Rabu, 27 Desember 2017

,
kapal api, jelas lebih enak, rahasia sukses kapal api, cerita kapal api, pendiri kapal api, waktunya kapal api, kapal api didirikan tahun berapa, kapal api ekspor, kapal api go international, cerita kapal api
#WaktunyaKapalApi sebab #KapalApi #JelasLebihEnak
Keluargaku bukan penikmat kopi. Ayah bahkan kaget, cenderung hampir berteriak saat tahu aku ngopi sambil mengerjakan tugas kuliah, beberapa tahun lalu. Apa salahnya? Tanyaku. Ayah tidak memberi alasan. Belakangan aku sadar bahwa di keluargaku memang tidak ada kebiasaan ngopi bareng maupun ngeteh bareng. Satu-satunya kegiatan yang bareng-bareng dan disukai ayahku adalah makan besar bareng.

Begitu aku berkeluarga, tahun depan akan memasuki tahun ketiga, keadaan berubah. Kalau dulu aku selalu membeli kopi untuk diberikan kepada para satpam yang kebagian jaga malam, kali ini aku menyetok kopi untuk suamiku tercinta. Karenanya, aku punya alasan kuat mengapa kopi Kapal Api #JelasLebihEnak versi aku, seorang ibu sekaligus istri yang baik buat keluarga kecilku hehehe. 

Selain itu aku punya alasan lain.

Sst... Akan aku ceritakan juga dibawah ini tentang 13 Fakta Unik dibalik kesuksesan kopi Kapal Api. Yakin, kamu pun akan jatuh hati.
Mamas sebetulnya tidak memiliki rutinitas minum kopi di pagi atau sore hari. Tapi aku tetap sedia kopi, terutama kopi Kapal Api yang ia minta. Sebab, aku tau, meski ia tidak meminumnya secara rutin, bisa ku pastikan akan ada waktu dimana ia akan minum kopi setiap hari. Atau paling tidak seminggu sekali. Mungkin dua minggu sekali. Bisa jadi nanti minumnya satu bulan sekali.

Semua itu tergantung dari jadwal ia belajar untuk materi kuliah dan menyelesaikan pekerjaannya di rumah.

Sekali lagi, bisa ku pastikan dalam kurun waktu itu, Mamas akan memintaku. Kadang-kadang sambil mencium keningku, tidak jarang pula sambil sedikit berteriak sebab ia berada di ruang tamu sedangkan aku di kamar.

“Be, kopi be, Kapal Api yang biasanya ya,” biasanya kalimat ini akan berlanjut.
“Pakai gula jangan lupa, sedikit saja,” pintanya.

kapal api, jelas lebih enak, rahasia sukses kapal api, cerita kapal api, pendiri kapal api, waktunya kapal api, kapal api didirikan tahun berapa, kapal api ekspor, kapal api go international, cerita kapal api
Sruput!

kapal api, jelas lebih enak, rahasia sukses kapal api, cerita kapal api, pendiri kapal api, waktunya kapal api, kapal api didirikan tahun berapa, kapal api ekspor, kapal api go international, cerita kapal api
a glass of coffee for lyfe!

Biasanya setelah beberapa saat, Mamas akan memintaku menemaninya ngopi. Be, #WaktunyaKapalApi nih, begitu kira-kira kode darinya. Akupun tidak pernah keberatan. Disaat suami lelah dan rehat dari aktivitasnya, kami menyempatkan sejenak untuk ngobrol ringan di ruang tamu. Favoritku adalah KapalApi Kopi Susu. Sejujurnya aku bersyukur, sebab dengan begini kami jadi punya sesekali waktu bersama untuk ngopi bareng di ruang tamu. Kadang hanya dengan diiringi alunan air hujan yang deras, kadang dengan suara tawa dan jeritan anak semata wayang kami.

Bagiku, quality time yang sederhana ini sangat membahagiakan. Murah meriah, bikin rileks, dan me-recharge energi. Sesekali aku renungkan sambil bersyukur dalam hati. Detik berikutnya aku sadar bahwa Kapal Api ini lah perantara quality time ku dengan suami.

kapal api, jelas lebih enak, rahasia sukses kapal api, cerita kapal api, pendiri kapal api, waktunya kapal api, kapal api didirikan tahun berapa, kapal api ekspor, kapal api go international, cerita kapal api

kapal api, jelas lebih enak, rahasia sukses kapal api, cerita kapal api, pendiri kapal api, waktunya kapal api, kapal api didirikan tahun berapa, kapal api ekspor, kapal api go international, cerita kapal api


Aku sempat bertanya-tanya, mengapa Mamas lebih memilih kopi Kapal Api daripada kopi yang lainnya? Jika aku bertanya padanya, dia hanya mejawab, Kapal Api #JelasLebihEnak, Be! Atau kadang ia pun menjawab, coba sendiri dan bandingkan. Pertanyaan dan rasa penasaranku pun terhenti setelah aku mencoba salah satu varian dari Kapal Api ini. Aku bukan penikmat kopi hitam tanpa gula, aku perlu rasa yang lebih soft, tapi tetap authentic. Nah, Kapal Api Kopi Susu ini lah jawabannya.

kapal api, jelas lebih enak, rahasia sukses kapal api, cerita kapal api, pendiri kapal api, waktunya kapal api, kapal api didirikan tahun berapa, kapal api ekspor, kapal api go international, cerita kapal api

Melihat bungkus kopi kapal api ini, pikiranku melayang ke beberapa tahun lalu, saat aku masih kecil. Aku ingat betul almarhum mbah Sam juga suka minum kopi. Berbeda dengan kami, anak muda generasi jaman now yang suka kopi dengan gula maupun dengan susu, Mbah Sam suka kopi hitam yang diseduh dengan air panas. Cukup itu. Seingatku, aku selalu melihat bungkus Kapal Api lengkap dengan warna merah dan hitam yang sangat khas. Jika sebelumnya aku berpikiran bahwa Kapal Api ini kopi untuk orang tua, aku tau aku salah. Salah besar. Buktinya, kini aku menikmati kelezatan kopi lintas generasi ini.

Jemariku tergerak untuk mencari tau lebih lanjut tentang si Kapal Api, tentang perantara quality time ku dengan suami di pagi hari ini.
Melalui sebuah situs berita online sebuah surat kabar yang populer di Surabaya, aku jadi tahu kalau Kapal Api ini sudah diproduksi sejak tahun 1927, diproduksi PT Santos Jaya Abadi di Kecamatan taman Sidoarjo. Aku terbelalak, rupanya kopi nikmat ini diproduksi di dekat rumah. Sebagai seorang yang sedang belajar berbisnis, aku tertarik lebih lanjut untuk mencari tahu rahasia dibalik kesuksesan kopi Kapal Api yang legendaris ini.

Semakin aku berselancar, semakin aku paham mengapa kopi Kapal Api ini sangat dekat dengan masyarakat. Setiap aku berada di terminal, stasiun, atau sekedar berhenti mampir angkringan di Jogja atau warkop di Jawa Timur untuk membeli gorengan, selalu aku lihat kopi Kapal Api disana. Ketika aku datang ke seminar baik di kampus maupun di hotel berbintang, aku juga melihat bungkus kopi Kapal Api disana.

Rupanya, Kapal Api sudah sangat berkembang hingga menguasai sekitar 50 % pasar di Indonesia. Kapal Api juga  sudah ekspor ke berbagai negara mulai dari negara tetangga seperti Malaysia hingga Hongkong, Taiwan, Jepang, dan Arab Saudi.

Nah, lebih lanjut, aku menemukan sedikitnya 13 Fakta Unik tentang Kopi Kapal Api yang #JelasLebihEnak ini:
1. Diproduksi sejak tahun 1927
2. Didirikan oleh Go Soe Loet. Beliau memulai bisnisnya di Jalan Panggung, daerah Kenjeran Surabaya.
3. Ide logo Kapal Api yang memiliki branding kuat ini rupanya muncul dari seringnya ia menjual kopi di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Hm.. inspirasi bisa datang dari mana saja ya!
4. Awalnya, dipasarkan dengan cara bersepeda, dari satu toko ke toko yang lain.
5. Kapal Api merupakan pabrik kopi pertama di Indonesia yang menggunakan drum roaster buatan Eropa. Bisa dibayangkan ya omzetnya pada saat itu.
6. Kapal Api juga merupakan perusahaan kopi pertama yang beriklan di televisi, pada saat itu TVRI. Nggak heran ya Kapal Api bisa begitu melekat di hati rakyat Indonesia.
7. Mengusung nilai customer focus, work excellence, integrity, team work, dan continous learning. Prinsipnya bagus banget nih, bisa jadi inspirasi dan contoh untuk para pebisnis muda di Indonesia.
8. Berhasil menjadi salah satu coffee roaster terbesar di Asia. I mean, WOW!
9. Kapal Api sudah melakukan ekspor ke lebih dari 20 Negara! Once again, WOW!
10. Memiliki karyawan pabrik yang mencapai 10 ribu orang. Alhamdulillah, bener-bener solusi banget ya, bisa menciptakan lapangan kerja sebanyak itu.
11. Kapal Api mengaku lebih suka berinvestasi pada kualitas produk. Pantas saja pelanggan Kapal Api pada loyal!
12. Memiliki lahan di beberapa daerah, salah satunya di Tanah Toraja Sulawesi Selatan seluas 1000 hektare.
13. Nah yang terakhir ini jelas: disukai berbagai kalangan. Dari yang muda sampai yang tua, dari yang suka ngopi di pinggir jalan sampai di mall ibukota.

kapal api, jelas lebih enak, rahasia sukses kapal api, cerita kapal api, pendiri kapal api, waktunya kapal api, kapal api didirikan tahun berapa, kapal api ekspor, kapal api go international, cerita kapal api

Jujur saja aku nggak nyangka lho, kalau Kapal Api memiliki cerita sukses yang unik. Sebagai seorang Indonesia, aku bangga banget mengerti hal ini. Plus, jadi semangat baru buat aku dalam belajar bisnis. Dengan mengerti cerita bisnis Kapal Api, aku jadi paham kenapa Kapal Api memiliki branding yang kuat sehingga kalau kita sebutkan kopi, otomatis akan teringat dengan Kapal Api. Belum lagi tagline nya yang sangat populis: #JelasLebihEnak.

Akupun tidak ragu untuk menyelipkan permen Kapal Api white coffee untuk suamiku saat ia akan berangkat kerja. Biar dia bisa punya #WaktunyaKapalApi kapanpun dia mau dan yang paling penting, Mamas bisa ingat terus sama aku di rumah yang siap menyeduhkan kopi kapanpun ia minta.

kapal api, jelas lebih enak, rahasia sukses kapal api, cerita kapal api, pendiri kapal api, waktunya kapal api, kapal api didirikan tahun berapa, kapal api ekspor, kapal api go international, cerita kapal api

Sekarang tau kan, kenapa Kapal Api #JelasLebihEnak menurut versiku?

Selain bikin suami makin cinta, kami berdua pun punya quality time penuh kesegaran dan kehangatan, ada kisah dibalik Kapal Api yang sangat menginspirasi. Buatku, Kapal Api lebih dari sekedar enak. Kapal Api itu ngangenin.

kapal api, jelas lebih enak, rahasia sukses kapal api, cerita kapal api, pendiri kapal api, waktunya kapal api, kapal api didirikan tahun berapa, kapal api ekspor, kapal api go international, cerita kapal api


#KapalApi

#JelasLebihEnak
#KapalApiPunyaCerita
#WaktunyaKapalApi

---
Catatan:
Tulisan ini diikutkan dalam lomba "Ceritakan mengapa kopi Kapal Api jelas lebih enak menurut versi kamu"

Sumber infografis:
https://swa.co.id/swa/trends/investasi-kapal-api-pada-kualitas-produknya
http://surabaya.tribunnews.com/2012/05/26/kapal-api-susah-penetrasi-pasar-eropa
https://www.jawapos.com/read/2016/07/21/40470/pertahankan-kapal-api-sejak-89-tahun-silam
,
dokter dini surabaya, dokter anak di surabaya, review dokter anak di surabaya, dokter anak pro asi di surabaya, review dokter dini surabaya, dokter anak terbaik di surabaya, dokter dini adityarini, review dsa di surabaya, review dsa pro asi di surabaya, dokter dini sidoarjo, dokter anak di sidoarjo, review dokter anak di sidoarjo, dokter anak pro asi di sidoarjo, review dokter dini sidoarjo, dokter anak terbaik di sidoarjo, dokter dini adityarini, review dsa di sidoarjo, review dsa pro asi di sidoarjo.


Kenalin, aku Nabilla si anak google. Apa-apa googling. Cari penjahit googling, cari admin buat La Desya googling, cari obat mencret googling, cari bakso enak googling, dan cari dokter anakpun googling. Alhamdulillah, sejauh ini google gak mengecewakan. Thanks bruh!

Pertemuan pertamaku dengan Dokter Dini berada di halaman google. Saat kehamilanku memasuki usia 8 bulan, aku mulai seraching dokter anak di surabaya. Masuk ke beberapa forum emak-emak, aku mengantongi beberapa nama. Entah gimana ceritanya aku ngga ingat persis, aku nyasar ke sebuah notes facebook seseorang yang mengulas dokter dini dan sebuah seminar tentang anak yang mana disana beliau jadi pembicara. Baca baca dikit, aku mbatin: kayaknya ini dokter gue banget nih. Di akhir tulisan, aku baca bahwa dokter Dini praktik di RSIA Kendangsari. Cucok! Sebab aku memang rencana lahiran disana dan dokter kandunganku pun juga praktik disana.

Sebelumnya , aku berpikir bahwa dokter anak hanya akan dibutuhkan nanti saat imunisasi atau sakit atau untuk konsultasi menyusui. Ternyata aku salah. Begitu si baby lahir, tanggung jawab dokter anak ikut lahir. Disanalah dokter anak mulai menangani bayi, makanya kalau operasi, dokter anak selalu ikut masuk.

Setelah dapet info di google itu, jujur saja aku nggak cari tau lebih lanjut tentang dokter Dini di RSIA Kendangsari. Aku hanya buka-buka websitenya disini dan mengingat namanya. Pas suster tanya sama aku waktu mau operasi, spontan saja aku sebutkan nama beliau.

"Saya sama dokter Dini, yang berjilbab itu," ujarku sambil teler abis induksi. Cerita lengkapnya bisa klik link ini.

Alhamdulillah wa syukurilah. Kami berjodoh. Anakku berjodoh dengan dokter dini.

Allah mempertemukan kami di dunia nyata, kebetulan sekali saat itu dokter Dini memang ada jadwal di RS, secara aku operasi nya spontan. Jadi mana sempat janjian dulu. Saat dokter Dini masuk ke ruang operasi, aku tau persis itu beliau. Gayanya khas. Dokter Dini selalu menggunakan hijab turban, berkacamata, dan makin lengkap dengan aksesoris seperti kalung dengan nuansa bohemian. Tampilan beliau selalu unik dan khas. Senyum manis beliau selalu merekah.

Aku dan suami nggak berhenti bersyukur dijodohkan dengan dokter Dini. Sebab, pasca melahirkan, dokter Dini ini bagaikan mood booster.

Beliau itu seperti dokter Tiwi-nya wong Suroboyo. Dibawah akan aku ceritakan beberapa momen yang melekat diingatanku tentang Dokter Dini. Sekaligus alasan mengapa aku jatuh hati pada dokternya para cinta mungil ini.

Yah bisa dibilang ini pengalaman pribadiku dan sekarang aku tuangkan dalam sebuah review tentang Dokter Dini, dokter anak terbaik di Surabaya versi endepe :))

dokter dini surabaya, dokter anak di surabaya, review dokter anak di surabaya, dokter anak pro asi di surabaya, review dokter dini surabaya, dokter anak terbaik di surabaya, dokter dini adityarini, review dsa di surabaya, review dsa pro asi di surabaya, dokter dini sidoarjo, dokter anak di sidoarjo, review dokter anak di sidoarjo, dokter anak pro asi di sidoarjo, review dokter dini sidoarjo, dokter anak terbaik di sidoarjo, dokter dini adityarini, review dsa di sidoarjo, review dsa pro asi di sidoarjo.
Dokter Dini, foto diambil dari akun instagram beliau

---

Ramah, sangat ramah.

Dokter Dini selalu menyambut si cinta mungil, sebutan beliau untuk anak-anak yang dirawatnya, dengan penuh senyum dan kehangatan setiap mereka memasuki ruangan. Kehangatan itu tercermin dari kalimat beliau selanjutnya,

“gimana kabarnya sayang? Sehat sehat ya..” sorot matanya yang hangat menatap lekat anakku, kemudian sesekali berpindah ke mataku.

Soal waktu periksa dan konsultasi, beliau kayak dokter Enny yang aku ceritakan disini. Pasiennya bebas berkonsultasi lama ataupun sebentar, yah sesuai kebutuhan lah. Beliau juga nggak pernah terkesan memburu-buru pasien, nyuekin, bahkan nggak jarang beliau memberikan pengetahuan baru. Seneng? Seneng banget lah. Efeknya apa? Ada pasien yang ngeluh karena dokter Dini antreannya jadi panjang dan lama. Yasudah berarti njenengan-njenengan yang ngeluh itu bukan jodohnya dokter Dini 😜 aku pribadi mesti ngakalin antrean dengan ambil nomor di pagi hari kemudian datang sesuai perkiraan jam masuk ruangan. Jadi nggak terlalu lama menunggu.

Wanita berkacamata ini benar benar wujud dari kriteria dokter anak yang aku cari selama ini: pro ASI (pro banget notok jedok), ramah sama anak, komunikatif (bisa konsultasi via WA), RUM (rational use of medicine), peduli dengan tumbuh kembang anak, supportif, dan beraura positif.

Saking kuatnya pancaran energi positif beliau, aku selalu bahagia kalau waktunya genduk vaksin ataupun periksa lainnya (meskipun genduk sakit, aku selalu happy kalau ke RSIA Kendangsari dan ketemu dokter Dini!). Sebab aura dan energi positif beliau bisa jadi charger alami. Apalagi kalau suasana rumah sangat tidak mendukung.

Pernah muka beliau terlihat tegang dan serius saat tau BB gendhuk hanya naik 700 gram setelah 3 minggu. Beliau diam sejenak lalu bersandar dikursinya sambil melipat kedua tangan. Sejurus kemudian beliau bertanya:

“kamu setres ya mba? Banyak pikiran?”

Aku yang ditodong pertanyaan macam itu jadi kaget. Dalam hati aku bertanya, apa iya aku stres? Lamunanku buyar saat ibuku, yang pada saat itu nemenin aku konsultasi, buru-buru menjawab.

“ini lho dok, karena dia sambil mengerjakan tesisnya juga,”

Dokter Dini hanya ber ooh ria. Aku juga mantuk-mantuk aja. Sejurus kemudian beliau saranin agar aku lebih rileks. Beliau juga dengan sigap segera memperbaiki posisi menyusuiku yang kurang tepat . Rupanya selain stres, posisi menyusuiku kurang pas sehingga ASI nggak masuk optimal. (dahlah cuman makmak yang tau gimana perjuangan awal nenenin).

Setelah pulang periksa, aku jadi bertanya-tanya sama diriku sendiri. Apakah aku stres?

Perlu waktu beberapa bulan buatku untuk nyadar bener bahwa gejolak dan emosi sseorang ibu itu berpengaruh buanget nget nget ke perkembangan bayi. Setelah ditanyain gitu ama dokter Dini , aku jadi sadar sebelumnya aku sempat nenenin gendhuk sambil nangis miris gegara ada persoalan di keluarga yang bikin makan ati. Nah bisa jadi itu salah satu penyebabnya. Belum lagi lingkungan yang tidak sepenuhnya mendukung. Aku jadi bisa memahami kenapa ada ibu-ibu yang kurang berhasil dalam menyusui. Yakin deh, itu bukan semata  karena faktor ASI yang sedikit. Allah udah sedemikian rupa memberi ASI yang cukup, yang dapat dioptimalkan dengan rangsangan mulut, air liur bayi, aneka temuan ASI booster oleh manusia, dan yang paling penting adalah kebahagiaan si ibu.

Akhirnya aku berjuang keras untuk mencoba berbagai posisi menyusui agar gendhuk bisa dapet ASI banyak. Aku juga mulai menghibur diri dengan nonton film, soalnya pas itu aku masih dikurung aja gitu di rumah. Dilarang keluar-keluar. Pamali, jare wong biyen.

Jerih payahku membuahkan hasil. BB gendhuk naik drastis dan dokter Dini memuji aku.

“wah, hebat sekali mom, bbnya naik banyak," wajah dokter Dini penuh ketulusan dan matanya terlihat berbinar.

Denger kalimat itu aku sampai terharu, hampir nangis. Soalnya aku jarang sekali mendapat apresiasi seperti itu. Suami jauh, jadi komunikasi kami pun terbatas, suami hanya bisa mendukung dan memantau perkembangan via WA dan telepon. Pun kondisi di rumah, dimana tamu-tamu berdatangan dengan terus menjejalkan tokoh jare wong biyen ke dalam pola pengasuhan dan pemberian ASI ku ke gendhuk.

Sepulang dari periksa, aku nyetok ASIP. Hasilnya? Aku dapat 2 botol penuh dengan waktu yang lebih singkat dari biasanya.

The power of positivity.

Baca juga: Mengapa Menyusui adalah yang Terbaik?

------
Konsisten, Pro ASI, dan RUM

dokter dini surabaya, dokter anak di surabaya, review dokter anak di surabaya, dokter anak pro asi di surabaya, review dokter dini surabaya, dokter anak terbaik di surabaya, dokter dini adityarini, review dsa di surabaya, review dsa pro asi di surabaya, dokter dini sidoarjo, dokter anak di sidoarjo, review dokter anak di sidoarjo, dokter anak pro asi di sidoarjo, review dokter dini sidoarjo, dokter anak terbaik di sidoarjo, dokter dini adityarini, review dsa di sidoarjo, review dsa pro asi di sidoarjo.
dat words!
Kira-kira saat gendhuk masuk usia 7 bulan, gendhuk mulai mengalami konstipasi. Semua dokter yang aku temui sepakat bahwa kemungkinan gendhuk tidak tawar dengan bubur instan yang dengan paksaan sana-sini aku berikan kepada dia. Waktu itu memang serba salah, aku sudah menolak pemberian burstan. Tapi aku sendiri sibuk dengan revisi tesis dan tidak sempat browsing optimal gimana caranya menyiapkan mpasi homemade saat traveling. Tibakne, di Jogja itu ada catering bayi. Nyesel beribu nyesel aku baru tau info ini di bulan April.

Konstipasi gendhuk terbilang parah. Sejak awal mpasi, pernah gendhuk BAB agak ngeden, terlihat bahwa dia berupaya lebih. Tapi dia tidak pernah nangis. Warna serta tekstur tinjanya pun tidak berubah.

Sementara pasca makan burstan, genduk gak BAB sekitar 10 hari, hampir 2 minggu. Begitu BAB, kaget banget aku lihat warnanya yang hijau kehitaman, bulat, dan keras. Genduk meraung-raung kesakitan. Gitu terus selama berbulan-bulan, bab 5-7 hari sekali dengan tekstur yang sangat padat bahkan cenderung keras, dan warna yang gelap.

Aku baca dan konsul, warna gelap itu pertanda kebanyakan zat besi. Dokter Bagas yang juga praktik di RSIA Kendangsari mengatakan kepadaku, mungkin saja burstan nya mengandung susu formula dan produk tersebut nggak cocok di perut si gendhuk. Nyesel beribu nyesel. Langsung aku buang semua stok bubur instan di rumah.

Baca juga: Pengalaman Mengatasi Sembelit Pada Bayi

Pola itu berlangsung sebulan, hingga puncaknya pada bulan Februari, muncul seperti bintil di bagian duburnya. Akibatnya, si gendhuk jadi nggak berani BAB. Dia selalu memilih untuk menahan BAB sebab kalau dia BAB, rasanya pasti sakit. Jadi dia takut. Tapi bagaimanapun, pada suatu titik tubuh pasti memberikan dorongan alami. Dan pada saat itulah, anakku si cerdas Mahira tidak lagi mampu menahan egonya. Ia pun merelakan pup dengan penuh rasa sakit. Mahira selalu menangis, menjerit, dan.. tau rasanya kayak gimana ngeliat anak kesakitan begitu? Seperti ada duri yang nusuk nusuk ulu hati. Aku berasumi bahwa bintil itu adalah ambeien. Kasian sekali Mahira. Dia jadi trauma BAB, dan ya Allah, masa iya sekecil ini sudah menderita ambeien?

Dokter Dini yang aku kabari soal kejadian ini, yang semula beliau superceria dan penuh senyum saat menyambut kami masuk ruangan, perlahan raut mukanya jadi serius dan prihatin sama Mahira. Beliau ngasih Mahira Lacto B dan salep untuk meredakan nyeri di bagian bintilnya itu.

“Kita nggak ada opsi lain mbak, ya harus sabar dengan proses ini yang mungkin akan berlangsung lama. Nggak mungkin juga to mau kita operasi?” ujar dokter Dini.

Aku sepakat banget. Tapi setelah diskusi sama suami dan ortu , kami sepakat untuk mencari dokter alternatif. Akupun mulai searching dokter anak spesialis pencernaan di Surabaya. Nemu lah salah seorang dokter ahli pencernaan anak di Surabaya. Saking selektifnya, aku sampai cari background pendidikan dan penelitian-penelitiannya. Rupanya beliau satu almamater dengan dokter Dini dan salah satu dokter anak senior di Surabaya. Walaupun praktiknya jauh dari rumah, tetep aku datengin. Dalam tulisan ini, saya sebut beliau Pak Dokter.

Ketemu Pak Dokter, aku lega sekaligus kecewa. Lega karena Pak Dokter bilang bahwa ini bukan ambeien, melainkan skin tag akibat konstipasi/sembelit dan banyak bayi yang ngalamin. Kata beliau, nanti benjolan itu akan kempes sendiri. Beliau juga memberi salep yang sama persis kayak yang diresepin sama dokter Dini. Plus, beliau ngasih probiotik (namanya Interlac) dengan size 5 ml seharga 200ribuan. Gilak to? Betapa uruaan konstipasi ini nguras kantong banget. Pak Dokter juga memberi gendhuk semacam obat puyer (dugaanku antibiotik) karena cukup ampuh di gendhuk.

Kecewanya adalah, pertama2 beliau tanya, Mahira minum susu MERK apa?

Jujur aja aku kaget ditanya begini. Sampai-sampai aku meresponnya dengan, “maaf dok, bagaimana?” pura-pura nggak denger. Mustahil lah, ruangan beliau sangat tenang, nyaman, dan dingin. Di dalam hanya ada aku, mbak Ifah, Mahira, dan Pak Dokter. Jarak kami pun kurang dari 30 cm. Jika aku nggak mendengar pertanyaan beliau, jelas telingaku bermasalah. Tapi tidak, telingaku sama sekali tidak bermasalah.

"Susunya merk apa?" Pak Dokter mengulang pertanyaannya sambil menulis beberapa berkas pasien.

"Susunya ya hanya ASI dok," ku jawab dengan lugas sambil menerka-nerka kemana arah pembicaraan ini.

Pak Dokter berhenti menulis dan menatapku sejenak. Beliau kemudian menggerakkan bolpennya lagi sambil berkata sesuatu yang jleb markojleb.

“Anakmu nggak gendut2 kalau cuma minum ASI. Harus di tambah sufor. Minum susu xxx (serius aku lupa nama merk yang direkomendasikan beliau) ya,” beliau pun menulis resep obat plus resep susu formula yang dimaksud.

Aku bingung sumpah. Bingung nanggepin. Lalu pelan-pelan aku membuka mulut sambil memilih kata, biar nggak terkesan menggurui. Emang sapa gue, cuma pasien.

“Dok maaf, bukannya kalau minum sufor itu belum tentu cocok untuk pencernaannya bayi? Dan takutnya malah sembelit dok?”
“Ini susunya nggak bikin sembelit,” jawab beliau singkat.

Oke diskusi selesai.

------

Selang beberapa hari, aku konsutasi lagi sama dokter Dini. Aku ceritakan pengalamanku berobat ke beliau. Dokter Dini merespon tentang obat dan vitamin yang dikasih. Kata dokter Dini, memang itu vitaminnya lebih ampuh, tetapi dokter Dini lebih memilih untuk memberi vitamin pencernaan berupa Lacto B yang biasanya.

Saat aku ceritakan soal sufor yang direkomendasikan sama Pak Dokter, dokter Dini cuma tersenyum, sambil ngguyu singkat “hehe..” dan beliau kembali bersandar. Nggak lama aku didongenin sebuah insight yang maha penting.

“Mungkin Pak Dokter tidak ada waktu untuk mengedukasi pasiennya mbak, nggak papa memang tiap dokter beda-beda,” beliau menghela nafas sebentar.

“Tapi gini lho, saya tu kapan hari sempat ke Italia mengikuti konferensi tentang ASI disana. Bayangkan ya, dokter-dokter disana itu sekarang ini sedang meneliti, mencari cara bagaimana agar ASI ini bisa difermentasi, jangka waktunya bisa dipanjangin, tanpa mengurangi kualitasnya,” sesekali matanya terbelalak, beliau juga mengguncangkan kedua telapak tangannya tanda serius.

“Bayangkan coba mbak, karena mereka itu tau bahwa ASI itu yang terbaik. Tidak ada yang bisa menggantikannya. Meskipun sufor semahal apapun. Tidak ada. Tapi disini, ya Allah.. betapa mudahnya ibu-ibu memberikan sufor dan yah, mungkin faktor lingkungan dan kurangnya edukasi ya mbak...,” ujar beliau.

Detik itu, aku yakin. Yaqin.

Bahwa beliau adalah salah satu dari sebagian kecil dokter di Indonesia yang berkomitmen tinggi agar cinta mungil di Indonesia bisa mendapatkan ASI.

Ya, sebagian kecil. Sebab, bukan rahasia lagi, banyak dokter diluar sana yang sangat permisif terhadap sufor (kadang tanpa dilihat dulu akar permasalahannya) dan bahkan ada juga yang jadi “tim marketing”nya perusahaan sufor.

Baca juga: Mewujudkan Bank ASI di Indonesia

Sekali lagi, memberikan ASI atau sufor untuk si cinta itu memang pilihan. Aku pun tidak dalam posisi menghakimi seorang ibu yang memilih memberikan susu formula untuk anaknya. Sama sekali tidak, sebab aku paham betul bagaimana dinamika yang berbeda pasti dialami oleh semua ibu diluar sana. Aku pun sesekali memberikan anakku susu sapi segar dan UHT setelah ia berusia 15 bulan.

Tapi aku yakin, ada satu hal yang pasti kita sepakati, mungkin ia bersembunyi di sudut hati nurani yang tedalam. Bahwasanya ASI adalah yang terbaik. ASI adalah anugerah, makanan dan minuman pertama pemberian Allah yang terbaik untuk si cinta.  

Dari dongeng Dokter Dini diatas, aku juga makin yakin bahwa sebuah pilihan bisa menjadi sesuatu yang beresiko besar saat si pengambil keputusan juga mengemban amanah yang besar.

Baca juga: Review Dokter Anak di Surabaya dan Sidoarjo

______
Terjangkau

Setauku Dokter Dini praktik di RSIA Kendangsari dan RSIA Kendangsari Merr. Kedua RSIA itu menurutku sangat baik untuk ibu hamil dan menyusui. Mereka sangat berkomitmen bagi bunda dan buah hati. Jadwal Dokter Dini bisa ditanya langsung aja ke RSIA. Kalau aku biasa datang di RSIA Kendangsari karena dekat rumah, terjangkau dari segi jarak.

Dan yang kedua, terjangkau juga dari segi biaya.

Biaya periksa dan konsultasi di RSIA Kendangsari dengan Dokter Dini (2018) sekitar 150 ribu ditambah biaya rawat jalan sekitar 15 ribu, jadi total 165 ribu. Itu diluar vaksin dan obat. Kalau vaksin, biasanya Dokter Dini nawarin mau yang panas atau yang dingin. Kalau yang dingin, biasanya harganya lebih mihil. Soal vaksin, aku juga lebih percaya ke Dokter Dini sebab pas bulan September lalu aku ikut vaksin gratis dari pemerintah nah yang nyuntik petugas dari Puskesmas setempat. Menurutku, nyuntiknya kurang hati-hati dan setelah vaksin anakku dikasih paracetamol dosis dewasa. Kata beliau, nanti dipotong jadi seperempat gitu. Waduh, aku ya nggak berani ngasih lah ya.

Menurutku, tarif tersebut terjangkau jika aku bandingkan dengan dua dokter di RS Lavalette, RSIA Mutiara Bunda dan RS Hermina Malang. Dengan tarif yang sama, pelayanan yang diberikan jauh lebih baik di RSIA Kendangsari. Juga dokternya, belum ada yang menggantikan Dokter Dini.

Hm.. kayaknya udah panjang nulisnya. Well, itu sedikit cerita dari aku tentang Dokter Dini dan sekelumit alasan mengapa aku jatuh hati dengan passion beliau.

Aku jadi teringat satu kalimat: apa yang berasal dari hati, pasti dapat menyentuh dihati.

Kamis, 14 Desember 2017

,
mitos setelah melahirkan, mitos tentang kehamilan, mitos pasca melahirkan, mitos tentang menyusui, mitos ibu hamil, mitus ibu menyusui, mitos kehamilan, mitos yang salah tentang melahirkan, mitos seputar melahirkan, mitos seputar kehamilan
Mitos seputar kehamilan dan melahirkan itu sangaat banyak dan aneh-aneh. Aku kadang heran juga, gimana bisa ya berbagai macam mitos itu bisa diketahui oleh banyak orang di berbagai daerah. Bagaimana penyebarannya? Secara sosial media jaman dulu belum ada. Aku memutuskan untuk berhenti mikir sampe disitu karena kalau tak teruskan bisa bisa jadi tesis. Tapi aku berasumsi bahwa ajaran nenek moyang yang turun temurun diajarkan melalui anak, obrolan dari mulut ke mulut, kisah-kisah, itu ampuh banget sebagai perantara. Bahkan sampe di zaman now yang serba digital ini, dimana sebetulnya kamu bisa banget lho dengan mudah kroscek kebenaran dari mitos, masuk akal gak, ilmiah apa gak. Tapi mostly orang-orang memilih untuk mengikuti apa kata “wong biyen”.

Hingga akhirnya kita semua mengenal tokoh fiktif yang selalu disebut-sebut dalam tiap nasihat seorang ibu ke anak perempuannya, nenek ke cucunya, guru ke muridnya. Orang itu bernama “wong biyen” dan kadang juga bernama “wong jowo”. Kalau di daerah lain (luar Jawa) mungkin mengenal tokoh dengan nama “kata orang dulu”. Mungkin lho ya, coba yang dari luar Jawa bisa sharing juga.

Aku pribadi dulunya cuek bebek sama mitos. Katakanlah mitos yang berbunyi: ojo mangan nang lawang, mengko jodohe adoh. Jangan makan dipintu, nanti jodohnya jauh. Well, aku pikir itu biar kita ga menghalangi orang yang lewat aja. Juga, betapa aku dulu selalu di bully sama bulek-bulek setiap lebaran gegara aku dulu ga bisa masak. Karena kata mereka, jare wong jowo, wong wedhok iku wajib iso masak gawe ngopeni bojo. Kzl banget lah hahaha jadi efeknya akupun males mau interaksi sama mereka lebih intim. Keyakinan ku kuat banget bahwa seorang lelaki itu harusnya cari pendamping hidup, bukan cari tukang masak. Jadi gapapalah masak ga perlu expert banget. Ya gak? Pada akhirnya di masa kuliah jaman jaman ngekos, aku belajar masak sendiri. Inisiatif, biar suami aku nanti gak mencret makan masakanku.

Nah selama hamil dan melahirkan, karena lelah, mood swing, perubahan hormon yang luar biasa, aku jadi super sensi dengan orang-orang yang terus aja berceloteh tentang petuah si “wong biyen” ini. Kadang aku sakit hati, kadang sampai nangis saking parahnya mereka kalau “nasehatin”. Duh bunda dan calon bunda, jangan sampe kalian begitu ya sama orang yang baru melahirkan. Sakitnya tuh disonoo..

Coba ya kita kulitin satu-satu apa aja mitosnya:

1. Orang hamil nggak boleh mandi lebih dari jam 4 sore, nanti lahirannya nggak lancar. Kalau sore hari kasur belum dikebasin, nanti lahirannya nggak lancar juga. Ini yang ngomong tukang pijetnya ibuku. Gegara waktu itu dia ngelihat aku keluar dari kamar mandi jam 17.15an. “ahh segerr…” kataku. Memang seger soalnya aku habis jalan sore wira wiri dan senam di dalem rumah (iya di rumah, soalnya minder mau jalan di luar rumah hiks). Aku waktu itu milih jalan sekitar jam 4 soalnya aku nunggu Bik Tin kelar beres-beres. Siapa itu Bik Tin? Nanti ku dongengin. Begitu denger “petuah” macam itu, aku jadi kesel. Kok tega amat sih ngomong kayak gitu. Ucapan itu bisa jadi doa kan? Padahal aku nggak tiap hari mandi jam segitu. Pas aku diskusi sama suami, dia berusaha berpositif thinking kalau mungkin saja hal itu bisa dijelaskan secara ilmiah. Misal , air di jam segitu mengandung apa dan gimana efeknya untuk tubuh. Okelah, aku terima.

2.  Hamil dan menyusui gak boleh makan pedas! Nanti bayinya ikut kepedesan dan merah. Jangan makan yang ikan, nanti bayinya keasinan. Makan yang putihan aja! Ini bohong besar ya saudara2, aku udah ngalamin sendiri. Selama hamil aku maem pedes terus, kalo gak pedes aku mual. Bayiku bersih dan putih alhamdulillah 😜 selama menyusui juga aku makan yang pedas2, asin, asem, pokoknya makan kesukaanku. Ketimbang dengerin petuah macan ini, aku lebih ngikutin kata suster di RSIA Kendangsari, "bunda wajib happy, makan yang enak-enak dan bergizi." Wokey, siap Sus!

3. Abis lahiran nggak boleh tidur pagi, nanti darah bening naik ke mata. Pertanyaan: apa yang dimaksud dengan darah bening? Getah bening kali, Buk! Dan kenapa harus ke mata? Kenapa ga ke bibir, dahi, hidung? Sekali lagi, aku lebih menganut apa kata suster, "awal menyusui itu capek banget. Kalau adik tidur, bundanya ikut istirahat atau tidur ya." Siap, Sus!

4. Baju bayi yang udah dicuci nggak boleh diperas dengan cara dililit, nanti bayinya suka molet (meregangkan badan). Responku: lha baju anakku tak cuci pakai mesin cuci eh. Nanti bisa-bisa migren banget dong, bajunya kan muter-muter???
mitos setelah melahirkan, mitos tentang kehamilan, mitos pasca melahirkan, mitos tentang menyusui, mitos ibu hamil, mitus ibu menyusui, mitos kehamilan, mitos yang salah tentang melahirkan, mitos seputar melahirkan, mitos seputar kehamilan
Source: Pinterest

5. Eh, kok lidah anakmu putih gini? Kamu makan yang panas-panas ya?! Responku: Hah? Dalam hati, wadefak! Apa hubungannya? Ini kalimat yang dilontarkan oleh temen ibuku saat jenguk si gendhuk. Spontan aku jawab, “itu kan karena dia minum ASI, te!”

7. Lho kok bayi nya nggak dipakein grito? (baca: gurita bayi). Pada tau kan gurita bayi? Itu lho kain yang ada banyak talinya, terus dipakein dengan cara diikat di perut bayi. Ibuku sudah ngasih banyak banget gritoan ini tapi aku memutuskan untuk nggak pakai atas saran suster di RSIA Kendangsari. Setelah aku baca, memang grito ini nggak bagus buat bayi. Alasan pake grito apa coba? Biar perutnya si bayi nggak genjur-genjur. Aih, kalau ini mah buat emaknya aje!

8. Bayinya kok nggak dibedong? Jare wong biyen, bayi tuh harus dibedong krekep (erat). Bedong cuma dibuka kalau dia ngompol. Responku: yak once again, emang aku bukan pengikut fanatik wong biyen sih. Suster dan dokter nya Mahira ngasih wejangan kalau bayi nggak perlu dibedong terlalu erat karena akan membatasi geraknya, dan lain-lain. Bayi kalau ngerasa ga nyaman, dia akan merespon dengan gerakan tangan. Sehingga bedong cukup di area dada sampai kaki. Itupun nggak boleh terlalu ketat. Aku bersyukur sih, karena menurutku kebijakan (halah, kebijakan..) ini bisa menstimulasi otot bayi.

9. Itu kelaminnya bayi harus dibedakin! Duh jangan ya bundah plis! Bahaya lho, butiran bedak itu lama-lama berpotensi menutupi saluran kencing.

10. Ih, masih usia newborn kok sudah dipakein diapers. Harusnya popok kain aja, ini ibunya malas nih! Grr.. bete banget aku pas denger kalimat ini. Ibunya malas? Dia nggak tau aja pagi siang sore malam aku selalu mencari celah untuk ngerjain tesis (pas itu aku belum sempro). Belum lagi aku urusin bisnis online aku juga. Gitu dibilang malas?! Anyway, mau pakai diapers atau popok kain atau clodi, itu pilihan ya bunda. Aku pilih diapers karena ringkes (yaa maapin aku ya buat pegiat lingkungan hidup atas pilihanku ini, tapi yakinlah aku tipe orang yang suka re-use dan buang sampah pada tempatnya kok!). Tapi memang realitanya begitu, selain melelahkan, aku lebih memilih menginvestasikan waktuku untuk hal produktif lainnya. Alhamdulillah si gendhuk hampir nggak pernah ada ruam kulit. Bisa dihitung jari ada ruam, nggak sampai 5x. Apa rahasianya? Diaper cream dong! Fyi, diaper cream yang aku pakai dari jaman newborn sampai sekarang gendhuk usia 18 bulan, belum habis lho. Hemat nget.

11. Lho, anaknya nggak dikasih pisang? Kasian lho perutnya bunyi, dia kelaparan! OMG! Masa aku harus datengin dosen untuk ngasih kuliah sih, kalau pencernaan bayi sebelum 6 bulan apalagi newborn itu belum sempurna dan mampu untuk mencerna makanan padat?

12. Ibunya kok tidur siang sih? Kenapa kacang? Why nut?

13. Oh, bayinya masih melekan malam ya? Jare wong biyen nanti kalau sudah selapan, bayi ga akan melekan lagi kok. Oh ye? Faktanya, Mahira masih suka melekan sampe usia 2,5 bulanan.

14. Kalau bayi sakit mata, jare wong biyen obatnya cukup ditetesin ASI aja? Hah?! Aku bakal tajir melintir dong! Dahlah perusahaan obat mata kukut aja, aku bersedia jual ASI yang pasti ampuhnya!

15. Ari-arinya bayi harus dikasih kaca, pensil, buku, supaya nanti anaknya cantik dan pinter. Ya Allah Yaa Rabbi.. gimana ya, mereka tuh menganggap yang namanya ari-ari atau plasenta itu kembarannya bayi. Terus harus dipendem / dikubur didalam kendi, dibumbui (iya, dikasih bumbu rempah-rempah gitu!), dan dikasih printilan macam diatas tadi. Berlebihan gak sih? Apalagi mereka menyuruh dan memaksa serta mengintimidasi suamiku untuk mengadzani si "kembaran bayi" itu. Suamiku sampai sedih sekali waktu cerita ke aku, akupun nggak ada daya karena pada saat itu aku masih terbaring lemah di kasur rumah sakit. Tekanan ini datang dari kedua keluarga kami lho, baik dari pihak ortuku, mertua, dan pihak ketiga (lingkungan, satpam, rewang, beuh..).

16. Bayinya harus diputar ke kanan, kiri, atas, samping, depan, biar nggak peyang! Aku nggak nurutin yang satu ini. Ini pilihan ya bundaa, ada yang mau nurutin monggo. Aku juga nggak ngasih anakku bantal, berhubung dia pun gak doyan pakai bantal. Nah, yang bikin bete, ada seorang teman ibuku yang datang menjenguk sambil "menilai" kepala anakku dengan dilihat kanan, kiri, atas, depan, belakang. Jadi diputer-puter gitu anakku. What the?! Lalu dia bilang, "kepalanya sudah bagus,". OMG! Ini sudah kayak tim penilai akreditasi kampus aja!

Dan sederet mitos kocak lainnya. Gimana cara ngeresponnya? Diketawain aja.

Meskipun kadang tuh, agak makan hati soalnya mereka yang menasihati aku ini cenderung menekan, mengintimidasi. Sebab aku adalah seorang ibu muda yang sangat minim pengalaman, dan harus manut dengan para senior. Nggak jarang mereka sampai meninggikan suara. Bersyukur banget sih masa-masa itu telah terlewati. Kadang aku cuma ketawa miris aja dan cerita sama suami.

Pernah ngalamin juga nggak, Bund?

Follow me @nabilladp