Selasa, 31 Desember 2013

,
Aku sangat menyukai sunset; momen senja dengan gradasi warna oranye-merah-kuning yang kadang disertai birunya langit yang luar biasa indah. Momen pergantian dari siang ke malam; masa transisi yang berlangsung setiap harinya. Sama seperti sunrise; matahari terbit di pagi hari sebagai penanda habisnya malam. Aku juga menyukainya, hanya saja karena alasan yang sangat subyektif, aku lebih suka berlama-lama menikmati sunset.

Setidak-tidaknya, 5-6 tahun yang lalu.
Seorang teman lama selalu sumringah bercerita tentang kekagumannya atas keindahanNya yang setiap hari dihadirkan. Hampir setiap hari dia meluangkan waktu senja untuk berhenti sejenak (apabila ia sedang berada di kendaraan) untuk melihat matahari yang seolah terlihat membesar dan menghilang dibalik di horizon. Kemudian ia melanjutkan perjalanan lagi. Begitupula keindahan setelah sunset: munculnya bulan dan satu bintang yang terlihat sangat cerah, paling dekat dengan bulan, namun kedipnya sendiri hampir tidak ada. Aku pernah membaca ada riset yang mengatakan bahwa itu adalah planet Venus, entahlah. Teman lamaku, setiap melihat ada momen indah itu, selalu mengirim satu pesan singkat untukku yang isinya mengingatkan untuk sejenak menikmati suasana senja.

Sejak itu, aku mulai memperhatikan. Memangnya, apa yang menarik dari senja?

***

Di Malang, aku pernah melalui satu sore yang sangat oranye. Cantik sekali. Kampusku memerah terhujani warna oranye yang dominan. Aku suka melihat senja dari Lantai 6 Gedung A Fakultas Hukum. Karena kaca transparannya menghadap langsung ke barat dengan pemandangan Gunung dan beberapa gedung, masjid, serta rumah-rumah warga.

Salah satu momen yang selalu aku targetkan untuk ku abadikan dalam kamera adalah sunset! Itu momen wajib dalam setiap perjalanan. Setidaknya sejak 2 tahun lalu, aku menjadi sunset hunter di tiap tanah yang aku jejaki.

Berikut adalah sunset yang pernah aku jepret secara amatiran di beberapa negara yang telah aku kunjungi. Indonesia tidak aku masukkan ya, kebetulan sunset terindah yang pernah aku nikmati ada saat aku menempuh perjalanan 3 minggu dari Jakarta-Natuna-Batam-Dumai-Bangka-Belitung (Sail Belitung) dan Bali dan sudah aku posting lama banget hehe. Kebetulan  juga, selama 2 tahun terakhir belum dapet kesempatan dan waktu luang untuk traveling lagi ke beberapa destinasi yang telah menjadi target. Semoga 2014 nanti ya!!

Rabu, 25 Desember 2013

,
Ki-ka: Angga, Abang, I'in, Dyah, Kiki, Aulia, Aku, Prapti, Bella, Popo, Anis, Dian, Didin, Muchlas.


Sebelum melanjutkan cerita yang told dan untold selama di Jepang, ada baiknya kalau saya perkenalkan dulu teman-teman seperjalanan kali ini. Berjumlah 14 orang, which is banyak bangeet untuk sebuah perjalanan singkat (10 hari). Menurutku maksimal teman perjalanan adalah 4 orang. Dua orang lah ya, yang paling sip. Uniknya, sekalipun kami berjumlah banyak orang, dengan perbedaan masing-masing, namun tetep saling pengertian dan dengan tulus mau saling mewarnai dan berbagi.

Kami bertemu ber tiga belas (saat itu Didin behalangan hadir) di ruang IO untuk perkenalan pertama. Seperti pada postingan sebelumnya bahwa satu-satunya orang yang sudah aku kenal adalah Angga, dari FEB. Kebetulan aku datang agak telat, aku duduk diantara Dian (Peternakan, yang kemudian aku ketahui adalah teman baiknya temen kosnya Nining, well emang agak mbulet), dan Kiky (PKH, yang kemudian jadi maskot kami). 

Dari perkenalan singkat, kami memiliki banyak perbedaan, tapi juga ada kesamaan secara garis besar. Pertama, mayoritas memiliki prestasi masing-masing. Kebanyakan di bidang pengalaman organisasi, karya tulis dan nari. Kedua, masing-masing punya potensi yang menonjol, sehingga Pak Heri nggak kesulitan untuk mem-PJ-kan siapa bagian desain, siapa bagian motret, siapa bagian ngabisin makanan, dan lain-lain. Ketiga, kami sama-sama belum pernah ke Jepang dan jelas SANGAT EXCITED. Pada pertemuan selanjutnya, untuk latihan tari indang, kami makin kompak dan ngerasa klop satu sama lain.

Dalam tulisan kali ini, aku berusaha meringkas hal2 apa saja yang paling dominan ada di ingatan. Karena jemari ini membutuhkan waktu berhari hari untuk menceritakan secara detail mengenai apa, siapa, dan bagaimana mereka, serta momen apa saja yang telah kami lalui bersama.

So, here they are..

Minggu, 22 Desember 2013

,
red leaves, so lovely
Hari terakhir ku di Berlin, aku memutuskan untuk jalan-jalan sendiri ke sekitar stasiun. Rasanya nggak afdol pergi ke suatu tempat tanpa menjejak sendirian. Namun Nickita, meminta untuk turut serta. Aku pun mengiyakan. "Aku pengen menghabiskan waktu terakhir disini Bil," dia berucap.
"Nick, daun-daun ini pasti keren banget pas musim gugur,"
"iya bil, semoga aja ya kita berkesempatan balik lagi ke sini pas musim gugur!"
aku sama nickita mengepalkan kedua tangan di bawah dagu, pertanda gemes-gemes-imut.

Allah berkehendak lain.

***

Beruntung sekali, kami baru berangkat ke kampus sekitar jam 11 siang untuk perkuliahan perdana tanggal 27 November. Ada waktu untuk beristirahat lebih lama. Namun sekitar jam 8, aku memilih untuk berjalan di sekitar. Pagi ini aku terbangun dan membuka jendela kamar, udara di luar begitu dingin hingga mulutku berasap. Langit masih mendung, bahkan sinar matahari pagi terpaksa terpenjara oleh tebalnya awan abu-abu. Aku mencoba membuka jendela lebih lebar, ternyata jendela kamar nggak bisa dibuka lebar, hanya dibatasi sampe sekitar 30 derajat. Nggak asik nih, padahal mau motret pemandangan luar kamar dan menghirup dinginnya Higashi Hiroshima sampe mimisan. Tapi kenapa ya, jendela aja dibatasi untuk dapat dibuka? asumsi sementara adalah untuk menekan angka bunuh diri. maklum, angka bunuh diri di Jepang lumayan tinggi.
Beberapa menit setelahnya, aku baru tersadar ada yang berbeda di bukit kecil yang mengelilingi kota Higasi Hiroshima. Hal yang senada aku temukan pada beberapa pohon yang menjulang tepat di depan hotel. ternyata, musim gugur belum sepenuhnya usai! Warna kuning, oranye, dan merah menghiasi daun yang kian menua dan rapuh. Semangat saya membuncah, segera aku mandi, ijin sensei, dan menjejaki sepanjang jalan Saijo. Amunisi sudah siap (baca: kamera, jaket tebal). tapi bodohnya aku nggak bawa sarung tangan. akibatnya, tanganku sukses membeku.

coba bayangkan!! biasanya 21an derajat celcius (malam hari di Malang), disini harus beradu kekuatan dengan 5 derajat celcius! 

Minggu, 08 Desember 2013

,
baru kali ini nemu handwriting boarding pass, yakni dari Sby ke Taiwan. Dikarenakan sistemnya rusak, jadilah si petugas nulis tangan. Untung yang dibegituin masih mahasiswa, kalo orang pebisnis gitu, mana terima ya?

Home, away from home.

Aku mendengar frasa itu saat melihat tayangan mengenai Hiroshima di layar kecil yang disediakan oleh China Airlines. Tayangan tersebut menyajikan keindahan Hiroshima. Mulai dari tourist attractionnya seperti Miyajima, dan shopping corner. Layaknya video traveling pada umumnya, sudut pengambilan yang indah terlihat begitu menggiurkan. Tapi biasanya yang terpampang indah di layar kaca belum tentu seperti yang sebenarnya. Haha pikiran antisipatif mulai muncul, well, intinya aku hanya tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi.

Begitulah yang biasa ku lakukan dalam perjalanan. Debar, penuh tanya, meyakini akan menjadi perjalanan yang penuh kejutan, tapi tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi. Inginku, relung-relung jiwa ini terisi oleh sejuknya atmosfer yang memang aku alami sendiri tanpa campur tangan dari angan-angan yang berlebihan.

Sebentar, aku lagi ngomong apa ini ya?

***
,
Hari kamis sore, Nying-nying, seorang teman yang ngocol, agak feminim, dan kami menjadi teman seperjalanan dan satu kegiatan dalam summer school di Leipzig bulan Juli lalu. Dia mengirimku pesan singkat melalui aplikasi Line. Inti dari pesan itu adalah kami (peserta JSP) diminta bersiap – siap untuk seleksi ke jepang. Besok. (aku lupa seleksinya tanggal berapa, seingatku sekitar hari Jum'at, 25 Oktober atau 1 November)

What?!

Aku sama sekali ngga punya ide apa – apa mengenai persiapan wawancara selain mengumpulkan pengetahuan mengenai fakultas hukum, prestasinya, dan mengenai alasan tersirat aku layak diberangkatkan ke Jepang. Ternyata, begitu bu Milda datang, kami ngga hanya diminta untuk presentasi mengenai fakultas saja, tapi juga menunjukkan bentuk budaya Indonesia apa yang dikuasai. Yang ada di pikiranku tentu saja: nari. Dan satu2nya tarian yang sepertinya memiliki gerakan dasar yang masih ku ingat adalah tari pendet. Sedangkan teman – teman lain memilih untuk juga menari, entah itu nari tradisional dan kuda lumping (tradisional juga sih ya) plus nyanyi.

Saat tiba giliran nying-nying yang diseleksi, aku, nickita, inaya menunggu di luar ruangan sambil nggosip dan membicarakan acara aneh macam apa ini, seleksinya mendadak sekali. Inaya tiba – tiba bertanya, “kalo ke jepang, oleh – oleh yang khas tuh apa ya?”
Aku nyeplos aja , “dorayaki ama pamerin foto di depan gunung fuji!”
“boleh, tuh!”

***

Seleksi hanya sekitar setengah jam sebelum akhirnya bu Milda berlari kecil ke ruang PD 1 untuk berdiskusi dengan Pak Ali dan kemudian memanggil kami berempat untuk memasuki ruangan. Kami dibiarkan deg-deg.an. karena hanya satu orang yang diambil, tidak ada toleransi.

Kami berempat bergandengan tangan sambil sesekali merem-merem cantik supaya lebih dramatis. Inaya berucap singkat, “guys, siapapun dari kita nanti yang terpilih , pokoknya oleh – olehnya!”
Nying – nying lanjut bilang, “iya iya, siapapun yang kepilih entar, kita tetep berteman ya,”

Iya, sekilas memang mirip seleksi dengan sistem eliminasi yang diadakan oleh beberapa stasiun tv swasta.

“saya dan pak ali sudah memilih,” bu milda memotong kebersamaan kami dengan senyum penuh intrik. “kalian semua bagus, memiliki bahasa inggris yang memadai, namun sayang, ada satu orang dari kalian yang secara kemampuan budaya tradisionalnya lebih menonjol.” Beliau diam sebentar. Kami ikutan diam, dan lirik-lirik’an. “dan seorang itu adalah… selamat buat Nabilla!”

*kaget*

,
Salah satu sunset terindah yg pernah ku saksikan. Higasi Hiroshima, 4 Desember 2013. Maha Besar Allah..

Sekitar 3 minggu yang lalu, aku kesal bukan main. Travel yang seharusnya menjemput jam 2 siang, baru datang jam setengah empat sore. Ingin rasanya meluapkan amarah ke si supir, namun melihat wajah sumringah si supir dan caranya meminta maaf memuatku mengubur dan melupakannya pelan-pelan. Dia memintaku untuk memaklumi keterlambatan dalam penjemputan. Dongkolnya aku adalah travel yang kali ini aku gunakan, memberikan fasilitas penjemputan pada setiap jam – jam genap (2, 4, 6, dst). Lah kalo ngga bisa memberikan pelayanan sesuai yang dijanjikan, mengapa berjanji? Makin bete ketika aku ditempatkan di depan, samping si supir.

Dan dari gelagatnya, masih ada satu orang lagi yang belum di jemput.

“ini masih ke juanda pak?”
“Iya mbak, hmm, lewat mana ya?”

Payah banget ini si supir, pikirku. Sebagai supir travel seharusnya dia bisa dengan mudah mengetahui jalan tikus dari rumahku ke juanda, yang kebetulan dekat banget dan banyak diketahui oleh kendaraan umum. Memang ini bukan travel yang biasa ku gunakan, dan aku pun akan lebih memilih untuk pulang sendiri naik bis lalu ngangkot, jika saja aku tidak terbebani oleh koper biru gede. toh pada akhirnya, seseorang yang seharusnya dijemput di Juanda, ngga jadi naik travelnya, entah kenapa.

Perjalanan surabaya – malang ditempuh hanya dalam waktu satu setengah jam, padahal sore hari sekitar jam 4 – 7 malam adalah saat – saat rush hour, yakni dimana macet biasa menjadi macet banget nget nget.

Di tengah jalan tol, aku yang sudah jengkel nemen sampe kepala pun ikut mumet, lantaran si supir juga ngerokok dan kemudian aku tegur. Tiba-tiba saja sebongkah pemikiran jernih muncul, meredam amarah yang meluap liar.
Sabar. Sabar. Sabar.
Begitu kira – kira, satu kata yang klise yang berbisik lirih
yang sering menjadi ucapan andalan para tipe teman pendengar.
Sabar, sudah, sabar saja ya…

Bersabar, tidak selalu dikaitkan dengan menunggu. Bagiku, si “sabar” terlalu besar, terlalu mewah untuk disandingkan hanya dengan “menunggu”. Bagaimana jika kita gabungkan dengan:
Bersabar, orang lain juga perlu belajar.
Bersabar, pantaskan diri di hadapanNya.
Atau, ada redaksional lain yang lebih indah?

***

Follow me @nabilladp