih tenang serta periang, banyak senyum dan tak tantrum. Kalau pengen enen atau ngedott tinggal bilang nin atau dut dengan manis dan segera dipenuhi tanpa perlu mewek duluan karena gak bisa mengomunikasikan keinginan. Saking gemasnya pada kecerdasan Palung yang masih bayi (2 builan sudah bisa ngomong nin dan dut sambil senyum), saya pernah menggodanya tak segera menanggapi. Reaksinya? Nin ketiga tak diranggapi jadi jebi, lalu nin selanutnya tak ditanggapi jadi mewek, ha ha. Ada fotonya, sayang saya khilaf tak sengaja menghapus hasil capture dari webcam netbook ACER.
    Saya kira itu karena saya kerap berkomunikasi dengan Palung. Kerap bilang pengen enen sambil menunjuk payudara dan ngedot sambil menunjuk dot di lain waktu. Jadi anak itu bisa paham kata pertamanya bukan mama papa melainkan nin dan dut, bahkan sudah bisa pegang botol dot sendiri kala usianya beberapa hari. Saya memegang dan Palung ikut pegang, kala saya lepas, dia tetap bisa memegang tanpa membuatnya tersedak. Dia bayi yang manis dan tak merepotkan. Pun kala menggendong, dia selalu tersenyum seakan nyaman. Kala disusui akan menatap mata saya sampai terkantuk-kantuk lalu bobo.
    Ah, masa Palung yang bayi itu manis sekali bagi saya dan tak bisa terulang lagi.
    Maka nikmati masa Mbak dengan dua anak yang masih kecil. Kelak meeka akan besar, yang terpenting tetap ada ikatan.

    BalasHapus
  11. Aku senang mbak menggendong baby ku sekarang. Apalagi dengan menggendong menambah bonding antara ibu dan anak, jadi bisa merasakan apa yang dia rasakan dan respon cepat untuk keluhan yang dihadapinya.

    BalasHapus
  12. Menggendong baby tuh nggak hanya anaknya yang nyaman, ibu pun merasakan sensasi dibutuhkan dan bikin nyaman juga dengan mendekap anak

    BalasHapus
  13. Mertua saya dulu termasuk orang yg ngajarin jangan keseringan gendong anak, nanti jadi manja, untung nggak saya ikuti. karena pas gendong itu bisa merasakan bonding yang kuat, tinggal pilih gendongan yang nyaman aja supaya nggak pegal selama menggendong :)

    BalasHapus
  14. saya termasuk orang tua yang suka menggendong anak, Mba. bahkan anak saya yang sekarang udah berusia 7 tahun dan pengen digendong bakalan saya gendong, tapi yaa gitu deh hanya bisa sekitaran 5 menitan karena udah gak kuat, hehehe :)

    BalasHapus
  15. saya juga setuju bila dikatakan kegiatan menggendong anak ini akan mempererat bonding orang tua dan anaknya, soalnya saya juga merasa seperti itu :)

    BalasHapus
  16. Alhamdulillah, saya termasuk yang menggendong anak-anak saya, meski waktu dulu belum booming babywearing ini. Memang koq, bonding dengan anak jadi lebih terasa. Anak jadi nempel melulu sama kita. :)

    BalasHapus
  17. Saya mah paling suka gendong bun selain bonding juga buar cepet kurus wkkk

    BalasHapus
  18. Aku lebih suka mengenddong pakai kain sih sebenarnya. Tapi kalo praktis suka dg gendongan bayi yg ada slingnya.

    BalasHapus
  19. Aku belum punya anak sih, tapi bingung juga sama yang bilang anak bayi jangan sering digendong ibunya. Ya emang kenapa sih kan biar semakin dekat ya sama anaknya, masa gak boleh :(

    BalasHapus
  20. Wah pengamalaman menggendong tiap anak berbeda ya. Aku pun kak. Jaman anak pertama masih pakai baby wrap, anak kedua pakai gendongan ransel, anak ketiga pakai geos. Sebenernya memang masih mencari cari mana yang paling nyaman buat anak dan bunda sih. Pilihan terbaik kalau saya sampai saat ini di gendongan ransel/hipseat kayanya lebih enteng di badan. Support banget sama ibubibubyang mau menggendong anaknya deh.

    BalasHapus
  21. Sering banget aku denger kaya itu, itu biasaya ibu2 jaman dulu banget. Padahal gendong itu bisa mempererat bonding ibu dan anak ya. Gendong pakai gendongan lebih enak &B nyaman baik buat ortu atau anaknya ya lagi pula lebih aman menurut aku. Enak ya gendongan jaman sekarang bagus2 dan fungsinya juga banyak.

    BalasHapus
  22. Aktivitas menggendong ternyata punya banyak manfaat ya mbak. Saya juga merasakannya setelah punya baby. Btw saya juga nggak percaya mitos itu cuma klu saya juga dilarang terlalu sering menggendong si baby karena kata ortu itu bisa menghambat perkembangan motoriknya.

    BalasHapus
  23. Bener banget. Walopun kalo kelamaan itu bikin pegel, tapinya menggendong itu menyenangkan. Bikin kuat bonding dengan anak. Apalagi kalo gendongannya nyaman. Makin betah deh si bayi digendong.

    BalasHapus
  24. Aku seetuju banget ini mba, tapi kadang menggendong bikin pegel tapi nggak lagi kalo nemu gendongan yang asik banget dan nyaman. Beberaapa temen juga tergabung di komunitas menggendong

    BalasHapus
  25. Benar banget mengendong itu menyenangkan apalagi gendongan sekarang banyak modelnya

    BalasHapus
  26. Saya dulu juga paling suka menggendong anak-anak saya. Hanya dulu, gendongan bayi bentuknya tidak seperti sekarang. Dulu, anak digendong dengan posisi miring.

    BalasHapus