Me Time Seru Meski Pandemi Belum Berlalu

Mei 15, 2020




Aku sempat kesal dengan pandemi ketika masa-masa awal karantina mandiri diberlakukan. Sebetulnya, sampai sekarang pun sebetulnya ya masih kesal, hanya saja sudah lebih terkontrol dan menerima keadaan. Karena kebetulan sebulan sebelum kasus 01 covid-19 muncul di Indonesia, aku mulai mendapat pola yang pas antara mengurus anak dan bekerja di luar. Aku mulai memiliki jam kerja yang lebih teratur dibanding sebelumnya, aku juga jadi bisa mengurus bisnis Bouncy Castle yang sedang aku rintis. Kebetulan juga, kami sedang melakukan penetrasi produk dan mulai dikenal pelanggan. 

Semua mendadak buyar karena virus covid19. Tidak hanya itu, Ibu saya pun libur sekolah dan akhirnya sudah nyaris 2 bulan ini ibu menemani ayah yang kerja di luar kota. Jadi bala bantuan pun berkurang. Sekolah anakku pun diliburkan dan dia mulai Scholl From Home atau SFH yang menuntut peran orang tua yang cukup besar.

Lalu kapan aku kerjanya? Kapan aku me time-nya? Hanya rumput yang tik-tok-an yang bisa menjawab!


Me Time di Rumah: Ngulik Resep Bareng Chef Putri dan Kak Gita


Jenuh dan stres juga loh dengan jadwal di rumah yang semakin padat. Apalagi sekarang mau keluar juga susah, nggak bisa sebebas dulu, kan. Jadi aku juga kudu pinter-pinter atur waktu serta emosi agar nggak stres di rumah. 

Untuk kerja dan me time, kadang aku harus berkoordinasi dengan suami yang juga WFH. Kalau dulu sebelum pandemi, aku suka me time yang bener-bener sendiri, sekarang saat pandemi, me time ku adalah ikutan kelas online, zoom meeting, telponan berjam-jam ama sahabat, dan kumpul-kumpul online lainnya. Lama gak berinteraksi secara fisik bikin kangen juga ya ternyata!

Teknisnya simpel aja, kami berbagi peran. Ketika aku butuh mengerjakan beberapa project, suami bantu pegang anak-anak. Sempat juga aku mengikuti beberapa kelas yang menarik selama karantina ini, alhamdulillah semuanya terlaksana karena suami dan Mbak Rewang yang turut membantu.

Selain kelas online, akupun jadi ngikutin program live di Instagram yang menarik, yang sekiranya bisa membantu aku naikin atau menambah kemampuan baru. Misalnya, obrolan ringan tentang kepenulisan, mendidik anak, hingga masak-masak. Selama karantina ini aku jadi lebih rutin masak, kulkas juga selalu penuh. Sialnya, suami kadang request agar menunya ganti, nggak itu-itu saja. HAHA ini berarti kan eyke kudu riset dulu ya, Bok!

Syukurlah hari Rabu tanggal 29 April kemarin aku melihat Chef Putri Miranti ada jadwal live untuk bikin resep KOLAK (Kreasi Olah Takjil) bersama FWD Indonesia. Aku langsung penasaran dong karena biasanya Chef Putri ngasih resep yang simpel, sehat, sekaligus lezat!

Apalagiiii… ada Kak Gita Bebhita juga yang udah pasti bikin live jadi petjah. Singkatnya, Chef Putri tuh lagi bikin demo masak resep Cendol Chia. Chef menjelaskan pula kalau chia seed ini salah satu superfood yang bagus buat tubuh. Tau, Kak Gita bilang apa?

“Oiya, Chef, aku paham banget, tu, kan aku kemarin juga abis makan chia… pakai NASI GORENG!”

YAKALIIIIII…



Dua orang ini vibesnya asyik banget, deh. Apalagi Chef Putri, bisa seger terus gitu wajah dan senyumnya ya. Jadi akupun di rumah yang lagi live sambil dasteran dan nyiapin menu untuk buka puasa, ikutan fresh. Chef Putri membuat Cendol Chia dengan cara yang menarik, nggak beli cendol jadi, sekaligus nggak pakai ribet bikin cendolnya. Tinggal pilih pakai tepung beras atau sagu. Kemudian, aku awalnya mengira membuat cendol ini pakai pewarna pandan biasa, ternyata enggak! Kata Chef Putri sebaiknya pakai pasta pandan.

Untuk pemanisnya, Chef Putri juga menyarankan untuk menggunakan sesuai selera. Kalau aku lebih suka pakai gula merah seperti cendol pada umumnya ya. Kalau Chef Putri kemarin pakai sirup. 

Lagi-lagi, Kak Gita bikin ulah. Dia bilang dia juga udah ngikutin resepnya Chef Putri daaaan udah bisa ditebak, dia ngeluarin cendol yang plastikan itu doongg!! Haha, pokoknya cendol ya, Kak!

Btw, kalau kamu kepengen coba resep Cendol Chia-nya Chef Putri, bisa simpan resep ini yaa. Kalau aku rencananya nih besok mau bikin es dawet atau cendol tradisional untuk berbuka. Pakai metode yang simpel kayak yang diajari Chef Putri tapi gak pakai chia karena pas lagi gak punya hehe.




Ngobrolin Resep dan Kebaikan untuk Sesama


Keseruan kami nggak berhenti sampai disitu. Beberapa hari setelahnya, tepatnya hari Jum’at tanggal 1 Mei 2020, aku dan beberapa blogger lainnya diajak ikutan buka bareng digital bareng FWD, Kak Gita Bebhita, dan Chef Putri. Bedanya, kali ini cuma ngobrol asyik plus ditraktir bukber sama FWD! Lumayaan akhirnya aku beli Chatime setelah dua bulan menahan nafsu! Haha.

Chef Putri dengan tabah menjawab pertanyaan-pertanyaan kami akan dunia perdapuran. Misalnya saja, ada yang nanya resep gyoza, bedanya pasta pandan dan pewarna pandan, tanya bedanya brown sugar dan palm sugar, serta tanya beda fungsi tepung dengan protein rendah, sedang, dan tinggi.

Jujur aja nih, aku baru tau kalau tepung protein rendah tuh bagus buat bikin cookies karena bikin lebih kriuk. Aku taunya cuma ngikutin gambar dan tulisan di merk tepungnya, kan biasanya ada penjelasannya di depan "cocok untuk kue kering" "cocok untuk aneka masakan" gitu kaan. Gak terlalu paham bedanya hingga dijelaskan oleh Chef Putri. Oh ya, aku juga baru tau kalau ada benda bernama pasta pandan. Kukira pewarna pandan aja cukup hehe. Kemarin minggu pagi, aku waktu ke pasar langsung beli tepung rendah protein dan pasta pandan, karena mau bikin cookies dan bikin cendol atau dawet ala Chef Putri.

Obrolan kami ngalor ngidul, gak melulu soal kudapan. Dalam bukber digital kemarin, hadir juga Ibu Maika Randini (Chief Marketing Officer FWD Life) yang ngingetin kita untuk terus berbuat baik. Koneksiku kemarin sempat buruk, tetapi, cukup jelas untuk mendengar beliau bercuap-cuap tentang SOS Children's Village. Ibu Maika menjelaskan anak-anak ini banyak yang terdampak Covid-19. Efek yang terasa bukan hanya kesehatan, tetapi banyak keluarga yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka. 

Obrolan kami jadi lebih emosional ketika Bu Maika memaparkan bahwa rata-rata satu keluarga di SOS Children's Village butuh sekitar 1 juta rupiah untuk biaya hidup selama sebulan. I was like.. apaa..?! Aku jadi membandingkan dengan biaya makan untuk orang serumah (sekitar 9 orang) selama sebulan yang sekitar 1 - 1.5juta. Kurasa itu sudah "cukup hemat" untuk makan sehari-hari, belum termasuk jajan, sih. Tapi, ternyata, masih banyak keluarga lain yang harus mencukup-cukupkan angka segitu untuk memenuhi seluruh kebutuhannya. Kadang kalau kami cukup beruntung bisa makan enak pada hari itu, aku jadi teringat orang-orang di luar sana yang mungkin untuk berbuka saja masih belum tahu akan makan apa.

Hal ini membuatku lebih banyak bersyukur sekaligus memberi kebaikan dengan berbagi. Karena koneksi internet pada saat bukber digital agak jelek, aku lanjutkan untuk mencari tahu tentang SOS Children's Village ini di Google. Rupanya, FWD sudah menjadi pendukung setia SOS Children's Village sejak tahun 2019, yakni pada acara Run to Care, sebuah acara lari amal tahunan yang mengundang para pelari Indonesia untuk mengikuti 150KM Ultra Marathon dan mengumpulkan dana untuk tujuan mulia. Dana yang terkumpul digunakan untuk meningkatkan kualitas kehidupan, pendidikan, dan kesehatan anak di bawah perlindungan SOS Children's Villages Indonesia. Disinilah FWD Indonesia mengambil peran untuk mendukung sebagai mitra resmi asuransi pada acara Run to Care tahun 2019.

Tidak berhenti sampai disitu, tahun ini, FWD Indonesia melanjutkan keterlibatannya untuk anak-anak ini melalui kampanye "Kolaborasi untuk Berbagi" di mana FWD Life ingin menjangkau dan memberikan bantuan kebutuhan dasar dan perlengkapan kebersihan yang mungkin tidak didapatkan oleh mereka yang kurang beruntung.



Kita bisa ikut ambil peran juga, loh, meskipun saat ini masih dibatasi oleh aturan physical distancing. Caranya cukup mudah, sebab kegiatan kampanye ini berupa penggalangan dana melalui tantangan olahraga virtual, di mana hasil kegiatan para peserta akan dikonversi menjadi donasi. Masyarakat dapat ikut serta dalam upaya penggalangan dana ini mulai dari 1 hingga 31 Mei, dengan mendaftarkan diri untuk mengikuti tantangan olahraga virtual. Untuk biaya pendaftarannya senilai Rp200.000 sudah termasuk jersey beserta biaya pengiriman dan sisanya akan didonasikan. Donasi yang terkumpul hasilnya akan diberikan kepada anak-anak dan keluarga terdampak yang berada di bawah naungan SOS Children's Villages. Baru aku ketahui bahwa di Indonesia, ada lebih dari 5.500 anak asuh dan dampingan SOS Children’s Villages. Sebagian berasal dari 2.400 keluarga rentan yang tersebar di 60 komunitas di 10 lokasi berbeda yang terkena dampak pandemi ini. Sepertinya bantuan kita sangat mereka nantikan.

Misalnya kamu tipikal yang mageran kayak aku, bisa langsung berdonasi melalui platform kitabisa.com untuk langsung memberikan donasi, tanpa perlu repot-repot olahraga virtual! Hehehe, tapi tetep olahraga dong yaa biar sehat!

Tak terasa adzan maghrib berkumandang, kami yang berada di Jawa Timur berbuka terlebih dahulu. Sekitar pukul 17.50 ketika Jakarta sudah adzan, Kak Gita dan Chef Putri mengakhiri obrolan, kami pun berpamitan dan ber-dadah-dadah ria. Aah.. menyenangkan sekali me time-ku selama beberapa hari terakhir ini. Dapat resep, dapat wawasan baru, dan bisa sekaligus berbuat baik pula untuk sesama!

Kalau Buibu sekalian, gimana me timenya selama karantina ini? Cerita di kolom komentar, yuk!


You Might Also Like

23 komentar

  1. Keren banget ya ide berbaginya. Inspiratif :-)

    BalasHapus
  2. Sama... saya juga ga ngerti tepung yg gimana untuk apa.

    Seru ya, live dapet ilmu dan hiburan.

    BalasHapus
  3. DUlu ibuku kalau bikin cendol selalu gagal. Rupanya itu meninggalkan trauma mendalam pada diriku jadi aku nggak pernah coba2 bikin cendol, selalu beli. Apalagi pacar anakku ada usaha cendol juga jadi tinggal minta hahahaa... Tapi keren kok ini misinya.

    BalasHapus
  4. banyak juga ya keluarga yang mereka dampingi dalam program SOS-nya. Semoga donasi yang terkumpul bermanfaat

    BalasHapus
  5. SAlut banget sama kempennya Berkolaborasi untuk berbaginya, semoga terkumpul banyak dan berkah buat semuanya .
    Kegiatan me timeku ngeblog, suka anteng mager sambil bgadang hahaa.

    BalasHapus
  6. dalam kondisi seperti ini meski dirumah aja me time itu butuh biar tetep happy dan jauh dari rasa stress emang ya hihihi

    BalasHapus
  7. awal2 pandemi kemaren aku ikutan bikin kopi yg hits itu, dalgona. Trus ngulik pempek sama dimsum, wfh gak boleh jadi penghalang nih buat selalu kreatif dan mau coba hal baru

    BalasHapus
  8. Salut sama campaignnya, btw aku selama pandemi ini jadi ngulik banyak resep baru, yg dl biasa beli jadi bikin sendiri ahhahaa

    BalasHapus
  9. Kolaborasi untuk berbagi ini keren banget buatku programnya. Semoga bisa berjalan baik dan bisa membantu. Salut buat FWD Life. Duh seru banget ya bisa belajar resep via online gini.

    BalasHapus
  10. Acara ini seru banget ya mbak, saya sampai buat Cendol Chianya 2x. Btw semoga kita bisa jadi donatur untuk anak-anak yang membutuhkan ya mbak.

    BalasHapus
  11. Huwaaa... cendol ini favorit saya banget deh :)
    Dan di masa pandemi ini saya rindu ke mall buat beli cendol :D

    Mau bikin kok ya rempong, alias bilang aja kalau malas bikinnya hahaha

    BalasHapus
  12. kalau ada chef oke dan host yang lucuuu pasti hebooh ya mba..asyik nih programnya. Aku belum cek FWD, kayaknya menarik jugaa nih

    BalasHapus
  13. Paling seru kalo ngikut acara masak2 gitu. Biar di rumah nggak bosan dan tetap produktif ya kak.. Keren banget ya, FWD bekerja sama dengan SOS Children’s Villages. Jadi anak2 masih bisa terhibur di kala pandemi ini berkat bantuan2 yg diberikannya...

    BalasHapus
  14. Upaya FWD untuk membantu SOS Children's Village Indonesia bagus banget ya mbak..kita bisa berkolaborasi untuk berbagi meski di rumah saja...jujur aku juga bosan diawal-awal karantina mandiri...gak bisa kemana-mana..tapi saat ini mulai bisa menerima keadaan. Akupun juga berbagi peran...aku ibu rumah tangga sebisa mungkin memberikan yang terbaik untuk anggota keluarga..bahasa kerennya pengen belajar jadi ibu rumah tangga tulen hehehe.....

    BalasHapus
  15. Sejak WFH, aku gak pernah jajan di luar.
    Kangen juga beli cendol, huhuu...pasti enduuls yaa...bisa masak sendiri dan dinikmati bareng keluarga.

    BalasHapus
  16. Kalo ada gita dijamin seru deh masaknya. Dia kan bisa bawa suasana jadi lebih asik!

    BalasHapus
  17. Aku belum pernah bikin cendol, eh ini ada ide bikin cendol chia baru tau akau chia bisa dijadiin cendol. Me timenya paling nonton film aja

    BalasHapus
  18. Aku udah pernah liat nba Putri masak dan selalu suka kreasi masakannya yang enak dan mudah dbuat ya mba

    BalasHapus
  19. Jadi pengen bikin kolak chia, seru ya belajar masak online bareng fwd, programnya kua bagus semoga lancar

    BalasHapus
  20. Seru banget ya ngebayangin itu live ig nya Chef Putri didampingi host yang kocak hehehee...
    Boleh juga nih program dari FWD untuk menarik animo masyarakat agar turut serta berdonasi untuk mereka yang memang membutuhkan bantuan ya.

    BalasHapus
  21. Aku paling banyak sharing resep sih mba. Soale aku jadi lebih suka masak. Selama oandemik

    BalasHapus
  22. awal2 aku juga merasa sebel mbak, tp akhirnya menata hati dan menerima. Me timenya depan laptop kalo anak2 lagi tidur, hahaha. Btw, keren ya program FWD!

    BalasHapus
  23. kalau saya gak jauh beda sebelum dan setelah WFH, soalnya anak2 memang sekolah dari rumah, yang serunya karena suami yang WFH jadi anak2 banyak terurus sama doi hihi, jadi me time banyak kalau saya lagi seneng2nya di dapur ngolah resep hihihi,dan lagi belajar merajut nih..heheh

    BalasHapus