Parenting blogger | Travel blogger | Lifestyle blogger

Review Rumah Sakit JIH Jogja

review dokter enny jih
dr. Enny (kiri) aku, dan beberapa perawat baik hati <3 foto diambil pas aku mau pulang ke Sidoarjo.
Berkesan banget jadi pasiennya dr. Enny :')


Asli deh, hidup itu bergerak, berubah. Kalau dulu aku suka review film, buku, atau lokasi jalan-jalan, sekarang reviewnya nggak jauh dari dokter kandungan, dokter anak, dan rumah sakit weheheheh.

Well, ngomongin JIH aku jadi teringat percakapanku sama bebeb Gata. Pertengahan November 2016 lalu, Gata buru-buru nemuin aku di lantai atas perpus UGM. Aku lagi berada di ruangan kaca kecil gitu, lagi fokus ngerjakan tesis. Gata mampir sebentar buat ngajak diskusi soal rumah sakit dan dokter kandungan. Buat tugas sih, katanya. Anyway, Gata ini fesyenebel banget. Walopun ranking 1 se IPS pada jamannya, dia sering ngaplo kalo udah ketemu soal-soal Ekonomi. Kok tau? Pernah kepergok ndomblong pas ngerjain soal OSN Ekonomi wkwk. Lah kok jadi ngomongin Gata?

Oke kembali ke judul.

Gata nanyain, beb serius kon luwih prefer nang RS JIH? Why? Disaat ibu-ibu muda lainnya lebih suka rumah sakit yang hommie, dan nggak terkesan “rumah sakit” gitu lah.

Gata nanya demikian setelah aku post foto Mahira yang ketawa lebar pas lagi dipijit di JIH.

Wes tau mrono durung beb? Aku tanya balik.

Durung mlebu-mlebu seh.

Oke sini tak critani.

------

Sebelum baca kalimat dibawah, baca dulu postingan tentang review dokter kandungan di jogja ya. Pertemuan pertamaku dengan dokter Enny ini terjadi di JIH. Oh nggak ding, awalnya dikenalin dulu sama om google. Makasi banget buat blogger-blogger yang mau susah payah dengan rinci nulis review periksa dengan dokter Enny di JIH.

Sebelumnya, aku sama sekali nggak kepikiran untuk periksa di JIH. Biasanya kalau ada apa-apa, aku memilih ke RS Sardjito yang kesannya lebih murah hehe. Jadi bener-bener ke JIH bukan untuk gaya-gayaan. Aku kesana juga mesti naik motor sama suami. Selain itu, sempet aku ragu, dengan embel-embel internasional dan kasus Prita yang booming dulu, aku dan suami pikir JIH akan memberikan servis yang biasa aja dengan harga yang mahal. Tapi karena kebutuhan kami sangat kuat untuk periksa ke dokter Enny, jadilah kami berangkat ke JIH yang tinggal lurus aja dari kontrakan. Fyi, saat itu aku ngontrak di belakang Monjali, area ringroad utara. JIH pun juga di ringroad utara. Makan waktu 10 menitan kalau agak cepet, 15 menitan kalau selow.

Ternyata, WOW. Aku salah banget.

Fyi lagi, logika rumah sakit itu logika bisnis. Salah satu senior yang belajar hukum kesehatan dan juga Gata yang meneliti komunikasi rumah sakit, bilang sama aku kalau rumah sakit itu mirip kayak PT. Gata cerita mengenai alur bagaimana para dokter itu mendapatkan obat, bagaimana cara mereka meyakinkan pasien, dll. Itu bener banget, aku sepakat. Bahkan, udah banyak terjadi nggak perlu nunggu di rumah sakit skala besar. Di ruang praktik kecil dokter yang tersebar di daerah pelosok aja ada lho yang kayak begitu (true story, ada temen apoteker yang cerita). Ada juga rumah sakit yang dikit-dikit ngasih rekomendasi opname (ini pengalaman pribadi, toh akhirnya sembuh tanpa opname).

Balik lagi tentang JIH. Secara personal, aku berpikiran why not? Yang penting bukan bisnis yang haram kan. Artinya, dokter sah sah aja mau bisnis, dengan cara yang baik tentunya, dengan sikap berbisnis yang baik, mengedukasi pasien, tidak memberikan obat sembarangan, dll. Itu kan bagian dari jasa mereka, bagian dari mereka memilih nyemplung ke blue atau red ocean. Sekarang banyak kan dokter yang mengkomersilkan dirinya mulai dari bikin channel youtube, bikin buku, ngeblog, dll. Buatku, itu semua nggak masalah. Asalkan sebagai pasien yang awam banget dengan dunia kedokteran, kebutuhanku terpenuhi dengan baik disana, dengan harga yang masih rasional, dan jaraknya nggak jauh dari rumah.

Nah JIH ini, sebetulnya kalau dibandingkan dengan rumah sakit yang lain di Jogja harganya cukup bersaing lho, kalau dihitung-hitung nyaris sama. Kalau pun beberapa komponen JIH lebih tinggi, itu pun masih di range yang wajar. Aku pribadi belum pernah opname disana. Jadi kurang bisa kasih review untuk rawat inap.

Dengan harga yang bersaing tersebut, JIH memberikan pelayanan lebih untuk periksa kehamilan, diantaranya :

1. Sistem yang cukup rapi.
Paling males kan kalau mau konsultasi ke dokter harus nunggu berjam-jam. Aku beberapa kali ngalamin nih, nunggu 2-3 jam di salah 1 RSIA di Jogja. Lha kalau aku hamil gede, gimana? Apa ga cape? Kalau aku mau kontrol ke dr. Enny di JIH , telp dulu beberapa hari sebelumnya. Kemudian pas hari H, pagi-pagi sekitar jam 6 or jam setengah 7, suami berangkat ke JIH untuk ambil nomor. Biasanya dapat no 3-7. Trus pulang lagi dan mengerjalan hal lain atau ke kampus dulu. Nanti deket-deket jamnya, bisa telpon untuk nanya sudah sampai antrian ke berapa. Misalnya kita telat pun, nanti bisa disela. Enak tho? Sistem ini yang nggak banyak dimiliki rumah sakit lain. RSIA Kendangsari di Surabaya juga menerapkan sistem antrian yang seperti ini.

2. Ruang periksa ibu anak dipisah dari ruang lainnya.
Ini penting banget. Secara rumah sakit umum, sudah pasti virus dan bakterinya lebih beragam. Sebetulnya aku prefer ke RSIA saja karena lebih khusus. Tapi rupanya, di JIH ruangan untuk dokter kandungan dan dokter anak ada di poli timur (kalau ga salah). Pokoknya deket banget ama resepsionis, bahkan bisa kok masuk lewat pintu samping ga perlu melalui resepsionis dulu. Dan ruangan itu ya khusus untuk anak-anak gitu, jadi banyak mainannya. Cukup jauh dengan UGD. Tidak semua RS menerapkan ini lho. Salah 1 RS di Malang yang terkenal saja ruang periksa untuk anak sederet sama ruang periksa dokter untuk penyakit yang lain.

3. Suasana nggak menyeramkan.
Dari luar udah keliatan bangunannya yang modern, dalamnya pun begitu. Begitu masuk, ada gamelan jawa di pintu yang kadang-kadang dimainkan. Ini udah kayak di hotel aja hehe. Lalu, noleh ke kiri sudah ada restoran mini dan bakery shop yang cocok banget untuk nungguin dokter. Sempat aku naik ke beberapa lantai saat harus periksa NST / detak jantung baby gegara perut hamilku natap pipa besi. Interior ruangannya pun bersih dan modern. Jauh dari kesan seram. Jujur saja, lebih kayak mall.

4. Dokter kandungan yang friendly. Bisa lihat postingan disini ya. Peralatan nya pun cukup memadai. Oiya, aku sempat ke dokter gigi untuk periksa gigi pas usia kehamilan 4 bulan. Lupa dengan dokter siapa, itupun juga friendly banget. Hanya memeriksa dan nggak ngasih obat. Beliau tau betul aku sedang hamil dan hanya memberi beberapa saran. Selain dr. Enny, dr. Yasmini dan dr. Mitta, ada beberapa dokter lain dengan jadwal periksa yang berbeda-beda. Kalau nggak salah di website nya ada. Kalaupun nggak ada, bisa ditanya via telpon dengan mudah.

5. Dapat macam-macam gift. Diantaranya adalah map untuk foto USG dan perkembangan bayi (ini lucu banget, jadi kayak album gitu), buku kontrol ibu hamil yang didalamnya ada info brief tentang perkembangan ibu hamil dan beberapa panduan kondisi genting, selain itu kalau nuker obat di apoteknya, dapet tas kecil.

6. Biaya relatif.
Aku agak lupa karena kwitansi setelah periksa dari JIH sudah aku buang. Seingatku, biaya administrasinya sekitar 15-20 ribu. Biaya dokter spesialis sekitar 100-130 ribu. Seingatku nggak sampai 150 ribu. Kalau ada USG biasanya kena 50 ribu. Nah, dalam kondisiku, yang bikin mahal itu vitamin-vitaminnya. Aku inget banget, dengan dokter Enny aku hanya diberi obat 1x saat aku sakit gigi di usia 2,5 bulan kehamilan. Pada saat itu kan belum boleh ke dokter gigi , jadi mau nggak mau dikasih antibiotik dan obat pereda nyeri. Sudah itu thok. Yang lainnya beliau ngasih vitamin yang cukup beragam dan saran yang kuat untuk konsumsi buah dan air putih yang banyak (berhubung aku guampang banget sakit). Alhamdulillah pemberian dr. Enny kerasa banget manfaatnya terutama untuk stimulasi ASI. Oh iya lupa, saat di dokter Yasmini meskipun ada kesan yang kurang mengenakkan, pada saat aku kesana beliau menggratiskan biaya periksa.

7. Ada layanan senam hamil. Meskipun tempatnya bawah tanah ya dan agak sempit plus agak pricy. Aku hanya ikut senam hamil di Jogja selama 1x. Selebihnya di Surabaya.

8. Ada layanan pijat bayi. Mahira tuh ya yang biasanya jerit jerit kalau dipijit, eh begitu dibawa ke JIH dia senyum banget. Sangat riang. Mungkin karena pijitannya yang enak dan suasananya yang nyaman.

9. Mengcover asuransi. Seingatku termasuk BPJS, sempat aku lihat banner nya. Tapi coba tanyakan lagi aja kalau ada rencana opname atau lahiran disana.

Minusnya ada juga ya, diantaranya adalah nggak ada ruang mushola di dalam gedung. Seingat aku ada tapi di lantai dasar, dekat lokasi senam hamil. Lalu ada lagi mushola yang adem dan nyaman tapi di dekat pintu keluar, cuma kalau jalan agak lumayan juga buat bumil dengan perut gede.

Satu lagi yang bikin aku terkesan, adalah karyawannya yang hampir semuanya berjilbab. Eh atau semua ya? Overall, aku sama suamiku merasa cukup puas. Keputusan untuk periksa dengan dokter Enny di JIH adalah salah 1 keputusan terbaik selama kehamilan pertamaku. Soalnya, periksa di tempat lain dengan harga yang kacek 10-30 ribu tapi nunggu nya berjam-jam plus dokternya nggak sreg. Ya mendingan gini tho.

Kadang-kadang, kami juga kangen salah 1 roti kesukaan kami yang dijual di Parsl*y di JIH. Harganya murah dan rasanya enak.

See, menurutku rumah sakit yang hommie itu tidak melulu tentang fisiknya saja yang menyerupai. Yang paling penting adalah kualitas dan layanannya. Next time insya Allah aku ceritakan juga kesanku tentang RSIA Kendangsari, rumah sakit ibu anak di Surabaya yang 11-12 kayak JIH.

Semoga bermanfaat ya buibu dalam mengambil pertimbangan untuk si buah hati :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar