Honest Review: Mengatasi Jerawat Pakai Erha Skin Care Dalam 4 Bulan

review krim erha



Hai, Buibu. Kali ini aku langsung aja ya, mau ngasih ulasan tentang pemakaian skin care Erha. Anyway, sebelumnya aku mau cerita sedikit kenapa aku pilih Erha. Dulu, sejak tahun 2011 sampai pertengahan tahun 2015, aku pakainya Natasha. Karena hamil, aku lepas krim Natasha dan hanya pakai skin care biasa yang aku tebak-tebak sendiri sesuai jenis kulitku.


Kemudian, aku sempat diajak kerjasama oleh Erha untuk nge-review Erha Truwhite Activator C Serum plus daycream-nya dan kerjasama kedua adalah aku diminta untuk datang ke Klinik Erha di Surabaya untuk melakukan treatment Truwhite Ultimate Radiance. Dari situ, aku kepincut. Karena memang produknya bagus dan cukup friendly untuk busui. Selama pemakaian truwhite series, terbukti bahwa ada peningkatan tone kulit wajah. Namun, meskipun aku suka banget sama Truwhite C Serum, sayangnya kulit wajahku menunjukkan tanda-tanda yang kurang bersahabat. Akibatnya, setelah pakai sempat muncul 1-2 jerawat gitu. Setelah aku konsultasikan ke dokter di Erha, rupanya kulitku yang kombinasi ini, memang kurang cocok pakai serum itu. Yaa bisa cocok, sih, cuma jadi ga optimal. Agak gak rela gitu ya, soalnya hasilnya lumayan bikin kulitku cerah.


Hal yang membuatku akhirnya memutuskan pakai Erha karena Si Corona! Gara-gara dia, pilihan skincare ku sudah nggak lagi ampuh untuk merawat wajah dan mengobati jerawat. padahal, sebelumnya aku cukup nyaman dan mendapat hasil yang bagus pakai skincare avoskin, TBS, dan Acnes. Tapi, gara-gara pandemi, aku jadi lebih sering stres, makannya nggak terjaga, juga sering pakai masker kalau ke luar rumah dan membuat kulit jadi lebih sumpek. Aku pun mencoba sharing ama sahabat dan mereka banyak merekomendasikan Erha karena lebih cocok dengan orang yang sudah berusia 25 ke atas.


Jadi, disinilah aku akan sharing pengalamanku pakai skincare Erha selama 3 bulan terakhir. Aku sertakan juga plus minusnya. Eits, nggak usah khawatir, ini honest review dan bukan endorsement karena aku memang datang sendiri ke Erha sebagai klien.



Konsultasi dengan Dokter Erha saat PSBB


Seperti yang aku katakan di atas, jerawatku ini mulai menggila saat pandemi, tepatnya pasca idulfitri. Saat itu memang lagi kesusahan atur jadwal dengan anak dan ortu (waktu itu masih tinggal 3 generasi ceritanya) karena mbak rewang lagi pulkam, sudah begitu agak stres juga dengan diskusi tentang hoax soal corona. Ditambah lagi, saat idulfitri, makanan yang dimasak ibuku berat-berat, serba bersantan kental dan gorengan. Alamaak…


Benar saja, beberapa hari kemudian, jerawat besar langsung muncul di pipiku. Karakter jerawatku ini besar kayak biji jagung dan bikin sakit. Sudah begitu lama sekali sembuhnya. Sebelum ada corona, aku memang sesekali mengalami jerawat pada saat menstruasi, dan kurasa wajar, dapat aku atasi dengan mudah juga pakai obat jerawat Acnes. Tapi, saat ini, entah kenapa nggak hilang-hilang. Justru, jerawat baru bermunculan saat aku sedang memasuki masa subur dan menstruasi, padahal jerawat yang lama belum hilang! SUCH A NITEMARE!


Aku sempat ganti skincare dan mencoba CORSX atas rekomendasi teman-teman dan hasil riset mini. Aku beli yang travel pack, biar ga rugi bandar. Ternyata nggak ngefek sama sekali. Aku coba beli obat jerawat ERHA yang plototan itu, nihil juga!


“Mungkin karena faktor U, kulit kita jadi susah mengatasi masalahnya sendiri, jadi lebih lambat gitu,” ujar salah satu temanku ketika aku curhat di grup. Ah iya, benar juga ya!


Akhirnya aku putuskan juga untuk konsultasi di Erha TP 6 Surabaya. Di Surabaya ada banyak cabang Erha. Ada yang Erha Apothecary, Erha Clinic, dan Erha Skin. Aku ambil yang di TP 6 karena aku sudah terdaftar di sana sebagai pasien sejak kerjasama untuk treatment truwhite. Biar nggak ribet, aku teruskan dengan dokter di sana, namanya dr. Rani. Kebetulan, aku cocok juga sama beliau. 


Anyway, karena saat itu Surabaya lagi PSBB, konsultasi pun dilakukan secara daring. Saat itu sih mall di Surabaya boleh buka, begitupula Erha. Tapi, kebijakan Erha saat itu adalah konsultasi online, akupun menyetujui karena tidak mau ambil resiko terpapar di keramaian. Nah, proses konsultasi online-nya ternyata nggak ribet. Aku diberikan sejumlah pertanyaan yang cukup detail dengan kondisi kulitku dan diminta mengirim foto kondisi kulit yang bermasalah dari 3 sisi: tampak depan, tampak kanan dan kiri, dengan pencahayaan yang baik.


foto wa


Kemudian aku diminta untuk pembayaran. Total yang aku bayar Rp 424.500, itu dapat promo loh. Menurutku harga konsultasi di Erha berikut krimnya lumayan terjangkau, sih. Untuk konsultasi pertama, total aku dapat 6 produk yakni ACSBP, Ato 5, AMG 1, AF1, AFT, dan Al2 atau obat totol jerawat.


ACSBP ini facial wash yang dapat dibeli secara umum, khusus untuk kulit berjerawat. Aku suka banget facial wash ini, meskipun ada butiran-butirannya sedikit, tidak membuat jerawatku makin parah. Yah, memang kalau pas diaplikasikan ke daerah yang banyak jerawatnya ya harus perlahan. Nggak berbau juga, jadi nyaman dipakainya. Sementara obat jerawatnya, karena yang plothotan kayak odol nggak mempan untukku, aku dikasih yang obat totol kocok. Obat ini ngingetin aku ama obat jerawat ibuku sekitar tahun 2000an. Berasa jadul banget nggak, sih? Kudu dikocok, dituang ke telapak tangan, dan ditotolin ke jerawat. Sudah begitu, bakal membekas di wajah, udah kayak kena hukuman kalau kalah main remi! Hehehe.


Untuk krim yang lain standar. Sejujurnya, ada yang nggak aku suka sih, nanti akan aku bahas di bawah. Baca sampai akhir, ya.


foto



Proses Penyembuhan Jerawat


Harus kukatakan dengan terus terang bahwa aku bukan tipikal orang yang tertib pakai skincare. Seringkali aku bolong karena simply lagi lupa atau lagi males oles-oles. Terakhir aku bener-bener rajin pakai skincare setiap hari tuh pas masih mahasiswa. Sekarang, udah punya anak bawaannya begitu udah malam, langsung tidur aja. Akupun sadar kalau hasilnya mungkin gak maksimal yah haha. Tapi, ternyata dengan pemakaian yang kadang bolong-bolong ini ngasih hasil yang cukup baik, lho. 


Indikatornya apa? Komentar suami! Hahaha.


“Be, kayaknya jerawatmu udah kempes ya? Itu udah nggak keliatan banget kok, nggak kayak dulu,” katanya.


Selain itu, tentu saja progress berupa kempesnya jerawat yang aku abadikan dalam foto berikut. Kentara banget kan bedanyaa… sudah begitu, rasanya wajahku juga lebih cerah dan bersih. 


Sekitar akhir Agustus, aku dihubungi oleh pegawai Erha dan ditawari promo untuk treatment bulan Agustus. Aku mau-mau aja, mumpung anak-anak bisa dipegang ama Ibu dan mbak rewang. Untuk treatment di Erha TP 6 saat pandemi akan aku tulis di postingan tersendiri, ya.


Setelah perawatan, aku diberi lagi krim yang baru. Ada yang tetap dipertahankan oleh dokter Rani, ada yang ditambah. Dokter Rani bilang sebetulnya penggunaan krim ini udah keliatan bagus di wajahku, tapi, kok bekas jerawatnya susah ilang? Beliau pun nanya sebuah pertanyaan yang hanya bisa aku jawab dengan senyum nyengir.


“Mbak, makannya gimana?”


Pada konsultasi yang pertama, dokter sudah saranin aku untuk nggak makan coklat, pedas-pedas, dan gorengan. Kalo gorengan, oke lah aku mampu. Pedas? Gak bisaaa. Aku setiap hari nyambel. Coklat? Susah. Aku bisa menghabiskan 12 bengbeng mini dalam sehari. Akhirnya, selama proses penyembuhan pun aku masih makan makanan terlarang ini. Yah, mungkin itu salah satu faktor yang memperlama juga ya. Beliau kembali memberiku saran untuk mengurangi produk dairy, kacang-kacangan, gorengan, coklat, dll. Ini sih kayak diet untuk busui yang anaknya punya alergi gitu gak sih? Tentu tidak aku lakukan dengan baik wkwk. Maafkan akuu dokteeer… eh, harusnya aku minta maaf ama diri sendiri ya, huh.


Dokter Rani memberiku resep baru, yakni ACSBP, Toner Ato 5, AMG 1, AF1, AFT, AZA C, dan Al2 atau obat totol jerawat. Cara pemakaian krim pun diubah. Pada konsultasi pertama, toner hanya boleh dipakai pada siang hari. Sementara setelah konsultasi kedua, toner juga harus digunakan pada malam hari. Sepertinya ini untuk ngetes bagaimana reaksi kulitku terhadap kandungan alkohol yang kerasa banget aromanya di toner dan obat totol jerawatnya.



Puaskah dengan Hasil Perawatan di Erha?


Belum bisa aku katakan puas banget, tetapi, aku masih ingin melanjutkan perawatan di Erha. Karena, sudah terbukti bisa mengatasi permasalahan jerawatku ini yang kayaknya masih akan betah menghuni area pipi dan dagu sampai tahun depan. Setelah aku analisis sendiri, ada 3 faktor yang membuat jerawatku datang makin rutin dengan jadwal yang susah aku prediksi. Pertama, karena siklus menstruasi yang terbilang yah, wajar yaa. Kedua, pandemi yang masih panjang dan mengharuskanku memakai masker saat di luar rumah. Ketiga, stres. Keempat, pola makan yang masih fluktuatif.


Faktor pertama dan kedua termasuk faktor yang tidak bisa aku kendalikan, karena yah emang begitu jalannya. Kalau yang ketiga dan keempat, memang bisa aku kendalikan tapi susah bangeet rasanya. Kadang, pola makanku bisa baik. Namun saat stres, aku sering melakukan stressful eating. Kemudian, mungkin karena diperparah oleh hormon dan kulit wajah yang kurang sehat, aku kepikiran sesuatu dikit aja jerawat udah bisa muncul. Maka dari itu, kulit wajahku masih perlu bantuan dari Erha.


Selain itu, ada hal lain yang membuatku menyukai perawatan di Erha, yakni lebih terasa “medis”nya. Konsultasi dengan dokter nggak asal, nggak cuma sentuh-sentuh kulit lalu nulisin resep. Ada diskusi yang terbangun antara pasien dan dokter serta ada advis dari dokter untuk pasien di luar resep. Dari sini, aku pun semakin menyadari bahwa pemakaian krim bukan segalanya.


Treatment yang diberikan untukku pun busui friendly. Sebagian besar produk Erha setahuku memang sudah busui dan bumil friendly, kendati pada produk atau krim dokter, tidak ada komposisi sebagaimana produk yang dapat dibeli bebas di gerai online dan offline Erha. 


Kemudian, krimnya PAHIT. Aku memang nggak suka banget, tetapi, harus kuakui bahwa ini bukti treatment yang diberikan ke kita memang “obat” luar atau topikal. Dan kurasa, ini juga yang membuat aku tidak akan ketergantungan dengan krim Erha. Soalnya, sudah terbukti sih aku pakainya bolong-bolong juga nggak ada reaksi yang berlebihan di wajahku. Dokter Rani juga menerima sambatanku bahwa krimnya pahit, beliau menanggapi dengan, “Iya, kalau kena mulut terasa pahit ya? Memang begitu krim treatmentnya, maaf, ya.”


Bagaimana aku tahu kalau krimnya pahit padahal ya nggak aku icipin langsung? 


Gini, kalau kamu sudah pakai krim pagi lalu kamu harus ke luar rumah, otomatis kan pakai masker. Nah, kadang ada krim-krim yang menempel di masker lalu saat kena angin, nempel bibir. Terasa deh. Atau, ini yang paling sering aku alami. Setelah pakai krim malam, aku angop atau menguap, karena biasanya aku memang pakai krim sekitar 15-30 menit jelang tidur malam. Nah, saat menguap itu, butiran-butiran kecil krim bisa ikut kita “icipi”.


Dari sini, aku sarankan agar busui yang masih punya anak dengan ASI Eksklusif, coba tunda dulu kalau mau pakai krim dokter. Atau, coba konsultasikan dengan dokter di Erha, siapa tahu bisa dapat krim yang lebih “manis” wkwk. Aku aja nih pakai krim nunggu anak-anakku tidur, sudah begitu, kadang mereka suka cium-cium sebelum tidur, terpaksa aku larang kalau wajahku sudah belepotan krim malam.



Likes and Dislikes Pakai Krim ERHA


Ada beberapa hal yang aku sukai dan tidak aku sukai dari krim Erha ini. Yang aku sukai dulu yaa. Pertama, harganya terjangkau. Ini penting banget sih buatku, karena sejak punya 2 anak, aku sangat membatasi anggaran beli skincare. Kedua, krimnya busui friendly. Ketiga, dokternya informatif dan komunikatif. Beliau selalu mau aku beri pertanyaan tentang apapun saat konsultasi dan dengan terus terang menyampaikan apakah krim ini baik buatku yang masih menyusui. Keempat, krimnya bekerja dengan efektif. Aku terasa banget jerawatku berkurang, meski belum benar-benar hilang ya, masih ada bekasnya berupa warna gelap.


Nah, hal-hal yang nggak aku sukai juga lumayan banyak, nih. Pertama, soal tekstur, rasa, dan bau. Krim erha pahit, toner dan obat totol jerawat pun bau alkoholnya menyengat banget. Aku sampai harus tahan nafas ketika sedang membersihkan wajah atau sedang olesin obat jerawat. Lama-lama sih terbiasa, tetapi, jadi memberi pengalaman yang kurang menyenangkan. Jadi ngerasa agak malas pakai krim wkwk. Soal alkohol, mungkin karena kulitku ini berminyak ya jadi aku diberi produk dengan kadar alkohol yang menurutku agak tinggi dari skincare umum yang pernah aku gunakan. Barangkali kalau temen-temen punya kulit wajah tipe sensitif, tonernya bakal berbeda.


Reaksi alkohol pada kulitku juga sebetulnya tidak aku sukai. Pernah suatu ketika, malam hari aku habis pakai obat jerawat. Terus, pagi harinya aku mau keluar, belanja gitu ya misalnya. Aku pakai sunscreen dan bedak. Eh, tanpa kusadari, langsung kelihatan ada bagian yang kering dan mengelupas di area yang berjerawat. Mungkin baru keliatan gara-gara aku pakaikan bedak, selama ini, sih, nggak kelihatan karena aku sering di rumah dan nggak pernah bedakan di rumah. Ini yang bikin agak rempong, sih, dan kadang mengganggu penampilan. Untungnya pakai masker kalau keluar rumah haha.


Kedua, nama-nama produknya sulit diingat. Yassalaam.. kenapa harus kode-kodean, sih? Aku sampai sekarang nggak tahu, loh, kepanjangan dari AFT, AZA C, dan lain sebagainya. Ini asli bikin bingung. Untung aja di kemasan ada tulisan “Pagi 1” dan “Pagi 2”, jadi cuma itu yang jadi peganganku.


Gitu, deh. Sampai tulisan ini diterbitkan, aku masih pakai Erha dan berencana treatment lagi mungkin bulan Desember. Nggak mau sering-sering ah, entar abis duit aku haha. Buibu apa ada yang punya pengalaman serupa dalam mengatasi jerawat dengan bantuan Erha? Share di sini, yuk!





CONVERSATION

1 komentar:

Back
to top