Minggu, 26 Februari 2012

,
Beberapa hari sebelum berencana menghabiskan 5 hari liburan di Jakarta, saya ngontak beberapa temen. Salah satunya, dia, seekor babon partner in crime waktu SMP.

Ceritanya nih, pas SMP itu dia aku panggil Babon dan aku dipanggil Siamang. ada temen-temen yang lain juga pada kita panggil dengan spesies monyet gitu deh, tapi pada ngga terpatri dgn baik hehe. Heran juga kenapa si @amelrisar ini mau-maunya dipanggil babon, padahal pantatnya babon kan merah. wkwkwk

Aku pernah janji ke Babon buat mampir Bintaro kalo nantinya ke Jakarta. Dan ternyata baru bisa terealisasi pas hari terakhir di Jakarta, Kamis, sebelum aku balik ke Sidoarjo hari jum'atnya. Babon, yang dari gelagatnya, pengen aku nginep kosannya, jadi ga kesampaian deh. Maaf ya Bon, disamping aku harus pulang, aku juga ga mau dianggep merusak hubungan orang.. *ga nyambung*

Singkat kata, aku ketemuan sama Babon di Blok M. Cukup lama sih, lah pas aku udah berangkat aja, si Babon baru mandi. Well, ngga heran sih. Malah biasanya ga mandi ya bon? #eh.

Setelah kita ketemu di KFC dan aku terharu baget liat si Babon pake T-SHIrT warna Baby Pink, aku diajakin ke STAN dan mampir kosannya. Pas itu udah sekitar jam 11.30. Setelah nego sama bos besar dan dengan persyaratan aku dikembalikan lagi ke tempat semula (Blok M), berhasillah aku mengantongi ijin untuk ke Bintaro. Kami ke Bintaro naik Metro Mini 71 trus lanjut naik angkot.

Sebelum naik, Babon bilang:
"Kamu disini kudu ngerasain naik metromini, Mank! Sensasinya itu lho! Supirnya ngebut-ngebut, kalo udah ngepot, penumpangnya pada bersorak!"

Sabtu, 18 Februari 2012

,
Hey, pernahkah kamu bertemu cinta di suatu perjalanan?
Aku selalu bertemu dengannya.
Ia ada di hati seorang ibu yang menidurkan putranya.
Ia tercermin  mata pengemis-pengemis kcil yang merindukan sesuap nasi
Ia ada di luar jendela kereta,
menjelma menjadi lampu-lampu jalan yang menerangi malam.
Ia berada di jiwa-jiwa penjual makanan, di hati para tulang punggung keluarga.
Ia berada di sudut temaram hati.
Ia menjadi pelipur kesedihan.
Ia menemani hati,
mengiringi kepergian sebuah memori.
Ia menjelma menjadi sebuah rasa yang menjadi kunci dari semua rahasia.

Sebuah keikhlasan.

Kamis, 09 Februari 2012

,
Mungkin sebagian orang berfikiran aku kurang waras ketika mereka tau aku ke Jakarta untuk...liburan.

Yaa dimana mana gitu ya, yang namanya liburan pasti nyari kesenangan, sesuatu yang bikin pikiran fresh dan jauh dari kekacauan lalu lintas akibat terlalu banyak kendaraan bermotor semacam di Jakarta gitu deh. Lah ini, kasarannya, malah mengunjungi kepadatan kota.

But for me, this trip isn’t for shopping or see interesting place in objective view.
It is for me time, meet people, and for surprises.

Sebenernya yang bikin aku buru-buru ke Jakarta adalah acaranya Indonesian Future Leaders (IFL) yaitu National Conference Meet The Leaders yang dihelat hari Minggu tanggal 29 Januari 2012. Jadi konferensi nasional ini merupakan pembukaan ajang Parlemen Muda. Pematerinya juga menggiurkan, ada Anis Baswedan, Pak Joko Widodo, Dik Doank, Lidwini Marcella (founder of KOPHI), Leo Wokodompi (Indonesia National Comission for UNESCO, bagi yang belom tau, dia ini Leo AFI. ngetren banget pas jamanku SD hehehe), Christopher (France student yang care banget sama Indonesia!), Ayu (Indonesia Mengajar), Leonnardo Kamilius (founder Koperasi Kasih Indonesia), Pemred TEMPO, DaaiTV, dan lain-lain yang bikin aku ngerasa, ini kesempatan yang nggak boleh dilewatkan.

So I’m going to share The National Conference Meet The Leaders.

Acaranya di RRI pusat, sebelahnya Gedung MK. Yang ngadain kebanyakan temen-temen UI. Bahkan diluar dugaan, ternyata a man who was in charge di IFL sendiri masih mahasiswa, tapi udah bisa ngadain acara dan program yang menurut aku, impactnya gede. Acaranya dibuka oleh Ketua DPD RI, Dubes Eropa, dan Pak Anies Baswedan. Udah pada tahu sama Pak Anies Baswedan kan? Beliau yang menggagas program edukatif dan super bermanfaat yang bernama Indonesia Belajar, menantang mereka yang memiliki pekerjaan mapan dan rela kembali pulang ke Indoesia untuk mengajar di daerah pelosok di Indonesia. Prinsipnya adalah:

Setahun mengajar, seumur hidup menginspirasi.

Luar biasa, dari jangkauannya aja, program ini sudah kelihatan sekali kemana. Jangka pendeknya jelas mencerdaskan anak-anak yang berada di pelosok dan kekurangan tenaga pendidik. Jangka panjangnya, para pendidik ini diharapkan mampu memberi inspirasi kepada murid-muridnya agar suatu hari nanti, mereka menjadi generasi muda bangsa yang bermanfaat dan dapat membawa perubahan. Sebagai bukti nihye, panitia juga menghadirkan mbak Ayu yang mengajar di salah satu desa di Halmahera. Beliau salah satu pengajar muda yang cukup sukses dan smart. Beliau selalu mengajarkan kepada murid-muridnya tentang toleransi beragama. Bahwa di desa tersebut, terdapat 2 agama yang saling membenci satu sama lain. Anak-anak telah di doktrin, “agama A itu jahat, kita tidak boleh berkawan dengan mereka” begitu pula di bagian yang lain, “agama B itu jahat.”

Hal ini jelas mengancam persatuan bangsa kita. Dalam Al-Qur’an saja diperbolehkan bekerja sama dengan orang-orang yang berbeda keyakinan dengan batasan “bagimu agamamu dan bagiku agamaku”. Perlahan-lahan, usaha beliau memperoleh titik terang. Waktu menampilkan foto-foto di presentasinya, beliau juga menuturkan,

“tanpa mengikuti Indonesia Mengajar, saya tidak akan bisa menemukan senyuman dan berbagi kisah dengan mereka. Juga, saya tidak akan bertemu seseorang yang menjadi suami saya sekarang..”

Mbak Ayu menutup kalimatnya dengan tersenyum dan menoleh kepada seseorang di bangku pemateri. Di susul dengan riuh peseta konferensi. Aww, sweet! Serius deh aura bahagia itu hampir selalu terpancar oleh pasangan yang berbahagia, apalagi sudah, akan, atau sedang menjalani pernikahan di usia yang tidak lagi muda. Sekaligus memancing sebuah pertanyaan, aku kapan ya? *abaikan*

***

Menurut aku sih, ngga ada pemateri yang nggak menginspirasi. Bahkan Marshanda! Awalnya, heran juga kenapa harus nih artis sih yang diundang jadi pemateri? Ya mungkin bagi sebagian orang (termasuk saya) masih mendapati stigma Marshanda sebagai ABG-yang-mengupload video-di-youtube karena tekanan yang dia alami. Sekalipun sudah menikah, label itu masih terpatri. Tapi hari itu, Marshanda cantik deh, jilbab dan bajunya oke, yang kurang oke sih high heelsnya. Ketinggian! Jadi bikin jalannya kurang anggun. Dan hari itu juga baru aku tahu kalo Marshanda juga punya project di bidang sosial. Bagus juga nih, pantes udah jarang nongol di tipi.

Kalau penilaian pribadi sih, paling suka sama Pak Joko Widodo yang super humble plus Dik Doank. Hari itu sih pertama kalinya aku ngelihat Pak Jokowi secara langsung, biasanya sih dari twitter aja, ngelihat update-an twitternya. Ketika dipanggil, beliau jalan dengan santai, menyapa pemateri dan tamu-tamu disebelahnya, dan stand up comedy bentar.

Lha kok?
Iya, aku bisa bilang beliau stand up comedy. Mbanyol mulu! Pak Jokowi bener-bener merepresentasikan orang solo deh, orang Jawa pada umumnya. Ramah, medhok, dan apa adanya. Saya termasuk yang mengiyakan curhatan beliau bahwa beliau sama sekali ngga ada potongan jadi walikota. Jujur saja, postur tubuhnya jauh daripada anggota dewan yang tegap dan berisi. Bahkan pikiran yang melintas di kepala ketika melihat beliau adalah: abdi dalem. Duh nyuwun ngapunten, Pak.. Tetapi dibalik sosok yang nggak ada potongan itu, tersimpan benih ketegasan, pengabdian, dan konsistensi dalam membawa perubahan dan perbaikan bagi masyarakat yang telah mengamanahi beliau selama dua periode.

pahlawan-nya wong Solo!


Beliau presentasi hanya bondo slide yang full foto-foto beserta caption seadanya. Tanpa teks. Tetapi dengan sukses membius para peserta konferensi tentang arti pemimpin yang sebenarnya. Beliau memaparkan dengan baik dari awal pencalonan walikota: satu tahun pertama yang dihujani demo, tahun-tahun berikutnya yang malah Pak Jokowi nya yang kangen di demo, hingga sekarang: ketika masyarakat Solo menyadari mereka memiliki seorang pemimpin yang telah menggoreskan sejarah di hati rakyatnya, tentang perubahan perekonomian, kebijakan yang pro rakyat, dan pemberdayaan masyarakat.

“Jadi pemuda jangan mall melulu yang diurus. Mall itu Cuma kepunyaan satu orang. Cobalah ke pasar tradisional. Kalau pasar tradisional diberi sentuhan sedikit, bisa cantik lho. Saya bukan anti investor. Kalau mau membangun mall, ya saya kasih izin. Satu saja cukup.”

"Leadership is action, not position."
Begitu pesan beliau.

Sementara Dik Doank, sukses menghipnotis peserta dengan gayanya yang nyentrik dan humor-humor segar. Sosok yang doyan banget dipanggil om ganteng ini sempet curhat tentang masa sekolahnya yang bodoh, tolol gara-gara nggak bisa bersahabat dengan angka. Sama seperti pemateri" sebelumnya, dik doank juga memberikan wejangan fresh. Seperti:
"kamu tau, bersekolah itu penting. kenapa? agar kamu juga tahu bahwa sekolah itu gak penting"

Itu sebagai kritik atas sistem kurikulum Indonesia yang kurang efektif. Baginya, lucu saja ketika anak nelayan yang tangkas dalam menyelam dan mencari ikan, anak gunung yang jago merawat alam, harus dinyatakan tidak lulus lantaran nilai matematika yang jeblok. Sebagai solusi, beliau mendirikan Kandank Jurank Doank, sebuah pembelajaran non-formal yang insya Allah tetap bisa mencerdaskan bangsa dan menumbuhkan akhlak.

Berkali-kali beliau mengajak peserta konferensi untuk berdoa dan sesudahnya, memberikan sebuah kata yang cukup menarik.

Cinta Allah itu abstrak, bukan struktural.

Cinta yang bisa didapat dimana saja, dengan cara yang dikehendaki olehNya, dan tidak melihat sekat-sekat duniawi buatan manusia.

Minggu, 05 Februari 2012

,
Sepertinya, sebelum memulai postingan ini, saya harus jujur bahwa:

Saya, seorang mahasiswa yang tinggal di Sidoarjo, sedang mengenyam pendidikan di Malang dan belum pernah menginjakkan kaki di Bromo.

Tapi walaupun begitu, atas izin-Nya, saya diperkenankan bersentuhan dengan kaki langit Gunung yang lain, ya mana lagi kalau bukan Tangkuban Perahu. Hehe .. Sebelumnya, sempat ragu juga untuk memilih antara Kawah Putih atau Tangkuban Perahu. Karena beberapa hari sebelumnya, daerah di Indonesia diguyur hujan lebat dan angin kencang, termasuk Bandung. But, we’re so lucky.  Tangkuban Perahu dinyatakan dibuka untuk umum pada hari itu.

Untuk menjangkau Tangkuban, bisa naik angkot, tapi berhubung rute angkot di Bandung ini luar biasa ruwet untuk pemula, kami akhirnya dianter sama temen budenya sista. Rute yang diambil pun lebih singkat dan ngga lewat jalan gede. Kami lewat pegunungan, mblusuk-mblusuk dan nyasar dikit, tapi sampe juga akhirnya di Gunung Tangkuban Perahu yang bau belerang! Hawanya dingin sih, apalagi sempet diguyur hujan beberapa menit dan kabut tipis sempet turun.

Jangan nyoba-nyoba nyebur ya!

Kuda Gaul

pose!

a life.

Pulangnya, kami pada request ke Gua Belanda dan Gua Jepang yg ada di sekitar jalan Dago. Eh ternyata mang-nya juga ngga tau jalan, resmi nyasar deh! Sampe ngantuk sendiri aku. Setelah nyasar sana-sini dan nanya orang, akhirnya nemu juga jalannya.

rute


Gua Belanda dan Gua Jepang ini sebenernya termasuk dalam satu kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Tiketnya berapa ya lupa hehe, antara 3000-8000 gitu deh seingetku. Di dalamnya ngga hanya ada Gua, tapi juga beberapa air terjun. Kalo mau keliling semuanya sih, bakalan sengkleh banget nih kaki. Dan berhubung waktunya mepet, kami cuma mampir ke Gua aja. Waktu bayar di loket bakal ditanyain, mau pake guide apa engga. Biayanya sih 75ribu, bisa ditawar.

salah satu jendela Goa Jepang

Rute pertama, kami ambil ke Gua Jepang dulu. Setelah berjalan 100 meter dari pintu masuk, kami ngelihat yang jaga di Gua Jepang ternyata cowok-cowok yg tampangnya sangar-sangar. Mereka menawarkan jadi guide, sista udah nolak. Trus ditawarin senter dengan biaya 3000, Dina ngambil. Aku sih jalan belakang sendiri. Dan waktu aku amatin, kami berempat satu-satunya pengunjung di sekitar situ. Jarak 1 km ke depan dan ke belakang ngga ada pengunjung lain. Mampus loh! Bukannya parno sih, cuman kami semua cewek dan bukan orang lokal.

Udah gitu, mereka mulai ketawa cekikian pake bahasa Sunda yg jelas aku ngga ngerti artinya. Mereka juga ngotot ngikutin dibelakang kami. Akhirnya aku cegah temen-temen di depan untuk masuk dan mengisyaratkan untuk segera ke Gua Belanda aja.

Kami fixed ga masuk Gua Jepang.
Biarin deh, daripada direcokin sama cowok-cowok sangar.

Di Gua Belanda kondisinya lebih rame. Penjaga di depannya juga menyewakan senter. Berhubung waktu itu kami ngga pake guide, akhirnya nebeng guide-nya orang lain. heheheh maklum deeh mahasiswa. Sebenernya di dalem gua juga ngga ada apa-apanya, ya sekedar terowongan aja dan ada semacam penjara bawah tanah gitu. Kadang ada kelelawar yang melintas. Kesannya sih serem aja, udaranya juga lembab (iyalah, bawah tanah!) Kata guidenya sih, gua belanda itu pernah dijadikan tempat uji nyali. Beh, ngga ada kerjaan kali yaaa..hehe.

pintu masuk Gua Belanda


suasana di dalem Gua Belanda


Waktu sudah semakin sore, saatnya nganter aku ke Cihampelas, tepatnya ke kantor X-Trans. Malam itu aku harus ke Jakarta sih. Temen-temen sempet belanja bentar di Cihampelas, setelah itu mereka capcus ngga tau kemana. Kami resmi berpisah deeeh.

Berhubung waktu itu lagi butuh banget koneksi internet, buru-buru nyari warnet deh. Sampe mblusuk-mblusuk ke rumah penduduk, akhirnya nemu warnet juga! Lumayan deh, mengisi waktu sore hari di Cihampelas, sambil menunggu petang dan waktu keberangkatan.

twilight @ Cihampelas. Macet.

Tepat pukul 19.00 saya menikmati perjalanan malam menuju Jakarta. Meninggalkan Cihampelas, Bandung, dan temen-temen yang masih liburan di Bandung sampe hari senin.

It's time to me time :)

Follow me @nabilladp