Meneruskan Kebaikan yang Kutemui di Perjalanan

April 26, 2020



Ketika aku sedang menyetir di jalanan yang cukup padat, ada saja orang yang berbaik hati mengizinkan aku menyusup masuk sehingga aku tak perlu lama mengantre. Terkadang aku tercenung mendapati banyak kebaikan yang aku terima setiap harinya. Mungkin inilah yang disebut buah kebaikan, entah dari kebaikan kecil yang mudah kulupakan, atau dari doa serta kebaikan orang tuaku yang berdampak pula kepadaku.

Hal ini mengingatkanku pada kebaikan-kebaikan yang kerap aku jumpai di perjalanan. Selama 9 tahun aku menyenangi dunia perjalanan dan menjadi traveler, selalu ada kisah kebaikan yang aku peroleh dari orang-orang yang tak kukenal. Beberapa kisah menariknya akan aku ceritakan di sini.


Dua Kebaikan di Kereta Kunming-Guangzhou 


Pada bulan ramadhan tahun 2011, aku sedang berada di Tiongkok untuk mengikuti student exchange sekaligus program magang selama sebulan. Setelah acara selesai, aku mengunjungi temanku di kota Guangzhou. Rencananya, kami akan sama-sama liburan singkat di Hongkong. Ah, pasti menyenangkan! Hanya saja, aku harus naik kereta sendirian dari Kunming. Perjalanan dari Kunming ke Guangzhou dengan kereta api membutuhkan waktu sekitar 24 jam. Sialnya, aku tidak kebagian seat sleeper. Ya, kereta api di Tiongkok, memiliki fasilitas kasur 3 tingkat, 2 tingkat, serta kursi duduk biasa. Kereta di Tiongkok pun panjang-panjang. Wajar, penduduknya milyaran!

Akhirnya aku jalani saja sendirian naik kereta dari Kunming ke Guangzhou. Aku naik kelas ekonomi, posisi kursinya kurang lebih sama seperti kereta di Indonesia yakni duduk berhadapan. Meski berdesakan dan suasana kereta sangat ramai, aku menikmati berada diantara penduduk lokal.

Lagi-lagi aku tak terlalu beruntung, aku mendapat posisi duduk di dekat jalan, bukan di jendela. Posisi ini sebenarnya tidak terlalu buruk, aku leluasa mengamati perilaku orang sekitar. Aku juga dengan mudah mengambil air panas untuk menyeduh mie instan untuk berbuka dan sahur. Hanya saja, semalaman aku harus tidur dengan posisi duduk. Aku sudah membayangkan akan menghabiskan setengah krim pereda nyeri ketika sampai di asrama temanku di Guangzhou. 


Kunming, Tiongkok, 2011



Berbagai potret pengalaman di Tiongkok, 2011.


Seorang lelaki yang duduk sebaris denganku, tiba-tiba membangunkanku tengah malam dengan cara menepuk bahuku. Ia kemudian mengisyaratkan untuk berpindah tempat, ia duduk di kursiku dan aku duduk di kursinya yang bersandar pada jendela. Lelaki itu tak bisa bahasa Inggris, dia juga langsung tau aku pasti tak paham bahasa mandarin. Raut mukanya meyakinkan, ia bahkan terlihat sedikit memaksa. Aku pikir dia akan turun beberapa menit lagi, jadi aku iyakan ajakannya untuk bertukar. Ternyata dia baru turun di dua stasiun sebelum tujuan akhirku. Baik sekali dia.. aku jadi dapat menyandarkan kepala di jendela dan tidur lebih nyenyak.

Pagi harinya, orang di depanku turun, kursinya ditempati oleh perempuan remaja dan seorang wanita yang sepertinya adalah ibunya. Seorang perempuan remaja manis dengan rambut lurus sepunggung yang dikuncir satu di belakang tengkuknya. Tak lama setelah ia duduk, ia membuka tas dan mengeluarkan sebuah mentimun kecil. Aku tidak terlalu memperhatikan karena sedang mengamati pemandangan di luar jendela sembari menikmati playlist di Blackberry (tahun 2011, bo..). Eh, tiba-tiba saja aku melihat mentimun tadi tepat di depan mukaku, lantas aku menoleh ke arahnya. Perempuan itu menyodorkan mentimun kecilnya kepadaku seraya tersenyum, seolah berkata, "Ambil lah.. ambil lah.."

Aku bingung dan refleks menolak. Bukan tak doyan, aku sedang berpuasa. Saat itu sedang ramadhan dan aku sudah berniat puasa serta sahur pada malam harinya.

Gadis desa itu terlihat bingung, lalu menawarkan kepadaku sekali lagi tanpa berucap sepatah katapun. Tiba-tiba, ada suara lelaki yang menyahut,

"She offers you.. ehm.. cucumber, it's from her village, from her own field." Dia berbicara agak terbata, tapi tetap dengan raut muka yang ramah.

Kepalaku langsung mendongak, lelaki berjas rapi yang sedang berdiri ini rupanya bisa berbahasa inggris. Aku kemudian menjawab bahwa aku sedang berpuasa, tidak makan dan minum sampai petang. Lelaki itu terlihat bisa memahami maksudku, "Aah.. okay," lalu ia berbicara kepada gadis desa dengan bahasa mandarin. Gadis itu masih tampak agak ragu, namun, ia mulai menurunkan tangannya dan membagi mentimun itu jadi dua untuk dia makan sendiri dan wanita di sebelahnya. Aku mengamatinya dengan takjub karena dia bisa membagi mentimun sama rata hanya dengan kedua tangannya. Aku membalas tatapannya dengan senyuman. "Xie-xie," kataku. Hanya itu yang kutahu.

Belakangan aku memarahi diriku sendiri karena tidak mengambil mentimun darinya. Harusnya aku terima kebaikannya, harusnya mentimun itu aku simpan dan kumakan saat berbuka. Aku sungguh menyesal, aku harap gadis itu paham bahwa aku tak berniat menolak kebaikannya. Meski begitu, kebaikan si gadis terasa sangat hangat. Hingga kini, peristiwa itu masih terekam dengan jelas dan tersimpan di laci memori. 


Kebaikan Wanita Tua yang Kutemui di Suatu Tempat Antara Madinah dan Mekkah


Aku baru umrah sekali yakni pada tahun 2013. Aku sangat beruntung bisa memenuhi panggilan Allah kala itu dan berangkat dengan kedua orang tuaku. Banyak sekali pengalaman baru yang kuperoleh, salah satunya adalah kebaikan wanita tua yang memberiku selembar “sajadah”. 

Saat itu, kami baru mengambil miqat di Bir Ali, tempat mengambil miqat yang terjauh dan berada di Madinah. Saat itu kami sudah selesai melaksanakan ibadah di Madinah dan akan memulai rangkaian umrah di Mekkah. Perjalanan dari Bir Ali ke Madinah cukup jauh dan lama. Aku memilih untuk duduk sendiri di pinggir jendela sambil mengamati sang surya yang semakin terbenam dan akan menyinari belahan bumi lainnya. 


Sunset di suatu titik antara Madinah-Mekkah, 2013.


Kami beristirahat di tepi jalan raya. Aku tak ingat betul nama lokasinya, yang jelas di sana banyak jamaah dan rumah makan. Langkah kakiku dan kedua orang tuaku lurus langsung ke masjid. Tak kusangka, masjidnya sangat kecil, lebih cocok jika disebut mushola. Ada sekitar 200 orang di sana namun kapasitas masjid hanya untuk 20 orang. Akhirnya, sisa jamaah yang tidak kebagian tempat di dalam harus menggelar koran di emperan. Emperan jalan, loh, bukan emperan masjid! Hehe.

Tidak berhenti sampai disitu, air wudhunya pun tak keluar walau setetes, sepertinya cadangan air di tandon pun kosong. Aku dan Ibu bertayamum sebisanya lalu mengambil shaf di sebelah seorang wanita. Aku lihat Ayah masih dapat tempat di bagian lelaki, alhamdulillah. Pada saat itu, aku dan Ibu baru sadar bahwa kami tidak membawa sajadah maupun koran. Ya sebetulnya bawa, tetapi di koper, pasti ribet kalau harus kembali ke bis dan bongkar-bongkar. Kami celingak-celinguk dan menemukan satu helai koran. Sayangnya, ini tidak cukup untuk kami berdua. Aku memberikan prioritas ke ibu.

Kukatakan padanya, “Ibuk pake dulu aja, aku gak papa gausah pake alas.” Awalnya Ibu agak ragu, tetapi akhirnya Ibu mau. Biar cepat, karena kami di sini juga dibatasi.

Ketika aku ruku’ pada rakaat ketiga, wanita di sebelahku ini sudah selesai shalat. Seingatku, beliau tidak memakai alas apapun. Aku tidak melihat rupanya, ia hanya mengenakan pakaian ihram putih, sama seperti kami. Ia berjalan ke depan sambil agak terbungkuk dan dengan sigap menangkap selembar koran yang hendak terbang terbawa angin. Aku tidak lagi memerhatikannya dan fokus pada shalatku, hingga kusadari, wanita itu meletakkan koran tepat di bawahku. Tak ketinggalan, ia meletakkan dua buah batu kecil sebagai ganjalan agar koran tak terbang. Beliau melakukannya tepat sebelum aku sujud, sehingga aku tak lagi merasakan pasir di dahi. Kudengar langkah kaki wanita itu beranjak pergi.

Begitu selesai shalat, aku mendengar Ibu berseru “Matur nuwun, Bu.” Ibu berasumsi dia orang Indonesia, orang Jawa lebih tepatnya. Tetapi tak kulihat ia memberi respon. Aku hanya menyaksikan punggung bungkuk wanita tua yang memakai baju ihram. Kebaikannya saat itu sangat menyentuh hatiku. Aku bahkan tak melihat wajahnya. Sungguh bak malaikat.


Tentang Kebaikan Buku yang Menemaniku saat Perjalanan


Semasa aku kuliah S1, aku sangat gemar traveling, mulai dari solo hingga rombongan. Ketika sedang traveling, aku selalu membawa buku untuk aku baca di kereta atau di pesawat. Mulai dari buku islami hingga buku tulisan perjalanan. Sangat menyenangkan bisa membaca buku dengan suasana yang berbeda, di kota yang sama sekali baru, dan bertemu orang-orang baru.

Kecintaanku terhadap dunia traveling tidak lepas dari persoalan patah hati khas anak remaja. Yah.. aku tak akan bercerita banyak soal ini, kan, sudah masa lalu! Hehe. Tetapi, rupanya sakit hati tak melulu merugikan. Aku jadi melahap banyak buku yang ternyata, ada beberapa cerita di dalamnya yang mirip dengan yang aku rasakan. Sebut saja Cinta Brontosaurus-nya Raditya Dika, Life Travelernya Windy Ariestanty, serta Scappa per Amore-nya Dini Fitria.

Buku yang membekas di ingatan adalah kisah Diva yang berusaha mengumpulkan kembali serpihan hati yang sempat terurai karena cinta melalui perjalanan. Kadang aku membacanya sambil menangis karena teringat dengan diri sendiri di masa lalu. Tetapi, bersamaan dengan itu, ada perasaan yang turut luruh dan terlepas. Ada penerimaan yang akhirnya aku bisikkan terhadap diri sendiri. Buku ini menemani proses pendewasaanku, menemukan kebijaksanaan, dan kebaikan dalam perjalanan.

Dari situ, akupun mengikuti dua penulis perempuan favoritku itu, Mbak Windy Ariestanty dan Mbak Dini Fitria. Beberapa hari lalu, aku sempat mengikuti kelas storytelling bersama Mbak Windy. Nah, kalau dengan Mbak Dini, aku ada kesan tersendiri.

Tahun 2013, sebelum aku berangkat ke Jepang dan bertemu jodoh di sana, aku bertemu dengan Mbak Dini Fitria di Mall MX Malang. Sekarang, sih, mallnya sudah tidak ada, dulu terletak persis di samping Malang Town Square. Aku tak ingat persis bagaimana kami bertemu, sepertinya aku sempat mengontak Mbak Dini ketika beliau sedang berencana mampir ke Malang. Sungguh, ramah banget beliau, menyempatkan waktunya untuk bertemu pembacanya.




Pasca bertemu Mbak Dini, kami sempat menjaga komunikasi via email. Asli, Mbak Dini baik banget, bahkan nggak protes ketika aku sok iye ngirim foto traveling di Jepang. Emang eyke siapaa.. haha maafkeun, Mbak Dini. Aku sempat mengirim undangan pernikahan ke Mbak Dini dan beliau membalasnya, mengusahakan untuk hadir dan meminta maaf baru membalas karena anaknya Everest baru opname. Beliau membalas akan mengadakan acara Scappa per Amore tour di beberapa kampus seperti Univ. Brawijaya dan UGM. Sayang sekali, saat itu sepertinya aku sedang riweuh dengan urusan pernikahan dan perkuliahan S2 yang menyita. Setelah menikah pun aku disibukkan dengan beberapa urusan hingga tak sempat berkontak lagi dengan Mbak Dini. Maaf, ya, Mbak, kebaikanmu tak ku balas dengan semestinya.


Meneruskan Indahnya Kebaikan Berbagi Melalui Dompet Dhuafa


Begitu banyaknya kebaikan yang kuperoleh di perjalanan, sebagian besar tak habis jika kuceritakan hanya pada satu postingan ini. Yang jelas, kebaikan-kebaikan yang aku peroleh itu yang selalu membuatku merasa aman dan semakin ingin berjalan serta menjelajahi bumi Allah. Aku jadi yakin bahwa di dunia ini banyak orang baik yang tersebar bak meses yang ditabur di atas roti. 

Kebaikan yang kuterima selalu datang secara konstan, meski kerap kali aku tak membalas kebaikan itu dengan maksimal. Oleh karena itu, selama aku sempat, ingat, dan masih ada waktu, aku ingin mengusahakan agar kebaikan yang aku terima ini tak berhenti padaku saja. Aku mencoba melakukan random act of kindness atau kebaikan yang aku lakukan secara acak. Misalnya dengan menjadi tuan rumah yang baik untuk teman dari luar negeri yang sedang berkunjung ke Indonesia, menolong orang yang sedang butuh bantuan pada saat itu juga, berzakat, serta bersedekah. 

Sebagai seorang ibu yang banyak menghabiskan waktu di rumah bersama anak-anak, tidak banyak aktifitas yang bisa aku lakukan di luar rumah. Kalaupun ada kebaikan yang bisa aku berikan, mungkin hanya sebatas mengajari teman untuk ngeblog, menebar keramahan, dan membantu anak, suami, maupun orang tua di rumah.


Penting bagiku untuk punya “perpanjangan tangan” untuk berbuat baik meski hanya dari rumah.

Alhamdulillah aku sangat terbantu oleh smartphone, dari segenggam benda persegi panjang ini aku bisa melakukan banyak hal, salah satunya sedekah dan berkontribusi untuk kemajuan Indonesia. Aku memilih untuk menyalurkan donasi melalui Dompet Dhuafa, lembaga penghimpun dana zakat dan sedekah yang tidak perlu diragukan lagi profesionalitas serta amanahnya. 

Aku mempercayai Dompet Dhuafa sejak tahun 2017 dan pada saat itu, aku insya Allah berusaha agar tidak absen bersedekah setiap tahunnya di Dompet Dhuafa, karena Dompet Dhuafa selalu mengingatkanku via email dan laporan bulanan. Tidak banyak harta yang aku sedekahkan, sebagian besar aku berikan untuk wakaf. Oh, ya, kamu bisa membaca cerita lengkapku bersama Dompet Dhuafa di link ini. Aku memiliki kisah tersendiri yang sangat berkesan, ketika aku berada dalam masa yang sulit, aku menitipkan donasi kepada Dompet Dhuafa. Tak lama sejak itu, “keajaiban demi keajaiban” terus datang. Kuharap ini yang namanya keberkahan. 

Ada beberapa poin yang membuatku meletakkan kepercayaan kepada Dompet Dhuafa. Pertama, Dompet Dhuafa memiliki program yang sangat komprehensif. Total terdapat 5 program strategis yang dilakukan Dompet Dhuafa dan masing-masing program tersebut memiliki sub program lain yang lebih mendetail manfaatnya untuk masyarakat, yakni Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi, Sosial Dakwah, serta Budaya. Selain itu, Dompet Dhuafa memiliki 4 layanan yang dapat kita akses secara online, yakni, Jemput Zakat, Kalkulator Zakat, Konfirmasi Donasi, dan Konsultasi. Oh, ya, Dompet Dhuafa juga punya 157 zona layanan di 32 Provinsi, serta memiliki 29 mitra strategis di 22 negara. Dengan totalitas yang paripurna untuk menyalurkan kebaikan, pada tahun 2019, Dompet Dhuafa berhasil menyalurkan kebaikan kepada 2.475.028 jiwa dengan rincian 2.930.332 jiwa di Indonesia serta 84.697 jiwa lainnya tersebar di beberapa negara. 


Sumber infografis: Nabilla DP (www.bundatraveler.com)






Aku sempat membuka beberapa arsip bersama Dompet Dhuafa di email, rupanya, aku telah beberapa kali menitipkan dana wakaf ke Dompet Dhuafa, infaq, fidyah, serta satu kali ikut berkurban bersama Dompet Dhuafa. Terkait Wakaf, aku pribadi lebih menyukai menyalurkan dana untuk wakaf karena manfaatnya terus mengalir, Insya Allah. Apalagi, Dompet Dhuafa sangat membuka peluang untuk kita berwakaf sejak dini, dari berapapun uang yang kita miliki. Tak perlu menunggu kaya dan tua. Coba kamu simak juga nih Dahsyatnya Berwakaf agar terus kecemplung dalam kebaikan, insya Allah, aamiin.


Aku juga sangat tersentuh dengan transparansi serta amanahnya Dompet Dhuafa. Apabila kamu menitipkan dana melalui Dompet Dhuafa, jangan kaget apabila kamu akan diberi curahan doa yang mendinginkan hati dan membuat air mata mengalir haru. Rasanya, kebaikan yang kita berikan tidak seberapa, tetapi sangat diapresiasi serta ternyata memiliki dampak yang besar bagi orang lain tanpa pernah kita duga. Salah satu momen haru adalah ketika aku memperoleh laporan sebagai pekurban dari Dompet Dhuafa. Lebih jelasnya, coba kamu baca sendiri di bawah ini, aku pribadi sangat tidak menyangka bahwa ada 700 Kepala Keluarga yang mendapat manfaat dari hewan yang aku kurbankan. Karena medapat pengalaman sangat berpesan berkurban di Dompet Dhuafa, insya Allah, aku ingin kembali berkurban di Dompet Dhuafa. Doakan ya, mudah-mudahan lancar rezekinya.



Pengalaman pertama berkurban di Dompet Dhuafa :) alhamdulillah..


Diantara berbagai kategori dana yang dihimpun oleh Dompet Dhuafa, sektor yang terbanyak ada pada zakat. Pada tahun 2019, Dompet Dhuafa berhasil menghimpun dana zakat sebanyak 55.5%, artinya sudah banyak sekali orang yang percaya menitipkan zakatnya melalui Dompet Dhuafa. Aku pribadi beserta keluarga pada tahun-tahun sebelumnya memilih untuk berzakat di masjid dekat rumah atau aku titipkan lewat ibu mertua. Tetapi, sepertinya tahun ini kami akan menggunakan Dompet Dhuafa karena Dompet Dhuafa pasti tau dan memiliki data yang lengkap daerah dan keluarga mana saja yang perlu diberi zakat. Apalagi pada kondisi pandemi seperti ini, tidak semua orang mendapat THR. Bahkan bagi mereka, pandemi adalah bencana. Banyak yang kehilangan pekerjaan karenanya.

Bagaimana denganmu, apakah kamu memiliki kebaikan yang kamu terima ataupun kamu beri selama traveling? Atau kamu punya cerita tersendiri ketika berdonasi di Dompet Dhuafa? Bagi pengalamanmu di kolom komentar, yuk :)


Sumber foto: foto pribadi, freepik, unsplash, The Idealist
Infografis diolah oleh Nabilla DP (bundabiya.com/bundatraveler.com)
Sumber data: www.dompetdhuafa.org
“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”






You Might Also Like

62 komentar

  1. Luar biasa jam terbang mbak Nabila di luar negeri. Ahhhh rindu traveling jg jadinya. Btw aku jg suka bawa buku ketika traveling mbk, dan skrg aku rindu membeli buku lagi :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huhu, jadi mupeng deh jalan-jalan ke luar negeri. Dan iya, aku juga, kalo jalan-jalan ke mana-mana, pasti bawa buku. Soalnya pasti ada waktu yang bikin nunggu. Dan baca buku itu killing time banget deh.

      Hapus
    2. Ini mah udah lamaa.. aku juga rindu jalan2 lagi :(

      Hapus
  2. wow di tahun 2109 aja, Dompet Dhuafa berhasil menghimpun dana zakat sebanyak 55.5%, artinya sudah banyak sekali orang yang percaya menitipkan zakatnya melalui Dompet Dhuafa. maasyaaallah

    BalasHapus
  3. Ah baca kisah2 di perjalanan aku jadi ingat kisah2 ku di beberapa perjalanan juga dan itu sangat berkesan sampai saat ini. Saat di Mekah dan Madinah beberapa kali aku terkesan dgn kebaikan orang2 .alhamdulillah itu jadi pengingat utk selalu menebar kebaikan juga ya Mba..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba ida.. orang2 di mekkah madinah masya Allah.. terbuat dari apa hatinyaa.

      Hapus
  4. Nah, aku percaya banget dengan kebaikan yang kita dapatkan, berasal dari doa kebaikan dari orang tua kita. Hiks, aku selalu ingat dulu waktu sekolah suka sebel sama Mama dan Bapak. Kenapa sih baik banget sama orang lain, apalagi tetangga hampir tiap hari dikasih makanan.Jawabnya, Kami begini itu buat kebaikan anak2 juga kalo kelak udah berkeluarga dan berpisah dari Mama.

    Hiks, dan benar adanya,ku selalu mendapatkan kembali kebaikan itu. Udah 17 tahun tinggal di rumah sekarang,tetangga depan rumah baiiik banget. Selalu ngirim makanan, masakan hiks, bahkan sampe sahur pun suka ngasih tiap hari , mau ga mau rezeki ga boleh di tolak.
    Menebar kebaikan yang tak lelah untuk dilakukan, makanya aku pun melakukan hal yang sama, karena dengan menebar kebaikan sesungguhnya buat diri kita sendiri
    Lah jadi panjaang gini, hihii

    Semoga sukses lomba menebar kebaikannya dan menang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah iya mbak makasi udah berbagi cerita ya.. jadi pengingat kita juga harus terus berbuat baik. Mungkin ga balik sekaang tapi nanti buat anak2

      Hapus
  5. aku percaya banget kalo kita menebar kebaikan ke siapapun, maka suatu saat nanti kebaikan kita akan kembali ke diri kita lagi yaa

    BalasHapus
  6. Masih banyak orang baik ya mbak, aku percaya kalo kita juga berbuat baik maka kebaikan itu akan kembali kepada kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah iya, mba, maka dari itu kebaikan ini harus diteruskan yaa

      Hapus
  7. Seneng banget baca ceritanya mba. Memang kebaikan itu bisa kita temui dimana aja dan dengan orang yang bahkan blm kita krnal ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbaa pada saat itu jadi yakin kalau pertolongan Allah tuh nyata :)

      Hapus
  8. Ada banyak kebaikan di sekeliling kita yang bisa kita jadikan pelajaran ya

    BalasHapus
  9. menginspiasi kisah-kisah yang mba tulis, terima aksih sekaligus juga mengingatkan kebaikan yang ahrus tetep dilakukan. kalau boleh tahu pencapaian 55% itu dibanding apa ya mba untuk pengumpulan dananya, dibanding target pengumpulan ya maksudnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan mba, tetapi dibandingkan dengan pemasukan donasi lainnya misalnya dari sedekah, wakaf, dll

      Hapus
  10. banyak jalan untuk menebar kebaikan dan memperoleh kebaikan ya mbak, semoga kebaikan yang kita beri dan kita dapat menjadi manfaat.

    BalasHapus
  11. yang namanya kebaikan walau setitik dan sekecil apa pun asalkan tulus pasti akan terasa dan teringat terus yah mbak. Aku juga merasakan hal yang sama sih, setiap lagi keluar parkiran motor, selaluuu aja ada mas-mas baik hati yang tiba-tiba bantuin hehehe.

    Dompet Dhuafa dengan berbagai program kerennya bisa membantu kita untuk tetap bersedekah di masa seperti ini yah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba meskipun terlihat sepele tapi ternyata membantu bgt kan ya :')

      Hapus
  12. Masih banyak orang baik tuh memang nyata, ya. Saya juga percaya kalau kita senantiasa berbuat baik juga akan dibaikin sama orang :)

    BalasHapus
  13. bener bangeet mba..jangan pernah tkut berbagi ya karena justru kita akan mendapatkna lebih banyak saat kita tidak pernah ragu berbagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sepakat bgt mba, berbagi kebaikan juga gratiss

      Hapus
  14. Aku selalu berpegang sama hukum karma. Selama kita berbuat kebaikan pada org lain, kita jg pastinakan dibalas dengan kebaikan yang kadang tak terduga, seperti kisahnya Mba. Inspiratif sekali. Tetap semangat menebar kebaikan mba 👍

    BalasHapus
  15. Selalu ada momen indah saat kita berbagi dan menerima kebaikan dari orang lain ya.
    Semoga kita termasuk orang yang ikhlas...aamiin...

    BalasHapus
  16. Kebaikan memang tidak mengenal suku dan ras ya mbak, apalagi bahasa. Banyak banget yang bisa kita ambil dari kebaikan orang lain ke sesama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul mba, bahasa yg sangat humanis

      Hapus
  17. Tulisannya keren banget Mbak �� Semoga menang ya lombanya ��

    BalasHapus
  18. Kebaikan ini memang menular. Saat kita menebar kebaikan ke orang lain, kebaikan yang lainnya malah akan mendekati kita. Jadinya, sudah kewajiban kita untuk selalu menebarkannya. Di mana pun dan sekecil apa pun. Terlebih lagi di masa sekarang. Ada banyak sodara kita yang kena dampak covid 19. Pastinya, ikut menebarkan kebaikan, akan sangat berarti buat sodara-sodara kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mbak, makanya kudu terus konsisten menebar kebaikan ya..

      Hapus
  19. Benar mbak, kebaikan itu akan berbuah kebaikan lagi untuk diri kita dan sifatnya pandemik juga, menular hehehe alhamdulilah ya mbak, kita masih diberi hidayah Allah untuk senantiasa menebarkan kebaikan, walaupun sekecil apapun

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah iya mbak, betul, itu termasuk hal yang harus kita syukuri ya alhamdulillah...

      Hapus
  20. Menginspirasi sekali mbak kisahnya. jadi terdorong untuk terus berbuat kebaikan yah apalagi di bulan ramadhan ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah makasi mba semoga bermanfaat yaa

      Hapus
  21. Dompet Dhuafa sudah terbukti zekali terpercaya menyalurkan kebaikan dan berbagi kepada sesama yang membutuhkan y mb

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah iya, mbak, sudah pengalaman bertahun2 :D

      Hapus
  22. Kebaikan itu ibarat bola salju yang bergulir ya. Efeknya akan terus ada bagi si penerima kebaikan, untuk melanjutkan kebaikannya versi dirinya sendiri untuk pihak-pihak lain. Begitu seterusnya.
    Alhamdulillah sudah ada pengelola dana bantuan kebaikan yang amanah seperti DD ini, bisa digunakan sebagai kepanjangan tangan tiap umat untuk selalu berbagi kebaikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, mba, dampak baiknya pada akhirnya juga akan kembali ke kita sendiri insyaallah

      Hapus
  23. Semoga kita semua bisa selalu Menebar kebaikan Dimana Saja dan kapan saja ya mbak, Dan semoga corona ini segera berlalu ya

    BalasHapus
  24. Ada yang bilang bahwa bantuan yang kita terima itu adalah buah dari kebaikan kita.
    Kak Nabila pasti orangnya baik banget yaah...?

    Semoga kebaikan ini terus menerus menular hingga tidak ada lagi yang negative thinking terhadap suatu keadaan. Apalagi di saat pandemi begini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak pernah lupa pertama kali pindah ke Bandung. Tetangga pada baik nyambut kami, yang notabene orang Surabaya, berbeda dari lingkungan tempatku tinggal, rata-rata orang Sunda yang kental banget dengan kekeluargaannya, budayanya juga bahasanya.

      Alhamdulillah,
      bertemu dengan banyak orang dalam hidup membuat kita banyak belajar mengenai kebaikan yaa, kak..

      Hapus
    2. wah pasti kepindahannya berkesan banget ya, mbak. tapi wong suroboyo kan juga ramah-ramah, mbak, cuma kadang suka ngegas wahahah

      Hapus
  25. Kebaikan perlu diteruskan, ya. Salah satunya dengan menyisihkan sebagian harta.
    Jadi semacam reminder untuk berbuat baik.

    BalasHapus
  26. Jadi merasa terharu ya,Mbak, kalau ada orang yang menawarkan banyak kebaikan pada kita. Dan rasa bahagia yang tidak terkira itu pada saat melihat orang lain berbahagia menerima kebaikan kita. Apa yang ditanam itu pula yang akan kita tuai

    BalasHapus
  27. Berbuat baiklah kepada orang, walaupun balasannya bisa perpanjangan dari tangan siapa aja. Itu yang seri inu saya bilang.

    Kalonbaca cerita mba, ini sepertinya buah-buah dari kebaikan yang mba tanam. Alhamdulillah masih banyak yang menebar kebaikan di bumi ini ya mba.

    BalasHapus
  28. Berbuat baik itu semacam tabungan kebaikan yang bisa diambil di dunia maupun di akhirat ya mbak

    BalasHapus
  29. Suka jadi merinding ya mbak, jika kita mengingat kebaikan yang kita dapatkan di jalan. masyaAllah, memang kebaikan itu menular ya, sehingga kita akan trus berada dalam lingkaran kebaikan. semoga kita senantiasa istiqomah menerbarkan kebaikan sekecil apapun

    BalasHapus
  30. cannot agree more...I hope semua kebaikan yang kita lakukan akan membawa manfaat bagi banyak orang dan juga kita semua yaa mba.. semangaat berbagi

    BalasHapus
  31. Kebaikan-kebaikan kecil ataupun besar dalam perjalanan biasanya mencerminkan diri kita sendiri menurut saya Mbak. Jika kebaikan mengalir selama dalam perjalanan, bisa jadi Mbak juga seperti itu banyak kebaikannya kepada sesama.

    BalasHapus
  32. Mbak, kamu hebat sekali, selalu tularkan energi positif dmnpun kita brada y��

    BalasHapus
  33. Aku setuju mba, di saat kita menebar kebaikan, disana pasti akan ada balasannya untuk kita. Baik itu balasannya kontan ataupun di berikan di saat kita membutuhkannya

    BalasHapus
  34. Terkadang kejadian baik yang kita alami itu hasil kebaikan/sikap baik kita terhadap orang lain juga, mungkin semacam hukum tabur tuai :)

    BalasHapus
  35. Beruntung banget mba bisa umrah dan melihat sunset di tanah suci, bener banget jika kita menebar kebaikan itu akan datang sendiri

    BalasHapus
  36. Indahnya dunia jika setiap kita senantiasa menebar kebaikan.

    Terima kasih untuk tulisannya mbak, sangat inspiratif tentunya.

    BalasHapus