Jumat, 06 Juli 2018

Review Dokter Anak di Surabaya dan Sidoarjo


review dokter anak di sidoarjo, review dokter dini surabaya, review dokter subijanto surabaya, review dokter anak subijanto, review dokter rizal altway, review dokter rizal altway surabaya, review dokter anak yang bagus di surabaya, dokter anak yang bagus di surabaya, dokter anak pro asi surabaya, review dokter anak di surabaya


Sebagai warga awam, bukan seorang mahasiswa kedokteran, serta punya nilai yang jeblok di bidang ilmu eksak, membuat aku menjadi amat sangat selektif dalam menyeleksi dokter langganan. Baik itu dokter umum, dokter SpOG, dokter gigi, hingga dokter anak. Hm.. apalagi buat anak, kok cobak-cobaaak.

Selayaknya jurusan lain, meskipun dokter merupakan profesi yang sangat mulia, penuh misi kemanusiaan dan berkaitan dengan nyawa manusia, tetap saja ada segelintir oknum dokter yang nakal. Banyak to beritanya? Mulai dari yang ngasih vaksin palsu, ada yang menuruti “papah” untuk berpura-pura sakit, menjadi “tim marketing” produk susu, dan lain sebagainya. Satu yang aku tau, sumpah dokter yang pertama berbunyi “do no harm”, aku yakin dokter yang baik akan dengan senang hati meng-upgrade wawasan serta berhati-hati dalam memberikan diagnosa, obat, vitamin, susu, dan apapun ke pasiennya karena menjunjung tinggi prinsip “do no harm” ini.


Nah, saat pindah ke Sidoarjo, aku juga googling dan tanya sana sini mengenai referensi dokter anak yang ciamik. Sebab, dokter anak ini akan menangani anakku dari awal brojol ceprot sampai besar nanti. Alhamdulillah aku langsung berjodoh sama Dokter Dini di rumah sakit yang seprinsip pula. Jadi kalau ada apa-apa, aku pasti prioritasin ke beliau. Kalau misalnya beliau berhalangan atau aku yang ada kendala lain, baru aku cari opsi lain. Beberapa dokter anak yang pernah ku temui, akan aku ulas dibawah ini ya. Semoga bermanfaat!


Pertama, Dokter Dini Adityarini

Eum, masa mau dibahas lagi ya? Wekekek. Aku sudah pernah mengulas satu postingan khusus yang rupanya cukup rame dan banyak dicari orang via Google. Menurutku, beliau sangat ideal buatku dan aku yakin buat para orang tua lain yang memiliki prinsip sama. Beliau seorang muslimah, rajin ikut konferensi dan acara apapun di tingkat internasional yang berkaitan dengan ASI. Beliau punya website pribadi dan coba intip instagramnya, wes lah pasti beliau notok jedok amat sangat pro ASI.

Ke-pro-an beliau ini tidak hanya sebatas, “anaknya diberi ASI saja ya bu,” tetapi juga dari segi support dan edukasi ke pasiennya. Karena aku lumayan sering dicurhatin beberapa teman tentang kegalauan menyusui, aku jadi bisa lihat pola problematika ibu-ibu menyusui kebanyakan. Mulai dari bagaimana perjuangannya dan alasan-alasan menyerah. Apalagi beliau seorang dokter bertahun-tahun, pasti sudah lebih jeli membaca pola penyebab emak-emak modern kesulitan mengASIhi. Ketika ada seorang pasien yang mengeluh ASI nya tidak banyak atau tidak cukup, beliau nggak akan tuh langsung, “kasih sufor saja” seperti dokter anak kebanyakan. Alih-alih begitu, dokter Dini akan memeriksa dulu, problemnya apa? Pasien bakal ditanyain macem-macem soal pelekatan, soal makanan, hingga kadar stres, sebagaimana pertanyaan yang pernah ditujukan kepadaku di postingan ini.

review dokter anak di sidoarjo, review dokter dini surabaya, review dokter subijanto surabaya, review dokter anak subijanto, review dokter rizal altway, review dokter rizal altway surabaya, review dokter anak yang bagus di surabaya, dokter anak yang bagus di surabaya, dokter anak pro asi surabaya, review dokter anak di surabaya
Ilustrasi ASI (source: freepik.com)

Kalau problemnya keliatan, beliau bakal kasih solusi tepat. Misal: relaktasi, belajar pelekatan, menemui konselor, hingga memberi vitamin jika memang diperlukan.

Mengenai pemberian obat-obatan, beliau juga cukup hati-hati. Ga akan dikit-dikit antibiotik, jadi pasti dikasih kalau betul-betul butuh. Kalau sudah jadi pasien beliau, insya Allah beliau juga bisa dikontak via whatsapp kalau ingin tanya-tanya receh hehehe.

Kekurangannya apa? Antrian! Ini menjadi resiko sih ya, dokter yang komunikatif cenderung menghabiskan waktu yang cukup lama dengan pasien. Satu pasien bisa 10 menit, atau bahkan 20 menit lebih tergantung kebutuhannya, dan dokter Dini memberikan kelonggaran berkonsultasi bagi para pasiennya. Ku dengar dokter yang juga seperti ini di RSIA Kendangsari adalah Dokter Diana, denger-denger antriannya lebih panjang. Dulu saat di dokter Enny SpOG, sama juga sih, ngantrinya lamaaa. Tapi betul-betul puas, bisa konsultasi sesuai kebutuhan. Biar gak ngantri kelamaan, tipsnya begini nih:

  1. Reservasi dokter beberapa hari sebelumnya, kalau lagi ndak rame, 1 hari sebelumnya pun bisa kok.
  2. Ambil nomor antrian saat hari kontrol. Setauku RSIA Kendangsari membuka pengambilan nomor antrian mulai dari jam 6 atau 7 pagi (coba tanya lagi yes wehehe). Nah, pas ambil nomor antrian ini sekalian bayar. Dijamin, dapetnya nomor yang awal-awal.
  3. Kalau udah dapet nomor antrian, pulang deh. Atau lanjut kerja.
  4. Nanti dekat-dekat jam praktik, coba telpon dulu, dokternya sudah datang atau belum, ada info keterlambatan atau tidak. Jadi kita tidak menunggu terlalu lama dan mati gaya di rumah sakit.

Biaya periksa di RSIA Kendangsari dengan dokter Dini seingatku sekitar RP 165.000 , itu sudah termasuk biaya rawat jalan dan belum termasuk obat serta vitamin (jika diperlukan). Harga ini, dengan layanan dan kelebihannya, menurutku cukup murah dan worthy banget jika ku bandingkan dengan DSA ternama di Kota Malang.

Kedua, Dokter Bagas

Aku memeriksakan Mahira ke beliau pasti kalau Mahira lagi sakit. Soalnya, beliau satu-satunya dokter yang praktik di hari Minggu di RSIA Kendangsari. Kalau mendadak sakit, naaah ku bawa ke dokter Bagas deh. Meskipun laki-laki, beliau juga ramaah sekali, gak ada muka maupun intonasi serem. Dalam memberikan obat pun hati-hati. Insya Allah juga pro ASI.

Saat sembelit, beliau juga yang pertama saranin untuk stop bubur instan. Kemudian menjelaskan bahwa bubur instan bisa jadi memiliki kandungan sufor dan zat besi yang angka atau kandungannya nggak compatible sama perut Mahira. Beliau ngasih resep vitamin yang sama kayak dikasih dokter Dini beberapa hari setelahnya.


Ketiga, Dokter Subijanto

Beliau ini setauku adalah dokter senior di Surabaya, udah profesor euy. Pertemuanku dengan beliau dijembatani oleh Google, gegara waktu itu aku mencari dokter spesialis pencernaan anak untuk sembelitnya Mahira yang gak sembuh-sembuh. Googlingku saat itu menghasilkan beberapa nama, dan dari semua nama yang aku hubungi baik itu nomor praktik di rumah maupun di Rumah Sakit tempat dokternya praktik, hanya Prof. Subijanto ini yang bisa ditelp. Karena sembelit Mahira gak kunjung sembuh, aku, suami, dan ibuku sepakat untuk mencari opini alternatif. Ke dokter Subijanto ini juga merupakan jalan tengah, karena ibu tidak sepakat kalau Mahira ku bawa ke dokter spesialis pencernaan anak di Kota Malang (Dokter Rio) yang menjadi rekomendasi beberapa teman. Akupun tidak sepakat dengan dokter pilihan Ibu yang hanya info dari teman-teman dekatnya, apalagi dokter pilihan ibu itu dokter anak biasa (aku carinya yang spesialis pencernaan anak) dan ratingnya di Google tidak terlalu bagus.

Dokter Subijanto ini praktik di daerah Dukuh Kupang, aku nemu alamatnya di halamanini. Tidak sulit dicari dengan mengandalkan Google Maps. Saat aku kesana, beliau praktik di kawasan perumahan gitu dan antriannya cukup panjang. Susternya laki-laki, sistem pendaftaran dan antriannya masih manual. Terdapat apotek pribadi juga di tempat praktiknya.

Tarif beliau? Cukup mahal. Seingatku sekitar 200 sampai 250 ribu dan yang agak aneh, pembayaran dilakukan di meja dokter, bukan di kasir. Yang nulis kwitansinya pun juga langsung dari pak dokter, hehehe. Untuk diagnosanya, menurutku cukup baik. Beliau mengatakan bahwa kasus sembelit parah sampai keluar bintil seperti yang dialami Mahira itu cukup lazim. Beliau juga meyakinkan bahwa bintil itu nanti akan sembuh sendiri, dan bukan termasuk ambeien seperti yang aku khawatirkan sebelumnya. Tapi beliau tidak terlalu transparan dengan obat yang diberikan.

Saat itu, Mahira diberi vitamin yang super mahal, 200ribuan isi 5ml  yang katanya membantu mempercepat proses pelunakan feces. Kemudian beliau juga ngasih salep yang sama persis kayak yang dikasih dokter Dini, plus obat dalam bentuk puyer yang aku nggak tau itu isinya apa. Gongnya adalah saat beliau menyarankan aku untuk mengonsumsi susu formula merk tertentu (asli, aku sudah lupa merknya, tapi seingatku harganya cukup mahal dan tidak bisa dibeli di toko umum). Beliau mengatakan, susu formula merk itu bisa membantu anak agar lebih cepat gendut dan mengatasi sembelitnya. Dua hal ini sangat berseberangan dengan apa yang aku pelajari dari text book maupun diskusi dengan DSA. Pertama, anak gendut tidak berarti anak sehat. Kedua, bukankah kandungan dalam sufor yang membuat Mahira sembelit parah gini, lha kok ini malah dianjurkan??
 
review dokter anak di sidoarjo, review dokter dini surabaya, review dokter subijanto surabaya, review dokter anak subijanto, review dokter rizal altway, review dokter rizal altway surabaya, review dokter anak yang bagus di surabaya, dokter anak yang bagus di surabaya, dokter anak pro asi surabaya, review dokter anak di surabaya
Ilustrasi sufor (freepik.com)
Aku bahkan sempat bertanya beberapa kali, saking nggak percaya dengan ucapan beliau barusan. “Eee..dokter, ngapunten, kalau minum sufor bukankah malah beresiko membuat sembelitnya makin parah?”

Beliau menjawab, “susu yang ini tidak membuat sembelitnya parah.” Begitu ujar beliau, singkat, padat. Aku juga disuruh kontrol lagi jika obatnya sudah habis. Tapi mengingat harga yang cukup mahal, anjuran kuat untuk sufor, serta resep obat yang tidak berbeda jauh dengan yang diresepin dokter Dini, aku memilih untuk tidak kembali. Cukup sekali wehehehe!


Keempat, Dokter Rizal Altway

Salah satu hal yang membuat aku datang ke beliau adalah beliau praktik di dekat rumah dan punya reputasi yang bagus di forum emak-emak yang aku temukan di Google (gugel lagi gugel lagi 😁). Akhirnya ku coba deh ke beliau pas Mahira sakit batpil.

Dan ternyata waah, beliau arab! Wahaha sebetulnya aku biasa aja sih, tapi ibuku yang ngajak gosip duluan. “Eh, dokternya arab tibak'e yo..” wakakak sumpah gak penting-penting amat. Tapi dokter Rizal ini ramah sekali dan energinya positif. Mahira nangis pun beliau santai aja sambil ngeresepin obat yang diperlukan dan mengedukasi sedikit mengenai sakitnya Mahira.

Beliau praktik di Rewwin (kalau nggak Gading medika ya Citra Medika) kayaknya sih sekarang dah pindah-pindah gitu. Coba aja googling dan telp klinik yang muncul di Google, tanyain aja apa dokter Rizal masih praktik dan jam berapa praktiknya.

UPDATE! Dokter Rizal Altway (info september 2018) praktik malam di Apotek Kimia Farma Wedoro. Googling aja untuk mencari tahu telp dan jadwalnya, seingatku beliau praktik malam hari jam 19.30 - 21.00 setiap senin-jumat.  Ada info juga kalau beliau juga praktik di RSUD Sidoarjo.

Untuk harga, seingatku tidak terlalu mahal. Dibawah tarif dokter Dini di RSIA Kendangsari. Mungkin karena beliau praktik di klinik ya, ku lihat kebanyakan pasiennya pun kalangan menengah ke bawah.

review dokter anak di sidoarjo, review dokter dini surabaya, review dokter subijanto surabaya, review dokter anak subijanto, review dokter rizal altway, review dokter rizal altway surabaya, review dokter anak yang bagus di surabaya, dokter anak yang bagus di surabaya, dokter anak pro asi surabaya, review dokter anak di surabaya

Nah, cukup 4 aja ya, soalnya aku memang hanya punya pengalaman berkunjung ke dokter-dokter di atas wehehe. Semoga ulasanku ini membantu para bunda yang sedang mencari dokter anak terbaik di Surabaya dan Sidoarjo yah :)

8 komentar:

  1. Biasanya aku di Dokter anak di RS Muhamadiyah Ampel, lupa namanya siapa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. waah jauh dari rumah mbaa weheheh semoga sehat terus anaknya mba :D

      Hapus
  2. wah jadi pengen review DSA di kota ku juga mba hehehe makasih mba inspirasinya hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. cuss mbak hervaa.. pasti banyak yang butuh tuh :D

      Hapus
  3. Aaahhh ngomongin DSA bikin saya sujud syukur, sudah 2 tahunan gak dipusingin lagi oleh mereka.

    Anak pertama saya tuh, masha Allaaaaahh..
    Rajin amat ngajak ke DSA.
    Sejak bayi merah sudah langganan DSA.
    Puncaknya sampai ke profesor dan di over diagnosa sampai minum antibiotik berlapis.

    SSungguh pengen memaki saja dan rasanya hilang sudah kepercayaan saya terhadap ilmu kedokteran anak.

    Alhamdulillah, sejak saya mutusin jadi IRT si kakak jadi jarang ngedate ama DSA.

    Dan setelah pupua bayi lagi, saya bertekat untuk GADDD aliae Gerakan Anti Dkit Dikit Dokter.
    Alhamdulillah sujud syukur Allah selalu memberikan nikmat sehat kepada anak-anak.
    Kalaupun sakit batpil, saya terapi sendiri dengan gendong dan sabar saja dulu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah mba semoga sehat selalu untuk anak-anaknya. memang zaman sekarang kudu selektif mba milih DSA, gak yang dikit2 AB dan obat :D

      Hapus
  4. paling suka sama dokter anak yang bisa diajak diskusi masalah sakitnya anak

    BalasHapus

Follow me @nabilladp