[FREE WORKSHEET] Mengasuh Anak Bersama Kakek Nenek, Seru atau Malah Bikin Mumet?

kakek nenek ikut mengasuh anak




Pekan lalu, aku membagikan cerita singkat tentang salah satu pengalaman yang aku rasakan dalam pengasuhan 3 generasi. Singkat banget, deh, soal anakku yang dulu sering ditimang neneknya ketika usianya sudah bukan bayi lagi dan berpengaruh pada pembentukan karakter serta perkembangan emosionalnya. Sebetulnya, ada banyak faktor yang memengaruhi, tidak hanya soal timang menimang, tetapi juga pola pengasuhan yang berbeda antara aku dan kakek-nenek, soal kehadiran anak kedua, soal anak pertamaku yang sangat jarang tidur bersama denganku, dan banyak faktor lainnya. Tetapi, aku memutuskan untuk tidak membagikan detail cerita itu untuk publik.


Khusus soal timang menimang, aku memang penasaran. Apakah ini aku yang terlalu membatasi cara kakek-nenek menunjukkan kasih sayangnya? Ataukah memang itu sudah nggak tepat dilakukan untuk anak seusia Mahira (saat itu berusia 3 tahun dan sekarang 4 tahun). Sebetulnya, persoalan ini pernah aku konsultasikan ke psikolog di sekolah anakku dan jawabannya ya sama dengan yang aku pahami selama ini. 


Karena aku penasaran, aku mencoba menggali persepsi umum para orang tua di sekitarku. Aku mengadakan polling singkat di Instagramku. Jawaban teman-teman pun beragam, ada sedikit (sekitar 1-3 orang) yang berpendapat normal aja anak ditimang sebelum tidur meski sudah usia 4-5 tahunan. Sementara mayoritas berpendapat anak sudah seharusnya tidak ditimang pada usia 1.5 tahun sampai 2 tahunan. Uniknya, ada beberapa DM yang masuk dan cerita kalau tidak bisa mengikuti polling karena mereka tidak pernah menimang anaknya sebelum tidur. Menurutku, ini menarik. Aku tahu persis orang-orangnya dan pilihan ini bukan berarti dia tidak sayang dengan anak. Dalam pandanganku, inilah pola penerapan disiplin positif sesuai tahapan usia anak, sesederhana membentuk pola yang baik: mengajarkan bahwa tidur itu ya di kasur dan membentuk pola kebiasaan yang baik.


Jika ingin manja-manjaan atau dipeluk, ya ada saatnya sendiri, bisa sebelum tidur, saat membaca atau bermain bersama dll. Ini juga mengajarkan hal yang sederhana untuk kita sebagai orang tuanya, agar kita terbiasa untuk melihat anak sebagai manusia yang punya kehendak, yang suatu saat harus bisa mandiri, dan tidak bisa selamanya bergantung pada kita. Proses menuju ketangguhan dan kemandirian itu bukan proses yang terjadi dalam waktu semalam atau sepekan, tetapi, perlahan-lahan. 


Kemudian, dari sekian DM yang masuk, ada sebuah pertanyaan:


kakek nenek ikut mengasuh anak

Pertanyaan itulah yang membuatku ingin menulis postingan ini. Bagaimana, sih, rasanya mengasuh anak bersama kakek-nenek? Buat yang nggak pernah mengalami, pasti mikir, wah kayaknya seru, rame, dan aku bisa selonjoran. Tapi, buat yang udah ngalamin, belum tentu sependapat. Ada sebagian lain yang “WOW, THIS IS SUCH A BLESSING!” dan sebagian lain yang akhirnya memilih untuk mengasuh anak dengan tangannya sendiri. Karena, kalau mengasuh bersama kakek-nenek, kadang masalah sepele aja bisa jadi isu besar. Soal timang-menimang ini deh contohnya pada kasusku. Semakin banyak kepala dalam mengasuh anak berarti semakin banyak orang yang harus diajak bersepakat dan lebih sering ngobrol agar arah pengasuhannya tidak saling berlawanan.


Pada postingan kali ini, aku akan memberikan gambaran apa saja yang mungkin kita alami jika mengasuh anak bersama kakek-nenek, kiat bagaimana meminimalisir dan mengatasi konflik pada pengasuhan bersama kakek-nenek, serta worksheet. Yay, ini akan menjadi worksheet pertamaku untuk para bunda!


Sebelum scrolling lebih jauh, aku mau membuat kesepakatan dulu, ya. Tujuan aku menulis ini BUKAN karena aku tidak bersyukur atau mengajari Buibu sekalian untuk ngresulo dengan jerih payah orang tua untuk membesarkan kita dan mengasuh anak-anak kita. Sama sekali endak. Ini perlu aku tegaskan karena entah kenapa setiap aku membahas hubungan antara orang tua-anak-kakek nenek, selalu ada yang menuduh aku kurang bersyukur, baik secara terang-terangan maupun nyindir halus. Ya aku jadi mengatur ulang prasangka saja. Barangkali, mereka yang ngomong begitu nggak nyadar kalau di dalam keluarganya ada masalah komunikasi yang mengakar. Atau mungkin mereka cukup beruntung tidak tumbuh dalam keluarga yang memiliki masalah dalam komunikasi antar generasi, jadi agak susah berempati dengan yang lain.


Tujuanku menulis ini adalah berbagai pengalaman, baik pengalaman dalam mengalami maupun dalam berhadapan dengan situasi sulit. Pengalamanku sebagai seorang anak, seorang ibu, dan seorang relawan Keluarga Kita. Dari pengalamanku ini, mungkin akan ada manfaatnya untuk kamu, mungkin juga tidak (atau barangkali belum aja hehehe).


Oke, sudah sepakat, ya? Let’s scrolling down!


Mengasuh Anak Bersama Kakek-Nenek Bisa Seru Karena….

Aku nggak memungkiri bahwa menitipkan anak ke kakek nenek ini jadi solusi bagi working mom atau working parents. Anak bisa dekat dengan orang yang masih jadi anggota keluarga, lebih aman, dan tentu saja hemat. Apalagi pas pandemi seperti ini, terlalu beresiko kalau mau cari nanny baru di luar sana. Apalagi jika kakek nenek kooperatif, bisa diajak diskusi dan menghargai posisi kita sebagai orang tuanya. Itu pasti lebih menyenangkan bagi kita, kan?


kakek nenek ikut mengasuh anak
Ilustrasi kakek dan cucu (Freepik/katemango)

Aku mau memberi sedikit gambaran keseruan pengasuhan bersama kakek-nenek, seperti:


1. Anak bisa berinteraksi dengan orang yang lebih tua. Anak-anak perlu banyak melakukan interaksi, baik dengan teman sebaya, teman yang lebih muda, maupun orang yang lebih tua. Jika di rumah sudah ada orang yang lebih tua dan bisa berinteraksi dengan baik bersama anak, anak bisa belajar bagaimana berkomunikasi, menyampaikan kasih sayang, dan bermain bersama. 


2. Anak paham asal usulnya, adat, kebiasaan keluarga, dan toleransi. Karena anak dapat belajar berkomunikasi dengan nenek-kakeknya yang lebih tua, perspektif mereka pun bisa lebih kaya. Anak bisa belajar bertoleransi, apalagi jika keluarga di rumah memiliki kebiasaan yang baik dan membangun suasana yang ceria, akan lebih banyak manfaat lagi yang diperoleh anak.


3. Ada yang gantian jaga anak. Ketika orang tua tidak dapat hadir secara fisik maupun batin, bisa karena sedang bekerja, sakit, atau sedang ada kendala lain, kakek-nenek yang cintanya begitu besar untuk cucunya, dapat menjadi substitusi sementara dan mengisi kekosongan ini. 


4. Win-win solution untuk semuanya. Sebetulnya, jika seisi rumah saling menghargai batasan antar anggota keluarga dan mau untuk saling beradaptasi, tinggal bersama kakek-nenek bisa sangat menyenangkan dan menjadi win-win solution baik untuk kakek-nenek, anak, maupun kita sebagai orang tua. Karena, semua orang di rumah dapat terpenuhi keinginannya, kebutuhannya, dan pada akhirnya bisa meningkatkan kualitas hidup, terutama untuk kakek-nenek yang sudah memasuki usia senja.


5. Hemat. Akui saja, nitip ke kakek-nenek adalah cara yang paling hemat untuk menekan pengeluaran bulanan, bukan? Bukan berarti kita “mempekerjakan” kakek-nenek, ya. Oleh karena itu, kita sebagai orang tua juga harus tahu diri, kapan saatnya nitipin anak, apa saja yang diperlukan kakek-nenek sebisa mungkin kita siapkan agar mereka tidak terlalu kerepotan. 


Kelima manfaat di atas itu bisa kita peroleh jika kita memiliki kondisi ideal, misalnya, kakek-nenek tidak terlalu penuntut, cukup sehat, dan bisa saling pengertian. Kondisi ideal ini bukan berarti nihil konflik, ya. Konflik pasti selalu ada jika berbicara tentang pengasuhan. Tapi, biasanya pada keluarga yang tidak ada masalah pada cara berkomunikasi, konflik selalu bisa dibicarakan dan para pihak dapat mencari jalan keluar dengan kepala dingin.


Masalahnya, tidak semua kakek-nenek se-ideal itu, dan ITU WAJAR. Mereka sudah cukup sepuh, berumur, ada faktor kesehatan dan daya ingat yang menurun. Belum lagi, tidak semua kakek-nenek mau belajar lagi beberapa prinsip pengasuhan zaman sekarang yang berbeda dengan zaman dulu. Mulai dari hal yang teknis seperti tidak memberi makan anak sebelum usia MPASI sesuai anjuran dokter anak, hingga hal yang prinsipil seperti tidak memberi sogokan ke anak, dan lain sebagainya.


Apakah kamu termasuk tim yang ini?


Sayangnya, Aku Tidak Berada dalam Kondisi Ideal...

Kalau sudah begini, serba salah, ya? Mau meminta orang tua untuk menuruti kemauan kita, tapi ya nggak mungkin. Pada sisi lain, kalau terus-terusan mengalah, kita juga yang lelah, anak juga bisa jadi terkena dampaknya. Jika Bunda termasuk dalam tim ini (tos dulu, boleh? hehehe) memang perlu strategi khusus untuk mencapai visi keluarga dan pengasuhan anak, sekaligus membuat daftar apa saja yang dapat dikompromisasikan dengan kakek-nenek.  


Sekali lagi perlu aku tegaskan, bukan bermaksud tidak bersyukur atau mengingkari bahwa kakek-nenek memiliki cinta dan peran yang besar untuk diri kita maupun anak-anak kita. Tetapi, ada waktunya kita harus terus terang pada diri sendiri dan memerhatikan fakta bahwa terkadang kakek-nenek dapat berubah menjadi sangat egois, menekan kita, serta membuat hubungan memburuk.


Ciri-cirinya, biasanya kakek-nenek ini susah diajak berkompromi, sering meremehkan hal yang kita katakan dan lakukan (dengan nada dan pilihan kata yang serius, bukan bermaksud untuk bercanda), tidak menghormati aturan dan batasan yang tetapkan, bersikap terlalu memanjakan cucu, sering berbicara hal-hal yang kurang baik yang dapat memengaruhi karakter anak (memarahi, labelling, dan lain sebagainya), sering playing victim dan membuat kita merasa sangat bersalah (biasanya kakek-nenek mengungkit seberapa banyak yang telah mereka lakukan untuk kita dan anak-anak kita dan seharusnya kita bersikap lebih baik dan lebih apresiatif ke kakek-nenek), serta suka menghindari topik pembicaraan dengan melakukan pengalihan yang tidak berhubungan (misalnya dengan lagi ngomongin soal cari jalan keluar atas masalah dengan cara baik-baik, tetapi malah drama dan mengungkit soal kematian) yang jelas, sikap orang tua yang seperti ini kerap membuat kita merasa nggak enak dan memengaruhi hubungan.


kakek nenek ikut mengasuh anak
Ilustrasi nenek yang sengaja membuat anak/cucunya merasa bersalah (brightside.me)


Kondisi ini mungkin kelihatannya nggak berbahaya dan bisa dimaklumi. Bisa dimaklumi? Ya, bisa aja. Tetapi, bukan berarti dapat kita toleransi terus-terusan dan tidak berbahaya untuk diri kita dan anak-anak. Pola komunikasi dan pengasuhan kakek-nenek yang berbeda dengan prinsip kita bisa membuat anak jadi bingung, susah berkembang sesuai tahapan usianya, dan tidak mengikuti prinsip pengasuhan yang kita buat. Perlu kita ingat bahwa anak usia dini merekam kebiasaan dan pola dan kebiasaan ini akan membentuk karakter. Jika ada dua pola yang berbeda, dia sudah bisa menilai, mana pola yang paling menguntungkan bagi mereka. Ini salah satu dampak yang sudah bisa kita bayangkan.


Ada dampak lainnya yaitu kesehatan mental kita sebagai orang tua. Sekarang ini, thanks to social media, mulai banyak orang yang berani membagikan kisah hubungan tidak sehat antara orang tua dan kakek-nenek yang berakibat ke kesehatan mental, baik yang ringan maupun yang berat. Aku ingat sekali pernah membaca cerita seorang sopir ojol yang istrinya mengalami trauma berat pasca melahirkan karena terus-terusan ditekan oleh mertuanya dan akhirnya si sopir ojol ini memutuskan untuk tinggal terpisah dengan mertua. 


Barangkali, kita berpikir bahwa dulu orang tuaku nggak seperti ini. Memang banyak perubahan yang terjadi seiring orang tua bertambah usia dan perubahan status pada kita. Bisa jadi juga sebetulnya sejak dulu bibit konflik karena buruknya komunikasi yang terbangun antara kita dan orang tua kita sudah ada, tetapi tidak kita sadari dan baru terbuka saat kita telah berkeluarga. 


Kondisi seperti ini sekilas terlihat nggak ada solusinya, tapi sebetulnya ada hal yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki situasi. Tentu saja dengan cara yang baik, sebisa mungkin kita tidak menyakiti hati kakek-neneknya anak-anak yang sangat kita cintai. Beberapa cara yang bisa aku bagikan di sini adalah:


1. Buat catatan pola peristiwa dan bicarakan dengan suami. Proses ini akan lebih mudah jika kamu dan suami memiliki visi dan pandangan yang sama. Bicarkan sama suami tentang kondisi di rumah, siapa tahu suami nggak ngeh karena kerja seharian. Sampaikan kira-kira apa akibat peristiwa-peristiwa yang terjadi di rumah ke kita dan ke anak kalau terus-terusan berinteraksi nggak sehat dengan kakek-nenek. 


Kadang kita memiliki memori terbatas untuk mengingat, aku sarankan untuk menuliskan detail peristiwa yang membuat kita sedih atau berdampak pada diri dan anak-anak. Ini juga membantu kita untuk dapat melihat pola kapan peristiwa ini terjadi. Kalau tahu polanya, kita bisa tahu penyebabnya dan melakukan antisipasi. Misalnya, biasanya kakek-nenek suka berbicara kasar ketika lelah, maka sebisa mungkin kita mengurangi intensitas “nitip anak” ke kakek-nenek dan menyediakan fasilitas yang bisa mengurangi kelelahan kakek-nenek.


Untuk membantu Bunda sekalian, aku membuat worksheet untuk mencatat peristiwa-peristiwa yang memicu konflik atau masalah pada pengasuhan 3 generasi ini. Bisa langsung download di bawah ini, ya.


đź’›Worksheet 1 Parenting with Grandparents: Casesđź’›


kakek nenek ikut mengasuh anak
Worksheet 1: cases.


2. Buat batasan. Sebelum bicara dengan kakek-nenek, buatlah batasan tentang hal-hal apa yang dapat dan tidak dapat kamu kompromikan dengan kakek-nenek terkait pengasuhan. Batasan yang sehat adalah bagian yang penting dalam sebuah hubungan, termasuk hubungan antara orang tua, anak, dengan kakek-nenek. Jika batasan ini bisa jelas, tidak ada perbedaan, dan dihormati oleh berbagai pihak, anak tidak akan bingung atau “terjebak” di tengah antara orang tua dan kakek-nenek.


Maka dari itu, menciptakan batasan itu penting karena memungkinkan orang tua untuk mengklarifikasi kebutuhan, keinginan dan tingkat kenyamanan sendiri. Harapannya, setelah ini hubungan yang sehat dapat lebih terjalin dengan kakek-nenek, anak-anak pun juga bisa belajar mengungkapkan keinginan mereka kepada orang lain serta menangani perselisihan dengan cara yang tepat.


Jika kita membuat daftar apa saja batasan yang ingin kita terapkan dan kita obrolkan bersama kakek-nenek, kita sebagai orang tua dapat merasa aman dan tenang menjalani peran sehari-hari, begitu pula kakek-nenek yang dapat tetap menunjukkan kasih sayangnya tanpa harus melampaui batasan yang kita tetapkan. Batasan itu bisa berupa nilai yang kita pegang dalam mengasuh anak dan berkeluarga, bagaimana merespon kebutuhan anak, siapa yang bertanggung jawab atas anak, masalah kesehatan, dan lain-lain. 


Aku membuat worksheet yang dapat jadi acuan untuk Bunda sekalian. Pada worksheet ini, Bunda bisa membuat daftar batasan-batasan yang Bunda inginkan. Dari daftar ini nanti, mungkin ada beberapa yang bisa Bunda cari cara sendiri, ada yang harus dibicarakan dengan kakek-nenek.


đź’›Worksheet 2 Parenting with Grandparents: Set Boundariesđź’›


kakek nenek ikut mengasuh anak
Worksheet 2: boundaries.


3. Bicara dengan kakek-nenek. Kadang, orang tua merasa powerless atau tidak punya otoritas atas anak kalau sudah ada kakek-nenek. Contohnya, saat kita inginnya menerapkan hidup sehat dengan membatasi konsumsi gula pada anak, eh, kakek-nenek dengan entengnya memberi camilan manis kapanpun mereka sukai. Kita mungkin kesal, tapi, bisa jadi niat kakek-nenek hanya ingin menunjukkan rasa sayang dan membantu momong karena nggak tahan melihat anak rewel.


Sebaiknya kita berhenti berprasangka bahwa kakek-nenek bisa mengerti apa yang kita rasakan. Mulailah berkomunikasi dengan mereka, selain itu, dengarkan pula pendapat mereka atas topik yang kita bicarakan. Langkah ini mungkin mengundang pertanyaan lainnya, gimana bicaranya? sungkan ngobrol sama ortu/mertua sendiri. Jika pertanyaan ini yang muncul, dugaanku Bunda mungkin ada masalah komunikasi yang sudah lama terjadi dengan kakek-nenek tetapi tidak pernah dibicarakan. Benar begitu?


Nggak ada kata terlambat. Sekarang pun, komunikasi dengan kakek-nenek bisa diperbaiki, kok. Hanya saja, jika tidak terbiasa ngobrol yang nyaman dan gak pakai ngotot, mungkin perlu waktu lebih panjang dan frekuensi yang lebih dari dua kali. Percaya sama aku, ini layak untuk dicoba dan dilakukan. Aku bisa mengatakan ini karena aku menjajal hal yang serupa dengan mertua dan orang tuaku pada dua kasus yang berbeda, nggak hanya tentang pengasuhan.


Ada beberapa saran dari aku ketika berkomunikasi dengan kakek-nenek. Pertama, jangan menyerang. Apalagi mengkritik secara personal seperti berkata kakek-nenek sudah tua, susah dikasih tau, dll.Gunakan teknik I-Message, yakni sebuah teknik komunikasi yang bertujuan untuk menyampaikan kebutuhan, harapan, dan perasaan kita terhadap lawan bicara (dalam hal ini kakek-nenek) dengan cara yang baik dan tidak menyakiti mereka. Teknik ini aku pelajari di Keluarga Kita. Dulu, aku sempat menggunakan cara yang salah. Setelah mengetahui teknik I-Message ini, pelan-pelan aku pun bisa ngobrol lebih enak sama orang tua. Rumusnya adalah:


“Aku merasa …. saat …. . Aku ingin ….. karena….”


Contohnya, coba bandingkan dua kalimat ini:


“Ma, kalau Adek dimanjain terus sama Mama, apa-apa diturutin semudah itu, dia nanti nggak mandiri, Ma. Adek jangan digituin, Ma. Udahlah nggak usah lagi ngasih sogokan sering-sering kayak gitu.”


dengan


“Ma, saya merasa senang mama bisa bantuin untuk ngasuh Adek. Tetapi, saya sedih jika melihat adek jadi gampang tantrum seperti itu kalau permintaannya nggak diturutin. Saya mau minta tolong, Ma, untuk bantu agar Adek bisa mandiri sesuai usianya. Misalnya, membatasi frekuensi pemberian hadiah, nggak ngasih sogokan...blablabla.”


Sebetulnya, jika dilihat, tujuannya sama ya? Agar kakek-nenek nggak memberi sogokan pada anak. Tapi, cara bicara kita yang berbeda pasti berpengaruh pada bagaimana respon kakek-nenek.


Dalam berkomunikasi dengan kakek-nenek, sampaikan pula batasan-batasan yang kita inginkan. Pada saat inilah terjadi komunikasi dua arah, kompromi, serta kesepakatan. Perlu aku ingatkan kembali bahwa proses komunikasi ini mungkin tidak akan selesai dalam satu sesi, bisa butuh berulang kali ngobrol, bahkan menahun.


Kedua, sampaikan apresiasi. Sudah aku contohkan di atas bahwa kita harus mengapresiasi dan menyampaikan terima kasih atas cintanya pada anak-anak dan diri kita. Akui bahwa kita paham, orang tua hanya ingin membantu. Ketiga, jangan berupaya untuk mengubah mereka. Bagaimanapun juga, mereka sudah berumur dan memiliki keterbatasan untuk mengubah kebiasaan, perilaku, serta pola pikir. Lagipula, mengharapkan perubahan pada orang lain (termasuk kakek-nenek) adalah kesia-siaan karena itu di luar jangkauan kita dan hanya akan membuat kita lelah. 


4. Dengarkan pendapat kakek-nenek. Dalam proses berkomunikasi, sebaiknya terjadi dua arah. Bisa kita dahulu yang mengutarakan pandangan, bisa juga kakek-nenek terlebih dahulu, tergantung situasi dan kondisi keluarga. Dengarkan pula apa keinginan dan pandangan kakek-nenek. Siapa tahu, mereka memang betul-betul nggak ngerti dan setelah kita beritahu, mereka mau belajar. Ada juga kakek-nenek yang tetap ngotot dan merasa yang mereka lakukan itu tepat. Kalau seperti ini, upayakan jangan bicara untuk menyalahkan, tetapi meminta tolong agar dibantu mengasuh anak zaman sekarang yang kebutuhannya berbeda. 


Setelah mendengar pendapat kakek-nenek, mungkin tidak semua batasan kita bisa dipahami oleh mereka. Maka, jalan keluarnya adalah sampaikan hal-hal apa saja yang tidak dapat kita kompromikan, seperti soal kesehatan dan keselamatan anak, pendidikan, dan lain-lain. Kemudian, lakukan kompromi dan kesepakatan. Kompromi dan kesepakatan merupakan cara yang paling mudah untuk mencapai tujuan dan bertoleransi atas kebutuhan masing-masing anggota keluarga. Kesepakatan ini bisa dalam bentuk lisan maupun tertulis. Kalau mau lebih jelas dan ada “datanya”, baiknya tertulis aja, bisa untuk catatan bersama maupun pribadi.


Bunda bisa menuliskan pada worksheet di atas hal apa saja yang pada akhirnya dikompromikan, apa yang tidak bisa disepakati bersama kakek-nenek, dan lain sebagainya. Prinsip “pick your battle” bisa kita gunakan di sini. Tidak semua hal dapat kita pertahankan. Pada beberapa kondisi, kita harus lebih bijak dan fleksibel. 


5. Ajak orang ketiga untuk terlibat. Orang ketiga ini bisa suami atau siapapun yang bisa menjadi penengah jika memang dibutuhkan. Misalnya, suami untuk membuka pintu komunikasi dengan mertua. Tetap terapkan teknik I-Message dan kiat-kiat di atas, ya.


Jika kondisi sudah parah, misalnya berdampak ke kesehatan mental kita sebagai orang tua atau perkembangan emosional anak (dan ini sangat mungkin terjadi) mintalah psikolog untuk melakukan mediasi dan membantu berkomunikasi. Misalnya ada psikolog di sekolahnya anak yang mengevaluasi perkembangan anak, coba tanya apakah mereka dapat membantu. Orang ketiga ini juga bisa berarti konselor laktasi. Kadang, kakek-nenek nggak percaya sama penjelasan kita tentang cara kita untuk sukses menyusui, penggunaan dot, dan susu substitusi yang tidak perlu. Bisa jadi mereka lebih percaya pada penjelasan orang yang lebih ahli.


6. Sampaikan dengan data. Data ini tergantung kasusnya, ya. Apabila isunya adalah finansial, data yang rapi bisa menjadi bekal untuk berargumen dan mencari jalan penyelesaian terbaik. Jika kasusnya lain, data ini bisa dengan media lain seperti infografis dari media yang kredibel atau video. Kita sodorkan saja penjelasan orang yang lebih ahli tetapi dari media. Biasanya, visualisasi yang baik bisa memudahkan kakek-nenek dalam memahami sesuatu. 


Catatan peristiwa pada poin nomor satu di atas juga bisa menjadi data, terutama jika kakek-nenek mengingkari pernah melakukan ini dan itu. Kadang ada kakek-nenek yang memang benar-benar lupa (karena faktor usia) tapi ada pula yang hmm… agak rese’ dan suka playing victim. Kalau kondisinya seperti itu, data pola peristiwa ini bisa menjadi “saksi” yang menunjukkan rekam jejak atas perilaku kakek-nenek yang kurang baik.


7. Tinggal terpisah. Langkah ini bisa dilakukan jika sangat terpaksa dan semua solusi sudah mentok, susah mencapai kompromi, hubungan yang sehat pun juga lebih susah terjalin. Misalnya saja, ada kakek-nenek yang merokok, sakit berat, terlalu mengontrol sehingga berdampak pada mental kita dan emosional anak, masih sering berbicara kasar, dll.


Kalau begini, saya jadi ingat quote-nya Mbak Dee tapi saya lupa dalam bukunya yang mana. Spasi itu memberi jarak antara kata dan pada akhirnya membuat kalimat lebih bermakna. Jadi, tidak apa-apa jika kita harus berjauhan dengan kakek-nenek, asal kita sudah menempuh berbagai upaya di atas dan yakin bahwa ini adalah cara terbaik untuk kita dan anak. Meski begitu, jangan menutup komunikasi dengan kakek-nenek agar mereka tidak merasa diabaikan. Lakukan kunjungan dan komunikasi rutin agar hubungan yang baik tetap bisa terjalin.



Penutup

Aku percaya bahwa pada dasarnya orang tua mencintai anaknya. Kakek-nenek, juga mencintai kita sebagai anaknya, serta sangat menyayangi cucunya. Hanya saja, kadang bahasa cinta itu bisa berbeda-beda dan sering memicu konflik. Oleh karena itu, komunikasi adalah hal yang paling mendasar yang bisa kita upayakan. Terus cari cara, agar kita bisa hidup bersama dan menunjukkan bahwa kita saling menyayangi.


Semoga tulisan dan worksheet ini bermanfaat buat Bunda sekalian, ya. Apakah ada yang punya pengalaman serupa? Coba, yuk, cerita di bawah ini.


CONVERSATION

11 komentar:

  1. aku termasuk yang 50:50 mengasuh anak dengan kakek nenek, itu pun dimulai saat anak sudah usia batita dan ada beberapa prinsip yang cukup kuat gak boleh kakek nenek ikut2an hehehe

    BalasHapus
  2. Ini kok pembahasannya bisa kaya aku ya mom, meskipun aku udh pisah rumah, aturan nenek kakek masih ngikut loh sampai skrg

    BalasHapus
  3. Kebanyakan memang di sekitar saya mba, kalo udah kakek nenek ikut mengasuh yang ada anaknya malah bertambah manja. Ada kakek nenek yang mmjadi pelindung ketika dimarahin ibunya.

    Tapi di keluarga saya, kebetulan saya belakangan ini tinggal sama ibu karena ibu tinggal sendiri.
    Saya terpaksa tahan kuping saat ibu memarahi anak saya .
    Gak bisa sakit hati. Nanti di waktu terpisah saya menasehati anak tentang neneknya. Jadi seperti saling menjaga.

    BalasHapus
  4. Kalau menurut saya, pola pengasuhan seratus persen ada pada ayah dan ibu. Kakek dan nenek hanya boleh memberikan masukan bukan mengambil alih. Cara pengasuhan dari kakek nenek yang baik bisa kita pakai.

    BalasHapus
  5. Saya sepakat dengan tinggal teroisah dengan orang tua setelah menikah. Memang jadi banyak tantangannya, namun polanya lebih terjaga.

    Untuk pengasuhan kakek nenek ini, saya memang nggak terlalu merasakannya. Anak pertama saya memang sering diajak menginap di rumah kakek nenek, namun nggak nampak terlalu dimanja. Sebab mertua saya memang sejalan dengan saya. Sementara orangtua saya sendiri, kurang sejalan sehingga saya senang kami tinggal berjauhan.

    Saya cukup mensyukuri hal ini.

    BalasHapus
  6. Jadi ingat kasus anak sulungku yang diasuh mamaku sampai TK karena aku bekerja, banyak sisi positifnya menitipkan anak ke ortu atau mertua tapi dengan catatan masih sehat, tapi dibarengi juga ada sisi ngak enaknya yang terkadang bikin hubungan jadi tegang...hahaha, apalagi nenek-kakek kan terkenal sangat sayang dengan cucunya dan hampir selalu keinginan dituruti. Tapi untungnya setelah masuk TK suamiku pindah tugas ke kota lain dan otomatis aku resign ikutan pindah. Selesai deh masalah tanpa konflik, hihihi tapi tetap bagaimana aku berhutang banyak dengan mamaku kalau ingat beliau yang menjaga anakku saat bayi.

    BalasHapus
  7. ibuku selama ini jadi patner ku dalam mengasuh anak anak
    emang gampang gampang sulit pengasuhan bersama ini
    tapi ya kuncinya di komunikasi sij

    BalasHapus
  8. Semangaaatt, untuk aku pribadi aku kondisinya bersama kakek neneknya alias papa mamaku, memang ada suka & dukanya. Untungnya posisiku masih di tahap yg wajar, semangat teman2

    BalasHapus
  9. emang ya serba salah tinggal sama keluarga besar tuh. di satu sisi bisa mendekatkan hubungan kakek nenek dan cucu, di satu sisi lagi ada banyak hal yang bisa bikin gak enak. aku sih lebih suka sesekali aja ketemunya biar gak banyak drama. hihi

    BalasHapus
  10. Duh aku mah mau deh anak2ku bisa disayang sma kakek nenek walaupun aturan mereka kadang suka bertentangan sma aturan kita sbgai bapak ibu tapi sayangnya anak2ku dari kecil gk prnah ngerasain krna kdua ortuku sudah meninggal sejak aku kecil buat aku hal yang sewajarnya kakek nenek sayang berlebihan sama cucu

    BalasHapus
  11. tinggal terpisah itu yang terbaik! karena nggak semua orangtua bisa mendengarkan pendapat anak, apalagi tipe orangtua yang dominan, otoriter bla..bla..bla.. siap2 aja kita selalu disalahkan dalam mendidik anak kalau nggak sesuai keinginan mereka

    BalasHapus

Back
to top