Rabu, 10 Januari 2018

,

memilih pasangan hidup, memilih teman hidup, cerita taaruf, kisah taaruf, sebelum menikah, sebelum kawin, inspirasi pernikahan, menantu idaman, mertua baik, mertua idaman, keluarga sakinah, membentuk keluarga sakinah, parenting blogger malang, lifestyle blogger malang, family blogger malang, muslimah blogger malang
Tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku ku milik mu
Kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu

Ngaku deh, begitu denger kata “teman hidup” jadi inget lagunya Tulus kaaaann? Hehehe. Emang Tulus cerdas banget ya memilih frasa, alih-alih menggunakan kata pasangan, Tulus berusaha negur dan ngingetin bahwa seseorang yang kita pilih untuk menjadi suami / istri adalah seseorang yang akan menemani hidup kita. Kalau sebelumnya kita sendiri, bebas, dan gampang galau, begitu ada si teman hidup tentu berubah 180 derajat : berdua, nggak lagi bebas, tapi bakal lebih tenang.

Berbahagialah buat yang sudah punya teman hidup, buat yang belum, nggak perlu sedih, lho. Anyway, jangan pernah mengira perempuan yang belum menikah itu belum punya pilihan lelaki ya gais, atau parahnya sampe menganggap dia gak laku. Duh tolong ya, yang pandangan yang begini kudu dibakar habis. I’m pretty sure that biasanya perempuan itu sudah punya minimal cemceman (ini perihal yang natural banget), tapi tentu ada yang membuat seorang perempuan memilih untuk single dulu.

Hm.. berhubung beberapa waktu lalu aku dicurhatin sama temen-temen yang umumnya sudah berusia seperempat abad terkait gimana sih cara ketemu jodoh? Gimana sih biar survive nikah muda? Gimana sih ta’arufan? Gimana sih agar pacarku ini mau ku ajak nikah sesegera mungkin?

Eits, aku nggak punya wewenang sama sekali buat menjawab itu semua. That’s your life, gurl! Paling banter aku cuma bisa kasih saran tentang beberapa hal. Jadi kepikiran untuk sekalian menuangkannya dalam tulisan, tentu saja nggak cukup di satu postingan. Nah buat yang sekarang, aku bisa memberi beberapa tips (menurut pengalaman dan pengamatan pribadi) tentang how to memilih teman hidup.

Sini mendekat, aku bisikin caranya.

1. Tentukan tujuan hidupmu terlebih dahulu.
Jangan buru-buru kebelet nikah tapi sebetulnya diri sendiri belum tau “mau kemana” dan belum tau punya impian serta rencana apapun untuk rumah tangganya. Menentukan tujuan itu ibarat kita lagi jalan-jalan dan kita tau kita mau ke suatu titik, selanjutnya tinggal mikirin dengan cara apa kita kesana? sama siapa? bakal mengalami apa aja ya?

Kalau kita bergerak tanpa arah yang jelas, bisa ketebak kan hasilnya: buang-buang waktu dan energi, bingung di tengah jalan, dan berpotensi nyasar parah. Gambaran itu juga yang bisa terjadi di rumah tangga. Setelah tau tujuan diri sendiri, biasanya bakal lebih mudah untuk memahami kriteria pasangan hidup. Bakal lebih mudah juga memilihnya, bukan?

2. Pilih media mu.
Banyak banget media bertemu dan memilih pasangan hidup. Mau pacaran? Buanyak banget. Mau ta’aruf selow (kayak aku dulu 😂) juga bisa. Mau ta’aruf notok, misalnya saling mengenal pasangan via proposal, juga ada. Mau pakai aplikasi semacam tinder, banyak. Mau punya anak duluan, baru resmi? Juga banyak. Mau memintanya lewat doa dan istikharah? Bisa. Mau nargetin sahabat sendiri? Hm, ada. Mau nikah sama rekan kerja? Boleh boleh aja. Maunya dijodohin ortu aja? Nggak masalah. Bebas banget to pilih media?

Apapun medianya, yang perlu dipahami adalah konsekuensinya. Jika memilih untuk ta’aruf, tau ya konsekuensinya, bakal ada porsi dimana kita mungkin kurang mengenal lebih dalam mengenai si calon pasangan. Hm, boleh lah kapan-kapan aku bagi cerita soal ini ya, berhubung pernah jadi pelaku juga hehehe. Jika memilih untuk pacaran, kemungkinan besar kita jadi tau seluk beluk baik buruk pasangan karena memang aktivitas pacaran memungkinkan kita jadi sangat dekat dengan seseorang (mantan pelaku juga 😛 makanya paham) bahkan kadang ada yang keintimannya udah kayak suami istri, eh bahkan ada juga yang ngelebihin 😀. Tapi yah, aku termasuk yang percaya kalau berkahnya pasti kurang.

Semua media punya plus minus, silahkan pilih sendiri mau pakai media apa untuk bertemu si calon teman hidup. Yang perlu diperhatikan adalah media tidak jadi penentu kelanggengan rumah tangga. Yang ta’arufan cuma bertahan 3 bulan? Ada. Yang pacaran langgeng menahun dan bahkan memilih jalan hijrah setelah berumahtangga? Banyak.

Kekalnya rumah tangga balik lagi tentang komitmen kedua pasangan.

3. Kenali karakternya, kuliti tujuan hidupnya.
Aku paham.. paham betul gimana manisnya bunga-bunga yang muncul, merdunya burung berkicauan, dan renyahnya suara ombak ketika perempuan mencintai seseorang. Tapi harus jujur ku katakan, itu semua justru sering membuat pandangan kita jadi blur. Mata jernih kita jadi keruh, kaca mobil kita penuh embun. Akibatnya, jadi nggak bisa melihat dengan jelas.

Maka dari itu, jauhi aktivitas perkenalan dengan bunga-bunga yang berlebihan. Kode-kodean bolehlah, tapi masa iya tiap hari? Coba pakai waktu yang kalian punya untuk diskusi hal-hal yang nantinya akan terjadi dalam rumah tangga. Gali pendapatnya mengenai pola pengasuhan anak, pekerjaan, hubungan dengan keluarga, dan lain-lain. Nanti kalian akan ketemu, bisa-bisa satu karyawan di otak mu bakal bikin tabel mengenai karakter apa aja yang bikin kalian “gathuk” dan sebaliknya.

Atau nih ya, coba bikin project bareng. Seru banget kan? Bisa juga sesekali traveling bareng sama dia (tentu ada kaidah-kaidah yang harus diperhatikan 😛), aku pribadi termasuk yang percaya karena udah ngalamin sendiri sih, kalau perjalanan itu akan mengungkap karakter seseorang yang sesungguhnya.

4. Kenali keluarganya
Sudah bukan rahasia lagi, menikah itu bukan cuma sama si lelaki tapi sama seluruh keluarganya lelaki. Harus mau melalui masa orientasi yang tak kunjung usai dengan kakaknya yang resek, adeknya yang manja, ortunya yang suka ikut campur, dan lain-lain. Artinya, kita mau nerima enaknya, kudu mau juga nerima asemnya.

Dari keluarganya pula, bakal ketahuan gimana watak serta kebiasaan baik dan buruk pasangan. Inget, setiap anak itu lebih dulu meniru perilaku orang tuanya. Pembentukan kebiasaan, yang nantinya bakal memengaruhi karakter dan karakter bakal memengaruhi keputusan seseorang, itu juga terbentuk dari rumah. Kalau masih pacaran atau proses pendekatan yang lain, mungkin bakal terus menoleransi banyak kebiasaan buruk (soalnya ya itu tadi, kebanyakan flower). Begitu sudah nikah, jangan kaget kalau kebiasaan buruk bisa jadi alasan ribut.

Kalau aku boleh bikin analisis ngawur dan asal-asalan, menurut pengalaman pribadi plus beberapa teman, hanya 2 dari 10 orang yang merasa klop dan bisa bersahabat dengan keluarga pasangan. Sisanya?? Pasti ada proses gegeran-nya. Penyebabnya bisa karena karakter keluarga yang keras atau juga karena si pasangan nggak mau beradaptasi. Jadi tetap saja harus ada proses adaptasi dari dua sisi.

Beberapa hari lalu, aku habis ngobrol asik sama salah seorang psikolog keluarga di Malang. Dia bercerita sekaligus berpesan sama aku, sambil ngoret-oret kertasnya, kalau bisa digambarkan, berumah tangga itu kayak gini:

memilih pasangan hidup, memilih teman hidup, cerita taaruf, kisah taaruf, sebelum menikah, sebelum kawin, inspirasi pernikahan, menantu idaman, mertua baik, mertua idaman, keluarga sakinah, membentuk keluarga sakinah, parenting blogger malang, lifestyle blogger malang, family blogger malang, muslimah blogger malang

Ada 2 keluarga besar yang punya karakter, watak, serta nilai-nilai yang dipegang. Trus anak-anak mereka memilih untuk keluar dan membuat lingkaran kecil. Sudah pasti keluarga kecil ini bakal penuh gejolak tersebab adanya perbedaan dari dua lingkaran. Orang-orang di lingkaran kecil harus mau jatuh bangun melalui proses dan mencari formula sendiri untuk rumah tangganya. Peran keluarga besar itu, seharusnya dan sebaiknya, nanti hanya sebagai supporting system.

Anyway, sempat aku baca analisis dari beberapa netijen atas kasus yang baru-baru ini mekar, bikin heboh, karena yang satu hafidz dan yang satu mantan anak clubbing. Dah ya, nggak perlu diperjelas lagi, tapi dari kisah mereka jadi banyak yang berpendapat tentang pentingnya nikah sekufu. Se-agama, se-aliran, se-kampung, dan se se se yang lain. Mungkin memang akan mempermudah proses adaptasi karena terlihat memiliki latar belakang yang similiar. Tapi sesungguhnya itu bukan jaminan. Ada to yang nikah se-aliran tapi gagal, ada juga yang nikah beda agama dan budaya tapi langgeng.

5. Dengarkan kata hatimu, kata orang tua cukup jadi pendukung
Kecuali kalau kamu ingin dijodohin sama ayah ibumu, silahkan menyerahkan semua agenda ke beliau. Aku pribadi lebih memilih untuk memutuskan sendiri, sempat ada waktu dimana ortuku (dulu) memilih si A sedangkan aku ogah. Sebagai gantinya aku “mengenalkan” si B. Alasannya simpel, balik lagi ke poin 1 diatas. Cuma kita yang tau persis apa tujuan hidup dan rencana hidup, kita juga yang mendesign rumah tangga nanti. Meski demikian, pendapat dan restu ortu tetap harus dihargai. Kadang advice dari mereka itu bisa menyingkirkan flowery-thing juga, karena mereka melihat dari sudut pandang sebagai orang yang sudah melalui puluhan musim menjalani rumah tangga.

6. Komitmen
Nah, ini dia gong-nya. Poin 1 sampai 5 itu harus dibungkus rapat dengan yang namanya komitmen. Komitmen itu sangat luas, tidak melulu mengenai kesetiaan. Tapi juga komitmen untuk menjadi seseorang yang lebih baik, komitmen itu mau memperbaiki diri, komitmen untuk jujur dan terbuka sama pasangan, komitmen untuk terus istiqomah menjalankan ibadah sama pasangan, dan lain-lain.

The last point.

7. Pastikan calonmu (dan kamu tentunya) adalah orang yang bersedia beradaptasi dan saling menyesuaikan sepanjang hayat.

Eum, ini sekedar tips, buat para muslimah pilihlah lelaki yang baik agamanya, yang sabar, dan yang mau belajar. Lelaki dengan karakter seperti ini layak dipertahankan. Jika si lelaki itu direstui keluargamu, menikahlah. Sebab sudah ada hadist nya soal ini:
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Jika datang melamar kepadamu orang yang engkau ridho agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dengannya, jika kamu tidak menerimanya, niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang luas.” (HR. Tirmidzi, hasan)

Artinya tentu itu perihal yang amat sangat dianjurkan, dengan syarat kita sebagai orang yang menjalani rumah tangga nantinya plus ayah kita (atau wali) ridho (keywordnya ini lho!) dengan si lelaki, alangkah baiknya segala ragu kudu dipukul mundur. Aku jadi teringat teguran salah seorang senior saat aku maju mundur mau nikah (muda).

Dia bilang, cenderung mengancam soalnya sambil mengacung-acungkan jari telunjuknya, kalau aku sudah memiliki segala kemampuan untuk menikah (sudah sreg dengan calon dan dukungan penuh dari keluarga) maka perihal itu jangan ditunda. Jangan pernah terpikir untuk menundanya, sebab dosanya besar, begitu kira-kira ia berucap. Awalnya aku nggak paham, seiring waktu berjalan aku jadi sadar kalau begitulah cara kita beribadah. Kayak lagi sholat, kalau mampu untuk sholat tepat waktu, kenapa harus menunda melaksanakan hak Allah?

Well, selamat memilih calon pendamping hidup! Ku doakan kamu bisa mendapat yang terbaik dan bisa menjalani proses berumah tangga dengan cara yang baik juga :)

Kalau mau ngobrol, boleh ngomen-ngomen disini lho 😋

Kamis, 04 Januari 2018

,

karena ibu, inspirasi muslimah, cerita inspiratif tentang ibu, cerita inspiratif tentang hijrah, cerita hijrah, kisah hijrah, kisah inspiratif, kisah move on, kompetisi blog saliha
Ibu dan Aku, sekitar 22 tahun yang lalu
Jemari Ibu terlihat sangat lincah mengetuk-ketukan pisau ke telenan (alas untuk memotong sayuran). Tidak pernah jemarinya terluka, tersebab kemahirannya yang sudah berada di level advance. Ibu selalu berkisah, Ibu sudah menyukai dunia dapur sejak SMA. Sore hari itu, Ibu mengutarakan bahwa Ibu juga ingin aku pintar masak. Buatku permintaan itu memang susah. Dalam proses belajar memasak, Ibu sendiri seringkali tidak sanggup menjawab perihal dapur yang ku tanyakan. Suatu ketika aku ke dapur dan bertanya apa guna mpon-mpon, apa guna kemiri, dan lain-lain. Maksudku, misalnya apakah kemiri bikin masakan jadi lebih gurih atau gimana, atau kemiri hanya digunakan untuk masakan tertentu. Kan aku belajar, jadi wajar to aku tanya-tanya.

Ibu nggak suka ditanya.

“Sudah, kamu tau beres aja, tinggal makan,” Ibu mengusirku keluar dari dapur. Aku pun bergegas dengan bahagia, membaca koran, atau kadang mencucikan mobil ayah.
karena ibu, inspirasi muslimah, cerita inspiratif tentang ibu, cerita inspiratif tentang hijrah, cerita hijrah, kisah hijrah, kisah inspiratif, kisah move on, kompetisi blog saliha 
Aku masih asyik mengamati cara ibu memotong. Mendadak lamunanku buyar total saat ibu bertanya: “Kamu habis putus ya?”

Eeh.. kok tiba-tiba bahas ini? Pikirku saat itu. Gelagapan, tentu saja. Ibu bukanlah orang yang bisa aku curhatin. Aku nyaris tidak pernah cerita perihal romansa gadis belia kepada Ibu. Dulu pernah aku cerita dengan terpaksa, sebab aku tidak mampu menyembunyikan mataku yang bengkak seperti habis disengat lebah. Ditanya seperti itu, aku hanya bisa mengangguk singkat.

“Ya sudah nduk, nggak papa. Kamu harus yakin kalau lelaki yang baik pasti akan datang seiring dengan kamu yang terus memperbaiki diri,” kalimat itu meluncur dengan mulus dari mulut Ibuku, tanpa ada kontak mata diantara kami. Ibu, dengan ajaibnya, mampu berkata dengan tenang sambil terus memotong wortel, membunyikan suara ketukan yang merdu antara pisau dengan telenan. Tangan Ibu juga tidak tergores sedikitpun. Seolah perihal yang baru dibicarakan adalah perihal yang biasa saja. Padahal, mendengar kata “putus” saja hatiku sudah serasa digigit semut merah.

Tapi kalimat Ibu sore itu terus aku renungkan. Aku jadi tersadar kalau aku ini belum baik, makanya aku belum ketemu orang yang baik. Atau mungkin aku mencintai orang dengan cara yang kurang tepat, sehingga Allah memberi teguran bertubi-tubi. Harusnya aku bersyukur sebab itu salah satu tanda Allah masih cinta. Nasihat Ibu di sore hari itu seperti angin sejuk di musim panas, segera aku paham bahwa resiko sakit hati adalah buah dari pilihan yang aku ambil.

Setelah itu, malam demi malam aku hanyut terisak dalam sujudku, menangisi kebodohan dan kedzalimanku pada diri sendiri. Sesekali aku merayu Allah, agar mau mengampuni, agar menerima taubatku.

Teringat aku akan doa Nabi Yunus yang sangat indah, doa ketika beliau tersadar akan kesalahan yang ia lakukan dan kembali berlari kepada Allah. Fafirru ilallah.

Laa ila ha illa anta, subhanaka inni kuntu minadzaalimin
karena ibu, inspirasi muslimah, cerita inspiratif tentang ibu, cerita inspiratif tentang hijrah, cerita hijrah, kisah hijrah, kisah inspiratif, kisah move on, kompetisi blog saliha 
Pertengahan tahun 2010, aku sempat protes ke Ibu dan Ayah yang tidak mau memfasilitasi aku agar bisa masuk ke kampus impianku di Jogja dengan jalur mandiri yang agak mahal. Kenyataannya, aku harus gagal menuju tahap dua. Aku tidak paham apa sebabnya, bisa jadi karena nilai tesku jeblok, bisa jadi karena kuota jalur prestasi mandiri murah yang aku ikuti sangat terbatas, bisa jadi karena memang Allah nggak mengizinkan.

Alih-alih mengiyakan, Ibu memberiku petuah keduanya.

“Ibu bisa kok mengeluarkan beberapa puluh juta untuk kamu agar bisa kuliah di kampus impianmu,” Ibu berhenti sejenak. “Tapi apa nggak kasihan adik-adikmu, mereka nanti nggak bisa sekolah lho?”

Aku terdiam. Aku memang anak tunggal tapi aku punya beberapa adik sepupu yang sekolahnya dibiayai oleh ayahku. Agar tidak memberatkan orang tuaku, akhirnya aku memilih untuk masuk ke kampus dengan jalur prestasi sehingga bisa menekan biaya masuk. Pada semester-semester selanjutnya, Ayah dan Ibu tidak henti meng-encourage aku agar bisa mendapatkan beasiswa.

Mau tidak mau, aku harus mengaktifkan personal drive ku dan mengalirkan energi yang aku miliki ke pipa-pipa kreativitas. Alasan pertama agar aku bisa menjalani aktivitas positif lainnya tanpa terganggu dengan ke-menye-menye-an dunia percintaan remaja tanggung. Alasan kedua, aku harus bisa mendapatkan beasiswa.

Starting point masa kuliah aku jadikan kesempatan emas untuk berubah menjadi lebih baik, seperti nasihat Ibu. Toh kebaikan itu akan berlari kembali padaku, jadi tidak ada ruginya kan? Salah satu pencapaian penting dalam rangka moving on ini bertepatan dengan momen ulang tahunku yang ke-18 yakni ketika aku memutuskan untuk berhijab. Sederhana saja, aku pikir sudah waktunya menjalankan apa yang Allah wajibkan sebelum semua terlambat. Alasan lainnya agar aku selalu ingat apa tujuanku hidup di dunia.

Dukungan dari Ibu juga memantapkan langkahku untuk mengambil beasiswa s2 instead of langsung kerja setelah lulus dari salah satu kampus negeri di Malang.

Pada saat yang sama, akhir tahun 2013 lebih tepatnya, aku bertemu dengan seorang lelaki yang impian-impiannya berhasil mencuri perhatianku.

Lelaki ini pernah menjadi kompetitorku dalam sebuah lomba di tahun 2011. Siapa sangka tahun 2013 lalu kami bertemu lagi dalam agenda kampus ke Hiroshima, Jepang. Selama kurun waktu itu, kami tidak pernah ada agenda bareng. Sesekali, dapat dihitung jari, kami diskusi perihal lomba. Itupun via chatting dunia maya. Tanpa basa basi, tanpa chat menye-menye. Setahun setelahnya, tanpa janjian juga, kami sama-sama mengambil beasiswa S2 di universitas favorit di Jogja. Atas izin Allah, kami berdua di terima di kampus impian.

Ah, Allah memang Maha Baik. Allah menjadikan Ibuku perantara agar aku memperbaiki diri dan menguatkan mental. Sebagai bonusnya, Allah pertemukan aku dengan lelaki salih bersamaan dengan aku bertaubat, memakai hijab, serta meninggalkan hobi dan pola pikir lamaku.

Ibu lah yang membantuku dan mendukungku untuk berhijrah, untuk menjadi perempuan saliha, serta mempersiapkan diri menjadi istri dan ibu yang baik bagi keluargaku kelak.

Takdir Allah sungguh baik. Empat tahun setelah pertemuan pertama kami, lelaki itu resmi menjadi suamiku.

Betul apa kata ibuku.

Lelaki yang baik akan datang seiring dengan perbaikan diri.


karena ibu, inspirasi muslimah, cerita inspiratif tentang ibu, cerita inspiratif tentang hijrah, cerita hijrah, kisah hijrah, kisah inspiratif, kisah move on, kompetisi blog saliha
14 Februari 2015


-----


Tulisan ini diikutkan dalam kompetisi blog yang diadakan oleh Saliha dengan tema "Karena Ibu"

#saliha #karenaibu #kompetisiblogsaliha





Follow me @nabilladp