Ikhtiar Mencari Dokter Anak Subspesialis Nutrisi di Surabaya

Januari 13, 2020


dokter subspesialis nutrisi anak surabaya, dokter spesialis anak di surabaya, review dokter boerhan hidayat, dokter spesialis nutrisi anak surabaya, dokter spesialis gizi anak surabaya


Aku sempat cerita di postingan sebelumnya bahwaanak keduaku mengalami anemia. Di satu sisi, kondisi ini sangat mengesalkan dan menuntut kesabaran berbulan-bulan. Di sisi lain, aku jadi belajar hal baru yang bahkan belum aku pahami dengan bain meski telah menjadi ibu sebelumnya.

Memang benar ya, setiap ajak ada cobaannya. Setiap anak, menjadikan kita ibu yang baru dan berbeda.

Karena sakit anemia ini, aku jadi belajar sedikit-sedikit tentang gizi, konsep makanan, dan kebutuhan harian anak. Aku putuskan untuk mencari dokter spesialis gizi anak di surabaya. Upayaku ini memang sebagai second opinion karena aku kurang sabar dengan ikhtiar yang disarankan Dokter Dini. Aku ingin mendengar pendapat dari dokter lain saja.


Dokter spesialis nutrisi yang susah ditemui

Nah, ternyata, mencari dokter subspesialis nutrisi di surabaya juga sangat menantang. Setahuku ada 5, yakni Dokter Meta Hanindita, Dokter Boerhan Hidayat, Dokter Subijanto, Dokter Nur Aisyah Wijaya (dokter Nuril) yang praktik di RS Husada Utama, dan Dokter Nurul Hidayati yang praktik di RSIA Putri.

Yang pertama, Dokter Meta, jelas nggak bisa. Antrian pasien baru sangat panjang, konon katanya sampai 6 bulan. Ada dokter lain yang juga ramai dan available yakni Dokter Nuril, tapi beliau masih haji pada saat itu dan untuk pasien baru, bisa dapat nomor sekitar Oktober. Saat itu aku mencari bulan Agustusan lah ya. 

Kemudian, Prof Subijanto, aku tidak tertarik. Pengalamanku ke beliau pernah aku ceritakan di sini. Nah, yang aneh tuh dokter Nurul Hidayati yang praktik di RSIA Putri. Aku sudah mengecek bolak-balik bahwa beliau memiliki gelar konsultan (K), salah satunya ada di halaman dari IDAI ini bahwa beliau konsultan subspesialis nutrisi. Namun, RSIA Putri mengatakan bahwa beliau tidak menerima pasien yang mau konsultasi karena beliau belum punya izin untuk konsultasi. Hanya periksa dan vaksin saja. Kalau pun nanti ujug-ujug konsultasi gizi, bakal dibalikin duitnya dan tidak dilayani.

Kan aneh.. aku bingung dan agak kesal, jujur saja. Apa mungkin beliau kewalahan karena mulai banyak orang tua yang sadar tentang gizi anak?

Akhirnya mau nggak mau, aku ke Prof Boerhan Hidayat yang paling mudah dihubungi san antriannya nggak panjang.


Periksa Perdana ke Dokter Boerhan Hidayat

Sebetulnya aku agak ragu, sebab ada teman yang sudah ke sana dan ujug-ujug diresepin sufor tanpa pemeriksaan yang jelas. Temanku ini aktif nanya juga tidak diedukasi dengan baik tentang kondisi anaknya.

Aku juga jadi khawatir, kan.

Begini, aku harus katakan terlebih dahulu bahwa aku nggak anti banget sama sufor. Tapi, memang aku sangat berhati-hati dengan pemberian sufor untuk anakku. Pertama, pemberian susu substitusi (susu apapun selain ASI) harus dengan resep dan petunjuk dokter. Kedua, 3 dokter SpOG yang pernah memeriksaku dan aku datangi untuk konsultasi tentang riwayat alergiku menyarankan agar aku tidak memberi sufor ke anak agar tidak memicu reaksi alergi di mereka. Dokter Indra Yul mengatakan apabila salah satu orang tua tidak memiliki alergi, potensi alergi itu untuk menurun sebesar 25%. Kalau keduanya punya alergi yang sama, potensi menurunnya jadi lebih besar. Untuk meminimalisasi, diusahakan banget untuk ASI eksklusif dan ikutin lah petunjuk sesuai saran dokter dan anjuran WHO, plus, menghindari pemberian sufor. Saat hamil pun, aku dilarang minum susu hamil agar alergiku nggak parah kumatnya.

Dari sini aku tahu bahwa sufor bisa memicu berbagai reaksi alergi daaan.. alergiku ini ada banyak! Bawaan dari ayahku, karena dulu saat bayi aku minum sufor. Terkadang, alergi-alergiku ini cukup menyiksa kalau lagi kumat. Apalagi waktu hamil, duh, gaenak banget dah yang sesak, bentol-bentol.

Aku nggak kepengen anak-anakku kena alergi dari aku juga. Makanya ketika Mahira kecolongan aku beri mpasi instan yang ada susu bubuk dan menyebabkan dia sembelit, aku jadi extra hati-hati memberi bahan-bahan makanan yang ada susunya ke anak-anakku. Makanya aku tuh cocok banget sama Dokter Dini karena beliau sangat hati-hati dan nggak melihat sufor sebagai opsi utama untuk anak.

Oke balik lagi ke Dokter Boerhan.

Sebelum berangkat, aku sudah bilang ke suami bahwa mungkin kita akan diresepin sufor. Kita dengarkan saja dulu apa kata beliau. Kami sepakat, kalau memang Laiqa butuh, ya gapapa. Kami cuma ingin dengar pendapat beliau tentang anemianya Laiqa dan gimana ngatasinya.

Tidak susah membuat janji dengan beliau. Cukup telp ke nomor yang tertera di Google Bussinessnya dan kita tinggal datang sesuai jam praktek. Tidak ada nomor antrian, pasiennya juga tidak terlalu banyak. Kita masuk sesuai kedatangan. Cuma, memang agak susah cari lokasinya. Aku hanya bermodal google maps aja nih, trus nanya-nanya orang sekitar karena nggak ada plangnya. Lokasi praktik yang sepertinya juga rumah beliau ternyata di seberang Circle K dan agak gelap. Rumah beliau bergaya jawa, banyak tanaman di depan dan karena aku ke sana pada malam hari, agak gelap suasananya. 

Beliau punya satu perawat laki-laki yang akan menanyai kebutuhan kita ke dokter. Untuk pasien baru, akan diminta data-data dasar bayi lalu diberi kartu berwarna pink.

Aku hanya menunggu 2 pasien. Ketika dipanggil, dokter Boerhan menanyai keluhanku. Aku ceritakan secara singkat tentang nafsu makan dan anemia, dua problem utamaku pada Laiqa. Anemia pada bayi memang menyebalkan, siklusnya mirip lingkaran setan. Bayi yang anemia, jadi gak nafsu makan, lesu. Kalo gak nafsu makan, BB naik darimana? Selain itu, defisit zat besi juga jadi penyebab berat badan bayi susah naik. 

Beliau terlihat care dan berusaha mengakrabi dan ramah dengan bayi. Beliau juga langsung memintaku untuk melepas seluruh baju dan diapers Laiqa. Harus telanjang bulat untuk mengukur tinggi dan berat badannya. Kemudian, dia diperiksa sebentar. Kebetulan pada saat itu Laiqa agak flu, tapi nggak parah. Dokter Boerhan melihat ada kemerahan di tenggorokannya. Kemudian beliau menanyakan, apakah aku punya alergi, apakah kakaknya juga dulunya ada keluhan yang sama.

Hasil akhirnya, beliau menyimpulkan bahwa Laiqa ini alergi. Jujur saja aku kaget, ini di luar dugaanku. Alergi apa?? Banyak banget! Laiqa dilarang makan ayam dan turunannya, protein hewani hanya boleh ikan laut dan hewan berkaki empat. Sayuran tidak boleh, tomat, buah juga hanya alpukat dan apa gitu lah aku lupa, pokoknya selain dua buah itu tidak boleh! Telur dan turunannya juga gak boleh! Sungguh aku merasa didorong dari lantai 7! Selama ini makanan yang Laiqa doyan mostly mengandung telur: naget ayam, telur kukus, dan lain-lain. 

Kemudian, beliau memintaku untuk memberi Laiqa susu untuk mengatrol BB-nya. Aku bertanya, bagaimana jika alerginya terpicu, dok? Beliau menjawab, susu ini tidak memicu alergi. Beliau menyarankan merk pregestimil dan apalagi yaa aku lupa, atau susu soya.

Bagaimana dengan anemianya Laiqa?? Saat aku sodorkan hasil lab, beliau nggak mau baca. Pegang aja nggak mau. Beliau bilang, nggak usah di cek darah anaknya, kasian ntar trauma. Kemudian beliau nggak menanggapi apapun ketika aku mengatakan Laiqa ini anemia dan bahkan mungkin termasuk ADB. 

Hal lain yang bikin sedih, aku pun harus diet! Alamaak… trus aku makan apaa???

Aku nangis loh begitu sampai rumah. Stres berat dan makin uring-uringan ketika Laiqa gak mau makan. Aku sampai marah-marah ke bayi kecilku yang malang huhu maafin bunda ya, Nak.



Akhirnya….

Dokter Boerhan juga sempat mengatakan bahwa Laiqa sedang berada di fase faltering growth atau pertumbuhannya yang keliru. Dibilang begini aku sungguh khawatir. 

Aku balik lagi ke Dokter Dini dan menceritakan pengalamanku mencari second opinion. Niatku awal ke Dokter Boerhan ini kan untuk cari pandangan dan opsi pengobatan lain untuk anemianya Laiqa. Malah aku dapat masalah baru: isu alergi.

Terkait isu alergi ini, Dokter Dini nggak sepakat. Menurut beliau, Laiqa gak alergi apa-apa. Menurutku juga begituuuuu! Saat diperiksa, Laiqa memang sedang flu. Ini dia repotnya, anak yang anemia memang mudah kena sakit karena imunnya lemah. Jadi Laiqa gampang banget flu, mungkin karena tertular orang rumah atau karena debu. Dokter Dini juga tidak mengatakan bahwa Laiqa faltering growth, tetapi memang pertumbuhannya harus dipantau tiap bulan.

Setelah berobat ke dokter Dini dan obatnya habis, flu Laiqa nggak kunjung mereda. Aku ke Dokter Rizal Altway, langganan juga yang di dekat rumah. Aku konsultasikan juga perihal anemianya Laiqa. Beliau mengatakan yang intinya 3 hal: pertumbuhan Laiqa masih normal dan hanya perlu dipantau, ada fase dimana anak kerap menolak makan, tidak perlu susu formula cukup makannya aja digenjot, dan yang terakhir bersabar dengan anemianya. Karena terapi zat besi memang sangat lama.

Lucunya, ternyata Laiqa gak nafsu makan memang karena flu. Tenggorokannya merah dan membuatnya malas menelan. Begitu sembuh, nafsu makannya balik lagi!

Nah, sekarang ketika Laiqa sudah normal lagi kadar zat besinya, nafsu makannya relatif stabil. Aku pun akhirnya memberi sufor namun tidak setiap hari dan tidak dengan porsi yang besar, setelah melakukan berbagai observasi dan pertimbangan. Pada bulan November 2019 lalu, aku sempat mengikuti acara privat bersama Dokter Tiwi. Beliau juga memberiku opsi, untuk menaikkan berat badan anak MPASInya harus daging 100 gram blablabla intinya dah paham lah. Masalahnya Laiqa gak sepintar itu makannya. Beliau kemudian memberi saran lagi berupa susu formula, tapi, susu formula yang disarankan berbeda dengan Dokter Boerhan. 

"Jangan soya dan pregistimil.. ngapain, emang anakmu alergi?" Beliau memandang keheranan karena dari tampilan sekilas saja, Laiqa memang tidak alergi. Begitupun ketika diperiksa Dokter Dini. 

Setelah aku coba diskusi dengan teman-teman yang pernah periksa ke Dokter Boerhan, rupanya polanya cenderung sama: mengatakan anak alergi dan diberi susu. Temanku yang pertama katanya memang sudah ke beberapa dokter dan anaknya memang alergi. Sementara temanku yang kedua, sama seperti aku. Setelah dicek ke dokter lain, ternyata masalah anaknya susah naik BB adalah karena ISK dan anemia.

Sekali lagi, sebetulnya ya nggak papa lho kalau memang harus susu atau kalau memang beneran alergi. Tetapi, yang membuat aku ragu adalah tidak tampaknya reaksi alergi di Laiqa (dokter langganan juga bilang enggak) dan beliau yang tidak mau membuka mata tentang anemianya Laiqa. 

Yaah.. gitu deh ikhtiarku ke dokter subspesialis nutrisi di Surabaya. Nggak bisa kukatakan cukup memuaskan dan mengedukasi kami sebagai orang tua, pada akhirnya aku malah makin stres hahaha. Yaa.. namanya juga ikhtiar yaa. Sekarang alhamdulillah perkembangan Laiqa perlahan membaik setelah kadar HBnya cukup dan aku pada akhirnya menerapkan pola yang "kuracik" sendiri.

What can I say? Mommy knows best!





You Might Also Like

0 komentar