Senin, 27 November 2017

,


Dua strip merah, adalah simbol yang paling dinanti oleh mereka yang sudah menikah. Setuju kan?

Nah begitu ketauan hamil, kadang kita bingung sekaligus parno, apa yang harus aku lakukan? Apa aja pantangan? Harus ke dokter mana? Aku dan suami termasuk yang parnoan, hehehe maklum karena pengalaman pertama euy.

Setelah mengalami sendiri gimana rasanya hamil, berdasarkan pengalamanku, berikut ini 11 hal yang wajib dilakuin kalau sudah fix positif hamil. Semoga bermanfaat yaa:

1. Riset kecil mengenai dokter SpOG atau bidan terbaik. Aku pribadi punya kualifikasi dalam menentukan dokter SpOG yaitu komunikatif, pinter, RUM, pro normal dan pro ASI. Untuk ketemu dokter yang diinginkan, kita perlu silaturahim dulu, minimal sama google. Jangan lupa sesuaikan pula dengan budget rumah tangga ya.

2. Tidak perlu buru-buru minum susu hamil. Coba searching deh, gizi pada susu hamil itu sebetulnya bisa disupply dari buah dan sayur. Tingkatin makan buah dan sayurnya, hindari buah-buahan seperti nanas, durian, anggur, dan nangka di awal kehamilan. Dokter SpOG ku di Jogja tidak menyarankan aku minum susu hamil (padahal sebelum hamil aku udah rutin minum susu lho) sebab aku punya riwayat asma, dan susu hamil bisa memicu penyakit itu untuk menurun ke anak.

3. Nggak perlu heboh beli vitamin ini itu, di awal kehamilan biasanya dokter hanya memberi vitamin C (di awal kehamilan dulu aku minum ester C) dan asam folat. Seiring dengan bertambahnya usia kehamilan, dokter bakal ngasih kalsium dan semacam nutrisi untuk ASI.

4. Rajin merawat gigi dan kesehatan badan. Buat sebagian bumil (termasuk aku) sikat gigi saat hamil itu malesin banget soalnya memicu mual. Tapi buibuu, kalo nggak rajin sikat gigi, jangan heran yaa nanti jadi sakit gigi dan rasa sakitnya bisa double triple lho! Sebagaimana yang sering dijelasin ama dokter, kalau sistem imun di tubuh bumil itu "diturunkan" demi menyambut makhluk baru dalam tubuh (sebagian dokter bilang kalau nggak turun, mereka justru akan menyerang si janin sebab tubuh mendeteksinya sebagai ancaman). Jadi, kalau sakit-sakitan itu wajar gais. Terutama buat yang punya riwayat sakit gigi, mata, dll, better dirawat dari sekarang ya. Soalnya, biasanya bumil baru boleh periksa gigi di TM 2.

5. Mulai mencari kelas edukASI dan parenting class. Yuk ikhtiar dari awal untuk memberikan yang terbaik buat si cinta, persiapan dini dalam hal pengetahuan tentang ASI dan parenting insya Allah dapat membantu banget lho. Aku yakin sih tiap ortu pasti ounya gaya tersendiri ya dalam mendidik anak, jadi ilmu di kelas ini bisa digunakan sebagai referensi.

6. Jika ada anggaran, agendakan untuk tes TORCH. Sudah banyak sekali akibat dari virus dan bakteri TORCH untuk bumil dan janin. Deteksi dini lebih baik ya buibu, boleh juga minta referensi ke dokter dulu. Sebab TORCH ini ga bisa ke detect dengan tes darah lengkap biasa. Biayanya pun ga sedikit, antara 1-2,5 juta. Aku pernah terdiagnosis ada bakteri Tokso di tubuh saat hamil 3 bulan, tapi untung siklusnya cenderung turun dan bisa segera diatasi. Insya Allah aku akan bahas ini di postingan tersendiri :)

7. Rajin-rajin komunikasi dengan pasangan dan ortu. Segala sesuatu yang brrkaitan dengan baby, sudah pasti bakal bikin rempong, termasuk adanya kemungkinan perbedaan cara mendidik, cara memandikan, bahkan cara menyusui antara kita, suami, dan ortu (beda generasi si yaa..) biar meminimalisir bersitegang, sering-sering ajak ortu dan suami berdiskusi ya :)

8. Baca baca dan baca. Kalau nggak suka baca buku, minimal baca-baca artikel (yang terpercaya) di google deh. Minat baca masyarakat Indonesia memang masih rendah ya, aku kadang suka sedih kalau ada teman yang curhat kesusahan nenenin atau ada problem lain dalam kehamilan ataupun pasca melahirkan dan aku ga bisa banyak ngebantu. Actually, banyak info disekitar kita yang berserakan lho. Kalau sudah baca dan butuh "kemantapan", bisa diskusi sama temen atau orang yang lebih ahli dibidangnya :)

9. Nggak perlu makan 2x lipat. Makan aja yang normal, nggak perlu makan untuk 2 orang. Saat kita hamil memang nanti dokter akan memasang target, minimal bb pada saat hamil adalah sekian, juga akan memasang warning, jangan sampai ada kenaikan melebihi sekian. Aku? Bb baik sampai 23 kilo hahaha. Ini jangan ditiru ya buibu.

10. Banyakin minum air putih. Kurang-kurangin sirup, pop-es, teh-teh-an, dan lain-lain. Air putih ini perannya penting banget dalam mengantar makanan agar bisa diserap bayi. Kalau kita rajin minum air putih, pasti bayi akan lebih aktif di perut which is itu pertanda baik. Ada konsekuensinya yaitu beser / bolak-balik pipis, but it's totally normal, kok! Justru kalau kurang minum itu yg bahaya, bayi bisa kurang oksigen, kurang asupan nutrisi, bisa bikin bumil sembelit, dll.

11. Know your limit. Buat perempuan enerjik, kadang kita mah nggak kerasa ya kalau udah capek. Tapi ini pentinf banget, mulai peka terhadap kapasitas tubuh. Kalau udah capek ya berhenti dulu aktivitasnya. Coba pak suami di towel untuk bahu-membahu menerjakan aktivitas domestik. Pasti makin romantis ♡

Okay buibu, those are a lil tips from me. Semoga bermanfaat ya, stay happy and healthy during your pregnancy ♡

Minggu, 26 November 2017

,



Aku mulai panik. Soalnya, maksimal induksi yang diperbolehkan oleh medis adalah 4 botol. Kalau masih gak bereaksi, induksi dinyatakan gagal. Lha kalau 1 botol 1 bukaan, apa artinya? Makhluk dan suara di pikiranku berlarian kesana kemari tanpa bisa ku kontrol. Dokter sudah mulai memberi opsi untuk SC. Ibu yang denger kalimat itu, ikutan tegang. Bahkan ibu membujuk aku dan suamiku agar berhubungan badan, biar mempercepat kontraksi. Agak susah dicerna ya, mana bisa coba? Ibu bisa ngasih saran ini gegara abis telponan sama saudaraku yang sudah melakukan cara serupa dan sukses lahiran normal.

Ibu berusaha memberikan aku kesempatan untuk ngobrol ama saudaraku ini. Aku udah mutung dan sedih. Sangat nggak mood dan hampir putus asa. Tapi suara diseberang telepon berusaha memberi semangat dan sugesti positif. Terakhir, dia katakan bahwa cara apapun anakmu lahir, kamu tetep seorang ibu yang baik.

Pasca diskusi sama suami, suasana makin dramatis. Dengan terbuka aku katakan kepada orang tuaku, bahwa aku SC saja sekarang. Sebab aku nggak mau membebani mereka dengan biaya yang besar, tersebab tidak adanya kepastian dari proses induksi ini. Makin lama induksi, makin lama ngamar, makin besar biaya. Jadi mumpung masih segini, aku yakin tidak akan jatuh mahal.

Denger perkataan itu, ayah ibuku malah nangis. Mereka katakan kalau aku nggak perlu mikirin biaya. Yang penting berjuang dulu untuk lahiran normal. Mereka mendukung.

Semangatku udah diujung tanduk.

Sejak sore hingga malam hari, aku irit bicara. Pas aku mau tidur, ada seorang kerabat yang menjenguk. Dia kebetulan seseorang yang diberi Allah karunia untuk melihat sesuatu-yang-nggak-bisa-aku-lihat. Sempat dia sarankan agar aku melepas semua perhiasan yang aku pakai, kemudian dia juga sampaikan 1 kalimat “ini masih tarik menarik”. Aku nggak paham, siapa yang menarik siapa yang ditarik. Tapi beliau ngasih semangat juga, bahwa si Mahira di perut semangat juangnya tinggi untuk lahiran normal. Jadi aku ga boleh surut, begitu katanya. Insya Allah lahir besok (tanggal 12). Masih aku ingat jelas ucapan demi ucapan beliau.

Nggak cukup sampai disitu, Ibu juga bertanya ke temannya yang juga dikasih Allah "kelebihan". Kata ibu, temannya ini ngasih sinyal positif. Sama seperti sebelumnya, beliau juga ngasih tanggal, besok. Tanggal 12 Juni, maksudnya.

Makin aneh, saat keesokan paginya, ayah menelepon (saat itu ayah di Lumajang) dan meminta tolong agar ibu mengguyur aku dengan air aqua gelas yang udah dibacain beberapa surat. For sure, Dad??? Ayah aku paling anti sama yang beginian. Kenapa sekarang jadi berubah 180 derajat? Belakangan aku paham karena ibu cerita, ayah sempat tanya sama mbah uti tentang proses lahiran SC. Rupanya tidak ada satupun keluarga besar yang lahiran dengan proses SC. Darisitu keluarga besar di Lumajang agak was-was kalau aku lahiran dengan proses SC.

Dorongan untuk lahiran normal juga datang dari Ibu mertuaku. Melalui telp, Ibuk cerita kalau ada mbak ku disana yang matanya minus 5 tapi bisa lahiran normal. Ibuk yakin banget kalau akupun bisa. “Billa bisa ya lahiran normal..”

Nggih Bu, insya Allah, pandonganipun. Jawabku.

------

Tanggal 12, aku lupa persisnya jam berapa, aku memulai induksi botol ketiga. Hampir sama seperti sebelumnya, diawal induksi aku sempat tertidur pulas. Dan bukaan pun baru naik dua.

Namun, hari ini aku lebih tenang. Sebab semalam, aku sudah mengadu habis-habisan ke Allah.

Malam hari, pukul 23.00, setelah aku memasuki botol keempat, aku minta suami menemani aku berjalan keliling ruang bersalin. Makin malam aku makin semangat, aku yakin kalau sebentar lagi bukaanku akan naik kilat, sebab aku mulai merasa sakit dan nyeri yang lebih dari sebelumnya. Selama 1 jam kami berjalan, suster menyarankan agar aku istirahat saja. Kami pun manut. Aku tidur, sementara mamas lanjut ngetik. Iya, dia sih dapet izin nemenin istrinya lahiran tapi ya gitu, kerjaannya dibawa pulang. Sementara ibuku gantian tidur di kamar.

Hari ini terasa lebih ringan, sebab ada rasa penerimaan dari kami, dari aku suami dan ortuku. Kami bahkan bisa bersenda gurau lebih lepas. Sore itu, ayah juga baru datang dari Lumajang dan langsung menjenguk aku di ruang bersalin.

Pukul 02.00 aku terbangun karena ada aliran air yang sangat deras mengalir keluar dari tubuhku melalui jalan lahir. Aku memekik, mamas!! ia dengan sigap terbangun. Ini apa mas?? Ini ketuban mas!!

Aku tanya dan menjawab sendiri saking gupuhnya.

Warnanya apa mas? Keruh nggak??

Mas angga yang juga gupuh buru-buru nyalain lampu. Kami berdua khawatir kalau airnya keruh, sebab itu pertanda si gendhuk bab di dalam perut dan berpotensi keracunan air ketuban.

Alhamdulillah jernih be, kata mamas.

Segera ia panggil suster dan bantalanku pun di ganti. Aku resmi nggak bisa sholat, karena kalau berdiri sudah pasti amber.

Nah, baru ini aku sadar tentang kebenaran kata orang yang udah lebih dulu pengalaman. Kalau ketuban pecah, kontraksi makin menjadi. Itu kata mereka yang lahiran normal lho. Kalau induksi?

DOUBLE IT.
TRIPLE IT.

Rasa sakitnya berlipat-lipat. Tapi aku justru makin semangat. Aku tau, waktunya sebentar lagi. Aku hanya perlu bersabar sedikit lagi. Dokter menanyakan, apa aku masih kuat? Ku jawab, masih dok, dengan merintih kesakitan.

Pada titik ini, semua saran dari suster di kelas Prenatal Yoga bubar jalan.

Yang ada, aku teriak-teriak kesakitan

Huaa sakit mii, gosok punggung mi, gosok depan mii. Kasian ibuku, kebingungan ngegosok yang mana. Pasalnya, kontraksi datang makin sering, 15 menit sekali, 10 menit sekali. Aku pun dilarang tidur hadap kanan, harus hadap kiri which is itu posisi yang bikin sakit. Apa daya aku manut aja. Bahkan suami pas gak sengaja numpahin air putih di badanku, aku (tanpa sadar) ngomel-ngomel.

Emosi yang gak stabil ini, karena beberapa hal. Pertama, aku kurang tidur dan sangat lelah. Could you imagine, aku sudah berapa hari di RSIA dan melewati berapa botol induksi? Kedua, karena emang rasanya sakit banget.

Saat rasa sakit itu hilang, suami duduk tepat dihadapanku. Ibu duduk di belakangku / bagian punggungku. Tiba-tiba suami nyanyi, entah kenapa aku sangat terganggu. Spontan aku bilang,

“jangan nyanyi, sam,”
“lho kenapa, aku kan pengen menghibur kamu,”
“aku gak merasa terhibur,” jawabku lugas.

Ternyata, ibu ngikik di belakang, menahan tawa. Ibu kaget aku kok jutek amat sama suami. Aku juga gak sadar sih hehe..

------

Tibalah waktu yang paling ku benci: mengecek bukaan. Tapi anehya, kali ini aku justru semangat. Aku menanti tiap kata yang akan meluncur dari mbak suster. Pagi sekitar jam 6, suster masuk ke ruanganku.

“mulai sakit ya?
“iya sakit baget mbak”

Beliau tersenyum sambil mulai ogok-ogok. Aku hanya pasrah dan berpegangan erat pada gagang kasur. Ini akan segera berakhir, sedikit lagi, pikirku.

Tapi apa yang terjadi?

Muka si mbak lesu.

“masih jauh sekali, masih di bukaan 4”

Aku shock dan sedih. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa rasa sakitku yang teramat sangat itu sia-sia saja?

Fyi, setelah ketuban pecah, harus segera ada tindakan. Sebab, air ketuban di dalam perut mulai menipis, it means bayi pun akan susah bernafas karena lapisannya udah berlubang dan ada udara yang masuk. Maksimal waktu tunggu adalah 24 jam.

Saat itu waktu berjalan sangat cepat, begitu pula orang-orang disekitarku yang lalu lalang. Aku pusing dan tidak bisa berpikir jernih saking ngantuk dan lelahnya.

Suster menelepon dokter Indra dan dokter pun memutuskan untuk operasi dan menghentikan induksi. Kami mengiyakan. Detik berikutnya, suamiku harus mondar-mandir mengurus berkas dan dokumen. Sementara aku? Masih terus kesakitan, kontraksi nya ternyata masih terus datang. Aku membayangkan Mahira di perut cuek dan nyantai aja di goyang-goyang sama cairan induksi. Ngopi-ngopi dulu, Bun.

Operasi ini dadakan. Mendadak pula aku dilarang makan pada pagi itu, diminta untuk puasa sampai operasi nanti. What the?! Aku lelah, ngantuk, sangat lapar, dan sekarang nggak boleh makan? Gils! Nggondok banget deh aku.

Sambil menunggu dokter Indra yang gak dateng-dateng, suster menyiapkan segala keperluan, termasuk tanya, mau dokter anak siapa? Aku agak lupa namanya. Aku sebut dua nama,

“dokter Dini. Eh atau dokter Diana ya? Pokoknya yang pakai jilbab,”
“oh dokter Dini mbak”
“nah iya itu”

Lain waktu insya Allah aku ceritakan mengapa aku jatuh hati sama dr. Dini.

Begitu dokter indra dateng, beliau menyambut dengan senyuman dan kalimat-kalimat positif gitu lah. Eh ternyata gak bisa langsung operasi gegara nunggu antrean.

Ya Rabbi, ini udah sakit banget kontraksinya hiks. Mana dr. Indra pun terakhir ngecek masih stuck di bukaan 4.

Saking kacaunya aku, sempet aku merengek ke ibu, “mi bisakah aku tidur dulu bentar, operasinya entaran aja?”

------

Suster sempat bertanya kepadaku, ingin ditemani siapa di dalam ruang operasi? Aku dengan cepat menjawab: Ibu. Suamiku langsung lemes, waduh, bukannya aku ga mau didampingin suami. Cuman memang ibuku bisa lebih sigap jika ada apa-apa. Dan ini kan lahiran pertama, sudah pasti satu-satunya rasa yang ada dipikiran adalah makin cinta sama Ibu.

Setelah ruang operasi siap, dokter Indra menghampiri aku.

“wah, hari ini kebetulan sekali, semua dokter seolah sudah siap tanpa kita perlu menelepon. Biasanya harus tunggu-tungguan lho dan janjian dulu. Apalagi ini operasi dadakan,”

Ibu langsung berbisik kepadaku, “memang ini jalannya nduk,”

Aku mengangguk setuju. Bismillah aku siap.

Aku masuk ke ruangan operasi yang lebih mirip kulkas raksasa saking dinginnya. Apalagi aku kan telanjang bulat, hanya pakai baju operasi, jadi rasa anyes nya itu merasuk ke tulang. Lalu kasurnya.. oh, ini kasur apa beton? Semua dokter di dalam ruangan terlihat ceria, sesekali mereka guyon. Aku lihat dokter Dini masuk ke ruangan, ia mengenakan turban warna hitam dan kemeja putih. Lengkap dengan kacamata dan aksesoris di lehernya yang super modis. Seorang dokter memintaku untuk duduk sambil mendekap lututku erat. Agak susah ya, ganjelan di perutku ini gede banget lho.

“sebentar ya mbak, kita cari dulu pusat sarafnya,”

Ooh.. ahli syaraf, pikirku. Nggak lama kemudian, mak clekit! Jarum suntuk ditujeskan ke punggungku, merasuk ke tulang. Kemudian aku diminta berbaring dan tubuhku diangkat kesana kemari. Lama-lama aku mulai merasa gringgingan / kesemutan, dan tidak lagi merasakan sentuhan tangan para dokter. Suster mengatakan akan memasang kateter, aku berpesan, hati-hati ya mbak.

Bener aja, makjes, obat biusnya belum bekerja maksimal. Aku masih kelaran (kesakitan). Tapi bisa ditahan sih. Sampai titik ini aku belum paham, kenapa aku butuh kateter? Toh nanti tinggal pipis aja, dan aku bisa kok nahan pipis selama operasi berlangsung.

Tepat pukul 10.00, tanggal 13 Juni dr. Indra memulai operasi. Ia meminta kami berdoa dulu. Beberapa menit kemudian, aku mulai panik, entah kenapa aku nggak bisa bernafas dengan baik karena suhu ruangan yang terlalu dingin dan kepalaku yang sejajar dengan tubuh bikin hidungku tersumbat. Selang oksigen yang nancep dihidung dan harusnya berfungsi membantu pernafasan, malah terasa sangat mengganggu.

Aku, tanpa sadar, meminta tolong sama suster laki yang lewat dengan nada panik.

“mas, tolong saya gak bisa nafas”
“mas, ibuku kemana? Kok ga ada? Tolong izinkan masuk ya mas. Atau suamiku saja, tolong ya..”

Si masmas nggak banyak cakap, hanya bilang “ya” sambil membetulkan posisi selang oksigen. Kemudian ia beberapa kali menambahkan cairan ke tubuhku melalui pipa kecil ditanganku. Aku merasa lumpuh, tidak bisa menggerakkan tangan dan jemariku. Aku tidak lagi ingat apa-apa hingga aku sedikit tersadar pada pukul 10.35, saat itu para dokter bergantian mengatakan:

“selamat ya mbak, baby nya cantik sekali,”

Ah, anakku sudah lahir rupanya. Tapi mana tangisannya? Mana IMD nya? Kenapa tidak ditunjukkan ke aku? Aku panik lagi dan berteriak,

“anak saya mana dok? Saya ingin IMD, saya kok nggak denger suara tangisannya? Saya belum lihat wajahnya dok???”

Teriakanku tidak dihiraukan, mereka terus bekerja tanpa aku ketahui, sebab ada tirai penutup di atas perutku. Hanya seorang perawat yang kembali datang untuk memasukkan cairan ke dalam tubuhku. Entah apakah aku tertidur atau tidak sadar, aku nggak tau. Aku hanya tidak bisa dengan jelas melihat maupun mengingat apa saja yang terjadi waktu itu.

Aku betul-betul nggak ada daya. Dan aku belum melihat wajah anakku.

------

Kasurku bergerak, mereka mendorongnya keluar ruangan. Setelah pintu terbuka, aku melihat ibuku disana, menunggu aku keluar. Nggak tau suamiku dimana. Aku tersenyum lega karena anakku sudah keluar dari perutku, tapi aku belum sepenuhnya sadar. Aku ingat betul saat masuk ke ruang pemulihan, yang aku lakukan hanya merem-melek, toleh kanan dan kiri tanpa pandangan berarti. Ibu kemudian menghampiriku sambil tersenyum dan mengatakan bahwa Mahira cantik dan badannya besar, mas Angga sedang di ruangan bayi untuk motoin.

Aku lega. Aku kembali merem-melek, sampai aku betul-betul tersadar saat ibuku menunduk sambil menangis di sampingku. Heran, aku bertanya ke Ibu, kenapa menangis? Bukankah seharusnya bahagia sebab Mahira sudah lahir dengan selamat? Ibu hanya menjawab,

“oh enggak, ini lho tante Catherine. Mas angga tak minta kesini ya,”

Aku mengiyakan.

------

Dia menghampiriku dengan sarung dan kaos merahnya yang bertulis “Islam is Awesome”. Segera ia duduk disampingku sambil menunjukkan video dan foto-fotonya Mahira. Aku pun trenyuh dan menangis melihat anakku dari kamera handphone dan mendengar suara tangisannya yang cempreng. Segera aku tersadar, itu selang apa??

Mas kemudian menerangkan kalau Mahira sekarang ada di NICU dan selang itu untuk membersihkan paru-parunya. Botol infus disampingnya adalah antibiotik. Ia lalu menangis sambil memegang tanganku dan meminta maaf. “maaf ya be kalau mas belum banyak membantu kamu, belum banyak baca,” ujarnya.

Aku cuma bisa tersenyum, karena memang aku belum bisa menggerakkan anggota badanku. Rupanya aku ini dibius full, sebelumnya dokter bilang kalau aku hanya dibius dari perut ke bawah. Ini mah dari leher ke bawah. Saat aku mulai bisa menggerakkan tanganku, aku memegang dadaku. Dan apa yang aku rasakan? Gak kerasa apa-apa saudara. Aku nggak bisa merasakan sentuhanku sendiri.

Setelah kesadaranku mulai pulih, aku jadi ikut menangis dan berpikir bahwa ini salahku. Kenapa aku nggak ngotot SC aja dari kemarin. Tangisanku makin deras saat aku melihat di tangan mahira tertancap selang infus. Ya Allah, pemandangan nyatakah ini?? Mana tega aku melihat tangan mungilnya sudah ditujes-tujes sama jarum.

Pada saat itu Dokter Dini masuk ruanganku dengan senyum yang merekah. Dia menenangkan ku yang masih terisak. Aku mengatakan ke dokter Dini bahwa aku tadi belum IMD dan anakku belum minum ASI ku. Dokter Dini kembali menepuk pundakku dan berkata, “it’s okay, anakmu baik-baik saja,”

------

Mamas cerita bahwa ia tidak pernah melihat ayahku sangat terisak seperti ini sebelumnya. Saat aku masuk ruang operasi, ayah menangis. Ia makin menjadi saat melihat Mahira keluar dari ruangan operasi dengan kondisi kesulitan bernafas. Saat itu suster terburu-buru membawa Mahira ke NICU.

Apa yang terjadi dengan Mahira?

Air ketubanku yang pecah, bikin Mahira susah nafas selama di dalam perut. Begitu berhasil nyembul dan keluar dari perutku, ternyata Mahira enggak menangis which is itu pertanda yang kurang bagus. Pantes aja aku nggak denger suara tangisannya.

Mahira kecil malah terbatuk sambil berusaha kuat untuk beradaptasi dengan oksigen. Itulah mengapa nafasnya sempat tersengal-sengal dan segera dilarikan ke NICU plus dikasih selang oksigen di hidungnya, dan kayaknya dikasih juga selang ke mulutnya. Mahira juga diberi antibiotik karena sudah dikhawatirkan banyak bakteri yang masuk ke tubuhnya.

Apa dayaku? Duduk saja aku belum bisa. Aku masih terpisah beberapa meter dari anakku.

------

Di dalam kamar, suster berpesan kepadaku, setelah 6 jam aku boleh minum air putih. Kalau nggak mual, boleh lanjut makan roti dan makan nasi , tidak perlu menunggu kentut datang (abis operasi, kentut ini penting banget lho!)

Dia juga berpesan, agar aku terus tenang dan bahagia agar ASI lancar. Nanti malam, ada suster yang akan mengambil ASI ku melalui spuit.

Meskipun aku sempat bersedih karena banyak hal diluar rencana dan kontrolku sebagai manusia, aku juga gak dapet momen IMD sama si cinta, tapi mataku berbinar saat melihat cairan kolostrum mengisi 3 spuit secara penuh. Cairan kuning gading itu, tanda cintaku untuk Mahira. Suster menyemangati aku untuk belajar duduk dan pipis sendiri.

“ayo mbak harus semangat ketemu anaknya, luka paska operasi harus terus dilatih agar rasa sakitnya berangsur hilang,”

Aku bersyukur rasa nyeri paska operasi tidak aku alami. Atau mungkin aku yang sudah terlanjur kuat gegara kontraksi hebat dari induksi. Syukurku bertambah saat mamas mengajariku untuk duduk dan berjalan singkat. Kurang dari 24 jam pasca operasi, aku sudah bisa jalan!

Sambil memegangi perutku yang besar (yes, perutku masih besar kayak hamil 5 bulan) , aku berjalan tertatih ke ruang bayi. Pagi ini, Mahira sudah nggak diselang, ia dinyatakan sehat dan sudah dipindah di ruang bayi bersama teman-teman seangkatannya yang lain.

I couldn't be happier. Mahira seolah merasakan kehadiranku, ia langsung nangis dan merespon dekapanku dengan hangat. Untuk pertama kalinya, ia menyusu langsung dari tubuhku.

Bener kata orang-orang, rasa sakit itu seketika hilang. Allah menggantinya dengan kekuatan berkali-kali lipat.

Pada akhirnya, kelahiran Mahira ini adalah salah satu bukti nyata bahwa hanya Allah yang punya kuasa. Walaupun manusia punya ilmu (dikasih ilmu ya lebih tepatnya) untuk intip-intip dibalik tirai, tetap saja Allah yang pegang kendali.

Proses kelahiran Mahira ini, bagiku, adalah bukti nyata kuasa Allah.

------

Beberapa bulan setelah kelahiran Mahira, juga setelah perutku mulai mengecil, aku bisa melihat luka operasiku dengan jelas. Aku dan mamas sama-sama punya luka operasi di tubuh. Kita imbang. Satu sama.

Memang aneh rasanya, sekilas terlihat seperti ada seekor gastropoda tanpa cangkang yang menempel di perutku. Aku sendiri geli mau megang. Luka ini juga jadi buah bibir, mulai dari support, hingga (tanpa sadar) cemo’oh dari mulut sebagian orang. Aku tau, pasti mereka berucap perihal yang nyelekit itu tanpa mereka sadari. Aku juga sadar, ucapan-ucapan mereka itu justru menunjukkan siapa diri mereka, pergaulannya, wawasannya, pendidikannya. Aku nggak punya pilihan lain selain maklum, dan berkata kepada diriku sendiri :

Ya Allah, jadikanlah lukaku ini sebagai satu tiketku untuk dapat memasuki surgamu. Kelak jika penjaga pintu surga bertanya, apa kamu punya hak masuk ke dalam? Izinkan satu tanda horizontal pada tubuhku ini menjadi saksinya, penjadi free pass-nya.

 
sebelum sadar, difotoin suami

si cinta

Sabtu, 25 November 2017

,
Pengalaman Induksi Ibu Hamil
Botol Induksi yang udah Kempot

Subuh telah berlalu sekitar 10 menit yang lalu. Aku buru-buru ambil test pack sensitip dan aqua gelas bekas. Masuk kamar mandi, buang air kecil, dan menunggu 1 menit. Suami sudah harap-harap cemas di luar kamar mandi. Menurut dokter SpOG dan referensi yang aku baca, waktu terbaik untuk mengecek kehamilan adalah saat pipis pertama di pagi hari. Sebetulnya, sehari sebelumnya aku sudah test pack di siang hari dengan hasil 2 strip, tapi samar. Waktu itu mamas sudah siap-siap mengeluarkan motor mau ke dokter sebab malam sebelumnya aku demam tinggi sampai 40 derajat, menggigil, badan sakit semua dan gak bisa tidur. Ternyata oh ternyata.. 2 strip bung!

Kaget, shock, dan bahagia. Agar lebih yakin, kami coba lagi subuh ini.

Satu menit berlalu, 1 strip pertama muncul. 1 strip selanjutnya juga muncul tanpa malu-malu kucing. Hamdalah.. aku berbadan dua!

Tentu saja ini kabar yang dinanti banyak orang, sekaligus pembuktian bahwa kami adalah pasangan yang subur. Bagi keluarga besar, kehamilan ini tidak ubahnya seperti prestasi. To be honest ini sebetulnya sensitif sekali, rawan judgement. Aku sendiri bukan tipikal orang yang menghakimi orang lain berdasarkan tingkat “kesuburannya”.

Bagi aku pribadi, kehamilan ini adalah jabatan yang aku nanti. Jabatan yang dikasih langsung sama Allah, jabatan seumur hidup. Pada titik ini aku tau aku harus bergegas meninggalkan zona nyaman, keegoisan, amarah, kegegabahan, dan lain-lain. Aku harus segera berubah, akselerasi. Sebab, sebentar lagi aku fix jadi pendidik seumur hidup.

------

Sebagai seorang bumil, aku nggak lepas dari pertanyaan mau normal apa SC nantinya? Khususnya dari lingkungan terdekat. Pas aku jawab, insya Allah normal, seringnya dibalas lagi, iyalah normal ajah. Siapa nggak mau lahiran normal? Proses melahirkan yang alamiah, murah meriah, dan minim resiko, yang sampai-sampai bagi sebagian orang proses ini bisa jadi cap “ibu yang sesungguhnya”.

Tapi aku yakinkan lagi dalam hati, dalam doaku, dan percakapanku dengan si gendhuk di dalam perut.

“Ya Rabbi, aku ingin lahiran normal jika itu yang Engkau kehendaki. Sesungguhnya Engkau yang lebih tau mana yang terbaik,”

“Gendhuk, insya Allah kita nanti lahiran normal ya , nanti gendhuk bantuin bunda ya. Kalau bisa kamu mrucut sendiri tanpa bunda ngeden nemen-nemen..” itu pesanku ke gendhuk. Aku nggak melewatkan khasiat ngobrol sama si janjin, sebab ini terbukti lho. Saat usia 7 bulan, si genduk belum ada di posisi yang pas. Aku disarankan untuk sujud sehari 5x masing-masing minimal 10 menit. Dengan badan yang bengkak, 10 menit itu perjuangan banget oy! Endingnya udah ketebak kan? Akhirnya aku ambil jalan pintas, mencoba ngelobby genduk.

“nduk, ayok kepalanya segera turun yaa.. bunda ga kuat nungging lama-lama hehehe”.

Beberapa hari kemudian, it works tanpa aku bersusah payah nungging *dancing*

Dokter Enny (Jogja) dan dr. Indra Yuliati (Sby) pun mengatakan, bahwa faktor penentu lahiran normal nggak hanya posisi si bayi, tapi juga daya dorong dari ibu dan kekuatan panggul. Kalau nggak salah ini yaa.. aku agak lupa juga sih. Aku pribadi sudah menyiapkan proses lahiran normal ini, mulai dari jalan-jalan di sekitar rumah walaupun gak lama cuma 15 menitan tiap pagi di Jogja. Sementara di rumah Sidoarjo aku jalan-jalan di dalam rumah aja, jarang-jarang jalan pagi di kompleks, soalnya minder banget keluar rumah dan nggak ada temen jalan. Selain itu aku juga ikut kelas Prenatal Yoga / Senam Hamil.

Meski demikian, aku berusaha siapin mental dan diskusi sama suami bahwa apapun bisa terjadi. Aku bisa mikir kayak gini setelah baca buku Ayah ASI yang disana beberapa bapak-bapak cerita pengalaman lahiran istrinya yang bisa sangat ekstrem. Dan hanya akan memperburuk keadaan kalau kita nggak siap atau terus bersedih.

Karena itu, aku berusaha menginstal afirmasi-afirmasi positif, seperti kata saudara aku (yang udah sukses dengan lahiran normal dan afirmasi positif itu tadi) plus kata buku dan artikel di google.

But you know, it never been easy.

Aku lagi susah payah menata batu bata, terus disemen, tiba-tiba ada mobil dateng. Nubruk. Bangunanku hancur. Walaupun gak sengaja, tetep aja jadinya aku harus bersusah payah lagi ngebangun sambil ngedumel.

Itu emang persoalan mind set dan kemampuan kita untuk bereaksi dengan perilaku di sekitar. Jika aku 100% positif, alurnya bisa aja jadi begini:

Aku lagi susah payah menata batu bata, terus disemen, tiba-tiba ada mobil dateng. Nubruk. Bangunanku hancur. Walaupun gak sengaja, tetep aja jadinya aku harus bersusah payah lagi ngebangun. Tapi aku tetep senyum, menghampiri orang itu dan berkata, kamu mau nggak bantuin aku?

Nyambung gak ya ama ilustrasi diatas?

Oke gini deh kasus aslinya:
Ayah = A
Ibu = I

Aku berusaha menerangkan ke orang tuaku tentang keinginanku lahiran normal dan full ASI untuk anakku. Aku jelaskan pula bahwa nantinya aku perlu IMD dan rooming in ama si gendhuk. Harapanku, mereka akan bilang “wah bagus itu, ayah dukung 100%. Tapi.. apa respon ayah?

A : sampeyan dulu minum apa?
I : ASI tapi tak campur SGM, lha wong 7 hari aja wes tak kasih gedhang *terkekeh*
A : nah, kan ra popo to minum sufor? Toh sampeyan yo pinter to saiki.

Me : *banjir bandang*.

Nah itu contohnya. Aku gak berekspektasi orang tuaku akan merespon dengan demikian. Kalimat supportive nya manaa?

Getting worse, ketika aku pun bereaksi lebay, sedih, kecewa, dan bahkan minta agar waktu aku lahiran nanti ayah di luar aja daripada bikin aku kepikiran. Ini ada alasannya sih, waktu lahiran aku kan bakal butuh ibu banget, nah ayah aku tuh istilahnya tipe lelaki yang nggak bisa nggak diopeni istri sedetikpun. Membayangkannya aja aku udah mules.

------

HPL kurang 1 minggu, dokter Indra menyatakan aku sudah bukaan 1. Wah happy banget deh denger kata buka'an 1. Buat yang belum paham, apa itu bukaan 1? Itu lho, jalan lahir yang terbuka selebar 1 cm. Jadi actually itu masih kecil sekali. Dokter pun bilang, dari bukaan 1 ke bukaan 2 itu bisa makan waktu 2 minggu (tanpa ada rangsangan). Oiya, ada yang penasaran gak cara ngecek bukaan itu gimana?

Buat yang gak kuat, bisa skip bagian ini.

Tangannya bu dokter di masukkan ke “jalan lahir”. Oh percayalah, tidak ada satupun wanita di dunia ini yang gak tegang kalau suster / dokter datang ke ruangan sambil bilang, “kita cek dulu bukaannya ya bu” dengan penuh senyum.

Lanjut ke HPL. Berhubung tanggal 10 Juni aku sudah 40 weeks, dokter ga berani ambil resiko. Beliau bilang, memang bisa ditunggu sampai 42 weeks, tapi resikonya besar. Jika tanggal 10 belum kontraksi, aku harus mulai induksi. Untuk mempercepat, disarankan induksi alami, yaitu induksi puting. Ini gak begitu efektif di aku untuk memicu kontraksi, tapi cukup efektif untuk merangsang keluarnya ASI. Beberapa temen (yang udah pengalaman) memberi aku satu saran manja sebagai berikut: salah 1 cara mempercepat kontraksi adalah berhubungan ama suami. Nah tapi rupanya dokter ga saranin karena beresiko juga.

Aku yang bukan anak kedokteran, ga punya pilihan lain selain manggut-manggut bimbang.Sebetulnya aku dan suami nggak begitu yakin dengan beberapa alasan yang disampaikan. Ah, kalau udah gini rasanya rindu dr. Enny di Jogja.

------

Tepat tanggal 10 siang, aku sampai di RSIA Kendangsari, nunggu sebentar trus masuk kamar yang kami inginkan. Dengan kemantapan hati, bismillah, dan niat ibadah, aku mantap melangkah ke ruangan bersalin. Hari ini aku resmi memulai induksi. Jujur saja, aku nggak inget kalau aku pernah baca kebanyakan bumil nggak menyarankan induksi karena sakitnya minta ampun. Aku baru inget saat ada temen yang nanya, “ga sakit di induksi?” dan baru inget saat rasa sakit itu datang.

Because I was fully ready. Rasanya udah kangen sama si cinta.

Kurma, air putih, camilan, sudah aku siapkan. Nggak ketinggalan beberapa film di handphone dan aplikasi penghitung kontraksi yang udah aku instal.

Oiya buat yang belum tau apa itu induksi, intinya induksi itu merapel kontraksi agar segera terjadi pembukaan dan lahirlah si dedek mungil. Salah 1 cara induksi adalah memasukkan cairan ke tubuh melalui jarum infus. Sebelum dan selama induksi, suster akan rutin ngecek kehamilan dan detak jantung si dedek. Kalau detak jantung tidak normal (melemah atau meninggi secara tiba-tiba) induksi tidak bisa diteruskan. Jadi untuk induksi, si ibu dan dedek harus kompak, sama-sama kuat. See, prinsipnya sebetulnya sama ya. Teamwork.

Botol pertama mulai dipasang. Aku masih ceria, begitu ada kontraksi aku hitung pake aplikasi. Pas suster dateng, aku laporan dong dengan bangga, bahwa aku sudah merasakan kontraksi sebanyak sekian selama sekian detik. Susternya cuma ketawa sambil bilang kalau itu kontraksi palsu. Kalau kontraksi asli, mbak ga bisa senyam senyum macam ini. Sehabis ngetawain aku, si suster berlalu.

Denger ucapan itu aku jadi bengong. What?! masih jauh perjalanan ini rupanya. Kelamaan bengong aku jadi ngantuk dan tertidur pulas. Susternya pas balik jadi kaget, aku ikutan terbangun karena si suster berkata agak kenceng, “lho mbak diinduksi kok malah tidur??”.

Pikirku, jutek amat sih nih suster. Lha aku ngantuk (karena ga banyak aktivitas plis) masa ga boleh tidur. Belakangan aku jadi memahami kekagetan si suster. Dia mungkin gak nyangka kalau 5 tetes obat induksi bisa bikin orang lain meraung kesakitan, di aku malah bekerja bagaikan obat bius.

------

Botol kedua pun di pasang. Aku masih ceria, Mahira di perutpun terlihat baik-baik saja buktinya detak jantungnya normal. Kebanyakan bumil yang induksi, berhasil di botol ke-2 , ada juga yang di botol ke-3. Aku masih tenang dan yaqin pol kalau sebentar lagi aku bakalan kontraksi hebat.

Tak terasa, aku tertidur lagi.

Dan ya.. si suster kaget lagi.

Saat dokter Indra datang, suster ngelaporin kalau aku tidur pulas macam dibius total. Dokter Indra ikutan kaget. Pas beliau selesai ngecek bukaan, giliran aku yang kaget. Sudah hampir 2 botol, aku masih stuck di bukaan 2. “masih jauh..” kata beliau.


(bersambung ke link ini -> Part 2)

Follow me @nabilladp