Sabtu, 10 Maret 2018

,




Pengennya postingan ini aku buat dalam rangka menyambut international women day. Biar greget ya, kayak orang-orang yang mosting sesuatu di hari itu. Tapi apa daya aku tak mampu. Dan lagi-lagi aku bukanlah orang-orang kebanyakan. Jadilah aku baru bisa posting sekarang ini. 😉

Kapan hari aku sempat ngepost di instastory tentang postingan @blogsachi, isinya ini:
Source: instagram @blogsachi

Eh, setelah ngepost itu (dengan beberapa text semi-semi curhat) rupanya ada beberapa DM yang masuk dari teman dan saudara. Ada juga yang secara khusus request agar aku menulis tentang ini. So here I am.

Suka Duka Motherhood

Memasuki fase motherhood itu enak ga enak ya, kadang aku pribadi masih suka ngerasa jetlag. Ngerasa mumpung masih muda pengen kesana kemari, melakukan ini itu, yah intinya nurutin ego yang nggak ada habisnya. Tapi apa daya aku sudah punya buntut yang sebentar lagi dua, plus satu suami yang sukanya ngintilin aja. Kadang kalau lagi sambat atau mengeluh, aku ingat-ingat lagi alasan kuat atas keputusanku untuk menikah dan memiliki anak disaat teman-teman seumuranku lagi gencar mengejar karir dan asyik main-main. Yah memang disadari atau tidak, ketika kita masuk ke dunia seorang ibu, mendapat status baru dari amanah Allah, situasi bisa menjadi lebih rumit, atau bahkan lebih mudah.

Ada seorang ibu yang ada dalam kondisi dimana ia harus bekerja, sebab ia harus merangkap jadi seorang ayah untuk anaknya. Ada juga situasi yang justru memaksa ia di rumah. Semua itu bener-bener tergantung.

Tergantung apa?

Kita mundur sebentar, yuk. Saat hamil pun, satu perempuan itu bisa berbeda dari yang lainnya. Ada yang super kuat, hamil muda sampai tua masih bisa naik turun tangga bahkan masih nenenin satu orang anak. Ada yang biasa aja. Ada yang morning sick parah. Ada yang sakit-sakitan. Ada yang mudah capai dan mudah keguguran. Alasannya simple, kita tidak hamil atau mengandung sebuah mesin yang tanpa rasa, tanpa hormon. Kita mengandung calon manusia, calon pemimpin, yang Allah titipkan dengan DNA yang berbeda-beda. Lantas, masa’ mau disama-samain, sih?

Hanya karena kita tidak mengalami sesuatu yang orang lain alami, pantaskah kalau kita menghakimi?

Begitu si kecil hadir, kadang situasi menjadi rumit: supporting system nol, bayi mudah rewel, nggak bisa nyetok ASIP, budget nggak nutut untuk beli sufor, dan lain-lain.

Atau bisa jadi menjadi lebih mudah: supporting system oke, bayi anteng, manut, ASIP lancar, rezeki lancar.

Karena perbedaan-perbedaan itulah yang membuat perempuan akhirnya memilih berbagai jalan sesuai kondisi rumah tangga. Ingat, sesuai kondisi rumah tangga ya, jangan sesuai gengsi huhuhu.

Hey, Para Pejuang, Mari Saling Memahami

Sebelum para bunda memutuskan untuk resign dan memilih kerja di rumah, atau buru-buru memutuskan untuk langsung bekerja saja meninggalkan anak bersama eyangnya, ART, atau di daycare. Lihatlah kondisi rumah tangga masing-masing.

Pertama-tama, perlu banget aku garisbawahi disini, tidak ada satupun dari ketiga opsi diatas yang paling enak. Semua sama-sama punya plus, sama-sama punya minus. Nggak percaya? Nih bisa cek satu-satu gambar dibawah ini:

Suka Duka Ibu Bekerja di Kantor







Nah, itu diatas aku beri sedikit poin-poin tentang suka duka ibu yang bekerja di kantor. Eits, ini pandangan umum dan berdasarkan kisah teman-teman pribadi ya. Mungkin saja ada beberapa poin yang tidak seperti yang bunda rasakan. Mostly teman-teman aku yang sedari awal sudah mengejar karir, baik sebelum menikah atau setelah menikah, itu karena tuntutan finansial, dorongan orang tua, dan bahkan anjuran dari suami sendiri. Sebagian besar alasannya adalah finansial, beberapa alasan tentang pengamalan ilmu. Begitu sudah punya anak, tidak jarang pada mengeluh kangen, tidak bisa memantau tumbuh kembang anaknya dengan optimal, dan lain sebagainya. Tapi, plus nya pun banyak. Selain dari sisi finansial, aspek sosialisasi nggak bisa diremehkan. Salah satu cara agar kita nggak stres adalah dengan ngobrol sama teman, hang out, refreshing, dan umumnya itu bisa didapatkan di kantor.

Tips & Trick

1. manfaatkan waktu bersama anak sebaik mungkin. Salah satu kunci dari bonding adalah quality time. Kalau lagi main sama anak, usahain banget gadget ditaruh, tatap matanya, peluk, memahami apa kemauannya, nggak perlu buru-buru marah kalau ia melakukan kesalahan, dan lain sebagainya. Bonding itu proses, nggak bisa dibangun dalam satu malam. Berikan sentuhan lembut sama si kecil, tatapan sayang dan kepedulian, sampai si kecil sadar bahwa kita betul-betul mencintainya.

2. Luangkan waktu untuk menyelami dunia anak. Dalam kasusku, dulu saat aku kecil sebagai anak dari orang tua yang dua-duanya bekerja dan berjauhan, aku sering beda pendapat dengan beliau2. Aku bahkan pernah berpikir ayah tidak terlalu menyayangiku. Soalnya sering banget kami berantem karena beda pendapat, karena ayah yang jarang dengerin aku dan sangat sibuk. Intensitas kami untuk bertemu hanya dua minggu sekali. Akupun sering bengong kalau lihat teman-temanku sangat akrab dengan ayahnya, atau melihat ayahnya mau melakukan pekerjaan rumah. Dalam pandanganku saat itu, sangat aneh. Sebab ayahku nggak gitu. Belakangan setelah dewasa aku menyadari bahwa ayah punya cara lain dalam mencintaiku.

Nah, maksud ceritaku adalah, sebisa mungkin kita mencintai anak kita dengan cara yang diinginkannya. Tidak hanya memberikannya uang, memberikan semua fasilitas, tetapi juga memberikan satu hal yang paling berharga dari diri kita, yaitu waktu.

Tips mempererat bonding: bermain air, mandi bersama di sore hari atau pagi hari, pergi ke taman.

3. ajak ayah ikut serta. Kalau perlu, tegur dengan keras kalau mas suami nggak sungguh-sungguh ber-quality time sama anak. Sudah tau kan pentingnya peranan seorang ayah untuk anak laki-laki dan juga untuk anak perempuan? Jadi jangan diabaikan. Ingat, bikin berdua, mendidiknya pun berdua!

4. Pastikan supporting system mendukung. titipkan anak di orang yang amanah, misalnya orang tua, ART, atau daycare. Jika bunda termasuk orang yang punya prinsip-prinsip tertentu dalam mendidik anak, sampaikan kepada yang kita titipin. Misalnya: no gadget pada jam tertentu. Jadi kita bisa tenang meskipun meninggalkan anak saat kerja.

5. sampaikan pada anak mengenai pekerjaan bunda. Jangan kira anak kecil, bayi sekalipun, itu tidak bisa diajak komunikasi lho. Mungkin memang mereka belum bisa maksimal dalam komunikasi 2 arah, tetapi mereka bisa menangkap informasi dari kita. Aku terbiasa pamit sama Mahira kalau mau keluar atau ada acara tertentu di luar kota. Kalau aku nggak pamit, ujug-ujug keluar gitu, sudah pasti dia marah hehehe. Itu salah satu contoh anak itu paham banget lho dan bisa kita ajak mengerti kondisi. Ajak ngobrol kayak gini deh misalnya:

“Nak, besok bunda kerja boleh? Nanti adek di rumah sama eyang / mbak ya. Bunda kerjanya itu blablabla..” lanjutkan cerita. bangun interaksi sama si kecil.


Suka Duka Ibu Bekerja di Rumah 


Siapa yang termasuk kategori ini ya? Aku dong! Hahaha. Bunda yang bekerja di rumah ini misalnya saja bunda yang punya bisnis di rumah, researcher, freelance writer, dan lain sebagainya. Zaman sekarang tuh buanyak banget pekerjaan yang bisa dilakukan secara remote atau jarak jauh. Soal pendapatan memang beda-beda, tergantung. Prinsipnya sih sama, orang yang kerja di kantor juga kerja keras kan? Sama! Bunda yang kerja di rumah juga kerja keras banget biar penghasilan bisa sesuai harapan.

Tips & Trick

sama seperti ibu yang bekerja di kantor, bunda yang kerja di rumah pun butuh supporting system, misalnya ART. Kecuali kalau anak-anaknya udah gede ya, sudah sekolah, itu lumayan lah udah bisa leluasa. Tapi kalau toddler yang suka teriak-teriak, berlarian, banyak tanya, gemana coba.. hahaha *curhat* 😂

1. buat jadwal. berhubung kita ini nggak punya orang yang ngatur jadwal dan pekerjaan kita macam orang yang kerja i kantor, kita kudu jauh jauh jauh lebih disiplin. Hari apa aja kita kerja, jam berapa, apa yang dikerjakan, dan lain sebagainya. Sebagai contoh, aku biasa kerja sehabis subuh, pagi dari jam 8-9, sian hari dari jam 1-3, dan malam dari jam 8- selesai. Itu jamnya kadang bergantung sama tingkat kerewelan si kecil ya hahaha 😂

2. Kalau anak minta sesuatu, luangkanlah untuk bermain bersamanya. Kadang dia belum mengerti apa yang kita kerjakan, mungkin juga dia menganggap kalau bunda berada di rumah berarti siap bermain sama dia.

3. Minum vitamin, biar tetep sehat dan setrong!

4. Jangan lupa bahagia, tetap bersosialisasi. Eh eh eh, jangan dikira kita-kita yang kerja di rumah itu nggak stres lho. Justru stres itu bisa mudah banget datang, terutama jika supporting system buruk misalnya saja orang tua nggak setuju dengan pilihan kita, tetangga yang nggak berhenti nyinyir gegara kita gak kerja, sampai jarang sekali orang-orang baru yang bisa kita temui. Kadang di rumah serasa 4L: LU LAGI, LU LAGI. Kalau jarang sosialisasi, ngumpul, ketemu temen-temen , kebutuhan berbicara perempuan sebanyak 25.000 kata / hari nggak bisa tercukupi dong?

5. Cari suasana kerja di tempat lain. Agendakan aja seminggu sekali atau dua minggu sekali ke cafe atau perpustakan agar pikiran nggak penat.

Suka Duka Full time mother


Diantara berbagai pilihan, ada yang betul-betul memilih untuk full ngurus anak dan suami. Tidak semua perempuan yang menjalani hari-hari sebagai full time mother itu kondisi ekonominya baik, lho. Ada yang justru karena ia tidak mampu menyewa ART atau daycare. Ada juga yang sepenuh hati sebab inilah profesi impiannya. Intinya jangan berpikiran hanya ada alasan tunggal dibalik peran sebagai full time mother. 

Tips & trick


1. berkaryalah dengan si kecil. aku punya salah satu teman di jogja yang setiap postingan permainan sama anaknya sangat menginspirasi. Seusia Mahira, anaknya sudah bisa membedakan warna dan motorik halusnya menurutku sangat bagus, terutama jika aku bandingkan sama Mahira yang cenderung grusa-grusu hahaha 😂 Nah, bunda bisa banget utek-utek bikin permainan sama si kecil, makin menyenangkan kan!

2. sampaikan ke orang tua atau keluarga yang tidak setuju dengan pilihan kita, bahwa sekolah pertama seorang anak itu ya ibunya. Toh nanti kalau si kecil pintar, cerdas, dan saliha, ikut bangga juga kan?

3. Kompak sama suami. Bagi-bagi tugas sama suami, misalnya kalau weekend gantian dia yang momong, sementara bunda bisa nyalon (iih boro-boro ya 😂) atau sekedar mandi air hangat. Ah, itu udah mevvah banget lho!

4. Tetap jaga kadar waras, nggak perlu terlalu menuruti apa kata instagram atau mikirin kalimat orang lain. Tetap ngumpul sama ibu-ibu muda, atau teman-teman komunitas, atau main ke playground biar ketemu sesama ibu-ibu dan anak-anak, atau sesekali nonton film sama suami di malam hari.

Jangan buru-buru memutuskan


Beberapa teman curhat sama aku, bingung untuk resign, atau bingung juga apakah mau stay at home atau bekerja kantoran. Kalau ditanya begitu, aku tidak akan menyarankan salah satunya, misal: udahlah di rumah aja, atau udahlah resign aja. Nggak akan, insya Allah aku nggak akan bilang begitu sama siapapun yang minta saran ke aku. Sebab, akupun menjalani peran yang sekarang ini aku yakini sebagai kondisi yang sementara. Dan balik lagi ke prinsip diatas, semua tergantung kondisi rumah tangga masing-masing.

Talk to yourself, talk to your spouse.

Sedikit cerita, sekarang ini aku menjalani peran sebagai stay-creative-at-home-mom tersebab kondisi internal dan eksternal di keluargaku membuat hanya ini satu-satunya pilihan yang bisa aku jalani. Disisi lain akupun nggak banyak tertarik dengan pekerjaan kantoran di luar, opsi tunggal yang aku lirik hanyalah dosen, sementara orang tua ku nggak akan merestui kalau aku nggak ngajar di Malang. Nah, lho.. Makin susah kan, soalnya peluangnya makin sempit. Akhirnya aku putuskan untuk berkarya dari rumah, dengan peluang dan tantangan diatas.

Nah, kalau ada yang senasib seperti aku, atau malah sudah resign, atau mau resign, atau belum menikah dan sudah mulai merencanakan kegiatan di masa depan, aku punya beberapa saran sebagai berikut:

1. Komunikasikan dengan suami.

Ajak dia ngobrol sampai tuntas dan rinci, kalau dua-duanya sama-sama kerja gimana, kalau salah satu aja yang kerja juga gimana, resikonya apa, tantangannya apa, peluangnya apa. Kuncinya adalah suami istri satu frame. Ituh! *ala mario teguh*

2. Komunikasikan dengan orang tua.

Nggak semua orang tua itu bisa sepakat sama pilihan anaknya. Ada yang lingkungan keluarganya itu kekeuh gimanapun kondisinya harus kerja, ada juga yang malah kebalikannya yaitu mendingan di rumah saja. Meski wejangan orang tua perlu kita perhatikan, jika ada perbedaan pendapat tetap kita kembalikan ke rumah tangga inti yang terdiri dari istri, suami, dan anak. Sebab, tidak ada yang benar-benar tahu kondisi rumah tangga selain member keluarga itu sendiri.

3. Ketahui kebutuhan dan prioritas kita yang paling dasar.

Jika finansial keluarga betul-betul terancam dan mengharuskan suami istri harus kerja, ya bekerjalah. Kalau ingin membeli rumah seharga sekian ratus juta dalam waktu tertentu, sementara gaji suami belum memungkinkan, ya bekerjalah. Sebagai contoh, aku sama suami punya beberapa prinsip yang salah satunya adalah family sticks together. Jadi aku lebih memilih untuk mengalah, ngikutin dia nanti mau kemana, kuliah lagi atau enggak, dan lain sebagainya. Soalnya peran kami nggak bisa ditukar. Suamiku kan nggak punya rahim dan nggak punya ASI hahaha 😂😂


4. Semua punya plus minus.

Sudah baca gambar diatas kan? Nah yang kemarin-kemarin punya mindset berbeda, mungkin info ini bisa jadi tambahan wawasan. Nggak ada yang paling enak atau paling nggak enak. Sebelum memutuskan, pertimbangkan dengan matang dan penuh rasionalitas.

5. Bergabung di komunitas.

Salah satu keuntungan di komunitas itu adalah kita akan bertemu orang-orang yang senasib, tentu saja peluang support satu sama lain lebih mudah kita dapatkan. Misalnya, ada komunitas Mama Eping (Mama Eksklusif Pumping), komunitas khusus emak-emak bekerja yang anaknya dapat ASI dari hasil pumping, bukan dari direct breastfeeding. Atau KEB (Komunitas Emak-emak Blogger) dan Blogger Perempuan. itu komunitas keren tempat perempuan-perempuan menggali pundi-pundi emas dari rumah. Hehehe.

6. Tetaplah berkarya!

Apapun pilihanmu, berkarya itu nomor satu! Karya itu bisa jadi bikin printilan rumah, mempercantik rumah, bagi ibu-ibu rumah tangga, atau ngeblog seperti aku, atau bekerja, bikin paper, dan lain sebagainya. Kuncinya adalah kreatif. Kalau bunda memutuskan kerja di rumah, harus tau apa yang nantinya dikerjakan? ada bisnis keluarga? atau apa? Kebutuhan kita sebagai manusia untuk berkarya, memberi manfaat, bersosialisasi itu harus tetap terpenuhi, lho.

7. Bersyukur.

Remember: happiness is a state of mind

Waduh, jadi panjang ya hahaha semoga kicauan ini ada manfaatnya lah ya. Apapun status yang kita jalani sekarang, jalani lah dengan bahagia. Aku membayangkan kalau para perempuan saling mendukung dalam kebaikan, hmm bakal makin cantek nih dunia!


Sabtu, 03 Maret 2018

,



Bunda yang sebentar lagi memasuki usia MPASI pasti galau. Iya ndak?

Gemana endak.. masih mikir menu, mikir perkakas dan biayanya, mikir kalau GTM gimana, dan lain-lain. Eum, sebetulnya lho ya, perkakas mpasi itu nggak mahal kok. Memang kadang kita pengeen banget bisa terbantu dengan teknologi peralatan yang mendukung pertumbuhan si kecil. Atau malah kepengeen banget beli perkakas yang ngehits di instagram (lagi-lagi instagram!). Tapi, bagaimanapun sebagai mentri keuangan di rumah, tentu saja tetap harus menyesuaikan budget.

Jika budget lagi mepet, berbagai perkakas ini sudah sangat cukup membantu kok. Apa aja, keep scrolling yaa:

1. Parutan
Parutan ini akan sangat berfungsi di awal mpasi, sebab baby masih berproses dengan tekstur makanan yang lembut. Jangan lupa sediakan parutan yang khusus dipakai untuk mpasi nya si kecil aja ya. kalau bisa, pisau, telenan, dan perkakas lain pun juga dipisah.

2. Dandang
Atau bisa juga disebut kukusan. Sudah tahu kan, bahwa mengukus makanan itu adalah proses terbaik ketimbang menggoreng ataupun merebus? Sebab, vitamin dan nutrisi lain yang hilang jauh lebih sedikit. Biasanya, setelah bahan-bahan di kukus, langsung dipenyet-penyet pake…

3. Saringan
Sediakan saringan khusus dengan lubang yang rapat-sedang. Aku sempat beli saringan di toko deket rumah, murah ga sampe 10 ribu. Eeh 2x pake udah karatan, trus lubangnya terlalu rapat jadi makanan terlalu lembut plus susah dibersihkan. Belilah di mart-mart besar semacam jayen, haiper.. dan lain lain.

4. Botol asip atau plastik untuk wadah kaldu
Kalau lihat tutorial makmak yang bikin kaldu, selesai bikin di taruh di semacam kotak block kecil-kecil gitu yang ada tutupnya. Pas aku cek di shopee (tau kan alasan aku belanja disini..) harganya 40 ribuan. Eemmm… Jadilah aku akalin pakai plastik cetikan obat (pokoknya bunyi cethik) dan aku masukkan ke tupperware. Cuman, ndak enaknya berpotensi bocor kalau naruhnya terlalu rapat, jadi kalau bisa naruhnya disekat-sekat gitu ya.. biar mudah ambilnya plus dilapisin alumunium foil. Alternatif lain bisa pakai botol asip yang 50 cc atau pakai plastik asip. Aku sempat pakai plastik asip salah satu brand, kebetulan stok ku banyak karna aku belinya pas lagi promo.

5. Teflon kecil
Berfungsi untuk numis, kali aja anak-anaknya bunda kayak anakku yang mudah bosen sama makanan kukusan hehehe. Lengkapi juga dengan suthil kecil ya.. kalau aku biasanya pake enthong yang biasa dipakai ambil nasi itu.

6. Cobek kecil
Berfungsi untuk nguleg bumbu makanannya si kecil. Sekali lagi, siapa tau anaknya bunda sekalian kayak Mahira yang sukanya makanan dengan bumbu komplit, wangi, dan lezat.

7. Siapkan kaldu, EVOO, dan unsalted butter
Kaldu fungsinya bikin masakan makin sedap. EVOO (extra virgin olive oil, minyak zaitun dengan kualitas terbaik) sebagai tambahan lemak, dia lebih baik digunakan setelah makanan matang, dicampurkan gitu ke makanannya.  Nah kalau ELOO (extra light olive oil) berfungsi sebagai pengganti minyak goreng kelapa sawit. Harganya? Agak pricy, tapi ya wajar karena kandungannya yang lebih bagus. Aku dulu juga bertanya-tanya, kenapa nggak pake minyak goreng aja? Sebetulnya boleh kok.. tapi emang lebih baik pakai zaitun.  Aku juga ikutan lho.. tapi sampai beberapa bulan saja. EVOO ku yang botol kecil itu juga cuma berkurang separuh, gegara ditgur dokter Dini. Beliau bilang, nggak usah dikasih evoo, rasanya kan nggak enak kasian anakmu. Beliau saranin, kasih makanan yang enak lezat, tambahan lemak bisa yang lain kayak UB (unsalted butter) atau santan, dan lain sebagainya.

8. Blender kecil
Kalau ibu-ibu punya blender Maspion yang 3in1 itu, pasti disana ada blender yang kecil juga kan. Nah, blender kecil itu bisa dipakai untuk melembutkan daging ayam, udang, sapi, untuk dijadikan bakso. Hindari melembutkan makanan yang siap makan pakai blender ya, soalnya akan merusak vitamin dan mengubah tekstur makanan. Melembutkannya pakai saringan aja.

Nah itu tadi beberapa perkakas untuk emakemak medhit dan irit.😂😁 Semoga membantu dalam menyelamatkan dompet keluarga ya 😆

Follow me @nabilladp